MATERI
KULIAH PBAK
Gratifikasi
dan Dilema Etik dalam Program Promosi Kesehatan
Dr.
Safrudin, SKM, M.Kes.
A. Capaian Pembelajaran
Setelah mengikuti pembelajaran,
mahasiswa diharapkan mampu:
- Menjelaskan
pengertian gratifikasi dan kaitannya dengan tindak pidana korupsi.
- Mengidentifikasi bentuk-bentuk gratifikasi dalam
program promosi kesehatan.
- Menganalisis dilema etik yang dapat muncul dalam
pelaksanaan program promosi kesehatan.
- Membedakan pemberian yang bersifat wajar, konflik
kepentingan, dan gratifikasi yang berisiko korupsi.
- Menentukan tindakan yang etis, transparan, dan
sesuai prinsip antikorupsi ketika menghadapi pemberian atau fasilitas dari
pihak lain.
B. Pengantar
Promosi kesehatan tidak hanya
berkaitan dengan kemampuan melakukan edukasi, komunikasi, pemberdayaan
masyarakat, advokasi, dan kemitraan. Integritas tenaga promosi kesehatan
juga menjadi bagian penting dari keberhasilan program.
Dalam praktiknya, promotor
kesehatan dapat berinteraksi dengan:
- Pemerintah
Daerah;
- Puskesmas;
- Rumah
Sakit;
- Sekolah;
- Perusahaan;
- Organisasi
Masyarakat;
- Perguruan
Tinggi;
- Kader
Kesehatan;
- Tokoh
Masyarakat;
- Vendor Atau Penyedia Media Promosi Kesehatan;
- Perusahaan
Produk Kesehatan;
- Organisasi
Profesi;
- Lembaga
Donor.
Interaksi
tersebut dapat menimbulkan situasi ketika seseorang mendapatkan uang,
barang, fasilitas, jamuan, perjalanan, diskon, hadiah, atau keuntungan lainnya.
Masalahnya,
tidak semua pemberian dapat langsung dianggap sebagai korupsi. Sebaliknya,
pemberian yang tampak kecil pun dapat menjadi persoalan apabila berkaitan
dengan jabatan, kewenangan, keputusan, atau konflik kepentingan.
Prinsip
utama: Dalam
promosi kesehatan, keputusan profesional harus didasarkan pada kebutuhan
masyarakat, bukti ilmiah, kepentingan kesehatan, dan aturan yang berlaku—bukan
karena pemberian atau keuntungan pribadi.
C. Pengertian Gratifikasi
Secara
umum, gratifikasi adalah pemberian dalam arti luas, yang dapat berupa
uang, barang, rabat (diskon), komisi, pinjaman tanpa bunga, tiket perjalanan,
fasilitas penginapan, perjalanan wisata, pengobatan cuma-cuma, dan fasilitas
lainnya.
Dalam
konteks antikorupsi, persoalan gratifikasi menjadi penting apabila pemberian
tersebut berhubungan dengan jabatan atau kewenangan penerima dan berpotensi
memengaruhi independensi atau keputusan penerima.
Contoh bentuk pemberian yang perlu
diwaspadai:
|
Bentuk
pemberian |
Contoh
dalam promosi kesehatan |
|
Uang |
Uang setelah kegiatan penyuluhan |
|
Barang |
Smartphone, tas, voucher belanja |
|
Makanan/jamuan |
Makan mewah setelah kegiatan |
|
Transportasi |
Tiket perjalanan pribadi |
|
Akomodasi |
Hotel gratis |
|
Diskon |
Diskon khusus karena jabatan |
|
Fasilitas |
Penggunaan kendaraan pribadi |
|
Komisi |
Imbalan karena memilih vendor |
|
Hadiah |
Hampers atau barang elektronik |
|
Fasilitas perjalanan |
Tiket
dan wisata yang tidak terkait kebutuhan program |
Catatan
penting: Tidak setiap pemberian otomatis merupakan tindak pidana
korupsi. Penilaiannya bergantung antara lain pada hubungan pemberian dengan
jabatan/kewenangan, maksud pemberian, situasi pemberian, dan ketentuan yang
berlaku.
D. Gratifikasi dalam Program
Promosi Kesehatan
Dalam kegiatan promosi kesehatan,
potensi gratifikasi dapat muncul pada berbagai tahapan.
1. Tahap perencanaan
Contoh:
Seorang promotor kesehatan menjadi
anggota tim yang menentukan perusahaan percetakan untuk membuat media kampanye
kesehatan. Salah satu vendor menawarkan hadiah pribadi jika vendornya dipilih.
Masalah: terdapat potensi konflik
kepentingan.
2. Tahap pengadaan media
Misalnya program membutuhkan:
- Poster;
- Leaflet;
- Banner;
- Video;
- Merchandise;
- Alat
Edukasi;
- Modul;
- Media
Digital.
Vendor memberikan komisi pribadi
kepada petugas agar produknya dipilih.
Masalah: keputusan pengadaan tidak lagi
sepenuhnya didasarkan pada kualitas, kebutuhan, dan prosedur.
3. Pelaksanaan penyuluhan
Setelah memberikan penyuluhan,
petugas mendapatkan amplop berisi uang dari pihak yang menjadi tuan rumah.
Masalah: perlu dilihat apakah pemberian
tersebut berkaitan dengan jabatan/kedinasan dan bagaimana aturan penerimaan
serta pelaporannya.
4. Kemitraan dengan perusahaan
Sebuah perusahaan menawarkan
pembiayaan kegiatan promosi kesehatan, tetapi meminta agar dalam semua kegiatan
produk perusahaan tersebut dipromosikan.
Masalah:
terjadi potensi konflik antara kepentingan kesehatan masyarakat dan kepentingan
komersial.
5. Perjalanan dinas
Seorang promotor kesehatan diundang
mengikuti seminar di luar kota dengan seluruh biaya ditanggung perusahaan yang
produknya sedang menjadi objek kampanye kesehatan.
Masalah: fasilitas tersebut dapat
menimbulkan konflik kepentingan dan perlu dinilai berdasarkan ketentuan yang
berlaku.
E. Apa yang Dimaksud Dilema Etik?
Dilema etik adalah situasi ketika seseorang
menghadapi dua atau lebih pilihan yang memiliki pertimbangan moral atau
profesional yang saling bertentangan.
Dalam promosi
kesehatan, dilema etik dapat terjadi ketika:
Kepentingan
pribadi bertemu dengan kepentingan masyarakat atau tanggung jawab profesional.
Contoh
sederhana
Seorang
promotor kesehatan mendapat tawaran laptop dari sebuah perusahaan.
Perusahaan
mengatakan:
"Laptop
ini untuk mendukung kegiatan promosi kesehatan Bapak/Ibu."
Namun,
perusahaan tersebut berharap promotor kesehatan menggunakan media program untuk
mempromosikan produknya.
Pertanyaannya:
Apakah laptop tersebut benar-benar
bantuan program atau merupakan pemberian yang dapat memengaruhi independensi
profesional?
F.
Prinsip Etik dalam Menghadapi Gratifikasi
Mahasiswa
perlu memahami beberapa prinsip berikut.
1.
Integritas
Melaksanakan
tugas berdasarkan nilai kejujuran dan tanggung jawab.
2. Objektivitas
Keputusan program didasarkan pada:
- Data;
- Kebutuhan
Masyarakat;
- Bukti
Ilmiah;
- Standar
Profesional;
- Kualitas
Intervensi.
Bukan berdasarkan hadiah atau
keuntungan pribadi.
3. Transparansi
Pemberian atau hubungan dengan
pihak lain harus dapat dipertanggungjawabkan secara terbuka.
4. Akuntabilitas
Setiap keputusan program harus
dapat dijelaskan dan dipertanggungjawabkan.
5. Menghindari konflik kepentingan
Promotor kesehatan perlu
mengidentifikasi apakah kepentingan pribadi dapat memengaruhi keputusan
profesional.
6. Kepentingan masyarakat
Tujuan utama promosi kesehatan
adalah meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, bukan memberikan keuntungan
kepada individu atau pihak tertentu.
G. Gratifikasi vs Konflik
Kepentingan
Keduanya berkaitan tetapi tidak
sama.
|
ASPEK |
GRATIFIKASI |
KONFLIK
KEPENTINGAN |
|
Fokus |
Pemberian/keuntungan |
Benturan kepentingan |
|
Bentuk |
Uang,
barang, fasilitas, jamuan, dll. |
Kepentingan pribadi/kelompok
memengaruhi tugas |
|
Risiko |
Memengaruhi keputusan |
Mengurangi objektivitas |
|
Contoh |
Vendor
memberikan uang kepada panitia |
Panitia
memilih perusahaan milik kerabat |
|
Pencegahan |
Menolak/melaporkan sesuai
ketentuan |
Mengungkapkan konflik dan
menghindari keputusan yang terkait |
Satu kasus dapat mengandung
keduanya.
H. Studi Kasus 1 – "Amplop
Setelah Penyuluhan"
Seorang
mahasiswa Sarjana Terapan Promosi Kesehatan mengikuti kegiatan edukasi PHBS di
sebuah perusahaan.
Setelah
kegiatan selesai, pihak perusahaan memberikan sebuah amplop kepada mahasiswa
tersebut sebagai "uang terima kasih".
Mahasiswa
merasa tidak enak jika menolak karena pemberian tersebut dilakukan di depan
banyak orang.
Pertanyaan diskusi
- Apakah
mahasiswa sebaiknya langsung menerima?
- Apa risiko etis dari pemberian tersebut?
- Apakah status mahasiswa sebagai peserta magang atau
pelaksana kegiatan memengaruhi penilaian?
- Apa
yang sebaiknya dilakukan?
- Kepada siapa mahasiswa dapat berkonsultasi?
Pembelajaran
Mahasiswa
harus memahami bahwa niat baik pemberi tidak otomatis membuat penerimaan
menjadi tepat. Situasi, hubungan dengan tugas, nilai pemberian, aturan
institusi, dan potensi pengaruh terhadap keputusan perlu dipertimbangkan.
I. Studi Kasus 2 – "Vendor
Media Promosi"
Program studi akan membuat video
edukasi tentang pencegahan hipertensi.
Terdapat tiga vendor produksi
video.
Vendor A menawarkan:
Harga
Kompetitif;
Kualitas Baik.
Vendor B
menawarkan:
Kualitas Baik;
Tetapi Memberikan Voucher Belanja Pribadi Kepada Anggota
Tim.
Vendor C
menawarkan:
Kualitas Paling Tinggi;
Tetapi
Harga Lebih Mahal.
Salah satu
anggota tim mengatakan:
"Pilih saja Vendor B. Lumayan
dapat voucher."
Pertanyaan
- Apakah
voucher pribadi dapat memengaruhi objektivitas?
- Apa
bentuk konflik kepentingan dalam kasus tersebut?
- Apa
kriteria yang seharusnya digunakan untuk memilih vendor?
- Bagaimana
cara menjaga transparansi proses pemilihan?
Prinsip yang harus diterapkan
Pemilihan vendor harus didasarkan
pada kebutuhan program, kualitas, spesifikasi, biaya, prosedur pengadaan,
dan kepentingan organisasi, bukan keuntungan pribadi.
J. Studi Kasus 3 – "Sponsor
Produk Kesehatan"
Sebuah perusahaan menawarkan
sponsor kegiatan edukasi pencegahan diabetes.
Perusahaan bersedia memberikan:
- Banner;
- Konsumsi;
- Biaya
Transportasi;
- Media
Edukasi.
Namun
perusahaan meminta agar setiap kegiatan menyebutkan nama dan produk perusahaan
secara positif.
Dilema
Program
membutuhkan dana, tetapi terdapat risiko bahwa edukasi kesehatan berubah
menjadi promosi komersial.
Pertanyaan
- Apakah
sponsor selalu dapat diterima?
- Apakah
kepentingan sponsor dapat memengaruhi pesan kesehatan?
- Apakah produk perusahaan memiliki hubungan dengan
materi edukasi?
- Bagaimana
menjaga independensi promotor kesehatan?
- Apakah
sponsorship perlu diungkapkan secara transparan?
K. Studi Kasus 4 – "Hadiah
untuk Kader"
Dalam kegiatan pemberdayaan
masyarakat, sebuah perusahaan memberikan 20 paket sembako kepada kader
kesehatan.
Perusahaan
menyampaikan:
"Ini
bukan suap, hanya tanda terima kasih karena sudah membantu kegiatan."
Pada saat yang
sama, perusahaan meminta kader membantu mengumpulkan data masyarakat untuk
kepentingan promosi produknya.
Masalah
etik
Ada potensi
pertukaran manfaat:
bantuan
→ akses kepada masyarakat → keuntungan perusahaan.
Pertanyaan diskusi
- Apakah
pemberian tersebut dapat memengaruhi independensi kader?
- Apakah masyarakat mengetahui tujuan sebenarnya?
- Apakah data masyarakat boleh digunakan untuk
kepentingan komersial?
- Siapa
yang bertanggung jawab mengawasi?
- Bagaimana
seharusnya kader bersikap?
L. Kerangka Pengambilan Keputusan
Etik
Ketika menghadapi pemberian atau
tawaran tertentu, mahasiswa dapat menggunakan 5 pertanyaan sederhana:
T –
Tujuan
Apa tujuan
pemberian tersebut?
A –
Aturan
Apakah
pemberian tersebut sesuai dengan aturan institusi dan ketentuan yang berlaku?
K –
Kepentingan
Apakah
terdapat kepentingan pribadi atau komersial?
T –
Transparansi
Apakah saya
nyaman jika pemberian tersebut diketahui publik, dosen, pimpinan, atau
masyarakat?
I –
Integritas
Apakah
keputusan saya tetap sama jika tidak mendapatkan pemberian tersebut?
Jika
jawabannya menimbulkan keraguan, jangan mengambil keputusan sendiri. Konsultasikan kepada
atasan/pengelola atau mekanisme resmi yang tersedia.
M. Simulasi Kelas
"Anda adalah Promotor
Kesehatan"
Mahasiswa dibagi menjadi kelompok:
Kelompok
A: promotor kesehatan
Kelompok
B: perusahaan
Kelompok
C: puskesmas
Kelompok
D: masyarakat
Kelompok
E: pengawas/institusi
Skenario
Sebuah
perusahaan menawarkan Rp5.000.000 untuk mendukung kegiatan promosi kesehatan di
masyarakat. Sebagai tambahan, perusahaan menawarkan smartphone kepada ketua
pelaksana.
Perusahaan
meminta agar logonya dipasang pada seluruh media kegiatan dan produk perusahaan
disebutkan dalam setiap sesi edukasi.
Tugas mahasiswa
Tentukan:
- masalah
etik;
- potensi
gratifikasi;
- potensi
konflik kepentingan;
- risiko
terhadap masyarakat;
- pilihan
tindakan;
- pihak
yang perlu dikonsultasikan;
- bentuk dokumentasi/transparansi yang diperlukan.
Output
Setiap
kelompok mempresentasikan keputusan selama 5 menit, kemudian dilakukan
debat akademik selama 10 menit.
N. Pesan Kunci untuk Mahasiswa
"Jangan hanya bertanya: Apa
yang boleh saya terima? Tetapi tanyakan juga: Apakah pemberian tersebut dapat
memengaruhi keputusan saya?"
Dalam promosi kesehatan:
Integritas → Kepercayaan →
Independensi → Akuntabilitas → Keberhasilan Program
Promotor kesehatan yang dipercaya
masyarakat bukan hanya yang mampu menyampaikan pesan kesehatan, tetapi juga
mampu menjaga integritas dalam setiap keputusan profesional.
O. Soal Pilihan Ganda
Soal 1
Gratifikasi secara umum dapat
dipahami sebagai...
A. Pemberian yang selalu merupakan
tindak pidana korupsi
B. Pemberian dalam arti luas yang dapat berupa uang, barang, fasilitas, atau
keuntungan lainnya
C. Pemberian yang hanya berbentuk uang tunai
D. Pemberian yang hanya diberikan oleh masyarakat
E. Pemberian yang hanya diberikan kepada pejabat pemerintah
Soal 2
Seorang petugas promosi kesehatan
menerima voucher belanja dari vendor yang sedang mengikuti proses pemilihan
penyedia media promosi. Risiko utama dalam situasi tersebut adalah...
A. Menurunnya jumlah peserta
kegiatan
B. Konflik kepentingan
C. Kurangnya media promosi
D. Rendahnya literasi kesehatan
E. Kesalahan menentukan sasaran program
Soal 3
Seorang promotor kesehatan ditawari
hadiah pribadi oleh perusahaan agar memilih produk perusahaan sebagai media
edukasi. Tindakan yang paling sesuai dengan prinsip integritas adalah...
A. Menerima hadiah karena nilainya
kecil
B. Menerima hadiah tetapi tidak memberitahu siapa pun
C. Memilih produk karena perusahaan memberikan hadiah
D. Menilai produk berdasarkan kebutuhan dan kriteria objektif serta mengikuti
mekanisme yang berlaku
E. Meminta hadiah yang nilainya lebih besar
Soal 4
Berikut yang paling menggambarkan
konflik kepentingan adalah...
A. Promotor kesehatan memberikan
edukasi berdasarkan hasil penelitian
B. Promotor kesehatan memilih media berdasarkan kebutuhan sasaran
C. Petugas terlibat dalam pemilihan vendor dan salah satu vendor merupakan
usaha milik keluarganya
D. Kader mengikuti pelatihan promosi kesehatan
E. Mahasiswa melakukan observasi lapangan
Soal 5
Sebuah perusahaan bersedia menjadi
sponsor kegiatan promosi kesehatan dengan syarat seluruh pesan edukasi harus
menguntungkan citra produknya. Dilema utama dalam kasus tersebut adalah...
A. Jumlah tenaga kesehatan terlalu
sedikit
B. Konflik antara kepentingan kesehatan masyarakat dan kepentingan komersial
C. Media edukasi tidak tersedia
D. Sasaran program terlalu banyak
E. Kegiatan dilakukan di luar gedung
Soal 6
Prinsip
transparansi dalam menghadapi pemberian dari pihak eksternal berarti...
A. Pemberian
harus dirahasiakan agar tidak menimbulkan masalah
B. Pemberian hanya boleh diketahui oleh penerima
C. Pemberian dan hubungan kepentingan yang relevan dapat dipertanggungjawabkan
sesuai mekanisme yang berlaku
D. Pemberian harus selalu diterima
E. Pemberian tidak perlu dicatat jika nilainya kecil
Soal 7
Seorang kader mendapatkan bingkisan
dari perusahaan setelah membantu kegiatan promosi kesehatan. Perusahaan
kemudian meminta kader memberikan akses data kontak peserta kepada perusahaan.
Risiko etik yang paling penting adalah...
A. Kegiatan
menjadi lebih cepat
B. Meningkatnya jumlah kader
C. Potensi penyalahgunaan data dan konflik kepentingan
D. Meningkatnya jumlah peserta
E. Bertambahnya media promosi
Soal 8
Dalam menghadapi situasi yang
berpotensi menjadi dilema etik, langkah pertama yang paling tepat adalah...
A. Segera menerima pemberian
B. Menyembunyikan pemberian
C. Mengidentifikasi tujuan, kepentingan, aturan, dan potensi konflik
kepentingan
D. Membandingkan nilai hadiah dengan gaji penerima
E. Menanyakan kepada teman apakah hadiah tersebut mahal
Soal 9
Manakah keputusan yang paling
mencerminkan objektivitas dalam pemilihan media promosi kesehatan?
A. Memilih vendor yang memberikan
hadiah terbesar
B. Memilih vendor yang merupakan teman dekat
C. Memilih vendor berdasarkan kebutuhan, kualitas, biaya, dan kriteria yang
telah ditetapkan
D. Memilih vendor yang paling sering memberikan jamuan
E. Memilih vendor yang memberikan keuntungan pribadi
Soal 10
Seorang promotor kesehatan merasa
ragu apakah suatu pemberian dari mitra termasuk pemberian yang harus ditolak,
dilaporkan, atau diproses melalui mekanisme tertentu. Tindakan yang paling
tepat adalah...
A. Langsung menerima karena pemberi
adalah mitra
B. Menyimpan pemberian tanpa dokumentasi
C. Mengabaikan persoalan tersebut
D. Berkonsultasi kepada atasan/pengelola atau mekanisme resmi yang berwenang
dan mengikuti ketentuan yang berlaku
E. Meminta pemberian tambahan agar lebih yakin