Selasa, 18 Agustus 2026

STUDI KASUS: ANALISIS SITUASI DAN IDENTIFIKASI MASALAH KESEHATAN MASYARAKAT

 

STUDI KASUS

ANALISIS SITUASI DAN IDENTIFIKASI MASALAH KESEHATAN MASYARAKAT

 

Mata Kuliah

Manajemen Promosi Kesehatan / Analisis Situasi Kesehatan Masyarakat

Program Studi

Sarjana Terapan Promosi Kesehatan

Bentuk Penugasan

Case-Based Learning / Project-Based Learning


A. DESKRIPSI KASUS

Desa Sukamaju merupakan salah satu desa yang berada di wilayah kerja Puskesmas Harapan Jaya, Kecamatan Sejahtera, Kabupaten Mandiri. Desa ini berjarak sekitar 8 km dari ibu kota kecamatan dan dapat ditempuh dengan kendaraan roda dua maupun roda empat.

Jumlah penduduk Desa Sukamaju pada tahun 2026 sebanyak 6.842 jiwa, yang terdiri atas 3.401 laki-laki dan 3.441 perempuan. Sebagian besar masyarakat bekerja sebagai pedagang, buruh, pekerja informal, petani, dan karyawan swasta.

Dalam tiga tahun terakhir, petugas Puskesmas mengamati adanya peningkatan kasus penyakit tidak menular, khususnya hipertensi dan diabetes melitus. Di sisi lain, hasil pengamatan kader menunjukkan bahwa aktivitas fisik masyarakat relatif rendah, konsumsi makanan tinggi garam dan gula cukup tinggi, serta kebiasaan merokok masih banyak ditemukan pada laki-laki dewasa.

Puskesmas sebenarnya telah melaksanakan berbagai kegiatan promosi kesehatan, antara lain Posbindu PTM, penyuluhan kesehatan, pemeriksaan tekanan darah, pemeriksaan gula darah, senam bersama, dan edukasi mengenai pola makan sehat.

Namun demikian, partisipasi masyarakat masih rendah.

Kepala Puskesmas kemudian meminta mahasiswa Sarjana Terapan Promosi Kesehatan yang sedang melaksanakan praktik lapangan untuk melakukan:

  1. analisis situasi kesehatan masyarakat;
  2. identifikasi masalah kesehatan;
  3. analisis faktor penyebab;
  4. penentuan prioritas masalah;
  5. identifikasi kelompok sasaran;
  6. merumuskan masalah promosi kesehatan;
  7. menyusun rekomendasi intervensi awal.

Mahasiswa tidak diperbolehkan langsung menentukan program/intervensi sebelum melakukan analisis situasi dan penentuan prioritas masalah.


B. DATA UMUM WILAYAH

1. Data Demografi

Indikator

Data

Jumlah penduduk

6.842 jiwa

Laki-laki

3.401 jiwa

Perempuan

3.441 jiwa

Jumlah KK

1.987 KK

Jumlah RT

42 RT

Jumlah RW

8 RW

Balita

486

Anak usia sekolah

1.021

Remaja 10–19 tahun

1.146

Dewasa 20–59 tahun

3.421

Lansia ≥60 tahun

768

Kepadatan penduduk

1.245 jiwa/km²

2. Karakteristik Pendidikan

Pendidikan terakhir

Persentase

Tidak tamat SD

4,8%

SD/sederajat

27,6%

SMP/sederajat

25,4%

SMA/sederajat

32,1%

Diploma/Sarjana

10,1%

3. Mata Pencaharian

Mata pencaharian

Persentase

Pedagang

25,8%

Buruh/pekerja informal

21,4%

Karyawan swasta

18,2%

Petani

14,5%

Ibu rumah tangga

11,7%

ASN/TNI/Polri

3,4%

Lainnya

5,0%

Hasil wawancara menunjukkan bahwa sebagian besar pedagang dan pekerja informal bekerja antara 9–12 jam per hari.


C. DATA STATUS KESEHATAN

1. Tren Hipertensi

Data Puskesmas menunjukkan:

Tahun

Jumlah penduduk diperiksa

Ditemukan hipertensi

Persentase

2023

1.032

224

21,7%

2024

1.245

302

24,3%

2025

1.487

398

26,8%

2026*

1.126

323

28,7%

*Data Januari–Juni 2026.

Petugas Puskesmas menyampaikan bahwa angka tersebut kemungkinan belum menggambarkan seluruh kondisi masyarakat karena sebagian besar masyarakat tidak melakukan pemeriksaan tekanan darah secara rutin.

Sebagai konteks nasional, SKI 2023 mencatat prevalensi hipertensi berdasarkan pengukuran tekanan darah sebesar 29,2% pada penduduk ≥15 tahun, sedangkan berdasarkan diagnosis dokter hanya sekitar 8%. Kesenjangan tersebut menunjukkan adanya masalah deteksi dan kesadaran status hipertensi di masyarakat.

 

D. DATA DIABETES MELITUS

Tahun

Kasus terdaftar

2023

87

2024

102

2025

129

2026*

143

*Januari–Juni 2026.

Dari wawancara dengan petugas, peningkatan kasus antara lain dikaitkan dengan:

  1. pola makan tinggi gula;
  2. konsumsi minuman manis;
  3. aktivitas fisik rendah;
  4. kelebihan berat badan;
  5. keterlambatan pemeriksaan;
  6. rendahnya kepatuhan kontrol pada sebagian pasien.

 

E. DATA FAKTOR RISIKO MASYARAKAT

Survei cepat dilakukan terhadap 400 penduduk usia ≥18 tahun.

Hasil survei:

Faktor risiko

n

%

Merokok

148

37,0%

Kurang aktivitas fisik

214

53,5%

Konsumsi makanan asin ≥3 kali/minggu

231

57,8%

Konsumsi minuman manis ≥4 kali/minggu

196

49,0%

Konsumsi sayur kurang

177

44,3%

Konsumsi buah kurang

202

50,5%

IMT overweight

102

25,5%

IMT obesitas

76

19,0%

Obesitas sentral

134

33,5%

Tidak memeriksa tekanan darah >1 tahun

188

47,0%

Tidak mengetahui tekanan darah terakhir

157

39,3%

Faktor-faktor tersebut relevan dengan pengendalian hipertensi karena Kementerian Kesehatan mengidentifikasi merokok, kurang aktivitas fisik, kurang konsumsi sayur dan buah, serta konsumsi makanan asin sebagai perilaku yang meningkatkan risiko hipertensi.

 

F. DATA PENGETAHUAN MASYARAKAT

Dari 400 responden:

Pernyataan

Menjawab benar

Hipertensi dapat terjadi tanpa gejala

48,5%

Tekanan darah perlu diperiksa secara berkala

61,0%

Garam berlebihan meningkatkan risiko hipertensi

64,5%

Merokok meningkatkan risiko PTM

72,0%

Aktivitas fisik penting untuk mencegah PTM

68,5%

Orang dengan hipertensi harus kontrol rutin

58,3%

Obat hipertensi harus diminum sesuai anjuran tenaga kesehatan

71,5%

Mengetahui batas konsumsi garam harian

21,8%

Mengetahui cara membaca label kandungan natrium

13,5%

Mengetahui contoh aktivitas fisik intensitas sedang

34,0%

Nilai rata-rata pengetahuan: 62,4%.

 

G. DATA PERILAKU

Hasil wawancara menunjukkan:

Pola makan

Sebagian besar masyarakat mengonsumsi:

  1. makanan gorengan;
  2. makanan siap saji;
  3. makanan instan;
  4. makanan dengan tambahan kecap/saus;
  5. makanan asin;
  6. minuman berpemanis.

Sebanyak 57,8% responden menyatakan mengonsumsi makanan asin sedikitnya tiga kali dalam seminggu.

Sebagian pedagang makanan mengaku bahwa makanan dengan rasa lebih asin dan gurih lebih mudah diterima konsumen.

 

Aktivitas fisik

Sebanyak 53,5% responden masuk kategori kurang aktivitas fisik.

Alasan yang paling banyak disampaikan:

Alasan

%

Tidak mempunyai waktu

42,5%

Bekerja sepanjang hari

28,0%

Tidak ada tempat olahraga dekat rumah

15,5%

Tidak memiliki teman olahraga

8,5%

Tidak terbiasa

5,5%

 

H. DATA MEROKOK

Dari 400 responden:

  1. 148 orang merupakan perokok aktif;
  2. 97 orang merokok setiap hari;
  3. 51 orang merokok tidak setiap hari;
  4. 126 responden menyatakan terdapat anggota keluarga yang merokok di rumah.

Sebanyak 41,5% perokok mengatakan belum pernah mengikuti konseling berhenti merokok.

Alasan belum berhenti:

Alasan

%

Sudah menjadi kebiasaan

46,2%

Sulit berhenti

31,1%

Tidak merasa sakit

14,5%

Pengaruh teman/lingkungan

8,2%

 

I. DATA POSBINDU PTM

Desa memiliki 4 Posbindu PTM.

Namun, berdasarkan data enam bulan terakhir:

Indikator

Target

Capaian

Kehadiran sasaran

70%

38,5%

Pemeriksaan tekanan darah

70%

44,2%

Pemeriksaan gula darah

60%

32,8%

Konseling faktor risiko

60%

29,5%

Rujukan kasus berisiko

80%

61,0%

Kunjungan ulang

70%

41,6%

Kader menyampaikan bahwa kegiatan Posbindu biasanya dilakukan pada pagi hari.

Hal tersebut menjadi masalah karena sebagian besar sasaran bekerja pada pagi hingga sore hari.

 

J. DATA PELAYANAN KESEHATAN

Puskesmas memiliki:

  1. 1 dokter;
  2. 3 perawat;
  3. 2 bidan;
  4. 1 tenaga promosi kesehatan;
  5. 1 tenaga gizi;
  6. 1 tenaga kesehatan lingkungan;
  7. 1 analis laboratorium;
  8. 15 kader Posbindu aktif.

Puskesmas telah melaksanakan:

  1. penyuluhan hipertensi;
  2. pemeriksaan tekanan darah;
  3. pemeriksaan gula darah;
  4. Posbindu PTM;
  5. senam bersama;
  6. konseling pasien;
  7. kunjungan rumah terbatas.

Namun, petugas mengakui bahwa sebagian besar kegiatan masih berorientasi pada penyuluhan dan pemeriksaan, sementara kegiatan perubahan lingkungan dan penguatan dukungan sosial belum optimal.

 

K. DATA LINGKUNGAN

Hasil observasi mahasiswa menunjukkan:

Lingkungan fisik

  1. hanya terdapat satu lapangan desa;
  2. lapangan sering digunakan untuk parkir kendaraan;
  3. tidak tersedia jalur khusus pejalan kaki;
  4. fasilitas olahraga masyarakat terbatas;
  5. beberapa jalan tidak memiliki penerangan yang memadai;
  6. terdapat banyak warung makanan dan minuman;
  7. makanan tinggi garam/gula mudah ditemukan.

Lingkungan sosial

Sebagian tokoh masyarakat mendukung program kesehatan, tetapi belum terdapat forum rutin yang mempertemukan:

  1. pemerintah desa;
  2. Puskesmas;
  3. kader;
  4. pedagang;
  5. sekolah;
  6. kelompok pemuda;
  7. kelompok perempuan;
  8. tokoh agama.

 

L. DATA SOSIAL DAN PERSEPSI MASYARAKAT

Hasil wawancara mendalam dengan 20 masyarakat menunjukkan beberapa persepsi:

“Kalau belum merasa pusing atau sakit, saya merasa tidak perlu periksa.”

“Kalau pagi ada Posbindu, saya sedang jualan.”

“Olahraga sebenarnya mau, tetapi tidak ada tempat.”

“Makanan yang tidak asin rasanya kurang enak.”

“Kalau berhenti merokok susah, sudah bertahun-tahun.”

“Penyuluhan sudah sering, tetapi setelah itu biasanya kembali lagi seperti biasa.”

Temuan tersebut menunjukkan bahwa masalah kesehatan tidak hanya berkaitan dengan pengetahuan, tetapi juga dengan faktor perilaku, kesempatan, lingkungan, dukungan sosial, dan sistem pelayanan.

 

M. DATA PROGRAM YANG TELAH DILAKUKAN

Dalam dua tahun terakhir, Puskesmas telah melakukan:

Program

Pelaksanaan

Hasil

Penyuluhan hipertensi

6 kali/tahun

Kehadiran rata-rata 35%

Senam bersama

2 kali/bulan

Peserta rata-rata 25 orang

Posbindu

4 titik

Kehadiran 38,5%

Pemeriksaan tekanan darah

Rutin

Belum menjangkau pekerja

Konseling

Ada

Belum terdokumentasi optimal

Media edukasi

Poster/leaflet

Sebagian sudah tidak diperbarui

Kunjungan rumah

Terbatas

Prioritas pasien risiko tinggi

 

N. HASIL WAWANCARA DENGAN STAKEHOLDER

1. Kepala Desa

“Kami sebenarnya siap mendukung kegiatan kesehatan, tetapi perlu program yang jelas dan tidak terlalu membebani anggaran desa.”

2. Kepala Puskesmas

“Masalahnya bukan hanya masyarakat tidak tahu. Banyak yang sudah tahu hipertensi berbahaya, tetapi perilakunya belum berubah.”

3. Kader

“Kami kesulitan mengajak warga karena waktunya bersamaan dengan jam kerja.”

4. Pedagang makanan

“Kalau makanan dikurangi garam dan penyedap, pelanggan kadang komplain.”

5. Kelompok pemuda

“Anak muda lebih tertarik kegiatan yang praktis dan menggunakan media sosial.”

 

O. TUGAS MAHASISWA

Berdasarkan seluruh data tersebut, mahasiswa diminta melakukan analisis situasi kesehatan masyarakat secara sistematis.

Tugas 1. Analisis Situasi

Analisis kondisi Desa Sukamaju berdasarkan:

  1. demografi;
  2. sosial-ekonomi;
  3. status kesehatan;
  4. faktor risiko;
  5. perilaku kesehatan;
  6. lingkungan fisik;
  7. lingkungan sosial;
  8. pelayanan kesehatan;
  9. sumber daya masyarakat;
  10. program kesehatan yang telah berjalan.

 

Output:

Buat tabel:

Domain

Temuan utama

Data pendukung

Interpretasi

Demografi

Epidemiologi

Perilaku

Lingkungan

Pelayanan

Sosial

Program

 

TUGAS 2. IDENTIFIKASI MASALAH KESEHATAN

Identifikasi minimal 5 masalah kesehatan atau masalah promosi kesehatan berdasarkan data.

Contoh format:

No

Masalah

Data pendukung

Besarnya masalah

Kelompok terdampak

1

2

3

4

5

Mahasiswa tidak boleh hanya menuliskan “hipertensi” sebagai masalah.

Masalah harus dirumuskan secara lebih operasional, misalnya:

“Rendahnya deteksi dini dan pengendalian faktor risiko hipertensi pada masyarakat usia produktif.”

 

TUGAS 3. ANALISIS KESENJANGAN

Identifikasi kesenjangan antara:

kondisi ideal → kondisi aktual → gap

Contoh:

Indikator

Kondisi ideal

Kondisi aktual

Gap

Kehadiran Posbindu

70%

38,5%

31,5%

Pemeriksaan tekanan darah

70%

44,2%

25,8%

Konseling faktor risiko

60%

29,5%

30,5%

Kunjungan ulang

70%

41,6%

28,4%

Mahasiswa diminta menemukan minimal 5 gap.

 

TUGAS 4. PENENTUAN PRIORITAS MASALAH

Gunakan salah satu metode berikut:

Alternatif A — Metode USG

  • U = Urgency
  • S = Seriousness
  • G = Growth

Skor 1–5.

Masalah

U

S

G

Total

Prioritas

Masalah 1

Masalah 2

Masalah 3

Masalah 4

Masalah 5

Alternatif B — Hanlon

Mahasiswa dapat menggunakan:

PEARL + Magnitude + Seriousness + Effectiveness

Jika menggunakan Hanlon, mahasiswa harus menjelaskan alasan setiap skor.

 

TUGAS 5. ANALISIS AKAR MASALAH

Untuk masalah prioritas, gunakan:

Fishbone Analysis

Analisis minimal berdasarkan:

  1. Man
  2. Method
  3. Material
  4. Money
  5. Environment
  6. Management

Contoh:

Masalah utama:

Rendahnya partisipasi masyarakat usia produktif dalam Posbindu PTM.

Kemungkinan akar masalah:

Man

  • masyarakat sibuk bekerja;
  • persepsi risiko rendah;
  • belum merasa membutuhkan pemeriksaan.

Method

  • kegiatan dilakukan pagi hari;
  • metode edukasi kurang sesuai sasaran;
  • belum ada pendekatan jemput bola.

Material

  • media edukasi kurang menarik;
  • informasi belum disesuaikan dengan kebutuhan pekerja.

Environment

  • tidak tersedia ruang aktivitas fisik yang memadai;
  • lingkungan pangan kurang mendukung.

Management

  • jadwal belum fleksibel;
  • koordinasi lintas sektor belum optimal.

 

TUGAS 6. ANALISIS DETERMINAN PERILAKU

Gunakan salah satu teori/model:

Pilihan 1

PRECEDE–PROCEED

Pilihan 2

Health Belief Model

Pilihan 3

Social Cognitive Theory

Pilihan 4

Lawrence Green

Mahasiswa harus menjelaskan:

  1. faktor predisposisi;
  2. faktor pemungkin;
  3. faktor penguat;
  4. perilaku yang menjadi masalah;
  5. faktor lingkungan;
  6. faktor pelayanan.

 

TUGAS 7. IDENTIFIKASI SASARAN

Tentukan:

Sasaran primer

Siapa yang perilakunya perlu berubah?

Sasaran sekunder

Siapa yang dapat memengaruhi sasaran primer?

Sasaran tersier

Siapa yang mempunyai kewenangan membuat kebijakan atau menyediakan dukungan?

Gunakan format:

Sasaran

Karakteristik

Masalah

Kebutuhan

Strategi pendekatan

Primer

Sekunder

Tersier

 

TUGAS 8. RUMUSAN MASALAH PROMOSI KESEHATAN

Buat rumusan masalah menggunakan formula:

WHO + WHAT + WHERE + WHEN + EVIDENCE

Contoh:

“Pada tahun 2026, masyarakat usia produktif di Desa Sukamaju menunjukkan rendahnya pemanfaatan Posbindu PTM dan pemeriksaan faktor risiko penyakit tidak menular, yang ditunjukkan oleh tingkat kehadiran Posbindu hanya 38,5% serta 47% responden tidak melakukan pemeriksaan tekanan darah lebih dari satu tahun.”

Mahasiswa harus membuat minimal 3 alternatif rumusan masalah kemudian memilih satu yang paling prioritas.

 

TUGAS 9. ANALISIS MASALAH PROMOSI KESEHATAN

Mahasiswa harus membedakan:

Masalah kesehatan

Contoh:

  • hipertensi meningkat;
  • diabetes meningkat;
  • obesitas;
  • merokok.

Masalah perilaku

Contoh:

  • kurang aktivitas fisik;
  • konsumsi makanan asin;
  • konsumsi minuman manis;
  • tidak melakukan pemeriksaan rutin.

Masalah lingkungan

Contoh:

  • keterbatasan fasilitas aktivitas fisik;
  • lingkungan pangan kurang sehat;
  • belum ada dukungan kebijakan.

Masalah pelayanan

Contoh:

  • Posbindu belum menjangkau pekerja;
  • jadwal tidak sesuai karakteristik sasaran;
  • tindak lanjut belum optimal.

 

TUGAS 10. MEMBUAT POHON MASALAH

Mahasiswa menyusun:

Dampak

⬆

Masalah utama

⬆

Penyebab langsung

⬆

Penyebab tidak langsung

⬆

Akar masalah

Pohon masalah harus didukung oleh data, bukan hanya asumsi.

 

TUGAS 11. IDENTIFIKASI KEBUTUHAN DATA TAMBAHAN

Mahasiswa harus menentukan data apa yang masih kurang.

Contoh:

  • data kepatuhan minum obat;
  • data tekanan darah berdasarkan kelompok umur;
  • data konsumsi natrium;
  • data akses terhadap fasilitas olahraga;
  • data dukungan keluarga;
  • data persepsi masyarakat;
  • data kualitas pelaksanaan Posbindu;
  • data dukungan pemerintah desa;
  • data karakteristik pedagang makanan.

Buat tabel:

Data yang diperlukan

Alasan

Sumber data

Metode pengumpulan

 

TUGAS 12. MENYUSUN REKOMENDASI AWAL

Setelah seluruh analisis selesai, mahasiswa menyusun rekomendasi.

Rekomendasi minimal mencakup:

  1. perubahan perilaku;
  2. komunikasi kesehatan;
  3. pemberdayaan masyarakat;
  4. penguatan Posbindu;
  5. dukungan keluarga;
  6. lingkungan sehat;
  7. kemitraan;
  8. advokasi kebijakan.

Catatan penting: rekomendasi harus sesuai dengan masalah yang ditemukan dan tidak boleh berupa kegiatan yang tidak mempunyai hubungan dengan hasil analisis.

 

P. PERTANYAAN ANALISIS TINGKAT LANJUT

Untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis mahasiswa, jawab pertanyaan berikut.

1.

Apakah hipertensi merupakan masalah utama atau hanya salah satu dampak dari masalah yang lebih mendasar?

2.

Apakah rendahnya pengetahuan merupakan penyebab utama rendahnya perilaku sehat? Jelaskan berdasarkan data.

3.

Mengapa masyarakat yang sudah mengetahui bahaya hipertensi masih melakukan perilaku berisiko?

4.

Apakah penyuluhan tambahan merupakan intervensi yang paling tepat? Berikan argumentasi.

5.

Mengapa jadwal Posbindu dapat menjadi faktor penyebab rendahnya cakupan?

6.

Apa hubungan antara lingkungan pangan dengan hipertensi?

7.

Siapa stakeholder paling strategis untuk dilibatkan?

8.

Apa masalah yang dapat diselesaikan melalui promosi kesehatan dan apa yang membutuhkan intervensi sektor lain?

9.

Jika hanya tersedia anggaran terbatas, masalah mana yang harus diprioritaskan?

10.

Apakah mahasiswa memiliki cukup data untuk langsung merancang intervensi? Jika belum, data apa yang masih diperlukan?

 

Q. PRODUK AKHIR PENUGASAN

Mahasiswa menghasilkan satu laporan analisis situasi dengan sistematika:

BAB I PENDAHULUAN

  1. Latar belakang
  2. Tujuan
  3. Manfaat

BAB II GAMBARAN WILAYAH

  1. Demografi
  2. Sosial ekonomi
  3. Kondisi lingkungan
  4. Sumber daya kesehatan
  5. Situasi pelayanan kesehatan

BAB III ANALISIS SITUASI

  1. Status kesehatan
  2. Faktor risiko
  3. Perilaku
  4. Lingkungan
  5. Pelayanan kesehatan
  6. Program yang telah berjalan

BAB IV IDENTIFIKASI DAN PRIORITAS MASALAH

  1. Identifikasi masalah
  2. Analisis kesenjangan
  3. Prioritas masalah
  4. Analisis akar masalah
  5. Analisis determinan perilaku
  6. Sasaran

BAB V REKOMENDASI

  1. Masalah prioritas
  2. Sasaran prioritas
  3. Rekomendasi strategi
  4. Stakeholder
  5. Kebutuhan data tambahan

BAB VI KESIMPULAN

 

R. RUBRIK PENILAIAN

Komponen

Bobot

Analisis situasi

20%

Ketepatan identifikasi masalah

15%

Penggunaan data

15%

Analisis prioritas masalah

15%

Analisis akar masalah

15%

Analisis determinan/perilaku

10%

Ketepatan sasaran

5%

Rekomendasi

5%

Total

100%

Kriteria unggul

Mahasiswa memperoleh nilai tinggi apabila:

  1. menggunakan data secara tepat;
  2. mampu membedakan masalah kesehatan, perilaku, lingkungan, dan pelayanan;
  3. tidak menyamakan gejala dengan akar masalah;
  4. mampu menunjukkan hubungan antarvariabel;
  5. menggunakan teori promosi kesehatan;
  6. mampu menentukan prioritas berdasarkan kriteria objektif;
  7. memberikan argumentasi berbasis data;
  8. tidak langsung melompat pada solusi;
  9. mampu mengidentifikasi data yang masih kurang;
  10. mampu merumuskan masalah secara spesifik dan terukur.

 

 

48 komentar:

  1. Nama : Siti Sarah Amelia
    Nim : P3.73.24.3.25.047
    Kelas : 2A

    Menurut saya, kasus ini menarik karena menunjukkan bahwa masalah kesehatan tidak cukup diselesaikan hanya dengan penyuluhan. Masyarakat sebenarnya sudah cukup mengetahui bahaya hipertensi dan penyakit tidak menular, tetapi masih terkendala kebiasaan, waktu, lingkungan, dan kurangnya akses terhadap kegiatan kesehatan. Karena itu, promosi kesehatan sebaiknya tidak hanya memberikan edukasi, tetapi juga melibatkan masyarakat dan menyesuaikan program dengan kondisi mereka.

    BalasHapus
  2. Nama:Venaaisha Chalisa Kurniawan
    Nim:P3..73.24.3.25.048
    Kelas 2A
    kasus ini sangat menarik, dan sangat informatif, bahwa jika ada suatu masalah kesehatan tidak bisa hanya di selesaikan dengan penyuluhan saja

    BalasHapus
  3. Nama: Keyshia Olivia
    Kelas: 2A
    Nim: P3.73.24.3.25.026
    Kasus Desa Sukamaju ini cukup menarik karena sebenarnya program kesehatan sudah ada, tapi hasilnya masih belum maksimal. Jadi, dari kasus ini bisa dilihat kalau penyuluhan saja belum tentu cukup untuk mengubah perilaku masyarakat karena masih ada faktor lain yang memengaruhi.

    BalasHapus
  4. Nama: Rifqa Shabira Nur Aulia
    NIM: P3.73.24.3.25.043
    Kelas: 2A

    Menurut saya, kasus ini sangat menarik dan informatif karena membahas masalah hipertensi yang cukup dekat dengan kehidupan masyarakat. Dari kasus ini terlihat bahwa hipertensi tidak hanya disebabkan oleh kurangnya pengetahuan, tetapi juga pola makan, kurangnya aktivitas fisik, dan kebiasaan masyarakat. Menurut saya, program dari Puskesmas juga perlu lebih disesuaikan dengan kondisi masyarakat agar partisipasinya meningkat.

    BalasHapus
  5. Nama: Kaisyyah Fahmi
    NIM: P3.73.24.3.25.023
    Kelas: 2A

    Menurut saya, kasus Desa Sukamaju menunjukkan bahwa masalah kesehatan yang terjadi bukan hanya disebabkan oleh kurangnya pelayanan kesehatan, tetapi juga rendahnya partisipasi masyarakat dalam memanfaatkan program promosi kesehatan yang sudah tersedia.

    BalasHapus
  6. Nama : Hanina Nayara Syafa
    NIM : P3.73.24.3.25.018
    Kelas : 2A

    Kasus ini menarik banget karena mengangkat masalah riil di masyarakat. Yang paling krusial di sini bukan sekadar warga kurang tahu, tapi ada gap besar antara pengetahuan dan perilaku akibat faktor jam kerja pekerja informal yang panjang (9–12 jam/hari). Jadi solusinya emang gak bisa cuma penyuluhan biasa, tapi harus ubah strategi pelayanan ke sistem jemput bola ke lokasi kerja warga.

    BalasHapus
  7. Nama: Addien Eza Firdaus
    NIM: P3.73.24.3.25.001
    Kelas: 2A

    Menurut saya, kasus ini sangat menarik dan informatif karena membahas masalah hipertensi yang cukup dekat dengan kehidupan masyarakat. Dari kasus ini terlihat bahwa hipertensi tidak hanya disebabkan oleh kurangnya pengetahuan, tetapi juga pola makan, kurangnya aktivitas fisik, dan kebiasaan masyarakat. Menurut saya, program dari Puskesmas juga perlu lebih disesuaikan dengan kondisi masyarakat agar partisipasinya meningkat.

    BalasHapus
  8. Nama: Lahrazakia Putri Nayla
    NIM: P3.73.24.3.25.027
    Kelas: 2A

    Menurut saya, kasus ini cukup menarik karena program dari Puskesmas sebenarnya sudah ada, tetapi masyarakatnya yang masih kurang aktif. Jadi, tantangannya bukan hanya menyediakan program, tetapi bagaimana membuat masyarakat mau ikut dan menerapkan pola hidup sehat dalam kesehariannya.

    BalasHapus
  9. Nama : Ezzah Az Zahra
    Nim : P3.73.24.3.25.015
    Kelas : 2A

    Menurut saya, kasus yang Bapak berikan ini menarik karena menunjukkan bahwa masalah kesehatan bukan hanya karena masyarakat kurang tahu. Walaupun sebagian masyarakat sudah mengetahui bahaya hipertensi, masih ada kebiasaan seperti makan makanan asin, kurang aktivitas fisik, dan merokok yang sulit diubah. Selain itu, jadwal Posbindu yang dilakukan pagi hari juga kurang sesuai dengan waktu kerja masyarakat. Jadi, menurut saya, promosi kesehatan tidak cukup hanya dengan penyuluhan, tetapi juga perlu menyesuaikan kegiatan dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat agar masyarakat lebih mudah ikut serta dan menerapkan pola hidup sehat.

    BalasHapus
  10. Nama: Zahra Nadhifa Hakim
    NIM: P3.73.24.3.25.049
    Kelas: 2A

    Materi studi kasus ini sangat membantu dalam memahami bagaimana cara melakukan analisis situasi dan mengidentifikasi masalah kesehatan masyarakat secara sistematis. Data dan kasus yang diberikan juga memudahkan kami dalam memahami tahapan analisis, mulai dari melihat kondisi kesehatan masyarakat, menemukan masalah, hingga menganalisis kesenjangan

    BalasHapus
  11. Nama: Chaidir Ali Ahmad
    NIM: P3.73.24.3.25.010
    Kelas: 2A

    Menurut saya, kasus ini sangat menarik dan informatif karena membahas masalah hipertensi yang cukup dekat dengan kehidupan masyarakat. Dari kasus ini terlihat bahwa hipertensi tidak hanya disebabkan oleh kurangnya pengetahuan, tetapi juga pola makan, kurangnya aktivitas fisik, dan kebiasaan masyarakat. Menurut saya, program dari Puskesmas juga perlu lebih disesuaikan dengan kondisi masyarakat agar partisipasinya meningkat

    BalasHapus
  12. Nama: Hannah Lidya
    NIM: P3.73.24.3.25.019
    Kelas: 2A

    Kasus Desa Sukamaju ini sangat menarik karena berhasil menggambarkan realita masalah kesehatan masyarakat yang serba terhubung: tingginya risiko penyakit tidak menular seperti hipertensi dan diabetes terbukti dipicu oleh kombinasi gaya hidup tidak sehat, rendahnya literasi gizi, serta program skrining puskesmas yang kurang efektif akibat terbentur jam kerja padat para pekerja informal.

    BalasHapus
  13. Nama: Aryoseto Enovika Pramudya
    NIM: P3.73.24.3.25.007
    Kelas: 2A

    Menurut saya, kasus Desa Sukamaju menunjukkan bahwa masalah peningkatan penyakit tidak menular seperti hipertensi dan diabetes tidak hanya disebabkan oleh faktor individu, tetapi juga berkaitan dengan pola hidup dan rendahnya partisipasi masyarakat dalam kegiatan promosi kesehatan. Meskipun Puskesmas sudah melaksanakan berbagai kegiatan seperti Posbindu PTM, penyuluhan, pemeriksaan kesehatan, dan senam bersama, kegiatan tersebut belum cukup efektif apabila masyarakat belum memiliki kesadaran dan motivasi untuk berpartisipasi. Oleh karena itu, menurut saya diperlukan pendekatan promosi kesehatan yang lebih melibatkan masyarakat, misalnya dengan menyesuaikan kegiatan dengan kondisi, kebutuhan, dan kebiasaan masyarakat setempat, serta meningkatkan peran kader dan tokoh masyarakat agar program kesehatan lebih diterima dan berkelanjutan.

    BalasHapus
  14. Nama : Saskia Zahra Irawan
    Nim : P3.73.24.3.25.045
    kelas : 2A


    Studi kasusnya cukup menggambarkan bahwa masalah kesehatan masyarakat itu saling berkaitan, bukan hanya soal pengetahuan. Menurut saya, analisis situasi dan penentuan prioritas memang penting dilakukan sebelum menentukan solusi agar intervensi yang diberikan benar-benar sesuai dengan masalah di masyarakat.

    BalasHapus
  15. Nama : Silvi Dwi Cahyani
    NIM : P3.73.24.3.25.046
    Kelas : 2A

    Menurut saya, kasus Desa Sukamaju menunjukkan bahwa masalah kesehatan tidak hanya disebabkan oleh kurangnya pengetahuan masyarakat, tetapi juga dipengaruhi oleh kebiasaan, lingkungan, dan akses terhadap pelayanan kesehatan. Oleh karena itu, program kesehatan perlu disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat agar lebih efektif.

    BalasHapus
  16. Kayysha Fitria Rizki/2A
    (P3.73.24.3.25.024)

    melihat penyajian materi studi kasus ini sangat sistematis dan sangat membantu proses belajar saya dan teman-teman karena struktur alurnya yang runtut dan jelas. penyajian materi studi kasus ini juga berhasil mengintegrasikan berbagai jenis data, mulai dari aspek demografi, status kesehatan, faktor risiko perilaku, hingga tingkat pengetahuan masyarakat, sehingga kami sebagai pembaca bisa dengan mudah melihat gambaran utuh dari masalah kesehatan yang ada di desa Sukamaju.

    BalasHapus
  17. Muhammad Danish Bastian Rachmanto
    Nim: P3.73.24.3.25.030
    Kelas: 2A Promosi Kesehatan

    Kasus ini cukup menarik karena menunjukkan bahwa masalah kesehatan di masyarakat tidak hanya disebabkan oleh kurangnya pengetahuan. Ada kesenjangan antara apa yang warga ketahui dan bagaimana mereka menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu penyebab utamanya adalah jam kerja pekerja informal yang cukup panjang, sekitar 9–12 jam per hari. Karena itu, pendekatannya tidak cukup hanya melalui penyuluhan, tetapi perlu dilakukan dengan mendatangi langsung tempat kerja warga agar pelayanan dan edukasi lebih mudah mereka akses.

    BalasHapus
  18. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  19. Nama : Neisya Aulia Ahmad
    Nim :P3.73.24.3.25.038
    Kelas : 2A

    Menurut saya, studi kasus Desa Sukamaju sangat menarik karena menunjukkan bahwa dalam menangani masalah kesehatan masyarakat, kita tidak bisa hanya melihat tingginya kasus hipertensi atau diabetes sebagai masalah utama. Diperlukan analisis yang lebih menyeluruh terhadap faktor perilaku, lingkungan, pelayanan kesehatan, serta kondisi sosial masyarakat. Data pada kasus ini juga menunjukkan adanya kesenjangan antara pengetahuan masyarakat dengan perilaku kesehatan dan pemanfaatan layanan. Oleh karena itu, penentuan prioritas masalah menjadi penting agar intervensi promosi kesehatan yang dilakukan benar-benar sesuai dengan kebutuhan dan kondisi masyarakat.

    BalasHapus
  20. Nama: Siti Khairin Azmatun Hadijah
    Nim: P3.73.24.3.25.144
    Kelas: 2C

    Menurut saya, pembahasan studi kasus ini sudah cukup jelas karena didukung oleh berbagai data tentang kondisi kesehatan masyarakat, faktor risiko, perilaku, dan pelayanan kesehatan. Studi kasus ini juga menunjukkan bahwa permasalahan kesehatan dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan, sehingga penanganannya membutuhkan pendekatan yang menyeluruh.

    BalasHapus
  21. Nama: Azizah Sri Mulyawati
    Nim: P3.73.24.3.25.104
    Kelas: 2C

    Menurut saya, studi kasus ini cukup menarik karena pembahasannya menggambarkan kondisi kesehatan masyarakat secara nyata melalui data dan berbagai faktor yang memengaruhinya. Selain itu, kasus ini juga memperlihatkan bahwa masalah kesehatan tidak hanya berkaitan dengan individu, tetapi juga dipengaruhi oleh lingkungan, pola hidup, dan dukungan pelayanan kesehatan.

    BalasHapus
  22. Menurut saya, analisis dalam studi kasus ini sudah bagus karena disusun secara sistematis mulai dari identifikasi masalah, pengumpulan data, hingga pemberian rekomendasi, sehingga mampu memberikan gambaran yang jelas tentang situasi di lapangan dan membantu dalam pengambilan keputusan.

    BalasHapus
  23. Materi studi kasus Desa Sukamaju sudah disusun secara sistematis, mulai dari data demografi, status kesehatan, faktor risiko, perilaku, lingkungan, pelayanan kesehatan, hingga data persepsi masyarakat. Materi ini juga bagus karena mahasiswa tidak langsung diarahkan membuat intervensi, tetapi harus mengidentifikasi masalah, menentukan prioritas, mencari akar masalah, dan menganalisis determinan perilaku terlebih dahulu.

    BalasHapus
  24. Khayla Nadhifa 2C Promkes (P3.73.24.3.25.122)

    Masalah utama di Desa Sukamaju bukan hanya banyak orang kena hipertensi/diabetes, tapi warga (terutama yang bekerja) jarang ikut cek kesehatan dan sulit ubah kebiasaan karena waktu Posbindu tidak cocok, makanan asin/manis mudah didapat, dan tempat olahraga kurang.

    BalasHapus
  25. Nama : Maitsaa Salwa Suargana
    Kelas : 2A
    Nim : P3.73.24.3.25.028

    Kasus ini menarik karena menunjukkan kontras antara kelengkapan program Puskesmas dan tingginya kasus PTM akibat rendahnya partisipasi warga, sehingga mahasiswa tidak hanya dituntut mengolah data tetapi juga membongkar akar masalah untuk merancang strategi promosi kesehatan yang relevan dengan rutinitas masyarakat lokal.

    BalasHapus
  26. Nama: Keisya Danayela
    Kelas: 2C
    NIM: P3.73.224.3.25.120

    Materi ini sangat baik, sistematis, dan berbasis data nyata, mendorong analisis mendalam sebelum menentukan solusi. Namun data belum lengkap (belum ada rincian usia, jenis kelamin, ekonomi), aspek sosial-budaya dan lingkungan belum cukup dalam, serta belum ada panduan pengajar. Disarankan melengkapi data, memperkaya aspek sosial-lingkungan, dan menambah panduan agar lebih sempurna.

    BalasHapus
  27. 2A_03_Aindyra Arsyla Sari
    Menurut saya, sebelum menentukan intervensi, penting juga untuk mengetahui kenapa masyarakat kurang berpartisipasi dalam kegiatan Puskesmas. Bisa jadi karena waktu kegiatan tidak sesuai, kurangnya informasi, atau masyarakat merasa belum membutuhkan pemeriksaan kesehatan. Jadi penyebab rendahnya partisipasi ini perlu digali lebih dalam.

    BalasHapus
  28. Adilla Marwa Hanifah Hasibuan
    P3.73.24.3.25.002

    Menurut saya, kalau dilihat dari kasusnya, masalah PTM di Desa Sukamaju cukup kompleks karena dipengaruhi beberapa kebiasaan masyarakat, seperti kurang aktivitas fisik, pola makan, dan merokok. Jadi menurut saya, intervensinya juga nggak bisa cuma berupa penyuluhan, tapi perlu pendekatan yang lebih sesuai dengan kebiasaan masyarakat.

    BalasHapus
  29. Nisrina Arsilia
    P3.73.24.3.25.039

    Menurut saya, kasus Desa Sukamaju menunjukkan bahwa masalah kesehatan tidak hanya disebabkan oleh kurangnya pengetahuan masyarakat, tetapi juga dipengaruhi oleh kebiasaan, lingkungan, dan akses terhadap pelayanan kesehatan. Oleh karena itu, program kesehatan perlu disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat agar lebih efektif.

    BalasHapus
  30. Naya Sauma Bratandari
    P3.73.24.3.25.037

    kasus yang sangat menarik untuk dipelajari. Sangat informatif dan mudah dipahami. Saya jadi paham terkait masalah kesehatan yang pastinya tidak hanya disebabkan oleh satu faktor saja, tetapi banyak faktor penyebab lainnya.

    BalasHapus
  31. Dewi Bunga Endah Gita Nurcahyani
    P3.73.24.3.25.012

    Menurut saya, masalah kesehatan di Desa Sukamaju tidak hanya disebabkan oleh kurangnya pengetahuan masyarakat. Data menunjukkan bahwa masyarakat sebenarnya sudah mengetahui beberapa risiko penyakit, tetapi masih mengalami hambatan dalam menerapkan perilaku sehat. Oleh karena itu, upaya promosi kesehatan perlu memperhatikan kebiasaan, lingkungan, serta akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan.

    BalasHapus
  32. Dina putri apriliani
    P3.73.24.3.25.013

    Menurut saya, kasus Desa Sukamaju cukup kompleks karena masalah PTM tidak hanya disebabkan oleh kurangnya pengetahuan, tetapi juga dipengaruhi oleh perilaku, lingkungan, waktu kerja masyarakat, dan pelayanan kesehatan. Data menunjukkan bahwa hipertensi dan diabetes terus meningkat, sementara partisipasi Posbindu masih rendah. Hal yang menarik adalah masyarakat sebenarnya sudah cukup mengetahui bahaya PTM, tetapi pengetahuan tersebut belum sepenuhnya berubah menjadi perilaku sehat. Karena itu, analisis perlu lebih menekankan pada akar masalah dan hambatan yang membuat masyarakat sulit menerapkan perilaku sehat, bukan hanya menambah kegiatan penyuluhan.

    BalasHapus
  33. Nama : Maulidia Nur Ihsani
    Kelas : 2A Promosi Kesehatan
    NIM : P3.73.24.3.25.029

    Menurut saya, masalah utama di Desa Sukamaju bukanlah ketidaktahuan warga, melainkan ketidaksesuaian antara jadwal layanan Puskesmas dengan pola kerja masyarakat, seperti pelaksanaan Posbindu pagi hari yang berbenturan dengan jam kerja pedagang dan buruh (9–12 jam/hari). Ditambah minimnya fasilitas fisik olahraga serta persepsi keliru bahwa pemeriksaan hanya perlu dilakukan saat tubuh mulai terasa sakit.

    BalasHapus
  34. Nama : Wildana Azka Aulya
    Nim : P3.73.24.3.25.147

    Menurut saya, studi kasus ini cukup baik karena mampu menggambarkan permasalahan kesehatan secara nyata melalui data yang disajikan. Pembahasannya juga memperlihatkan bahwa kondisi kesehatan masyarakat dipengaruhi oleh berbagai aspek, mulai dari pola hidup hingga lingkungan dan pelayanan kesehatan.

    BalasHapus
  35. Nama: Mutiara Haura Annisa Anjany(P3.73.24.3.25.032)
    Kelas: 2A Promkes
    kasus ini menunjukkan bahwa hipertensi dipengaruhi oleh perilaku, lingkungan, dan pelayanan kesehatan, sehingga perlu dianalisis sebelum menentukan solusi.

    BalasHapus
  36. Nama: Muhammad Satrio Fathin
    NIM: P3.73.24.3.25.031
    Kelas: 2A Promosi Kesehatan

    Menurut saya, kasus ini menunjukkan bahwa upaya mengatasi masalah kesehatan tidak cukup hanya melalui penyuluhan. Meskipun masyarakat sudah mendapatkan informasi mengenai bahaya hipertensi dan penyakit tidak menular, penerapannya dalam kehidupan sehari-hari masih menghadapi berbagai hambatan, seperti kebiasaan yang sulit diubah, keterbatasan waktu, kondisi lingkungan, serta rendahnya partisipasi dalam kegiatan kesehatan. Oleh karena itu, promosi kesehatan perlu dilakukan secara lebih menyeluruh, tidak hanya berfokus pada pemberian informasi, tetapi juga melibatkan masyarakat serta menyesuaikan kegiatan dengan kebutuhan, kondisi, dan aktivitas masyarakat.

    BalasHapus
  37. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  38. Nama: Irhas Baihaqi Alfarisi
    NIM: P3.73.24.3.25.022
    Kelas: 2A

    Materi ini sangat baik, sistematis, dan berbasis data nyata, mendorong analisis mendalam sebelum menentukan solusi. Namun data belum lengkap (belum ada rincian usia, jenis kelamin, ekonomi), aspek sosial-budaya dan lingkungan belum cukup dalam, serta belum ada panduan pengajar. Disarankan melengkapi data, memperkaya aspek sosial-lingkungan, dan menambah panduan agar lebih sempurna.

    BalasHapus
  39. Nama: Fatimah Zahra
    NIM: P3.73.24.3.25.016
    Kelas: A

    Dalam empat tahun terakhir di Desa Sukamaju terjadi peningkatan kasus hipertensi berdasarkan persentasenya:

    Persentase 2023: 21,7%
    Persentase 2024: 24,3%
    Persentase 2025: 26,8%
    Persentase 2026: 28,7%

    Selain itu, di Desa Sukamaju terjadi peningkatan kasus diabetes mellitus berdasarkan jumlah penduduk yang terdata kasus ini:

    Kasus terdata 2023: 87
    Kasus terdata 2024: 102
    Kasus terdata 2025: 129
    Kasus terdata 2026: 143

    Peningkatan kasus penyakit hipertensi dan diabetes melitus dalam empat tahun terakhir di Desa Sukamaju disebabkan oleh:
    a. Pola makan tinggi gula.

    Sebagian masyarakat desa tersebut lebih sering mengonsumsi gorengan, makanan siap saji, instan, asin, berpemanis, hingga ditambah saus/kecap.


    b. Konsumsi minuman manis
    c. Aktivitas fisik rendah
    Berdasarkan presentase, sebanyak 53,5% masyarakat Desa Sukamaju jarang beraktivitas fisik. Berikut adalah rinciannya:

    Alasan:
    - Tidak mempunyai waktu dengan presentase sebesar 42,5%.
    - Bekerja sepanjang hari dengan presentase sebesar 28%.
    - Tidak ada tempat olahraga dekat rumah dengan presentase sebesar 15,5%.
    - Tidak memiliki teman olahraga dengan presentase sebesar 8,5%.
    - Tidak terbiasa dengan presentase sebesar 5,5%.

    d. Kelebihan berat badan
    e. Keterlambatan pemeriksaan
    f. Rendahnya kepatuhan kontrol pada sebagian pasien.
    g. Pengetahuan masyarakat.

    Rata-rata pengetahuan masyarakat Desa Sukamaju sebesar 62,4%. Akan tetapi, pengetahuan masyarakat perlu ditingkatkan.

    h. Merokok

    Dari 400 responden:
    1. 148 orang merupakan perokok aktif.
    2. 97 orang merokok setiap hari.
    3. 51 orang merokok tidak setiap hari.
    4. 126 responden menyatakan terdapat anggota keluarga yang merokok di rumah sehingga menjadi perokok.

    i. Pelayanan kesehatan kurang optimal.

    Puskesmas memiliki:
    1 dokter.
    3 perawat.
    2 bidan.
    1 tenaga promosi kesehatan.
    1 tenaga gizi.
    1 tenaga kesehatan lingkungan.
    1 analis laboratorium.
    15 kader Posbindu aktif.

    Sebagian besar kegiatan masih berorientasi pada penyuluhan dan pemeriksaan, sementara kegiatan perubahan lingkungan dan penguatan dukungan sosial belum optimal.

    j. Lingkungan fisik yang kurang mendukung.

    Berdasarkan analisis data, lingkungan sosial Desa Sukamaju, seperti tokoh masyarakat sudah mendukung program kesehatan. Akan tetapi, lingkungan fisik kurang mendukung, berikut adalah data lingkungan fisik di Desa Sukamaju:
    1. Hanya terdapat satu lapangan desa.
    2. Lapangan sering digunakan untuk parkir kendaraan.
    3. Tidak tersedia jalur khusus pejalan kaki.
    4. Fasilitas olahraga masyarakat terbatas.
    5. Beberapa jalan tidak memiliki penerangan yang memadai.
    6. Terdapat banyak warung makanan dan minuman.
    7. Makanan tinggi garam/gula mudah ditemukan.

    Oleh karena itu, promotor kesehatan harus menjalankan program:
    1. Gerakan "Kurangi Gula, Garam, dan Minyak" (G3M).
    2. Kemitraan dengan pedagang lokal
    3. Pemanfaatan ruang alternatif, seperti pemanfaatan lapangan sekolah untuk kegiatan senam di setiap hari Minggu.
    4. Kampanye "Aktivitas fisik"
    5. Pembentukkan klub kebugaran
    6. Skrining Hipertensi dan Diabetes secara berkala serta sistem "Pengawas Minum Obat"

    BalasHapus


  40. Menurut saya, bagian yang sangat penting adalah penekanan bahwa mahasiswa tidak boleh langsung menentukan intervensi sebelum melakukan analisis situasi dan menentukan prioritas masalah. Hal ini melatih kita untuk berpikir sistematis dan berbasis data. Rendahnya kehadiran masyarakat pada Posbindu PTM juga menjadi contoh bahwa keberhasilan program kesehatan tidak cukup hanya dengan menyediakan pelayanan, tetapi perlu menyesuaikan waktu, kebutuhan, dan karakteristik masyarakat.

    BalasHapus
  41. Nama: Alda Yulindra
    Nim: P3.73.24.3.25.004
    Kelas: 2A

    Dari materi studi kasus Desa Sukamaju, dapat disimpulkan bahwa masalah kesehatan yang paling menonjol adalah meningkatnya penyakit tidak menular seperti hipertensi dan diabetes. Kondisi ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti pola makan tinggi garam dan gula, kurang aktivitas fisik, kebiasaan merokok, serta rendahnya pemanfaatan Posbindu PTM. Setelah dilakukan analisis situasi, identifikasi masalah, analisis kesenjangan, dan penentuan prioritas menggunakan metode USG, masalah yang menjadi prioritas utama adalah rendahnya pemanfaatan Posbindu PTM dan pemeriksaan faktor risiko oleh masyarakat.

    BalasHapus
  42. Menurut saya, studi kasus Desa Sukamaju ini sangat menarik karena memperlihatkan tantangan nyata PTM di lapangan, di mana tingginya pengetahuan masyarakat ternyata belum sejalan dengan perubahan perilaku akibat adanya kendala jam kerja buruh/pedagang yang panjang serta ketiadaan . Pembatasan untuk melakukan analisis situasi dan penentuan prioritas masalah secara runut sebelum merancang intervensi sangat melatih pola pikir kami agar tidak terburu-buru menentukan program tanpa pijakan data yang valid.

    BalasHapus
  43. Nama : Anniza Destianti
    NIM : P3.73.24.3.25.102
    Kelas : 2C
    Menurut saya studi kasus Desa Sukamaju telah disusun dengan cukup lengkap dan terstruktur. Pembahasannya mencakup berbagai aspek, seperti kondisi demografi, status kesehatan masyarakat, faktor risiko, perilaku, lingkungan, pelayanan kesehatan, serta persepsi masyarakat. Hal yang menarik dari materi ini adalah mahasiswa tidak langsung diminta menentukan bentuk intervensi, tetapi terlebih dahulu diarahkan untuk mengidentifikasi permasalahan, menetapkan prioritas masalah, menemukan akar penyebab, dan menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi perilaku masyarakat.

    BalasHapus
  44. Menurut saya, materi ini sudah cukup lengkap dan tersusun dengan baik. Namun, data dan tahapan analisis yang diberikan cukup banyak, sehingga mahasiswa mungkin akan sedikit kesulitan dalam memahami hubungan antara masalah kesehatan, faktor penyebab, hingga akar masalahnya. Menurut saya, akan lebih membantu jika materi disertai contoh analisis secara lengkap dari awal sampai akhir, seperti contoh menentukan prioritas masalah dengan metode USG, membuat analisis fishbone, dan menerapkan teori promosi kesehatan pada kasus yang diberikan. Dengan adanya contoh tersebut, mahasiswa akan lebih mudah memahami materi dan menerapkannya ketika menghadapi kasus kesehatan masyarakat secara langsung.

    BalasHapus
  45. Menurut saya, dari kasus Desa Sukamaju dapat dilihat bahwa masalah kesehatan masyarakat saling berkaitan satu sama lain. Kebiasaan masyarakat seperti pola makan yang kurang sehat, kurang aktivitas fisik, dan merokok dapat meningkatkan risiko terjadinya PTM. Jadi, menurut saya penanganannya tidak cukup hanya dengan memberikan penyuluhan, tetapi juga perlu adanya upaya yang mendorong masyarakat untuk mengubah kebiasaan secara bertahap sesuai dengan kondisi mereka.

    BalasHapus