Senin, 14 September 2026

PESAN PROMOSI KESEHATAN TERTULIS Komunikasi Lintas Budaya, Literasi Kesehatan, Plain Language, Pesan Non-Stigmatis, Akurasi Informasi, dan Nilai Lokal

 

MATERI KULIAH

PESAN PROMOSI KESEHATAN TERTULIS

Komunikasi Lintas Budaya, Literasi Kesehatan, Plain Language, 

Pesan Non-Stigmatis, Akurasi Informasi, dan Nilai Lokal

Dr. Safrudin, SKM, M.Kes.

Program Studi: Sarjana Terapan Promosi Kesehatan
Bentuk pembelajaran: Kuliah interaktif, studi kasus, diskusi kelompok, praktik analisis pesan
Sasaran: Mahasiswa Sarjana Terapan Promosi Kesehatan

 

A. DESKRIPSI MATERI

Pesan promosi kesehatan tertulis merupakan salah satu instrumen penting dalam komunikasi kesehatan. Pesan dapat disampaikan melalui poster, leaflet, brosur, infografis, media sosial, WhatsApp, booklet, spanduk, modul, website, dan media digital lainnya.

Namun, pesan yang secara ilmiah benar belum tentu efektif apabila:

  1. menggunakan bahasa yang terlalu teknis;
  2. tidak sesuai dengan tingkat literasi sasaran;
  3. mengabaikan budaya masyarakat;
  4. menggunakan istilah yang menimbulkan stigma;
  5. mengandung informasi yang tidak akurat;
  6. menggunakan contoh yang tidak sesuai dengan kehidupan masyarakat;
  7. atau tidak mempertimbangkan nilai dan kebiasaan lokal.

Oleh karena itu, seorang Promotor Kesehatan harus mampu mengubah informasi kesehatan yang kompleks menjadi pesan yang benar, mudah dipahami, relevan, inklusif, tidak menghakimi, dan sesuai konteks budaya masyarakat.

 

B. CAPAIAN PEMBELAJARAN

Setelah mengikuti pembelajaran, mahasiswa mampu:

  1. Menjelaskan prinsip komunikasi lintas budaya dalam penyusunan pesan kesehatan tertulis.
  2. Menganalisis tingkat literasi kesehatan sasaran dalam menerima pesan tertulis.
  3. Menerapkan plain language dalam menyederhanakan informasi kesehatan.
  4. Mengidentifikasi dan memperbaiki pesan yang berpotensi menimbulkan stigma.
  5. Memverifikasi akurasi informasi kesehatan sebelum pesan dipublikasikan.
  6. Mengintegrasikan nilai, bahasa, kebiasaan, dan konteks lokal ke dalam pesan kesehatan.
  7. Merancang pesan promosi kesehatan tertulis yang efektif, akurat, sederhana, non-stigmatis, dan sensitif budaya.

 

C. KONSEP DASAR PESAN PROMOSI KESEHATAN TERTULIS

Pesan promosi kesehatan adalah informasi yang dirancang secara sengaja untuk meningkatkan pengetahuan, membentuk sikap, mendukung pengambilan keputusan, dan mendorong perilaku kesehatan yang positif.

Pesan kesehatan yang baik tidak hanya menjawab:

"Apa yang ingin kita sampaikan?"

tetapi juga:

"Apa yang perlu dipahami dan dilakukan oleh sasaran?"

Rumus sederhana

Informasi kesehatan → Pesan → Pemahaman → Sikap → Tindakan → Perubahan perilaku

Namun proses tersebut dipengaruhi oleh:

Budaya + Literasi + Bahasa + Kepercayaan + Nilai lokal + Akses informasi + Kondisi sosial

 

D. ENAM PILAR PESAN KESEHATAN TERTULIS

Materi ini menggunakan enam pilar utama:

Pilar

Pertanyaan utama

1. Komunikasi lintas budaya

Apakah pesan sesuai dengan budaya sasaran?

2. Literasi kesehatan

Apakah sasaran mampu menemukan, memahami, menilai, dan menggunakan informasi?

3. Plain language

Apakah pesan mudah dipahami?

4. Non-stigmatis

Apakah pesan menghormati martabat sasaran?

5. Akurasi informasi

Apakah informasi benar dan memiliki sumber yang dapat dipercaya?

6. Nilai lokal

Apakah pesan relevan dengan kehidupan dan konteks masyarakat?

 

1. KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA

A. Pengertian

Komunikasi lintas budaya adalah proses pertukaran pesan antara individu atau kelompok yang memiliki latar belakang budaya, bahasa, nilai, norma, kepercayaan, dan kebiasaan yang berbeda.

Dalam promosi kesehatan, seorang promotor kesehatan dapat berhadapan dengan masyarakat yang berbeda:

  1. bahasa;
  2. suku;
  3. agama;
  4. kebiasaan makan;
  5. pola pengasuhan;
  6. kepercayaan kesehatan;
  7. tingkat pendidikan;
  8. pengalaman kesehatan;
  9. kondisi sosial ekonomi.

Prinsip penting

Jangan menganggap semua sasaran memiliki cara berpikir dan pengalaman yang sama.

 

B. Mengapa budaya penting?

Contoh:

Pesan:

"Kurangi konsumsi makanan tradisional karena tidak sehat."

Secara kesehatan mungkin ada alasan tertentu untuk membatasi makanan dengan kandungan gula, garam, atau lemak tinggi.

Tetapi pesan tersebut dapat dianggap:

  1. merendahkan budaya;
  2. menyerang identitas masyarakat;
  3. tidak menghargai kebiasaan keluarga;
  4. sulit diterima.

Perbaikan

"Tetap nikmati makanan khas keluarga. Pilih porsi secukupnya dan kurangi penggunaan garam, gula, dan minyak agar lebih sehat."

Pesan kedua tidak menyerang budaya, tetapi mengajak masyarakat melakukan modifikasi perilaku.

 

C. Dimensi budaya yang perlu diperhatikan

Mahasiswa perlu menganalisis:

1. Bahasa

Apakah masyarakat menggunakan bahasa Indonesia, bahasa daerah, atau kombinasi?

2. Nilai keluarga

Siapa yang biasanya mengambil keputusan kesehatan?

3. Kebiasaan

Bagaimana masyarakat makan, bekerja, berinteraksi, dan mencari pertolongan kesehatan?

4. Kepercayaan

Apakah terdapat keyakinan tertentu mengenai penyakit?

5. Tokoh masyarakat

Siapa yang dipercaya?

6. Media yang digunakan

Misalnya:

  1. WhatsApp;
  2. pengajian;
  3. posyandu;
  4. pertemuan RT/RW;
  5. sekolah;
  6. kelompok kader.

 

2. LITERASI KESEHATAN

A. Pengertian

Literasi kesehatan bukan sekadar kemampuan membaca.

Literasi kesehatan berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk:

mengakses → memahami → menilai → menggunakan informasi kesehatan untuk mengambil keputusan.

 

B. Contoh masalah literasi kesehatan

Perhatikan pesan:

"Hipertensi merupakan kondisi kronis yang ditandai oleh peningkatan tekanan darah arterial sistemik dan membutuhkan manajemen farmakoterapi serta modifikasi faktor risiko kardiovaskular."

Secara akademik benar.

Tetapi untuk masyarakat umum, pesan tersebut relatif sulit.

Plain language:

"Hipertensi adalah tekanan darah yang terlalu tinggi. Tekanan darah tinggi sering tidak menimbulkan gejala. Periksa tekanan darah secara rutin dan minum obat sesuai anjuran tenaga kesehatan."

 

C. Tingkatan literasi dalam penyusunan pesan

Sasaran

Strategi

Anak sekolah

gambar, cerita, kalimat pendek

Remaja

visual, bahasa komunikatif, media digital

Dewasa

informasi praktis dan relevan

Lansia

huruf lebih besar, kontras baik, kalimat sederhana

Kader

informasi lebih teknis + contoh praktik

Tenaga kesehatan

terminologi profesional

Prinsip:

Bahasa pesan harus mengikuti sasaran, bukan mengikuti kebiasaan penulis.

 

3. PENGGUNAAN BAHASA SEDERHANA

PLAIN LANGUAGE

A. Apa itu plain language?

Plain language adalah penggunaan bahasa yang:

  1. jelas;
  2. langsung;
  3. sederhana;
  4. mudah dipahami;
  5. menggunakan kata yang familiar;
  6. berorientasi pada tindakan.

Plain language bukan berarti informasi dibuat tidak ilmiah.

Informasinya tetap ilmiah, tetapi cara menyampaikannya dibuat lebih mudah dipahami.

 

B. Prinsip Plain Language

1. Gunakan kalimat pendek

"Dalam rangka meningkatkan upaya preventif terhadap kejadian penyakit tidak menular, masyarakat diharapkan dapat melakukan implementasi perilaku hidup sehat secara konsisten."

"Cegah penyakit tidak menular dengan hidup sehat setiap hari."

 

2. Gunakan kata sehari-hari

Istilah teknis

Plain language

hipertensi

tekanan darah tinggi

hiperglikemia

gula darah tinggi

dehidrasi

kekurangan cairan

aktivitas fisik

bergerak/berolahraga

konsumsi natrium

makan terlalu banyak garam

farmakoterapi

pengobatan dengan obat

komplikasi

masalah/penyakit yang dapat muncul akibat penyakit sebelumnya

 

3. Utamakan kata kerja aktif

"Pemeriksaan tekanan darah perlu dilakukan oleh masyarakat."

"Periksa tekanan darah secara rutin."

 

4. Hindari jargon

Jargon hanya digunakan apabila:

  1. sasaran memang membutuhkan;
  2. istilah tersebut sudah dipahami;
  3. istilah dijelaskan terlebih dahulu.

 

4. PESAN NON-STIGMATIS

A. Apa itu stigma?

Stigma adalah pelabelan negatif terhadap seseorang atau kelompok karena kondisi tertentu.

Dalam promosi kesehatan, stigma dapat muncul melalui:

  1. pilihan kata;
  2. gambar;
  3. judul;
  4. cara menggambarkan kelompok tertentu;
  5. penyebutan penyakit;
  6. cara menyalahkan individu.

 

B. Contoh pesan stigmatis

"Orang gemuk harus sadar diri dan berhenti makan sembarangan."

Masalah:

  1. menghakimi;
  2. menyalahkan individu;
  3. berpotensi mempermalukan;
  4. tidak mempertimbangkan faktor lingkungan dan sosial.

Perbaikan:

"Berat badan berlebih dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit. Yuk, mulai dengan pola makan seimbang dan aktivitas fisik sesuai kemampuan."

 

C. Contoh lain

"Penderita HIV adalah orang yang berbahaya."

"Orang yang hidup dengan HIV dapat menjalani kehidupan produktif dengan pengobatan dan dukungan yang tepat."

 

"Jangan jadi orang malas yang tidak mau berolahraga."

"Mulailah bergerak aktif sesuai kemampuan. Sedikit aktivitas fisik lebih baik daripada tidak bergerak sama sekali."

 

D. Prinsip komunikasi non-stigmatis

Pesan harus:

Menghormati → Tidak menghakimi → Tidak menyalahkan → Tidak mempermalukan → Memberi solusi → Memberdayakan

 

5. AKURASI INFORMASI KESEHATAN

Pesan yang menarik tetapi salah dapat membahayakan masyarakat.

Karena itu, promotor kesehatan mempunyai tanggung jawab memastikan bahwa informasi:

  1. benar secara ilmiah;
  2. relevan;
  3. mutakhir;
  4. tidak menyesatkan;
  5. memiliki sumber yang jelas.

 

A. Sumber informasi yang dapat digunakan

Prioritaskan:

  1. Kementerian Kesehatan;
  2. WHO;
  3. CDC;
  4. organisasi profesi;
  5. pedoman klinis;
  6. jurnal ilmiah;
  7. buku akademik;
  8. institusi penelitian yang kredibel.

 

B. Prinsip verifikasi informasi

Sebelum membuat poster/leaflet/infografis, mahasiswa dapat menggunakan:

5T

T1 – Tepat sumber
Siapa yang menerbitkan?

T2 – Tepat fakta
Apakah informasinya benar?

T3 – Tepat waktu
Apakah informasi masih relevan?

T4 – Tepat sasaran
Apakah sesuai dengan masyarakat?

T5 – Tepat tindakan
Apakah rekomendasi yang diberikan jelas dan aman?

 

C. Contoh informasi yang perlu diverifikasi

"Minum air lemon setiap pagi dapat menyembuhkan hipertensi."

Masalah:

  1. klaim terlalu kuat;
  2. tidak memberikan sumber;
  3. dapat menyebabkan masyarakat mengabaikan pengobatan.

Perbaikan:

"Pola makan sehat dapat membantu menjaga tekanan darah. Jika Anda memiliki tekanan darah tinggi, ikuti anjuran tenaga kesehatan dan minum obat sesuai resep."

 

6. NILAI LOKAL DALAM PESAN KESEHATAN

Pesan kesehatan akan lebih mudah diterima apabila dikaitkan dengan:

  1. kehidupan sehari-hari;
  2. kebiasaan masyarakat;
  3. makanan lokal;
  4. bahasa lokal;
  5. tokoh lokal;
  6. kegiatan masyarakat;
  7. lingkungan masyarakat.

 

Contoh

Pesan umum:

"Lakukan aktivitas fisik minimal 30 menit setiap hari."

Dapat dikontekstualisasikan:

"Mari tetap aktif dengan berjalan kaki ke warung, membersihkan halaman, berkebun, atau mengikuti senam bersama warga."

Pesan menjadi lebih dekat dengan kehidupan masyarakat.

 

E. MODEL PENYUSUNAN PESAN KESEHATAN

Mahasiswa dapat menggunakan model:

6A – PESAN KESEHATAN

1. Audience

Siapa sasaran?

2. Accuracy

Apakah informasinya akurat?

3. Accessibility

Apakah mudah dipahami dan diakses?

4. Appropriateness

Apakah sesuai budaya dan konteks?

5. Acceptance

Apakah dapat diterima sasaran?

6. Action

Apa tindakan yang diharapkan?

 

F. FORMULA PESAN KESEHATAN

Untuk pesan praktis, mahasiswa dapat menggunakan:

MASALAH → RISIKO → SOLUSI → AJAKAN

Contoh:

Masalah:

Tekanan darah tinggi sering tidak terasa.

Risiko:

Jika tidak dikendalikan, tekanan darah tinggi dapat meningkatkan risiko penyakit serius.

Solusi:

Periksa tekanan darah secara rutin dan terapkan pola hidup sehat.

Ajakan:

Yuk, cek tekanan darah dan mulai hidup lebih sehat hari ini!

 

G. CONTOH ANALISIS PESAN

Pesan awal:

"STOP MAKAN GARAM! Garam adalah penyebab utama hipertensi. Orang yang masih makan asin berarti tidak peduli dengan kesehatannya. Kurangi makanan tradisional yang asin!"

Analisis

Aspek

Masalah

Budaya

Menyudutkan makanan tradisional

Literasi

Tidak menjelaskan tindakan secara spesifik

Plain language

Relatif sederhana tetapi terlalu simplistik

Stigma

"Tidak peduli kesehatan" bersifat menghakimi

Akurasi

Klaim "penyebab utama" perlu dikaji

Nilai lokal

Tidak menghargai makanan/kebiasaan lokal

 

Revisi

"Kurangi garam untuk menjaga tekanan darah. Tetap nikmati makanan khas keluarga dengan membatasi penggunaan garam, makanan instan, dan makanan tinggi natrium. Yuk, biasakan memilih makanan lebih sehat setiap hari."

Mengapa lebih baik?

sederhana
tidak menyalahkan
tidak menyerang budaya
memberikan tindakan
relevan dengan kehidupan sehari-hari
lebih memberdayakan

 

H. STUDI KASUS 1

"Poster Hipertensi di Kampung Sukamaju"

Mahasiswa Promosi Kesehatan melakukan kegiatan di sebuah desa.

Hasil pengkajian menunjukkan:

  1. sebagian masyarakat berusia >40 tahun;
  2. masyarakat terbiasa mengonsumsi makanan asin;
  3. masyarakat sering menggunakan WhatsApp;
  4. kader aktif dalam kegiatan Posyandu;
  5. sebagian warga menganggap tekanan darah tinggi hanya perlu diperiksa jika pusing;
  6. terdapat anggota keluarga yang menggunakan obat hipertensi;
  7. masyarakat menyukai makanan tradisional.

Mahasiswa membuat poster:

AWAS HIPERTENSI!

"Jangan makan asin! Garam menyebabkan hipertensi. Orang yang suka makan asin berarti tidak peduli terhadap kesehatan. Penderita hipertensi harus menghindari semua makanan tradisional. Periksa tekanan darah hanya jika Anda merasa pusing."

Tugas mahasiswa

Analisis poster berdasarkan enam aspek:

  1. komunikasi lintas budaya;
  2. literasi kesehatan;
  3. plain language;
  4. non-stigmatis;
  5. akurasi informasi;
  6. nilai lokal.

Kemudian:

a. Identifikasi minimal 6 masalah pesan.
b. Perbaiki pesan tersebut.
c. Buat headline baru.
d. Tentukan call to action.
e. Tentukan media yang paling sesuai.

 

I. STUDI KASUS 2

"Pesan Kesehatan tentang Obesitas"

Sebuah Puskesmas membuat poster:

JANGAN MALAS!

"Orang gemuk biasanya malas berolahraga dan makan terlalu banyak. Kalau ingin kurus, jangan banyak makan. Kurangi nasi dan olahraga setiap hari. Tubuh gemuk adalah tanda bahwa Anda tidak menjaga kesehatan."

Poster tersebut kemudian ditempel di ruang tunggu Puskesmas.

Pertanyaan

  1. Apakah pesan tersebut efektif?
  2. Bagian mana yang berpotensi menimbulkan stigma?
  3. Apakah pesan tersebut menyederhanakan penyebab berat badan berlebih?
  4. Bagaimana pesan tersebut dapat memengaruhi sasaran?
  5. Bagaimana cara mengubah pesan menjadi lebih empatik?
  6. Buat versi baru poster dengan prinsip plain language.

 

 

J. STUDI KASUS 3

"Pesan Kesehatan di Media Sosial"

Sebuah akun media sosial mengunggah:

"DETOX 7 HARI! Minum jus tertentu selama 7 hari dapat membersihkan racun dalam tubuh, menurunkan berat badan, dan mencegah berbagai penyakit. Bagikan informasi ini kepada keluarga Anda!"

Postingan tersebut memperoleh banyak respons.

Tugas

Mahasiswa diminta:

  1. mengidentifikasi klaim kesehatan;
  2. menentukan informasi yang perlu diverifikasi;
  3. menentukan sumber informasi yang kredibel;
  4. mengidentifikasi potensi misinformasi;
  5. menilai risiko apabila masyarakat mempercayai pesan tersebut;
  6. membuat pesan alternatif yang lebih akurat.

 

K. STUDI KASUS 4

KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA

Mahasiswa melakukan edukasi kesehatan pada masyarakat yang berasal dari berbagai daerah.

Sebagian masyarakat lebih nyaman menggunakan bahasa daerah ketika berdiskusi mengenai:

  1. makanan;
  2. keluarga;
  3. kehamilan;
  4. pengobatan;
  5. penyakit;
  6. kebiasaan sehari-hari.

Mahasiswa membuat leaflet dengan istilah medis yang cukup banyak.

Tugas

Buat strategi komunikasi dengan mempertimbangkan:

  1. bahasa;
  2. tingkat pendidikan;
  3. budaya;
  4. tokoh yang dipercaya;
  5. kebiasaan masyarakat;
  6. media;
  7. contoh lokal.

Kemudian buat 1 contoh pesan kesehatan yang sesuai.

 

L. PRAKTIKUM KELAS

"BEDAH PESAN KESEHATAN"

Mahasiswa dibagi menjadi kelompok.

Setiap kelompok memperoleh satu contoh poster/leaflet/media sosial.

Tahap 1 – Identifikasi sasaran

Tuliskan:

  1. usia;
  2. jenis kelamin;
  3. pendidikan;
  4. budaya;
  5. bahasa;
  6. kebutuhan kesehatan;
  7. media yang digunakan.

Tahap 2 – Audit pesan

Gunakan tabel:

Komponen

Pertanyaan

Skor 1–4

Budaya

Sesuai budaya sasaran?

Literasi

Mudah dipahami?

Plain language

Bahasa sederhana?

Non-stigma

Tidak menghakimi?

Akurasi

Informasi benar?

Lokal

Relevan dengan kehidupan sasaran?

Action

Ada tindakan yang jelas?

Interpretasi

22–28: sangat baik
16–21: baik tetapi perlu perbaikan
10–15: perlu revisi substansial
≤9: pesan perlu dibuat ulang

 

M. TUGAS KELOMPOK

"RE-DESIGN PESAN PROMOSI KESEHATAN"

Instruksi

Setiap kelompok memilih satu isu:

  1. hipertensi;
  2. diabetes;
  3. PHBS;
  4. kesehatan otak;
  5. stunting;
  6. anemia remaja;
  7. kesehatan mental;
  8. aktivitas fisik;
  9. berhenti merokok;
  10. kesehatan lingkungan.

Produk

Kelompok membuat:

1 poster kesehatan
atau
1 infografis
atau
1 leaflet digital
atau
1 pesan WhatsApp edukatif.

N. FORMAT PRODUK

Produk wajib memuat:

1. Sasaran

Siapa penerima pesan?

2. Masalah kesehatan

Apa masalah yang ingin diatasi?

3. Tujuan pesan

Apa yang diharapkan setelah sasaran membaca pesan?

4. Pesan utama

Satu pesan inti.

5. Informasi pendukung

Maksimal 3–5 informasi penting.

6. Call to Action

Apa yang harus dilakukan sasaran?

7. Sumber

Cantumkan sumber informasi.

8. Nilai lokal

Jelaskan bagaimana unsur lokal digunakan.

 

O. CONTOH PRODUK AKHIR

Sasaran

Masyarakat usia ≥40 tahun.

Masalah

Risiko hipertensi.

Headline

"KENALI TEKANAN DARAHMU, JAGA KESEHATANMU!"

Isi

Tekanan darah tinggi sering tidak menimbulkan gejala.

Lakukan 3 langkah sederhana:
Periksa tekanan darah secara rutin.
Kurangi makanan tinggi garam.
Tetap aktif bergerak setiap hari.

Tetap nikmati makanan keluarga dengan porsi dan penggunaan garam yang lebih sehat.

Yuk, cek tekanan darah hari ini!

Prinsip yang diterapkan

Lintas budaya: menghargai makanan keluarga.
Literasi: menggunakan informasi sederhana.
Plain language: menghindari jargon.
Non-stigma: tidak menyalahkan masyarakat.
Akurasi: tidak membuat klaim berlebihan.
Nilai lokal: menggunakan konteks makanan keluarga.

 

P. CHECKLIST SEBELUM PESAN DIPUBLIKASIKAN

Mahasiswa harus melakukan "7C Check":

No.

Pertanyaan

Ya/Tidak

1

Apakah sasaran sudah jelas?

2

Apakah informasi akurat?

3

Apakah sumber dapat dipercaya?

4

Apakah bahasanya sederhana?

5

Apakah tidak mengandung stigma?

6

Apakah sesuai budaya dan nilai lokal?

7

Apakah tindakan yang diharapkan jelas?

Pesan belum boleh dipublikasikan apabila terdapat masalah serius pada akurasi atau potensi stigma.

 

Q. KONSEP KUNCI YANG HARUS DIINGAT MAHASISWA

Pesan kesehatan yang baik bukan pesan yang paling banyak informasinya.

Tetapi pesan yang:

BENAR → MUDAH DIPAHAMI → RELEVAN → MENGHARGAI → MEMBERDAYAKAN → MENDORONG TINDAKAN

Formula sederhana:

SASARAN + MASALAH + BAHASA SEDERHANA + BUDAYA + INFORMASI AKURAT + SOLUSI + AJAKAN

 

R. PERTANYAAN DISKUSI KELAS

  1. Mengapa informasi yang benar belum tentu menjadi pesan kesehatan yang efektif?
  2. Apakah penggunaan bahasa daerah selalu membuat pesan lebih efektif?
  3. Apa perbedaan antara bahasa sederhana dan bahasa yang terlalu disederhanakan?
  4. Mengapa stigma dapat menghambat perilaku pencarian pelayanan kesehatan?
  5. Bagaimana budaya dapat memengaruhi penerimaan pesan kesehatan?
  6. Bagaimana cara mengintegrasikan nilai lokal tanpa memperkuat praktik yang berisiko terhadap kesehatan?
  7. Siapa yang bertanggung jawab terhadap akurasi informasi kesehatan di media sosial?
  8. Apakah pesan kesehatan boleh menggunakan humor? Apa batasannya?
  9. Bagaimana AI dapat membantu dan sekaligus berisiko dalam membuat pesan kesehatan?
  10. Bagaimana seorang promotor kesehatan memastikan pesan yang dibuat benar-benar dipahami masyarakat?

 

S. SOAL EVALUASI

Pilihan Ganda

1. Tujuan utama plain language adalah...

A. Menghilangkan seluruh istilah ilmiah
B. Membuat informasi menjadi sangat singkat
C. Membuat informasi mudah dipahami oleh sasaran
D. Menggunakan bahasa informal
E. Mengurangi jumlah informasi

Jawaban: C

 

2. Kalimat yang paling non-stigmatis adalah...

A. "Orang gemuk biasanya malas."
B. "Penderita diabetes tidak menjaga pola makan."
C. "Perokok adalah orang yang tidak peduli kesehatan."
D. "Mari mulai perubahan sehat sesuai kemampuan Anda."
E. "Orang malas olahraga mudah sakit."

Jawaban: D

 

3. Berikut merupakan prinsip komunikasi lintas budaya, kecuali...

A. Menghargai nilai masyarakat
B. Memahami kebiasaan lokal
C. Menggunakan contoh yang relevan
D. Menganggap semua masyarakat memiliki budaya yang sama
E. Memahami bahasa sasaran

Jawaban: D

 

4. Sebelum menyebarkan informasi kesehatan di media sosial, promotor kesehatan sebaiknya...

A. Memastikan informasi menarik
B. Memastikan banyak orang membagikannya
C. Memverifikasi sumber dan akurasi informasi
D. Menggunakan judul yang sensasional
E. Menggunakan istilah medis

Jawaban: C

 

T. RUBRIK PENILAIAN TUGAS

Komponen

Bobot

Analisis sasaran

10%

Akurasi informasi

20%

Plain language

15%

Komunikasi lintas budaya

15%

Non-stigmatis

15%

Nilai lokal

10%

Kreativitas media

10%

Call to action

5%

Total

100%

Kriteria utama

Sangat baik: pesan akurat, sederhana, relevan, sensitif budaya, non-stigmatis dan mendorong tindakan.

Baik: sebagian besar prinsip telah diterapkan tetapi masih terdapat beberapa kelemahan.

Cukup: pesan informatif tetapi belum mempertimbangkan sasaran secara memadai.

Kurang: pesan sulit dipahami, berpotensi menimbulkan stigma, tidak relevan budaya, atau memiliki masalah akurasi.

KESIMPULAN

Mahasiswa perlu memahami bahwa membuat pesan kesehatan bukan sekadar memindahkan informasi dari buku atau jurnal ke poster.

Promotor kesehatan harus melakukan proses:

IDENTIFIKASI SASARAN

PAHAMI BUDAYA & KONTEKS

VERIFIKASI INFORMASI

SEDERHANAKAN BAHASA

HINDARI STIGMA

MASUKKAN NILAI LOKAL

BUAT AJAKAN TINDAKAN

UJI PESAN PADA SASARAN

REVISI & PUBLIKASIKAN

 

Ingat!!

Kompetensi mahasiswa Sarjana Terapan Promosi Kesehatan tidak berhenti pada "mampu membuat poster", tetapi berkembang menjadi mampu merancang pesan kesehatan yang ilmiah, komunikatif, etis, inklusif, sensitif budaya, dan dapat digunakan masyarakat untuk mengambil keputusan kesehatan yang tepat.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar