MATERI
KULIAH
MANAJEMEN
PROMOSI KESEHATAN
Topik:
Struktur Organisasi dan Pembagian Tugas
Dr.
Safrudin, SKM, M.Kes.
A. Capaian Pembelajaran
Setelah
mengikuti pembelajaran, mahasiswa diharapkan mampu:
- Menjelaskan pengertian dan fungsi struktur
organisasi dalam manajemen promosi kesehatan.
- Mengidentifikasi unsur-unsur struktur organisasi.
- Menjelaskan
prinsip pembagian tugas, wewenang, tanggung jawab, dan koordinasi.
- Menganalisis kesesuaian struktur organisasi dengan
tujuan program promosi kesehatan.
- Menyusun
struktur organisasi sederhana untuk suatu program promosi kesehatan.
- Menetapkan
pembagian tugas dan tanggung jawab anggota tim berdasarkan kompetensi.
I.
KONSEP DASAR STRUKTUR ORGANISASI
1.
Pengertian organisasi
Organisasi
adalah suatu wadah kerja sama antara dua orang atau lebih yang memiliki tujuan
tertentu, dengan pembagian tugas, wewenang, tanggung jawab, dan mekanisme
koordinasi yang terstruktur.
Dalam promosi
kesehatan, organisasi diperlukan karena kegiatan promosi kesehatan hampir
selalu melibatkan berbagai profesi, sektor, kelompok masyarakat, dan
pemangku kepentingan.
Contoh:
Program
pencegahan DBD di kelurahan tidak cukup dilakukan oleh petugas promosi
kesehatan saja. Program
dapat melibatkan:
- Puskesmas;
- Lurah;
- Kader
Kesehatan;
- RT/RW;
- Sekolah;
- PKK;
- Tokoh
Masyarakat;
- Tokoh
Agama;
- Kelompok
Pemuda;
- Dinas
Kesehatan;
- Masyarakat.
Tanpa pembagian tugas yang jelas,
program mudah mengalami tumpang tindih pekerjaan, saling menunggu, atau
justru ada pekerjaan penting yang tidak dikerjakan.
II. PENGERTIAN STRUKTUR ORGANISASI
Struktur organisasi adalah susunan formal yang
menggambarkan hubungan antara individu atau unit kerja dalam suatu organisasi,
termasuk:
- Posisi;
- Tugas;
- Tanggung
Jawab;
- Wewenang;
- Hubungan
Kerja;
- Koordinasi;
- Pelaporan.
Secara sederhana:
Struktur organisasi menjawab
pertanyaan: siapa melakukan apa, memiliki kewenangan apa, bertanggung jawab
kepada siapa, dan berkoordinasi dengan siapa?
Contoh sederhana
Program Promosi Kesehatan
Pencegahan DBD:
PENANGGUNG JAWAB
Kepala Puskesmas
│
KETUA PROGRAM
Promotor Kesehatan
│
┌────────────────┼────────────────┐
│ │ │
Edukasi Kader Surveilans
│ │ │
Penyuluhan PSN 3M Plus Data DBD
│ │ │
└────────────────┼────────────────┘
│
Masyarakat
Struktur tersebut menunjukkan hierarki,
koordinasi, dan pembagian fungsi.
III.
MENGAPA STRUKTUR ORGANISASI PENTING?
Struktur
organisasi memiliki beberapa fungsi utama.
1.
Memperjelas tugas
Setiap anggota
mengetahui apa yang harus dilakukan.
2.
Memperjelas tanggung jawab
Setiap
kegiatan mempunyai pihak yang bertanggung jawab.
3.
Memperjelas wewenang
Anggota
mengetahui keputusan apa yang dapat dibuat dan keputusan apa yang harus
dikonsultasikan.
4.
Menghindari tumpang tindih
Dua orang
tidak mengerjakan pekerjaan yang sama sementara pekerjaan lain tidak
dikerjakan.
5.
Mempermudah koordinasi
Anggota
mengetahui kepada siapa harus berkomunikasi.
6.
Mempermudah pengawasan
Pimpinan dapat
memantau pencapaian setiap bagian.
7.
Meningkatkan efektivitas program
Sumber daya
manusia dapat digunakan sesuai kompetensinya.
IV.
UNSUR-UNSUR STRUKTUR ORGANISASI
1.
Pembagian kerja
Pekerjaan
dibagi berdasarkan fungsi dan kompetensi.
Contoh:
|
Fungsi |
Pelaksana |
|
Edukasi |
Promotor kesehatan |
|
Pengumpulan data |
Petugas surveilans |
|
Media |
Tim media |
|
Mobilisasi masyarakat |
Kader |
|
Evaluasi |
Tim monitoring |
|
Administrasi |
Sekretariat |
2. Wewenang
Wewenang adalah hak formal seseorang untuk
mengambil keputusan atau memberikan instruksi dalam batas tugasnya.
Contoh:
Ketua tim memiliki kewenangan:
- Mengoordinasikan
Anggota;
- Membagi
Tugas;
- Memimpin
Rapat;
- Menetapkan Jadwal Kegiatan Sesuai Mandat;
- Melaporkan
Hasil Program Kepada Penanggung Jawab.
3. Tanggung jawab
Tanggung jawab adalah kewajiban
seseorang untuk menyelesaikan tugas yang diberikan dan mempertanggungjawabkan
hasilnya.
Contoh:
Koordinator edukasi bertanggung
jawab memastikan seluruh sesi edukasi terlaksana sesuai jadwal dan materi.
4. Akuntabilitas
Akuntabilitas berarti setiap
pelaksana dapat mempertanggungjawabkan proses dan hasil pekerjaannya.
Tugas → Dilaksanakan → Dicatat →
Dilaporkan → Dievaluasi
V. PRINSIP PEMBAGIAN TUGAS
Pembagian tugas yang baik harus
memperhatikan beberapa prinsip.
1. Sesuai kompetensi
Tugas diberikan kepada orang yang
mempunyai kemampuan yang sesuai.
2. Jelas
Tugas tidak boleh menggunakan
rumusan yang terlalu umum.
Kurang baik:
"Membantu
kegiatan promosi kesehatan."
Lebih baik:
"Menyusun
materi edukasi tentang pencegahan DBD, melakukan uji coba media, dan
mendokumentasikan hasil edukasi."
3.
Tidak tumpang tindih
Tugas
antaranggota harus saling melengkapi.
4. Proporsional
Beban kerja harus dibagi secara
wajar.
5. Memiliki batas waktu
Setiap tugas sebaiknya memiliki
target waktu.
6. Memiliki indikator hasil
Setiap tugas perlu diketahui ukuran
keberhasilannya.
VI.
PERBEDAAN TUGAS, WEWENANG, TANGGUNG JAWAB, DAN AKUNTABILITAS
|
Komponen |
Pengertian |
Contoh |
|
Tugas |
Pekerjaan yang harus dilakukan |
Menyusun materi edukasi |
|
Wewenang |
Hak mengambil keputusan |
Menentukan jadwal edukasi |
|
Tanggung jawab |
Kewajiban menyelesaikan pekerjaan |
Memastikan edukasi terlaksana |
|
Akuntabilitas |
Pertanggungjawaban hasil |
Membuat laporan kegiatan |
Mahasiswa perlu memahami bahwa:
Tugas tanpa wewenang dapat
menyebabkan seseorang sulit bekerja, sedangkan wewenang tanpa tanggung jawab
dapat menimbulkan penyalahgunaan kewenangan.
VII. RENTANG KENDALI
Rentang kendali (span of control) adalah jumlah orang atau unit yang
secara langsung berada di bawah koordinasi seorang pimpinan.
Contoh:
Seorang koordinator memiliki 20
anggota yang semuanya melapor langsung kepadanya.
Hal tersebut berpotensi
menyebabkan:
- koordinasi
sulit;
- komunikasi
tidak efektif;
- pengawasan
tidak optimal;
- pimpinan mengalami beban kerja tinggi.
Solusinya
dapat dibuat struktur bertingkat:
Ketua
│
┌──────────┼──────────┐
│
│
│
Koord. A
Koord. B Koord. C
│ │ │ │ │ │
▼ ▼ ▼ ▼ ▼ ▼
Anggota
Anggota Anggota
VIII.
SENTRALISASI DAN DESENTRALISASI
Sentralisasi
Keputusan
utama berada pada pimpinan.
Kelebihan:
- keputusan
lebih terkontrol;
- standar
lebih seragam.
Kekurangan:
- keputusan
dapat lebih lambat;
- anggota
kurang memiliki ruang mengambil keputusan.
Desentralisasi
Sebagian
kewenangan diberikan kepada unit atau pelaksana.
Kelebihan:
- keputusan lebih dekat dengan masalah;
- meningkatkan
partisipasi;
- respons
lebih cepat.
Kekurangan:
- membutuhkan
koordinasi;
- dapat terjadi perbedaan keputusan jika standar tidak
jelas.
Dalam promosi
kesehatan berbasis masyarakat, desentralisasi terbatas sering diperlukan
agar pelaksana dapat menyesuaikan kegiatan dengan kondisi lokal.
IX.
KOORDINASI DALAM ORGANISASI PROMOSI KESEHATAN
Koordinasi
adalah proses menyelaraskan kegiatan berbagai pihak agar bergerak menuju tujuan
yang sama.
Bentuk
koordinasi
1.
Vertikal
Antara
pimpinan dan bawahan.
Contoh:
Kepala
Puskesmas → Penanggung jawab program → pelaksana.
2. Horizontal
Antara unit atau individu yang
memiliki posisi relatif setara.
Contoh:
Promotor kesehatan ↔ petugas gizi ↔
bidan ↔ sanitarian.
3. Lintas sektor
Antara organisasi kesehatan dengan
sektor lain.
Contoh:
Puskesmas ↔ sekolah ↔ kelurahan ↔
PKK ↔ masyarakat.
X.
STRUKTUR ORGANISASI PROGRAM PROMOSI KESEHATAN
Salah satu
model yang dapat digunakan:
PENANGGUNG JAWAB
Kepala Puskesmas
│
KETUA PROGRAM
Promosi Kesehatan
│
┌───────────────┼───────────────┐
│ │ │
Sekretariat Koordinator
Koordinator
Edukasi/KIE Pemberdayaan
│ │ │
Administrasi Penyuluhan Kader
Dokumentasi Media Kelompok
masyarakat
Pelaporan Komunikasi Advokasi
│ │ │
└───────────────┼───────────────┘
│
Monitoring &
Evaluasi
XI. CONTOH PEMBAGIAN TUGAS
Program: Kampanye PHBS di Sekolah
|
Jabatan |
Tugas utama |
Output |
|
Penanggung jawab |
Memberikan arahan dan persetujuan |
Kebijakan/program |
|
Ketua |
Mengkoordinasikan kegiatan |
Rencana kerja |
|
Sekretaris |
Administrasi dan dokumentasi |
Dokumen kegiatan |
|
Koord. edukasi |
Menyiapkan edukasi PHBS |
Modul/materi |
|
Koord. media |
Membuat poster/video |
Media KIE |
|
Koord. kader |
Mengorganisasi siswa/kader |
Kader aktif |
|
Koord. monitoring |
Mengukur pelaksanaan |
Laporan monev |
|
Dokumentasi |
Mendokumentasikan kegiatan |
Foto/video |
XII. RACI DALAM PEMBAGIAN TUGAS
Mahasiswa Sarjana Terapan Promosi
Kesehatan juga perlu diperkenalkan dengan RACI.
|
Simbol |
Makna |
|
R – Responsible |
Pihak yang melaksanakan pekerjaan |
|
A – Accountable |
Pihak yang bertanggung jawab
akhir |
|
C – Consulted |
Pihak yang dikonsultasikan |
|
I – Informed |
Pihak
yang perlu diberi informasi |
Contoh: Program Edukasi DBD
|
Kegiatan |
Kaprodi/Manajer |
Promotor |
Kader |
Media |
Puskesmas |
|
Analisis masalah |
A |
R |
C |
I |
C |
|
Penyusunan materi |
I |
A/R |
C |
R |
C |
|
Pelaksanaan edukasi |
I |
A/R |
R |
C |
C |
|
Publikasi media |
I |
A |
C |
R |
I |
|
Evaluasi |
A |
R |
C |
I |
C |
RACI membantu menjawab:
Siapa yang mengerjakan? Siapa yang
bertanggung jawab akhir? Siapa yang perlu dikonsultasikan? Siapa yang cukup
diberi informasi?
XIII. CONTOH KASUS 1
Program Pencegahan DBD di Kelurahan
Situasi
Puskesmas
menemukan peningkatan kasus DBD di sebuah kelurahan. Program pemberantasan
sarang nyamuk sudah dilakukan, tetapi hasilnya belum optimal.
Dalam rapat diketahui:
- promotor
kesehatan melakukan penyuluhan;
- kader
melakukan pemeriksaan jentik;
- kelurahan
mengeluarkan surat edaran;
- RT/RW
menggerakkan warga;
- sekolah melakukan edukasi kepada siswa.
Namun, masing-masing pihak bekerja
sendiri-sendiri.
Masalah organisasi
- Tidak
ada ketua tim yang jelas.
- Tugas
tidak terdokumentasi.
- Jadwal
kegiatan berbeda.
- Data
kader tidak terintegrasi.
- Tidak ada mekanisme evaluasi bersama.
Pertanyaan untuk mahasiswa
- Bagaimana struktur organisasi yang tepat?
- Siapa
yang sebaiknya menjadi koordinator?
- Bagaimana
pembagian tugasnya?
- Bagaimana
mekanisme koordinasi?
- Indikator
apa yang digunakan untuk mengevaluasi keberhasilan?
XIV. CONTOH KASUS 2
Program Pencegahan Anemia Remaja
Putri
Sebuah sekolah melaksanakan program
pencegahan anemia.
Tim terdiri atas:
- guru;
- petugas
Puskesmas;
- mahasiswa;
- kader
kesehatan sekolah;
- OSIS;
- orang
tua.
Masalah yang muncul:
Guru menganggap mahasiswa
bertanggung jawab terhadap edukasi, mahasiswa menganggap guru yang mengatur
siswa, sedangkan kader mengira mereka hanya bertugas membagikan tablet tambah
darah.
Analisis
Masalah utama
bukan semata-mata kurangnya tenaga, tetapi ketidakjelasan tugas dan tanggung
jawab.
Solusi
Buat pembagian tugas:
|
Pihak |
Tugas |
|
Puskesmas |
Konsultasi teknis dan monitoring |
|
Guru |
Koordinasi sekolah |
|
Mahasiswa |
Edukasi dan media |
|
Kader |
Pengingat dan mobilisasi |
|
OSIS |
Kampanye sebaya |
|
Orang tua |
Dukungan di rumah |
XV.
CONTOH KASUS 3
Program
PHBS di Desa
Desa ingin
meningkatkan praktik PHBS.
Tim terdiri atas:
- kepala
desa;
- bidan
desa;
- promotor
kesehatan;
- kader;
- PKK;
- tokoh
masyarakat;
- karang
taruna.
Permasalahan
Semua anggota mengatakan:
"Saya siap membantu."
Namun ketika kegiatan dimulai,
tidak ada yang mengetahui siapa yang bertanggung jawab atas:
- pendataan;
- edukasi;
- media;
- mobilisasi;
- dokumentasi;
- monitoring.
Tugas mahasiswa
Susun:
- Struktur
organisasi.
- Job
description.
- Matriks
pembagian tugas.
- Alur
koordinasi.
- Indikator
keberhasilan.
XVI.
CONTOH KASUS 4
Promosi
Kesehatan Pasien Stroke di Rumah Sakit
Rumah sakit
ingin meningkatkan edukasi pasien dan keluarga tentang pencegahan stroke
berulang.
Pihak yang terlibat:
- dokter;
- perawat;
- ahli
gizi;
- fisioterapis;
- apoteker;
- promotor
kesehatan;
- keluarga
pasien.
Masalah
Semua memberikan edukasi, tetapi:
- materi
berbeda;
- waktu
edukasi tidak terkoordinasi;
- pasien mendapatkan informasi yang berulang;
- beberapa
informasi tidak terdokumentasi.
Analisis mahasiswa
Masalah tersebut menunjukkan
perlunya:
struktur → pembagian fungsi →
koordinasi → SOP → dokumentasi → monitoring.
Promotor kesehatan dapat berperan
sebagai koordinator edukasi lintas profesi, sesuai mandat dan kewenangan
institusi.
XVII. CONTOH KASUS 5
Program Promosi Kesehatan di Kampus
Mahasiswa membentuk tim untuk
kampanye:
"Kampus
Sehat Tanpa Rokok."
Anggota
terdiri atas 15 mahasiswa.
Ketua langsung
membagi tugas kepada seluruh 14 anggota.
Setelah dua
minggu:
- ketua
kesulitan memantau pekerjaan;
- beberapa
anggota tidak aktif;
- dua
anggota membuat desain yang sama;
- tidak
ada yang bertanggung jawab mencari data;
- laporan
terlambat.
Analisis
Masalah dapat terjadi karena:
- rentang
kendali terlalu luas;
- pembagian
tugas tidak spesifik;
- tidak
ada koordinator bidang;
- indikator
pekerjaan tidak jelas.
Perbaikan
Ketua
│
┌───────────────┼───────────────┐
│ │
│
Edukasi Media Lapangan
│ │ │
4 orang 4 orang
4 orang
│
Dokumentasi
2 orang
XVIII. LATIHAN KELOMPOK
Tugas
Mahasiswa dibagi menjadi kelompok
5–7 orang.
Setiap kelompok memilih satu
program:
- Pencegahan
DBD.
- Pencegahan
stunting.
- Pencegahan
anemia remaja.
- PHBS.
- Kawasan
Tanpa Rokok.
- Imunisasi.
- Pencegahan
hipertensi.
- Promosi
kesehatan mental remaja.
Produk yang harus dibuat
Setiap kelompok menyusun:
A. Struktur organisasi
B. Job description setiap posisi
C. Matriks pembagian tugas
D. Alur koordinasi
E. Matriks RACI
F. Indikator keberhasilan
Pertanyaan reflektif
"Jika semua anggota tim merasa
bertanggung jawab terhadap program, tetapi tidak ada seorang pun yang memiliki
tanggung jawab akhir, apa yang kemungkinan terjadi?"
Jawaban yang diharapkan:
Akuntabilitas menjadi tidak jelas
dan pengambilan keputusan dapat terhambat.
XIX. RANGKUMAN
Hal penting yang perlu diingat
mahasiswa:
Struktur organisasi menentukan
hubungan kerja, sedangkan pembagian tugas menentukan siapa melakukan apa.
Lima komponen penting:
Struktur → Tugas → Wewenang →
Tanggung Jawab → Koordinasi
Struktur yang baik harus:
- sederhana;
- jelas;
- sesuai
tujuan;
- sesuai
kompetensi;
- tidak
tumpang tindih;
- memiliki
jalur koordinasi;
- memiliki
mekanisme pelaporan;
- dapat
dievaluasi.
XX. 10 SOAL PILIHAN GANDA
Soal 1
Fungsi utama
struktur organisasi dalam program promosi kesehatan adalah....
A. Menambah
jumlah tenaga kesehatan
B. Menentukan jumlah anggaran program
C. Memperjelas hubungan kerja, tugas, wewenang, dan tanggung jawab
D. Mengurangi kegiatan promosi kesehatan
E. Menggantikan fungsi kepemimpinan
Soal 2
Seorang koordinator program
memberikan tugas kepada anggota untuk menyusun media edukasi, tetapi anggota
tersebut tidak diberikan kewenangan untuk menentukan bentuk media. Kondisi
tersebut menunjukkan masalah pada aspek....
A. Delegasi wewenang
B. Rekrutmen
C. Dokumentasi
D. Evaluasi
E. Supervisi
Soal 3
Dalam program pencegahan DBD, kader
bertugas melakukan pemeriksaan jentik, promotor kesehatan melakukan edukasi,
dan petugas surveilans mengolah data kasus. Pembagian tersebut terutama
menunjukkan prinsip....
A. Sentralisasi
B. Pembagian kerja berdasarkan fungsi
C. Pengurangan wewenang
D. Penghapusan koordinasi
E. Rotasi jabatan
Soal 4
Seorang ketua program memiliki 20
anggota yang semuanya melapor langsung kepadanya. Akibat yang paling mungkin
terjadi adalah....
A. Koordinasi selalu lebih cepat
B. Pengawasan menjadi lebih mudah
C. Rentang kendali menjadi terlalu luas
D. Pembagian tugas otomatis menjadi lebih jelas
E. Akuntabilitas meningkat secara otomatis
Soal 5
Dalam konsep RACI, Responsible
berarti....
A. Pihak yang memberikan
persetujuan akhir
B. Pihak yang menerima informasi
C. Pihak yang dimintai konsultasi
D. Pihak yang melaksanakan pekerjaan
E. Pihak yang mengevaluasi organisasi
Soal 6
Dalam suatu program promosi
kesehatan, dua orang mengerjakan penyusunan poster, sementara tidak ada orang
yang bertugas mengumpulkan data sasaran. Masalah tersebut terutama
menunjukkan....
A. Struktur terlalu desentralisasi
B. Tumpang tindih pembagian tugas
C. Wewenang terlalu besar
D. Rentang kendali terlalu sempit
E. Koordinasi vertikal terlalu kuat
Soal 7
Program promosi kesehatan
melibatkan promotor kesehatan, kader, sekolah, kelurahan, dan organisasi
masyarakat. Agar kegiatan berjalan efektif, diperlukan....
A. Penghapusan pembagian tugas
B. Satu orang melakukan semua pekerjaan
C. Koordinasi lintas sektor yang jelas
D. Pengurangan jumlah mitra
E. Sentralisasi seluruh kegiatan
Soal 8
Kepala Puskesmas memberikan
kewenangan kepada koordinator promosi kesehatan untuk mengatur jadwal edukasi
dan mengoordinasikan kader. Tindakan tersebut merupakan contoh....
A. Delegasi wewenang
B. Eliminasi tugas
C. Sentralisasi penuh
D. Pengurangan tanggung jawab
E. Rotasi organisasi
Soal 9
Dalam program promosi kesehatan
rumah sakit, dokter, perawat, ahli gizi, dan promotor kesehatan memberikan
edukasi kepada pasien, tetapi materi yang diberikan berbeda-beda. Intervensi
manajerial yang paling tepat adalah....
A. Mengurangi jumlah profesi yang
terlibat
B. Membuat pembagian tugas dan mekanisme koordinasi edukasi
C. Menyerahkan seluruh edukasi kepada pasien
D. Menghapus dokumentasi edukasi
E. Membebaskan setiap profesi memberikan materi masing-masing
Soal 10
Suatu tim promosi kesehatan telah
membagi tugas dengan baik. Namun, tidak ada pihak yang bertanggung jawab
terhadap hasil akhir program. Konsekuensi utama kondisi tersebut adalah....
A. Struktur organisasi menjadi
lebih fleksibel
B. Akuntabilitas menjadi tidak jelas
C. Rentang kendali menjadi lebih kecil
D. Koordinasi otomatis meningkat
E. Delegasi menjadi lebih efektif