Senin, 03 Agustus 2026

PEMBERDAYAAN MASYARAKAT

 

MATERI KULIAH: PEMBERDAYAAN MASYARAKAT

Mata Kuliah: Pemberdayaan Masyarakat

Topik Utama: Konsep Partisipasi dalam Konteks Promosi Kesehatan

1. Pengantar: Urgensi Partisipasi dalam Promosi Kesehatan

Dalam paradigma modern, promosi kesehatan tidak lagi dipahami sebatas kegiatan penyuluhan satu arah (top-down), di mana masyarakat diposisikan sebagai objek pasif penerima informasi. Promosi kesehatan yang efektif menuntut pergeseran paradigma menjadi pemberdayaan (empowerment), di mana masyarakat adalah subjek utama atau pelaku pembangunan kesehatan itu sendiri.

Berdasarkan Piagam Ottawa (Ottawa Charter for Health Promotion, 1986), salah satu strategi utama promosi kesehatan adalah memperkuat aksi komunitas (strengthen community actions). Keberhasilan aksi ini sangat bergantung pada derajat partisipasi masyarakat. Tanpa keterlibatan aktif, intervensi kesehatan sering kali bersifat sementara dan mangkrak setelah program atau pendanaan eksternal selesai.

2. Prinsip-Prinsip Partisipasi Masyarakat

Agar partisipasi tidak sekadar menjadi retorika atau formalitas administratif program, pelaksanaannya harus dilandasi oleh prinsip-prinsip dasar pemberdayaan, antara lain:

  1. Kesetaraan dan Kemitraan: Tidak ada pihak yang merasa lebih superior. Hubungan antara petugas kesehatan (fasilitator) dan masyarakat adalah mitra sejajar, di mana pengetahuan lokal dihargai setara dengan ilmu medis/ilmiah.
  2. Keterbukaan (Transparency): Seluruh informasi terkait masalah kesehatan, tujuan program, sumber daya yang tersedia, hingga alokasi anggaran harus dikomunikasikan secara transparan kepada masyarakat.
  3. Kemandirian (Self-Reliance): Partisipasi diarahkan untuk membangun kapasitas lokal agar masyarakat mampu mengenali, menganalisis, dan menyelesaikan masalah kesehatannya sendiri secara mandiri dalam jangka panjang.
  4. Keswadayaan dan Pemanfaatan Sumber Daya Lokal: Mengoptimalkan potensi lokal yang ada—baik berupa sumber daya alam, finansial swadaya, maupun kearifan lokal (local wisdom)—sebelum mengandalkan bantuan dari luar.
  5. Demokratis dan Inklusif: Proses pengambilan keputusan harus melibatkan seluruh elemen masyarakat tanpa diskriminasi, termasuk kelompok rentan seperti perempuan, masyarakat prasejahtera, lansia, dan kaum marjinal.

3. Tingkat dan Bentuk Partisipasi dalam Promosi Kesehatan

Partisipasi masyarakat bukanlah konsep yang monolitik; ia memiliki gradasi kedalaman keterlibatan. Merujuk pada tipologi partisipasi (seperti kerangka kerja Sherry Arnstein atau Jules Pretty), tingkat partisipasi masyarakat dalam promosi kesehatan dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

A. Tingkatan Partisipasi

  1. Partisipasi Pasif (Informative): Masyarakat hanya diberi tahu mengenai rencana atau program kesehatan yang akan/tengah berjalan. Umpan balik dari masyarakat sangat minimal atau tidak ada.
  2. Partisipasi karena Insentif (Inducement): Masyarakat terlibat karena diberikan imbalan tertentu (misalnya, sembako, uang transport, atau pengobatan gratis). Keterlibatan cenderung rapuh begitu insentif dihentikan.
  3. Partisipasi Fungsional (Functional): Masyarakat dilibatkan untuk mencapai tujuan program (misalnya gotong royong membersihkan lingkungan karena disuruh), namun mereka tidak terlibat dalam perancangan atau perencanaan awal.
  4. Partisipasi Interaktif (Interactive): Masyarakat dilibatkan dalam analisis masalah, perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi program. Mereka membentuk atau memperkuat kelompok lokal untuk mengambil kontrol atas inisiatif kesehatan.
  5. Kemandirian Penuh (Self-Mobilization): Masyarakat berinisiatif sendiri secara mandiri tanpa dorongan eksternal, sementara pihak luar hanya bertindak sebagai fasilitator atau penyedia dukungan teknis jika diminta.

B. Bentuk Partisipasi Nyata

  1. Bentuk Pikiran/Ide: Sumbangan gagasan dalam musyawarah perencanaan desa (Musrenbangdes) atau forum kesehatan kelurahan untuk memecahkan masalah stunting, DBD, atau kesehatan mental.
  2. Bentuk Tenaga: Gotong royong dalam kegiatan posyandu, kerja bakti perbaikan sanitasi lingkungan, atau kaderisasi kesehatan.
  3. Bentuk Materi/Sumber Daya: Iuran dana kesehatan desa (Dana Sehat), penyediaan tempat untuk kegiatan posyandu, atau penyediaan logistik lokal.
  4. Bentuk Pengambilan Keputusan: Keterlibatan aktif dalam struktur organisasi lokal seperti pengurus Kelompok Siaga Desa (KSD) atau Forum Kabupaten/Kota Sehat.

4. Peran dan Manfaat Partisipasi bagi Keberhasilan Program

Keterlibatan masyarakat memberikan dampak langsung terhadap kualitas dan keberlanjutan program kesehatan melalui berbagai aspek berikut:

  1. Kesesuaian Program dengan Kebutuhan Riil (Needs-Based): Program dirancang berdasarkan masalah nyata yang dirasakan oleh masyarakat, bukan berdasarkan asumsi birokrat atau tenaga kesehatan di atas meja.
  2. Meningkatkan Rasa Memiliki (Sense of Belonging): Ketika masyarakat dilibatkan sejak tahap perencanaan, mereka akan merasa bahwa program tersebut adalah milik mereka sendiri, bukan milik instansi kesehatan semata.
  3. Efisiensi dan Efektivitas Sumber Daya: Pemanfaatan tenaga, waktu, dan biaya menjadi jauh lebih efektif karena didukung oleh modal sosial (social capital) yang kuat di masyarakat.
  4. Keberlanjutan Program (Sustainability): Program tidak akan mati suri meskipun proyek atau intervensi dari pemerintah/LSM telah selesai, karena sistem dan kelembagaannya sudah berakar di masyarakat.
  5. Peningkatan Kapasitas Lokal: Proses partisipatif secara otomatis mendidik masyarakat, meningkatkan literasi kesehatan, serta menumbuhkan kepemimpinan lokal (local leadership).

5. Hambatan dan Strategi Meningkatkan Partisipasi Masyarakat

Dalam praktiknya, menggerakkan partisipasi masyarakat bukanlah hal yang mudah. Terdapat berbagai hambatan kultural, struktural, maupun psikologis yang kerap ditemui di lapangan.

A. Hambatan Utama

  1. Faktor Kultural dan Kebiasaan: Adanya budaya paternalistik (menunggu instruksi pihak berwenang) atau norma sosial tertentu yang menghambat keterlibatan kelompok tertentu (misalnya perempuan yang tidak diperbolehkan bersuara di ruang publik).
  2. Faktor Ekonomi dan Waktu: Masyarakat prasejahtera seringkali enggan berpartisipasi karena harus memprioritaskan mencari nafkah harian dibanding menghadiri kegiatan rapat atau penyuluhan kesehatan.
  3. Kurangnya Kepercayaan (Distrust): Trauma masa lalu akibat program pemerintah yang gagal, tidak transparan, atau janji-janji manis fasilitator yang tidak pernah terealisasi.
  4. Dominasi Elite Lokal: Program kesehatan sering kali dibajak oleh tokoh-tokoh lokal berpengaruh untuk kepentingan pribadi atau kelompok mereka, sehingga masyarakat bawah tetap terpinggirkan.
  5. Komunikasi yang Buruk: Penggunaan bahasa teknis medis yang sulit dipahami oleh awam oleh tenaga kesehatan.

B. Strategi Meningkatkan Partisipasi

  1. Pendekatan Tokoh Kunci (Key Persons Approach): Melibatkan tokoh agama, tokoh adat, kader posyandu, dan pemuka pendapat lokal yang memiliki pengaruh kuat di masyarakat sebagai agent of change.
  2. Penerapan Metode Partisipatif (PRA/PLA): Menggunakan pendekatan seperti Participatory Rural Appraisal (PRA) atau Participatory Learning and Action (PLA) yang menempatkan masyarakat sebagai peneliti bagi masalah mereka sendiri melalui pemetaan sosial, diagram alur, dan diskusi kelompok terarah (FGD).
  3. Fleksibilitas Waktu dan Tempat: Menyelenggarakan kegiatan kesehatan dengan menyesuaikan waktu luang masyarakat (misalnya malam hari atau usai musim panen) dan di lokasi yang mudah diakses.
  4. Transparansi dan Akuntabilitas Publik: Membuka laporan keuangan dan progres kegiatan secara transparan kepada publik untuk membangun kembali dan memelihara kepercayaan masyarakat.
  5. Penguatan Insentif Non-Materiil: Memberikan apresiasi yang layak kepada kader dan masyarakat aktif, seperti piagam penghargaan, peningkatan kapasitas melalui pelatihan lanjutan, serta pelibatan dalam forum-forum resmi pemerintahan.

 

Catatan Dosen untuk Mahasiswa:

Ingat, keberhasilan seorang promotor kesehatan tidak diukur dari seberapa canggih materi penyuluhan yang Anda miliki, melainkan dari seberapa besar kemampuan Anda dalam memfasilitasi masyarakat untuk berdaya, bersuara, dan memimpin perubahan kesehatannya sendiri.

Question 1

Sebuah Puskesmas merancang program penanggulangan DBD di Desa X sepenuhnya berdasarkan data sekunder tanpa melibatkan warga dalam diskusi awal. Saat implementasi, warga enggan terlibat karena merasa masalah utama mereka sebenarnya adalah air bersih. Prinsip partisipasi apa yang diabaikan dalam kasus ini?

  A.

Kemandirian lokal

  B.

Transparansi anggaran

  C.

Kesetaraan dan kemitraan

  D.

Pemanfaatan aset

  E.

Eksklusivitas program

Pikirkan tentang hubungan posisi antara petugas kesehatan dan masyarakat dalam perencanaan.

 

Question 2

Warga Desa Y bersedia menghadiri pertemuan penyuluhan gizi hanya karena petugas menjanjikan pembagian paket sembako di akhir acara. Berdasarkan tipologi partisipasi, berada pada tingkat manakah keterlibatan warga tersebut?

  A.

Partisipasi karena insentif

  B.

Partisipasi fungsional

  C.

Partisipasi interaktif

  D.

Mobilisasi mandiri

  E.

Partisipasi pasif

Fokus pada alasan utama warga datang ke pertemuan tersebut.

 

Question 3

Dalam forum kesehatan desa, seorang tokoh pemuda mengusulkan penggunaan balai warga sebagai tempat kelas ibu hamil dan menyumbangkan dana kas pemuda untuk membeli vitamin tambahan. Bentuk partisipasi apa yang ditunjukkan oleh tokoh pemuda tersebut?

  A.

Materi dan sumber daya

  B.

Pikiran dan tenaga

  C.

Hanya tenaga fisik

  D.

Hanya pengambilan keputusan

  E.

Kontribusi konsultatif

Identifikasi jenis kontribusi yang diberikan (tempat dan dana).

Question 4

Seorang promotor kesehatan menggunakan teknik pemetaan wilayah bersama warga untuk mengidentifikasi titik rawan jentik nyamuk. Warga menggambar peta desa mereka sendiri di atas kertas besar. Strategi ini merupakan penerapan dari metode?

  A.

Social marketing

  B.

Direct instruction

  C.

Key person approach

  D.

Participatory Rural Appraisal

  E.

Top-down planning

Question 5

Manakah di bawah ini yang merupakan indikator keberhasilan program promosi kesehatan dilihat dari aspek keberlanjutan (sustainability)?

  A.

Selesainya laporan tepat waktu

  B.

Tingginya rasa memiliki warga

  C.

Terserapnya seluruh anggaran program

  D.

Jumlah leaflet yang dibagikan

  E.

Hadirnya pejabat saat peresmian

Cari faktor psikososial yang membuat masyarakat mau menjaga program tersebut.

Question 6

Di Desa Z, perempuan dilarang berbicara dalam rapat desa karena dianggap tidak sopan menurut tradisi setempat. Hambatan partisipasi apa yang paling dominan dalam situasi ini?

  A.

Hambatan ekonomi

  B.

