MATERI KULIAH
PESAN PROMOSI KESEHATAN TERTULIS
Komunikasi Lintas Budaya, Literasi Kesehatan, Plain Language,
Pesan Non-Stigmatis, Akurasi Informasi, dan Nilai Lokal
Dr. Safrudin, SKM, M.Kes.
Program
Studi: Sarjana Terapan Promosi Kesehatan
Bentuk pembelajaran: Kuliah interaktif, studi kasus, diskusi kelompok,
praktik analisis pesan
Sasaran: Mahasiswa Sarjana Terapan Promosi Kesehatan
A.
DESKRIPSI MATERI
Pesan promosi
kesehatan tertulis merupakan salah satu instrumen penting dalam komunikasi
kesehatan. Pesan dapat disampaikan melalui poster, leaflet, brosur,
infografis, media sosial, WhatsApp, booklet, spanduk, modul, website, dan media
digital lainnya.
Namun, pesan
yang secara ilmiah benar belum tentu efektif apabila:
- menggunakan
bahasa yang terlalu teknis;
- tidak sesuai dengan tingkat literasi sasaran;
- mengabaikan
budaya masyarakat;
- menggunakan
istilah yang menimbulkan stigma;
- mengandung informasi yang tidak akurat;
- menggunakan contoh yang tidak sesuai dengan
kehidupan masyarakat;
- atau tidak mempertimbangkan nilai dan kebiasaan
lokal.
Oleh karena
itu, seorang Promotor Kesehatan harus mampu mengubah informasi kesehatan
yang kompleks menjadi pesan yang benar, mudah dipahami, relevan, inklusif,
tidak menghakimi, dan sesuai konteks budaya masyarakat.
B.
CAPAIAN PEMBELAJARAN
Setelah
mengikuti pembelajaran, mahasiswa mampu:
- Menjelaskan prinsip
komunikasi lintas budaya dalam penyusunan pesan kesehatan tertulis.
- Menganalisis tingkat
literasi kesehatan sasaran dalam menerima pesan tertulis.
- Menerapkan
plain language
dalam menyederhanakan informasi kesehatan.
- Mengidentifikasi
dan memperbaiki pesan yang berpotensi menimbulkan stigma.
- Memverifikasi akurasi informasi kesehatan
sebelum pesan dipublikasikan.
- Mengintegrasikan nilai, bahasa, kebiasaan, dan
konteks lokal ke dalam pesan kesehatan.
- Merancang pesan promosi kesehatan tertulis
yang efektif, akurat, sederhana, non-stigmatis, dan sensitif budaya.
C.
KONSEP DASAR PESAN PROMOSI KESEHATAN TERTULIS
Pesan promosi
kesehatan adalah informasi yang dirancang secara sengaja untuk meningkatkan
pengetahuan, membentuk sikap, mendukung pengambilan keputusan, dan mendorong
perilaku kesehatan yang positif.
Pesan
kesehatan yang baik tidak hanya menjawab:
"Apa
yang ingin kita sampaikan?"
tetapi juga:
"Apa
yang perlu dipahami dan dilakukan oleh sasaran?"
Rumus
sederhana
Informasi
kesehatan → Pesan → Pemahaman → Sikap → Tindakan → Perubahan perilaku
Namun proses
tersebut dipengaruhi oleh:
Budaya
+ Literasi + Bahasa + Kepercayaan + Nilai lokal + Akses informasi + Kondisi
sosial
D.
ENAM PILAR PESAN KESEHATAN TERTULIS
Materi ini
menggunakan enam pilar utama:
|
Pilar |
Pertanyaan utama |
|
1. Komunikasi lintas budaya |
Apakah pesan sesuai dengan budaya
sasaran? |
|
2. Literasi kesehatan |
Apakah
sasaran mampu menemukan, memahami, menilai, dan menggunakan informasi? |
|
3. Plain language |
Apakah pesan mudah dipahami? |
|
4. Non-stigmatis |
Apakah
pesan menghormati martabat sasaran? |
|
5. Akurasi informasi |
Apakah informasi benar dan
memiliki sumber yang dapat dipercaya? |
|
6. Nilai lokal |
Apakah pesan relevan dengan
kehidupan dan konteks masyarakat? |
1. KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA
A. Pengertian
Komunikasi lintas budaya adalah
proses pertukaran pesan antara individu atau kelompok yang memiliki latar
belakang budaya, bahasa, nilai, norma, kepercayaan, dan kebiasaan yang berbeda.
