Kamis, 05 Februari 2026

INFORMED CONSENT

 

INFORMED CONSENT

Dr. Safrudin, SKM, M.Kes.

 

Informed consent adalah proses di mana pasien atau klien diberi penjelasan lengkap tentang tindakan medis/intervensi kesehatan yang akan dilakukan, dan diberi kesempatan untuk setuju atau menolak secara sukarela, tanpa tekanan.

 

Tujuan Penggunaan Informed Consent

  1. Melindungi hak pasien
  2. Menjamin bahwa tindakan medis dilakukan atas dasar persetujuan sadar
  3. Melindungi tenaga kesehatan dari masalah hukum
  4. Memenuhi aspek etika profesi kesehatan

 

 Prinsip Pelaksanaan Informed Consent

  1. Informasi yang lengkap dan jujur
    Pasien harus diberi penjelasan tentang:
    1. Diagnosis atau kondisi
    2. Tindakan yang akan dilakukan
    3. Manfaat, risiko, efek samping
    4. Alternatif tindakan
    5. Hak untuk menolak tindakan
  1. Kompetensi pasien Pasien dalam keadaan sadar, mampu memahami, dan bisa mengambil keputusan (atau wali bila tidak mampu)
  2. Sukarela Tanpa paksaan, ancaman, bujukan berlebihan, atau manipulasi.

 

 Jenis Informed Consent

  1. Tertulis
    Biasanya untuk tindakan medis besar atau berisiko tinggi:
    1. Operasi
    2. Pembedahan
    3. Tindakan invasif
    4. Partisipasi dalam penelitian kesehatan
  1. Lisan
    Untuk tindakan ringan atau rutin, misalnya:
    • Pemeriksaan tekanan darah
    • Suntik vitamin
    • Edukasi kesehatan

 

Prosedur Pelaksanaan Informed Consent

  1. Memberikan Penjelasan
    1. Disampaikan oleh tenaga kesehatan yang kompeten
    2. Menggunakan bahasa sederhana, jelas, dan sesuai budaya pasien
    3. Bisa dibantu media gambar/brosur jika perlu
  1. Kesempatan Bertanya
    1. Pasien/wali diberi waktu untuk bertanya dan berdiskusi
  1. Pemberian Persetujuan
    1. Jika setuju, pasien menandatangani formulir (untuk yang tertulis)
    2. Jika lisan, dicatat di rekam medis
  1. Dokumentasi
    1. Disimpan dalam rekam medis sebagai bukti hukum

 

 Contoh Situasi Pelaksanaan

  1. Di puskesmas → persetujuan imunisasi anak
  2. Di posyandu → persetujuan partisipasi skrining stunting
  3. Di rumah sakit → persetujuan operasi caesar
  4. Di penelitian → persetujuan jadi responden survei kesehatan

 

Dokumen yang Dibutuhkan

  1. Formulir informed consent (format standar)
  2. Keterangan diagnosis dan rencana tindakan
  3. Tanda tangan pasien dan tenaga medis

 

Perbedaan Informed Consent dan Informed Choice

Aspek

Informed Consent

Informed Choice

Definisi

Persetujuan sukarela yang diberikan setelah mendapat informasi lengkap tentang tindakan yang akan dilakukan.

Proses memilih secara sadar di antara beberapa opsi setelah mendapat informasi lengkap.

Fokus

Persetujuan atau penolakan terhadap satu tindakan tertentu.

Pemilihan salah satu dari beberapa pilihan tindakan.

Konteks Penggunaan

Tindakan medis atau program kesehatan yang butuh izin formal, biasanya prosedur tunggal.

Situasi dengan beberapa pilihan tindakan/intervensi yang berbeda.

Tujuan

Mendapatkan izin resmi dan sadar dari pasien/klien.

Membebaskan pasien/klien memilih opsi terbaik sesuai nilai dan preferensinya.

Dokumentasi

Biasanya tertulis untuk tindakan besar, lisan untuk ringan.

Bisa tanpa dokumen formal, tapi sebaiknya dicatat di rekam medis.

Contoh

Persetujuan operasi, persetujuan ikut penelitian.

Memilih metode kontrasepsi, memilih metode persalinan, atau memilih terapi tertentu.

 

Persamaan Keduanya

Sama-sama berbasis prinsip etika medis:

  1. Autonomi (hak pasien memutuskan)
  2. Beneficence (demi kebaikan pasien)
  3. Non-maleficence (tidak merugikan pasien)
  4. Justice (keadilan)

Sama-sama butuh penjelasan yang jelas dan lengkap.

Dilakukan tanpa paksaan, intimidasi, atau tekanan.

Pasien/klien harus cukup kompeten untuk memahami informasi yang diberikan.

 

Contoh Bedanya dalam Praktik

Informed Consent

Seorang pasien menyetujui operasi usus buntu setelah dokter menjelaskan prosedur, risiko, dan manfaatnya.

Informed Choice

Seorang ibu hamil memilih metode persalinan (normal, SC, atau persalinan di rumah sakit) setelah dijelaskan semua risiko dan manfaatnya.

 

Singkatnya:

Informed consent: “Saya setuju atau tidak setuju terhadap tindakan ini.”
Informed choice: “Saya pilih opsi yang ini setelah paham risikonya.”

 

CONFIDENTIALITY.

 

CONFIDENTIALITY.

Kerahasiaan data disebut juga dengan confidentiality.

Dalam konteks keamanan informasi dan etika profesional, confidentiality mengacu pada prinsip untuk:

  1. Menjaga informasi agar tidak diakses oleh pihak yang tidak berwenang
  2. Melindungi data sensitif dari kebocoran, penyebaran, atau penggunaan yang tidak semestinya

Contoh penerapan confidentiality:

  1. Melindungi data pribadi mahasiswa/dosen
  2. Tidak menyebarluaskan hasil rapat internal yang bersifat terbatas
  3. Menggunakan password atau enkripsi untuk dokumen penting

Konsep ini adalah salah satu pilar dari trias keamanan informasi (CIA):

  1. Confidentiality (Kerahasiaan)
  2. Integrity (Integritas)
  3. Availability (Ketersediaan)

 

Kerahasiaan Data dalam Konteks Kesehatan

Definisi:

Kerahasiaan data dalam dunia kesehatan berarti melindungi informasi pribadi pasien agar tidak diakses, digunakan, atau disebarkan oleh pihak yang tidak berwenang.

Informasi yang dilindungi mencakup:

  1. Identitas pasien (nama, NIK, alamat)
  2. Riwayat penyakit dan hasil pemeriksaan
  3. Pengobatan atau tindakan medis
  4. Catatan medis elektronik (rekam medis)

 

Dasar Etika dan Hukum

  1. Etika Profesi Medis:
    1. Tenaga kesehatan terikat sumpah/janji profesi untuk menjaga kerahasiaan pasien.
    2. Pasien berhak atas privasi dan perlindungan informasi pribadinya.
  1. Hukum dan Peraturan:
    1. Di Indonesia, diatur dalam:

1)       UU No. 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran

2)       UU No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan

3)       Permenkes No. 269/Menkes/Per/III/2008 tentang Rekam Medis

    1. Hanya pasien atau orang yang diberi wewenang yang boleh mengetahui isi rekam medis.

Contoh Implementasi di Fasilitas Kesehatan:

  1. Rekam medis pasien disimpan secara aman, baik fisik maupun digital.
  2. Tenaga medis tidak boleh membicarakan informasi pasien di luar konteks perawatan.
  3. Penggunaan data pasien untuk penelitian harus dengan izin atau dalam bentuk anonim (tidak menyebut identitas langsung).
  4. Akses ke data pasien dibatasi hanya untuk tenaga kesehatan yang terlibat dalam perawatannya.

Risiko jika Kerahasiaan Tidak Dijaga:

  1. Pelanggaran hak privasi pasien
  2. Kehilangan kepercayaan terhadap tenaga kesehatan
  3. Dampak hukum bagi tenaga medis dan institusi
  4. Risiko diskriminasi (misalnya pada pasien HIV, penyakit mental, dll)

 

Langkah Menjaga Kerahasiaan:

  1. Menggunakan sistem keamanan IT untuk data medis digital.
  2. Mendidik tenaga kesehatan tentang etika kerahasiaan.
  3. Memberi kode akses khusus hanya untuk yang berwenang.
  4. Menandatangani pernyataan kerahasiaan bagi semua staf medis/nonmedis.

 

TEKNIK PENGUMPULAN DATA EPIDEMIOLOGI: Survei Kesehatan dan Pengawasan (Surveilans)

 

TEKNIK PENGUMPULAN DATA EPIDEMIOLOGI:

Survei Kesehatan dan Pengawasan (Surveilans)

 

Tujuan Penugasan

Mahasiswa mampu:

  1. Menentukan jenis data epidemiologi yang dibutuhkan
  2. Memilih metode pengumpulan data yang tepat
  3. Menyusun instrumen survei
  4. Merancang sistem surveilans sederhana
  5. Menganalisis dan menyajikan data untuk dasar intervensi promosi kesehatan

 

Skema Kerja

  1. Dibagi menjadi 7 kelompok
  2. Setiap kelompok mendapat 1 kasus berbeda
  3. Output berbentuk laporan epidemiologi terapan + presentasi

 

KASUS PER KELOMPOK

 

Kelompok 1 — Lonjakan Diare pada Balita

Kasus:
Puskesmas melaporkan peningkatan kasus diare balita 3 bulan terakhir di 2 RW. Diduga terkait air sumur.

Tugas Kelompok:

  1. Tentukan jenis survei yang digunakan
  2. Tentukan sumber data (primer/sekunder)
  3. Buat kuesioner survei rumah tangga
  4. Tentukan variabel epidemiologi yang dikumpulkan
  5. Rancang alur surveilans diare tingkat RW–Puskesmas
  6. Buat contoh format pencatatan kasus
  7. Sajikan rencana analisis data

 

Kelompok 2 — Banyak Remaja Putri Anemia di SMA

Kasus:
Dari skrining UKS, 40% siswi terindikasi anemia.

Tugas:

  1. Pilih desain survei yang tepat
  2. Rancang instrumen survei perilaku makan & menstruasi
  3. Tentukan cara pengumpulan data Hb
  4. Tentukan indikator surveilans anemia remaja
  5. Buat format pelaporan bulanan ke Puskesmas
  6. Rancang tabel analisis faktor risiko

 

 

Kelompok 3 — Meningkatnya Hipertensi Usia Produktif

Kasus:
Posbindu PTM menunjukkan peningkatan hipertensi usia 30–45 tahun.

Tugas:

  1. Tentukan jenis survei faktor risiko PTM
  2. Rancang lembar observasi & wawancara
  3. Tentukan variabel (perilaku, riwayat, antropometri)
  4. Rancang sistem pengawasan rutin Posbindu
  5. Buat format register surveilans hipertensi
  6. Rencana analisis distribusi kasus

 

Kelompok 4 — Kasus DBD di Permukiman Padat

Kasus:
Dalam 2 bulan terdapat 15 kasus DBD di satu kelurahan.

Tugas:

  1. Tentukan metode survei jentik yang tepat
  2. Buat formulir survei jentik rumah
  3. Tentukan indikator epidemiologi (ABJ, HI, CI)
  4. Rancang sistem pelaporan cepat (early warning)
  5. Buat peta surveilans sederhana
  6. Rencana analisis spasial sederhana

 

 Kelompok 5 — Rendahnya Cakupan Imunisasi Dasar

Kasus:
Cakupan imunisasi hanya 55% di satu desa.

Tugas:

  1. Tentukan jenis survei cakupan imunisasi
  2. Rancang kuesioner ibu balita
  3. Tentukan variabel hambatan imunisasi
  4. Rancang sistem monitoring cakupan bulanan
  5. Buat format kohort imunisasi
  6. Rencana analisis drop-out rate

 

Kelompok 6 — Banyak Perokok Remaja di Desa

Kasus:
Hasil observasi menunjukkan banyak remaja merokok di warung.

Tugas:

  1. Tentukan metode survei perilaku merokok
  2. Rancang kuesioner perilaku & lingkungan sosial
  3. Tentukan teknik observasi lapangan
  4. Rancang surveilans perilaku remaja
  5. Buat format pencatatan dan pelaporan
  6. Rencana analisis faktor determinan

 

Kelompok 7 — Stunting Masih Tinggi di Posyandu

Kasus:
Prevalensi stunting 32% berdasarkan data Posyandu.

Tugas:

  1. Tentukan jenis survei status gizi
  2. Rancang format pengukuran antropometri
  3. Tentukan variabel risiko keluarga
  4. Rancang sistem surveilans gizi Posyandu
  5. Buat format grafik pemantauan pertumbuhan
  6. Rencana analisis determinan stunting

 

Output Wajib Tiap Kelompok

  1. Identifikasi jenis survei
  2. Sumber & teknik pengumpulan data
  3. Instrumen (kuesioner/lembar observasi/format pencatatan)
  4. Rancangan sistem surveilans
  5. Rencana analisis data
  6. Contoh format pelaporan
  7. Presentasi 10 menit

 

 

Rubrik Penilaian

 

 

Komponen

Bobot

Ketepatan memilih metode survei

20%

Kualitas instrumen pengumpulan data

20%

Ketepatan variabel epidemiologi

15%

Rancangan sistem surveilans

15%

Rencana analisis data

15%

Kualitas presentasi

15%

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LEMBAR KERJA MAHASISWA (LKM)

Mata Kuliah: Epidemiologi Terapan / Surveilans Kesehatan

Program Studi: Sarjana Terapan Promosi Kesehatan

 

A. Identitas Kelompok

  1. Kelompok :
  2. Anggota :
  3. Kelas / Semester :
  4. Kasus yang dipilih :

 

B. Tujuan Pembelajaran

Setelah menyelesaikan penugasan ini, mahasiswa mampu:

  1. Mengidentifikasi masalah epidemiologi berbasis kasus nyata
  2. Menentukan teknik pengumpulan data epidemiologi yang tepat
  3. Menyusun instrumen survei dan surveilans sederhana
  4. Merancang sistem pengawasan kesehatan masyarakat
  5. Menyusun rencana analisis data untuk dasar promosi kesehatan

 

C. Deskripsi Kasus

(Tuliskan kembali ringkasan kasus yang diperoleh kelompok Anda)

 

D. Tugas Analisis Kasus

1. Identifikasi Masalah Epidemiologi

  1. Masalah kesehatan utama :
  2. Populasi berisiko :
  3. Waktu & tempat kejadian :

2. Jenis dan Sumber Data

  1. Jenis data : (primer / sekunder)
  2. Sumber data :
  3. Teknik pengumpulan data :

3. Desain Survei / Pengawasan

  1. Jenis survei / surveilans :
  2. Alasan pemilihan metode :

4. Variabel Epidemiologi

(Isi tabel berikut)

No

Variabel

Definisi operasional

Cara ukur

Skala

5. Instrumen Pengumpulan Data

  1. Jenis instrumen :
  2. Contoh item pertanyaan / observasi :

6. Rancangan Sistem Surveilans

  1. Alur pencatatan dan pelaporan :
  2. Frekuensi pelaporan :
  3. Pihak yang terlibat :

7. Rencana Analisis Data

  1. Analisis deskriptif yang digunakan :
  2. Bentuk penyajian data : (tabel/grafik/peta)

8. Rekomendasi Promosi Kesehatan

(Berdasarkan hasil data yang akan diperoleh)

 

E. Kesimpulan

(Tuliskan kesimpulan singkat hasil pemecahan kasus)

 

F. Daftar Pustaka

(Minimal 3 referensi)

 

 

 

TEMPLATE LAPORAN KELOMPOK

 

BAB I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Kasus
1.2 Rumusan Masalah
1.3 Tujuan Kegiatan

 

BAB II. METODE PENGUMPULAN DATA EPIDEMIOLOGI

2.1 Jenis dan Desain Survei
2.2 Populasi dan Sampel
2.3 Teknik Pengumpulan Data
2.4 Variabel dan Definisi Operasional
2.5 Instrumen Penelitian

 

BAB III. RANCANGAN SURVEILANS KESEHATAN

3.1 Jenis Surveilans
3.2 Alur Pencatatan dan Pelaporan
3.3 Indikator Epidemiologi

 

BAB IV. RENCANA ANALISIS DATA

4.1 Analisis Deskriptif
4.2 Penyajian Data
4.3 Interpretasi untuk Promosi Kesehatan

 

BAB V. PENUTUP

5.1 Kesimpulan
5.2 Rekomendasi

Daftar Pustaka
Lampiran (Instrumen, Format Pencatatan, dll)

TUGAS TERSTRUKTUR GAYA KEPEMIMPINAN

 

TUGAS TERSTRUKTUR GAYA KEPEMIMPINAN

Topik: Gaya Kepemimpinan dalam Pemberdayaan dan Pengorganisasian Masyarakat di Kelurahan X

Latar Belakang Kasus

Kelurahan X merupakan wilayah dengan potensi sumber daya masyarakat yang beragam. Namun, dalam pelaksanaan program pemberdayaan (misalnya PHBS, pengelolaan sampah, posyandu, karang taruna, dan UMKM), sering muncul tantangan terkait koordinasi, partisipasi warga, dan perbedaan gaya kepemimpinan lurah, ketua RT/RW, serta tokoh masyarakat.

Gaya kepemimpinan yang diterapkan (demokratis, otoriter, partisipatif, transformasional, transaksional, karismatik, dan situasional) sangat memengaruhi efektivitas pemberdayaan dan pengorganisasian masyarakat. Dari kasus tersebut diatas, Sebagai seorang Promotor kesehatan tugas anda bentuklah 7 kelompok. Masing masing kelompok mendapat tugas sebagai berikut.

 

Pembagian Penugasan per Kelompok

Kelompok 1 – Kepemimpinan Demokratis

  1. Analisis bagaimana gaya kepemimpinan demokratis dapat meningkatkan partisipasi masyarakat di Kelurahan X
  2. Studi kasus: program musyawarah warga untuk pengelolaan sampah.
  3. Produk: mind map + contoh mekanisme musyawarah yang efektif.

 

Kelompok 2 – Kepemimpinan Otoriter

  1. Uraikan kelebihan dan kelemahan kepemimpinan otoriter dalam program masyarakat.
  2. Studi kasus: penegakan aturan kebersihan lingkungan oleh RT/RW.
  3. Produk: tabel analisis SWOT gaya otoriter di level kelurahan.

 

Kelompok 3 – Kepemimpinan Partisipatif

  1. Jelaskan bagaimana kepemimpinan partisipatif dapat menggerakkan kader posyandu dan PKK.
  2. Studi kasus: kegiatan Posyandu Balita di RW 05.
  3. Produk: role play/simulasi rapat kader.

 

Kelompok 4 – Kepemimpinan Transformasional

  1. Analisis peran pemimpin transformasional dalam mengubah pola pikir masyarakat.
  2. Studi kasus: mengubah perilaku buang sampah sembarangan menjadi pemilahan sampah rumah tangga.
  3. Produk: poster edukasi + rencana kegiatan.

 

Kelompok 5 – Kepemimpinan Transaksional

  1. Uraikan bagaimana kepemimpinan transaksional memengaruhi motivasi masyarakat.
  2. Studi kasus: pemberian insentif bagi warga yang aktif kerja bakti.
  3. Produk: tabel perbandingan reward–punishment dengan hasil pemberdayaan.

 

Kelompok 6 – Kepemimpinan Karismatik

  1. Bahas bagaimana figur pemimpin yang karismatik dapat menggerakkan masyarakat walaupun dengan minim aturan tertulis.
  2. Studi kasus: tokoh agama/masyarakat dalam kegiatan gotong royong.
  3. Produk: video singkat (5 menit) simulasi pengaruh tokoh karismatik.

 

Kelompok 7 – Kepemimpinan Situasional

  1. Analisis penerapan kepemimpinan situasional (menggabungkan beberapa gaya sesuai kebutuhan).
  2. Studi kasus: koordinasi antara Lurah, Ketua RW, dan Karang Taruna saat terjadi banjir.
  3. Produk: skenario simulasi tanggap darurat (drama/skenario tertulis).

 

Output yang Diharapkan

  1. Presentasi per kelompok (10 menit).
  2. Produk Kreatif (poster, video, tabel analisis, role play, skenario).
  3. Kesimpulan Bersama: gaya kepemimpinan apa yang paling efektif untuk pemberdayaan di Kelurahan X

 

Rubrik Penilaian Penugasan Kelompok

Mata Kuliah: Pemberdayaan dan Pengorganisasian Masyarakat
Topik: Gaya Kepemimpinan di Kelurahan X

Aspek Penilaian

Bobot (%)

Indikator Penilaian

Skor 1

Skor 2

Skor 3

Skor 4

Skor 5

1. Analisis Kasus

25%

Kemampuan menganalisis gaya kepemimpinan dan relevansinya dengan pemberdayaan masyarakat

Analisis sangat dangkal, tidak relevan

Analisis kurang mendalam

Analisis cukup, sebagian relevan

Analisis baik, cukup rinci dan relevan

Analisis sangat mendalam, kritis, dan sangat relevan

2. Kreativitas Produk

20%

Kualitas poster, video, role play, mind map, atau tabel yang dibuat

Produk tidak ada

Produk ada tapi sangat sederhana

Produk cukup kreatif namun kurang menarik

Produk kreatif, menarik, sesuai topik

Produk sangat kreatif, inovatif, dan menarik perhatian

3. Relevansi Studi Kasus

15%

Kesesuaian studi kasus dengan kondisi nyata di Kelurahan X

Tidak relevan sama sekali

Relevansi sangat rendah

Relevansi cukup, tapi masih umum

Relevan dengan kondisi lapangan

Sangat relevan, menggambarkan realita di masyarakat

4. Presentasi Kelompok

20%

Kejelasan penyampaian, alur presentasi, kerjasama, dan penggunaan waktu

Tidak terstruktur, tidak jelas

Kurang terstruktur, tidak jelas

Presentasi cukup jelas, alur kurang rapi

Presentasi jelas, alur rapi, kerja sama baik

Presentasi sangat jelas, komunikatif, waktu efektif

5. Kerjasama Tim

10%

Partisipasi anggota kelompok

Tidak ada kerjasama, hanya 1 orang aktif

Sebagian besar pasif

Setengah anggota aktif

Hampir semua anggota aktif

Semua anggota aktif, ada kolaborasi baik

6. Kesimpulan & Rekomendasi

10%

Kemampuan menarik kesimpulan dan memberi rekomendasi

Tidak ada kesimpulan

Kesimpulan lemah, tidak terkait topik

Kesimpulan cukup relevan

Kesimpulan baik, ada rekomendasi

Kesimpulan sangat kuat, rekomendasi aplikatif

 

Skor Akhir

  1. Skor diperoleh dari rata-rata nilai tiap aspek × bobot.
  2. Konversi Nilai:
    1. 86–100 = A (Sangat Baik)
    2. 71–85 = B (Baik)
    3. 56–70 = C (Cukup)
    4. 41–55 = D (Kurang)
    5. ≤40 = E (Sangat Kurang)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LEMBAR PENILAIAN KELOMPOK

Topik: Gaya Kepemimpinan dalam Pemberdayaan dan Pengorganisasian Masyarakat di Kelurahan X

Nama Kelompok        : ………………………………………
Anggota Kelompok    : ………………………………………
Jenis Kepemimpinan : ………………………………………

No

Aspek Penilaian

Bobot (%)

Skor (1–5)

Nilai (Bobot × Skor)

Catatan Penilai

1

Analisis Kasus

25%

 

 

 

2

Kreativitas Produk

20%

 

 

 

3

Relevansi Studi Kasus

15%

 

 

 

4

Presentasi Kelompok

20%

 

 

 

5

Kerjasama Tim

10%

 

 

 

6

Kesimpulan & Rekomendasi

10%

 

 

 

Total

100%

 

 

……..

 

 

Konversi Nilai Akhir :

  • A = 86–100 (Sangat Baik)
  • B = 71–85 (Baik)
  • C = 56–70 (Cukup)
  • D = 41–55 (Kurang)
  • E = ≤40 (Sangat Kurang)

Catatan Penilai:
………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………

Nama Penilai : ………………………………..
Tanggal : ………………………………..
Tanda Tangan : ………………………………..