Minggu, 29 Januari 2023

TRIAD EPIDEMIOLOGI (HOST, AGENT DAN ENVIRONMENT)

 TRIAD EPIDEMIOLOGI (HOST, AGENT DAN ENVIRONMENT)

A.    Triad Epidemiologi

Epidemiologi memakai cara pandang ekologi untuk mengkaji interaksi berbagai elemen dan faktor dalam lingkungan dan implikasi yang berkaitan dengan suatu penyakit. Ekologi merupakan hubungan organisme, antara satu dengan yang lainnya. Semua penyakit atau kondisi tidak selalu dapat dikaitkan dengan hanya satu faktor penyebab (tunggal). Jika diperlukan lebih dari satu penyebab untuk menimbulkan satu penyakit, hal ini disebut dengan penyebab ganda (multiple epidemiology) yang bisa digunakan dalam penyakit menular merupakan dasar dan landasan untuk semua bidang epidemiologi. Namun saat ini penyakit infeksi tidak lagi menjadi penyebab utama kematian dinegara industri sehingga diperlukan metode segitiga epidemiologi yang lebih mutakhir. Model ini mencakup semua aspek dalam model penyakit menular, dan agar dapat dipakai bersama penyebab penyakit, kondisi, gangguan, defek, dan kematian saat ini, model ini dapat mencerminkan penyebab penyakit dan kondisi saat ini.

Konsep penyebab dan proses terjadinya penyakit dalam epidemiologi berkembang dari rantai sebab akibat kesuatu proses kejadian penyakit yakni proses interaksi antara manusia (pejamu) dengan berbagai sifatnya (biologis, Fisiologis, Psikologis, Sosiologis dan antropologis) dengan penyebab (agent) serta dengan lingkungan (Enviroment). (Nur nasry noor, 2000. Dasar epidemiologi ,Rineka cipta.Jakarta).

Menurut John Bordon, model segitiga epidemiologi menggambarkan interaksi tiga komponen penyakit yaitu Manusia (Host), penyebab (Agent) dan lingkungan (Enviromet). Untuk memprediksi penyakit, model ini menekankan perlunya analis dan pemahaman masing-masing komponen. Penyakit dapat terjadi karena adanya ketidak seimbangan antar ketiga komponen tersebut. Model ini lebih di kenal dengan model triangle epidemiologi atau triad epidemilogi dan cocok untuk menerangkan penyebab penyakit infeksi sebab peran agent (yakni mikroba) mudah di isolasikan dengan jelas dari lingkungan.

 

Ketiga faktor dalam trias epidemiologi terus menerus dalam keadaan berinteraksi satu sama lain. Jika interaksinya seimbang, terciptalah keadaan seimbang. Begitu terjadi gangguan keseimbangan, muncul penyakit. Terjadinya gangguan keseimbangan bermula dari perubahan unsur-unsur trias itu. Perubahan unsur trias yang petensial menyebabkan kesakitan tergantung pada karakteristik dari ketiganya dan interakksi antara ketiganya.

EpidemiologicTriad.gif
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Model ini digunakan untuk memperlihatkan interaksi dan ketergantungan satu sama lainnya antara agent, host, dana environment. Segitiga epidemiologi digunakan untuk menganalisa peran dan keterkaitan setiap faktor dalam epidemiologi penyakit menular yaitu pengaruh, reaktivitas dan efek yang dimiliki setiap faktor terhadap faktor lainnya.

Dalam keadaan normal terjadi sebuah keseimbangan yang dinamis antara ketiga komponen ini yang disebut sehat. Pada suatu keadaan dimana ketidakseimbangan yang dinamis antara ketiga komponen ini, maka hal ini disebut dengan sakit.

 

 

 

 

1.     Faktor Agent

Agen adalah penyebab penyakit, bisa bakteri, virus, jamur, parasit, atau kapang yang merupakan agen yang ditemukan sebagai penyebab penyakit infeksius. Pada penyakit, kondisi, ketidakmampuan, cedera atau situasi kematian lain, agen dapat berupa zat kimia, faktor fisk seperti radiasi atau panas,  defisiensi gizi, atau beberapa subtansi lainnya seperti racun ular berbisa. Satau atau beberapa agen dapat berkontribusi pada satu penyakit. Faktor agen juga dapat digantikan dengan faktor penyebab, yang menyiratkan perlunya dilakukan identifikasi terhadap faktor penyebab atau faktor etiologi penyakit, ketidakmampuan, kecacatan, cedera dan kematian. Pada kejadian kecelakaan faktor agen dapat berupa mekanisme kecelakaan, kendaraan yang dipakai.

Agen dapat diartikan pula sebagain substansi atau element makhluk hidup atau makhluk tak hidup yang kehadiran dan ketidakhadirannya dapat menimbulkan atau mempengaruhi perjalanan suatu penyakit.

Agent  adalah suatu unsur, organisme hidup atau infektif yang dapat menyebabkan terjadinya suatu penyakit. (M.N Bustan: 2006). Agen tersebut meliputi agen biologis, kimia, nutrisi, mekanik, dan fisika. Agen biologis bersifat parasit pada manusia, seperti metazoan, protozoa, jamur, bakteri, ricketsia, dan virus. Agen kimia meliputi pestisida, asbes, CO, zat allergen, obat-obatan, limbah industri, dll. Agen nutrisi meliputi karbohidrat, lemak, protein, vitamin, mineral, dan air yang jika kekurangan atau kelebihan zat-zat tersebut, maka dapat menimbulkan penyakit. Agen mekanik meliputi friksi yang kronik, misalnya kecelakaan, trauma organ yang menyebabkan timbulnya sakit, dislokasi (payah tulang), dll.

Dari segi epidemiologi, konsep faktor agen mengalami perkembangan dengan mempergunakan terminologi faktor resiko (risk factor). Jadi, tidak hanya unsur-unsur di atas yang tergolong faktor resiko, tetapi mencakup semua hal yang memberikan kemungkinan terjadinya penyakit. Contoh faktor resiko yang bersifat tingkah laku yang tidak sehat, yaitu minum alkohol, drug abuse, merokok, tidak menggunakan tali pengaman (seat bealt), kurang olah raga, dll.

 

Yang dimaksud dengan bibit penyakit ialah suatu subtansi atau eleman tertentu  yang  kehadiran atau ketidak-hadirnnya dapat menimbulkan  atau mempengaruhi perjalan suatu penyakit. Subtansi dan elemen yang dimaksud banyaknya macamnya, yang secara sederhana dapat dikelompokkan  ke dalam lima macam yakni:

a.     Golongan nutrien .

Yang dimaksud dengan golongan nutrien ialah zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh untuk melangsung fungsi kehidupan. Zat  gizi yang dibutuhkan oleh tubuh itu dibedakan atas enam macam yakni karbohidrat, putih telur, lemak , vitamin, mineral, dan air. Jika seseorang  mengalami  kekeurangan  dan atau kelebihan  zat gizi ini, akan timbul penyakit tertentu.

b.     Gologan nutrien kimia.

Adalah berbagai zat kimia yang ditemukan  di alam ( exogenous chemical substance ) dan zat kimia  yang dihasilkan oleh tubuh ( endogeneous chemical subtance ). Sebenarnya golongan nutien  termasuk  dalam golongan kimia, namun karena zat gizi  menempati  peranan sendiri dalam kesehatan, maka pembicaranya sering  dipisahkan. Apabila  tubuh terkena dan atau kemasukan  zat kimia tertentu  seperti logam berat, gas beracun atau debu, akan dapat menimbulkan  beberapa penyakit  tertentu.

c.     Golongan  fisik

Golongan  fisik seperti suhu yang terlalu tinggi atau rendah, suara yang trlalu bising, kelembaban udara, tekanan udara, radiasi atau trauma mekanis, dapat menimbulkan  berbagai macam penyakit. Peranan dalam  menimbulkan penyakit pada umumnya jika berada dalam keadaan akan luar biasa, baik dari sudut jumlah (kuantitas) ataupun dari sudut mutu (kualitas).

d.     Golongan mekanik.

Golongan mekanik sering digolongkan pula  ke dalam golongan pula ke dalam golongan fisik. Jika ingin dibedakan ialah karena ada golongan mekanij unsur campur tanggan  manusia lebih banyak ditemukan, seperti misalnya kecelakaan di jalan raya, pukulan dan lain sebagianya yang seperti ini.

 

 

 

e.     Golongan biologik.

Penyebab penyakit yang termasuk golongan biologik dapat berupa jasat renik (mikro organisme) dan atau berupa jasat renik baik yang berasal dari hewan (flora) dan ataupun yang berasal dari tumbuh-tumbuhan (fauna). Contohnya ialah metazoa (artopoda dan helminutes), protozoa, bakteri, riketsia, virus dan jamur.

Pada dasarnya, tidak satu pun penyakit yang dapat timbul hanya di sebabkan oleh satu faktor tunggal semata, pada umumnya kejadian penyakit di sebabkan oleh berbagai unsur yang secara bersama-sama mendorong terjadinya penyakit, namun demikian, secara dasar, unsur penyebab penyakit dapat di bagi dalam dua bagian utama yakni :

1.     Penyebab kausal (primer)

Unsur ini dianggap sebagai faktor kausal Terjadinya penyakit, dengan ketentuan bahwa walaupun unsur ini ada, belum tentu terjadi penyakit, tetapi sebaliknya, Pada penyakit tertentu, unsur ini dijumpai sebagai unsur penyebab kausal. Unsur penyebab kausul ini dapat dibagi dalam 6 kelompok yaitu :

a.     Unsur penyebab biologis yakni semua unsur penyebab yang tergolong makhluk hidup termasuk kelompok mikro organisme seperti Virus, bakteri, protozoa, jamur, kelompok cacing, dan insekta. Unsur penyebab ini pada umumnya di jumpai pada penyakit infeksi menular

b.     Unsur penyebab, nutrisi yakni semua unsur penyebab yang termasuk golongan zat nutrisi dan dapat menimbulkan penyakit tertentu karena kekurangan maupun kelebihan zat nutrisi tertentu seperti protein, lemak, hidrat arang, vitamin, mineral, dan air.

c.      Unsur penyebab kimiawi yakni semua unsur dalam bentuk senyawaan kimia yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan/penyakit tertentu. Unsur ini pada umumnya berasal dari luar tubuh termasuk berbagai jenis zat, racun, obat-obatan keras, berbagai senyawaan kimia ini dapat berbentuk padat, cair, uap, maupun gas. Ada pula senyawaan kimiawi sebagai hasil produk tubuh (dari dalam) yang dapat menimbulkan penyakit tertentu seperti ureum, kolesterol, dan lain-lain

d.     Unsur penyebab fisika yakni semua unsur yang dapat menimbulkan penyakit melalui proses fisika umpamanya panas (luka bakar), irisan, tikaman, pukulan (rudapaksa), radiasi dan lain-lain. Proses kejadian penyakit dalam hal ini terutama melalui proses fisika yang dapat menimbulkan kelainan dan gangguan kesehatan

e.     Unsur penyebab psikis yakni semua unsur yang pertalian dengan kejadian penyakit gangguan jiwa serta gangguan tingkah laku sosial. Unsur penyebab ini belum jelas proses dan mekanisme kejadian dalam timbulnya penyakit, bahkan sekelompok ahli lebih menitik beratkan kejadian penyakit pada unsur penyebab genetika. Dalam hal ini kita harus berhati-hati terhadap faktor kehidupan sosial yang bersifat non kausal serta lebih menampakkan diri dalam hubungannya dengan proses kejadian penyakit maupun gangguan kejiawaan

2.     Penyebab non-kausal (sekunder)

Penyebab sekunder merupakan unsur pembantu/penambah dalam proses kejadian penyakit dan ikut dalam hubungan sebab akibat terjadinya penyakit. Dengan demikian, maka dalam setiap analis penyebab penyakit dan hubungan sebab akibat terjadinya penyakit, kita tidak hanya berpusat pada penyebab kausal primer semata, tetapi harus memperhatikan semua unsur lain di luar unsur penyebab kausal primer. Hal ini di dasarkan pada ketentuan bahwa pada umumnya kejadian setiap penyakit sangat di pengaruhi oleh berbagai unsur yang berinteraksi dengan unsur penyebab dan ikut dalam proses sebab akibat. Sebagai contoh pada penyakit kardiovaskuler, tuberkulosis, kecelakaan lalu lintas, dan lain sebagainya. Kejadiannya tidak di batasi hanya pada penyebab kausal saja, tetapi harus di analisis dalam bentuk suatu rantai sebab akibat di mana peranan unsur penyebab sekunder sangat kuat dalam mendorong penyebab kausal primer untuk dapat secara bersama-sama menimbulkan penyakit

Dan penyebab agent menurut model segitiga epidemilogi terdiri dari biotis dan abiotis.

Biotis khususnya pada penyakit menular yaitu terjadi dari 5 golongan

1. Protozoa : misalnya Plasmodum, amodea

2. Metazoa : misalnya arthopoda , helminthes

3. Bakteri misalnya Salmonella, meningitis

4. Virus misalnya dengue, polio, measies, lorona

5. Jamur Misalnya : candida, tinia algae, hystoples osis

Abiotis, terdiri dari

1. Nutrient Agent, misalnya kekurangan /kelebihan gizi (karbohididrat, lemak, mineral, protein dan vitamin)

2. Chemical Agent, misalnya pestisida, logam berat, obat-obatan

3. Physical Agent, misalnya suhu, kelembaban panas, kardiasi, kebisingan.

4. Mechanical Agent misalnya pukulan tangan kecelakaan,benturan, gesekan, dan getaran

5. Psychis Agent, misalnya gangguan phisikologis stress depresi

6. Physilogigis Agent, misalnya gangguan genetik.

Kebiasaan hidup dan kehidupan sosial sehari-hari termasuk kehidupan sehat.(Heru subari,dkk,2004.Manajemen epidemiologi,Media pressindo,Yogyakarta. Hal.16-17.)

Berat-ringannya penyakit infeksi yang dialami amat ditentukan oleh sifat bibit penyakit yang menyerang. Sifat tersebut dapat dibedakan atas lima  macam yakni:

1.     Yang dimaksud dengan patogenesitis ialah kemapuan bibit penyakit untuk menimbulkan reaksi pada pejamu sehingga timbul penyakit (discase stimulus). Jika kemampuan ini tidak dimiliki, penyakit tidak akan muncul. Bibit penyakit yang seperti ini disebut dalam tubuh banyak ditamukan kuman a-patogen yang hidup tanpa menimbulkan penyakit pada manusia.

2.     Virulensi : kesanggupan organisma tertentu untuk menghasilakan reaksi patologis yang berat yang selanjutnya mungkin menyebabkan kematian. Virulensi kuman menunjukkan beratnya (suverity) penyakit.

3.     Toksisitas: kesanggupan organisma untuk memproduksi reaksi kimia yang toksis dari substansi kimia yang dibuatnya. Dalam upaya merusak jaringan untuk menyebabkan penyakit berbagai kuman mengeluarkan zat toksis.

4.     Invasitas: kemampuan organisma untuk melakukan penetrasi dan menyebar setelah memasuki jaringan.

5.     Antigenisitas: kesanggupan organisma untuk merangsang reaksi imunologis dalam penjamu. Beberapa organisma mempunyai antigenesitas lebih kuat dibanding yang lain. Jika menyerang aliran darah (virus measles) akan lebih merangsang immunoresponse dari yang hanya menyerang permukaan membran (gonococcuc).

Selain faktor-faktor diatas, sifat-sifat mikroorganisme sebagoi agen penyebab penyakit juga merupakan faktor penting dalam proses timbulnya penyakit infeksi. Sifat-sifat mikroorganisme tersebut antara lain.

1.     Patogenitas,

2.     Virulensi,

3.     Tropisme,

4.     Serangan terhadap penjamu,

5.     Kecepatan berkembang dengan baik,

6.     Kemampuan menem bus jaringan,

7.     Kemampuan menembus toksin, dan

8.     Kemampuan menimbulkan kekebalan.

 

2.     Faktor Penjamu (Host)

Host (penjamu) adalah manusia atau hewan hidup, termasuk burung dan arthopoda, yang dapat memberikan kehidupan atau tempat tinggal untuk agent menular dalam kondisi alam (lawan dari percobaan). Beberapa protozoa dan cacaing melalui tahapan yang berturut-turut dalam penjamu pilihan (alternatif host) dari jenis yang berbeda. Penjamu dimana parasit mencapai kematangan/pendewasaan atau melewati tahap seksual adalah penjamu definitife atau penjamu primer. Sedangkan parasit dalam tahap larva atau tahap aseksual adalah penjamu intermediate atau sekunder. Penjamu pembawa (transport host) adalah pembawa, dimana organisme tetap bertahan hidup tetapi tidak berkembang/berubah.

Penjamu adalah organisme, biasanya manusia atau hewan yang menjadi tempat persinggahan penyakit. Penjamu memberikan tempat dan penghidupan kepada suatu patogen (mikroorganisme penyebab penyakit) dan dia bisa saja terkena atau tidak terkena penyakit. Efek yang ditimbulkan organisasi penyebab penyakit terhadap tubuh juga ditentukan oleh tingkat imunitas, susunan genetik, tingkat pajanan, status kesehatan, dan kebugaran tubuh penjamu. Penjamu juga dapat berupa kelompok atau populasi dan karakteristiknya. Seperti halnya kecelakaan lalu lintas, yang menjadi host adalah manusia (pengendara atau penumpang).

Unsur pejamu secara umum dapat dibagi dalam dua kelompok yaitu :

1)    Manusia sebagai makhluk biologis memiliki sifat biologis tertentu seperti

*. Umur, jenis kelamin, ras dan keturunan

*. Bentuk anatomis tubuh

2)    Manusia sebagai makhluk sosial mempunyai berbagai sifat khusus seperti

*. Kelompok etnik termasuk adat, kebiasaan, agama dan hubungan keluarga sehubungan sosial kemasyarakatan.

*. Kebiasaan hidup dan kehidupan sosial sehari-hari termasuk kebiasaan  hidup sehat. (Nur nasry noor , 2002. Epidemiologi. Universitas Hasanuddin. Makassar. Hal.27)

 

 Host atau penjamu memiliki karakteristik tersendiri dalam menghadapi ancaman penyakit antara lain :

a.     Imunitas : Kesanggupan host untuk mengembangkan suatu respon immunologis, dapat secara alamiah maupun perolehan (non-alamiah), sehingga tubuh kebal terhadap suatu penyakit tertentu. Selain mempertahankan diri, pada jenis-jenis penyakit tertentu mekanisme pertahanan tubuh dapat menciptakan kekebalan tersendiri. Misalnya campak, manusia mempunyai kekebalan seumur hidup, mendapat immunitas yang tinggi setelah terserang campak, sehingga seusai kena campak sekali maka akan kebal seumur hidup.

b.     Resistensi : Kemampuan dari penjamu untuk bertahan terhadap suatu infeksi. Terhadap suatu infeksi kuman tertentu, manusia mempunyai mekanisme pertahanan tersendiri dalam menghadapinya.

c.     Infektifnes (infectiousness) : potensi penjamu yang terinfeksi untuk menularkan penyakit kepada orang lain. Pada keadaan sakit maupun sehat, kuman yang berada dalam tubuh manusia dapat berpindah kepada manusia dan sekitarnya.

Faktor penjamu ialah semua faktor yang terdapat pada diri manusia yang dapat mempengaruhi timbulnya serta perjalanan suatu penyakit. Faktor tersebut antara lain :

a.     Keturunan (genetik) : dalam dunia kedokteran dikenal berbagai macam penyakit yang dapat diturunkan seperti misalnya penyakit alergi, kelainan jiwa dan beberapa jenis penyakit kelainan darah.

b.     Umur : pada saat ini banya dikenal penyakit tertentu yang hanya menyerang golongan umur tertentu saja.

c.     Jenis Kelamin : frekuensi penyakit pada laki-laki lebih tinggi dibandingkan pada wanita dan penyakt tertentu seperti penyakit pada kehamilan serta persalinan hanya terjadi pada wanita sebagaimana halnya penyakit hipertrofi prostat hanya dijumpai pada laki-laki.

d.     Ras : hubungan antara ras dan penyakit tergantuk pada tradisi, adat istiadat, dan perkembangan budaya. Terdapat penyakit tertentu yang hanya dijumpai pada ras tertentu seperti sickle cell anemia oleh ras Negro.

e.     Pekerjaan : status pekerjaan memiliki hubungan erat dengan penyakit akibat pekerjaan seperti keracunan, kecelakaan kerja, silikosis, asbestosis dan lainnya.

f.       Status Nutrisi : gizi yang buruk dapat mempermudah orang terserang penyakit menular seperti TBC, dan kelainan gizi seperti obesitas, kolesterol tinggi, dan lainnya.

g.      Status Kekebalan : reaksi tubuh terhadap penyakit tergantung pada status kekebalan yang dimiliki sebelumnya seperti kekebalan terhadap penyakit virus yang tahan lama dan seumur hidup.

h.     Adat istiadat : ada beberapa adat-istadat yang dapat menimbulkan penyakit seperti makan ikan mentah dapat menyebabkan penyakit cacing hati.

i.       Gaya hidup : kebiasaan minum alkohol, narkoba dan merokok dan menimbulkan gangguan pada kesehatan. Seseorang yang hidup kurang bersih, tentunya lebih mudah terkena penyakit infeksi daripada sebaliknya.

j.       Psikis : faktor kejiwaan seperti emosional, stress dapat menyebabkan terjadinya penyakit hipertensi, ulkus peptikus, depresi, insomnia dan lainnya.

3.     Faktor Lingkungan (environment)

Lingkungan merupakan faktor ketiga sebagai penunjang terjadinya penyakit. Faktor ini disebut "faktor ekstrinsik". Faktor lingkungan dapat berupa lingkungan fisik, lingkungan biologis, atau lingjungan sosial ekonomi.

a.     Lingkungan fisik

Bersifat abiotik atau benda mati seperti air, udara, tanah, cuaca, makanan, rumah, panas, sinar, radiasi, dan lain-lain. Lingkungan fisik ini berintraksi secara konstandengan manusia sepanjang waktu dan masa, serta memegang peran penting dalam proses terjadinya penyakit pada masyarakat, seperti kekurangan persediaan air bersih terutama pada musim kemarau dapat menimbulkan penyakit diare dimana-mana.

Yang termasuk lingkungan fisik antara lain geografik dan keadaan musim. Misalnya, negara yang beriklim tropis memilikiola penyakit yang berbeda dengan negara yang beriklim dingin atau subtropis. Demikian pula negara maju dengan negara berkembang. Dalam satu negara pun dapat terjadi perbedaan pola penyakit, misalnya antara daerah pantai dan daerah pegunungan atau antara kota dan desa.

Keadaan fisik sekitar manusia yang berpengaruh terhadap manusia baik secara langsung, maupun terhadap lingkungan biologis dan lingkungan sosial manusia. Lingkungan fisik (termasuk unsur kimiawi serta radiasi) meliputi :

Udara keadaan cuaca, geografis, dan golongan

·       Air, baik sebagai sumber kehidupan maupun sebagai bentuk pemencaran pada air, dan

·       Unsur kimiawi lainnya pencemaran udara, tanah dan air, radiasi dan lain sebagainya.

Lingkungan fisik ini ada yang termasuk secara alamiah tetapi banyak pula yang timbul akibat manusia sendiri(Nur nasri noor,2000,Dasar epidemiologi,Rinika cipta,Jakarta. Hal.28.)

 

 

 

b.     Lingkungan biologis

Bersifat biotik atau benda hidup seperti tumbuh-tumbuhan, hewan, virus, bakteri, jamur, parasit, serangga dan lain-lain yang dapat berfungsi sebagai agen penyakit, reservoar infeksi, vektor penyakit, atau penjamu (host) intermediate. Hubungan manusia dengan lingkungan biologisnya bersifat dinamis dan bilang terjadi ketidakseimbangan antara hubungan manusia dengan lingkungan biologis maka manusia akan menjadi sakit.

Lingkungan biologis ialah semua makhluk hidup yang berada disekitar, manusia yaitu flora dan fauna, termasuk manusia. Misalnya, wilayah dengan flora yang berbeda akan mempunyai pola penyakit yang berbeda. Faktor lingkungan biologis ini selain bakteri dan virus patogen, ulah manusia juga mempunyai peran yang penting dalam terjadinya penyakit, bahkan dapat dikatakan penyakit timbul karena ulah manusia.

Antara lain:

·       Miokroorganisme penyebab penyakit

·       Reservoar penyakit Infeksi

·        Vektor pembawa penyakit

·        Tumbuhan dan hewan sebagai sumber makanan

·       Manusia

Berbagai binatang dan tumbuhan yang dapat mempengaruhi kehidupan manusia, baik sebagai sumber kehidupan (bahan makanan dan obat-obatan),maupun sebagai reservoir/sumber penyakit atau pejamu antara (host intermedia). Fauna sekitar manusia yang berfungsi sebagai vektor penyakit tertentu terutama penyakit menular

Lingkungan biologis tersebut sangat berpengaruh dan memegang peranan yang penting dalam interaksi antara manusia sebagai pejamu dengan unsur penyebab, baik sebagai unsur lingkungan yang menguntungkan manusia (sebagai sumber kehidupan) maupun yang mengancam kehidupan / kesehatan manusia (Nur nasri noor. 2002, Epidemiologi ,Univesutas Hasanuddin Makassar. Hal.28-29)

 

 

c.     Lingkungan sosial ekonomi

Berupa kultur, adat istiadat, kebiasaan, kepercayaan, agama, sikap, standar, dan gaya hidup, pekerjaan, kehidupan kemasyarakatan, organisasi sosial dan politik. Manusia dipengaruhi oleh lingkungan sosial melalui berbagai media seperti radio, televisi, pers, seni, literatur, cerita, lagu dan sebagainya. Bila manusia tidak dapat menyesuaikan dirinya dengan lingkungan sosial, maka akan terjadi konflik kejiwaan yang dapat menimbulkan gejala psikosomatik seperti insomnia, depresi dan lainnya.

Semua bentuk kehidupan sosial budaya, ekonomi, politik, sistem organisasi. Serta instusi/peraturan yang berlaku bagi setiap individu yang membentuk masyarakattersebut. Lingkungan sosial ini meliputi :

·       Sistem hukum, administrasi dan lingkungan sosial politik, serta sistem ekonomi yang berlaku

·       Bentuk organisasi masyarakat yang berlaku setempat

·       Sistem pelayanan kesehatan serta kebiasaan hidup sehat masyarakat setempat, dan

·       Kebiasaan hidup masyarakat

·       Kepadatan penduduk. Kepadatan rumah tangga, serta berbagai sistem kehidupan sosial lainnya.

 

Yang termasuk dalam faktor sosial ekonomi adalah pekerjaan, urbanisasi, perkembangan ekonomi, dan bencana alam.

1)    Pekerjaan. Pekerjaan yng berhubungan dengan zat kimia seperti pestisida atau zat fisika seperti zat radio aktif atau zat yang bersifat karsinogen seperti asbes akan memudahkan terkena penyakit akibat pemaparan terhadap zat-zat tersebut.

2)    Urbanisasi. Urbanisasi dapat menimbulkan berbagai masalah sosial seperti kepadatan penduduk dan timbulnya daerah kumuh, perumahan, pendidikan, dan sampah dan tinja yang akan mencemari air minu  dan lingkungan. Lingkungan demikian merupakan penunjang terjadinya berbagai macam penyakit infeksi.

3)    Perkembangan ekonomi. Peningkatan ekonomi rakyat akan mengubah pola konsumsi yang cenderung memakan makanan yang mengandung banyak kolesterol. Keadaan ini memudahkan timbulnya penyakit hipertensi dan penyakit jantung sebagai akibat kadar kolesterol darah yang meningkat. Sebaliknya, bila tingkat ekonomi rakyat yang rendah akan timbul masalsh perumahan yang tidak sehat, kurang gizi, dan lain-lain yang memudahkan timbulnya penyakit infeksi.

4)    Bencana alam : Terjadinya bencana alam akan mengubah sistem ekologi yang tidak dapat diramalkan sebelumnya. Misalnya, gempa bumi, banjir, meletusnya gunung berapi, dan perang yang akan menyebabkan kehidupan penduduk yang terkena bencana menjadi tidak teratur. Keadaan ini memudahkan timbulnya berbagai penyakit.

Peranan lingkungan dalam menyebabkan timbul atau setidaknya penyakit dapat bermacam-macam. Salah satu diantaranya ialah sebagai reservoir bibit penyakit (environmental reservoir). Adapun yang dimaksud dengan reservior ialah tempat hidup yang dipandang paling sesuai bagi bibit penyakit.

Selain faktor-faktor diatas, environment juga memiliki karakteristik :

  1. Topografi: situasi lingkungan tertentu, baik yang natural maupun buatan manusia yang mungkin mempengaruhi terjadinya dan penyebaran suatu penyakit tertentu.

2.     Geografis: keadaan yang berhubungan dengan struktur geologi dari bumi yangberhubungan dengan kejadian penyakit

Dari keseluruhan unsur tersebut di atas, di mana hubungan interaksi antara satu dengan yang lainnya akan menentukan proses dan arah dari proses kejadian penyakit, baik pada perorangan, maupun dalam masyarakat. Dengan demikian maka terjadinya suatu penyakit tidak hanya di tentukan oleh unsur penyebab semata, tetapi yang utama adalah bagaimana rantai penyebab dan hubungan sebab akibat di pengaruhi oleh berbagai faktor maupun unsur lainnya. Oleh sebab itu, maka dalam setiap proses terjadinya penyakit, selalu kita memikirkan adanya penyebab jamak (multiple causational). Hal ini sangat mempengaruhi dalam menetapkan program pencegahan maupun penanggulangan penyakit tertentu. Karena usaha tersebut hanya akan memberikan hasil yang di harapkan bila dalam perencanaannya memperhitungkan berbagai unsur di atas.(Nur nasry noor.2002.Epidemiologi.Universitas Hasanuddin,Makassar.Hal.29)

Dari penyesalan model segitiga epidemiologi sangat berhubungan erat dan saling terkait, dan keseimbangan itulah yang menentukan terjadi atau tidaknya suatu penyakit. Dan pertimbangan ini menerapkan pertimbangan mendasar yang sangat terpisah, tetapi itu tidak cukup sebab masih ada beberapa pertimbangan penting lainnya yakni pertimbangan perjalanan alamiah penyakit.

B.    Hubungan antara Agent, Host, dan Environment

Dalam usaha-usaha pencegahan dan kontrol yang efektif terhadap penyakit perlu dipelajari mekanisme interaksi yag terjadi antara agen penyakit, manusi dan lingkungannya.

Hubungan antara penjamu, bibit penyakt dan lingkungan dalam menimbulkan suatu penyakit amat kompleks dan majemuk. Disebutkan bahwa ketiga faktor ini saling mempengaruhi, dimana penjamu dan bibit penyakit saling berlomba untuk menarik keuntungan dari lingkungan. Hubungan antara penjamu, bibit penyakit dan lingkungan ini diibaratkan seperti timbangan. Disini penjamu dan bibit penyakit berada diujung masing-masih taus, sedangkan lingkungan sebagai penumpunya.

H

 

 

 

A

 

E

 

 

 

 

 

 


Pada diagram diatas dilihat bahwa adanya keseimbangan antara penjamu (host) dengan bibit penyakit (agent) dimana lingkungan (environment) sebagai tuas atau tumpuas menyebabkan keseimbangan antara ketiga unsur yang menjadi konsep sehat.

 

 

1.     Interaksi antara agen penyakit dan lingkungan

Keadaan dimana agen penyakit langsung dipengaruhi oleh lingkungan dan terjadi pada saat pre-patogenesis dari suatu penyakit. Misalnya: Viabilitas bakteri terhadap sinar matahari, stabilitas vitamin sayuran di ruang pendingin, penguapan bahan kimia beracun oleh proses pemanasan bumi global.

Diagram 1. Ketidakseimbangan agen dengan lingkungan

 
 


 

E

 
 

 

 

 

 

 


2.     Interaksi antara manusia dengan lingkungan

Keadaan dimana manusia langsung dipengaruhi oleh lingkungannya pada fase pre-patogenesis. Misalnya : udara dingin, hujan dan kebiasaanmembuat dan meyediakan makanan.

Diagram 2. Ketidakseimbangan Host dengan  Lingkungan

 
 

 

 

 

 

 

 

 

 


3.     Interaksi antara manusia dengan agent penyakit

Keadaan dimana agen penyakit menetap, berkembang biak dan dapat merangsang manusia untuk menimbulkan respon berupa tanda-tanda dan gejala penyakit. Misalnya: Demam, perubahan fisiologis dari tubuh, pembentukan kekebalan, atau mekanisme pertahanan tubuh lainnya. Interaksi yang terjadi dapat berupa sembuh sempurna, cacat, ketidakmampuan, atau kematian.

Diagram 3. Ketidakseimbangan antara Agent dan Host

 
 


 

E

 

 
 

 

 

 

 

 


4.     Interaksi antara agent penyakit, host dan lingkungan

A

 

 
Keadaan dimana agen penyakit, manusia, dan lingkungan bersama-sama saling mempengaruhi dan memperberat satu sama lain, sehingga memudahkan agen penyakit baik secara langsung atau tidak langsung masuk ke dalam tubuh manusia. Misalnya : pencemaran air sumur oleh kotoran manusia akan dapat menimbulkan penyakit muntaber (water borne diseases)

H

 

Diagram 4. Ketidakseimbangan antara Agent, Host, dan Lingkungan

 
 

 

 

 

 

 

 


Dalam mempengaruhi timbulnya penyakit tersebut, unsur-unsur yang terdapat pada tiap faktor memegang peranan yang amat penting. Pengaruh unsur tersebut adalah sebagian penyebab timbulnya penyakit, yang dalam kenyataan sehari-hari tidak hanya bersasal dari satu unsur saja, melainkan dapat sekaligus dari beberapa unsur.

Karena adanya pengaruh dari beberapa unsur inilah sering disebut bahwa penyebab timbulnya suatu penyakit tidak bersifat tunggal, melainkan bersifat majemuk yang dikenal dengan istilah multiple causation of disease.

Selanjutnya, dalam menimbulkan penyakit, peranan unsru-unsur tersebut tidaklah secara sendiri-sendiri, melainkan saling mempengaruhi antara satu dengan yang lainnya. Hubungan yang diperlihatkan bagaikan jaringan jala penyebab dan karena itu populer dengan sebutan web of causation.

Jika bibit penyakit ditinjau dari sifat patogenisiti dan kemudian dikaitkan dengan lingkungan dan penjamu sebagai dua faktor lainnya yang mempengaruhi timbulnya suatu penyakit, maka ketiganya terikat dalam suatu hubungan yang terbentuk segitiga yang dikenal dengan sebutan epidemiological triangle.

Riwayat alamiah suatu penyakit pada umumnya melalui tahap sebagai berikut:

       I.          Tahap prepatogensis

     II.          Tahap Patogenesi

 

Uraian masing-masing tahap itu adalah sebagai berikut :

a.     Tahap Prepatogensis

Pada tahap ini individu berada dalam keadaan normal/sehat tetapi mereka pada dasarnya peka terhadap kemungkinan terganggu oleh serangan agen penyakit (stage of suseptibility). Walaupun demikian pada tahap ini sebenarnya telah terjadi interaksi antara penjamu dengan bibit penyakit. Tetapi interaksi ini masih terjadi di luar tubuh, dalam arti bibit penyakit masih ada diluar tubuh pejamu dimana para kuman mengembangkan potensi infektifitas, siap menyerang penjamu. Pada tahap ini belum ada tanda-tanda sakit sampai sejauh daya tahan tubuh penjamu masih kuat. Namun begitu penjamunva ‘lengah’ ataupun memang bibit penyakit menjadi lebih ganas ditambah dengan kondisi lingkungan yang kurang menguntungkan pejamu, maka keadaan segera dapat berubah. Penyakit akan melanjutkan perjalanannya memasuki fase berikutnya, tahap patogenesis.

b.     Tahap Patogenesis

Tahap ini meliputi 4 sub-tahap yaitu:- Tahap Inkubasi, - Tahap Dini, - Tahap Lanjut, dan -Tahap Akhir.

b.1. Tahap Inkubasi

Tahap inkubasi merupakan tenggang diwaktu antara masuknya bibit penyakit ke dalam tubuh yang peka terhadap penyebab penyakit, sampai timbulnya gejala penyakit. Masa inkubasi ini bervariasi antara satu penyakit dengan penyakit lainnya. Dan pengetahuan tentang lamanya masa inkubasi ini sangat penting, tidak sekadar sebagai pengetahuan riwayat penyakit, tetapi berguna untuk informasi diagnosis. Setiap penyakit mempunyai masa inkubasi tersendiri, dan pengetahuan masa inkubasi dapat dipakai untuk identifikasi jenis penyakitnya.

b.2. Tahap Dini

Tahap ini mulai dengan munculnya gejala penyakit yang Kelihatannya ringan. Tahap ini sudah mulai menjadi masalah kesehatan karena sudah ada gangguan patologis (pathologic changes), walaupun penyakit masih dalam masa subklinik (stage of subclinical disease ). Seandainya memungkinkan, pada tahap ini sudah diharapkan diagnosis dapat ditegakkan secara dini.

b.3. Tahap Lanjut

Merupakan tahap di mana penyakit bertambah jelas dan mungkin tambah berat dengan segala kelainan patologis dan gejalanya (stage of clinical disease). Pada tahap ini penyakit sudah menunjukkan gejala dan kelainan klinik yang jelas,sehingga diagnosis sudah relatif mudah ditegakkan. Saatnya pula, setelah diagnosis ditegakkan, diperlukan pengobatan yang tepat untuk menghindari akibat lanjut yang kurang baik,

b.4. Tahap Akhir/ pasca patogenesis.

 

 

 

 

 

 

Berakhirnya perjalanan penyakit dapat berada dalam lima pilihan keadaan, yaitu:

1)    Sembuh sempurna, yakni bibit penyakit menghilang dan tubuh menjadi pulih, sehat kembali.

2)    Sembuh dengan cacat, yakn ibibit penyakit menghilang, penyakit sudah tidak ada, tetapi tubuh tidak pulih sepenuhnya, meninggalkan bekas gangguan yang permanen berupa cacat.

3)    Karier, di mana tubuh penderita pulih kembali, namun penyakit masih tetap ada dalam tubuh tanpa memperlihatkan gangguan penyakit.

4)    Penyakit tetap berlangsung secara kronik.

5)    Berakhir dengan kematian.(Bustam,2002,Pengantar epidemiologi,Rinika cipta,Jakarta.)

Kamis, 26 Januari 2023

PROBABILITAS (KEMUNGKINAN/PELUANG)

 PROBABILITAS

2.1 Pengertian Probabilitas

Pada awalnya teori probabilitas terinspirasi dari masalah perjudian yang dilakukan oleh seorang matematikawan bernama Girolamo Cardano yang memikirkan bagaimana cara untuk mengambil kemungkinan agar dapat mendapatkan banyak kemenangan. Probabilitas berasal dari kata Probability yang memiliki arti kemungkinan kejadian yang akan terjadi, probabilitas kejadian dapat ditandai dengan interval 0 < n < 1. Angka 0 dalam probabilitas melambangkan peluang sesuatu yang tidak akan terjadi dan angka 1 melambangkan peluang sesuatu yang pasti akan terjadi.

Menurut Lind (2002) mendefinisikan probabilitas sebagai probabilitas adalah sesuatu tentang kemungkinan suatu peristiwa yang akan terjadi di masa mendatang. Probabilitas dinyatakan antara 0 sampai 1 atau dalam persentase.

Probabilitas adalah suatu nilai yang digunakan untuk mengukur tingkat terjadinya suatu kejadian yang acak. Kata probabilitas itu sendiri sering disebut dengan peluang atau kemungkinan. Probabilitas secara umum merupakan peluang bahwa sesuatu akan terjadi (Susanti, 2014).

Probabilitas merupakan salah satu ilmu yang menarik dan juga paling berguna pada area matematika. Probabilitas merupakan ilmu dasar bagi inferensi statistik melalui eksperimen dan analisis data. Melalui aplikasi untuk masalah seperti penilaian reliabilitas suatu sistem, interpretasi akurasi pengukuran, dan pemeliharaan kualitas yang sesuai, teori probabilitas sangat relevan dengan ilmu teknik sekarang ini (Hayter, 2012).

2.2 Konsep Probabilitas

  1. Pandangan Klasik/Intuitif

Di dalam pandangan klasik ini probabilitas /peluang adalah harga angka yang menunjukkan seberapa besar kemungkinan suatu peristiwa terjadi, diantara keseluruhan peristiwa yang mungkin terjadi.

Contoh :

      Sebuah uang mata logam mempunyai sisi dua (H dan T), kalau mata uang tersebut dilambungkan satu kali, peluang untuk keluar sisi H adalah ½.

       Sebuah dadu untuk keluar mata ‘lima’ saat pelemparan dadu tersebut satu kali adalah 1/6 (karena banyaknya permukaan dadu adalah 6).

  1. Pandangan Empiris/Probabilitas Relatif

Dalam pandangan ini probabilitas berdasarkan observasi, pengalaman, atau kejadian (peristiwa) yang telah terjadi.

  1. Pandangan Subjektif

Di dalam pandangan subjektif probabilitas  ditentukan oleh pembuat pernyataan, misalnya seorang buruh/karyawan meyakini bahwa kalau ada kesempatan untuk pendidikan lanjut, yang akan dikirim adalah dirinya (misal diyakininya 95% = 0,95).

Seorang direktur rumah sakit menyatakan keyakinannya (90%) bahwa rumah sakit yang dipimpinnya akan dapat swadana (break event point) lima tahun depan. Kebenaran dari probabilitas subjektif ini sangat tergantung kepada orang yang menentukannya, tetapi walaupun demikian teori probabilitas dapat membantunya.

Selain itu ada tiga hal penting dalam membicarakan probabilitas yaitu percobaan (experiment), hasil (outcome), dan peristiwa (event).

A.    Percobaan (experiment) adalah aktivitas yang melahirkan suatu peristiwa. Contohnya saja kegiatan melempar uang koin akan melahirkan peristiwa muncul gambar atau angka, kegiatan jual beli saham akan melahirkan peristiwa membeli atau menjual, perubahan harga – harga akan melahirkan inflasi dan deflasi, mahasiswa yang giat belajar akan melahirkan prestasi yang memuaskan, sangat memuaskan atau terpuji. Pertandingan sepak bola akan melahirkan peristiwa menang, kalah, atau seri. Kegiatan-kegiatan yang melahirkan peristiwa tersebut dikenal dengan percobaan.

B.    Hasil (outcome) adalah suatu hasil dari percobaan. Dari suatu percobaan akan memberikan hasil. Dari contoh kegiatan diatas dapat diperoleh hasil berikut.

Jadi hasil adalah seluruh kemungkinan peristiwa yang akan terjadi akibat adanya suatu percobaan atau kegiatan.

  1. Peristiwa (event) adalah kumpulan dari satu atau lebih hasil yang terjadi pada sebuah percobaan atau kegiatan. Peristiwa menunjukkan hasil yang terjadi dari suatu kejadian. Dalam setiap percobaan atau kegiatan hanya ada satu kemungkinan hasil. Pada kegiatan jual beli saham, kalau tidak membeli berarti menjual. Pada perubahan harga terjadi inflasi atau deflasi. Pada pertandingan sepak bola juga terjadi satu peristiwa, apakah klub sepak bola tersebut menang, kalah atau seri. Tidak mungkin dalam suatau pertandingan sepak bola, misalnya Liverpool VS Arsenal, hasilnya Liverpool menang juga kalah. Peristiwa yang mungkin adalah Persita menang, kalah atau seri.

2.3 Unsur-Unsur Probabilitas

A)   Ruang sampel

himpunan yang elemen - elemennya merupakan hasil yang mungkin terjadi dari suatu percobaan (eksperimen). Lambangnya (S)

B)    Titik sampel

Semua elemen yang ada di ruang sampel.

C)    Peristiwa (Event)

Himpunan bagian dari ruang sampel pada suatu percobaan, atau hasil dari percobaan. Lambangnya (E)

Contoh :

  1. Eksperimen     : Pelemparan sebuah dadu

Hasil               : Mata dadu yang tampak

Ruang sampel : S (1,2,3,4,5,6)

Peristiwa         :  A. Mata ganjil yang tampak (1,3,5)

   B. Mata genap yang tampak (2,4,6)

  1. Eksperimen     : 3 orang Promotor Kesehatan melakukan penyuluhan tbc dengan

metode door to door

Hasil               : dicatat apakah sakit (S) tertular tb atau tidak sakit tertular tb (T)

Ruang sampel : {SSS, SST, STS, TSS, TST, STT, TTS,TTT}

Peristiwa         :  Semua tidak sakit {TTT}, 2 orang yang sakit {SST, STS, TSS}

2.4 Azas Perhitungan Probabilitas

Azas perhitungan probabilitas ada 3 konsep pendekatan untuk menentukan nilai probabilitas, yaitu:

A.    Pendekatan Klasik

Didasarkan pada banyaknya kemungkinan (peluang)  yang dapat terjadi pada suatu kejadian. Dalam perumusan cara klasik ini dapat diberlakukan semua kejadian dalam suatu percobaan yang mempunyai kesempatan untuk muncul sama

B.    Pendekatan frekuensi Relatif (Objek)

Pada pendekatan Frekuensi Relatif nilai probabilitas ditentukan berdasarkan proporsi dari kemungkinan yang akan terjadi dalam observasi atau percobaan. Penentuan nilai probabilitas berdasarkan observasi dan pengumpulan data. Dalam perumusan peluang tidak ada kesempatan muncul yang sama

C.    Pendekatan Subyektif

Menentukan probabilitas suatu peristiwa didasarkan pada penilaian pribadi dan derajat kepercayaan. Penilaian subjektif ini diberikan karena terlalu sedikit atau tidak informasi yang didapat atau berdasarkan keyakinan

2.5 Permutasi Kombinasi

a)     Permutasi/ Kombinasi Dalil 1 (kaidah umum penggandaan)

Jika suatu langkah menghasilkan k hasil yang berbeda dan langkah ke-2 menghasilkan m hasil yang berbeda, maka kedua langkah menghasilkan k x m hasil

Contoh:

      Koin dilempar 2 kali, maka hasilnya adl 2x2 (ruang sampel)

      Mahasiswa ke kampus naik motor, angkot, ojek.. Dari gerbang ke kelas bisa jalan kaki atau motor teman. Jadi cara mahasiswa sampai ke kelas adalah 3x2 cara = 6 cara

b)    Permutasi/ Kombinasi (n-r)! Dalil 1I (Permutasi) Urutan dipentingkan

n P r = n!

(n-r)!

n = banyaknya objek

P = jumlah permutasi (urutan dipentingkan)

r = jumlah anggota pasangan

! = faktorial

Contoh

ada 3 metode pengobatan malaria (A, B, C). Ada berapa carakah pasien dapat diobati jika hanya memperoleh 2 metode?

Jawab:

3 P 2 = 3! = 3x2x1 = 6

(3-2)!

Yaitu : AB, AC, BC, BA, BC, CA

c)     Permutasi/ Kombinasi r! (n-r)! Dalil III (Kombinasi)

Urutan tidak dipentingkan

n C r = n!

r! (n-r)!

n = banyaknya objek

C = jumlah kombinasi (urutan dipentingkan)

r = jumlah anggota pasangan

! = faktorial

Contoh

3 orang pasien datangt ke PKM, tetapi hanya tersedia 2 dosis. Berapa kemungkinan pasangan pasien yang akan diobati?

Jawab:

3 C 2 = 3! = 3x2x1 = 3

2! (3-2)! x1x1

Yaitu : AB, AC, BC

2.6 Distribusi Probabilitas

Distribusi probabilitas menunjukkan probabilitas dari setiap nilai variabel yang mungkin diperoleh. Misalkan seorang ibu melahirkan dua kali, maka peristiwa yang mungkin terjadi adalah : anak lahir yang pertama laki-laki dan yang kedua perempuan, anak lahir pertama perempuan dan kedua laki-laki, anak lahir pertama perempuan dan kedua perempuan, anak lahir pertama laki-laki dan kedua laki-laki.

a.      Distribusi Probabilitas Binomial

Distribusi probabilitas binomial adalah distribusi probabilitas yang sering terjadi. Ciri dari distribusi binomial adalah hanya memiliki dua hasil yang mungkin terjadi dalam sebuah percobaan dari satu eksperimen. Sebagai contoh, pernyataan dari pertanyaan benar/salah hanya dapat berupa “benar” atau “salah”. Hasilnya tidak terikat satu sama lain, yang artinya jawaban untuk sebuah pernyataan benar/salah tidak mungkin sekaligus “benar” dan “salah”.

b.     Distribusi Probabilitas Poisson

Distribusi probabilitas poisson menjelaskan berapa kali sebuah kejadian terjadi selama interval tertentu. Interval ini merupakan waktu, jarak, luas, atau volume. Distribusi probabilitas Poisson memiliki tiga ciri-ciri (Lind, Marchal, & Wathen, 2007):

1.     Variabel acaknya adalah berapa banyak sebuah kejadian terjadi selama interval yang ditentukan.

2.     Probabilitas kejadian tersebut proporsional dengan ukuran interval.

3.     Tidak ada pengulangan interval dan interval-interval lainnya saling bebas.

c.      Distribusi Probabilitas Normal

Distribusi normal merupakan sebuah fungsi probabilitas yang menunjukkan distribusi atau penyebaran suatu variabel. Fungsi tersebut umumnya dibuktikan oleh sebuah grafik simetris yang disebut kurva lonceng (bell curve). Saat menandakan distribusi yang merata, kurva akan memuncak di bagian tengah dan melandai di kedua sisinya dengan nilai yang setara.  Teori distribusi ini dikenal pula dengan istilah Distribusi Gauss (Gaussian Distribution). Istilah tersebut mengacu pada Carl Friedrich Gauss, seorang matematikawan asal Jerman yang mengembangkan teori distribusi berisi fungsi eksponensial dua parameter pada periode 1794-1809. Meski demikian, teori awal yang menjadi cikal-bakal fungsi distribusi tersebut sebenarnya mulai dikembangkan oleh Abraham de Moivre pada tahun 1733.

Sabtu, 06 Agustus 2022

ADVOKASI KESEHATAN

ADVOKASI KESEHATAN

Dr. Safrudin, SKM, M.Kes.

 

 

A.   Pengertian

Advokasi secara harfiah berarti pembelaan, sokongan atau bantuan terhadap seseorang yang mempunyai permasalahan. Istilah advokasi mula-mula digunakan di bidang hukum atau pengadilan. Mengacu kepada istilah advokasi di bidang hukum tersebut, maka advokasi dalam kesehatan diartikan upaya untuk memperoleh pembelaan, bantuan, atau dukungan terhadap program kesehatan. Istilah advokasi di bidang kesehatan mulai digunakan dalam program kesehatan mulai digunakan dalam program kesehatan masyarakat pertama kali oleh WHO pada tahun 1984, sebagai salah satu strategi global Pendidikan atau Promosi Kesehatan.

Advokasi adalah kegiatan untuk meyakinkan para penentu kebijakan atau para pembuat keputusan sehingga mereka memberikan dukungan, baik kebijakan, fasilitas, maupun dana terhadap program yang ditawarkan. Advokasi diartikan sebagai upaya pendekatan (approaches) terhadap orang lain yang dianggap mempunyai pengaruh terhadap keberhasilan suatu program atau kegiatan yang dilaksanakan.

Menurut Webster Encyclopedia advokasi adalah “act of pleading for supporting or recommending active espousal” atau tindakan pembelaan, dukungan, atau rekomendasi: dukungan aktif. Menurut ahli teoritika (Foss dan Foss, et al:  1980) advokasi diartikan sebagai upaya persuasi yang mencangkup kegiatan: penyadaran, rasionalisasi, argumentasi dan trekomendasi tindak lanjut mengenai sesuatu hal. Menurut Johns Hopkins (1990) advokasi adalah usaha untuk mempengaruhi kebijakan publik melalui bermacam-macam bentuk komunikasi persuasif. Dari beberapa catatan tersebut, dapat disimpulkan secara ringkas, bahwa advokasi adalah upaya atau proses untuk memperoleh komitmen, yang dilakukan secara persuasif dengan menggunakan informasi yang akurat dan tepat.

 

Advokasi atau advocacy  adalah kegiatan memberikan bantuan kepada masyarakat dengan membuat keputusan ( Decision makers ) dan penentu kebijakan (Policy makers) dalam bidang kesehatan maupun sektor lain diluar kesehatan yang mempunyai pengaruh terhadap masyarakat.   Dengan demikian, para pembuat keputusan akan mengadakan atau mengeluarkan kebijakan-kebijakan dalam bentuk peraturan, undang-undang, instruksi yang diharapkan menguntungkan bagi kesehatan masyarakat umum.

Srategi ini akan berhasil jika sasarannya tepat dan sasaran advokasi ini adalah para pejabat eksekutif dan legislatif, para pejabat pemerintah, swasta, pengusaha, partai politik dan organisasi atau LSM dari tingkat pusat sampai daerah. Bentuk dari advokasi berupa lobbying melalui pendekatan atau pembicaraan-pembicaraan formal atau informal terhadap para pembuat keputusan, penyajian isu-isu atau masalah-masalah kesehatan yang mempengarui kesehatan masyarakat setempat, dan seminar-seminar kesehatan. (Wahid Iqbal Mubarak, Nurul Chayantin2009).

Advokasi Kesehatan, yaitu pendekatan kepada para pimpinan atau pengambil kebijakan agar dapat memberikan dukungan masksimal, kemudahan perlindungan pada upaya kesehatan. Menurut para ahli retorika Foss dan Foss et. All 1980, Toulmin 1981 (Fatma Saleh 2004), advokasi suatu upaya persuasif yang mencakup kegiatan-kegiatan penyadaran, rasionalisasi, argumentasi dan rekomendasi tindak lanjut mngenai sesuatu.

Organisasi non pemerintah (Ornop) mendefensisikan Advokasi sebagai upaya penyadaran kelompok masyarakat marjinal yang sering dilanggar hak-haknya (hukum dan azasi). Yang dilakukan dengan kampanye guna membentuk opini public dan pendidikan massa lewat aksi kelas (class action) atau unjuk rasa.

 

B.   Tujuan Advokasi

Tujuan umum advokasi adalah untuk mendorong dan memperkuat   suatu perubahan dalam kebijakan, program atau legislasi, dengan memperkuat basis dukungan sebanyak mungkin.

 

C.   Fungsi Advokasi

Advokasi berfungsi untuk mempromosikan suatu perubahan dalam kebijakan program atau peraturan dan mendapatkan dukungan dari pihak-pihak lain.

 

D.   Persyaratan untuk Advokasi

1.  Dipercaya (Credible), dimana program yang ditwarkan harus dapat meyakinkan para penentu kebijakan atau pembuat keputusan , oleh karena itu harus didukung akurasi data dan masalah.

2.  Layak (Feasible), program yang ditawarkan harus mampu dilaksanakan secara tejhnik prolitik maupun sosial.

3.  Memenuhi Kebutuhan Masyarakat (Relevant)

4.  Penting dan mendesak (Urgent), program yang ditawarkan harus mempunyai prioritas tinggi.

 

 

E.   Pendekatan Advokasi

Dengan pendekatan persuasive, secara dewasa, dan bijak, sesuai keadaan yang memungkinkan  tukar fikiran secara baik (free choice). Menurut UNFPA dan BKKBN 2002, terdapat lima pendekatan utama dalam advokasi , yaitu melibatkan para pemimpin, bekerja dengan media massa , membangun kemitraan, mobilisasi massa dan membangun kapasitas. Strategi advokasi dapat dilakukan melalui pembentukan koalisi , pengembangan jaringan kerja, pembangunan institusi , pembuatan forum, dan kerjasama bilateral.

a.    Melibatkan para pemimpin

Para pembuat undang-undang, mereka yang terlibat dalam penyusunan hukum, peraturan maupun pemimpin politik, yaitu mereka yang menetapkan kebijakan publik sangat berpengaruh dalam menciptakan perubahan yang terkait dengan masalah sosial termasuk kesehatan dan kependudukan. Oleh karena itu sangat penting melibatkan meraka semaksimum mungkin dalam isu yang akan diadvokasikan.

b.    Bekerja dengan media massa

Media massa sangat penting berperan dalam membentuk opini publik. Media juga sangat kuat dalam mempengaruhi persepsi publik atas isu atau masalah tertentu. Mengenal, membangun dan menjaga kemitraan dengan media massa sangat penting dalam proses advokasi.

c.    Membangun kemitraan

Dalam upaya advokasi sangat penting dilakukan upaya jaringan, kemitraan yang berkelanjutan dengan individu, organisasi-organisasi dan sektor lain yang bergerak dalam isu yang sama. Kemitraan ini dibentuk oleh individu, kelompok yang bekerja sama yang bertujuan untuk mencapai tujuan umum yang sama/hampir sama.

d.    Memobilisasi massa

Memobilisasi massa merupakam suatu proses mengorganisasikan individu yang telah termotivasi ke dalam kelompok-kelompok atau mengorganisasikan kelompok yang sudah ada. Dengan mobilisasi dimaksudkan agar termotivasi individu dapat diubah menjadi tindakan kolektif

e.    Membangun kapasitas

Membangu kapasitas disini di maksudkan melembagakan kemampuan untuk mengembangakan dan mengelola program yang komprehensif dan membangun critical mass pendukung yang memiliki keterampilan advokasi. Kelompok ini dapat diidentifikasi dari LSM tertentu, kelompok profesi serta kelompok lain.

 

 

F.  Langkah-Langkah Advokasi

1.  Tahap Persiapan

Persiapan advokasi yang paling penting adalah menyusun bahan/materi atau instrumen advokasi. Bahan advokasi adalah: data informasi bukti yang dikemas dalam bentuk tabel, grafik atau diagram yang menjelaskan besarnya masalah kesehatan, akibat atau dampak masalah, dampak ekonomi, dan program yang diusulkan/proposal program.

2.  Tahap pelaksanaan.

Pelaksanaan advokasi tergantung dari metode atau cara advokasi.

3.  Tahap Penilaian

Mengevaluasi hasil kerja dari keberhasilan pelaksanaan advokasi.

 

G. Adapun proses advokasi yang baik yaitu sebagai berikut:

1.  Memilih isu yang tepat untuk di advokasikan. Sebelum memulai penelusuran advokasi, kita harus tau kasus/isu apa yang hendak kita advokasikan, karena dengan memilih isu yang tepat itu merupakan langkah awal kita untuk memulai pekerjaan. Menentukan tujuan dan target yang akan kita advokasikan. Ini penting untuk memandu pelaku advokasi dalam melaksanakan kegiatannya.

2.  Melakukan analisis dan mengkaji kasus / isu yang ada. Fokuskan kasus apa yang akan kita advokasikan, analisis kasus dengan baik, riset kembali apabila ada isu/kasus yang bisa memicu/ menimbulkan propaganda arti.

3.  Bangunkan opini public mempengaruhi orang banyak dapat dilakukan melalui seminar, media cetak, media elektronik, brosur, spanduk, karena tujuannya adalah agar mendapatkan banyak dukungan oleh orang lain, itu merupakan hal yang penting.

4.  Membangun jaringan dan koalisi. Jaringan dan koalisi dalam gerakan advokasi sangat penting dalam membangun legitimasi publik. Bahwa isu yang diperjuangkan haruslah didukung oleh orang banyak. Carilah organisasi yang memiliki visi perjuangan yang sama. Kalau perlu hubungi tokoh-tokoh masyarakat setempat.

5.  Melakukan loby, mempengaruhi dan mendesak kebijakan lakukan lobby dengan orang orang yang terkait dengan kasus/isu yang akan diadvokasikan, pengaruhi mereka untuk mendukung kasus yang akan kita teliti.

6.  Refleksi
Lakukan evaluasi terhadap apa yang telah dilakukan karena advokasi sering memberikan hasil yang lain dari apa yang kita perkirakan. Suatu tim diperlukan untuk mengevalusi apa yang telah dicapai dan apa yang tetap harus dikerjakan secara teratur. Refleksi hendaknya digunakan sebagai langkah pertama dalam menganalisa kembali yang nantinya akan membawa kita pada siklus pekerjaan advokasi dan evaluasi yang terus menerus.

                       

H.   Sasaran Advokasi

Sasran advokasi seperti yang kita ketahui adalah sebagian besar yaitu masyarakat sendiri yang kurang tetntang pengetahuan kesehatannya. Selain masyarakat, terkadang juga adalah konsumen, sebagai contoh : konsumen rokok, kita memberikan penyaluhan tentang bahaya dan akibat merokok dan kita dapat memberitahukan tentang zat – zat penyusun rokok sebenarnya merupakan zat yang berbahaya dan sifatnya keras sehingga dapa menimbulkan kerusakan pada tubuh kita sendiri. Disamping kita memberikan penyaluhan tentang akibatnya, kiita juga dapat meluruskan pandangan mereka yang menganggap rokok itu merupakan alat untuk mengusir masalah mereka.

Selain masyrakat secara umum, secara khusus kita dapat melakukan advokasi terhadap intansi – intansi yang terkait, misalnya pabrik atau perusahannya langsung yang memproduksi hal – hal yang berbahaya yang dapat menimbulkan masalah kesehatan di mansyarakat. Selain produksinya yang berbahaya, kita juga dapat melakukan advokasi pada perusahaan itu terkait tentang limbah industri yang berbahaya yang dapat menimbulkan masalah kesehatan di masyarakat sekitarnya. Kita juga dapat melakukan advokasi kepada pemerintah jika menyangkut keberadaan undang – undang yang berhubungan dengan lingkungan.

 

I.    Saluran Advokasi

Semua ide dapat dikomunikasikan melalui berbagai cara misalnya dengan menulis surat, menelepon, berkunjung, buletin, demonstrasi, laporan di media baik media cetak atau elektronik dan sebagainya.6 Badan legislatif/legislator dapat merupakan saluran apabila tujuan akhir yang diinginkan adalah perbaikan situasi yang memerlukan adanya pemberlakuan undang-undang. Jadi selain dapat berfungsi sebagai sasaran, ia juga dapat berperan sebagai saluran advokasi. Saluran apa yang akan dipakai tentunya bergantung pada lingkup masalah, siapa yang melakukan advokasi, siapa yang diwakili serta siapa yang akan menjadi sasaran advokasi tersebut. Semakin kuat posisi oposisi, tentu dibutuhkan saluran yang bervariasi, yang tentunya membutuhkan dana yang cukup besar.

Dibandingkan dengan saluran advokasi lainnya, media merupakan saluran yang sangat efektif dalam advokasi karena media menjangkau lebih banyak sasaran advokasi, dan juga orang-orang atau instansi yang bisa menjadi saluran, bahkan masyarakat yang diwakili. Ada beberapa bentuk pemanfaatan media untuk advokasi, antara lain media advisory, press release, surat kepada editor, the op-ed, editorial dan memberikan wawancara.

Media advisory digunakan untuk mengingatkan atau memberikan informasi kepada media tentang kegiatan yang akan dilaksanakan oleh kita. Media advisory harus ringkas, sederhana, mencakup beberapa hal antara lain: Apa, siapa, kapan, di mana, dan sponsor bila ada. Selain itu yang paling penting harus berisi informasi mengapa kegiatan tersebut sangat penting dan perlu diliput oleh media.

Dalam advokasi peran komunikasi sangat penting,sehingga komunikasi dalam rangka advokasi kesehatan memerlukan kiat khusus  agar komunikasi efektif.Kiat-kiatnya antara lain sebagai berikut :

1.    Jelas ( clear )

2.    Benar ( correct )

3.    Konkret ( concrete )

4.    Lengkap ( complete )

5.     Ringkas ( concise )

6.    Meyakinkan ( Convince )

7.    Konstekstual ( contexual )

8.    Berani ( courage )

9.    Hati –hati ( coutious )

10.  Sopan ( courteous )

Prinsip dasar Advokasi tidak hanya sekedar melakukan lobby politik,tetapi mencakup kegiatan persuasif ,memberikan semangat dan bahkan sampai memberikan pressure atau tekanan kepada para pemimpin institusi.

 

J.  Ruang Lingkup Advokasi

Ruang lingkup advokasi sangat bervariasi. Bisa bersifat lokal, nasional bahkan internasional. Kasus yang sebenarnya bersifat lokal kadang menjadi kasus nasional karena pada kenyataannya pihak oposisi melibatkan instansi yang bersifat nasional. Sebaliknya kasus yang bersifat nasional, dapat ditarik oleh seorang pemerhati menjadi kasus lokal atau bahkan dalam dimensi yang lebih sempit misalnya ke dalam lingkup instansi. Pada kasus flu burung, setelah ditemukannya beberapa kasus di Indonesia pada 2005 serta ditemukannya virus H5N1 pada populasi unggas di beberapa negara di Eropa, kasus yang tadinya bersifat regional berkembang menjadi kasus internasional. Dampaknya adanya antisipasi alokasi penyediaan dana yang lebih besar dari negara donor serta kesiapan tiap-tiap negara dalam mengantisipasi pandemi flu burung.