Dalam promosi kesehatan, seorang
promotor kesehatan dapat berhadapan dengan masyarakat yang berbeda:
- bahasa;
- suku;
- agama;
- kebiasaan
makan;
- pola
pengasuhan;
- kepercayaan
kesehatan;
- tingkat
pendidikan;
- pengalaman
kesehatan;
- kondisi
sosial ekonomi.
Prinsip penting
Jangan menganggap semua sasaran
memiliki cara berpikir dan pengalaman yang sama.
B. Mengapa budaya penting?
Contoh:
Pesan:
"Kurangi
konsumsi makanan tradisional karena tidak sehat."
Secara
kesehatan mungkin ada alasan tertentu untuk membatasi makanan dengan kandungan
gula, garam, atau lemak tinggi.
Tetapi pesan tersebut dapat
dianggap:
- merendahkan
budaya;
- menyerang
identitas masyarakat;
- tidak
menghargai kebiasaan keluarga;
- sulit
diterima.
Perbaikan
"Tetap
nikmati makanan khas keluarga. Pilih porsi secukupnya dan kurangi penggunaan
garam, gula, dan minyak agar lebih sehat."
Pesan kedua tidak
menyerang budaya, tetapi mengajak masyarakat melakukan modifikasi perilaku.
C.
Dimensi budaya yang perlu diperhatikan
Mahasiswa
perlu menganalisis:
1.
Bahasa
Apakah
masyarakat menggunakan bahasa Indonesia, bahasa daerah, atau kombinasi?
2.
Nilai keluarga
Siapa yang
biasanya mengambil keputusan kesehatan?
3.
Kebiasaan
Bagaimana
masyarakat makan, bekerja, berinteraksi, dan mencari pertolongan kesehatan?
4.
Kepercayaan
Apakah
terdapat keyakinan tertentu mengenai penyakit?
5.
Tokoh masyarakat
Siapa yang
dipercaya?
6. Media yang digunakan
Misalnya:
- WhatsApp;
- pengajian;
- posyandu;
- pertemuan
RT/RW;
- sekolah;
- kelompok
kader.
2.
LITERASI KESEHATAN
A.
Pengertian
Literasi
kesehatan bukan sekadar kemampuan membaca.
Literasi
kesehatan berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk:
mengakses
→ memahami → menilai → menggunakan informasi kesehatan untuk mengambil
keputusan.
B.
Contoh masalah literasi kesehatan
Perhatikan
pesan:
"Hipertensi
merupakan kondisi kronis yang ditandai oleh peningkatan tekanan darah arterial
sistemik dan membutuhkan manajemen farmakoterapi serta modifikasi faktor risiko
kardiovaskular."
Secara
akademik benar.
Tetapi untuk
masyarakat umum, pesan tersebut relatif sulit.
Plain
language:
"Hipertensi
adalah tekanan darah yang terlalu tinggi. Tekanan darah tinggi sering tidak
menimbulkan gejala. Periksa tekanan darah secara rutin dan minum obat sesuai
anjuran tenaga kesehatan."
C.
Tingkatan literasi dalam penyusunan pesan
|
Sasaran |
Strategi |
|
Anak sekolah |
gambar, cerita, kalimat pendek |
|
Remaja |
visual,
bahasa komunikatif, media digital |
|
Dewasa |
informasi praktis dan relevan |
|
Lansia |
huruf
lebih besar, kontras baik, kalimat sederhana |
|
Kader |
informasi
lebih teknis + contoh praktik |
|
Tenaga kesehatan |
terminologi profesional |
Prinsip:
Bahasa
pesan harus mengikuti sasaran, bukan mengikuti kebiasaan penulis.
3. PENGGUNAAN BAHASA SEDERHANA
PLAIN LANGUAGE
A. Apa itu plain language?
Plain language adalah penggunaan
bahasa yang:
- jelas;
- langsung;
- sederhana;
- mudah
dipahami;
- menggunakan
kata yang familiar;
- berorientasi
pada tindakan.
Plain language bukan berarti
informasi dibuat tidak ilmiah.
Informasinya tetap ilmiah, tetapi cara
menyampaikannya dibuat lebih mudah dipahami.
B. Prinsip Plain Language
1. Gunakan kalimat pendek
❌
"Dalam rangka meningkatkan
upaya preventif terhadap kejadian penyakit tidak menular, masyarakat diharapkan
dapat melakukan implementasi perilaku hidup sehat secara konsisten."
✅
"Cegah penyakit tidak menular
dengan hidup sehat setiap hari."
2. Gunakan kata sehari-hari
|
Istilah teknis |
Plain language |
|
hipertensi |
tekanan darah tinggi |
|
hiperglikemia |
gula darah tinggi |
|
dehidrasi |
kekurangan cairan |
|
aktivitas fisik |
bergerak/berolahraga |
|
konsumsi natrium |
makan terlalu banyak garam |
|
farmakoterapi |
pengobatan dengan obat |
|
komplikasi |
masalah/penyakit yang dapat
muncul akibat penyakit sebelumnya |
3.
Utamakan kata kerja aktif
❌
"Pemeriksaan
tekanan darah perlu dilakukan oleh masyarakat."
✅
"Periksa
tekanan darah secara rutin."
4.
Hindari jargon
Jargon hanya
digunakan apabila:
- sasaran
memang membutuhkan;
- istilah
tersebut sudah dipahami;
- istilah
dijelaskan terlebih dahulu.
4. PESAN NON-STIGMATIS
A. Apa itu stigma?
Stigma adalah pelabelan negatif
terhadap seseorang atau kelompok karena kondisi tertentu.
Dalam promosi kesehatan, stigma
dapat muncul melalui:
- pilihan
kata;
- gambar;
- judul;
- cara
menggambarkan kelompok tertentu;
- penyebutan
penyakit;
- cara
menyalahkan individu.
B.
Contoh pesan stigmatis
❌
"Orang
gemuk harus sadar diri dan berhenti makan sembarangan."
Masalah:
- menghakimi;
- menyalahkan
individu;
- berpotensi
mempermalukan;
- tidak mempertimbangkan faktor lingkungan dan sosial.
Perbaikan:
✅
"Berat
badan berlebih dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit. Yuk, mulai dengan pola makan
seimbang dan aktivitas fisik sesuai kemampuan."
C. Contoh lain
❌
"Penderita HIV adalah orang
yang berbahaya."
✅
"Orang yang hidup dengan HIV
dapat menjalani kehidupan produktif dengan pengobatan dan dukungan yang
tepat."
❌
"Jangan jadi orang malas yang
tidak mau berolahraga."
✅
"Mulailah bergerak aktif
sesuai kemampuan. Sedikit aktivitas fisik lebih baik daripada tidak bergerak
sama sekali."
D.
Prinsip komunikasi non-stigmatis
Pesan harus:
Menghormati
→ Tidak menghakimi → Tidak menyalahkan → Tidak mempermalukan → Memberi solusi →
Memberdayakan
5.
AKURASI INFORMASI KESEHATAN
Pesan yang
menarik tetapi salah dapat membahayakan masyarakat.
Karena itu,
promotor kesehatan mempunyai tanggung jawab memastikan bahwa informasi:
- benar
secara ilmiah;
- relevan;
- mutakhir;
- tidak
menyesatkan;
- memiliki
sumber yang jelas.
A. Sumber informasi yang dapat
digunakan
Prioritaskan:
- Kementerian
Kesehatan;
- WHO;
- CDC;
- organisasi
profesi;
- pedoman
klinis;
- jurnal
ilmiah;
- buku
akademik;
- institusi
penelitian yang kredibel.
B.
Prinsip verifikasi informasi
Sebelum
membuat poster/leaflet/infografis, mahasiswa dapat menggunakan:
5T
T1 –
Tepat sumber
Siapa yang menerbitkan?
T2 –
Tepat fakta
Apakah informasinya benar?
T3 –
Tepat waktu
Apakah informasi masih relevan?
T4 – Tepat sasaran
Apakah sesuai dengan masyarakat?
T5 – Tepat tindakan
Apakah rekomendasi yang diberikan jelas dan aman?
C. Contoh informasi yang perlu
diverifikasi
❌
"Minum air lemon setiap pagi
dapat menyembuhkan hipertensi."
Masalah:
- klaim
terlalu kuat;
- tidak
memberikan sumber;
- dapat
menyebabkan masyarakat mengabaikan pengobatan.
Perbaikan:
"Pola
makan sehat dapat membantu menjaga tekanan darah. Jika Anda memiliki tekanan
darah tinggi, ikuti anjuran tenaga kesehatan dan minum obat sesuai resep."
6. NILAI LOKAL DALAM PESAN
KESEHATAN
Pesan kesehatan akan lebih mudah
diterima apabila dikaitkan dengan:
- kehidupan
sehari-hari;
- kebiasaan
masyarakat;
- makanan
lokal;
- bahasa
lokal;
- tokoh
lokal;
- kegiatan
masyarakat;
- lingkungan
masyarakat.
Contoh
Pesan umum:
"Lakukan aktivitas fisik
minimal 30 menit setiap hari."
Dapat dikontekstualisasikan:
"Mari tetap aktif dengan
berjalan kaki ke warung, membersihkan halaman, berkebun, atau mengikuti senam
bersama warga."
Pesan menjadi lebih dekat dengan
kehidupan masyarakat.
E.
MODEL PENYUSUNAN PESAN KESEHATAN
Mahasiswa
dapat menggunakan model:
6A – PESAN KESEHATAN
1. Audience
Siapa sasaran?
2. Accuracy
Apakah informasinya akurat?
3. Accessibility
Apakah mudah dipahami dan diakses?
4. Appropriateness
Apakah sesuai budaya dan konteks?
5. Acceptance
Apakah dapat diterima sasaran?
6. Action
Apa tindakan yang diharapkan?
F.
FORMULA PESAN KESEHATAN
Untuk pesan
praktis, mahasiswa dapat menggunakan:
MASALAH
→ RISIKO → SOLUSI → AJAKAN
Contoh:
Masalah:
Tekanan darah
tinggi sering tidak terasa.
Risiko:
Jika tidak
dikendalikan, tekanan darah tinggi dapat meningkatkan risiko penyakit serius.
Solusi:
Periksa
tekanan darah secara rutin dan terapkan pola hidup sehat.
Ajakan:
Yuk,
cek tekanan darah dan mulai hidup lebih sehat hari ini!
G. CONTOH ANALISIS PESAN
Pesan awal:
"STOP MAKAN GARAM! Garam
adalah penyebab utama hipertensi. Orang yang masih makan asin berarti tidak
peduli dengan kesehatannya. Kurangi makanan tradisional yang asin!"
Analisis
|
Aspek |
Masalah |
|
Budaya |
Menyudutkan makanan tradisional |
|
Literasi |
Tidak
menjelaskan tindakan secara spesifik |
|
Plain language |
Relatif
sederhana tetapi terlalu simplistik |
|
Stigma |
"Tidak peduli
kesehatan" bersifat menghakimi |
|
Akurasi |
Klaim "penyebab utama"
perlu dikaji |
|
Nilai lokal |
Tidak
menghargai makanan/kebiasaan lokal |
Revisi
"Kurangi garam untuk menjaga
tekanan darah. Tetap nikmati makanan khas keluarga dengan membatasi penggunaan
garam, makanan instan, dan makanan tinggi natrium. Yuk, biasakan memilih
makanan lebih sehat setiap hari."
Mengapa lebih baik?
✔ sederhana
✔
tidak menyalahkan
✔
tidak menyerang budaya
✔
memberikan tindakan
✔
relevan dengan kehidupan sehari-hari
✔
lebih memberdayakan
H. STUDI KASUS 1
"Poster Hipertensi di Kampung
Sukamaju"
Mahasiswa Promosi Kesehatan
melakukan kegiatan di sebuah desa.
Hasil pengkajian menunjukkan:
- sebagian
masyarakat berusia >40 tahun;
- masyarakat terbiasa mengonsumsi makanan asin;
- masyarakat
sering menggunakan WhatsApp;
- kader aktif dalam kegiatan Posyandu;
- sebagian warga menganggap tekanan darah tinggi hanya
perlu diperiksa jika pusing;
- terdapat anggota keluarga yang menggunakan obat
hipertensi;
- masyarakat
menyukai makanan tradisional.
Mahasiswa membuat poster:
AWAS HIPERTENSI!
"Jangan makan asin! Garam
menyebabkan hipertensi. Orang yang suka makan asin berarti tidak peduli
terhadap kesehatan. Penderita hipertensi harus menghindari semua makanan
tradisional. Periksa tekanan darah hanya jika Anda merasa pusing."
Tugas mahasiswa
Analisis poster berdasarkan enam
aspek:
- komunikasi
lintas budaya;
- literasi
kesehatan;
- plain
language;
- non-stigmatis;
- akurasi
informasi;
- nilai
lokal.
Kemudian:
a. Identifikasi minimal 6 masalah
pesan.
b. Perbaiki pesan tersebut.
c. Buat headline baru.
d. Tentukan call to action.
e. Tentukan media yang paling sesuai.
I. STUDI KASUS 2
"Pesan Kesehatan tentang
Obesitas"
Sebuah Puskesmas membuat poster:
JANGAN MALAS!
"Orang gemuk biasanya malas
berolahraga dan makan terlalu banyak. Kalau ingin kurus, jangan banyak
makan. Kurangi nasi dan olahraga setiap hari. Tubuh gemuk adalah tanda bahwa
Anda tidak menjaga kesehatan."
Poster
tersebut kemudian ditempel di ruang tunggu Puskesmas.
Pertanyaan
- Apakah
pesan tersebut efektif?
- Bagian
mana yang berpotensi menimbulkan stigma?
- Apakah pesan tersebut menyederhanakan penyebab berat
badan berlebih?
- Bagaimana
pesan tersebut dapat memengaruhi sasaran?
- Bagaimana
cara mengubah pesan menjadi lebih empatik?
- Buat
versi baru poster dengan prinsip plain language.
J.
STUDI KASUS 3
"Pesan
Kesehatan di Media Sosial"
Sebuah akun
media sosial mengunggah:
"DETOX
7 HARI! Minum jus tertentu selama 7 hari dapat membersihkan racun dalam tubuh,
menurunkan berat badan, dan mencegah berbagai penyakit. Bagikan informasi ini
kepada keluarga Anda!"
Postingan
tersebut memperoleh banyak respons.
Tugas
Mahasiswa diminta:
- mengidentifikasi
klaim kesehatan;
- menentukan
informasi yang perlu diverifikasi;
- menentukan sumber informasi yang kredibel;
- mengidentifikasi
potensi misinformasi;
- menilai risiko apabila masyarakat mempercayai pesan
tersebut;
- membuat
pesan alternatif yang lebih akurat.
K.
STUDI KASUS 4
KOMUNIKASI
LINTAS BUDAYA
Mahasiswa
melakukan edukasi kesehatan pada masyarakat yang berasal dari berbagai daerah.
Sebagian
masyarakat lebih nyaman menggunakan bahasa daerah ketika berdiskusi mengenai:
- makanan;
- keluarga;
- kehamilan;
- pengobatan;
- penyakit;
- kebiasaan
sehari-hari.
Mahasiswa membuat leaflet dengan
istilah medis yang cukup banyak.
Tugas
Buat strategi
komunikasi dengan mempertimbangkan:
- bahasa;
- tingkat
pendidikan;
- budaya;
- tokoh
yang dipercaya;
- kebiasaan
masyarakat;
- media;
- contoh
lokal.
Kemudian buat 1 contoh pesan
kesehatan yang sesuai.
L. PRAKTIKUM KELAS
"BEDAH PESAN KESEHATAN"
Mahasiswa dibagi menjadi kelompok.
Setiap kelompok memperoleh satu
contoh poster/leaflet/media sosial.
Tahap 1 – Identifikasi sasaran
Tuliskan:
- usia;
- jenis
kelamin;
- pendidikan;
- budaya;
- bahasa;
- kebutuhan
kesehatan;
- media
yang digunakan.
Tahap 2 – Audit pesan
Gunakan tabel:
|
Komponen |
Pertanyaan |
Skor 1–4 |
|
Budaya |
Sesuai budaya sasaran? |
|
|
Literasi |
Mudah dipahami? |
|
|
Plain language |
Bahasa sederhana? |
|
|
Non-stigma |
Tidak menghakimi? |
|
|
Akurasi |
Informasi benar? |
|
|
Lokal |
Relevan dengan kehidupan sasaran? |
|
|
Action |
Ada tindakan yang jelas? |
Interpretasi
22–28: sangat baik
16–21: baik tetapi perlu perbaikan
10–15: perlu revisi substansial
≤9: pesan perlu dibuat ulang
M. TUGAS KELOMPOK
"RE-DESIGN PESAN PROMOSI
KESEHATAN"
Instruksi
Setiap kelompok memilih satu isu:
- hipertensi;
- diabetes;
- PHBS;
- kesehatan
otak;
- stunting;
- anemia
remaja;
- kesehatan
mental;
- aktivitas
fisik;
- berhenti
merokok;
- kesehatan
lingkungan.
Produk
Kelompok membuat:
1 poster kesehatan
atau
1 infografis
atau
1 leaflet digital
atau
1 pesan WhatsApp edukatif.
N.
FORMAT PRODUK
Produk wajib
memuat:
1.
Sasaran
Siapa penerima
pesan?
2.
Masalah kesehatan
Apa masalah
yang ingin diatasi?
3.
Tujuan pesan
Apa yang
diharapkan setelah sasaran membaca pesan?
4.
Pesan utama
Satu pesan
inti.
5. Informasi pendukung
Maksimal 3–5 informasi penting.
6. Call to Action
Apa yang harus
dilakukan sasaran?
7.
Sumber
Cantumkan
sumber informasi.
8.
Nilai lokal
Jelaskan
bagaimana unsur lokal digunakan.
O. CONTOH PRODUK AKHIR
Sasaran
Masyarakat usia ≥40 tahun.
Masalah
Risiko
hipertensi.
Headline
"KENALI
TEKANAN DARAHMU, JAGA KESEHATANMU!"
Isi
Tekanan darah
tinggi sering tidak menimbulkan gejala.
Lakukan
3 langkah sederhana:
✓
Periksa tekanan darah secara rutin.
✓
Kurangi makanan tinggi garam.
✓ Tetap
aktif bergerak setiap hari.
Tetap nikmati
makanan keluarga dengan porsi dan penggunaan garam yang lebih sehat.
Yuk,
cek tekanan darah hari ini!
Prinsip
yang diterapkan
Lintas
budaya: menghargai makanan keluarga.
Literasi: menggunakan informasi sederhana.
Plain language: menghindari jargon.
Non-stigma: tidak menyalahkan masyarakat.
Akurasi: tidak membuat klaim berlebihan.
Nilai lokal: menggunakan konteks makanan
keluarga.
P.
CHECKLIST SEBELUM PESAN DIPUBLIKASIKAN
Mahasiswa harus melakukan "7C
Check":
|
No. |
Pertanyaan |
Ya/Tidak |
|
1 |
Apakah sasaran sudah jelas? |
|
|
2 |
Apakah informasi akurat? |
|
|
3 |
Apakah sumber dapat dipercaya? |
|
|
4 |
Apakah bahasanya sederhana? |
|
|
5 |
Apakah tidak mengandung stigma? |
|
|
6 |
Apakah
sesuai budaya dan nilai lokal? |
|
|
7 |
Apakah tindakan yang diharapkan
jelas? |
Pesan
belum boleh dipublikasikan apabila terdapat masalah serius pada akurasi atau
potensi stigma.
Q. KONSEP KUNCI YANG HARUS DIINGAT
MAHASISWA
Pesan kesehatan yang baik bukan
pesan yang paling banyak informasinya.
Tetapi pesan yang:
BENAR → MUDAH DIPAHAMI → RELEVAN →
MENGHARGAI → MEMBERDAYAKAN → MENDORONG TINDAKAN
Formula
sederhana:
SASARAN
+ MASALAH + BAHASA SEDERHANA + BUDAYA + INFORMASI AKURAT + SOLUSI + AJAKAN
R. PERTANYAAN DISKUSI KELAS
- Mengapa
informasi yang benar belum tentu menjadi pesan kesehatan yang efektif?
- Apakah
penggunaan bahasa daerah selalu membuat pesan lebih efektif?
- Apa
perbedaan antara bahasa sederhana dan bahasa yang terlalu disederhanakan?
- Mengapa stigma dapat menghambat perilaku pencarian
pelayanan kesehatan?
- Bagaimana budaya dapat memengaruhi penerimaan pesan
kesehatan?
- Bagaimana cara mengintegrasikan nilai lokal tanpa
memperkuat praktik yang berisiko terhadap kesehatan?
- Siapa yang bertanggung jawab terhadap akurasi
informasi kesehatan di media sosial?
- Apakah pesan kesehatan boleh menggunakan humor? Apa batasannya?
- Bagaimana
AI dapat membantu dan sekaligus berisiko dalam membuat pesan kesehatan?
- Bagaimana
seorang promotor kesehatan memastikan pesan yang dibuat benar-benar
dipahami masyarakat?
S.
SOAL EVALUASI
Pilihan
Ganda
1.
Tujuan utama plain language adalah...
A.
Menghilangkan seluruh istilah ilmiah
B. Membuat informasi menjadi sangat singkat
C. Membuat informasi mudah dipahami oleh sasaran
D. Menggunakan bahasa informal
E. Mengurangi jumlah informasi
Jawaban: C
2. Kalimat yang paling
non-stigmatis adalah...
A. "Orang gemuk biasanya
malas."
B. "Penderita diabetes tidak menjaga pola makan."
C. "Perokok adalah orang yang tidak peduli kesehatan."
D. "Mari mulai perubahan sehat sesuai kemampuan Anda."
E. "Orang malas olahraga mudah sakit."
Jawaban: D
3.
Berikut merupakan prinsip komunikasi lintas budaya, kecuali...
A. Menghargai
nilai masyarakat
B. Memahami kebiasaan lokal
C. Menggunakan contoh yang relevan
D. Menganggap semua masyarakat memiliki budaya yang sama
E. Memahami bahasa sasaran
Jawaban: D
4. Sebelum menyebarkan informasi
kesehatan di media sosial, promotor kesehatan sebaiknya...
A. Memastikan informasi menarik
B. Memastikan banyak orang membagikannya
C. Memverifikasi sumber dan akurasi informasi
D. Menggunakan judul yang sensasional
E. Menggunakan istilah medis
Jawaban: C
T. RUBRIK PENILAIAN TUGAS
|
Komponen |
Bobot |
|
Analisis sasaran |
10% |
|
Akurasi informasi |
20% |
|
Plain language |
15% |
|
Komunikasi lintas budaya |
15% |
|
Non-stigmatis |
15% |
|
Nilai lokal |
10% |
|
Kreativitas media |
10% |
|
Call to action |
5% |
|
Total |
100% |
Kriteria utama
Sangat
baik: pesan akurat, sederhana, relevan, sensitif budaya,
non-stigmatis dan mendorong tindakan.
Baik:
sebagian besar prinsip telah diterapkan tetapi masih terdapat beberapa
kelemahan.
Cukup: pesan informatif tetapi belum
mempertimbangkan sasaran secara memadai.
Kurang: pesan sulit dipahami, berpotensi
menimbulkan stigma, tidak relevan budaya, atau memiliki masalah akurasi.
KESIMPULAN
Mahasiswa perlu memahami bahwa membuat
pesan kesehatan bukan sekadar memindahkan informasi dari buku atau jurnal ke
poster.
Promotor kesehatan harus melakukan
proses:
IDENTIFIKASI
SASARAN
↓
PAHAMI BUDAYA & KONTEKS
↓
VERIFIKASI INFORMASI
↓
SEDERHANAKAN BAHASA
↓
HINDARI STIGMA
↓
MASUKKAN NILAI LOKAL
↓
BUAT AJAKAN TINDAKAN
↓
UJI PESAN PADA SASARAN
↓
REVISI & PUBLIKASIKAN
Ingat!!
Kompetensi mahasiswa
Sarjana Terapan Promosi Kesehatan tidak berhenti pada "mampu membuat
poster", tetapi berkembang menjadi mampu merancang pesan kesehatan
yang ilmiah, komunikatif, etis, inklusif, sensitif budaya, dan dapat digunakan
masyarakat untuk mengambil keputusan kesehatan yang tepat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar