MATERI KULIAH
SOSIAL BUDAYA KESEHATAN MASYARAKAT
Dr. Safrudin, SKM, M.Kes.
Topik: PHBS, Demam Berdarah Dengue
(DBD), dan Imunisasi
Program Studi: Sarjana Terapan Promosi Kesehatan
Pendekatan: Social and Cultural Determinants of Health – Health
Promotion
Metode: Ceramah interaktif, case-based learning, diskusi kelompok,
analisis data, role play
1.
CAPAIAN PEMBELAJARAN
Setelah
mengikuti pembelajaran, mahasiswa mampu:
- Menjelaskan hubungan sosial, budaya, perilaku,
lingkungan, dan status kesehatan masyarakat.
- Menganalisis pengaruh nilai, norma, kepercayaan,
tradisi, keluarga, dan kelompok sosial terhadap perilaku kesehatan.
- Menganalisis masalah PHBS, DBD, dan imunisasi
berdasarkan data.
- Mengidentifikasi faktor sosial budaya sebagai faktor
pendukung maupun penghambat.
- Menganalisis perilaku kesehatan menggunakan
pendekatan promosi kesehatan.
- Merancang pesan dan intervensi yang sensitif
budaya, tidak menstigma, dan berbasis bukti.
- Menentukan
strategi pemberdayaan masyarakat dan kemitraan.
- Menyusun indikator monitoring dan evaluasi
intervensi.
2. MENGAPA TOPIK INI PENTING?
Masalah kesehatan masyarakat tidak
hanya ditentukan oleh keberadaan penyakit.
Seseorang dapat mengetahui bahwa:
"Nyamuk menyebabkan DBD."
tetapi tetap tidak melakukan PSN.
Orang tua dapat mengetahui bahwa:
"Imunisasi
penting."
tetapi tetap
menunda imunisasi anak.
Masyarakat
dapat mengetahui:
"Cuci
tangan menggunakan sabun itu penting."
tetapi tidak
selalu melakukannya pada waktu yang tepat.
Artinya:
PENGETAHUAN
≠ PERILAKU
Perilaku
kesehatan dipengaruhi oleh berbagai faktor:
Individu
↓
Keluarga
↓
Kelompok sosial
↓
Budaya dan norma
↓
Lingkungan
↓
Akses pelayanan
↓
Kebijakan
↓
Perilaku kesehatan
↓
Status kesehatan
Inilah alasan
mahasiswa Promosi Kesehatan perlu memahami sosial budaya kesehatan
masyarakat, bukan hanya materi penyakit.
3. KONSEP SOSIAL BUDAYA KESEHATAN
A. Apa yang dimaksud sosial budaya?
Sosial
Berkaitan dengan:
- keluarga;
- teman
sebaya;
- kelompok
masyarakat;
- organisasi;
- tokoh
masyarakat;
- struktur
sosial;
- status
ekonomi;
- pendidikan;
- pekerjaan;
- jaringan
komunikasi.
Budaya
Berkaitan dengan:
- nilai;
- norma;
- kepercayaan;
- adat;
- tradisi;
- kebiasaan;
- bahasa;
- simbol;
- persepsi
tentang sehat dan sakit;
- cara
mencari pertolongan kesehatan.
4. BUDAYA MEMENGARUHI PERILAKU
KESEHATAN
Hubungan sederhananya:
Nilai
↓
Kepercayaan
↓
Persepsi
↓
Sikap
↓
Norma
sosial
↓
Perilaku
↓
Dampak
kesehatan
Contoh:
Masyarakat percaya:
"Anak yang habis imunisasi
biasanya panas."
Pengalaman tersebut dapat
menimbulkan:
khawatir → takut → menunda
imunisasi.
Namun, pengalaman demam setelah
imunisasi harus dipahami secara tepat melalui komunikasi kesehatan yang baik,
bukan langsung dianggap sebagai bukti bahwa imunisasi berbahaya.
5.
BUDAYA BUKAN SELALU HAMBATAN
Ini merupakan
konsep penting.
Jangan
mengajarkan kepada mahasiswa bahwa:
"Budaya
masyarakat adalah masalah."
Yang lebih
tepat:
Budaya
dapat menjadi:
a.
Faktor risiko
atau
b.
Faktor protektif
atau
c. Modal sosial untuk intervensi.
Contoh:
Budaya gotong royong
Jika tidak diarahkan:
→ hanya untuk
kegiatan sosial.
Jika
dimanfaatkan:
→ menjadi
gerakan PSN bersama.
Tokoh
agama
Jika tidak
dilibatkan:
→ pesan
kesehatan hanya berasal dari tenaga kesehatan.
Jika
dilibatkan:
→ dapat
menjadi penguat norma sosial hidup sehat.
Kader
Jika diberi
pelatihan:
→ menjadi agen
perubahan yang dipercaya masyarakat.
BAGIAN I
PHBS DALAM PERSPEKTIF SOSIAL BUDAYA
PENGERTIAN PHBS
PHBS adalah perilaku kesehatan yang
dilakukan atas dasar kesadaran sehingga individu, keluarga, kelompok, dan
masyarakat mampu menolong dirinya sendiri dalam bidang kesehatan dan berperan
aktif dalam mewujudkan kesehatan.
Kementerian Kesehatan menempatkan
berbagai perilaku seperti pemberantasan jentik, konsumsi buah dan sayur,
aktivitas fisik, dan tidak merokok di dalam rumah sebagai bagian penting
perilaku hidup sehat. PHBS juga diterapkan dalam berbagai tatanan, termasuk
rumah tangga, sekolah, tempat kerja, tempat umum, dan fasilitas pelayanan
kesehatan. (Ayo Sehat)
PHBS BUKAN SEKADAR PENGETAHUAN
Mahasiswa perlu membedakan:
Knowledge
"Tahu bahwa cuci tangan
penting."
Attitude
"Setuju bahwa cuci tangan
penting."
Practice
"Benar-benar mencuci tangan
menggunakan sabun pada waktu yang tepat."
Ketiga hal tersebut tidak selalu
sama.
PHBS
DAN DETERMINAN SOSIAL
Perilaku PHBS
dipengaruhi oleh:
Faktor individu
- pengetahuan;
- sikap;
- persepsi
risiko;
- efikasi
diri.
Faktor interpersonal
- orang
tua;
- pasangan;
- teman;
- keluarga.
Faktor komunitas
- norma;
- kader;
- RT/RW;
- tokoh
masyarakat.
Faktor lingkungan
- air;
- sanitasi;
- tempat
sampah;
- sarana
cuci tangan.
Faktor struktural
- kemiskinan;
- akses;
- kebijakan;
- fasilitas
publik.
SKI 2023 memang mengukur berbagai
indikator kesehatan lingkungan, higiene, sanitasi, perilaku hidup bersih dan
sehat, perilaku pencegahan gigitan nyamuk, penggunaan tembakau, aktivitas
fisik, serta faktor kesehatan lainnya. (BKPK
Kemenkes)
DATA
KONTEKS INDONESIA
SKI 2023
menunjukkan bahwa:
- 89,6% rumah tangga memiliki akses
air minum layak dasar;
- 91,1% memiliki akses fasilitas BAB
untuk penggunaan sendiri;
- sekitar
3% masih melakukan buang air besar sembarangan. (BKPK
Kemenkes)
Ketersediaan
sarana cuci tangan juga tidak seragam menurut karakteristik sosial ekonomi dan
pendidikan. Misalnya, pada data SKI 2023, proporsi rumah tangga dengan
fasilitas cuci tangan di dalam rumah lebih tinggi pada kelompok berpendidikan
lebih tinggi. (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia)
Pesan
penting untuk mahasiswa:
PHBS
harus dilihat sebagai interaksi antara perilaku dan lingkungan.
Tidak tepat
menyalahkan individu semata ketika sarana pendukung perilaku sehat tidak
tersedia.
CONTOH
KASUS PHBS
Kasus
1 – "Tahu tetapi Tidak Melakukan"
Desa Mekarsari
memiliki 1.200 KK.
Survei
terhadap 200 KK menunjukkan:
|
Indikator |
Hasil |
|
Mengetahui pentingnya CTPS |
91% |
|
Memiliki fasilitas cuci tangan |
78% |
|
Memiliki sabun |
61% |
|
CTPS sebelum makan |
57% |
|
CTPS setelah BAB |
68% |
|
Tidak merokok di rumah |
43% |
|
PSN rutin |
49% |
Ketika
diwawancarai, seorang ibu mengatakan:
"Kami
tahu harus cuci tangan pakai sabun, Pak. Tapi kalau anak-anak buru-buru sekolah
biasanya langsung makan."
Seorang bapak
mengatakan:
"Merokok
di ruang tamu sudah biasa dari dulu. Tidak ada yang merasa
terganggu."
Pertanyaan mahasiswa
- Mengapa
pengetahuan tinggi tetapi perilaku belum optimal?
- Apa
faktor sosialnya?
- Apa
faktor budayanya?
- Apakah perilaku merokok hanya masalah pengetahuan?
- Apa
yang dapat menjadi entry point intervensi?
- Siapa
opinion leader yang dapat dilibatkan?
BAGIAN II
DEMAM BERDARAH DENGUE DALAM
PERSPEKTIF SOSIAL BUDAYA
DBD BUKAN HANYA MASALAH NYAMUK
DBD perlu dipahami sebagai masalah
yang melibatkan:
Virus
vektor
lingkungan
perilaku
mobilitas
penduduk
kondisi
sosial
sistem
kesehatan
iklim/lingkungan
Karena itu promosi kesehatan DBD
tidak cukup hanya mengatakan:
"Jangan sampai digigit
nyamuk."
SITUASI
TERKINI DBD DI INDONESIA
DBD masih menjadi masalah kesehatan
penting di Indonesia.
WHO melaporkan bahwa pada 2024
Indonesia mengalami lebih dari 257.000 kasus dengue dan lebih dari 1.400
kematian. Tantangan yang diidentifikasi mencakup keterlambatan deteksi,
keterbatasan diagnostik, koordinasi, dan rendahnya partisipasi masyarakat dalam
pencegahan dengue. (World
Health Organization)
Pada 2025, Kementerian Kesehatan
dan WHO juga memperkuat pendekatan multisource collaborative surveillance,
yang menggabungkan data kesehatan, iklim, entomologi, dan sektor terkait untuk
memperbaiki respons terhadap dengue. (World
Health Organization)
Data surveilans Kemenkes pada awal
2026 juga menunjukkan adanya suspek dengue di berbagai provinsi, termasuk Jawa
Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Banten, dan Jakarta. (Surveilans)
KESALAHAN
PERSEPSI MASYARAKAT TENTANG DBD
Beberapa contoh yang perlu dikaji
secara kritis:
Mitos
1
"Kalau
sudah fogging berarti sudah aman."
Mitos
2
"Jentik
di air bersih tidak berbahaya."
Mitos
3
"DBD
hanya terjadi ketika musim hujan."
Mitos
4
"Kalau
tidak ada nyamuk yang terlihat berarti rumah aman."
Mitos 5
"Anak demam pasti DBD."
Promotor kesehatan harus mengoreksi
informasi tanpa mempermalukan masyarakat.
PSN SEBAGAI PERILAKU SOSIAL
Pencegahan DBD membutuhkan tindakan
individu sekaligus komunitas.
Contohnya:
Individu
→ menguras/menutup/mengelola tempat
penampungan air.
Keluarga
→ melakukan
pemeriksaan jentik.
RT
→ pemantauan
lingkungan.
Sekolah
→ pemeriksaan
tempat berkembang biak nyamuk.
Puskesmas
→ surveilans
dan respons.
Pemerintah
→ kebijakan
lingkungan dan pengendalian vektor.
BUDAYA GOTONG ROYONG SEBAGAI MODAL
Pendekatan yang menarik:
"Gotong Royong → PSN"
Daripada hanya:
"Masyarakat
harus melakukan PSN."
ubah menjadi:
"Gerakan warga menjaga
lingkungan bersama."
Dengan demikian, promosi kesehatan
menggunakan norma sosial positif yang sudah ada, bukan menciptakan
budaya baru dari luar.
CONTOH KASUS DBD
Kasus 2 – "Fogging Sudah,
Mengapa Kasus Tetap Ada?"
Kelurahan
Harapan Jaya memiliki 8.500 penduduk.
Dalam enam bulan pertama 2026:
|
RW |
Kasus
DBD |
|
RW 01 |
4 |
|
RW 02 |
7 |
|
RW 03 |
15 |
|
RW 04 |
6 |
|
RW 05 |
3 |
RW 03 sudah
dua kali mendapatkan fogging.
Namun pemeriksaan 200 rumah
menemukan:
- 54
rumah positif jentik;
- 31
rumah memiliki ember terbuka;
- 22
rumah memiliki barang bekas yang menampung air;
- 47 rumah tidak melakukan pemeriksaan jentik rutin.
Hasil
wawancara:
"Kami
sudah fogging, jadi sebenarnya sudah dilakukan pencegahan."
Ketua RT
mengatakan:
"Kalau
kerja bakti diumumkan, warga biasanya hadir. Tetapi PSN mingguan belum menjadi
kebiasaan."
Pertanyaan mahasiswa
- Apa
masalah utama?
- Apakah
masalah utamanya kurang pengetahuan?
- Mengapa fogging belum menyelesaikan masalah?
- Apa
modal sosial yang tersedia?
- Bagaimana mengubah kerja bakti menjadi kegiatan PSN?
- Siapa
stakeholder utama?
- Apa
indikator keberhasilan program?
BAGIAN III
IMUNISASI DALAM PERSPEKTIF SOSIAL
BUDAYA
IMUNISASI SEBAGAI MASALAH SOSIAL
Imunisasi
bukan hanya masalah:
"Apakah
vaksin tersedia?"
Tetapi juga:
- apakah
masyarakat percaya;
- apakah orang tua memahami manfaat;
- apakah
informasi mudah dipahami;
- apakah
layanan mudah dijangkau;
- apakah
keluarga mendukung;
- apakah
jadwal dipahami;
- apakah
terdapat pengalaman negatif sebelumnya;
- apakah
terdapat informasi keliru;
- apakah
sistem pencatatan berjalan baik.
SITUASI IMUNISASI INDONESIA TERKINI
Pada 2025, WHO/UNICEF memperkirakan
cakupan Indonesia untuk DTP3 dan HepB3 masing-masing mencapai 82%,
meningkat dari 78% pada 2024. Jumlah anak yang tidak menerima satu pun dosis vaksin
juga diperkirakan turun dari sekitar 748.000 pada 2024 menjadi 657.000 pada
2025. Namun, masih terdapat kesenjangan cakupan antarwilayah dan antar kelompok
masyarakat. (World Health Organization)
Kementerian
Kesehatan pada Mei 2026 melaporkan cakupan imunisasi dasar lengkap 80,2%
pada 2025, tetapi masih terdapat hampir 960.000 anak zero-dose yang
menjadi sasaran penguatan program. (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia)
Sementara itu,
survei cakupan imunisasi Indonesia 2025 yang didukung WHO menemukan hanya 56,4%
anak usia 12–23 bulan yang teridentifikasi mendapatkan imunisasi lengkap
dalam survei tersebut. Perbedaan antara data survei dan data administratif
menunjukkan pentingnya kualitas data dan pencatatan, selain persoalan
akses dan penerimaan masyarakat. (World Health Organization)
Ini
merupakan pembelajaran penting:
Angka
cakupan bukan hanya masalah pelayanan.
Cakupan dipengaruhi oleh:
Supply
Access
Demand
Trust
Data
quality
FAKTOR
SOSIAL BUDAYA IMUNISASI
Faktor
keluarga
- keputusan
orang tua;
- pengaruh
kakek-nenek;
- pengalaman
keluarga.
Faktor komunitas
- tokoh
masyarakat;
- kader;
- kelompok
ibu;
- norma
sosial.
Faktor informasi
- WhatsApp;
- TikTok;
- Facebook;
- influencer;
- grup
keluarga.
Faktor pelayanan
- jarak;
- jadwal;
- waktu
pelayanan;
- komunikasi
petugas.
Faktor psikologis perilaku
- takut;
- persepsi
risiko;
- pengalaman
KIPI;
- kepercayaan.
MISINFORMASI
DAN KOMUNIKASI IMUNISASI
Contoh:
"Anak
demam setelah imunisasi berarti vaksinnya tidak cocok."
Respons
promotor kesehatan tidak boleh:
"Itu salah! Jangan
percaya."
Lebih baik:
- gali
sumber informasi;
- dengarkan
kekhawatiran;
- validasi emosi tanpa membenarkan informasi keliru;
- jelaskan
fakta;
- berikan
informasi tentang reaksi yang mungkin terjadi;
- jelaskan kapan harus mencari pertolongan;
- pastikan
jadwal berikutnya.
Prinsip:
LISTEN → UNDERSTAND → EXPLAIN →
SUPPORT → FOLLOW UP
CONTOH KASUS IMUNISASI
Kasus 3 – "Anak Saya Demam
Setelah Imunisasi"
Di sebuah wilayah kerja Puskesmas
terdapat 500 anak usia bawah dua tahun.
Data menunjukkan:
|
Indikator |
Hasil |
|
Imunisasi lengkap |
78% |
|
Belum lengkap |
18% |
|
Tidak pernah imunisasi |
4% |
|
Orang tua takut KIPI |
37% |
|
Lupa jadwal |
22% |
|
Kesulitan akses |
15% |
|
Pengaruh keluarga |
18% |
|
Mendapat
informasi dari media sosial |
61% |
Seorang ibu mengatakan:
"Anak
saya panas setelah imunisasi. Ibu saya bilang jangan diteruskan dulu."
Kader
mengatakan:
"Kalau
saya jelaskan sendiri, ibu masih ragu. Tetapi kalau bidan menjelaskan, biasanya
lebih percaya."
Di sisi lain,
grup WhatsApp ibu-ibu menyebarkan pesan:
"Lebih
baik tunggu anak besar supaya tubuhnya kuat."
Pertanyaan mahasiswa
- Apa
masalah perilaku?
- Apa
masalah sosial?
- Apa
masalah budaya?
- Apa
masalah komunikasi?
- Apakah masalah tersebut semata-mata
"anti-imunisasi"?
- Bagaimana melakukan komunikasi yang tidak
menghakimi?
- Siapa yang harus menjadi komunikator?
- Media
apa yang tepat?
- Bagaimana
melakukan follow-up anak yang belum lengkap imunisasinya?
PERBANDINGAN TIGA MASALAH
|
ASPEK |
PHBS |
DBD |
IMUNISASI |
|
Fokus |
Perilaku sehat |
Pencegahan penyakit/vector |
Pencegahan PD3I |
|
Faktor individu |
Pengetahuan/kebiasaan |
Persepsi risiko |
Kepercayaan/takut |
|
Faktor keluarga |
Kebiasaan rumah |
PSN |
Keputusan imunisasi |
|
Faktor komunitas |
Norma |
Gotong royong |
Dukungan sosial |
|
Lingkungan |
Sarana PHBS |
Tempat berkembang biak nyamuk |
Akses pelayanan |
|
Media |
Poster/WA |
Kader/jumantik/WA |
Konseling/WA |
|
Tokoh penting |
Kader/RT |
RT/RW |
Kader/bidan/tokoh |
|
Strategi utama |
Pembiasaan |
Pemberdayaan |
Demand & trust |
MODEL ANALISIS SOSIAL BUDAYA
Mahasiswa dapat menggunakan model:
PRECEDE–PROCEED
Predisposing
- pengetahuan;
- kepercayaan;
- sikap;
- nilai.
Enabling
- fasilitas;
- akses;
- sarana;
- pelayanan.
Reinforcing
- keluarga;
- kader;
- tokoh
masyarakat;
- teman
sebaya.
Kemudian:
Intervensi
↓
Perubahan
perilaku
↓
Perubahan
lingkungan
↓
Perubahan
status kesehatan
MODEL ECOLOGICAL
Perilaku kesehatan dapat dianalisis
dalam lima level:
Level 1 – Individu
Pengetahuan, sikap, persepsi.
Level 2 – Interpersonal
Keluarga dan teman.
Level 3 – Organisasi
Sekolah, Posyandu, Puskesmas.
Level 4 – Komunitas
RT/RW, tokoh masyarakat.
Level
5 – Kebijakan
Pemerintah dan
regulasi.
Ini sangat
sesuai untuk analisis:
PHBS + DBD + imunisasi.
PRINSIP PROMOSI KESEHATAN BERBASIS
BUDAYA
Mahasiswa perlu menguasai 7
prinsip:
1.
Respect
Menghargai
masyarakat.
2.
Listen
Mendengarkan
sebelum memberi nasihat.
3.
Understand
Memahami
konteks budaya.
4.
Engage
Melibatkan
masyarakat.
5. Adapt
Menyesuaikan pesan.
6. Empower
Memberdayakan, bukan mendominasi.
7. Evidence-based
Tetap menggunakan bukti ilmiah.
JANGAN
MELAKUKAN INI
Promotor
kesehatan jangan mengatakan:
❌ "Budaya masyarakat ini salah."
❌ "Masyarakat tidak sadar kesehatan."
❌ "Orang tua yang tidak imunisasi tidak peduli
anak."
❌ "Warga malas melakukan PSN."
❌ "Mereka percaya mitos."
Sebaliknya:
✅ "Apa alasan masyarakat melakukan praktik
tersebut?"
✅ "Nilai apa yang mendasarinya?"
✅ "Siapa yang dipercaya masyarakat?"
✅ "Apa hambatan yang dialami?"
✅ "Bagaimana nilai lokal dapat menjadi
kekuatan?"
CONTOH PESAN PROMOSI KESEHATAN
PHBS
"Cuci tangan pakai sabun
sebelum makan, setelah dari toilet, dan setelah beraktivitas. Kebiasaan kecil
melindungi keluarga."
DBD
"Jaga rumah, jaga tetangga.
Luangkan waktu setiap minggu untuk memeriksa dan menghilangkan tempat
berkembang biak nyamuk."
Imunisasi
"Pastikan
imunisasi anak sesuai jadwal. Bila ada kekhawatiran setelah imunisasi, tanyakan
kepada tenaga kesehatan dan jangan mengambil keputusan hanya dari informasi
media sosial."
28.
STRATEGI INTERVENSI TERPADU
Dosen dapat
mengajak mahasiswa merancang program:
"KAMPUNG
SEHAT BERBASIS BUDAYA"
Komponen
1 – PHBS
Keluarga
sehat
→ CTPS
→ tidak merokok di rumah
→ sanitasi
→ aktivitas fisik.
Komponen
2 – DBD
Kampung
bebas jentik
→ pemeriksaan
jentik
→ PSN
→ gotong royong
→ pelaporan.
Komponen
3 – Imunisasi
Anak
terlindungi
→ reminder
→ konseling
→ pelacakan anak yang belum lengkap
→ keterlibatan kader dan keluarga.
TUGAS MAHASISWA
Mahasiswa dibagi menjadi kelompok
5–6 orang.
Tugas
utama:
"Anda
adalah Tim Promosi Kesehatan Puskesmas Sukamaju."
Susun strategi
untuk menangani ketiga masalah tersebut.
Mahasiswa
harus menghasilkan:
1.
Analisis masalah
PHBS, DBD,
imunisasi.
2.
Analisis sosial budaya
Minimal 5
faktor.
3.
Analisis akar masalah
Fishbone.
4.
Prioritas masalah
Metode USG.
5.
Analisis stakeholder
Primer–sekunder–tersier.
6. Strategi intervensi
Minimal 3 intervensi.
7. Pesan kesehatan
Minimal 3 pesan.
8. Media
Minimal 3 media.
9. POA
Minimal 1 bulan.
10. Evaluasi
Input–proses–output–outcome.
PERTANYAAN HOTS
- Mengapa
masyarakat yang mengetahui bahaya DBD tetap tidak melakukan PSN?
- Mengapa
cakupan imunisasi dapat berbeda antara wilayah?
- Bagaimana keluarga memengaruhi keputusan imunisasi?
- Bagaimana
WhatsApp dapat menjadi media pemberdayaan sekaligus sumber misinformasi?
- Apakah
budaya harus diubah atau justru dimanfaatkan?
- Bagaimana
membedakan nilai budaya dengan misinformasi?
- Mengapa promosi kesehatan tidak cukup menggunakan
metode ceramah?
- Bagaimana cara melibatkan tokoh agama tanpa
menjadikan pesan kesehatan kehilangan dasar ilmiahnya?
- Mengapa
gotong royong dapat menjadi strategi promosi kesehatan?
- Bagaimana mengukur perubahan perilaku secara
objektif?
PESAN KUNCI UNTUK MAHASISWA
PHBS
Perilaku sehat tidak hanya
ditentukan oleh pengetahuan, tetapi juga oleh lingkungan dan norma sosial.
DBD
Pencegahan dengue membutuhkan
keterlibatan masyarakat, pengendalian lingkungan, surveilans, dan respons yang
tepat; tidak cukup mengandalkan satu tindakan seperti fogging. (World
Health Organization)
Imunisasi
Meningkatkan cakupan bukan hanya
menyediakan vaksin, tetapi juga memastikan akses, kepercayaan, komunikasi,
pencatatan, dan kemampuan menjangkau anak yang terlewat. Strategi Imunisasi Nasional
Indonesia 2025–2029 secara eksplisit menekankan cakupan yang berkeadilan,
penguatan tata kelola, suplai, serta pembangunan permintaan dan kepercayaan
masyarakat. (World Health Organization)
Sosial budaya
"Promotor kesehatan tidak
datang untuk mengubah masyarakat terlebih dahulu; promotor kesehatan datang
untuk memahami masyarakat, menemukan kekuatan yang sudah ada, lalu bersama
masyarakat membangun perubahan yang sehat."
Referensi
utama untuk bahan ajar
- Kementerian
Kesehatan RI – Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, sebagai sumber data nasional
tentang kesehatan lingkungan, perilaku dan PHBS. (BKPK
Kemenkes)
- Kementerian Kesehatan RI – PHBS,
untuk konsep dan indikator PHBS. (Ayo Sehat)
- WHO
Indonesia – Dengue,
untuk situasi dengue dan penguatan surveilans di Indonesia. (World
Health Organization)
- WHO
& UNICEF – WUENIC 2025,
untuk perkembangan cakupan imunisasi Indonesia. (World
Health Organization)
- Strategi
Imunisasi Nasional Indonesia 2025–2029, untuk arah penguatan program imunisasi
Indonesia. (World Health Organization)
- WHO
Indonesia – Strengthening Immunization Evidence and Strategy, untuk isu kesenjangan
cakupan, kualitas data, akses, persepsi, dan dukungan keluarga/komunitas.
(World
Health Organization)