PENUGASAN
ANALISIS STUDI KASUS MASYARAKAT
“Analisis
Perilaku Kesehatan dan Perancangan Intervensi Promosi Kesehatan Berbasis
Masyarakat”
A. Identitas Penugasan
|
Komponen |
Keterangan |
|
Program Studi |
Sarjana Terapan Promosi
Kesehatan |
|
Bentuk |
Studi kasus berbasis masalah
masyarakat |
|
Metode |
Individual/kelompok 4–5
mahasiswa |
|
Waktu |
2 minggu |
|
Produk akhir |
Laporan analisis + media/intervensi promosi kesehatan |
|
Presentasi |
15–20 menit/kelompok |
|
Bobot |
15–20% nilai mata kuliah |
|
Level kognitif |
C4–C6 |
|
Pendekatan |
Evidence-Based Health Promotion |
B. CAPAIAN PEMBELAJARAN
Setelah menyelesaikan penugasan ini, mahasiswa mampu:
- Melakukan
analisis situasi kesehatan masyarakat berdasarkan data.
- Mengidentifikasi
masalah perilaku kesehatan masyarakat.
- Membedakan
masalah kesehatan, perilaku, dan faktor determinan.
- Menganalisis faktor predisposing, enabling, dan
reinforcing.
- Menentukan masalah prioritas menggunakan metode
yang tepat.
- Mengidentifikasi
kelompok sasaran primer, sekunder, dan tersier.
- Menyusun
tujuan promosi kesehatan yang SMART.
- Merancang intervensi perubahan perilaku berbasis
teori.
- Menentukan
strategi komunikasi, pemberdayaan, advokasi, dan kemitraan.
- Menyusun indikator input, proses, output,
outcome, dan dampak.
- Mengembangkan media promosi kesehatan yang sesuai
karakteristik sasaran.
- Mempertahankan
hasil analisis secara akademik melalui presentasi.
C. PETUNJUK KASUS
Studi Kasus:
“Kampung Sehat Mandiri: Perilaku Berisiko PTM pada Masyarakat Perkotaan”
Kelurahan Sehat Jaya merupakan wilayah perkotaan dengan jumlah
penduduk 8.420 jiwa yang terdiri atas 2.315 kepala keluarga.
Wilayah tersebut memiliki:
- 1 puskesmas pembantu;
- 6 Posbindu PTM;
- 8 Posyandu;
- 1 lapangan olahraga;
- 12 kader kesehatan aktif;
- 4 kelompok PKK;
- 1 karang taruna;
- 37 warung makan;
- 18 minimarket/warung kelontong;
- 7 kedai minuman manis;
- 5 tempat penjualan rokok eceran.
Sebagian besar masyarakat bekerja
sebagai pedagang, pekerja sektor informal, pengemudi, buruh, dan karyawan
swasta.
Dalam tiga tahun terakhir, petugas
kesehatan melihat peningkatan kasus hipertensi dan obesitas pada
masyarakat usia produktif.
Puskesmas telah melakukan penyuluhan mengenai:
- diet rendah garam;
- aktivitas fisik;
- pemeriksaan tekanan darah;
- konsumsi sayur dan buah;
- berhenti merokok.
Namun, perubahan perilaku masyarakat belum menunjukkan hasil yang optimal.
D. DATA DEMOGRAFI MASYARAKAT
Survei cepat dilakukan terhadap 300
orang dewasa usia ≥18 tahun.
|
Karakteristik |
n |
% |
|
Laki-laki |
137 |
45,7 |
|
Perempuan |
163 |
54,3 |
|
Usia 18–29 tahun |
62 |
20,7 |
|
Usia 30–44 tahun |
104 |
34,7 |
|
Usia 45–59 tahun |
88 |
29,3 |
|
Usia ≥60 tahun |
46 |
15,3 |
|
Pendidikan ≤SMP |
73 |
24,3 |
|
Pendidikan SMA |
157 |
52,3 |
|
Pendidikan perguruan tinggi |
70 |
23,3 |
|
Bekerja |
241 |
80,3 |
|
Tidak bekerja |
59 |
19,7 |
E. DATA STATUS KESEHATAN
Hasil pemeriksaan dan wawancara:
|
Indikator |
n |
% |
|
Hipertensi berdasarkan
pengukuran |
86 |
28,7 |
|
Pernah didiagnosis hipertensi |
48 |
16,0 |
|
IMT ≥25 kg/m² |
111 |
37,0 |
|
Obesitas sentral |
96 |
32,0 |
|
Diabetes yang telah didiagnosis |
27 |
9,0 |
|
Riwayat keluarga hipertensi |
119 |
39,7 |
|
Tidak mengetahui tekanan darah
terakhir |
142 |
47,3 |
Data ini sengaja menunjukkan
adanya kesenjangan antara penyakit yang terdeteksi melalui pengukuran dengan
yang diketahui masyarakat. Fenomena tersebut juga relevan dengan SKI 2023,
yang menunjukkan perbedaan besar antara hipertensi berdasarkan diagnosis dokter
dan berdasarkan hasil pengukuran. (BKPK
Health Policy)
F. DATA PERILAKU KESEHATAN
1. Aktivitas fisik
|
Perilaku |
n |
% |
|
Aktivitas fisik cukup |
179 |
59,7 |
|
Aktivitas fisik kurang |
121 |
40,3 |
|
Tidak pernah olahraga teratur |
98 |
32,7 |
|
Duduk >6 jam/hari |
151 |
50,3 |
Alasan tidak melakukan aktivitas
fisik:
|
Alasan |
n |
% dari 121 |
|
Tidak mempunyai waktu |
64 |
52,9 |
|
Lelah setelah bekerja |
23 |
19,0 |
|
Tidak ada teman |
13 |
10,7 |
|
Tidak ada tempat yang nyaman |
12 |
9,9 |
|
Tidak tahu olahraga yang sesuai |
9 |
7,4 |
Sebagai pembanding, SKI 2023
mencatat 37,4% penduduk usia ≥10 tahun memiliki aktivitas fisik kurang,
dan alasan yang banyak dilaporkan adalah tidak memiliki waktu. (BKPK
Health Policy)
G. PERILAKU MAKAN
Konsumsi makanan/minuman berisiko
|
Perilaku |
n |
% |
|
Makanan asin ≥1 kali/hari |
174 |
58,0 |
|
Gorengan ≥3 kali/minggu |
211 |
70,3 |
|
Makanan instan ≥3 kali/minggu |
137 |
45,7 |
|
Minuman berpemanis ≥1 kali/hari |
162 |
54,0 |
|
Makanan cepat saji ≥1 kali/minggu |
119 |
39,7 |
|
Makan sayur setiap hari |
143 |
47,7 |
|
Makan buah setiap hari |
119 |
39,7 |
|
Konsumsi buah dan sayur sesuai
anjuran |
31 |
10,3 |
Data nasional SKI 2023 juga
menunjukkan tingginya proporsi masyarakat yang kurang mengonsumsi buah dan
sayur; 96,7% penduduk usia ≥5 tahun dikategorikan kurang mengonsumsi sayur
dan buah berdasarkan kriteria survei tersebut. (BKPK
Health Policy)
H. PERILAKU MEROKOK
|
Status |
n |
% |
|
Perokok aktif |
81 |
27,0 |
|
Mantan perokok |
34 |
11,3 |
|
Tidak pernah merokok |
185 |
61,7 |
Dari 81 perokok aktif:
- 63 orang merokok setiap hari;
- 18 orang merokok kadang-kadang;
- 52 orang mengonsumsi ≥10 batang/hari;
- 47 orang pernah mencoba berhenti;
- hanya 9
orang yang mengikuti program berhenti merokok.
Sebanyak 38% responden
melaporkan terdapat anggota keluarga yang merokok di dalam rumah.
I. DATA PENGETAHUAN
Hasil wawancara pengetahuan:
|
Pernyataan |
Benar |
Salah/Tidak tahu |
|
Hipertensi dapat terjadi tanpa gejala |
56% |
44% |
|
Garam berlebihan dapat
meningkatkan risiko hipertensi |
71% |
29% |
|
Aktivitas fisik membantu mencegah PTM |
82% |
18% |
|
Orang kurus tidak mungkin hipertensi |
43% |
57% |
|
Merokok meningkatkan risiko PTM |
88% |
12% |
|
Pemeriksaan tekanan darah perlu dilakukan walaupun tidak ada keluhan |
61% |
39% |
|
Minuman manis berlebihan
berisiko bagi kesehatan |
74% |
26% |
|
Konsumsi sayur dan buah perlu
dilakukan setiap hari |
79% |
21% |
Temuan penting: pengetahuan
masyarakat relatif cukup pada beberapa indikator, tetapi perilaku sehat belum
konsisten.
J. DATA SIKAP
Dari 300 responden:
|
Sikap |
Setuju |
Tidak setuju |
|
“Saya perlu mengurangi makanan asin” |
78% |
22% |
|
“Saya perlu olahraga secara rutin” |
84% |
16% |
|
“Berhenti merokok penting bagi kesehatan keluarga” |
81% |
19% |
|
“Saya sulit mengubah kebiasaan makan” |
67% |
33% |
|
“Saya tidak perlu periksa jika tidak ada keluhan” |
38% |
62% |
|
“Makanan sehat lebih mahal” |
72% |
28% |
|
“Olahraga membutuhkan waktu
khusus” |
69% |
31% |
K. DATA LINGKUNGAN DAN FAKTOR PENDUKUNG
Hasil observasi lingkungan:
- Tidak
terdapat jalur khusus untuk berjalan kaki.
- Lapangan
olahraga hanya dapat digunakan sampai pukul 17.00.
- Sebagian besar masyarakat bekerja hingga malam.
- Warung
makanan lebih banyak menyediakan gorengan dan makanan asin.
- Minuman berpemanis mudah ditemukan.
- Rokok dijual secara eceran di hampir seluruh
warung.
- Posbindu tersedia, tetapi jadwal belum sesuai
dengan jam kerja masyarakat.
- Sistem pengingat kunjungan ulang penderita
hipertensi belum berjalan optimal.
- Belum ada kelompok masyarakat khusus untuk
aktivitas fisik usia produktif.
- Kader belum mendapatkan pelatihan konseling
perubahan perilaku.
L. DATA PEMANFAATAN PELAYANAN KESEHATAN
|
Indikator |
n |
% |
|
Pernah memeriksa tekanan darah dalam 1 tahun |
184 |
61,3 |
|
Tidak pernah memeriksa tekanan
darah |
116 |
38,7 |
|
Penderita hipertensi yang kontrol teratur |
31/86 |
36,0 |
|
Pernah mengikuti Posbindu |
127 |
42,3 |
|
Mengetahui jadwal Posbindu |
173 |
57,7 |
|
Mengetahui lokasi Posbindu |
249 |
83,0 |
|
Pernah mendapatkan konseling PTM |
151 |
50,3 |
M. DATA KUALITATIF
Hasil wawancara mendalam
menghasilkan beberapa pernyataan masyarakat:
“Saya tahu makanan asin tidak baik, tetapi makanan di tempat kerja
kebanyakan asin.”
“Kalau olahraga harus pagi, saya sudah berangkat kerja.”
“Saya sebenarnya mau berhenti merokok, tetapi teman kerja semuanya
merokok.”
“Kalau tidak pusing, saya merasa tekanan darah saya normal.”
“Posbindu ada, tetapi waktunya tidak cocok dengan jam kerja.”
“Sayur dan buah sebenarnya bagus, tetapi lebih praktis makan gorengan.”
“Kalau ada kegiatan olahraga bersama mungkin saya mau ikut.”
N. TUGAS MAHASISWA
Berdasarkan data tersebut,
mahasiswa WAJIB menyelesaikan 10 tahapan analisis berikut.
Tugas 1. Analisis Situasi
Identifikasi:
- Masalah kesehatan utama.
- Masalah perilaku utama.
- Faktor lingkungan.
- Faktor pelayanan kesehatan.
- Kelompok
masyarakat yang paling berisiko.
Buat dalam bentuk problem tree.
Tugas 2. Identifikasi Perilaku Berisiko
Identifikasi minimal 5 perilaku kesehatan berisiko.
Contoh:
- konsumsi makanan asin;
- kurang aktivitas fisik;
- merokok;
- konsumsi minuman berpemanis;
- kurang
konsumsi buah dan sayur;
- tidak
melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin;
- tidak melakukan kontrol hipertensi.
Mahasiswa harus menunjukkan data
yang mendukung setiap masalah.
Tugas 3. Analisis Determinan Perilaku
Gunakan pendekatan:
Predisposing factors
- pengetahuan;
- sikap;
- persepsi;
- keyakinan;
- motivasi.
Enabling factors
- fasilitas;
- akses;
- biaya;
- waktu;
- ketersediaan pelayanan;
- lingkungan fisik.
Reinforcing factors
- keluarga;
- teman;
- kader;
- tokoh masyarakat;
- petugas kesehatan;
- norma sosial.
Buat tabel:
|
Masalah perilaku |
Predisposing |
Enabling |
Reinforcing |
|
Kurang aktivitas fisik |
... |
... |
... |
|
Konsumsi asin |
... |
... |
... |
|
Merokok |
... |
... |
... |
|
Tidak kontrol hipertensi |
... |
... |
... |
Tugas 4. Analisis Teori Perubahan Perilaku
Mahasiswa memilih satu teori utama, misalnya:
- Health Belief Model;
- Theory of Planned Behavior;
- Social Cognitive Theory;
- Transtheoretical Model;
- PRECEDE-PROCEED.
Kemudian jelaskan:
Mengapa teori tersebut paling
sesuai untuk kasus?
Selanjutnya petakan:
faktor masalah → konstruk teori → strategi intervensi.
Tugas 5. Menentukan Prioritas
Masalah
Gunakan metode USG:
- U = Urgency
- S = Seriousness
- G = Growth
Skor 1–5.
|
Masalah |
U |
S |
G |
Total |
Prioritas |
|
Kurang aktivitas fisik |
|||||
|
Konsumsi makanan asin |
|||||
|
Merokok |
|||||
|
Kurang buah/sayur |
|||||
|
Tidak kontrol hipertensi |
Mahasiswa harus memberikan argumentasi terhadap skor, bukan sekadar
memberikan angka.
Tugas 6. Menetapkan Sasaran
Tentukan:
Sasaran primer
Siapa yang perilakunya harus berubah?
Sasaran sekunder
Siapa yang dapat memengaruhi sasaran primer?
Sasaran tersier
Siapa yang dapat membuat kebijakan atau menyediakan dukungan?
Contoh:
Primer: pekerja usia
produktif dengan perilaku sedentari.
Sekunder: keluarga, teman
kerja, kader.
Tersier: lurah, puskesmas,
pengelola tempat kerja, tokoh masyarakat.
Tugas 7. Merumuskan Tujuan Intervensi
Buat minimal:
Tujuan umum
3–5 tujuan khusus
Tujuan harus menggunakan prinsip SMART.
Contoh:
Dalam waktu 3 bulan, proporsi masyarakat usia produktif yang melakukan
aktivitas fisik minimal 150 menit per minggu meningkat dari 59,7% menjadi
sekurang-kurangnya 75%.
Tugas 8. Merancang Intervensi
Promosi Kesehatan
Mahasiswa harus membuat intervensi
komprehensif, bukan hanya penyuluhan.
Minimal terdiri dari:
1. Edukasi
Contoh:
- kelas kesehatan;
- konseling;
- edukasi digital;
- video pendek.
2. Pemberdayaan
Contoh:
- kelompok aktivitas fisik;
- peer educator;
- kader perubahan perilaku.
3. Dukungan lingkungan
a.
Contoh:
- walking
group;
- pojok
buah;
- kampanye
kantin sehat;
- kawasan
tanpa rokok.
4. Kemitraan
Contoh:
- puskesmas;
- kelurahan;
- PKK;
- karang taruna;
- tempat kerja;
- pelaku usaha makanan.
5. Advokasi
Mahasiswa harus membuat policy
brief 1–2 halaman yang ditujukan kepada lurah/camat.
Tugas 9. Pengembangan Media
Setiap kelompok wajib menghasilkan minimal satu media promosi kesehatan,
misalnya:
- infografis;
- poster;
- video edukasi;
- konten Instagram;
- booklet;
- leaflet;
- podcast;
- motion graphic.
Media harus mencantumkan:
- sasaran;
- tujuan;
- pesan utama;
- call to action;
- sumber referensi.
Tugas 10. Monitoring dan
Evaluasi
Buat matriks berikut:
|
Level |
Indikator |
Target |
Sumber data |
|
Input |
Kader dilatih |
≥20 orang |
Daftar hadir |
|
Proses |
Kegiatan terlaksana |
≥90% |
Logbook |
|
Output |
Peserta mengikuti program |
≥80% |
Absensi |
|
Outcome |
Aktivitas fisik meningkat |
≥75% |
Kuesioner |
|
Outcome |
Konsumsi makanan asin menurun |
≥20% |
FFQ/kuesioner |
|
Outcome |
Kontrol hipertensi meningkat |
≥70% |
Register |
|
Impact |
Risiko PTM menurun |
... |
Survei |
O. PRODUK AKHIR MAHASISWA
Setiap kelompok mengumpulkan:
1. Laporan analisis
15–20 halaman,
terdiri atas:
- Cover
- Pendahuluan
- Analisis situasi
- Identifikasi masalah
- Analisis perilaku
- Analisis determinan
- Prioritas masalah
- Analisis teori
- Penetapan sasaran
- Tujuan intervensi
- Rancangan program
- Strategi komunikasi
- Pemberdayaan masyarakat
- Advokasi dan kemitraan
- Monitoring dan evaluasi
- Kesimpulan
- Daftar pustaka
2. Problem tree
3. Matriks prioritas masalah
4. Logic model/program
framework
5. Media promosi kesehatan
6. Policy brief
P. PERTANYAAN ANALISIS TINGKAT
TINGGI
Mahasiswa tidak cukup menjawab
berdasarkan data secara deskriptif. Jawablah pertanyaan berikut secara
argumentatif:
- Mengapa pengetahuan masyarakat yang relatif baik
belum otomatis menghasilkan perilaku sehat?
- Apa perilaku yang paling berkontribusi terhadap
masalah kesehatan dalam kasus tersebut?
- Apakah masalah utama masyarakat adalah kurangnya
pengetahuan, motivasi, atau lingkungan yang tidak mendukung?
Jelaskan berdasarkan data.
- Apakah penyuluhan merupakan intervensi yang paling
tepat? Mengapa?
- Faktor
apa yang paling sulit diubah?
- Siapa
stakeholder yang paling berpengaruh?
- Bagaimana
strategi pemberdayaan masyarakat yang realistis?
- Bagaimana
mahasiswa dapat menghindari pendekatan “menyalahkan masyarakat”?
- Bagaimana
teknologi digital dapat digunakan tanpa mengabaikan masyarakat yang
memiliki keterbatasan akses digital?
- Bagaimana memastikan intervensi dapat berkelanjutan
setelah program mahasiswa selesai?
Q. RUBRIK PENILAIAN
|
Komponen |
Bobot |
|
Analisis situasi |
15% |
|
Analisis masalah perilaku |
15% |
|
Analisis determinan |
15% |
|
Prioritas masalah |
10% |
|
Penggunaan teori |
10% |
|
Rancangan intervensi |
15% |
|
Media promosi kesehatan |
10% |
|
Monitoring & evaluasi |
5% |
|
Presentasi & argumentasi |
5% |
|
Total |
100% |
Kriteria utama
Sangat baik (85–100):
- analisis berbasis data;
- mampu menemukan akar masalah;
- menggunakan teori secara tepat;
- intervensi realistis;
- berbasis evidence;
- terdapat inovasi;
- indikator evaluasi terukur.
Baik (75–84):
- analisis cukup kuat;
- data digunakan;
- teori sesuai;
- intervensi cukup realistis.
Cukup (65–74):
- analisis masih deskriptif;
- hubungan
masalah dan determinan belum kuat;
- intervensi masih dominan berupa penyuluhan.
Kurang (<65):
- tidak menggunakan data;
- masalah tidak jelas;
- tidak ada analisis akar masalah;
- intervensi tidak sesuai masalah.
R. TANTANGAN UNTUK MAHASISWA
Agar sesuai dengan karakter Sarjana
Terapan, mahasiswa dilarang langsung membuat program “penyuluhan tentang
hipertensi” tanpa melakukan analisis.
Mahasiswa harus mampu membuktikan:
DATA → MASALAH → PERILAKU →
DETERMINAN → PRIORITAS → SASARAN → STRATEGI → INTERVENSI → INDIKATOR → EVALUASI
Dengan demikian, mahasiswa tidak
hanya belajar “apa masalah kesehatan masyarakat?”, tetapi belajar
menjadi praktisi promosi kesehatan yang mampu mengambil keputusan berbasis
data.
S. CATATAN DOSEN
Kasus ini sengaja dirancang dengan
kesenjangan antara pengetahuan, sikap, lingkungan, dan perilaku. Ini
merupakan titik penting dalam pembelajaran Promosi Kesehatan: perilaku
kesehatan tidak dapat dijelaskan hanya oleh pengetahuan individu.
Data nasional juga memperlihatkan
bahwa faktor risiko perilaku PTM meliputi merokok, kurang aktivitas fisik,
konsumsi buah dan sayur yang rendah, serta konsumsi makanan asin. (Kementerian
Kesehatan Republik Indonesia)
Karena itu, jawaban mahasiswa yang
hanya berbentuk:
“Solusinya adalah memberikan penyuluhan kepada masyarakat”
seharusnya mendapat nilai rendah, kecuali mahasiswa mampu menunjukkan bahwa penyuluhan memang merupakan
bagian dari strategi yang lebih komprehensif.
Format pendekatan yang diharapkan:
Individu
→ edukasi + konseling + self-management
Keluarga
→ dukungan keluarga + perubahan pola makan rumah tangga
Kelompok
→ peer support + aktivitas fisik bersama
Komunitas
→ pemberdayaan kader + lingkungan sehat
Institusi
→ puskesmas + kelurahan + tempat kerja
Kebijakan
→ advokasi + regulasi + dukungan anggaran
Pendekatan seperti ini akan membuat penugasan jauh lebih sesuai dengan
kompetensi Sarjana Terapan Promosi Kesehatan, karena mahasiswa dilatih
menghasilkan solusi intervensi yang operasional, terukur, dan berbasis
kebutuhan masyarakat, bukan sekadar membuat makalah teori.