STUDI KASUS
ANALISIS
SITUASI DAN IDENTIFIKASI MASALAH KESEHATAN MASYARAKAT
Mata Kuliah
Manajemen Promosi Kesehatan
/ Analisis Situasi Kesehatan Masyarakat
Program Studi
Sarjana Terapan Promosi
Kesehatan
Bentuk Penugasan
Case-Based Learning / Project-Based Learning
A. DESKRIPSI KASUS
Desa Sukamaju merupakan salah satu desa yang berada di wilayah kerja
Puskesmas Harapan Jaya, Kecamatan Sejahtera, Kabupaten Mandiri. Desa ini
berjarak sekitar 8 km dari ibu kota kecamatan dan dapat ditempuh dengan
kendaraan roda dua maupun roda empat.
Jumlah penduduk Desa Sukamaju pada tahun 2026 sebanyak 6.842 jiwa,
yang terdiri atas 3.401 laki-laki dan 3.441 perempuan. Sebagian besar
masyarakat bekerja sebagai pedagang, buruh, pekerja informal, petani, dan
karyawan swasta.
Dalam tiga tahun terakhir, petugas Puskesmas mengamati adanya
peningkatan kasus penyakit tidak menular, khususnya hipertensi dan diabetes
melitus. Di sisi lain, hasil pengamatan kader menunjukkan bahwa aktivitas fisik
masyarakat relatif rendah, konsumsi makanan tinggi garam dan gula cukup tinggi,
serta kebiasaan merokok masih banyak ditemukan pada laki-laki dewasa.
Puskesmas sebenarnya telah melaksanakan berbagai kegiatan promosi
kesehatan, antara lain Posbindu PTM, penyuluhan kesehatan, pemeriksaan tekanan
darah, pemeriksaan gula darah, senam bersama, dan edukasi mengenai pola makan
sehat.
Namun demikian, partisipasi
masyarakat masih rendah.
Kepala Puskesmas kemudian
meminta mahasiswa Sarjana Terapan Promosi Kesehatan yang sedang melaksanakan
praktik lapangan untuk melakukan:
- analisis situasi
kesehatan masyarakat;
- identifikasi
masalah kesehatan;
- analisis faktor
penyebab;
- penentuan prioritas
masalah;
- identifikasi
kelompok sasaran;
- merumuskan masalah
promosi kesehatan;
- menyusun
rekomendasi intervensi awal.
Mahasiswa tidak diperbolehkan langsung menentukan program/intervensi
sebelum melakukan analisis situasi dan penentuan prioritas masalah.
B. DATA UMUM WILAYAH
1. Data Demografi
|
Indikator |
Data |
|
Jumlah penduduk |
6.842 jiwa |
|
Laki-laki |
3.401 jiwa |
|
Perempuan |
3.441 jiwa |
|
Jumlah KK |
1.987 KK |
|
Jumlah RT |
42 RT |
|
Jumlah RW |
8 RW |
|
Balita |
486 |
|
Anak usia sekolah |
1.021 |
|
Remaja 10–19 tahun |
1.146 |
|
Dewasa 20–59 tahun |
3.421 |
|
Lansia ≥60 tahun |
768 |
|
Kepadatan penduduk |
1.245 jiwa/km² |
2. Karakteristik Pendidikan
|
Pendidikan terakhir |
Persentase |
|
Tidak tamat SD |
4,8% |
|
SD/sederajat |
27,6% |
|
SMP/sederajat |
25,4% |
|
SMA/sederajat |
32,1% |
|
Diploma/Sarjana |
10,1% |
3. Mata Pencaharian
|
Mata pencaharian |
Persentase |
|
Pedagang |
25,8% |
|
Buruh/pekerja informal |
21,4% |
|
Karyawan swasta |
18,2% |
|
Petani |
14,5% |
|
Ibu rumah tangga |
11,7% |
|
ASN/TNI/Polri |
3,4% |
|
Lainnya |
5,0% |
Hasil wawancara menunjukkan bahwa sebagian besar pedagang dan pekerja
informal bekerja antara 9–12 jam per hari.
C. DATA STATUS KESEHATAN
1. Tren Hipertensi
Data Puskesmas menunjukkan:
|
Tahun |
Jumlah penduduk diperiksa |
Ditemukan hipertensi |
Persentase |
|
2023 |
1.032 |
224 |
21,7% |
|
2024 |
1.245 |
302 |
24,3% |
|
2025 |
1.487 |
398 |
26,8% |
|
2026* |
1.126 |
323 |
28,7% |
*Data Januari–Juni 2026.
Petugas Puskesmas menyampaikan bahwa angka tersebut kemungkinan belum
menggambarkan seluruh kondisi masyarakat karena sebagian besar masyarakat tidak
melakukan pemeriksaan tekanan darah secara rutin.
Sebagai konteks nasional, SKI 2023 mencatat prevalensi hipertensi
berdasarkan pengukuran tekanan darah sebesar 29,2% pada penduduk ≥15 tahun,
sedangkan berdasarkan diagnosis dokter hanya sekitar 8%. Kesenjangan tersebut menunjukkan adanya masalah
deteksi dan kesadaran status hipertensi di masyarakat.
D. DATA DIABETES MELITUS
|
Tahun |
Kasus terdaftar |
|
2023 |
87 |
|
2024 |
102 |
|
2025 |
129 |
|
2026* |
143 |
*Januari–Juni 2026.
Dari wawancara dengan
petugas, peningkatan kasus antara lain dikaitkan dengan:
- pola makan tinggi
gula;
- konsumsi minuman
manis;
- aktivitas fisik
rendah;
- kelebihan berat
badan;
- keterlambatan
pemeriksaan;
- rendahnya kepatuhan kontrol pada sebagian
pasien.
E. DATA FAKTOR RISIKO
MASYARAKAT
Survei cepat dilakukan terhadap 400 penduduk usia ≥18 tahun.
Hasil survei:
|
Faktor risiko |
n |
% |
|
Merokok |
148 |
37,0% |
|
Kurang aktivitas fisik |
214 |
53,5% |
|
Konsumsi makanan asin ≥3
kali/minggu |
231 |
57,8% |
|
Konsumsi minuman manis ≥4
kali/minggu |
196 |
49,0% |
|
Konsumsi sayur kurang |
177 |
44,3% |
|
Konsumsi buah kurang |
202 |
50,5% |
|
IMT overweight |
102 |
25,5% |
|
IMT obesitas |
76 |
19,0% |
|
Obesitas sentral |
134 |
33,5% |
|
Tidak memeriksa tekanan darah >1 tahun |
188 |
47,0% |
|
Tidak mengetahui tekanan darah terakhir |
157 |
39,3% |
Faktor-faktor tersebut relevan dengan pengendalian hipertensi karena
Kementerian Kesehatan mengidentifikasi merokok, kurang aktivitas fisik, kurang
konsumsi sayur dan buah, serta konsumsi makanan asin sebagai perilaku yang
meningkatkan risiko hipertensi.
F. DATA PENGETAHUAN
MASYARAKAT
Dari 400 responden:
|
Pernyataan |
Menjawab benar |
|
Hipertensi dapat terjadi
tanpa gejala |
48,5% |
|
Tekanan darah perlu
diperiksa secara berkala |
61,0% |
|
Garam berlebihan meningkatkan risiko hipertensi |
64,5% |
|
Merokok meningkatkan risiko PTM |
72,0% |
|
Aktivitas fisik penting
untuk mencegah PTM |
68,5% |
|
Orang dengan hipertensi harus kontrol rutin |
58,3% |
|
Obat hipertensi harus
diminum sesuai anjuran tenaga kesehatan |
71,5% |
|
Mengetahui batas konsumsi
garam harian |
21,8% |
|
Mengetahui cara membaca
label kandungan natrium |
13,5% |
|
Mengetahui contoh
aktivitas fisik intensitas sedang |
34,0% |
Nilai rata-rata pengetahuan: 62,4%.
G. DATA PERILAKU
Hasil wawancara menunjukkan:
Pola makan
Sebagian besar masyarakat mengonsumsi:
- makanan gorengan;
- makanan siap saji;
- makanan instan;
- makanan dengan tambahan kecap/saus;
- makanan asin;
- minuman
berpemanis.
Sebanyak 57,8% responden
menyatakan mengonsumsi makanan asin sedikitnya tiga kali dalam seminggu.
Sebagian pedagang makanan
mengaku bahwa makanan dengan rasa lebih asin dan gurih lebih mudah diterima
konsumen.
Aktivitas fisik
Sebanyak 53,5% responden
masuk kategori kurang aktivitas fisik.
Alasan yang paling banyak disampaikan:
|
Alasan |
% |
|
Tidak mempunyai waktu |
42,5% |
|
Bekerja sepanjang hari |
28,0% |
|
Tidak ada tempat olahraga dekat rumah |
15,5% |
|
Tidak memiliki teman olahraga |
8,5% |
|
Tidak terbiasa |
5,5% |
H. DATA MEROKOK
Dari 400 responden:
- 148 orang
merupakan perokok aktif;
- 97 orang merokok
setiap hari;
- 51 orang merokok tidak setiap hari;
- 126 responden menyatakan terdapat anggota
keluarga yang merokok di rumah.
Sebanyak 41,5% perokok
mengatakan belum pernah mengikuti konseling berhenti merokok.
Alasan belum berhenti:
|
Alasan |
% |
|
Sudah menjadi kebiasaan |
46,2% |
|
Sulit berhenti |
31,1% |
|
Tidak merasa sakit |
14,5% |
|
Pengaruh teman/lingkungan |
8,2% |
I. DATA POSBINDU PTM
Desa memiliki 4 Posbindu
PTM.
Namun, berdasarkan data enam bulan terakhir:
|
Indikator |
Target |
Capaian |
|
Kehadiran sasaran |
70% |
38,5% |
|
Pemeriksaan tekanan darah |
70% |
44,2% |
|
Pemeriksaan gula darah |
60% |
32,8% |
|
Konseling faktor risiko |
60% |
29,5% |
|
Rujukan kasus berisiko |
80% |
61,0% |
|
Kunjungan ulang |
70% |
41,6% |
Kader menyampaikan bahwa kegiatan Posbindu biasanya dilakukan pada pagi
hari.
Hal tersebut menjadi masalah karena sebagian besar sasaran bekerja pada
pagi hingga sore hari.
J. DATA PELAYANAN
KESEHATAN
Puskesmas memiliki:
- 1 dokter;
- 3 perawat;
- 2 bidan;
- 1 tenaga promosi
kesehatan;
- 1 tenaga gizi;
- 1 tenaga kesehatan
lingkungan;
- 1 analis
laboratorium;
- 15 kader Posbindu
aktif.
Puskesmas telah melaksanakan:
- penyuluhan
hipertensi;
- pemeriksaan tekanan
darah;
- pemeriksaan gula
darah;
- Posbindu PTM;
- senam bersama;
- konseling pasien;
- kunjungan rumah
terbatas.
Namun, petugas mengakui bahwa sebagian besar kegiatan masih
berorientasi pada penyuluhan dan pemeriksaan, sementara kegiatan
perubahan lingkungan dan penguatan dukungan sosial belum optimal.
K. DATA LINGKUNGAN
Hasil observasi mahasiswa menunjukkan:
Lingkungan fisik
- hanya terdapat satu lapangan desa;
- lapangan sering
digunakan untuk parkir kendaraan;
- tidak tersedia jalur khusus pejalan kaki;
- fasilitas olahraga
masyarakat terbatas;
- beberapa jalan
tidak memiliki penerangan yang memadai;
- terdapat banyak
warung makanan dan minuman;
- makanan tinggi garam/gula mudah ditemukan.
Lingkungan sosial
Sebagian tokoh masyarakat
mendukung program kesehatan, tetapi belum terdapat forum rutin yang
mempertemukan:
- pemerintah desa;
- Puskesmas;
- kader;
- pedagang;
- sekolah;
- kelompok pemuda;
- kelompok perempuan;
- tokoh agama.
L. DATA SOSIAL DAN
PERSEPSI MASYARAKAT
Hasil wawancara mendalam
dengan 20 masyarakat menunjukkan beberapa persepsi:
“Kalau belum merasa pusing
atau sakit, saya merasa tidak perlu periksa.”
“Kalau pagi ada Posbindu,
saya sedang jualan.”
“Olahraga sebenarnya mau,
tetapi tidak ada tempat.”
“Makanan yang tidak asin
rasanya kurang enak.”
“Kalau berhenti merokok
susah, sudah bertahun-tahun.”
“Penyuluhan sudah sering,
tetapi setelah itu biasanya kembali lagi seperti biasa.”
Temuan tersebut menunjukkan
bahwa masalah kesehatan tidak hanya berkaitan dengan pengetahuan, tetapi
juga dengan faktor perilaku, kesempatan, lingkungan, dukungan sosial, dan
sistem pelayanan.
M. DATA PROGRAM YANG TELAH DILAKUKAN
Dalam dua tahun terakhir, Puskesmas telah melakukan:
|
Program |
Pelaksanaan |
Hasil |
|
Penyuluhan hipertensi |
6 kali/tahun |
Kehadiran rata-rata 35% |
|
Senam bersama |
2 kali/bulan |
Peserta rata-rata 25 orang |
|
Posbindu |
4 titik |
Kehadiran 38,5% |
|
Pemeriksaan tekanan darah |
Rutin |
Belum menjangkau pekerja |
|
Konseling |
Ada |
Belum terdokumentasi optimal |
|
Media edukasi |
Poster/leaflet |
Sebagian sudah tidak diperbarui |
|
Kunjungan rumah |
Terbatas |
Prioritas pasien risiko tinggi |
N. HASIL WAWANCARA DENGAN STAKEHOLDER
1. Kepala Desa
“Kami sebenarnya siap mendukung kegiatan kesehatan, tetapi perlu
program yang jelas dan tidak terlalu membebani anggaran desa.”
2. Kepala Puskesmas
“Masalahnya bukan hanya
masyarakat tidak tahu. Banyak yang sudah tahu hipertensi berbahaya, tetapi
perilakunya belum berubah.”
3. Kader
“Kami kesulitan mengajak
warga karena waktunya bersamaan dengan jam kerja.”
4. Pedagang makanan
“Kalau makanan dikurangi
garam dan penyedap, pelanggan kadang komplain.”
5. Kelompok pemuda
“Anak muda lebih tertarik kegiatan yang praktis dan menggunakan media
sosial.”
O. TUGAS MAHASISWA
Berdasarkan seluruh data
tersebut, mahasiswa diminta melakukan analisis situasi kesehatan masyarakat
secara sistematis.
Tugas 1. Analisis Situasi
Analisis kondisi Desa
Sukamaju berdasarkan:
- demografi;
- sosial-ekonomi;
- status kesehatan;
- faktor risiko;
- perilaku kesehatan;
- lingkungan fisik;
- lingkungan sosial;
- pelayanan kesehatan;
- sumber daya
masyarakat;
- program kesehatan
yang telah berjalan.
Output:
Buat tabel:
|
Domain |
Temuan utama |
Data pendukung |
Interpretasi |
|
Demografi |
|||
|
Epidemiologi |
|||
|
Perilaku |
|||
|
Lingkungan |
|||
|
Pelayanan |
|||
|
Sosial |
|||
|
Program |
TUGAS 2. IDENTIFIKASI MASALAH KESEHATAN
Identifikasi minimal 5 masalah kesehatan atau masalah promosi
kesehatan berdasarkan data.
Contoh format:
|
No |
Masalah |
Data pendukung |
Besarnya masalah |
Kelompok terdampak |
|
1 |
||||
|
2 |
||||
|
3 |
||||
|
4 |
||||
|
5 |
Mahasiswa tidak boleh
hanya menuliskan “hipertensi” sebagai masalah.
Masalah harus dirumuskan
secara lebih operasional, misalnya:
“Rendahnya deteksi dini dan
pengendalian faktor risiko hipertensi pada masyarakat usia produktif.”
TUGAS 3. ANALISIS
KESENJANGAN
Identifikasi kesenjangan
antara:
kondisi ideal → kondisi
aktual → gap
Contoh:
|
Indikator |
Kondisi ideal |
Kondisi aktual |
Gap |
|
Kehadiran Posbindu |
70% |
38,5% |
31,5% |
|
Pemeriksaan tekanan darah |
70% |
44,2% |
25,8% |
|
Konseling faktor risiko |
60% |
29,5% |
30,5% |
|
Kunjungan ulang |
70% |
41,6% |
28,4% |
Mahasiswa diminta menemukan minimal
5 gap.
TUGAS 4. PENENTUAN
PRIORITAS MASALAH
Gunakan salah satu metode
berikut:
Alternatif A — Metode USG
- U = Urgency
- S = Seriousness
- G = Growth
Skor 1–5.
|
Masalah |
U |
S |
G |
Total |
Prioritas |
|
Masalah 1 |
|||||
|
Masalah 2 |
|||||
|
Masalah 3 |
|||||
|
Masalah 4 |
|||||
|
Masalah 5 |
Alternatif B — Hanlon
Mahasiswa dapat menggunakan:
PEARL + Magnitude + Seriousness + Effectiveness
Jika menggunakan Hanlon,
mahasiswa harus menjelaskan alasan setiap skor.
TUGAS 5. ANALISIS AKAR MASALAH
Untuk masalah prioritas, gunakan:
Fishbone Analysis
Analisis minimal berdasarkan:
- Man
- Method
- Material
- Money
- Environment
- Management
Contoh:
Masalah utama:
Rendahnya partisipasi masyarakat usia produktif dalam Posbindu PTM.
Kemungkinan akar masalah:
Man
- masyarakat sibuk
bekerja;
- persepsi risiko
rendah;
- belum merasa
membutuhkan pemeriksaan.
Method
- kegiatan dilakukan
pagi hari;
- metode edukasi kurang sesuai sasaran;
- belum ada pendekatan jemput bola.
Material
- media edukasi
kurang menarik;
- informasi belum disesuaikan dengan kebutuhan
pekerja.
Environment
- tidak tersedia ruang aktivitas fisik yang
memadai;
- lingkungan pangan
kurang mendukung.
Management
- jadwal belum
fleksibel;
- koordinasi lintas sektor belum optimal.
TUGAS 6. ANALISIS
DETERMINAN PERILAKU
Gunakan salah satu
teori/model:
Pilihan 1
PRECEDE–PROCEED
Pilihan 2
Health Belief Model
Pilihan 3
Social Cognitive Theory
Pilihan 4
Lawrence Green
Mahasiswa harus menjelaskan:
- faktor
predisposisi;
- faktor pemungkin;
- faktor penguat;
- perilaku yang
menjadi masalah;
- faktor lingkungan;
- faktor pelayanan.
TUGAS 7. IDENTIFIKASI
SASARAN
Tentukan:
Sasaran primer
Siapa yang perilakunya perlu
berubah?
Sasaran sekunder
Siapa yang dapat memengaruhi
sasaran primer?
Sasaran tersier
Siapa yang mempunyai
kewenangan membuat kebijakan atau menyediakan dukungan?
Gunakan format:
|
Sasaran |
Karakteristik |
Masalah |
Kebutuhan |
Strategi pendekatan |
|
Primer |
||||
|
Sekunder |
||||
|
Tersier |
TUGAS 8. RUMUSAN MASALAH
PROMOSI KESEHATAN
Buat rumusan masalah
menggunakan formula:
WHO + WHAT + WHERE + WHEN + EVIDENCE
Contoh:
“Pada tahun 2026, masyarakat usia produktif di Desa Sukamaju
menunjukkan rendahnya pemanfaatan Posbindu PTM dan pemeriksaan faktor risiko
penyakit tidak menular, yang ditunjukkan oleh tingkat kehadiran Posbindu hanya
38,5% serta 47% responden tidak melakukan pemeriksaan tekanan darah lebih dari
satu tahun.”
Mahasiswa harus membuat minimal 3 alternatif rumusan masalah
kemudian memilih satu yang paling prioritas.
TUGAS 9. ANALISIS MASALAH
PROMOSI KESEHATAN
Mahasiswa harus membedakan:
Masalah kesehatan
Contoh:
- hipertensi
meningkat;
- diabetes meningkat;
- obesitas;
- merokok.
Masalah perilaku
Contoh:
- kurang aktivitas
fisik;
- konsumsi makanan
asin;
- konsumsi minuman
manis;
- tidak melakukan
pemeriksaan rutin.
Masalah lingkungan
Contoh:
- keterbatasan
fasilitas aktivitas fisik;
- lingkungan pangan
kurang sehat;
- belum ada dukungan
kebijakan.
Masalah pelayanan
Contoh:
- Posbindu belum
menjangkau pekerja;
- jadwal tidak sesuai karakteristik sasaran;
- tindak lanjut
belum optimal.
TUGAS 10. MEMBUAT POHON
MASALAH
Mahasiswa menyusun:
Dampak
⬆
Masalah utama
⬆
Penyebab langsung
⬆
Penyebab tidak langsung
⬆
Akar masalah
Pohon masalah harus didukung
oleh data, bukan hanya asumsi.
TUGAS 11. IDENTIFIKASI KEBUTUHAN DATA TAMBAHAN
Mahasiswa harus menentukan data apa yang masih kurang.
Contoh:
- data kepatuhan
minum obat;
- data tekanan darah berdasarkan kelompok umur;
- data konsumsi
natrium;
- data akses
terhadap fasilitas olahraga;
- data dukungan
keluarga;
- data persepsi
masyarakat;
- data kualitas
pelaksanaan Posbindu;
- data dukungan
pemerintah desa;
- data karakteristik
pedagang makanan.
Buat tabel:
|
Data yang diperlukan |
Alasan |
Sumber data |
Metode pengumpulan |
TUGAS 12. MENYUSUN REKOMENDASI AWAL
Setelah seluruh analisis selesai, mahasiswa menyusun rekomendasi.
Rekomendasi minimal mencakup:
- perubahan
perilaku;
- komunikasi
kesehatan;
- pemberdayaan
masyarakat;
- penguatan
Posbindu;
- dukungan keluarga;
- lingkungan sehat;
- kemitraan;
- advokasi
kebijakan.
Catatan penting: rekomendasi harus sesuai dengan masalah yang
ditemukan dan tidak boleh berupa kegiatan yang tidak mempunyai hubungan dengan
hasil analisis.
P. PERTANYAAN ANALISIS TINGKAT LANJUT
Untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis mahasiswa, jawab
pertanyaan berikut.
1.
Apakah hipertensi merupakan masalah utama atau hanya salah satu dampak
dari masalah yang lebih mendasar?
2.
Apakah rendahnya pengetahuan
merupakan penyebab utama rendahnya perilaku sehat? Jelaskan berdasarkan data.
3.
Mengapa masyarakat yang
sudah mengetahui bahaya hipertensi masih melakukan perilaku berisiko?
4.
Apakah penyuluhan tambahan
merupakan intervensi yang paling tepat? Berikan argumentasi.
5.
Mengapa jadwal Posbindu
dapat menjadi faktor penyebab rendahnya cakupan?
6.
Apa hubungan antara
lingkungan pangan dengan hipertensi?
7.
Siapa stakeholder paling
strategis untuk dilibatkan?
8.
Apa masalah yang dapat
diselesaikan melalui promosi kesehatan dan apa yang membutuhkan intervensi
sektor lain?
9.
Jika hanya tersedia anggaran
terbatas, masalah mana yang harus diprioritaskan?
10.
Apakah mahasiswa memiliki
cukup data untuk langsung merancang intervensi? Jika belum, data apa
yang masih diperlukan?
Q. PRODUK AKHIR PENUGASAN
Mahasiswa menghasilkan satu
laporan analisis situasi dengan sistematika:
BAB I PENDAHULUAN
- Latar belakang
- Tujuan
- Manfaat
BAB II GAMBARAN WILAYAH
- Demografi
- Sosial ekonomi
- Kondisi lingkungan
- Sumber daya
kesehatan
- Situasi pelayanan
kesehatan
BAB III ANALISIS SITUASI
- Status kesehatan
- Faktor risiko
- Perilaku
- Lingkungan
- Pelayanan kesehatan
- Program yang telah
berjalan
BAB IV IDENTIFIKASI DAN PRIORITAS MASALAH
- Identifikasi
masalah
- Analisis
kesenjangan
- Prioritas masalah
- Analisis akar
masalah
- Analisis
determinan perilaku
- Sasaran
BAB V REKOMENDASI
- Masalah prioritas
- Sasaran prioritas
- Rekomendasi
strategi
- Stakeholder
- Kebutuhan data
tambahan
BAB VI KESIMPULAN
R. RUBRIK PENILAIAN
|
Komponen |
Bobot |
|
Analisis situasi |
20% |
|
Ketepatan identifikasi masalah |
15% |
|
Penggunaan data |
15% |
|
Analisis prioritas masalah |
15% |
|
Analisis akar masalah |
15% |
|
Analisis determinan/perilaku |
10% |
|
Ketepatan sasaran |
5% |
|
Rekomendasi |
5% |
|
Total |
100% |
Kriteria unggul
Mahasiswa memperoleh nilai tinggi apabila:
- menggunakan data
secara tepat;
- mampu membedakan masalah kesehatan, perilaku,
lingkungan, dan pelayanan;
- tidak menyamakan gejala dengan akar masalah;
- mampu menunjukkan
hubungan antarvariabel;
- menggunakan teori
promosi kesehatan;
- mampu menentukan
prioritas berdasarkan kriteria objektif;
- memberikan
argumentasi berbasis data;
- tidak langsung melompat pada solusi;
- mampu
mengidentifikasi data yang masih kurang;
- mampu merumuskan
masalah secara spesifik dan terukur.
Nama : Siti Sarah Amelia
BalasHapusNim : P3.73.24.3.25.047
Kelas : 2A
Menurut saya, kasus ini menarik karena menunjukkan bahwa masalah kesehatan tidak cukup diselesaikan hanya dengan penyuluhan. Masyarakat sebenarnya sudah cukup mengetahui bahaya hipertensi dan penyakit tidak menular, tetapi masih terkendala kebiasaan, waktu, lingkungan, dan kurangnya akses terhadap kegiatan kesehatan. Karena itu, promosi kesehatan sebaiknya tidak hanya memberikan edukasi, tetapi juga melibatkan masyarakat dan menyesuaikan program dengan kondisi mereka.
Nama:Venaaisha Chalisa Kurniawan
BalasHapusNim:P3..73.24.3.25.048
Kelas 2A
kasus ini sangat menarik, dan sangat informatif, bahwa jika ada suatu masalah kesehatan tidak bisa hanya di selesaikan dengan penyuluhan saja
Nama: Keyshia Olivia
BalasHapusKelas: 2A
Nim: P3.73.24.3.25.026
Kasus Desa Sukamaju ini cukup menarik karena sebenarnya program kesehatan sudah ada, tapi hasilnya masih belum maksimal. Jadi, dari kasus ini bisa dilihat kalau penyuluhan saja belum tentu cukup untuk mengubah perilaku masyarakat karena masih ada faktor lain yang memengaruhi.
Nama: Rifqa Shabira Nur Aulia
BalasHapusNIM: P3.73.24.3.25.043
Kelas: 2A
Menurut saya, kasus ini sangat menarik dan informatif karena membahas masalah hipertensi yang cukup dekat dengan kehidupan masyarakat. Dari kasus ini terlihat bahwa hipertensi tidak hanya disebabkan oleh kurangnya pengetahuan, tetapi juga pola makan, kurangnya aktivitas fisik, dan kebiasaan masyarakat. Menurut saya, program dari Puskesmas juga perlu lebih disesuaikan dengan kondisi masyarakat agar partisipasinya meningkat.
Nama: Kaisyyah Fahmi
BalasHapusNIM: P3.73.24.3.25.023
Kelas: 2A
Menurut saya, kasus Desa Sukamaju menunjukkan bahwa masalah kesehatan yang terjadi bukan hanya disebabkan oleh kurangnya pelayanan kesehatan, tetapi juga rendahnya partisipasi masyarakat dalam memanfaatkan program promosi kesehatan yang sudah tersedia.
Nama : Hanina Nayara Syafa
BalasHapusNIM : P3.73.24.3.25.018
Kelas : 2A
Kasus ini menarik banget karena mengangkat masalah riil di masyarakat. Yang paling krusial di sini bukan sekadar warga kurang tahu, tapi ada gap besar antara pengetahuan dan perilaku akibat faktor jam kerja pekerja informal yang panjang (9–12 jam/hari). Jadi solusinya emang gak bisa cuma penyuluhan biasa, tapi harus ubah strategi pelayanan ke sistem jemput bola ke lokasi kerja warga.
Nama: Addien Eza Firdaus
BalasHapusNIM: P3.73.24.3.25.001
Kelas: 2A
Menurut saya, kasus ini sangat menarik dan informatif karena membahas masalah hipertensi yang cukup dekat dengan kehidupan masyarakat. Dari kasus ini terlihat bahwa hipertensi tidak hanya disebabkan oleh kurangnya pengetahuan, tetapi juga pola makan, kurangnya aktivitas fisik, dan kebiasaan masyarakat. Menurut saya, program dari Puskesmas juga perlu lebih disesuaikan dengan kondisi masyarakat agar partisipasinya meningkat.
Nama: Lahrazakia Putri Nayla
BalasHapusNIM: P3.73.24.3.25.027
Kelas: 2A
Menurut saya, kasus ini cukup menarik karena program dari Puskesmas sebenarnya sudah ada, tetapi masyarakatnya yang masih kurang aktif. Jadi, tantangannya bukan hanya menyediakan program, tetapi bagaimana membuat masyarakat mau ikut dan menerapkan pola hidup sehat dalam kesehariannya.
Nama : Ezzah Az Zahra
BalasHapusNim : P3.73.24.3.25.015
Kelas : 2A
Menurut saya, kasus yang Bapak berikan ini menarik karena menunjukkan bahwa masalah kesehatan bukan hanya karena masyarakat kurang tahu. Walaupun sebagian masyarakat sudah mengetahui bahaya hipertensi, masih ada kebiasaan seperti makan makanan asin, kurang aktivitas fisik, dan merokok yang sulit diubah. Selain itu, jadwal Posbindu yang dilakukan pagi hari juga kurang sesuai dengan waktu kerja masyarakat. Jadi, menurut saya, promosi kesehatan tidak cukup hanya dengan penyuluhan, tetapi juga perlu menyesuaikan kegiatan dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat agar masyarakat lebih mudah ikut serta dan menerapkan pola hidup sehat.
Nama: Zahra Nadhifa Hakim
BalasHapusNIM: P3.73.24.3.25.049
Kelas: 2A
Materi studi kasus ini sangat membantu dalam memahami bagaimana cara melakukan analisis situasi dan mengidentifikasi masalah kesehatan masyarakat secara sistematis. Data dan kasus yang diberikan juga memudahkan kami dalam memahami tahapan analisis, mulai dari melihat kondisi kesehatan masyarakat, menemukan masalah, hingga menganalisis kesenjangan
Nama: Chaidir Ali Ahmad
BalasHapusNIM: P3.73.24.3.25.010
Kelas: 2A
Menurut saya, kasus ini sangat menarik dan informatif karena membahas masalah hipertensi yang cukup dekat dengan kehidupan masyarakat. Dari kasus ini terlihat bahwa hipertensi tidak hanya disebabkan oleh kurangnya pengetahuan, tetapi juga pola makan, kurangnya aktivitas fisik, dan kebiasaan masyarakat. Menurut saya, program dari Puskesmas juga perlu lebih disesuaikan dengan kondisi masyarakat agar partisipasinya meningkat
Nama: Hannah Lidya
BalasHapusNIM: P3.73.24.3.25.019
Kelas: 2A
Kasus Desa Sukamaju ini sangat menarik karena berhasil menggambarkan realita masalah kesehatan masyarakat yang serba terhubung: tingginya risiko penyakit tidak menular seperti hipertensi dan diabetes terbukti dipicu oleh kombinasi gaya hidup tidak sehat, rendahnya literasi gizi, serta program skrining puskesmas yang kurang efektif akibat terbentur jam kerja padat para pekerja informal.
Nama: Aryoseto Enovika Pramudya
BalasHapusNIM: P3.73.24.3.25.007
Kelas: 2A
Menurut saya, kasus Desa Sukamaju menunjukkan bahwa masalah peningkatan penyakit tidak menular seperti hipertensi dan diabetes tidak hanya disebabkan oleh faktor individu, tetapi juga berkaitan dengan pola hidup dan rendahnya partisipasi masyarakat dalam kegiatan promosi kesehatan. Meskipun Puskesmas sudah melaksanakan berbagai kegiatan seperti Posbindu PTM, penyuluhan, pemeriksaan kesehatan, dan senam bersama, kegiatan tersebut belum cukup efektif apabila masyarakat belum memiliki kesadaran dan motivasi untuk berpartisipasi. Oleh karena itu, menurut saya diperlukan pendekatan promosi kesehatan yang lebih melibatkan masyarakat, misalnya dengan menyesuaikan kegiatan dengan kondisi, kebutuhan, dan kebiasaan masyarakat setempat, serta meningkatkan peran kader dan tokoh masyarakat agar program kesehatan lebih diterima dan berkelanjutan.
Nama : Saskia Zahra Irawan
BalasHapusNim : P3.73.24.3.25.045
kelas : 2A
Studi kasusnya cukup menggambarkan bahwa masalah kesehatan masyarakat itu saling berkaitan, bukan hanya soal pengetahuan. Menurut saya, analisis situasi dan penentuan prioritas memang penting dilakukan sebelum menentukan solusi agar intervensi yang diberikan benar-benar sesuai dengan masalah di masyarakat.
Nama : Silvi Dwi Cahyani
BalasHapusNIM : P3.73.24.3.25.046
Kelas : 2A
Menurut saya, kasus Desa Sukamaju menunjukkan bahwa masalah kesehatan tidak hanya disebabkan oleh kurangnya pengetahuan masyarakat, tetapi juga dipengaruhi oleh kebiasaan, lingkungan, dan akses terhadap pelayanan kesehatan. Oleh karena itu, program kesehatan perlu disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat agar lebih efektif.
Kayysha Fitria Rizki/2A
BalasHapus(P3.73.24.3.25.024)
melihat penyajian materi studi kasus ini sangat sistematis dan sangat membantu proses belajar saya dan teman-teman karena struktur alurnya yang runtut dan jelas. penyajian materi studi kasus ini juga berhasil mengintegrasikan berbagai jenis data, mulai dari aspek demografi, status kesehatan, faktor risiko perilaku, hingga tingkat pengetahuan masyarakat, sehingga kami sebagai pembaca bisa dengan mudah melihat gambaran utuh dari masalah kesehatan yang ada di desa Sukamaju.
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusMuhammad Danish Bastian Rachmanto
BalasHapusNim: P3.73.24.3.25.030
Kelas: 2A Promosi Kesehatan
Kasus ini cukup menarik karena menunjukkan bahwa masalah kesehatan di masyarakat tidak hanya disebabkan oleh kurangnya pengetahuan. Ada kesenjangan antara apa yang warga ketahui dan bagaimana mereka menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu penyebab utamanya adalah jam kerja pekerja informal yang cukup panjang, sekitar 9–12 jam per hari. Karena itu, pendekatannya tidak cukup hanya melalui penyuluhan, tetapi perlu dilakukan dengan mendatangi langsung tempat kerja warga agar pelayanan dan edukasi lebih mudah mereka akses.
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusNama : Neisya Aulia Ahmad
BalasHapusNim :P3.73.24.3.25.038
Kelas : 2A
Menurut saya, studi kasus Desa Sukamaju sangat menarik karena menunjukkan bahwa dalam menangani masalah kesehatan masyarakat, kita tidak bisa hanya melihat tingginya kasus hipertensi atau diabetes sebagai masalah utama. Diperlukan analisis yang lebih menyeluruh terhadap faktor perilaku, lingkungan, pelayanan kesehatan, serta kondisi sosial masyarakat. Data pada kasus ini juga menunjukkan adanya kesenjangan antara pengetahuan masyarakat dengan perilaku kesehatan dan pemanfaatan layanan. Oleh karena itu, penentuan prioritas masalah menjadi penting agar intervensi promosi kesehatan yang dilakukan benar-benar sesuai dengan kebutuhan dan kondisi masyarakat.
Nama: Siti Khairin Azmatun Hadijah
BalasHapusNim: P3.73.24.3.25.144
Kelas: 2C
Menurut saya, pembahasan studi kasus ini sudah cukup jelas karena didukung oleh berbagai data tentang kondisi kesehatan masyarakat, faktor risiko, perilaku, dan pelayanan kesehatan. Studi kasus ini juga menunjukkan bahwa permasalahan kesehatan dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan, sehingga penanganannya membutuhkan pendekatan yang menyeluruh.
Nama: Azizah Sri Mulyawati
BalasHapusNim: P3.73.24.3.25.104
Kelas: 2C
Menurut saya, studi kasus ini cukup menarik karena pembahasannya menggambarkan kondisi kesehatan masyarakat secara nyata melalui data dan berbagai faktor yang memengaruhinya. Selain itu, kasus ini juga memperlihatkan bahwa masalah kesehatan tidak hanya berkaitan dengan individu, tetapi juga dipengaruhi oleh lingkungan, pola hidup, dan dukungan pelayanan kesehatan.
Menurut saya, analisis dalam studi kasus ini sudah bagus karena disusun secara sistematis mulai dari identifikasi masalah, pengumpulan data, hingga pemberian rekomendasi, sehingga mampu memberikan gambaran yang jelas tentang situasi di lapangan dan membantu dalam pengambilan keputusan.
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusMateri studi kasus Desa Sukamaju sudah disusun secara sistematis, mulai dari data demografi, status kesehatan, faktor risiko, perilaku, lingkungan, pelayanan kesehatan, hingga data persepsi masyarakat. Materi ini juga bagus karena mahasiswa tidak langsung diarahkan membuat intervensi, tetapi harus mengidentifikasi masalah, menentukan prioritas, mencari akar masalah, dan menganalisis determinan perilaku terlebih dahulu.
BalasHapusKhayla Nadhifa 2C Promkes (P3.73.24.3.25.122)
BalasHapusMasalah utama di Desa Sukamaju bukan hanya banyak orang kena hipertensi/diabetes, tapi warga (terutama yang bekerja) jarang ikut cek kesehatan dan sulit ubah kebiasaan karena waktu Posbindu tidak cocok, makanan asin/manis mudah didapat, dan tempat olahraga kurang.
Nama : Maitsaa Salwa Suargana
BalasHapusKelas : 2A
Nim : P3.73.24.3.25.028
Kasus ini menarik karena menunjukkan kontras antara kelengkapan program Puskesmas dan tingginya kasus PTM akibat rendahnya partisipasi warga, sehingga mahasiswa tidak hanya dituntut mengolah data tetapi juga membongkar akar masalah untuk merancang strategi promosi kesehatan yang relevan dengan rutinitas masyarakat lokal.
Nama: Keisya Danayela
BalasHapusKelas: 2C
NIM: P3.73.224.3.25.120
Materi ini sangat baik, sistematis, dan berbasis data nyata, mendorong analisis mendalam sebelum menentukan solusi. Namun data belum lengkap (belum ada rincian usia, jenis kelamin, ekonomi), aspek sosial-budaya dan lingkungan belum cukup dalam, serta belum ada panduan pengajar. Disarankan melengkapi data, memperkaya aspek sosial-lingkungan, dan menambah panduan agar lebih sempurna.
2A_03_Aindyra Arsyla Sari
BalasHapusMenurut saya, sebelum menentukan intervensi, penting juga untuk mengetahui kenapa masyarakat kurang berpartisipasi dalam kegiatan Puskesmas. Bisa jadi karena waktu kegiatan tidak sesuai, kurangnya informasi, atau masyarakat merasa belum membutuhkan pemeriksaan kesehatan. Jadi penyebab rendahnya partisipasi ini perlu digali lebih dalam.
Adilla Marwa Hanifah Hasibuan
BalasHapusP3.73.24.3.25.002
Menurut saya, kalau dilihat dari kasusnya, masalah PTM di Desa Sukamaju cukup kompleks karena dipengaruhi beberapa kebiasaan masyarakat, seperti kurang aktivitas fisik, pola makan, dan merokok. Jadi menurut saya, intervensinya juga nggak bisa cuma berupa penyuluhan, tapi perlu pendekatan yang lebih sesuai dengan kebiasaan masyarakat.
Nisrina Arsilia
BalasHapusP3.73.24.3.25.039
Menurut saya, kasus Desa Sukamaju menunjukkan bahwa masalah kesehatan tidak hanya disebabkan oleh kurangnya pengetahuan masyarakat, tetapi juga dipengaruhi oleh kebiasaan, lingkungan, dan akses terhadap pelayanan kesehatan. Oleh karena itu, program kesehatan perlu disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat agar lebih efektif.
Naya Sauma Bratandari
BalasHapusP3.73.24.3.25.037
kasus yang sangat menarik untuk dipelajari. Sangat informatif dan mudah dipahami. Saya jadi paham terkait masalah kesehatan yang pastinya tidak hanya disebabkan oleh satu faktor saja, tetapi banyak faktor penyebab lainnya.
Dewi Bunga Endah Gita Nurcahyani
BalasHapusP3.73.24.3.25.012
Menurut saya, masalah kesehatan di Desa Sukamaju tidak hanya disebabkan oleh kurangnya pengetahuan masyarakat. Data menunjukkan bahwa masyarakat sebenarnya sudah mengetahui beberapa risiko penyakit, tetapi masih mengalami hambatan dalam menerapkan perilaku sehat. Oleh karena itu, upaya promosi kesehatan perlu memperhatikan kebiasaan, lingkungan, serta akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan.
Dina putri apriliani
BalasHapusP3.73.24.3.25.013
Menurut saya, kasus Desa Sukamaju cukup kompleks karena masalah PTM tidak hanya disebabkan oleh kurangnya pengetahuan, tetapi juga dipengaruhi oleh perilaku, lingkungan, waktu kerja masyarakat, dan pelayanan kesehatan. Data menunjukkan bahwa hipertensi dan diabetes terus meningkat, sementara partisipasi Posbindu masih rendah. Hal yang menarik adalah masyarakat sebenarnya sudah cukup mengetahui bahaya PTM, tetapi pengetahuan tersebut belum sepenuhnya berubah menjadi perilaku sehat. Karena itu, analisis perlu lebih menekankan pada akar masalah dan hambatan yang membuat masyarakat sulit menerapkan perilaku sehat, bukan hanya menambah kegiatan penyuluhan.
Nama : Maulidia Nur Ihsani
BalasHapusKelas : 2A Promosi Kesehatan
NIM : P3.73.24.3.25.029
Menurut saya, masalah utama di Desa Sukamaju bukanlah ketidaktahuan warga, melainkan ketidaksesuaian antara jadwal layanan Puskesmas dengan pola kerja masyarakat, seperti pelaksanaan Posbindu pagi hari yang berbenturan dengan jam kerja pedagang dan buruh (9–12 jam/hari). Ditambah minimnya fasilitas fisik olahraga serta persepsi keliru bahwa pemeriksaan hanya perlu dilakukan saat tubuh mulai terasa sakit.
Nama : Wildana Azka Aulya
BalasHapusNim : P3.73.24.3.25.147
Menurut saya, studi kasus ini cukup baik karena mampu menggambarkan permasalahan kesehatan secara nyata melalui data yang disajikan. Pembahasannya juga memperlihatkan bahwa kondisi kesehatan masyarakat dipengaruhi oleh berbagai aspek, mulai dari pola hidup hingga lingkungan dan pelayanan kesehatan.
Nama: Mutiara Haura Annisa Anjany(P3.73.24.3.25.032)
BalasHapusKelas: 2A Promkes
kasus ini menunjukkan bahwa hipertensi dipengaruhi oleh perilaku, lingkungan, dan pelayanan kesehatan, sehingga perlu dianalisis sebelum menentukan solusi.
Nama: Muhammad Satrio Fathin
BalasHapusNIM: P3.73.24.3.25.031
Kelas: 2A Promosi Kesehatan
Menurut saya, kasus ini menunjukkan bahwa upaya mengatasi masalah kesehatan tidak cukup hanya melalui penyuluhan. Meskipun masyarakat sudah mendapatkan informasi mengenai bahaya hipertensi dan penyakit tidak menular, penerapannya dalam kehidupan sehari-hari masih menghadapi berbagai hambatan, seperti kebiasaan yang sulit diubah, keterbatasan waktu, kondisi lingkungan, serta rendahnya partisipasi dalam kegiatan kesehatan. Oleh karena itu, promosi kesehatan perlu dilakukan secara lebih menyeluruh, tidak hanya berfokus pada pemberian informasi, tetapi juga melibatkan masyarakat serta menyesuaikan kegiatan dengan kebutuhan, kondisi, dan aktivitas masyarakat.
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusNama: Irhas Baihaqi Alfarisi
BalasHapusNIM: P3.73.24.3.25.022
Kelas: 2A
Materi ini sangat baik, sistematis, dan berbasis data nyata, mendorong analisis mendalam sebelum menentukan solusi. Namun data belum lengkap (belum ada rincian usia, jenis kelamin, ekonomi), aspek sosial-budaya dan lingkungan belum cukup dalam, serta belum ada panduan pengajar. Disarankan melengkapi data, memperkaya aspek sosial-lingkungan, dan menambah panduan agar lebih sempurna.
Nama: Fatimah Zahra
BalasHapusNIM: P3.73.24.3.25.016
Kelas: A
Dalam empat tahun terakhir di Desa Sukamaju terjadi peningkatan kasus hipertensi berdasarkan persentasenya:
Persentase 2023: 21,7%
Persentase 2024: 24,3%
Persentase 2025: 26,8%
Persentase 2026: 28,7%
Selain itu, di Desa Sukamaju terjadi peningkatan kasus diabetes mellitus berdasarkan jumlah penduduk yang terdata kasus ini:
Kasus terdata 2023: 87
Kasus terdata 2024: 102
Kasus terdata 2025: 129
Kasus terdata 2026: 143
Peningkatan kasus penyakit hipertensi dan diabetes melitus dalam empat tahun terakhir di Desa Sukamaju disebabkan oleh:
a. Pola makan tinggi gula.
Sebagian masyarakat desa tersebut lebih sering mengonsumsi gorengan, makanan siap saji, instan, asin, berpemanis, hingga ditambah saus/kecap.
b. Konsumsi minuman manis
c. Aktivitas fisik rendah
Berdasarkan presentase, sebanyak 53,5% masyarakat Desa Sukamaju jarang beraktivitas fisik. Berikut adalah rinciannya:
Alasan:
- Tidak mempunyai waktu dengan presentase sebesar 42,5%.
- Bekerja sepanjang hari dengan presentase sebesar 28%.
- Tidak ada tempat olahraga dekat rumah dengan presentase sebesar 15,5%.
- Tidak memiliki teman olahraga dengan presentase sebesar 8,5%.
- Tidak terbiasa dengan presentase sebesar 5,5%.
d. Kelebihan berat badan
e. Keterlambatan pemeriksaan
f. Rendahnya kepatuhan kontrol pada sebagian pasien.
g. Pengetahuan masyarakat.
Rata-rata pengetahuan masyarakat Desa Sukamaju sebesar 62,4%. Akan tetapi, pengetahuan masyarakat perlu ditingkatkan.
h. Merokok
Dari 400 responden:
1. 148 orang merupakan perokok aktif.
2. 97 orang merokok setiap hari.
3. 51 orang merokok tidak setiap hari.
4. 126 responden menyatakan terdapat anggota keluarga yang merokok di rumah sehingga menjadi perokok.
i. Pelayanan kesehatan kurang optimal.
Puskesmas memiliki:
1 dokter.
3 perawat.
2 bidan.
1 tenaga promosi kesehatan.
1 tenaga gizi.
1 tenaga kesehatan lingkungan.
1 analis laboratorium.
15 kader Posbindu aktif.
Sebagian besar kegiatan masih berorientasi pada penyuluhan dan pemeriksaan, sementara kegiatan perubahan lingkungan dan penguatan dukungan sosial belum optimal.
j. Lingkungan fisik yang kurang mendukung.
Berdasarkan analisis data, lingkungan sosial Desa Sukamaju, seperti tokoh masyarakat sudah mendukung program kesehatan. Akan tetapi, lingkungan fisik kurang mendukung, berikut adalah data lingkungan fisik di Desa Sukamaju:
1. Hanya terdapat satu lapangan desa.
2. Lapangan sering digunakan untuk parkir kendaraan.
3. Tidak tersedia jalur khusus pejalan kaki.
4. Fasilitas olahraga masyarakat terbatas.
5. Beberapa jalan tidak memiliki penerangan yang memadai.
6. Terdapat banyak warung makanan dan minuman.
7. Makanan tinggi garam/gula mudah ditemukan.
Oleh karena itu, promotor kesehatan harus menjalankan program:
1. Gerakan "Kurangi Gula, Garam, dan Minyak" (G3M).
2. Kemitraan dengan pedagang lokal
3. Pemanfaatan ruang alternatif, seperti pemanfaatan lapangan sekolah untuk kegiatan senam di setiap hari Minggu.
4. Kampanye "Aktivitas fisik"
5. Pembentukkan klub kebugaran
6. Skrining Hipertensi dan Diabetes secara berkala serta sistem "Pengawas Minum Obat"
BalasHapusMenurut saya, bagian yang sangat penting adalah penekanan bahwa mahasiswa tidak boleh langsung menentukan intervensi sebelum melakukan analisis situasi dan menentukan prioritas masalah. Hal ini melatih kita untuk berpikir sistematis dan berbasis data. Rendahnya kehadiran masyarakat pada Posbindu PTM juga menjadi contoh bahwa keberhasilan program kesehatan tidak cukup hanya dengan menyediakan pelayanan, tetapi perlu menyesuaikan waktu, kebutuhan, dan karakteristik masyarakat.
Nama: Alda Yulindra
BalasHapusNim: P3.73.24.3.25.004
Kelas: 2A
Dari materi studi kasus Desa Sukamaju, dapat disimpulkan bahwa masalah kesehatan yang paling menonjol adalah meningkatnya penyakit tidak menular seperti hipertensi dan diabetes. Kondisi ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti pola makan tinggi garam dan gula, kurang aktivitas fisik, kebiasaan merokok, serta rendahnya pemanfaatan Posbindu PTM. Setelah dilakukan analisis situasi, identifikasi masalah, analisis kesenjangan, dan penentuan prioritas menggunakan metode USG, masalah yang menjadi prioritas utama adalah rendahnya pemanfaatan Posbindu PTM dan pemeriksaan faktor risiko oleh masyarakat.
Menurut saya, studi kasus Desa Sukamaju ini sangat menarik karena memperlihatkan tantangan nyata PTM di lapangan, di mana tingginya pengetahuan masyarakat ternyata belum sejalan dengan perubahan perilaku akibat adanya kendala jam kerja buruh/pedagang yang panjang serta ketiadaan . Pembatasan untuk melakukan analisis situasi dan penentuan prioritas masalah secara runut sebelum merancang intervensi sangat melatih pola pikir kami agar tidak terburu-buru menentukan program tanpa pijakan data yang valid.
BalasHapusNama : Anniza Destianti
BalasHapusNIM : P3.73.24.3.25.102
Kelas : 2C
Menurut saya studi kasus Desa Sukamaju telah disusun dengan cukup lengkap dan terstruktur. Pembahasannya mencakup berbagai aspek, seperti kondisi demografi, status kesehatan masyarakat, faktor risiko, perilaku, lingkungan, pelayanan kesehatan, serta persepsi masyarakat. Hal yang menarik dari materi ini adalah mahasiswa tidak langsung diminta menentukan bentuk intervensi, tetapi terlebih dahulu diarahkan untuk mengidentifikasi permasalahan, menetapkan prioritas masalah, menemukan akar penyebab, dan menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi perilaku masyarakat.
Menurut saya, materi ini sudah cukup lengkap dan tersusun dengan baik. Namun, data dan tahapan analisis yang diberikan cukup banyak, sehingga mahasiswa mungkin akan sedikit kesulitan dalam memahami hubungan antara masalah kesehatan, faktor penyebab, hingga akar masalahnya. Menurut saya, akan lebih membantu jika materi disertai contoh analisis secara lengkap dari awal sampai akhir, seperti contoh menentukan prioritas masalah dengan metode USG, membuat analisis fishbone, dan menerapkan teori promosi kesehatan pada kasus yang diberikan. Dengan adanya contoh tersebut, mahasiswa akan lebih mudah memahami materi dan menerapkannya ketika menghadapi kasus kesehatan masyarakat secara langsung.
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusMenurut saya, dari kasus Desa Sukamaju dapat dilihat bahwa masalah kesehatan masyarakat saling berkaitan satu sama lain. Kebiasaan masyarakat seperti pola makan yang kurang sehat, kurang aktivitas fisik, dan merokok dapat meningkatkan risiko terjadinya PTM. Jadi, menurut saya penanganannya tidak cukup hanya dengan memberikan penyuluhan, tetapi juga perlu adanya upaya yang mendorong masyarakat untuk mengubah kebiasaan secara bertahap sesuai dengan kondisi mereka.
BalasHapus