Senin, 31 Agustus 2026

“Analisis Perilaku Kesehatan dan Perancangan Intervensi Promosi Kesehatan Berbasis Masyarakat”

 

PENUGASAN ANALISIS STUDI KASUS MASYARAKAT

“Analisis Perilaku Kesehatan dan Perancangan Intervensi Promosi Kesehatan Berbasis Masyarakat”

A. Identitas Penugasan

Komponen

Keterangan

Program Studi

Sarjana Terapan Promosi Kesehatan

Bentuk

Studi kasus berbasis masalah masyarakat

Metode

Individual/kelompok 4–5 mahasiswa

Waktu

2 minggu

Produk akhir

Laporan analisis + media/intervensi promosi kesehatan

Presentasi

15–20 menit/kelompok

Bobot

15–20% nilai mata kuliah

Level kognitif

C4–C6

Pendekatan

Evidence-Based Health Promotion

 

B. CAPAIAN PEMBELAJARAN

Setelah menyelesaikan penugasan ini, mahasiswa mampu:

  1. Melakukan analisis situasi kesehatan masyarakat berdasarkan data.
  2. Mengidentifikasi masalah perilaku kesehatan masyarakat.
  3. Membedakan masalah kesehatan, perilaku, dan faktor determinan.
  4. Menganalisis faktor predisposing, enabling, dan reinforcing.
  5. Menentukan masalah prioritas menggunakan metode yang tepat.
  6. Mengidentifikasi kelompok sasaran primer, sekunder, dan tersier.
  7. Menyusun tujuan promosi kesehatan yang SMART.
  8. Merancang intervensi perubahan perilaku berbasis teori.
  9. Menentukan strategi komunikasi, pemberdayaan, advokasi, dan kemitraan.
  10. Menyusun indikator input, proses, output, outcome, dan dampak.
  11. Mengembangkan media promosi kesehatan yang sesuai karakteristik sasaran.
  12. Mempertahankan hasil analisis secara akademik melalui presentasi.

 

C. PETUNJUK KASUS

Studi Kasus:

“Kampung Sehat Mandiri: Perilaku Berisiko PTM pada Masyarakat Perkotaan”

Kelurahan Sehat Jaya merupakan wilayah perkotaan dengan jumlah penduduk 8.420 jiwa yang terdiri atas 2.315 kepala keluarga.

Wilayah tersebut memiliki:

  1. 1 puskesmas pembantu;
  2. 6 Posbindu PTM;
  3. 8 Posyandu;
  4. 1 lapangan olahraga;
  5. 12 kader kesehatan aktif;
  6. 4 kelompok PKK;
  7. 1 karang taruna;
  8. 37 warung makan;
  9. 18 minimarket/warung kelontong;
  10. 7 kedai minuman manis;
  11. 5 tempat penjualan rokok eceran.

Sebagian besar masyarakat bekerja sebagai pedagang, pekerja sektor informal, pengemudi, buruh, dan karyawan swasta.

Dalam tiga tahun terakhir, petugas kesehatan melihat peningkatan kasus hipertensi dan obesitas pada masyarakat usia produktif.

Puskesmas telah melakukan penyuluhan mengenai:

  1. diet rendah garam;
  2. aktivitas fisik;
  3. pemeriksaan tekanan darah;
  4. konsumsi sayur dan buah;
  5. berhenti merokok.

Namun, perubahan perilaku masyarakat belum menunjukkan hasil yang optimal.

 

D. DATA DEMOGRAFI MASYARAKAT

Survei cepat dilakukan terhadap 300 orang dewasa usia ≥18 tahun.

Karakteristik

n

%

Laki-laki

137

45,7

Perempuan

163

54,3

Usia 18–29 tahun

62

20,7

Usia 30–44 tahun

104

34,7

Usia 45–59 tahun

88

29,3

Usia ≥60 tahun

46

15,3

Pendidikan ≤SMP

73

24,3

Pendidikan SMA

157

52,3

Pendidikan perguruan tinggi

70

23,3

Bekerja

241

80,3

Tidak bekerja

59

19,7

 

E. DATA STATUS KESEHATAN

Hasil pemeriksaan dan wawancara:

Indikator

n

%

Hipertensi berdasarkan pengukuran

86

28,7

Pernah didiagnosis hipertensi

48

16,0

IMT ≥25 kg/m²

111

37,0

Obesitas sentral

96

32,0

Diabetes yang telah didiagnosis

27

9,0

Riwayat keluarga hipertensi

119

39,7

Tidak mengetahui tekanan darah terakhir

142

47,3

Data ini sengaja menunjukkan adanya kesenjangan antara penyakit yang terdeteksi melalui pengukuran dengan yang diketahui masyarakat. Fenomena tersebut juga relevan dengan SKI 2023, yang menunjukkan perbedaan besar antara hipertensi berdasarkan diagnosis dokter dan berdasarkan hasil pengukuran. (BKPK Health Policy)

 

F. DATA PERILAKU KESEHATAN

1. Aktivitas fisik

Perilaku

n

%

Aktivitas fisik cukup

179

59,7

Aktivitas fisik kurang

121

40,3

Tidak pernah olahraga teratur

98

32,7

Duduk >6 jam/hari

151

50,3

Alasan tidak melakukan aktivitas fisik:

Alasan

n

% dari 121

Tidak mempunyai waktu

64

52,9

Lelah setelah bekerja

23

19,0

Tidak ada teman

13

10,7

Tidak ada tempat yang nyaman

12

9,9

Tidak tahu olahraga yang sesuai

9

7,4

Sebagai pembanding, SKI 2023 mencatat 37,4% penduduk usia ≥10 tahun memiliki aktivitas fisik kurang, dan alasan yang banyak dilaporkan adalah tidak memiliki waktu. (BKPK Health Policy)

 

G. PERILAKU MAKAN

Konsumsi makanan/minuman berisiko

Perilaku

n

%

Makanan asin ≥1 kali/hari

174

58,0

Gorengan ≥3 kali/minggu

211

70,3

Makanan instan ≥3 kali/minggu

137

45,7

Minuman berpemanis ≥1 kali/hari

162

54,0

Makanan cepat saji ≥1 kali/minggu

119

39,7

Makan sayur setiap hari

143

47,7

Makan buah setiap hari

119

39,7

Konsumsi buah dan sayur sesuai anjuran

31

10,3

Data nasional SKI 2023 juga menunjukkan tingginya proporsi masyarakat yang kurang mengonsumsi buah dan sayur; 96,7% penduduk usia ≥5 tahun dikategorikan kurang mengonsumsi sayur dan buah berdasarkan kriteria survei tersebut. (BKPK Health Policy)

 

H. PERILAKU MEROKOK

Status

n

%

Perokok aktif

81

27,0

Mantan perokok

34

11,3

Tidak pernah merokok

185

61,7

Dari 81 perokok aktif:

  1. 63 orang merokok setiap hari;
  2. 18 orang merokok kadang-kadang;
  3. 52 orang mengonsumsi ≥10 batang/hari;
  4. 47 orang pernah mencoba berhenti;
  5. hanya 9 orang yang mengikuti program berhenti merokok.

Sebanyak 38% responden melaporkan terdapat anggota keluarga yang merokok di dalam rumah.

 

I. DATA PENGETAHUAN

Hasil wawancara pengetahuan:

Pernyataan

Benar

Salah/Tidak tahu

Hipertensi dapat terjadi tanpa gejala

56%

44%

Garam berlebihan dapat meningkatkan risiko hipertensi

71%

29%

Aktivitas fisik membantu mencegah PTM

82%

18%

Orang kurus tidak mungkin hipertensi

43%

57%

Merokok meningkatkan risiko PTM

88%

12%

Pemeriksaan tekanan darah perlu dilakukan walaupun tidak ada keluhan

61%

39%

Minuman manis berlebihan berisiko bagi kesehatan

74%

26%

Konsumsi sayur dan buah perlu dilakukan setiap hari

79%

21%

Temuan penting: pengetahuan masyarakat relatif cukup pada beberapa indikator, tetapi perilaku sehat belum konsisten.

 

J. DATA SIKAP

Dari 300 responden:

Sikap

Setuju

Tidak setuju

“Saya perlu mengurangi makanan asin”

78%

22%

“Saya perlu olahraga secara rutin”

84%

16%

“Berhenti merokok penting bagi kesehatan keluarga”

81%

19%

“Saya sulit mengubah kebiasaan makan”

67%

33%

“Saya tidak perlu periksa jika tidak ada keluhan”

38%

62%

“Makanan sehat lebih mahal”

72%

28%

“Olahraga membutuhkan waktu khusus”

69%

31%

 

K. DATA LINGKUNGAN DAN FAKTOR PENDUKUNG

Hasil observasi lingkungan:

  1. Tidak terdapat jalur khusus untuk berjalan kaki.
  2. Lapangan olahraga hanya dapat digunakan sampai pukul 17.00.
  3. Sebagian besar masyarakat bekerja hingga malam.
  4. Warung makanan lebih banyak menyediakan gorengan dan makanan asin.
  5. Minuman berpemanis mudah ditemukan.
  6. Rokok dijual secara eceran di hampir seluruh warung.
  7. Posbindu tersedia, tetapi jadwal belum sesuai dengan jam kerja masyarakat.
  8. Sistem pengingat kunjungan ulang penderita hipertensi belum berjalan optimal.
  9. Belum ada kelompok masyarakat khusus untuk aktivitas fisik usia produktif.
  10. Kader belum mendapatkan pelatihan konseling perubahan perilaku.

 

L. DATA PEMANFAATAN PELAYANAN KESEHATAN

Indikator

n

%

Pernah memeriksa tekanan darah dalam 1 tahun

184

61,3

Tidak pernah memeriksa tekanan darah

116

38,7

Penderita hipertensi yang kontrol teratur

31/86

36,0

Pernah mengikuti Posbindu

127

42,3

Mengetahui jadwal Posbindu

173

57,7

Mengetahui lokasi Posbindu

249

83,0

Pernah mendapatkan konseling PTM

151

50,3

 

M. DATA KUALITATIF

Hasil wawancara mendalam menghasilkan beberapa pernyataan masyarakat:

“Saya tahu makanan asin tidak baik, tetapi makanan di tempat kerja kebanyakan asin.”

“Kalau olahraga harus pagi, saya sudah berangkat kerja.”

“Saya sebenarnya mau berhenti merokok, tetapi teman kerja semuanya merokok.”

“Kalau tidak pusing, saya merasa tekanan darah saya normal.”

“Posbindu ada, tetapi waktunya tidak cocok dengan jam kerja.”

“Sayur dan buah sebenarnya bagus, tetapi lebih praktis makan gorengan.”

“Kalau ada kegiatan olahraga bersama mungkin saya mau ikut.”

 

 

N. TUGAS MAHASISWA

Berdasarkan data tersebut, mahasiswa WAJIB menyelesaikan 10 tahapan analisis berikut.

Tugas 1. Analisis Situasi

Identifikasi:

  1. Masalah kesehatan utama.
  2. Masalah perilaku utama.
  3. Faktor lingkungan.
  4. Faktor pelayanan kesehatan.
  5. Kelompok masyarakat yang paling berisiko.

Buat dalam bentuk problem tree.

Tugas 2. Identifikasi Perilaku Berisiko

Identifikasi minimal 5 perilaku kesehatan berisiko.

Contoh:

  1. konsumsi makanan asin;
  2. kurang aktivitas fisik;
  3. merokok;
  4. konsumsi minuman berpemanis;
  5. kurang konsumsi buah dan sayur;
  6. tidak melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin;
  7. tidak melakukan kontrol hipertensi.

Mahasiswa harus menunjukkan data yang mendukung setiap masalah.

 

Tugas 3. Analisis Determinan Perilaku

Gunakan pendekatan:

Predisposing factors

  1. pengetahuan;
  2. sikap;
  3. persepsi;
  4. keyakinan;
  5. motivasi.

Enabling factors

  1. fasilitas;
  2. akses;
  3. biaya;
  4. waktu;
  5. ketersediaan pelayanan;
  6. lingkungan fisik.

Reinforcing factors

  1. keluarga;
  2. teman;
  3. kader;
  4. tokoh masyarakat;
  5. petugas kesehatan;
  1. norma sosial.

Buat tabel:

Masalah perilaku

Predisposing

Enabling

Reinforcing

Kurang aktivitas fisik

...

...

...

Konsumsi asin

...

...

...

Merokok

...

...

...

Tidak kontrol hipertensi

...

...

...

Tugas 4. Analisis Teori Perubahan Perilaku

Mahasiswa memilih satu teori utama, misalnya:

  1. Health Belief Model;
  2. Theory of Planned Behavior;
  3. Social Cognitive Theory;
  4. Transtheoretical Model;
  5. PRECEDE-PROCEED.

Kemudian jelaskan:

Mengapa teori tersebut paling sesuai untuk kasus?

Selanjutnya petakan:

faktor masalah → konstruk teori → strategi intervensi.

 

Tugas 5. Menentukan Prioritas Masalah

Gunakan metode USG:

  1. U = Urgency
  2. S = Seriousness
  3. G = Growth

Skor 1–5.

Masalah

U

S

G

Total

Prioritas

Kurang aktivitas fisik

Konsumsi makanan asin

Merokok

Kurang buah/sayur

Tidak kontrol hipertensi

Mahasiswa harus memberikan argumentasi terhadap skor, bukan sekadar memberikan angka.

Tugas 6. Menetapkan Sasaran

Tentukan:

Sasaran primer

Siapa yang perilakunya harus berubah?

Sasaran sekunder

Siapa yang dapat memengaruhi sasaran primer?

Sasaran tersier

Siapa yang dapat membuat kebijakan atau menyediakan dukungan?

Contoh:

Primer: pekerja usia produktif dengan perilaku sedentari.

Sekunder: keluarga, teman kerja, kader.

Tersier: lurah, puskesmas, pengelola tempat kerja, tokoh masyarakat.

 

Tugas 7. Merumuskan Tujuan Intervensi

Buat minimal:

Tujuan umum

3–5 tujuan khusus

Tujuan harus menggunakan prinsip SMART.

Contoh:

Dalam waktu 3 bulan, proporsi masyarakat usia produktif yang melakukan aktivitas fisik minimal 150 menit per minggu meningkat dari 59,7% menjadi sekurang-kurangnya 75%.

 

Tugas 8. Merancang Intervensi Promosi Kesehatan

Mahasiswa harus membuat intervensi komprehensif, bukan hanya penyuluhan.

Minimal terdiri dari:

1. Edukasi

Contoh:

  1. kelas kesehatan;
  2. konseling;
  3. edukasi digital;
  4. video pendek.

2. Pemberdayaan

Contoh:

  1. kelompok aktivitas fisik;
  2. peer educator;
  3. kader perubahan perilaku.

3. Dukungan lingkungan

a.      Contoh:

  1. walking group;
  2. pojok buah;
  3. kampanye kantin sehat;
  4. kawasan tanpa rokok.

4. Kemitraan

Contoh:

  1. puskesmas;
  2. kelurahan;
  3. PKK;
  4. karang taruna;
  5. tempat kerja;
  6. pelaku usaha makanan.

5. Advokasi

Mahasiswa harus membuat policy brief 1–2 halaman yang ditujukan kepada lurah/camat.

 

Tugas 9. Pengembangan Media

Setiap kelompok wajib menghasilkan minimal satu media promosi kesehatan, misalnya:

  1. infografis;
  2. poster;
  3. video edukasi;
  4. konten Instagram;
  5. booklet;
  6. leaflet;
  7. podcast;
  8. motion graphic.

Media harus mencantumkan:

  1. sasaran;
  2. tujuan;
  3. pesan utama;
  4. call to action;
  5. sumber referensi.

 

Tugas 10. Monitoring dan Evaluasi

Buat matriks berikut:

Level

Indikator

Target

Sumber data

Input

Kader dilatih

≥20 orang

Daftar hadir

Proses

Kegiatan terlaksana

≥90%

Logbook

Output

Peserta mengikuti program

≥80%

Absensi

Outcome

Aktivitas fisik meningkat

≥75%

Kuesioner

Outcome

Konsumsi makanan asin menurun

≥20%

FFQ/kuesioner

Outcome

Kontrol hipertensi meningkat

≥70%

Register

Impact

Risiko PTM menurun

...

Survei


O. PRODUK AKHIR MAHASISWA

Setiap kelompok mengumpulkan:

1. Laporan analisis

15–20 halaman, terdiri atas:

  1. Cover
  2. Pendahuluan
  3. Analisis situasi
  4. Identifikasi masalah
  5. Analisis perilaku
  6. Analisis determinan
  7. Prioritas masalah
  8. Analisis teori
  9. Penetapan sasaran
  10. Tujuan intervensi
  11. Rancangan program
  12. Strategi komunikasi
  13. Pemberdayaan masyarakat
  14. Advokasi dan kemitraan
  15. Monitoring dan evaluasi
  16. Kesimpulan
  17. Daftar pustaka

2. Problem tree

3. Matriks prioritas masalah

4. Logic model/program framework

5. Media promosi kesehatan

6. Policy brief

 

P. PERTANYAAN ANALISIS TINGKAT TINGGI

Mahasiswa tidak cukup menjawab berdasarkan data secara deskriptif. Jawablah pertanyaan berikut secara argumentatif:

  1. Mengapa pengetahuan masyarakat yang relatif baik belum otomatis menghasilkan perilaku sehat?
  2. Apa perilaku yang paling berkontribusi terhadap masalah kesehatan dalam kasus tersebut?
  3. Apakah masalah utama masyarakat adalah kurangnya pengetahuan, motivasi, atau lingkungan yang tidak mendukung? Jelaskan berdasarkan data.
  4. Apakah penyuluhan merupakan intervensi yang paling tepat? Mengapa?
  5. Faktor apa yang paling sulit diubah?
  6. Siapa stakeholder yang paling berpengaruh?
  7. Bagaimana strategi pemberdayaan masyarakat yang realistis?
  8. Bagaimana mahasiswa dapat menghindari pendekatan “menyalahkan masyarakat”?
  9. Bagaimana teknologi digital dapat digunakan tanpa mengabaikan masyarakat yang memiliki keterbatasan akses digital?
  10. Bagaimana memastikan intervensi dapat berkelanjutan setelah program mahasiswa selesai?

 

Q. RUBRIK PENILAIAN

Komponen

Bobot

Analisis situasi

15%

Analisis masalah perilaku

15%

Analisis determinan

15%

Prioritas masalah

10%

Penggunaan teori

10%

Rancangan intervensi

15%

Media promosi kesehatan

10%

Monitoring & evaluasi

5%

Presentasi & argumentasi

5%

Total

100%

Kriteria utama

Sangat baik (85–100):

  1. analisis berbasis data;
  2. mampu menemukan akar masalah;
  3. menggunakan teori secara tepat;
  4. intervensi realistis;
  5. berbasis evidence;
  6. terdapat inovasi;
  7. indikator evaluasi terukur.

Baik (75–84):

  1. analisis cukup kuat;
  2. data digunakan;
  3. teori sesuai;
  4. intervensi cukup realistis.

Cukup (65–74):

  1. analisis masih deskriptif;
  2. hubungan masalah dan determinan belum kuat;
  3. intervensi masih dominan berupa penyuluhan.

Kurang (<65):

  1. tidak menggunakan data;
  2. masalah tidak jelas;
  3. tidak ada analisis akar masalah;
  4. intervensi tidak sesuai masalah.

 

R. TANTANGAN UNTUK MAHASISWA

Agar sesuai dengan karakter Sarjana Terapan, mahasiswa dilarang langsung membuat program “penyuluhan tentang hipertensi” tanpa melakukan analisis.

Mahasiswa harus mampu membuktikan:

DATA → MASALAH → PERILAKU → DETERMINAN → PRIORITAS → SASARAN → STRATEGI → INTERVENSI → INDIKATOR → EVALUASI

Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya belajar “apa masalah kesehatan masyarakat?”, tetapi belajar menjadi praktisi promosi kesehatan yang mampu mengambil keputusan berbasis data.

 

S. CATATAN DOSEN

Kasus ini sengaja dirancang dengan kesenjangan antara pengetahuan, sikap, lingkungan, dan perilaku. Ini merupakan titik penting dalam pembelajaran Promosi Kesehatan: perilaku kesehatan tidak dapat dijelaskan hanya oleh pengetahuan individu.

Data nasional juga memperlihatkan bahwa faktor risiko perilaku PTM meliputi merokok, kurang aktivitas fisik, konsumsi buah dan sayur yang rendah, serta konsumsi makanan asin. (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia)

Karena itu, jawaban mahasiswa yang hanya berbentuk:

“Solusinya adalah memberikan penyuluhan kepada masyarakat”

seharusnya mendapat nilai rendah, kecuali mahasiswa mampu menunjukkan bahwa penyuluhan memang merupakan bagian dari strategi yang lebih komprehensif.

Format pendekatan yang diharapkan:

Individu
→ edukasi + konseling + self-management

Keluarga
→ dukungan keluarga + perubahan pola makan rumah tangga

Kelompok
→ peer support + aktivitas fisik bersama

Komunitas
→ pemberdayaan kader + lingkungan sehat

Institusi
→ puskesmas + kelurahan + tempat kerja

Kebijakan
→ advokasi + regulasi + dukungan anggaran

Pendekatan seperti ini akan membuat penugasan jauh lebih sesuai dengan kompetensi Sarjana Terapan Promosi Kesehatan, karena mahasiswa dilatih menghasilkan solusi intervensi yang operasional, terukur, dan berbasis kebutuhan masyarakat, bukan sekadar membuat makalah teori.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar