Jumat, 18 September 2026

PHBS, Demam Berdarah Dengue (DBD), dan Imunisasi

 

 

MATERI KULIAH

SOSIAL BUDAYA KESEHATAN MASYARAKAT

Dr. Safrudin, SKM, M.Kes.

 

Topik: PHBS, Demam Berdarah Dengue (DBD), dan Imunisasi

Program Studi: Sarjana Terapan Promosi Kesehatan
Pendekatan: Social and Cultural Determinants of Health – Health Promotion
Metode: Ceramah interaktif, case-based learning, diskusi kelompok, analisis data, role play

 

1. CAPAIAN PEMBELAJARAN

Setelah mengikuti pembelajaran, mahasiswa mampu:

  1. Menjelaskan hubungan sosial, budaya, perilaku, lingkungan, dan status kesehatan masyarakat.
  2. Menganalisis pengaruh nilai, norma, kepercayaan, tradisi, keluarga, dan kelompok sosial terhadap perilaku kesehatan.
  3. Menganalisis masalah PHBS, DBD, dan imunisasi berdasarkan data.
  4. Mengidentifikasi faktor sosial budaya sebagai faktor pendukung maupun penghambat.
  5. Menganalisis perilaku kesehatan menggunakan pendekatan promosi kesehatan.
  6. Merancang pesan dan intervensi yang sensitif budaya, tidak menstigma, dan berbasis bukti.
  7. Menentukan strategi pemberdayaan masyarakat dan kemitraan.
  8. Menyusun indikator monitoring dan evaluasi intervensi.

 

2. MENGAPA TOPIK INI PENTING?

Masalah kesehatan masyarakat tidak hanya ditentukan oleh keberadaan penyakit.

Seseorang dapat mengetahui bahwa:

"Nyamuk menyebabkan DBD."

tetapi tetap tidak melakukan PSN.

Orang tua dapat mengetahui bahwa:

"Imunisasi penting."

tetapi tetap menunda imunisasi anak.

Masyarakat dapat mengetahui:

"Cuci tangan menggunakan sabun itu penting."

tetapi tidak selalu melakukannya pada waktu yang tepat.

Artinya:

PENGETAHUAN ≠ PERILAKU

Perilaku kesehatan dipengaruhi oleh berbagai faktor:

Individu

Keluarga

Kelompok sosial

Budaya dan norma

Lingkungan

Akses pelayanan

Kebijakan

Perilaku kesehatan

Status kesehatan

Inilah alasan mahasiswa Promosi Kesehatan perlu memahami sosial budaya kesehatan masyarakat, bukan hanya materi penyakit.

 

3. KONSEP SOSIAL BUDAYA KESEHATAN

A. Apa yang dimaksud sosial budaya?

Sosial

Berkaitan dengan:

  1. keluarga;
  2. teman sebaya;
  3. kelompok masyarakat;
  4. organisasi;
  5. tokoh masyarakat;
  6. struktur sosial;
  7. status ekonomi;
  8. pendidikan;
  9. pekerjaan;
  10. jaringan komunikasi.

Budaya

Berkaitan dengan:

  1. nilai;
  2. norma;
  3. kepercayaan;
  4. adat;
  5. tradisi;
  6. kebiasaan;
  7. bahasa;
  8. simbol;
  9. persepsi tentang sehat dan sakit;
  10. cara mencari pertolongan kesehatan.

 

4. BUDAYA MEMENGARUHI PERILAKU KESEHATAN

Hubungan sederhananya:

Nilai

Kepercayaan

Persepsi

Sikap

Norma sosial

Perilaku

Dampak kesehatan

Contoh:

Masyarakat percaya:

"Anak yang habis imunisasi biasanya panas."

Pengalaman tersebut dapat menimbulkan:

khawatir → takut → menunda imunisasi.

Namun, pengalaman demam setelah imunisasi harus dipahami secara tepat melalui komunikasi kesehatan yang baik, bukan langsung dianggap sebagai bukti bahwa imunisasi berbahaya.

 

5. BUDAYA BUKAN SELALU HAMBATAN

Ini merupakan konsep penting.

Jangan mengajarkan kepada mahasiswa bahwa:

"Budaya masyarakat adalah masalah."

Yang lebih tepat:

Budaya dapat menjadi:

a.    Faktor risiko

atau

b.    Faktor protektif

atau

c.    Modal sosial untuk intervensi.

Contoh:

Budaya gotong royong

Jika tidak diarahkan:

→ hanya untuk kegiatan sosial.

Jika dimanfaatkan:

→ menjadi gerakan PSN bersama.

Tokoh agama

Jika tidak dilibatkan:

→ pesan kesehatan hanya berasal dari tenaga kesehatan.

Jika dilibatkan:

→ dapat menjadi penguat norma sosial hidup sehat.

Kader

Jika diberi pelatihan:

→ menjadi agen perubahan yang dipercaya masyarakat.

 

 

 

 

 

BAGIAN I

PHBS DALAM PERSPEKTIF SOSIAL BUDAYA

PENGERTIAN PHBS

PHBS adalah perilaku kesehatan yang dilakukan atas dasar kesadaran sehingga individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat mampu menolong dirinya sendiri dalam bidang kesehatan dan berperan aktif dalam mewujudkan kesehatan.

Kementerian Kesehatan menempatkan berbagai perilaku seperti pemberantasan jentik, konsumsi buah dan sayur, aktivitas fisik, dan tidak merokok di dalam rumah sebagai bagian penting perilaku hidup sehat. PHBS juga diterapkan dalam berbagai tatanan, termasuk rumah tangga, sekolah, tempat kerja, tempat umum, dan fasilitas pelayanan kesehatan. (Ayo Sehat)

 

PHBS BUKAN SEKADAR PENGETAHUAN

Mahasiswa perlu membedakan:

Knowledge

"Tahu bahwa cuci tangan penting."

Attitude

"Setuju bahwa cuci tangan penting."

Practice

"Benar-benar mencuci tangan menggunakan sabun pada waktu yang tepat."

Ketiga hal tersebut tidak selalu sama.

 

PHBS DAN DETERMINAN SOSIAL

Perilaku PHBS dipengaruhi oleh:

Faktor individu

  1. pengetahuan;
  2. sikap;
  3. persepsi risiko;
  4. efikasi diri.

Faktor interpersonal

  1. orang tua;
  2. pasangan;
  3. teman;
  4. keluarga.

Faktor komunitas

  1. norma;
  2. kader;
  3. RT/RW;
  4. tokoh masyarakat.

Faktor lingkungan

  1. air;
  2. sanitasi;
  3. tempat sampah;
  4. sarana cuci tangan.

Faktor struktural

  1. kemiskinan;
  2. akses;
  3. kebijakan;
  4. fasilitas publik.

SKI 2023 memang mengukur berbagai indikator kesehatan lingkungan, higiene, sanitasi, perilaku hidup bersih dan sehat, perilaku pencegahan gigitan nyamuk, penggunaan tembakau, aktivitas fisik, serta faktor kesehatan lainnya. (BKPK Kemenkes)

 

DATA KONTEKS INDONESIA

SKI 2023 menunjukkan bahwa:

  1. 89,6% rumah tangga memiliki akses air minum layak dasar;
  2. 91,1% memiliki akses fasilitas BAB untuk penggunaan sendiri;
  3. sekitar 3% masih melakukan buang air besar sembarangan. (BKPK Kemenkes)

Ketersediaan sarana cuci tangan juga tidak seragam menurut karakteristik sosial ekonomi dan pendidikan. Misalnya, pada data SKI 2023, proporsi rumah tangga dengan fasilitas cuci tangan di dalam rumah lebih tinggi pada kelompok berpendidikan lebih tinggi. (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia)

Pesan penting untuk mahasiswa:

PHBS harus dilihat sebagai interaksi antara perilaku dan lingkungan.

Tidak tepat menyalahkan individu semata ketika sarana pendukung perilaku sehat tidak tersedia.

 

CONTOH KASUS PHBS

Kasus 1 – "Tahu tetapi Tidak Melakukan"

Desa Mekarsari memiliki 1.200 KK.

 

Survei terhadap 200 KK menunjukkan:

 

Indikator

Hasil

Mengetahui pentingnya CTPS

91%

Memiliki fasilitas cuci tangan

78%

Memiliki sabun

61%

CTPS sebelum makan

57%

CTPS setelah BAB

68%

Tidak merokok di rumah

43%

PSN rutin

49%

 

Ketika diwawancarai, seorang ibu mengatakan:

"Kami tahu harus cuci tangan pakai sabun, Pak. Tapi kalau anak-anak buru-buru sekolah biasanya langsung makan."

Seorang bapak mengatakan:

"Merokok di ruang tamu sudah biasa dari dulu. Tidak ada yang merasa terganggu."

Pertanyaan mahasiswa

  1. Mengapa pengetahuan tinggi tetapi perilaku belum optimal?
  2. Apa faktor sosialnya?
  3. Apa faktor budayanya?
  4. Apakah perilaku merokok hanya masalah pengetahuan?
  5. Apa yang dapat menjadi entry point intervensi?
  6. Siapa opinion leader yang dapat dilibatkan?

 

BAGIAN II

DEMAM BERDARAH DENGUE DALAM PERSPEKTIF SOSIAL BUDAYA

DBD BUKAN HANYA MASALAH NYAMUK

DBD perlu dipahami sebagai masalah yang melibatkan:

Virus

  •  

vektor

  •  

lingkungan

  •  

perilaku

  •  

mobilitas penduduk

  •  

kondisi sosial

  •  

sistem kesehatan

  •  

iklim/lingkungan

 

Karena itu promosi kesehatan DBD tidak cukup hanya mengatakan:

"Jangan sampai digigit nyamuk."

 

SITUASI TERKINI DBD DI INDONESIA

DBD masih menjadi masalah kesehatan penting di Indonesia.

WHO melaporkan bahwa pada 2024 Indonesia mengalami lebih dari 257.000 kasus dengue dan lebih dari 1.400 kematian. Tantangan yang diidentifikasi mencakup keterlambatan deteksi, keterbatasan diagnostik, koordinasi, dan rendahnya partisipasi masyarakat dalam pencegahan dengue. (World Health Organization)

Pada 2025, Kementerian Kesehatan dan WHO juga memperkuat pendekatan multisource collaborative surveillance, yang menggabungkan data kesehatan, iklim, entomologi, dan sektor terkait untuk memperbaiki respons terhadap dengue. (World Health Organization)

Data surveilans Kemenkes pada awal 2026 juga menunjukkan adanya suspek dengue di berbagai provinsi, termasuk Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Banten, dan Jakarta. (Surveilans)

 

KESALAHAN PERSEPSI MASYARAKAT TENTANG DBD

Beberapa contoh yang perlu dikaji secara kritis:

Mitos 1

"Kalau sudah fogging berarti sudah aman."

Mitos 2

"Jentik di air bersih tidak berbahaya."

Mitos 3

"DBD hanya terjadi ketika musim hujan."

Mitos 4

"Kalau tidak ada nyamuk yang terlihat berarti rumah aman."

Mitos 5

"Anak demam pasti DBD."

Promotor kesehatan harus mengoreksi informasi tanpa mempermalukan masyarakat.

 

PSN SEBAGAI PERILAKU SOSIAL

Pencegahan DBD membutuhkan tindakan individu sekaligus komunitas.

Contohnya:

Individu

→ menguras/menutup/mengelola tempat penampungan air.

Keluarga

→ melakukan pemeriksaan jentik.

RT

→ pemantauan lingkungan.

Sekolah

→ pemeriksaan tempat berkembang biak nyamuk.

Puskesmas

→ surveilans dan respons.

Pemerintah

→ kebijakan lingkungan dan pengendalian vektor.

 

BUDAYA GOTONG ROYONG SEBAGAI MODAL

Pendekatan yang menarik:

"Gotong Royong → PSN"

Daripada hanya:

"Masyarakat harus melakukan PSN."

ubah menjadi:

"Gerakan warga menjaga lingkungan bersama."

Dengan demikian, promosi kesehatan menggunakan norma sosial positif yang sudah ada, bukan menciptakan budaya baru dari luar.

 

CONTOH KASUS DBD

Kasus 2 – "Fogging Sudah, Mengapa Kasus Tetap Ada?"

Kelurahan Harapan Jaya memiliki 8.500 penduduk.

 

Dalam enam bulan pertama 2026:

RW

Kasus DBD

RW 01

4

RW 02

7

RW 03

15

RW 04

6

RW 05

3

 

RW 03 sudah dua kali mendapatkan fogging.

Namun pemeriksaan 200 rumah menemukan:

  1. 54 rumah positif jentik;
  2. 31 rumah memiliki ember terbuka;
  3. 22 rumah memiliki barang bekas yang menampung air;
  4. 47 rumah tidak melakukan pemeriksaan jentik rutin.

Hasil wawancara:

"Kami sudah fogging, jadi sebenarnya sudah dilakukan pencegahan."

Ketua RT mengatakan:

"Kalau kerja bakti diumumkan, warga biasanya hadir. Tetapi PSN mingguan belum menjadi kebiasaan."

Pertanyaan mahasiswa

  1. Apa masalah utama?
  2. Apakah masalah utamanya kurang pengetahuan?
  3. Mengapa fogging belum menyelesaikan masalah?
  4. Apa modal sosial yang tersedia?
  5. Bagaimana mengubah kerja bakti menjadi kegiatan PSN?
  6. Siapa stakeholder utama?
  7. Apa indikator keberhasilan program?

 

BAGIAN III

IMUNISASI DALAM PERSPEKTIF SOSIAL BUDAYA

IMUNISASI SEBAGAI MASALAH SOSIAL

Imunisasi bukan hanya masalah:

"Apakah vaksin tersedia?"

Tetapi juga:

  1. apakah masyarakat percaya;
  2. apakah orang tua memahami manfaat;
  3. apakah informasi mudah dipahami;
  4. apakah layanan mudah dijangkau;
  5. apakah keluarga mendukung;
  6. apakah jadwal dipahami;
  7. apakah terdapat pengalaman negatif sebelumnya;
  8. apakah terdapat informasi keliru;
  9. apakah sistem pencatatan berjalan baik.

 

SITUASI IMUNISASI INDONESIA TERKINI

Pada 2025, WHO/UNICEF memperkirakan cakupan Indonesia untuk DTP3 dan HepB3 masing-masing mencapai 82%, meningkat dari 78% pada 2024. Jumlah anak yang tidak menerima satu pun dosis vaksin juga diperkirakan turun dari sekitar 748.000 pada 2024 menjadi 657.000 pada 2025. Namun, masih terdapat kesenjangan cakupan antarwilayah dan antar kelompok masyarakat. (World Health Organization)

Kementerian Kesehatan pada Mei 2026 melaporkan cakupan imunisasi dasar lengkap 80,2% pada 2025, tetapi masih terdapat hampir 960.000 anak zero-dose yang menjadi sasaran penguatan program. (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia)

Sementara itu, survei cakupan imunisasi Indonesia 2025 yang didukung WHO menemukan hanya 56,4% anak usia 12–23 bulan yang teridentifikasi mendapatkan imunisasi lengkap dalam survei tersebut. Perbedaan antara data survei dan data administratif menunjukkan pentingnya kualitas data dan pencatatan, selain persoalan akses dan penerimaan masyarakat. (World Health Organization)

Ini merupakan pembelajaran penting:

Angka cakupan bukan hanya masalah pelayanan.

Cakupan dipengaruhi oleh:

Supply

  •  

Access

  •  

Demand

  •  

Trust

  •  

Data quality

 

FAKTOR SOSIAL BUDAYA IMUNISASI

Faktor keluarga

  1. keputusan orang tua;
  2. pengaruh kakek-nenek;
  3. pengalaman keluarga.

Faktor komunitas

  1. tokoh masyarakat;
  2. kader;
  3. kelompok ibu;
  4. norma sosial.

Faktor informasi

  1. WhatsApp;
  2. TikTok;
  3. Facebook;
  4. influencer;
  5. grup keluarga.

Faktor pelayanan

  1. jarak;
  2. jadwal;
  3. waktu pelayanan;
  4. komunikasi petugas.

Faktor psikologis perilaku

  1. takut;
  2. persepsi risiko;
  3. pengalaman KIPI;
  4. kepercayaan.

 

MISINFORMASI DAN KOMUNIKASI IMUNISASI

Contoh:

"Anak demam setelah imunisasi berarti vaksinnya tidak cocok."

Respons promotor kesehatan tidak boleh:

"Itu salah! Jangan percaya."

Lebih baik:

  1. gali sumber informasi;
  2. dengarkan kekhawatiran;
  3. validasi emosi tanpa membenarkan informasi keliru;
  4. jelaskan fakta;
  5. berikan informasi tentang reaksi yang mungkin terjadi;
  6. jelaskan kapan harus mencari pertolongan;
  7. pastikan jadwal berikutnya.

Prinsip:

LISTEN → UNDERSTAND → EXPLAIN → SUPPORT → FOLLOW UP

 

CONTOH KASUS IMUNISASI

Kasus 3 – "Anak Saya Demam Setelah Imunisasi"

Di sebuah wilayah kerja Puskesmas terdapat 500 anak usia bawah dua tahun.

Data menunjukkan:

 

Indikator

Hasil

Imunisasi lengkap

78%

Belum lengkap

18%

Tidak pernah imunisasi

4%

Orang tua takut KIPI

37%

Lupa jadwal

22%

Kesulitan akses

15%

Pengaruh keluarga

18%

Mendapat informasi dari media sosial

61%

 

Seorang ibu mengatakan:

"Anak saya panas setelah imunisasi. Ibu saya bilang jangan diteruskan dulu."

Kader mengatakan:

"Kalau saya jelaskan sendiri, ibu masih ragu. Tetapi kalau bidan menjelaskan, biasanya lebih percaya."

Di sisi lain, grup WhatsApp ibu-ibu menyebarkan pesan:

"Lebih baik tunggu anak besar supaya tubuhnya kuat."

Pertanyaan mahasiswa

  1. Apa masalah perilaku?
  2. Apa masalah sosial?
  3. Apa masalah budaya?
  4. Apa masalah komunikasi?
  5. Apakah masalah tersebut semata-mata "anti-imunisasi"?
  6. Bagaimana melakukan komunikasi yang tidak menghakimi?
  7. Siapa yang harus menjadi komunikator?
  8. Media apa yang tepat?
  9. Bagaimana melakukan follow-up anak yang belum lengkap imunisasinya?

 

 

 

 

PERBANDINGAN TIGA MASALAH

ASPEK

PHBS

DBD

IMUNISASI

Fokus

Perilaku sehat

Pencegahan penyakit/vector

Pencegahan PD3I

Faktor individu

Pengetahuan/kebiasaan

Persepsi risiko

Kepercayaan/takut

Faktor keluarga

Kebiasaan rumah

PSN

Keputusan imunisasi

Faktor komunitas

Norma

Gotong royong

Dukungan sosial

Lingkungan

Sarana PHBS

Tempat berkembang biak nyamuk

Akses pelayanan

Media

Poster/WA

Kader/jumantik/WA

Konseling/WA

Tokoh penting

Kader/RT

RT/RW

Kader/bidan/tokoh

Strategi utama

Pembiasaan

Pemberdayaan

Demand & trust

 

MODEL ANALISIS SOSIAL BUDAYA

Mahasiswa dapat menggunakan model:

PRECEDE–PROCEED

Predisposing

  1. pengetahuan;
  2. kepercayaan;
  3. sikap;
  4. nilai.

Enabling

  1. fasilitas;
  2. akses;
  3. sarana;
  4. pelayanan.

Reinforcing

  1. keluarga;
  2. kader;
  3. tokoh masyarakat;
  4. teman sebaya.

Kemudian:

Intervensi

Perubahan perilaku

Perubahan lingkungan

Perubahan status kesehatan

 

MODEL ECOLOGICAL

Perilaku kesehatan dapat dianalisis dalam lima level:

Level 1 – Individu

Pengetahuan, sikap, persepsi.

Level 2 – Interpersonal

Keluarga dan teman.

Level 3 – Organisasi

Sekolah, Posyandu, Puskesmas.

Level 4 – Komunitas

RT/RW, tokoh masyarakat.

Level 5 – Kebijakan

Pemerintah dan regulasi.

Ini sangat sesuai untuk analisis:

PHBS + DBD + imunisasi.

 

PRINSIP PROMOSI KESEHATAN BERBASIS BUDAYA

Mahasiswa perlu menguasai 7 prinsip:

1. Respect

Menghargai masyarakat.

2. Listen

Mendengarkan sebelum memberi nasihat.

3. Understand

Memahami konteks budaya.

4. Engage

Melibatkan masyarakat.

5. Adapt

Menyesuaikan pesan.

6. Empower

Memberdayakan, bukan mendominasi.

7. Evidence-based

Tetap menggunakan bukti ilmiah.

 

JANGAN MELAKUKAN INI

Promotor kesehatan jangan mengatakan:

"Budaya masyarakat ini salah."

"Masyarakat tidak sadar kesehatan."

"Orang tua yang tidak imunisasi tidak peduli anak."

"Warga malas melakukan PSN."

"Mereka percaya mitos."

Sebaliknya:

"Apa alasan masyarakat melakukan praktik tersebut?"

"Nilai apa yang mendasarinya?"

"Siapa yang dipercaya masyarakat?"

"Apa hambatan yang dialami?"

"Bagaimana nilai lokal dapat menjadi kekuatan?"

 

CONTOH PESAN PROMOSI KESEHATAN

PHBS

"Cuci tangan pakai sabun sebelum makan, setelah dari toilet, dan setelah beraktivitas. Kebiasaan kecil melindungi keluarga."

DBD

"Jaga rumah, jaga tetangga. Luangkan waktu setiap minggu untuk memeriksa dan menghilangkan tempat berkembang biak nyamuk."

Imunisasi

"Pastikan imunisasi anak sesuai jadwal. Bila ada kekhawatiran setelah imunisasi, tanyakan kepada tenaga kesehatan dan jangan mengambil keputusan hanya dari informasi media sosial."

 

28. STRATEGI INTERVENSI TERPADU

Dosen dapat mengajak mahasiswa merancang program:

"KAMPUNG SEHAT BERBASIS BUDAYA"

Komponen 1 – PHBS

Keluarga sehat

→ CTPS
→ tidak merokok di rumah
→ sanitasi
→ aktivitas fisik.

Komponen 2 – DBD

Kampung bebas jentik

→ pemeriksaan jentik
→ PSN
→ gotong royong
→ pelaporan.

Komponen 3 – Imunisasi

Anak terlindungi

→ reminder
→ konseling
→ pelacakan anak yang belum lengkap
→ keterlibatan kader dan keluarga.

 

TUGAS MAHASISWA

Mahasiswa dibagi menjadi kelompok 5–6 orang.

Tugas utama:

"Anda adalah Tim Promosi Kesehatan Puskesmas Sukamaju."

Susun strategi untuk menangani ketiga masalah tersebut.

Mahasiswa harus menghasilkan:

1. Analisis masalah

PHBS, DBD, imunisasi.

2. Analisis sosial budaya

Minimal 5 faktor.

3. Analisis akar masalah

Fishbone.

4. Prioritas masalah

Metode USG.

5. Analisis stakeholder

Primer–sekunder–tersier.

6. Strategi intervensi

Minimal 3 intervensi.

7. Pesan kesehatan

Minimal 3 pesan.

8. Media

Minimal 3 media.

9. POA

Minimal 1 bulan.

10. Evaluasi

Input–proses–output–outcome.

 

PERTANYAAN HOTS

  1. Mengapa masyarakat yang mengetahui bahaya DBD tetap tidak melakukan PSN?
  2. Mengapa cakupan imunisasi dapat berbeda antara wilayah?
  3. Bagaimana keluarga memengaruhi keputusan imunisasi?
  4. Bagaimana WhatsApp dapat menjadi media pemberdayaan sekaligus sumber misinformasi?
  5. Apakah budaya harus diubah atau justru dimanfaatkan?
  6. Bagaimana membedakan nilai budaya dengan misinformasi?
  7. Mengapa promosi kesehatan tidak cukup menggunakan metode ceramah?
  8. Bagaimana cara melibatkan tokoh agama tanpa menjadikan pesan kesehatan kehilangan dasar ilmiahnya?
  9. Mengapa gotong royong dapat menjadi strategi promosi kesehatan?
  10. Bagaimana mengukur perubahan perilaku secara objektif?

 

PESAN KUNCI UNTUK MAHASISWA

PHBS

Perilaku sehat tidak hanya ditentukan oleh pengetahuan, tetapi juga oleh lingkungan dan norma sosial.

DBD

Pencegahan dengue membutuhkan keterlibatan masyarakat, pengendalian lingkungan, surveilans, dan respons yang tepat; tidak cukup mengandalkan satu tindakan seperti fogging. (World Health Organization)

Imunisasi

Meningkatkan cakupan bukan hanya menyediakan vaksin, tetapi juga memastikan akses, kepercayaan, komunikasi, pencatatan, dan kemampuan menjangkau anak yang terlewat. Strategi Imunisasi Nasional Indonesia 2025–2029 secara eksplisit menekankan cakupan yang berkeadilan, penguatan tata kelola, suplai, serta pembangunan permintaan dan kepercayaan masyarakat. (World Health Organization)

Sosial budaya

"Promotor kesehatan tidak datang untuk mengubah masyarakat terlebih dahulu; promotor kesehatan datang untuk memahami masyarakat, menemukan kekuatan yang sudah ada, lalu bersama masyarakat membangun perubahan yang sehat."

 

Referensi utama untuk bahan ajar

  1. Kementerian Kesehatan RI – Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, sebagai sumber data nasional tentang kesehatan lingkungan, perilaku dan PHBS. (BKPK Kemenkes)
  2. Kementerian Kesehatan RI – PHBS, untuk konsep dan indikator PHBS. (Ayo Sehat)
  3. WHO Indonesia – Dengue, untuk situasi dengue dan penguatan surveilans di Indonesia. (World Health Organization)
  4. WHO & UNICEF – WUENIC 2025, untuk perkembangan cakupan imunisasi Indonesia. (World Health Organization)
  5. Strategi Imunisasi Nasional Indonesia 2025–2029, untuk arah penguatan program imunisasi Indonesia. (World Health Organization)
  6. WHO Indonesia – Strengthening Immunization Evidence and Strategy, untuk isu kesenjangan cakupan, kualitas data, akses, persepsi, dan dukungan keluarga/komunitas. (World Health Organization)