Hambatan kultural

  C.

Kurangnya transparansi

  D.

Hambatan teknis medis

  E.

Faktor geografis

Fokus pada kata 'tradisi setempat' dan 'larangan berbicara'.

Question 7

Kelompok masyarakat di RW 05 berinisiatif mengumpulkan donasi sampah plastik untuk membiayai iuran BPJS warga yang tidak mampu tanpa campur tangan Puskesmas. Kejadian ini menggambarkan tingkat partisipasi?

  A.

Mobilisasi mandiri

  B.

Partisipasi pasif

  C.

Partisipasi instruktif

  D.

Partisipasi fungsional

  E.

Partisipasi interaktif

Perhatikan frasa 'berinisiatif sendiri' dan 'tanpa campur tangan'.

Question 8

Seorang petugas kesehatan ingin memulai program pencegahan stunting di desa yang masyarakatnya sangat patuh pada pimpinan adat. Strategi awal yang paling tepat adalah?

  A.

Langsung membuat rapat besar

  B.

Melakukan sidak ke rumah warga

  C.

Membagikan pamflet di jalan

  D.

Memberikan sanksi denda

  E.

Pendekatan tokoh kunci

Cari strategi yang memanfaatkan struktur sosial yang sudah ada.

Question 9

Mengapa pengoptimalan modal sosial (social capital) dianggap lebih penting daripada sekadar memberikan bantuan dana dalam promosi kesehatan?

  A.

Membangun kemandirian masyarakat

  B.

Mempermudah kerja petugas

  C.

Dana pemerintah selalu kurang

  D.

Menghindari audit keuangan

  E.

Mempercepat laporan kegiatan

Fokus pada dampak jangka panjang terhadap ketergantungan masyarakat.

uestion 10

Seorang fasilitator menjelaskan manfaat imunisasi menggunakan istilah 'herd immunity' dan 'pathogen' kepada warga desa yang mayoritas lulusan SD. Hambatan partisipasi yang terjadi adalah?

  A.

Hambatan ekonomi

  B.

Hambatan politik

  C.

Hambatan geografis

  D.

Hambatan komunikasi

  E.

Hambatan fisik

Fokus pada cara penyampaian pesan oleh fasilitator.

Question 11

Warga sebuah kelurahan sepakat membentuk 'Dana Sehat' dengan iuran sampah setiap minggu. Hasil penjualan sampah digunakan untuk membiayai transportasi warga yang sakit ke RS. Ini merupakan bentuk partisipasi dalam?

  A.

Hanya pemberian ide

  B.

Partisipasi pasif-informatif

  C.

Pengambilan keputusan dan materi

  D.

Hanya pemberian tenaga

  E.

Keterlibatan karena paksaan

Lihat keterlibatan warga mulai dari rencana hingga penyediaan biaya.

Question 12

Dalam prinsip partisipasi, apa maksud dari 'pengetahuan lokal dihargai setara dengan ilmu ilmiah'?

  A.

Hanya menggunakan obat herbal

  B.

Petugas tidak perlu belajar medis

  C.

Penghapusan peran tenaga ahli

  D.

Masyarakat selalu benar

  E.

Kemitraan yang inklusif

Pikirkan tentang prinsip kesetaraan dalam kemitraan.

Question 13

Strategi promosi kesehatan dengan mengadakan pertemuan pada malam hari setelah warga pulang dari sawah bertujuan untuk mengatasi?

  A.

Kurangnya kepercayaan warga

  B.

Dominasi elite lokal

  C.

Hambatan birokrasi

  D.

Hambatan ekonomi dan waktu

  E.

Hambatan kultural

Hubungkan waktu kerja warga dengan ketersediaan mereka mengikuti kegiatan.

Question 14

Sebuah program kesehatan gagal total karena warga merasa dibohongi oleh fasilitator di masa lalu yang menjanjikan bantuan alat kesehatan namun tidak terealisasi. Masalah utama di sini adalah?

  A.

Kurangnya fasilitas jalan

  B.

Program tidak gratis

  C.

Rendahnya tingkat pendidikan

  D.

Masyarakat yang apatis

  E.

Krisis kepercayaan (distrust)

Cari kata yang menggambarkan rusaknya hubungan antara petugas dan warga.

Question 15

Apa peran utama fasilitator dalam tingkat partisipasi interaktif?

  A.

Menyediakan alat bantu analisis

  B.

Membayar warga yang hadir

  C.

Mengambil keputusan akhir

  D.

Menentukan masalah prioritas

  E.

Memberikan instruksi kerja

Fikirkan peran fasilitator sebagai pemungkin (enabler) bagi masyarakat.

 

Jumat, 24 April 2026

Implementasi dan Evaluasi Program Promosi Kesehatan

                                                    MATERI KULIAH KEPEMIMPINAN

Topik: Implementasi dan Evaluasi Program Promosi Kesehatan

 

A. DESKRIPSI UMUM

Implementasi dan evaluasi merupakan tahapan krusial dalam siklus manajemen program promosi kesehatan. Setelah perencanaan strategis disusun, keberhasilan program sangat ditentukan oleh kemampuan pemimpin dalam:

  1. Menggerakkan sumber daya (manusia, dana, sarana)
  2. Mengelola proses pelaksanaan
  3. Memastikan ketercapaian indikator
  4. Melakukan evaluasi berbasis bukti

Kepemimpinan dalam tahap ini menuntut kompetensi teknis, manajerial, dan sosial yang tinggi, termasuk kemampuan adaptasi terhadap dinamika lapangan.

 

B. IMPLEMENTASI PROGRAM PROMOSI KESEHATAN

1. Pengertian Implementasi

Implementasi adalah proses menerjemahkan rencana program ke dalam tindakan nyata melalui pengorganisasian sumber daya, pelaksanaan kegiatan, dan pengendalian operasional.

2. Prinsip Implementasi yang Efektif

  1. Berbasis kebutuhan masyarakat
  2. Partisipatif (melibatkan masyarakat/kader)
  3. Fleksibel terhadap kondisi lapangan
  4. Berorientasi pada hasil (output dan outcome)
  5. Berkelanjutan (sustainability)

3. Komponen Implementasi

a. Pengorganisasian

1)      Pembentukan tim pelaksana

2)      Pembagian tugas (job description)

3)      Koordinasi lintas sektor (puskesmas, kader, sekolah, tokoh masyarakat)

Contoh:
Program pencegahan stunting melibatkan bidan desa, kader posyandu, dan PKK.

b. Mobilisasi Sumber Daya

1)      SDM: tenaga kesehatan, kader

2)      Dana: BOK, CSR, dana desa

3)      Sarana: media edukasi, alat peraga

c. Pelaksanaan Kegiatan

1)      Edukasi (penyuluhan, kampanye)

2)      Intervensi langsung (skrining, pemberian PMT)

3)      Pendampingan (home visit)

d. Monitoring (Pemantauan)

1)      Dilakukan selama program berlangsung

2)      Mengukur kesesuaian pelaksanaan dengan rencana

Indikator monitoring:

1)      Jumlah peserta

2)      Kehadiran kader

3)      Frekuensi kegiatan

C. EVALUASI PROGRAM PROMOSI KESEHATAN

1. Pengertian Evaluasi

Evaluasi adalah proses sistematis untuk menilai efektivitas, efisiensi, dan dampak program.

2. Tujuan Evaluasi

1)      Menilai keberhasilan program

2)      Mengidentifikasi hambatan

3)      Memberikan rekomendasi perbaikan

4)      Mendukung pengambilan keputusan

3. Jenis Evaluasi

a. Evaluasi Proses

Menilai apakah program dilaksanakan sesuai rencana.

Contoh:
Apakah penyuluhan dilakukan sesuai jadwal?

b. Evaluasi Output

Menilai hasil langsung dari kegiatan.

Contoh:
Jumlah ibu hamil yang mendapatkan edukasi

c. Evaluasi Outcome

Menilai perubahan perilaku atau status kesehatan.

Contoh:
Peningkatan konsumsi tablet tambah darah

d. Evaluasi Dampak (Impact)

Menilai perubahan jangka panjang.

Contoh:
Penurunan angka stunting

 

4. Indikator Evaluasi

  1. Input: SDM, dana
  2. Proses: pelaksanaan kegiatan
  3. Output: jumlah sasaran tercapai
  4. Outcome: perubahan perilaku
  5. Impact: perubahan status kesehatan

 

5. Metode Evaluasi

  1. Survei (kuesioner)
  2. Wawancara
  3. Observasi
  4. FGD (Focus Group Discussion)
  5. Analisis data sekunder (laporan puskesmas)

 

6. Peran Kepemimpinan dalam Evaluasi

  1. Mengambil keputusan berbasis data
  2. Mendorong transparansi
  3. Mengkomunikasikan hasil kepada stakeholder
  4. Mengembangkan inovasi perbaikan program

 

D. INTEGRASI IMPLEMENTASI DAN EVALUASI

Implementasi dan evaluasi tidak berdiri sendiri, melainkan siklus berkelanjutan:

Perencanaan → Implementasi → Monitoring → Evaluasi → Perbaikan Program

Pemimpin harus mampu:

  1. Menggunakan hasil evaluasi sebagai dasar inovasi
  2. Mengadaptasi program sesuai kebutuhan masyarakat

 

E. STUDI KASUS (7 KELOMPOK)

 

Kasus 1: Program Pencegahan Anemia Remaja Putri

Data:

  1. Sasaran: 120 remaja putri
  2. Kehadiran: 60%
  3. Konsumsi tablet Fe rutin: 35%
  4. Hambatan: efek samping, kurang edukasi

Tugas:
Analisis implementasi dan buat rekomendasi evaluasi

 

Kasus 2: Program Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) di SD

Data:

  1. 80% siswa ikut penyuluhan
  2. Hanya 40% praktik CTPS
  3. Fasilitas air terbatas

Tugas:
Identifikasi masalah implementasi dan solusi

 

Kasus 3: Program Stunting di Desa

Data:

  1. Prevalensi stunting: 28%
  2. Kader aktif: 50%
  3. Edukasi ibu balita rendah

Tugas:
Evaluasi program dan rancang perbaikan

 

Kasus 4: Program Berhenti Merokok

Data:

  1. 70% peserta laki-laki dewasa
  2. 20% berhasil berhenti
  3. Tidak ada follow-up

Tugas:
Analisis kelemahan implementasi dan evaluasi

 

Kasus 5: Program Posyandu Lansia

Data:

  1. Kehadiran: 45%
  2. Kegiatan monoton
  3. Tidak ada inovasi

Tugas:
Rancang strategi implementasi baru

 

Kasus 6: Edukasi Kesehatan Reproduksi Remaja

Data:

  1. Pengetahuan meningkat 70%
  2. Perilaku belum berubah signifikan

Tugas:
Analisis gap antara output dan outcome

 

Kasus 7: Program Pengelolaan Sampah

Data:

  1. 90% warga ikut sosialisasi
  2. 30% praktik pemilahan sampah

Tugas:
Evaluasi efektivitas program dan solusi

 

F. FORMAT PENILAIAN TUGAS KELOMPOK

 

No

Komponen Penilaian

Bobot (%)

Kriteria

1

Analisis Masalah

20%

Ketepatan identifikasi masalah

2

Pemahaman Implementasi

15%

Kemampuan menjelaskan proses implementasi

3

Analisis Evaluasi

20%

Ketepatan jenis evaluasi

4

Solusi/Rekomendasi

25%

Inovatif, realistis, berbasis data

5

Penggunaan Data

10%

Relevansi dan ketepatan interpretasi

6

Presentasi

10%

Sistematis, komunikatif

 

Total: 100%

 

G. INDIKATOR KEBERHASILAN PEMBELAJARAN

Mahasiswa mampu:

  1. Menjelaskan konsep implementasi dan evaluasi
  2. Menganalisis program promosi kesehatan
  3. Menyusun rekomendasi berbasis data
  4. Mengintegrasikan kepemimpinan dalam praktik lapangan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LEMBAR KERJA MAHASISWA (LKM)

Mata Kuliah: Kepemimpinan dalam Promosi Kesehatan

Topik: Implementasi dan Evaluasi Program

 

A. IDENTITAS KELOMPOK

  1. Nama Kelompok : ..............................................
  2. Anggota Kelompok :
    1. ..............................................
    2. ..............................................
    3. ..............................................
    4. ..............................................
  1. Kelas : ..............................................
  2. Dosen Pengampu : ..............................................
  3. Tanggal Pengumpulan : ..............................................

 

B. TUJUAN PEMBELAJARAN

Setelah mengerjakan LKM ini, mahasiswa mampu:

  1. Menganalisis proses implementasi program promosi kesehatan
  2. Mengidentifikasi permasalahan dalam pelaksanaan program
  3. Menentukan jenis evaluasi yang tepat
  4. Menyusun rekomendasi perbaikan berbasis data
  5. Mengintegrasikan peran kepemimpinan dalam implementasi dan evaluasi

 

C. PETUNJUK PENGERJAAN

  1. Bacalah kasus yang diberikan dengan cermat
  2. Identifikasi masalah berdasarkan data yang tersedia
  3. Gunakan konsep implementasi dan evaluasi
  4. Diskusikan dalam kelompok
  5. Jawab pertanyaan secara sistematis dan argumentatif
  6. Sertakan tabel/diagram jika diperlukan

 

D. FORMAT ANALISIS KASUS

1. IDENTIFIKASI MASALAH

a. Masalah utama program:
.....................................................................................

b. Masalah implementasi (minimal 3):

  1. ................................................................................
  2. ................................................................................
  3. ................................................................................

c. Faktor penyebab masalah:

  1. Internal: .......................................................................
  2. Eksternal: .....................................................................

 

 

 

 

2. ANALISIS IMPLEMENTASI PROGRAM

 

Komponen

Analisis Kondisi

Kesenjangan (Gap)

SDM

 

 

Dana

 

 

Sarana

 

 

Metode

 

 

Partisipasi masyarakat

 

 

 

 

3. ANALISIS MONITORING

a. Apakah monitoring sudah dilakukan? Jelaskan:
.....................................................................................

b. Indikator monitoring yang tersedia:
.....................................................................................

c. Kelemahan monitoring:
.....................................................................................

 

4. ANALISIS EVALUASI PROGRAM

a. Jenis evaluasi yang relevan (beri alasan):

Proses / Output / Outcome / Impact
Alasan: .......................................................................

b. Indikator evaluasi yang digunakan:
.....................................................................................

c. Hasil evaluasi berdasarkan data kasus:
.....................................................................................

 

5. ANALISIS PERAN KEPEMIMPINAN

a. Peran pemimpin dalam kasus:
.....................................................................................

b. Kelemahan kepemimpinan:
.....................................................................................

c. Gaya kepemimpinan yang seharusnya:
.....................................................................................

 

6. RUMUSAN MASALAH PRIORITAS

Gunakan pendekatan prioritas (misal: Urgency-Seriousness-Growth / USG)

Masalah

U

S

G

Total

Prioritas

 

7. REKOMENDASI PERBAIKAN PROGRAM

a. Strategi implementasi:
.....................................................................................

b. Perbaikan monitoring:
.....................................................................................

c. Strategi evaluasi:
.....................................................................................

d. Inovasi program:
.....................................................................................

 

8. RENCANA TINDAK LANJUT (RTL)

Kegiatan

Tujuan

Sasaran

Waktu

Penanggung Jawab

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

9. INDIKATOR KEBERHASILAN

Indikator

Target

Metode Pengukuran

 

 

 

 

 

 

 

 

10. REFLEKSI KELOMPOK

a. Pembelajaran yang didapat:
.....................................................................................

b. Tantangan dalam analisis:
.....................................................................................

c. Insight kepemimpinan:
.....................................................................................

 

E. OUTPUT YANG HARUS DIKUMPULKAN

  1. Laporan analisis (maksimal 10 halaman)
  2. Slide presentasi (maksimal 10 slide)
  3. Diagram alur implementasi dan evaluasi

 

F. RUBRIK PENILAIAN (DETAIL SKOR 1–4)

 

Komponen

Skor 1

Skor 2

Skor 3

Skor 4

Analisis Masalah

Tidak tepat

Kurang tepat

Cukup tepat

Sangat tepat & mendalam

Implementasi

Tidak jelas

Kurang lengkap

Cukup lengkap

Komprehensif

Evaluasi

Tidak sesuai

Kurang sesuai

Cukup sesuai

Sangat tepat

Rekomendasi

Tidak relevan

Kurang realistis

Cukup realistis

Inovatif & aplikatif

Data

Tidak digunakan

Minim

Cukup

Optimal

Presentasi

Tidak sistematis

Kurang

Cukup

Sangat baik

 

 

G. CATATAN DOSEN

.....................................................................................
.....................................................................................

 

H. LAMPIRAN (OPSIONAL)

  1. Diagram fishbone masalah
  2. Flowchart implementasi
  3. Grafik evaluasi