KASUS
PEMBELAJARAN
Pendekatan
Promosi Kesehatan Berbasis Sosial Budaya pada Masalah Diabetes Melitus
Mata Kuliah Sosial Budaya Kesehatan Masyarakat Program
Studi Sarjana Terapan Promosi Kesehatan
Topik
Pendekatan Promosi Kesehatan Berbasis Sosial Budaya pada Masalah Diabetes
Melitus
Metode
Pembelajaran
Case-Based
Learning (CBL)
Alokasi Waktu
2 × 50 menit atau dapat dikembangkan menjadi 3 × 50 menit
A. Deskripsi Kasus
Desa
Sukamaju merupakan wilayah semi-perkotaan dengan jumlah penduduk sekitar
8.500 jiwa. Sebagian besar penduduk bekerja sebagai pedagang, pekerja informal,
buruh, pegawai swasta, dan pelaku usaha makanan rumahan. Kehidupan sosial
masyarakat masih cukup kuat. Kegiatan pengajian, arisan, pertemuan RT/RW,
posyandu, kegiatan PKK, dan kegiatan keluarga besar berlangsung secara rutin.
Dalam
dua tahun terakhir, Puskesmas Sukamaju menemukan semakin banyak
masyarakat usia dewasa dan lanjut usia yang memiliki kadar gula darah tinggi.
Hasil kegiatan skrining PTM menunjukkan bahwa dari 320 orang yang mengikuti
pemeriksaan gula darah sewaktu, 68 orang memiliki hasil pemeriksaan yang
perlu ditindaklanjuti. Sebagian masyarakat yang telah mendapatkan hasil
pemeriksaan tersebut tidak melakukan pemeriksaan lanjutan secara rutin.
Petugas Puskesmas kemudian melakukan wawancara awal
kepada masyarakat. Ditemukan beberapa kebiasaan yang berpotensi berkaitan
dengan pengendalian diabetes melitus.
Masyarakat memiliki kebiasaan mengonsumsi teh manis,
kopi dengan gula, minuman kemasan, dan makanan ringan manis ketika
berkumpul. Pada kegiatan sosial seperti pengajian, arisan, rapat warga, dan
pertemuan keluarga, makanan dan minuman manis sering dianggap sebagai bentuk
penghormatan kepada tamu.
Salah seorang warga, Ibu S, 54 tahun, telah
didiagnosis diabetes melitus sekitar tiga tahun yang lalu. Dokter telah
memberikan edukasi mengenai pola makan, aktivitas fisik, pemeriksaan gula
darah, dan konsumsi obat secara teratur. Namun, Ibu S mengatakan:
“Kalau sedang kumpul dengan keluarga, tidak enak kalau
saya tidak ikut makan. Nanti dikira sombong atau tidak menghargai yang punya
acara.”
Ibu S juga mengaku masih mengonsumsi teh manis beberapa
kali sehari karena menurutnya teh tanpa gula “tidak enak dan tidak membuat
badan terasa segar”.
Sementara itu, suaminya berpendapat bahwa makanan
merupakan bagian penting dalam menjaga keharmonisan keluarga.
“Kalau makan bersama itu harus lengkap. Kalau cuma sayur
dan sedikit nasi, rasanya seperti orang sakit.”
B. Temuan Sosial
dan Budaya Masyarakat
Hasil diskusi awal
petugas promosi kesehatan dengan kader menunjukkan beberapa kondisi berikut.
|
Temuan |
Kondisi
di Masyarakat |
|
Kebiasaan makan |
Nasi menjadi
makanan pokok dan dikonsumsi dalam jumlah relatif banyak |
|
Minuman |
Teh/kopi dengan gula merupakan kebiasaan sehari-hari |
|
Makanan sosial |
Kue manis, gorengan, dan minuman manis sering disediakan dalam kegiatan
masyarakat |
|
Nilai sosial |
Menolak makanan/minuman dari tuan rumah dianggap kurang menghargai |
|
Keluarga |
Keputusan makanan sering ditentukan atau dipengaruhi anggota keluarga |
|
Pengetahuan |
Sebagian masyarakat
mengetahui diabetes berkaitan dengan gula, tetapi belum memahami faktor
risiko secara komprehensif |
|
Persepsi |
Diabetes sering
dianggap sebagai penyakit keturunan atau penyakit orang tua |
|
Pengobatan |
Sebagian warga
lebih percaya pada pengalaman keluarga atau saran tokoh masyarakat |
|
Aktivitas fisik |
Aktivitas fisik belum menjadi kebiasaan terencana |
|
Posbindu |
Tersedia tetapi
belum dimanfaatkan secara optimal oleh seluruh kelompok sasaran |
|
Tokoh masyarakat |
Ketua RT/RW, kader,
tokoh agama, dan tokoh perempuan memiliki pengaruh cukup besar |
|
Media komunikasi |
WhatsApp group
warga dan kegiatan tatap muka merupakan media yang paling sering digunakan |
C. Masalah yang
Semakin Kompleks
Petugas Puskesmas
kemudian melakukan Focus Group Discussion (FGD) dengan masyarakat.
Dalam diskusi
tersebut muncul beberapa pendapat.
Kelompok 1 –
Masyarakat
Beberapa warga
mengatakan:
“Di keluarga kami
memang banyak yang diabetes. Jadi mungkin memang keturunan.”
Warga lainnya mengatakan:
“Kalau sudah diabetes, ya tinggal minum obat. Makanan tidak terlalu
berpengaruh kalau obatnya diminum.”
Ada pula warga yang
mengatakan:
“Kalau tidak makan nasi banyak, cepat lapar dan tidak kuat bekerja.”
Kelompok 2 – Kader
Kader mengatakan bahwa masyarakat sebenarnya sudah sering mendapatkan
penyuluhan tentang diabetes.
Namun, menurut kader:
“Penyuluhannya sudah sering, tetapi setelah beberapa minggu kebiasaan
masyarakat kembali seperti sebelumnya.”
Kader juga menyampaikan bahwa materi edukasi yang diberikan biasanya berupa
ceramah dengan materi tentang definisi diabetes, gejala, komplikasi, dan
anjuran mengurangi gula.
Kelompok 3 – Tokoh Masyarakat
Ketua RT menyampaikan bahwa kegiatan kesehatan akan lebih mudah diterima
apabila melibatkan tokoh masyarakat.
Tokoh agama mengatakan bahwa pesan kesehatan dapat disampaikan melalui
kegiatan pengajian, tetapi:
“Bahasanya jangan terlalu medis. Masyarakat lebih mudah menerima kalau
dikaitkan dengan tanggung jawab menjaga kesehatan sebagai bagian dari kehidupan
sehari-hari.”
Kelompok 4 – Keluarga
Beberapa anggota keluarga pasien diabetes mengatakan mereka ingin membantu
anggota keluarganya, tetapi tidak mengetahui bagaimana cara mengubah pola makan
keluarga tanpa menimbulkan konflik.
Salah seorang anak pasien mengatakan:
“Kalau ibu tidak boleh makan makanan tertentu, anggota keluarga lain tetap
makan seperti biasa. Akhirnya
ibu ikut makan juga.”
D. Data Tambahan
Tim promosi kesehatan
melakukan survei sederhana terhadap 100 orang dewasa di Desa Sukamaju.
Hasilnya:
|
Indikator |
Hasil |
|
Mengetahui bahwa diabetes berkaitan dengan pola makan |
82% |
|
Mengetahui bahwa aktivitas fisik penting dalam pencegahan diabetes |
61% |
|
Mengetahui bahwa obesitas merupakan faktor risiko diabetes |
48% |
|
Mengonsumsi minuman manis ≥1 kali/hari |
72% |
|
Mengonsumsi makanan/minuman manis saat kegiatan sosial |
76% |
|
Melakukan aktivitas
fisik terencana ≥3 kali/minggu |
29% |
|
Memeriksa gula darah secara berkala |
37% |
|
Mengetahui cara
membaca informasi gula pada label makanan |
24% |
|
Menganggap diabetes terutama disebabkan faktor keturunan |
54% |
|
Menganggap minum obat saja cukup untuk mengendalikan diabetes |
41% |
|
Pernah mengikuti edukasi diabetes dari Puskesmas |
78% |
Temuan tersebut
menunjukkan adanya kesenjangan antara pengetahuan, lingkungan sosial-budaya,
dan perilaku kesehatan.
E. Tantangan bagi
Tenaga Promosi Kesehatan
Puskesmas kemudian
meminta mahasiswa Sarjana Terapan Promosi Kesehatan untuk membantu merancang
strategi promosi kesehatan.
Namun, Puskesmas
memberikan beberapa batasan:
- Tidak boleh menggunakan
pendekatan yang menyalahkan masyarakat.
- Tidak cukup hanya membuat
penyuluhan tentang diabetes.
- Intervensi harus
mempertimbangkan nilai, norma, kebiasaan, kepercayaan, dan struktur
sosial masyarakat.
- Keluarga harus dilibatkan.
- Tokoh
masyarakat dan kader perlu menjadi bagian dari strategi.
- Pesan
kesehatan harus menggunakan bahasa yang mudah dipahami masyarakat.
- Strategi harus dapat
dilaksanakan dengan sumber daya Puskesmas dan masyarakat yang tersedia.
- Intervensi
harus mempunyai indikator proses dan indikator hasil.
- Strategi harus memperhatikan
keberlanjutan setelah kegiatan mahasiswa selesai.
F. Tugas Mahasiswa
Mahasiswa berperan
sebagai tim promosi kesehatan Puskesmas.
Berdasarkan kasus
tersebut, susunlah rancangan “Program Promosi Kesehatan Berbasis Sosial
Budaya untuk Pencegahan dan Pengendalian Diabetes Melitus di Desa Sukamaju.”
Mahasiswa harus menyelesaikan tugas berikut.
1. Identifikasi Masalah
Identifikasi minimal 5 masalah kesehatan dan sosial-budaya yang
terdapat dalam kasus.
Mahasiswa harus
membedakan:
- Masalah Kesehatan;
- Masalah Perilaku;
- Masalah Lingkungan Sosial;
- Masalah Budaya;
- Masalah Komunikasi;
- Masalah Sistem Pelayanan
Kesehatan.
2. Analisis Sosial
Budaya
Analisis bagaimana
faktor berikut memengaruhi masalah diabetes:
a. Pengetahuan
Apa yang diketahui dan belum diketahui masyarakat?
b. Nilai
Nilai sosial apa yang memengaruhi perilaku makan?
c. Norma sosial
Perilaku apa yang dianggap “wajar” atau “tidak sopan” oleh masyarakat?
d. Kepercayaan
Keyakinan apa yang berpotensi memengaruhi pencegahan dan pengendalian
diabetes?
e. Tradisi/kebiasaan
Kebiasaan apa yang berhubungan dengan makanan dan minuman?
f. Keluarga
Bagaimana keluarga memengaruhi pilihan makanan dan aktivitas fisik?
g. Tokoh masyarakat
Siapa yang memiliki pengaruh terhadap perilaku masyarakat?
h. Lingkungan sosial
Bagaimana kegiatan sosial dapat menjadi faktor risiko sekaligus peluang
intervensi?
G. Analisis Menggunakan Pendekatan Sosial Budaya
Mahasiswa diminta menggunakan kerangka berikut:
Individu →
Keluarga → Kelompok → Komunitas → Sistem
|
Tingkat |
Pertanyaan
Analisis |
|
Individu |
Apa pengetahuan,
persepsi, sikap, dan kebiasaan individu? |
|
Keluarga |
Bagaimana keluarga memengaruhi pola makan dan aktivitas fisik? |
|
Kelompok |
Bagaimana teman sebaya, kelompok pengajian, arisan, atau kelompok kerja
memengaruhi perilaku? |
|
Komunitas |
Bagaimana norma dan kebiasaan masyarakat memengaruhi perilaku? |
|
Sistem |
Bagaimana
Puskesmas, kader, Posbindu, pemerintah desa, dan tokoh masyarakat dapat
mendukung perubahan? |
H. Analisis Akar
Masalah
Mahasiswa diminta
membuat pohon masalah atau fishbone analysis.
Contoh kategori:
Manusia
- Pengetahuan belum memadai
- Persepsi diabetes
- Motivasi perubahan perilaku
Perilaku
- Konsumsi minuman manis
- Aktivitas fisik rendah
- Pemeriksaan kesehatan tidak
rutin
Sosial
- Tekanan
sosial untuk makan/minum saat acara
- Pengaruh keluarga
- Kebiasaan komunitas
Budaya
- Makanan sebagai simbol
penghormatan
- Makan bersama sebagai bentuk
kebersamaan
- Anggapan
menolak makanan sebagai perilaku tidak sopan
Pelayanan
- Edukasi masih dominan satu
arah
- Belum optimal melibatkan
keluarga
- Pemanfaatan Posbindu belum
optimal
Lingkungan
- Ketersediaan makanan/minuman
manis
- Lingkungan kurang mendukung
aktivitas fisik
I. Tantangan Utama
Mahasiswa harus menjawab pertanyaan:
“Apakah masalah utama masyarakat adalah kurangnya pengetahuan tentang
diabetes, atau terdapat kesenjangan antara pengetahuan dengan norma, nilai,
kebiasaan, dan lingkungan sosial masyarakat?”
Berikan argumentasi berdasarkan data kasus.
J. Perancangan
Intervensi
Mahasiswa kemudian
merancang intervensi menggunakan prinsip:
“Bukan mengubah
budaya masyarakat, tetapi mencari titik masuk budaya untuk membangun perilaku
kesehatan.”
Mahasiswa harus
menyusun:
|
Komponen |
Rancangan |
|
Masalah prioritas |
... |
|
Sasaran primer |
... |
|
Sasaran sekunder |
... |
|
Sasaran tersier |
... |
|
Nilai budaya yang
dipertahankan |
... |
|
Kebiasaan yang
perlu dimodifikasi |
... |
|
Tokoh yang
dilibatkan |
... |
|
Media |
... |
|
Pesan utama |
... |
|
Metode |
... |
|
Aktivitas |
... |
|
Indikator proses |
... |
|
Indikator hasil |
... |
K. Pilihan
Strategi Promosi Kesehatan
Mahasiswa dapat
mengembangkan beberapa strategi berikut.
Strategi 1 – “Sehat Tetap Bersama”
Mengubah konsep:
“Menolak makanan = tidak menghargai”
menjadi:
“Menjaga kesehatan
bersama = bentuk kepedulian terhadap keluarga.”
Strategi 2 – Modifikasi Hidangan Kegiatan Sosial
Bukan melarang makanan tradisional, tetapi melakukan modifikasi pilihan
makanan dan minuman dalam kegiatan masyarakat.
Contohnya:
- mengurangi gula tambahan;
- menyediakan air putih;
- menyediakan
pilihan makanan lebih sehat;
- mengatur porsi;
- memperbanyak buah/sayur;
- memberikan
pilihan tanpa minuman manis.
Strategi 3 – Pelibatan Keluarga
Membuat pesan:
“Satu keluarga, satu kebiasaan sehat.”
Keluarga membuat kesepakatan sederhana, misalnya:
- menyediakan air putih;
- membatasi minuman manis;
- makan
bersama dengan porsi yang lebih sehat;
- melakukan aktivitas fisik
bersama.
Strategi 4 –
Pelibatan Tokoh Agama
Tokoh agama tidak
berperan sebagai tenaga kesehatan, tetapi sebagai social influencer yang
membantu memperkuat pesan tentang menjaga kesehatan.
Pesan kesehatan dapat
diintegrasikan secara kontekstual dalam kegiatan masyarakat tanpa mengubah
substansi medis.
Strategi 5 – Kader sebagai Agen Perubahan
Kader dapat dilatih untuk:
- komunikasi interpersonal;
- konseling sederhana;
- membaca label pangan;
- pemantauan perilaku;
- mengingatkan pemeriksaan
kesehatan;
- menghubungkan
masyarakat dengan Posbindu/Puskesmas.
L. Tugas Merancang Pesan Komunikasi
Mahasiswa membuat 3 versi pesan promosi kesehatan:
Pesan untuk pasien diabetes
Maksimal 20 kata.
Pesan untuk keluarga
Maksimal 20 kata.
Pesan untuk masyarakat
Maksimal 20 kata.
Pesan harus:
- Tidak Menyalahkan;
- Tidak Menakut-Nakuti;
- Mudah Dipahami;
- Sesuai Konteks Budaya;
- Mendorong Tindakan Nyata.
M. Tugas Media Promosi Kesehatan
Mahasiswa memilih minimal dua media:
- poster;
- leaflet;
- WhatsApp;
- video pendek;
- infografis;
- kartu pengingat;
- kalender kesehatan;
- media komunitas;
- demonstrasi memasak;
- permainan edukatif;
- forum warga;
- pengajian;
- kegiatan PKK;
- Posbindu.
Kemudian jelaskan mengapa
media tersebut sesuai dengan karakteristik sosial-budaya masyarakat.
N. Simulasi Kasus Komunikasi
Mahasiswa melakukan role play.
Skenario
Seorang kader memberikan edukasi kepada Ibu S yang mengatakan:
“Saya sudah tahu diabetes. Tapi kalau datang ke acara keluarga, saya tidak
mungkin menolak makanan. Nanti keluarga tersinggung.”
Mahasiswa berperan sebagai kader promosi kesehatan.
Tantangan:
Mahasiswa tidak boleh langsung mengatakan:
“Ibu harus berhenti makan makanan manis.”
Mahasiswa harus menggunakan pendekatan komunikasi yang:
- menggali pengalaman;
- memahami nilai keluarga;
- mengidentifikasi hambatan;
- mengidentifikasi sumber daya;
- melakukan negosiasi perilaku;
- menyusun tujuan yang
realistis;
- memberikan penguatan.
O. Pertanyaan
Analitis Tingkat Tinggi
Pertanyaan 1
Mengapa edukasi
diabetes yang sudah diberikan kepada 78% masyarakat belum otomatis menghasilkan
perubahan perilaku?
Pertanyaan 2
Bagaimana norma
sosial dapat menjadi faktor risiko sekaligus faktor protektif?
Pertanyaan 3
Apakah budaya makan
masyarakat harus dihilangkan untuk mencegah diabetes? Jelaskan.
Pertanyaan 4
Bagaimana cara melakukan modifikasi perilaku tanpa membuat masyarakat
merasa budaya mereka disalahkan?
Pertanyaan 5
Mengapa keluarga harus menjadi sasaran intervensi, bukan hanya pasien
diabetes?
Pertanyaan 6
Bagaimana mahasiswa menentukan entry point budaya untuk intervensi
promosi kesehatan?
Pertanyaan 7
Bagaimana membedakan antara kepercayaan masyarakat yang perlu dihargai
dengan informasi kesehatan yang perlu dikoreksi?
Pertanyaan 8
Jika masyarakat sudah sering mendapatkan penyuluhan tetapi perilaku belum
berubah, apakah solusi berikutnya harus berupa penyuluhan yang lebih banyak?
Jelaskan alasan Anda.
Pertanyaan 9
Bagaimana tokoh masyarakat dapat digunakan sebagai penguat norma kesehatan
tanpa menggantikan peran tenaga kesehatan?
Pertanyaan 10
Bagaimana memastikan
intervensi tidak berhenti setelah program mahasiswa selesai?
P. Produk Akhir
Kelompok
Setiap kelompok
menghasilkan mini project promosi kesehatan yang terdiri atas:
- Analisis situasi
- Analisis sosial-budaya
- Pemetaan stakeholder
- Pohon masalah
- Penentuan masalah prioritas
- Tujuan intervensi
- Segmentasi sasaran
- Strategi promosi kesehatan
- Strategi komunikasi
- Pesan kesehatan
- Pemilihan media
- Rencana kegiatan
- Indikator proses
- Indikator hasil
- Rencana monitoring dan
evaluasi
- Strategi keberlanjutan
Q. Rubrik
Penilaian
|
Komponen |
Bobot |
|
Identifikasi
masalah |
10% |
|
Analisis
sosial-budaya |
20% |
|
Analisis akar
masalah |
15% |
|
Analisis
stakeholder |
10% |
|
Ketepatan strategi
promosi kesehatan |
15% |
|
Integrasi
pendekatan sosial-budaya |
15% |
|
Media dan pesan
komunikasi |
5% |
|
Monitoring dan
evaluasi |
5% |
|
Kreativitas dan
kelayakan program |
5% |
|
Total |
100% |
R. Kompetensi yang
Diharapkan
Setelah menyelesaikan
kasus, mahasiswa diharapkan mampu:
- Menganalisis
hubungan sosial, budaya, dan perilaku dengan masalah diabetes melitus.
- Mengidentifikasi nilai,
norma, kepercayaan, kebiasaan, dan struktur sosial yang memengaruhi
perilaku kesehatan.
- Menganalisis kesenjangan antara
pengetahuan dan praktik kesehatan.
- Memetakan
stakeholder dan sumber daya sosial masyarakat.
- Merancang
pendekatan promosi kesehatan yang sensitif terhadap konteks sosial-budaya.
- Mengembangkan pesan dan media komunikasi
yang sesuai karakteristik sasaran.
- Merancang
intervensi yang melibatkan individu, keluarga, kelompok, dan komunitas.
- Menetapkan indikator
monitoring dan evaluasi program.
- Membangun strategi keberlanjutan
berbasis pemberdayaan masyarakat.
S. Inti
Pembelajaran
Kasus ini sengaja
dibangun agar mahasiswa memahami bahwa:
Masalah diabetes melitus di masyarakat bukan semata-mata persoalan
kurangnya pengetahuan. Perilaku kesehatan terbentuk melalui interaksi antara
pengetahuan, persepsi, keluarga, norma sosial, nilai budaya, kebiasaan,
lingkungan, akses pelayanan, dan dukungan komunitas.
Karena itu, pendekatan promosi kesehatan tidak cukup hanya memberikan
informasi, tetapi perlu memahami “mengapa masyarakat melakukan sesuatu”,
kemudian menemukan titik masuk sosial-budaya untuk menghasilkan
perubahan perilaku yang dapat diterima, realistis, dan berkelanjutan.
Pertanyaan penutup untuk diskusi kelas
“Jika Anda menjadi tenaga promosi kesehatan di Desa Sukamaju, apakah Anda
akan mengubah perilaku masyarakat terlebih dahulu, atau mengubah lingkungan
sosial yang membentuk perilaku tersebut? Jelaskan strategi Anda dan alasan
pemilihannya.”
Kasus ini cocok dikembangkan menjadi PBL/CBL lengkap untuk Sarjana
Terapan, termasuk lembar kerja mahasiswa (LKM), skenario role play,
kunci jawaban/dosen, kisi-kisi penilaian, rubrik CBL, dan PPT bahan ajar.