Rabu, 23 September 2026

Pendekatan Promosi Kesehatan Berbasis Sosial Budaya pada Masalah Diabetes Melitus

 

KASUS PEMBELAJARAN

Pendekatan Promosi Kesehatan Berbasis Sosial Budaya pada Masalah Diabetes Melitus

Mata Kuliah Sosial Budaya Kesehatan Masyarakat Program Studi Sarjana Terapan Promosi Kesehatan

Topik

Pendekatan Promosi Kesehatan Berbasis Sosial Budaya pada Masalah Diabetes Melitus

Metode Pembelajaran

Case-Based Learning (CBL)

Alokasi Waktu

2 × 50 menit atau dapat dikembangkan menjadi 3 × 50 menit

 

A. Deskripsi Kasus

Desa Sukamaju merupakan wilayah semi-perkotaan dengan jumlah penduduk sekitar 8.500 jiwa. Sebagian besar penduduk bekerja sebagai pedagang, pekerja informal, buruh, pegawai swasta, dan pelaku usaha makanan rumahan. Kehidupan sosial masyarakat masih cukup kuat. Kegiatan pengajian, arisan, pertemuan RT/RW, posyandu, kegiatan PKK, dan kegiatan keluarga besar berlangsung secara rutin.

Dalam dua tahun terakhir, Puskesmas Sukamaju menemukan semakin banyak masyarakat usia dewasa dan lanjut usia yang memiliki kadar gula darah tinggi. Hasil kegiatan skrining PTM menunjukkan bahwa dari 320 orang yang mengikuti pemeriksaan gula darah sewaktu, 68 orang memiliki hasil pemeriksaan yang perlu ditindaklanjuti. Sebagian masyarakat yang telah mendapatkan hasil pemeriksaan tersebut tidak melakukan pemeriksaan lanjutan secara rutin.

Petugas Puskesmas kemudian melakukan wawancara awal kepada masyarakat. Ditemukan beberapa kebiasaan yang berpotensi berkaitan dengan pengendalian diabetes melitus.

Masyarakat memiliki kebiasaan mengonsumsi teh manis, kopi dengan gula, minuman kemasan, dan makanan ringan manis ketika berkumpul. Pada kegiatan sosial seperti pengajian, arisan, rapat warga, dan pertemuan keluarga, makanan dan minuman manis sering dianggap sebagai bentuk penghormatan kepada tamu.

Salah seorang warga, Ibu S, 54 tahun, telah didiagnosis diabetes melitus sekitar tiga tahun yang lalu. Dokter telah memberikan edukasi mengenai pola makan, aktivitas fisik, pemeriksaan gula darah, dan konsumsi obat secara teratur. Namun, Ibu S mengatakan:

“Kalau sedang kumpul dengan keluarga, tidak enak kalau saya tidak ikut makan. Nanti dikira sombong atau tidak menghargai yang punya acara.”

Ibu S juga mengaku masih mengonsumsi teh manis beberapa kali sehari karena menurutnya teh tanpa gula “tidak enak dan tidak membuat badan terasa segar”.

Sementara itu, suaminya berpendapat bahwa makanan merupakan bagian penting dalam menjaga keharmonisan keluarga.

“Kalau makan bersama itu harus lengkap. Kalau cuma sayur dan sedikit nasi, rasanya seperti orang sakit.”

 

B. Temuan Sosial dan Budaya Masyarakat

Hasil diskusi awal petugas promosi kesehatan dengan kader menunjukkan beberapa kondisi berikut.

Temuan

Kondisi di Masyarakat

Kebiasaan makan

Nasi menjadi makanan pokok dan dikonsumsi dalam jumlah relatif banyak

Minuman

Teh/kopi dengan gula merupakan kebiasaan sehari-hari

Makanan sosial

Kue manis, gorengan, dan minuman manis sering disediakan dalam kegiatan masyarakat

Nilai sosial

Menolak makanan/minuman dari tuan rumah dianggap kurang menghargai

Keluarga

Keputusan makanan sering ditentukan atau dipengaruhi anggota keluarga

Pengetahuan

Sebagian masyarakat mengetahui diabetes berkaitan dengan gula, tetapi belum memahami faktor risiko secara komprehensif

Persepsi

Diabetes sering dianggap sebagai penyakit keturunan atau penyakit orang tua

Pengobatan

Sebagian warga lebih percaya pada pengalaman keluarga atau saran tokoh masyarakat

Aktivitas fisik

Aktivitas fisik belum menjadi kebiasaan terencana

Posbindu

Tersedia tetapi belum dimanfaatkan secara optimal oleh seluruh kelompok sasaran

Tokoh masyarakat

Ketua RT/RW, kader, tokoh agama, dan tokoh perempuan memiliki pengaruh cukup besar

Media komunikasi

WhatsApp group warga dan kegiatan tatap muka merupakan media yang paling sering digunakan

 

C. Masalah yang Semakin Kompleks

Petugas Puskesmas kemudian melakukan Focus Group Discussion (FGD) dengan masyarakat.

Dalam diskusi tersebut muncul beberapa pendapat.

Kelompok 1 – Masyarakat

Beberapa warga mengatakan:

“Di keluarga kami memang banyak yang diabetes. Jadi mungkin memang keturunan.”

Warga lainnya mengatakan:

“Kalau sudah diabetes, ya tinggal minum obat. Makanan tidak terlalu berpengaruh kalau obatnya diminum.”

Ada pula warga yang mengatakan:

“Kalau tidak makan nasi banyak, cepat lapar dan tidak kuat bekerja.”

Kelompok 2 – Kader

Kader mengatakan bahwa masyarakat sebenarnya sudah sering mendapatkan penyuluhan tentang diabetes.

Namun, menurut kader:

“Penyuluhannya sudah sering, tetapi setelah beberapa minggu kebiasaan masyarakat kembali seperti sebelumnya.”

Kader juga menyampaikan bahwa materi edukasi yang diberikan biasanya berupa ceramah dengan materi tentang definisi diabetes, gejala, komplikasi, dan anjuran mengurangi gula.

Kelompok 3 – Tokoh Masyarakat

Ketua RT menyampaikan bahwa kegiatan kesehatan akan lebih mudah diterima apabila melibatkan tokoh masyarakat.

Tokoh agama mengatakan bahwa pesan kesehatan dapat disampaikan melalui kegiatan pengajian, tetapi:

“Bahasanya jangan terlalu medis. Masyarakat lebih mudah menerima kalau dikaitkan dengan tanggung jawab menjaga kesehatan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.”

Kelompok 4 – Keluarga

Beberapa anggota keluarga pasien diabetes mengatakan mereka ingin membantu anggota keluarganya, tetapi tidak mengetahui bagaimana cara mengubah pola makan keluarga tanpa menimbulkan konflik.

Salah seorang anak pasien mengatakan:

“Kalau ibu tidak boleh makan makanan tertentu, anggota keluarga lain tetap makan seperti biasa. Akhirnya ibu ikut makan juga.”

 

D. Data Tambahan

Tim promosi kesehatan melakukan survei sederhana terhadap 100 orang dewasa di Desa Sukamaju.

Hasilnya:

Indikator

Hasil

Mengetahui bahwa diabetes berkaitan dengan pola makan

82%

Mengetahui bahwa aktivitas fisik penting dalam pencegahan diabetes

61%

Mengetahui bahwa obesitas merupakan faktor risiko diabetes

48%

Mengonsumsi minuman manis ≥1 kali/hari

72%

Mengonsumsi makanan/minuman manis saat kegiatan sosial

76%

Melakukan aktivitas fisik terencana ≥3 kali/minggu

29%

Memeriksa gula darah secara berkala

37%

Mengetahui cara membaca informasi gula pada label makanan

24%

Menganggap diabetes terutama disebabkan faktor keturunan

54%

Menganggap minum obat saja cukup untuk mengendalikan diabetes

41%

Pernah mengikuti edukasi diabetes dari Puskesmas

78%

Temuan tersebut menunjukkan adanya kesenjangan antara pengetahuan, lingkungan sosial-budaya, dan perilaku kesehatan.

 

E. Tantangan bagi Tenaga Promosi Kesehatan

Puskesmas kemudian meminta mahasiswa Sarjana Terapan Promosi Kesehatan untuk membantu merancang strategi promosi kesehatan.

Namun, Puskesmas memberikan beberapa batasan:

  1. Tidak boleh menggunakan pendekatan yang menyalahkan masyarakat.
  2. Tidak cukup hanya membuat penyuluhan tentang diabetes.
  3. Intervensi harus mempertimbangkan nilai, norma, kebiasaan, kepercayaan, dan struktur sosial masyarakat.
  4. Keluarga harus dilibatkan.
  5. Tokoh masyarakat dan kader perlu menjadi bagian dari strategi.
  6. Pesan kesehatan harus menggunakan bahasa yang mudah dipahami masyarakat.
  7. Strategi harus dapat dilaksanakan dengan sumber daya Puskesmas dan masyarakat yang tersedia.
  8. Intervensi harus mempunyai indikator proses dan indikator hasil.
  9. Strategi harus memperhatikan keberlanjutan setelah kegiatan mahasiswa selesai.

 

F. Tugas Mahasiswa

Mahasiswa berperan sebagai tim promosi kesehatan Puskesmas.

Berdasarkan kasus tersebut, susunlah rancangan “Program Promosi Kesehatan Berbasis Sosial Budaya untuk Pencegahan dan Pengendalian Diabetes Melitus di Desa Sukamaju.”

Mahasiswa harus menyelesaikan tugas berikut.

 

1. Identifikasi Masalah

Identifikasi minimal 5 masalah kesehatan dan sosial-budaya yang terdapat dalam kasus.

Mahasiswa harus membedakan:

  1. Masalah Kesehatan;
  2. Masalah Perilaku;
  3. Masalah Lingkungan Sosial;
  4. Masalah Budaya;
  5. Masalah Komunikasi;
  6. Masalah Sistem Pelayanan Kesehatan.

 

2. Analisis Sosial Budaya

Analisis bagaimana faktor berikut memengaruhi masalah diabetes:

a. Pengetahuan

Apa yang diketahui dan belum diketahui masyarakat?

b. Nilai

Nilai sosial apa yang memengaruhi perilaku makan?

c. Norma sosial

Perilaku apa yang dianggap “wajar” atau “tidak sopan” oleh masyarakat?

d. Kepercayaan

Keyakinan apa yang berpotensi memengaruhi pencegahan dan pengendalian diabetes?

e. Tradisi/kebiasaan

Kebiasaan apa yang berhubungan dengan makanan dan minuman?

f. Keluarga

Bagaimana keluarga memengaruhi pilihan makanan dan aktivitas fisik?

g. Tokoh masyarakat

Siapa yang memiliki pengaruh terhadap perilaku masyarakat?

h. Lingkungan sosial

Bagaimana kegiatan sosial dapat menjadi faktor risiko sekaligus peluang intervensi?

 

G. Analisis Menggunakan Pendekatan Sosial Budaya

Mahasiswa diminta menggunakan kerangka berikut:

Individu → Keluarga → Kelompok → Komunitas → Sistem

Tingkat

Pertanyaan Analisis

Individu

Apa pengetahuan, persepsi, sikap, dan kebiasaan individu?

Keluarga

Bagaimana keluarga memengaruhi pola makan dan aktivitas fisik?

Kelompok

Bagaimana teman sebaya, kelompok pengajian, arisan, atau kelompok kerja memengaruhi perilaku?

Komunitas

Bagaimana norma dan kebiasaan masyarakat memengaruhi perilaku?

Sistem

Bagaimana Puskesmas, kader, Posbindu, pemerintah desa, dan tokoh masyarakat dapat mendukung perubahan?


H. Analisis Akar Masalah

Mahasiswa diminta membuat pohon masalah atau fishbone analysis.

Contoh kategori:

Manusia

  1. Pengetahuan belum memadai
  2. Persepsi diabetes
  3. Motivasi perubahan perilaku

Perilaku

  1. Konsumsi minuman manis
  2. Aktivitas fisik rendah
  3. Pemeriksaan kesehatan tidak rutin

Sosial

  1. Tekanan sosial untuk makan/minum saat acara
  2. Pengaruh keluarga
  3. Kebiasaan komunitas

Budaya

  1. Makanan sebagai simbol penghormatan
  2. Makan bersama sebagai bentuk kebersamaan
  3. Anggapan menolak makanan sebagai perilaku tidak sopan

Pelayanan

  1. Edukasi masih dominan satu arah
  2. Belum optimal melibatkan keluarga
  3. Pemanfaatan Posbindu belum optimal

Lingkungan

  1. Ketersediaan makanan/minuman manis
  2. Lingkungan kurang mendukung aktivitas fisik

 

I. Tantangan Utama

Mahasiswa harus menjawab pertanyaan:

“Apakah masalah utama masyarakat adalah kurangnya pengetahuan tentang diabetes, atau terdapat kesenjangan antara pengetahuan dengan norma, nilai, kebiasaan, dan lingkungan sosial masyarakat?”

Berikan argumentasi berdasarkan data kasus.

 

J. Perancangan Intervensi

Mahasiswa kemudian merancang intervensi menggunakan prinsip:

“Bukan mengubah budaya masyarakat, tetapi mencari titik masuk budaya untuk membangun perilaku kesehatan.”

Mahasiswa harus menyusun:

Komponen

Rancangan

Masalah prioritas

...

Sasaran primer

...

Sasaran sekunder

...

Sasaran tersier

...

Nilai budaya yang dipertahankan

...

Kebiasaan yang perlu dimodifikasi

...

Tokoh yang dilibatkan

...

Media

...

Pesan utama

...

Metode

...

Aktivitas

...

Indikator proses

...

Indikator hasil

...

 

K. Pilihan Strategi Promosi Kesehatan

Mahasiswa dapat mengembangkan beberapa strategi berikut.

 

Strategi 1 – “Sehat Tetap Bersama”

Mengubah konsep:

“Menolak makanan = tidak menghargai”

menjadi:

“Menjaga kesehatan bersama = bentuk kepedulian terhadap keluarga.”

 

Strategi 2 – Modifikasi Hidangan Kegiatan Sosial

Bukan melarang makanan tradisional, tetapi melakukan modifikasi pilihan makanan dan minuman dalam kegiatan masyarakat.

Contohnya:

  1. mengurangi gula tambahan;
  2. menyediakan air putih;
  3. menyediakan pilihan makanan lebih sehat;
  4. mengatur porsi;
  5. memperbanyak buah/sayur;
  6. memberikan pilihan tanpa minuman manis.

 

Strategi 3 – Pelibatan Keluarga

Membuat pesan:

“Satu keluarga, satu kebiasaan sehat.”

Keluarga membuat kesepakatan sederhana, misalnya:

  1. menyediakan air putih;
  2. membatasi minuman manis;
  3. makan bersama dengan porsi yang lebih sehat;
  4. melakukan aktivitas fisik bersama.

 

Strategi 4 – Pelibatan Tokoh Agama

Tokoh agama tidak berperan sebagai tenaga kesehatan, tetapi sebagai social influencer yang membantu memperkuat pesan tentang menjaga kesehatan.

Pesan kesehatan dapat diintegrasikan secara kontekstual dalam kegiatan masyarakat tanpa mengubah substansi medis.

 

Strategi 5 – Kader sebagai Agen Perubahan

Kader dapat dilatih untuk:

  1. komunikasi interpersonal;
  2. konseling sederhana;
  3. membaca label pangan;
  4. pemantauan perilaku;
  5. mengingatkan pemeriksaan kesehatan;
  6. menghubungkan masyarakat dengan Posbindu/Puskesmas.

 

L. Tugas Merancang Pesan Komunikasi

Mahasiswa membuat 3 versi pesan promosi kesehatan:

Pesan untuk pasien diabetes

Maksimal 20 kata.

Pesan untuk keluarga

Maksimal 20 kata.

Pesan untuk masyarakat

Maksimal 20 kata.

Pesan harus:

  1. Tidak Menyalahkan;
  2. Tidak Menakut-Nakuti;
  3. Mudah Dipahami;
  4. Sesuai Konteks Budaya;
  5. Mendorong Tindakan Nyata.

 

M. Tugas Media Promosi Kesehatan

Mahasiswa memilih minimal dua media:

  1. poster;
  2. leaflet;
  3. WhatsApp;
  4. video pendek;
  5. infografis;
  6. kartu pengingat;
  7. kalender kesehatan;
  8. media komunitas;
  9. demonstrasi memasak;
  10. permainan edukatif;
  11. forum warga;
  12. pengajian;
  13. kegiatan PKK;
  14. Posbindu.

Kemudian jelaskan mengapa media tersebut sesuai dengan karakteristik sosial-budaya masyarakat.

 

N. Simulasi Kasus Komunikasi

Mahasiswa melakukan role play.

Skenario

Seorang kader memberikan edukasi kepada Ibu S yang mengatakan:

“Saya sudah tahu diabetes. Tapi kalau datang ke acara keluarga, saya tidak mungkin menolak makanan. Nanti keluarga tersinggung.”

Mahasiswa berperan sebagai kader promosi kesehatan.

Tantangan:

Mahasiswa tidak boleh langsung mengatakan:

“Ibu harus berhenti makan makanan manis.”

Mahasiswa harus menggunakan pendekatan komunikasi yang:

  1. menggali pengalaman;
  2. memahami nilai keluarga;
  3. mengidentifikasi hambatan;
  4. mengidentifikasi sumber daya;
  5. melakukan negosiasi perilaku;
  6. menyusun tujuan yang realistis;
  7. memberikan penguatan.

 

O. Pertanyaan Analitis Tingkat Tinggi

Pertanyaan 1

Mengapa edukasi diabetes yang sudah diberikan kepada 78% masyarakat belum otomatis menghasilkan perubahan perilaku?

Pertanyaan 2

Bagaimana norma sosial dapat menjadi faktor risiko sekaligus faktor protektif?

Pertanyaan 3

Apakah budaya makan masyarakat harus dihilangkan untuk mencegah diabetes? Jelaskan.

Pertanyaan 4

Bagaimana cara melakukan modifikasi perilaku tanpa membuat masyarakat merasa budaya mereka disalahkan?

Pertanyaan 5

Mengapa keluarga harus menjadi sasaran intervensi, bukan hanya pasien diabetes?

Pertanyaan 6

Bagaimana mahasiswa menentukan entry point budaya untuk intervensi promosi kesehatan?

Pertanyaan 7

Bagaimana membedakan antara kepercayaan masyarakat yang perlu dihargai dengan informasi kesehatan yang perlu dikoreksi?

Pertanyaan 8

Jika masyarakat sudah sering mendapatkan penyuluhan tetapi perilaku belum berubah, apakah solusi berikutnya harus berupa penyuluhan yang lebih banyak? Jelaskan alasan Anda.

Pertanyaan 9

Bagaimana tokoh masyarakat dapat digunakan sebagai penguat norma kesehatan tanpa menggantikan peran tenaga kesehatan?

Pertanyaan 10

Bagaimana memastikan intervensi tidak berhenti setelah program mahasiswa selesai?

 

P. Produk Akhir Kelompok

Setiap kelompok menghasilkan mini project promosi kesehatan yang terdiri atas:

  1. Analisis situasi
  2. Analisis sosial-budaya
  3. Pemetaan stakeholder
  4. Pohon masalah
  5. Penentuan masalah prioritas
  6. Tujuan intervensi
  7. Segmentasi sasaran
  8. Strategi promosi kesehatan
  9. Strategi komunikasi
  10. Pesan kesehatan
  11. Pemilihan media
  12. Rencana kegiatan
  13. Indikator proses
  14. Indikator hasil
  15. Rencana monitoring dan evaluasi
  16. Strategi keberlanjutan

 

Q. Rubrik Penilaian

Komponen

Bobot

Identifikasi masalah

10%

Analisis sosial-budaya

20%

Analisis akar masalah

15%

Analisis stakeholder

10%

Ketepatan strategi promosi kesehatan

15%

Integrasi pendekatan sosial-budaya

15%

Media dan pesan komunikasi

5%

Monitoring dan evaluasi

5%

Kreativitas dan kelayakan program

5%

Total

100%

 

R. Kompetensi yang Diharapkan

Setelah menyelesaikan kasus, mahasiswa diharapkan mampu:

  1. Menganalisis hubungan sosial, budaya, dan perilaku dengan masalah diabetes melitus.
  2. Mengidentifikasi nilai, norma, kepercayaan, kebiasaan, dan struktur sosial yang memengaruhi perilaku kesehatan.
  3. Menganalisis kesenjangan antara pengetahuan dan praktik kesehatan.
  4. Memetakan stakeholder dan sumber daya sosial masyarakat.
  5. Merancang pendekatan promosi kesehatan yang sensitif terhadap konteks sosial-budaya.
  6. Mengembangkan pesan dan media komunikasi yang sesuai karakteristik sasaran.
  7. Merancang intervensi yang melibatkan individu, keluarga, kelompok, dan komunitas.
  8. Menetapkan indikator monitoring dan evaluasi program.
  9. Membangun strategi keberlanjutan berbasis pemberdayaan masyarakat.

 

S. Inti Pembelajaran

Kasus ini sengaja dibangun agar mahasiswa memahami bahwa:

Masalah diabetes melitus di masyarakat bukan semata-mata persoalan kurangnya pengetahuan. Perilaku kesehatan terbentuk melalui interaksi antara pengetahuan, persepsi, keluarga, norma sosial, nilai budaya, kebiasaan, lingkungan, akses pelayanan, dan dukungan komunitas.

Karena itu, pendekatan promosi kesehatan tidak cukup hanya memberikan informasi, tetapi perlu memahami “mengapa masyarakat melakukan sesuatu”, kemudian menemukan titik masuk sosial-budaya untuk menghasilkan perubahan perilaku yang dapat diterima, realistis, dan berkelanjutan.

Pertanyaan penutup untuk diskusi kelas

“Jika Anda menjadi tenaga promosi kesehatan di Desa Sukamaju, apakah Anda akan mengubah perilaku masyarakat terlebih dahulu, atau mengubah lingkungan sosial yang membentuk perilaku tersebut? Jelaskan strategi Anda dan alasan pemilihannya.”

Kasus ini cocok dikembangkan menjadi PBL/CBL lengkap untuk Sarjana Terapan, termasuk lembar kerja mahasiswa (LKM), skenario role play, kunci jawaban/dosen, kisi-kisi penilaian, rubrik CBL, dan PPT bahan ajar.