Jumat, 27 Juli 2012

OBESITAS PADA ANAK


              OBESITAS PADA ANAK

PENDAHULUAN

Angka kejadian obesitas pada masa kanak-kanak meningkat secara cepat di seluruh dunia. Rata-rata penyebabnya adalah karena anak-anak menghabiskan lebih banyak waktu di depan TV, komputer atau perangkat video game daripada bermain di luar ruangan. Ditambah dengan tipikal keluarga masa kini yang sangat sibuk dan biasanya hanya punya sedikit waktu untuk menyiapkan makanan sehari-hari. Asumsi (yang salah) bahwa untuk menyiapkan makanan buatan sendiri yang penuh gizi membutuhkan waktu lama membuat makanan cepat saji yang biasanya tinggi kalori dan rendah nilai gizinya menjadi pilihan banyak keluarga. Kecepatan dan kemudahan merupakan kebutuhan yang dianggap penting oleh banyak orang, baik tua maupun muda, di milenium ini.
Lebih dari sembilan juta anak di dunia berusia enam tahun ke atas mengalami obesitas, lapor Dennis Bier dari Pediatric Academic Society (PAS). Sejak tahun 1970, obesitas kerap meningkat di kalangan anak, hingga kini angkanya terus melonjak dua kali lipat pada anak usia 2-5 tahun dan usia 12-19 tahun, bahkan meningkat tiga kali lipat pada anak usia 6-11 tahun. Dr. Damayanti R. Syarif, Sp.A(K) dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-RSUPN dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta bertutur senada, dari penelitian yang dilakukan di empat belas kota besar di Indonesia, angka kejadian obesitas pada anak tergolong relatif tinggi, antara 10-20% dengan nilai yang terus meningkat hingga kini. Edukasi nutrisi anak pada orang tua terus digencarkan, mengingat negeri Indonesia masih memiliki fenomena paradoks pediatrik yang unik, jutaan anak mengalami malnutrisi, sementara di lain sisi jutaan anak pula yang mengalami obesitas. Faktor makanan ringan selain makanan rumah (jajan) diduga sebagai kambing hitam.
Saat ini kegemukan (overweight) dan obesitas menjadi salah satu masalah kesehatan yang mendunia bagi anak-anak dan orang dewasa. Tahun 1998, WHO menyatakan obesitas sudah dalam dalam tingkat epidemik yang kalau dibiarkan akan menjadi obesitas global. Menurut data WHO pada awal tahun 2000, sekitar 1 miliar orang mengalami kegemukan dan 30% diantaranya megalami kegemukan berlebihan atau obesitas.
Di Amerika Serikat, menurut Asosiasi Obesitas Amerika, angka obesitas pada anak-anak dan remaja terus meningkat. Di Indonesia, prevalensi obesitas pada anak-anak sudah meningkat menjadi 20% pada tahun 2003 dari sekitar 5-6% pada tahun 1989.
Menurut WHO, obesitas sudah merupakan epidemi global dan menjadi problem kesehatan yang harus segera diatasi. Di Indonesia, perubahan gaya hidup yang menjurus ke westernisasi dan sedentary mengakibatkan perubahan pola makan masyarakat yang merujuk pada pola makan tinggi kalori, lemak dan kolesterol, sehingga berdampak meningkatkan risiko obesitas. Prevalensi obesitas pada anak meningkat dari tahun ke tahun, baik di negara maju maupun negara yang sedang berkembang. Disamping itu, obesitas pada anak berisiko tinggi menjadi obesitas di masa dewasa dan berpotensi menderita penyakit metabolik dan penyakit degeneratif di kemudian hari.
 Anak-anak, tidak seperti orang dewasa, membutuhkan nutrisi dan kalori tambahan untuk pertumbuhan dan perkembangan mereka. Jadi bila mereka mengkonsumsi kolori dalam jumlah yang cukup untuk aktivitas sehari-hari, pertumbuhan dan metabolisme mereka, maka pertambahan berat badan mereka akan seimbang dengan pertambahan tinggi badannya. Akan tetapi, anak-anak yang makan lebih banyak kalori daripada yang mereka butuhkan, akan menambah lebih banyak berat daripada tinggi badan mereka.  Pada kasus-kasus seperti ini, pertambahan berat akan meningkatkan risiko terjadinya obesitas dan masalah kesehatan yang berhubungan dengan berat badan.
Obesitas pada anak-anak secara khusus akan menjadi masalah karena berat ekstra yang dimilik anak tersebut pada akhirnya akan mengantarkannya pada masalah kesehatan yang biasanya dialami oleh orang dewasa, seperti diabetes, tekanan darah tinggi dan kolesterol tinggi. Salah satu strategi untuk memerangi kelebihan berat pada anak-anak adalah dengan memperbaiki pola makan dan membuat program olahraga untuk seluruh keluarga. Hal ini akan membantu melindungi kesehatan anak-anak anda sekarang dan di masa yang akan datang.





MATERI PENYULUHAN


v  Pengertian Obesitas

Obesitas merupakan keadaan patologis dengan terdapatnya penimbunan lemak yang berlebihan daripada yang diperlukan untuk fungsi tubuh. (Mayer, 1973)
Obesitas didefinisikan sebagai suatu kelainan atau penyakit yang ditandai dengan penimbunan jaringan lemak tubuh secara berlebihan. (Hartono, 2004)
Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), obesitas merupakan keadaan indeks massa tubuh (IMT) anak yang berada di atas persentil ke-95 pada grafik tumbuh kembang anak sesuai jenis kelaminnya. Definisi ini relatif sama dengan Institute of Medicine (IOM) di AS, sementara Center for Disease Control (CDC) AS mengkategorikan anak tersebut sebagai ‘overweight’. CDC berargumen bahwa seorang anak dikategorikan obesitas jika mengalami kelebihan berat badan di atas persentil ke-95 dengan proporsi lemak tubuh yang lebih besar dibanding komponen tubuh lainnya.
Obesitas atau kegemukan diartikan juga sebagai penimbunan jaringan lemak tubuh secara berlebihan. Secara klinis obesitas secara mudah dapat dikenali karena mempunyai tanda dan gejala yang khas antara lain wajah membulat, pipi tembem, dagu rangkap, leher relatif pendek, dada yang menggembung dengan payudara yang membesar mengandung jaringan lemak, perut membuncit dan dinding perut berlipat-lipat serta kedua tungkai umumnya berbentuk X dengan kedua pangkal paha bagian dalam saling menempel dan menyebabkan lecet.


v  Penyebab Obesitas
Meskipun masalah genetik dan hormonal juga dapat menjadi penyebab terjadinya obesitas pada anak-anak, kebanyakan kasus kelebihan berat badan disebabkan karena anak-anak makan terlalu banyak dan terlalu sedikit bergerak. Bila anak-anak mengkonsumsi lebih banyak kalori daripada kalori yang mereka buang melalui olah gerak dan perkembangan fisik yang normal, mereka akan mendapatkan kelebihan berat.
Penyebab lain selain gaya hidup adalah penyakit genetik yang dapat menyebabkan seorang anak mengalami obesitas.  Penyakit-penyakit seperti ini, misalnya sindrom Prader-Willi dan sindrom Bardel-Biedl hanya terjadi pada sebagian kecil anak-anak. Pada populasi umum, pola makan dan kebiasaan berolahraga memainkan peran yang lebih besar atas terjadinya obesitas.
Peningkatan kasus obesitas pada anak-anak disebabkan oleh berbagai faktor yang saling berkaitan, diantaranya :

1.   Faktor Keturunan

Kecenderungan menjadi gemuk pada keluarga tertentu telah lama diketahui. Mungkin saja keadaan ini disebabkan oleh kebiasaan keluarga makan banyak dan berkali-kali tiap harinya, susunan makanannya mengandung banyak lemak, sering jajan, dan sebagainya. Dengan demikian masukan energy tiap hari melebihi kebutuhannya.  Akan tetapi adanya faktor keturunan dapat dibuktikan misalnya dengan observasi pada anak kembar yang dibesarkan terpisah akan tetapi menunjukkan berat badan yang sangat berkolerasi satu sama lain. Penyelidikan lain memberi hasil sebagai berikut: anak kembar monozigot walaupun dibesarkan terpisah mempunyai berat badan yang lebih mendekati dibandingkan dengan anak kembar dizigot walaupun dibesarkan bersama. Lagipula tidak terdapat korelasi antara berat badan anak pungut dan orangtua yang memungutnya, akan tetapi ada korelasi antara anak kandung dengan orangtuanya (McLaren, 1973). Namun, faktor genetik saja tidak menyebabkan obesitas. Obesitas baru terjadi jika si anak makan lebih banyak kalori daripada yang bisa dihabiskan oleh tubuhnya.

2.   Kebiasaan makan

Anak-anak jaman sekarang lebih banyak makan makanan instan, makanan cepat saji, minuman yang mengandung tinggi gula serta makanan cemilan yang sudah diproses yang tinggi kalori dan lemak namun rendah vitamin lainnya dibandingkan makanan sehat dan segar seperti sayur dan buah-buahan. Pola makan yang menyebabkan obesitas adalah makan tidak pada saat lapar dan makan sambil menonton TV atau mengerjakan sesuatu seperti pekerjaan rumah atau membaca.
Mengkonsumsi makanan berkalori tinggi, seperti makanan cepat saji, makanan yang dibakar dan kudapan memiliki andil dalam peningkatan berat badan. Makanan tinggi lemak biasanya tinggi kalori.  Minuman bersoda, kudapan, permen dan makanan penutup dapat juga menyebabkan terjadinya peningkatan berat badan.  Makanan dan minuman seperti ini biasanya memiliki kandungan kalori dan gula atau garam yang tinggi.

3.   Status Sosial Ekonomi

Berkaitan dengan gaya hidup, sikap, dan perilaku. Di Indonesia, orang cenderung salah kaprah mengasosiasikan gemuk adalah baik. Anak harus gemuk, montok, baru dibilang anak yang sehat. Kalau anak tidak gemuk, seolah-olah hal tersebut merupakan kegagalan dari si ibu yang notabene penyandang tugas pengasuhan anak. Jadi tujuan makan bergeser dari memenuhi kebutuhan anak ke menjadikan anak gemuk. Timbullah cara-cara instan seperti mengkonsumsi susu khusus bahkan mengkonsumsi makanan cair sebagai pengganti susu atau sarapan.

4.   Penurunan Aktivitas Fisik

Kecanggihan tekonologi seperti televisi dan komputer menyebabkan banyak anak-anak terpaku di depannya sehingga kurang melakukan permainan yang melibatkan kegiatan fisik seperti bermain sepeda. Menonton televisi bukan hanya menghabiskan kalori yang sangat sedikit, tetapi bahkan menambah kalori karena makan cemilan selagi nonton. Kondisi keamanan yang kurang menjamin sehingga banyak orang tua yang tidak memperbolehkan anaknya bermain keluar rumah melakukan kegiatan olahraga atau bermain di lapangan. Ruang yang terbatas di sekolah menyebabkan banyak sekolah yang tidak memiliki lapangan bermain yang memadai bagi murid-muridnya untuk melakukan kegiatan fisik. Kegemukan sering muncul di masa pubertas, nafsu makan di usia remaja ini memang meningkat. Kegemukan ini bisa menjadi lingkaran setan. Makin gemuk anak, makin malas ia berolahraga. Makin sedikit ia bergerak makin banyak lemak ditimbun di tubuhnya. Kalau anak kegemukan, ia sering tidak bisa ikut bermain dengan teman-temannya. Akibatnya ia akan makin kesepian, dan makannya akan semakin banyak. Begitulah seterusnya.

5.   Bangsa atau Suku

     Pada bangsa atau suku tertentu kadang-kadang terlihat lebih banyak anggotanya yang menderita obesitas. Dalam hal ini sukar untuk menentukan faktor yang lebih menonjol, keturunan atau latar belakang kebudayaannya seperti biasa makan makanan yang mengandung banyak energy, tidak berolahraga, dan sebagainya.

1.   Gangguan Emosi

Gangguan emosi merupakan sebab terpenting obesitas anak besar dan remaja. Pada anak yang sedang bersedih hati dan memisahkan diri dari lingkungannya timbul rasa lapar yang berlebihan sebagai kompensasi terhadap masalahnya. Adakalanya kebiasaan makan yang terlampau banyak ini akan menghilang dengan menyembuhnya gangguan emosi yang dideritanya.

2.   Gangguan Hormon

Walaupun sangat jarang, adakalanya obesitas disebabkan oleh tidak adanya keseimbangan antar hormon, seperti pada Sindroma Cushing, hiperaktivitas adrenocortikal, hipogonadisme, dan penyakit hormon lain.


v  Gejala Klinis Penderita Obesitas
¯  Anak terlihat sangat gemuk
¯  Wajah membulat
¯  Pipi tembem
¯  Leher relatif pendek
¯  Dada membusung, dengan payudara yang membesar karena mengandung jaringan lemak
¯  Sering terlihat dagu yang berganda (double chin)
¯  Perut membuncit disertai dinding perut yang berlipat-lipat
¯  Pada umumnya anak demikian lebih tinggi daripada anak normal seumur
¯  Perut menggantung ke bawah
¯  Penis pada anak laki-laki terlihat kecil, oleh karena sebagian organ tersebut tersembunyi dalam jaringan lemak pubis (burried penis)

v  Pemeriksaan dan Diagnostik
Sebagai bagian dari perawatan anak sehat, dokter akan menghitung index massa tubuh (Body Mass Index = BMI) dan menentukan dimana posisinya pada tabel pertumbuhan sesuai usia.  Indeks masa tubuh menunjukkan bila anak mengalami kelebihan berat untuk usia dan tinggi badannya.
Untuk menghitung index massa tubuh anak, bagi beratnya dengan tinggi badannya yang dipangkat 2, atau BB/TB2 (Penting: untuk menggunakan formula penghitungan indeks massa tubuh ini, berat badan harus dihitung dalam kilogram dan tinggi badan harus dihitung dalam meter. Bila anda menggunakan ukuran pound dan inci, kalikan hasil penghitungan dengan faktor konversi 703).  Cara yang lebih mudah untuk mendapatkan indeks massa tubuh adalah dengan menggunakan kalkulator indeks massa tubuh.
Dengan menggunakan tabel pertumbuhan, dokter dapat menentukan persentil anak, artinya bagaimana perkembangan anak dibandingkan dengan anak lain dengan usia dan jenis kelamin yang sama. Jadi, misalnya, diberitahu bahwa anak  berada dalam persentil 80. Ini artinya, dibandingkan dengan anak-anak lain dengan jenis kelamin dan usia yang sama, 80 persennya memiliki indeks massa tubuh yang lebih rendah dari anak.
Penghitungan dalam tabel pertumbuhan ini, dibuat oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit di Amerika (Center for Disease Control and Prevention = CDC).  Anak anda akan dimasukkan dalam salah satu dari 4 kategori berikut :
          BMI – berdasarkan usia dibawah persentil 5 – kekurangan berat
          BMI – berdasarkan usia antara persentil 5-85 – berat normal
          BMI – berdasarkan usia antara persentil 85-95 – memiliki risiko kelebihan berat
          BMI – berdasarkan usia di atas persentil 95 – kelebihan berat
BMI bukanlah pengukuran lemak tubuh yang paling sempurna karena ada beberapa keadaan dimana penghitungan BMI dapat menimbulkan kesan yang salah. Contohnya, orang yang sangat berotot seringkali memiliki angka BMI yang tinggi walaupun tidak mengalami kelebihan berat (karena otot tambahan dapat menambah berat badan seseorang tapi tidak menambah lemak). Sebagai tambahan, BMI seringkali sulit untuk dijelaskan masa pubertas dimana seorang anak mengalami periode pertumbuhan yang sangat cepat.  Penting untuk diingat bahwa BMI biasanya adalah indikator yang baik (tapi bukan pengukuran secara langsung) kadar lemak dalam tubuh. Dokter juga akan memperhitungkan pertumbuhan dan perkembangan anak dalam penilaian berat secara keseluruhan. Ini akan membantu untuk menentukan apakan berat badan anak membutuhkan perhatian medis.
Sebagai tambahan selain BMI dan memposisikan berat badan pada tabel pertumbuhan, dokter juga akan mengevaluasi :
          Sejarah obesitas dalam keluarga dan masalah kesehatan yang berhubungan dengan berat badan, seperti diabetes
          Kebiasaan makan dan asupan kalori anak
          Tingkat aktivitas anak
          Kondisi kesehatan lain yang mungkin dimiliki oleh anak
Bila khawatir anak atau anak usia remaja mengalami kelebihan berat, buat perjanjian dengan dokter anak. Bila anak kelebihan berat, dokter akan menanyakan mengenai kebiasaan makan dan aktivitas sehari-hari anak dan akan memberikan saran-saran mengenai bagaimana membuat perubahan ke arah yang positif.  Ia mungkin juga akan memutuskan untuk melakukan pemeriksaan atas beberapa kondisi medis yang dapat diasosiasikan dengan obesitas.  Tergantung dari nilai BMI, umur dan kondisi kesehatan, dokter mungkin akan merujuk pada seorang ahli gizi untuk saran-saran tambahan.  Untuk anak-anak tertentu yang memiliki kelebihan berat, dokter juga akan merekomendasikan program penurunan berat badan yang komprehensif.


v  Komplikasi
Anak yang kelebihan berat badan dapat menderita masalah kesehatan yang cukup serius, seperti diabetes dan penyakit jantung, dan sering kali juga membawa kondisi ini sampai ke masa dewasanya.  Anak yang kelebihan berat badan memiliki risiko yang lebih tinggi untuk menderita:
³  Diabetes tipe 2, resisten terhadap insulin
³  Sindrom metabolisme: kegemukan terutama di daerah perut, kadar lemak yang tinggi, tekanan darah tinggi, resistensi terhadap insulin, kerentanan terhadap terbentuknya sumbatan pembuluh darah, dan kerentanan terhadap proses peradangan (American Heart Association).
³  Tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi dan tingkat blood lipid yang abnormal
³  Asma dan masalah saluran pernapasan lainnya (misalnya, napas pendek yang dapat membuat olah raga, senam atau aktivitas fisik lainnya sulit untuk dilakukan)
³  Masalah tidur
³  Penyakit liver dan kantong empedu
³  Pubertas atau menarche dini: anak yang kelebihan berat badan dapat tumbuh lebih tinggi dan secara seksual lebih matang dari anak-anak sebayanya, membuat orang-orang berharap mereka dapat berlaku sesuai dengan ukuran tubuh mereka, bukan sesuai dengan usia mereka; gadis-gadis yang mengalami kelebihan berat badan seringkali mengalami siklus menstruasi yang tidak teratur dan menghadapi masalah fertilitas pada usia dewasanya.
³  Masalah makan
³  Infeksi kulit
³  Masalah pada tulang dan persendian
Faktor risiko yang ada pada masa kanak-kanak (termasuk tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, dan diabetes) dapat menyebabkan terjadinya masalah medis saat mereka beranjak dewasa seperti penyakit jantung, gagal jantung, dan stroke. Mencegah atau menangani obesitas pada anak-anak dapat mengurangi risiko terjadinya masalah kesehatan seperti ini saat mereka dewasa.
Kelebihan berat juga dapat menyebabkan terjadinya masalah yang menyangkut perkembangan sosial dan emosional anak seperti:
° Percaya diri rendah dan rawan diganggu anak lain. Anak-anak seringkali mengganggu atau mencela kawan mereka yang kelebihan berat badan, yang seringkali mengakibatkan anak tersebut kehilangan rasa percaya diri dan meningkatkan risiko terjadinya depresi.
° Problem pada pola tingkah laku dan pola belajar.  Anak-anak yang kelebihan berat badan cenderung lebih sering merasa cemas dan memiliki kemampuan bersosialisasi yang lebih rendah daripada anak-anak dengan berat normal.  Pada satu sisi yang ekstrim, masalah-masalah ini akan menyebabkan anak tersebut meledak dan mengganggu ruang kelas.  Pada sisi ekstrim yang lain, anak tersebut akan menarik diri dari pergaulan sosial.  Stress dan kecemasan juga akan mengganggu proses belajar.  Kecemasan yang berhubungan dengan masalah sekolah dapat menimbulkan lingkaran setan dimana didalamnya rasa khawatir yang terus meningkat akan menyebabkan menurunnya pencapaian akademis.
° Depresi.  Isolasi sosial dan rendahnya rasa percaya diri menimbulkan rasa perasaan tidak berdaya pada sebagian anak yang kelebihan berat.  Bila anak-anak kehilangan harapan bahwa hidup mereka akan menjadi lebih baik, pada akhirnya mereka akan mengalami depresi.  Seorang anak yang mengalami depresi akan kehilangan rasa tertarik pada aktivitas normal, lebih banyak tidur dari biasanya atau seringkali menangis. Pada beberapa anak yang mengalami depresi, mereka dapat menyembunyikan kesedihan mereka sehingga emosi mereka justru kelihatan datar saja. Bagaimanapun, depresi adalah masalah yang serius baik pada anak-anak maupun pada orang dewasa.


v  Penanganan
Anak-anak, tidak seperti orang dewasa, membutuhkan nutrisi dan kalori untuk perkembangan dan pertumbuhan mereka. Meskipun demikian, berat badan merupakan suatu keseimbangan antara kalori yang masuk dengan kalori yang dibuang. Anak-anak yang makan sejumlah kalori yang mereka butuhkan untuk aktivitas sehari-hari dan pertumbuhan yang normal, akan mengalami penambahan berat badan yang sesuai dengan pertambahan tinggi badan mereka.  Akan tetapi anak-anak yang makan lebih banyak kalori daripada yang mereka butuhkan, akan mendapatkan penambahan berat badan lebih banyak daripada yang dibutuhkan untuk menopang penambahan postur tubuh mereka. Pada kasus-kasus seperti ini, penambahan indeks massa tubuh sesuai umur akan berbanding lurus dengan bertambahnya risiko obesitas dan timbulnya masalah kesehatan yang berhubungan dengan berat badan.
Untuk anak-anak di bawah usia 7 tahun yang tidak memiliki masalah kesehatan lainnya, tujuan penanganan ini adalah untuk menjaga berat badan bukan mengurangi berat badan.  Strategi ini menyebabkan anak-anak tetap menambah tinggi badan mereka tanpa harus menambah berat badan, sehingga indeks massa tubuh akan terus menurun seiring dengan bertambahnya waktu sampai pada kisaran normal. Meskipun demikian, untuk anak yang mengalami obesitas, menjaga berat badan sambil menunggu pertambahan tinggi badan dapat menjadi sama sulitnya dengan menurunkan berat badan pada orang-orang dewasa.
Penurunan berat badan biasanya direkomendasikan untuk anak-anak berusia di atas 7 tahun atau untuk anak-anak dengan usia yang lebih muda yang memiliki masalah kesehatan.  Penurunan berat badan harus dilakukan secara teratur dan sedikit demi sedikit. Biasanya dengan kisaran antara 1 pound (0,45 kg) dalam seminggu sampai dengan 1 pound dalam sebulan, tergantung pada kondisi anak anda.
Metode-metode yang dilakukan untuk menjaga berat badan atau menurunkan berat badan adalah sama yaitu anak anda harus makan dengan pola makan yang sehat dan meningkatkan aktivitas fisiknya. Kesuksesan metode ini sangat bergantung pada komitmen orangtua untuk membantu anak anda melakukan perubahan ini. Orangtua harus memikirkan pola makan dan pola olahraga sebagai satu koin dengan dua sisi yang berbeda.

ø  Makan dengan Pola Makan yang Sehat
Makanan selalu dibeli oleh para orangtua, mereka juga memasak makanan dan mereka juga yang menentukan makanan mana yang akan dimakan.  Bahkan perubahan sekecil apapun dapat menyebabkan perubahan besar pada kesehatan anak.
        Bila sedang berbelanja untuk sehari-hari, pilihlah buah dan sayuran dibandingkan makanan cepat saji. Selalu sediakan kudapan yang sehat. Dan jangan pernah menggunakan makan sebagai hadiah atau hukuman.
        Batasi pembelian minuman yang manis, termasuk juga minuman yang memiliki rasa buah. Minuman seperti ini hanya memberikan sedikit nutrisi dibandingkan dengan kalori tinggi yang mereka miliki. Minuman ini juga dapat membuat anak anda merasa terlalu kenyang untuk makan makanan yang lebih sehat.
        Pilih resep dan metode memasak yang menggunakan lemak sesedikit mungkin.  Contohnya, memanggang ayam bukan menggorengnya.
        Sajikan makanan berwarna-warni di atas meja: sayuran hijau dan kuning, buah aneka warna, dan roti yang terbuat dari whole-grain. Batasi sajian karbohidrat berwarna putih: beras, pasta, roti putih dan gula (sebagai makanan penutup).
        Duduk bersama untuk menikmati makanan sekeluarga. Buat makan bersama sebagai kebiasaan – saat untuk berbagi berita dan cerita.  Jangan makan di depan televisi atau komputer, yang akan menyebabkan anak mengunyah tanpa berpikir.
        Batasi kebiasaan makan di luar rumah, terutama di restoran cepat saji. Banyak pilihan menu pada restoran seperti ini yang tinggi lemak dan kalori.
        Jangan biasakan makan di depan layar, seperti televisi, komputer atau video game.  Kebiasaan ini akan menyebabkan anak makan secara terburu-buru dan menurunkan kesadaran akan berapa banyak makanan yang telah dimakan.
Jangan sampai jatuh ke dalam perangkap kebiasaan makan yang kurang baik:
        Jangan berikan permen atau jajanan sebagai hadiah bagi anak yang berkelakuan baik atau untuk menghentikan kelakuan buruk. Cari solusi lain untuk mengubah perilaku mereka.
        Jangan biasakan anak untuk selalu menghabiskan isi piringnya. Anda harus menyadari seberapa lapar anak anda. Bayipun akan menolak botol susu atau ASI sebagai tanda bahwa mereka sudah kenyang.  Bila anak-anak sudah cukup kenyang, jangan paksa mereka untuk melanjutkan makan. Orangtua harus menguatkan pikirannya, bahwa anak hanya akan makan bila mereka lapar.
        Jangan berbicara soal “makanan yang jelek” atau sama sekali melarang adanya permen dan makanan favorit dari menu makanan anak yang mengalami kelebihan berat badan. Anak-anak bisa berontak dan mengkonsumsi makanan terlarang tersebut dalam jumlah banyak di luar rumah atau menyelundupkan makanan tersebut ke dalam rumah.

ø  Meningkatkan Aktivitas Fisik
Satu komponen yang sangat penting dalam penurunan berat badan, terutama pada anak-anak, adalah aktivitas fisik. Kegiatan ini tidak hanya akan membakar kalori, tapi juga dapat memperkuat tulang dan otot dan membantu anak-anak tidur dengan nyenyak di malam hari dan terjaga di siang hari. Kebiasaan seperti ini yang dibangun sejak masa kanak-kanak akan membantu mereka menjaga berat badan pada kisaran yang sehat pada masa dewasanya, meskipun mereka mengalami pertumbuhan yang pesat, perubahan hormon dan mengalami perubahan sosial yang seringkali menyebabkan mereka terlalu banyak makan. Dan anak-anak yang aktif akan cenderung tumbuh menjadi orang dewasa yang sehat.
Untuk meningkatkan tingkat aktivitas anak:
        Batasi waktu santai di depan layar menjadi hanya dua jam dalam sehari. Satu cara yang jitu untuk meningkatkan aktivitas anak adalah dengan membatasi waktu mereka untuk menonton televisi setiap harinya. Aktivitas diam lainnya (main video games dan komputer atau bicara di telepon) juga harus dibatasi.
        Tekankan pada aktivitas bukan olahraga. Aktivitas anak tidak harus berupa program olahraga yang terstruktur, tujuannya hanya agar mereka tetap bergerak.  Aktivitas bermain bebas seperti bermain petak-umpet, tarik tambang atau lompat tali dapat menjadi cara yang jitu untuk membakar kalori dan meningkatkan stamina.
        Temukan aktivitas yang disukai oleh anak. Contohnya, bila anak cenderung berjiwa seni, ajaklah pergi ke alam untuk jalan-jalan dan mengumpulkan daun dan batu-batuan yang dapat dikoleksi oleh anak-anak.  Bila anak suka memanjat, bisa pergi ke mencari tempat bermain disektiar rumah, dimana anak-anak dapat melewatkan waktu dengan memanjat alat permainan atau tembok. Bila anak suka membaca, bisa mengajaknya jalan kaki atau naik sepeda ke perpustakaan disekitar rumah.
        Bila ingin memiliki anak yang aktif, orangtua harus aktif. Gunakan tangga bukan lift atau eskalator dan parkir mobil di tempat yang agak jauh dari toko.  Jangan buat kegiatan olah gerak sebagai hukuman atau kewajiban. Temukan aktivitas yang menyenangkan yang dapat dilakukan oleh seluruh anggota keluarga.
        Buat pekerjaan rumah tangga sebagai kegiatan keluarga. Siapa yang banyak mencabut rumput dari kebun sayuran? Siapa yang paling banyak mengumpulkan sampah?
        Buat aktivitas yang bervariasi. Biarkan anak-anak secara bergantian memilih aktivitas apa yang akan mereka lakukan hari atau minggu ini. Latihan memukul, boling, dan renang, semua ikut dihitung.

ø  Buat sebagai Komitmen Keluarga
Anak-anak tidak dapat mengubah sendiri pola makan dan pola aktivitas mereka. Mereka membutuhkan dukungan dan dorongan dari keluarga dan pengasuh mereka. Untuk meningkatkan tingkat kesuksesan anak anda:
      Buat komitmen untuk melakukan kebiasaan sehat dalam keluarga, di mana semua anggota keluarga harus tetap mengikuti pola yang sudah ditentukan. Bila tidak, anak akan merasa disisihkan, direndahkan atau dibenci.
      Bersiaplah untuk melakukan perubahan. Perubahan yang kecil tapi berkesinambungan akan lebih mudah untuk diikuti dan dijalankan dalam kehidupan sehari-hari.
      Fokus pada program perubahan pola makan dan aktivitas untuk jangka panjang, jangan gunakan pola diet yang sudah ditentukan atau pola diet yang sedang tren yang bertujuan untuk mengurangi berat badan secara cepat. Tujuan yang harus dicapai adalah pola makan sehat dan perubahan gaya hidup, bukan jumlah kilogram yang sudah bisa dihilangkan.
      Tentukan sasaran yang dapat dicapai oleh anak dan juga seluruh anggota keluarga. Contohnya, sasaran untuk anak adalah mengurangi konsumsi minuman yang mengandung gula. Sasaran keluarga adalah makan bersama di meja setiap malam  bukan di depan televisi.

ø  Pembedahan dan Penggunaan Obat
Bila anak telah bergelut dengan masalah berat badannya untuk waktu yang cukup lama, orangtua mungkin berpikir pembedahan atau penggunaan obat mungkin dapat membantu masalahnya.  Akan tetapi penggunaan obat jarang sekali dilakukan pada anak-anak.
  Pembedahan untuk Mengurangi Berat Badan
Karena faktor risiko dan adanya kemungkinan terjadinya komplikasi jangka panjang, operasi untuk mengurangi berat badan (bariatic) jarang sekali dilakukan pada remaja.  Efek dilakukannya pembedahan pada pemikiran dan tubuh remaja yang sedang berkembang secara garis besar memang belum diketahui. Meskipun demikian, pada kasus di mana berat badan anak sangat berlebihan dan menimbulkan lebih banyak ancaman pada kesehatannya dibandingkan risiko potensial dilakukannya pembedahan, dokter mungkin akan mempertimbangkan dilakukannya pembedahan untuk mengurangi berat badan sebagai satu pilihan.
Meskipun demikian, pembedahan bukanlah jawaban termudah untuk menghilangkan masalah kelebihan berat badan. Pembedahan tidak menjamin anak anda akan kehilangan semua kelebihan beratnya atau bahwa anak anda dapat menjaga agar tubuhnya tidak kelebihan berat badan untuk jangka waktu yang lama. Pembedahan juga tidak menggantikan kebutuhan akan pola makan yang sehat dan program aktivitas fisik yang harus dilakukan secara reguler.
   Penggunaan Obat-obatan
Ada dua jenis obat untuk mengurangi berat badan yang dapat digunakan oleh para remaja: sibutramine (Meridia) dan orlistat (Xenical). Sibutramine yang sudah disetujui untuk pengobatan bagi para remaja berusia di atas 16 tahun, berfungsi mengubah susunan kimiawi di otak sehingga membuat tubuh merasa lebih cepat kenyang.  Orlistat, yang sudah disetujui untuk digunakan pada para remaja berusia diatas 12 tahun, mencegah penyerapan lemak di dalam usus.
Meskipun ada, obat-obatan seperti itu jarang sekali digunakan untuk para remaja.  Risiko penggunaan obat-obatan seperti dalam jangka panjang masih tidak diketahui, dan efek yang ditimbulkannya pada pengurangan berat badan dan untuk menjaga berat badan pada anak-anak usia remaja masih dipertanyakan. Dan, sekali lagi, obat untuk mengurangi berat badan tidak menggantikan kebutuhan akan pola makan yang sehat dan program aktivitas fisik yang harus dilakukan secara reguler.


v  Pencegahan
Tanpa melihat apakah anak memiliki risiko mengalami kelebihan berat badan atau saat ini anak memiliki berat badan yang ideal, orangtua tetap dapat mengambil langkah proaktif untuk mendapatkan atau untuk menjaga agar semua tetap berada pada jalur yang benar.  Mulailah memberikan contoh yang baik dengan cara memperhatikan makanan yang keluarga makan sehingga anak dapat tetap konsisten menjaga berat badan ideal. Kemudian, orangtua harus aktif dan mengundang anak untuk bergabung menjalankan kebiasaan yang sehat bersama-sama.
Cobalah untuk tidak beradu otot mengenai masalah makanan dengan anak.  Orangtua mungkin secara tidak sengaja telah meletakkan dasar untuk hal tersebut dengan menyediakan atau melarang makanan tertentu, contohnya permen, sebagai hadiah atau hukuman bagi anak. Umumnya, makanan bukanlah suatu hal yang direkomendasikan sebagai pengubah perilaku pada anak-anak.
Cobalah untuk selalu mengingat bahwa banyak anak yang kelebihan berat badan yang menjadi gemuk saat mereka bertambah tinggi. Orangtua juga harus menyadari, bahwa tekanan yang terlalu besar pada kebiasaan makan dan berat badan anak dapat memberi efek terbalik dimana si anak makan terlalu banyak, atau mungkin membuat mereka rawan terjangkit kelainan pada pola makan.
Orangtua tidak perlu menjadi terlalu kritis, hanya perlu menekankan pada apa yang baik, seperti senangnya bisa bermain di luar rumah, berbagai variasi buah segar yang bisa didapatkan sepanjang tahun. Tekankan juga keuntungan dari banyak beraktivitas selain dari membantu mereka untuk menjaga berat badan, contohnya, banyak bergerak membuat jantung, paru-paru dan otot-otot lain menjadi lebih kuat.  Bila orangtua terus memupuk kebiasaan alami anak-anak anda untuk berlari, menjelajah dan hanya makan saat mereka lapar, bukan karena bosan, secara otomatis mereka akan mendapatkan berat badan yang sehat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar