MANAJEMEN DAN KESEHATAN

Selasa, 05 Juni 2012

SEX EDUCATION BAGI REMAJA


1.PENGERTIAN SEKS EDUCATION
Seks education atau pendidikan seks dapat diartikan sebagai penerangan tentang bagian-bagian yang berperan dalam proses seks, bahaya seks,alat kelamin,dll. Dan dapat pula diartikan sebagai membimbing serta mengasuh seseorang agar mengerti tentang fungsi, arti, dan tujuan seks sehingga ia dapat menyalurkann secara baik, benar, dan legal.
 2. TUJUAN SEKS EDUCATION
Tujuan utama diadakannya Seks Education adalah melahirkan individu-individu yang senantiasa dapat menyesuaikan diri dengan masyarakat dan lingkungannya, serta bertaggung jawab baik terhadap dirinya maupun orang lain. Adapun tujuan akhir pendidikan seks adalah pecegahan kehamilan di luar nikah.
Tujuan pendidikan seks dapat dirinci sebagai berikut :
a) Membentuk pengertian tentang perbedaan seks antara pria dan wanita dalam keluarga, pekerjaan, dan seluruh kehidupan, yang selalu berubah dan berbeda dalan setiap masyarakat dan kebudayaan.
b) Membentuk pengertian tentang peranan seks di dalam kehidupan manusia dan keluarga, hubungan seks dan cinta, perasaan seks dalam perkawinan,dll.
c) Megembangkan pengertian diri sendiri sehubungan dengan fungsi dan kebutuhan seks.
d) Membantu siswa dalam mengembangkan kepribadian, sehingga mampu mengambil keputusan yang bertanggung jawab.
3. PENDIDIKAN SEKS PENTING BAGI REMAJA
Alasan pendidikan seks sangat penting bagi remaja adalah :
v Dapat mencegah penyimpangan dan kelainan seksual.
v Dapat memelihara tegaknya nilai-nilai moral.
v Dapat mengatasi gangguan psikis.
Pendidikan Seks pada Remaja
Dorongan atau hasrat untuk melakukan hubungan seksual selalu muncul pada remaja, oleh karena itu bila tidak ada penyaluran yang sesuai (menikah) maka harus dilakukan usaha untuk memberi pengertian dan pengetahuan mengenai hal tersebut.
Adapun faktor-faktor yang dianggap berperan dalam munculnya permasalahan seksual pada remaja, sebagai berikut :
1. Perubahan-perubahan hormonal yang meningkatkan hasrat seksual remaja. Peningkatan hormon ini menyebabkan remaja membutuhkan penyaluran dalam bentuk tingkah laku tertentu,
2. Penyaluran tersebut tidak dapat segera dilakukan karena adanya penundaan usia perkawinan, baik secara hukum oleh karena adanya undang-undang tentang perkawinan, maupun karena norma sosial yang semakin lama semakin menuntut persyaratan yang terus meningkat untuk perkawinan (pendidikan, pekerjaan, persiapan mental dan lain-lain),
3. Norma-norma agama yang berlaku, dimana seseorang dilarang untuk melakukan hubungan seksual sebelum menikah. Untuk remaja yang tidak dapat menahan diri memiliki kecenderungan untuk melanggar hal-hal tersebut,
4. Kecenderungan pelanggaran makin meningkat karena adanya penyebaran informasi dan rangsangan melalui media masa yang dengan teknologi yang canggih (cth: VCD, buku stensilan, Photo, majalah, internet, dan lain-lain) menjadi tidak terbendung lagi. Remaja yang sedang dalam periode ingin tahu dan ingin mencoba, akan meniru apa dilihat atau didengar dari media massa, karena pada umumnya mereka belum pernah mengetahui masalah seksual secara lengkap dari orangtuanya,
5. Orangtua sendiri, baik karena ketidaktahuannya maupun karena sikapnya yang masih mentabukan pembicaraan mengenai seks dengan anak, menjadikan mereka tidak terbuka pada anak, bahkan cenderung membuat jarak dengan anak dalam masalah ini,
6. Adanya kecenderungan yang makin bebas antara pria dan wanita dalam masyarakat, sebagai akibat berkembangnya peran dan pendidikan wanita, sehingga kedudukan wanita sejajar dengan pria.
Berbagai perilaku seksual pada ramaja yang belum saatnya untuk melakukan hubungan seksual secara wajar, antara lain dikenal sebagai :
1. Masturbasi atau onani, yaitu suatu kebiasaan buruk berupa manipulasi terhadap alat genital dalam rangka menyalurkan hasrat seksual untuk pemenuhan kenikmatan yang sesaat.
2. Berpacaran dengan berbagai prilaku saksual yang ringan seperti sentuhan, pegangan tangan, sampai ciuman.
3. Berbagai kegiatan yang mengarah pada pemuasan dorongan seksual yang pada dasarnya menunjukkan tidak berhasilnya seseorang dalam mengendalikan untuk mengalihkan dorongan tersebut ke kegiatan lain yang sebenarnya masih
Tujuan Pendidikan Seksual                                                                                
Pendidikan seksual selain menerangkan aspek-aspek anatomis dan biologis juga menerangkan tentang aspek-aspek psikologis dan moral.
Beerapa tujuan pendidikan seksual :
1. Memberikan pengertian yang memadai mengenai perubahan fisik, mental, proses kematangan emosional.
2. Mengurangi ketakutan dan kecemasan sehubungan dengan perkembangan dan penyesuaian seksual .
3. Membentuk sikap dan memberikan pengertian terhadap sex dalam semua manifestasitasi yang berpariasi.
4. Memberukan pengertian bahwa hubungan antara manusia dapat membawa kepuasan pada kedua individu dan kehidupan keluarga .
5. Memberikan pengertian mengenai kebutuhan nilai moral yang esensiarusl untuk memberikan dasar yang rasional dalam membuat keputusan berhubungan dengan perilaku sexual .
6. Memberikan pengatahuan tentang kesalahan dan penyimpangan sexual agar individu dapat menjaga diri dan melawan eksploitasi yang dapat memngganggu kesehatan fisik dan mentalnya .
7. Untuk mengurangi prostitusi , ketakutan terhadap sexual yang tidak rasional dan explorasi sex yang ber lebihan.
8. Memberikan pengertian dan kondisi yang dapat membuat individu melakukan aktifitas sexsual secara efektif dan kreatif dalam berbagai peran, misalnya sebagi istri atau suami, orang tua , anggota masyarakat.
Jadi tujuan pendidikan sexual adalah untuk membentuk suatu sikap emosional yang yang sehat terhadap masalah sexualdan membimbing anak dan remaja kearah hidup dewasa yang sehat dan bertangjawab terhadap kehidupan sexualnya.
Hal yang penting dalam memberikan pendidikan sexual :
1. Cara menyampaikannya harus wajar dan sederhana , jangan terlihat ragu-ragu atau malu.
2. Isi uraian yang disampaikan harus obyektif.
3. Dangkal atau mendalamnya isi uraiannya harus disesuaikan dengan kebutuhan dan dengan tahap perkembangan anak.
4. Pendidikan sexual harus diberikan secara pribadi.
5. Pada akhirnya perlu diperhatikan bahwa usahakan melaksanakan pendidikan sexual perlu diulang-ulang, selain itu juga perlu untuk mengetahui seberapa jauh sesuatu pengertian baru dapat diserap oleh anak juga perlu untuk mengingatkan dan memperkuat apa yang telah diketahui agar benar-benar menjadi bagian dari pengetahuannya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar