Senin, 14 September 2026

PROMOSI KESEHATAN BERBASIS SENSITIVITAS BUDAYA

 

MATERI KULIAH

PROMOSI KESEHATAN BERBASIS SENSITIVITAS BUDAYA

Pencegahan dan Pemeriksaan Dini TBC/HIV pada Masyarakat Adat/Pedesaan

Dr. Safrudin, SKM, M.Kes.

 

A.  Identitas Pembelajaran

KOMPONEN

URAIAN

Program Studi

Sarjana Terapan Promosi Kesehatan

Mata Kuliah

Promosi Kesehatan/Pesan dan Komunikasi Kesehatan

Topik

Promosi Kesehatan Berbasis Sensitivitas Budaya

Subtopik

Pencegahan dan Pemeriksaan Dini TBC/HIV

Sasaran

Masyarakat adat dan masyarakat pedesaan

Pendekatan

Sensitivitas budaya, komunikasi interpersonal, pemberdayaan masyarakat

Metode

Ceramah interaktif, studi kasus, diskusi, role play, problem solving

Kompetensi

Mahasiswa mampu merancang pesan dan strategi promosi kesehatan yang sensitif terhadap budaya masyarakat

 

1. Pendahuluan

Promosi kesehatan tidak hanya berkaitan dengan apa yang disampaikan, tetapi juga bagaimana pesan tersebut disampaikan, kepada siapa, melalui siapa, dan apakah pesan tersebut sesuai dengan nilai serta budaya masyarakat.

Pada masyarakat adat dan pedesaan, perilaku kesehatan dapat dipengaruhi oleh:

  1. nilai dan norma sosial;
  2. kepercayaan lokal;
  3. tokoh adat dan tokoh agama;
  4. pengalaman masyarakat terhadap pelayanan kesehatan;
  5. bahasa lokal;
  6. tingkat literasi kesehatan;
  7. kondisi geografis;
  8. akses terhadap fasilitas kesehatan;
  9. hubungan kekeluargaan;
  10. stigma terhadap penyakit tertentu;
  11. pengalaman diskriminasi;
  12. pemahaman masyarakat mengenai penyebab penyakit.

Karena itu, promosi kesehatan mengenai TBC dan HIV tidak cukup hanya memberikan informasi medis. Promotor kesehatan perlu memahami konteks sosial dan budaya masyarakat.

Prinsip utama:
“Pesan kesehatan yang benar secara ilmiah belum tentu efektif jika tidak sesuai dengan konteks budaya masyarakat.”

 

2. Tujuan Pembelajaran

Setelah mengikuti pembelajaran, mahasiswa diharapkan mampu:

  1. Menjelaskan konsep sensitivitas budaya dalam promosi kesehatan.
  2. Mengidentifikasi faktor budaya yang memengaruhi perilaku pencegahan TBC dan HIV.
  3. Mengidentifikasi faktor yang menyebabkan keterlambatan pemeriksaan TBC/HIV.
  4. Menjelaskan hubungan budaya, stigma, literasi kesehatan, dan akses pelayanan.
  5. Merancang pesan promosi kesehatan yang sensitif budaya.
  6. Memilih media dan komunikator yang sesuai dengan karakteristik masyarakat.
  7. Merancang strategi pemeriksaan dini TBC/HIV berbasis masyarakat.
  8. Menyusun intervensi promosi kesehatan yang tidak menstigma kelompok tertentu.

 

3. Konsep Sensitivitas Budaya

3.1 Pengertian

Sensitivitas budaya (cultural sensitivity) adalah kemampuan tenaga kesehatan untuk memahami, menghargai, dan mempertimbangkan nilai, keyakinan, bahasa, norma, kebiasaan, serta praktik sosial suatu kelompok masyarakat dalam merancang dan melaksanakan pelayanan atau promosi kesehatan.

Sensitivitas budaya bukan berarti menerima semua praktik budaya tanpa kritik.

Prinsipnya adalah:

Menghargai budaya masyarakat tanpa mengorbankan prinsip keselamatan dan kesehatan berdasarkan bukti ilmiah.

 

4. Mengapa Sensitivitas Budaya Penting?

Promosi kesehatan yang tidak sensitif budaya dapat menyebabkan:

a.      Pesan tidak dipahami

Istilah medis terlalu sulit atau tidak sesuai dengan bahasa masyarakat.

b.      Pesan tidak dipercaya

Masyarakat lebih percaya kepada tokoh lokal dibandingkan orang luar.

c.       Pesan ditolak

Pesan dianggap bertentangan dengan nilai atau kebiasaan masyarakat.

d.      Muncul resistensi

Masyarakat merasa budaya mereka dianggap salah.

e.       Stigma semakin kuat

Cara komunikasi yang salah dapat memperkuat stereotip terhadap penderita TBC atau HIV.

f.        Pemeriksaan dini tidak dilakukan

Masyarakat takut diketahui oleh lingkungan atau takut mendapat stigma.

 

5. Dimensi Sensitivitas Budaya

Mahasiswa perlu memperhatikan sedikitnya 8 dimensi berikut:

DIMENSI

HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN

Bahasa

Bahasa Indonesia, bahasa daerah, istilah lokal

Nilai

Nilai keluarga, gotong royong, kehormatan

Keyakinan

Kepercayaan mengenai penyakit dan kesehatan

Norma sosial

Perilaku yang dianggap diterima/tidak diterima

Struktur sosial

Tokoh adat, tokoh agama, kepala desa

Gender

Perbedaan akses dan kewenangan laki-laki/perempuan

Usia

Cara komunikasi dengan lansia, dewasa, remaja

Akses

Jarak, transportasi, biaya, waktu pelayanan

 

6. Karakteristik Masyarakat Adat/Pedesaan yang Perlu Dipertimbangkan

Tidak semua masyarakat adat atau pedesaan memiliki karakteristik yang sama. Oleh karena itu, hindari generalisasi.

Namun, dalam perencanaan promosi kesehatan, mahasiswa perlu mengkaji:

A. Struktur kepemimpinan

Masyarakat dapat memiliki:

1)       kepala desa;

2)       kepala dusun;

3)       tokoh adat;

4)       tokoh agama;

5)       kader;

6)       ketua RT/RW;

7)       tokoh perempuan;

8)       tokoh pemuda.

Tokoh tersebut dapat menjadi penghubung (cultural broker) antara petugas kesehatan dan masyarakat.

 

B. Bahasa

Pesan perlu menggunakan:

1)       bahasa yang mudah dipahami;

2)       istilah lokal yang tepat;

3)       contoh kehidupan sehari-hari;

4)       analogi yang familiar.

 

C. Pola pengambilan keputusan

Pertanyaan penting:

“Siapa yang biasanya dipercaya ketika masyarakat mengambil keputusan terkait kesehatan?”

 

D. Pola mencari pengobatan

Sebagian masyarakat mungkin:

  1. mengobati sendiri;
  2. menggunakan pengobatan tradisional;
  3. berkonsultasi kepada keluarga;
  4. mendatangi tokoh asyarakat;
  5. baru kemudian ke fasilitas kesehatan.

Promotor kesehatan tidak boleh langsung menghakimi pola tersebut.

 

7. TBC dalam Perspektif Promosi Kesehatan

Tuberkulosis (TBC) merupakan penyakit infeksi yang terutama menyerang paru dan dapat menular melalui udara.

Dari perspektif promosi kesehatan, perhatian tidak hanya diberikan pada pengobatan, tetapi juga:

  1. pengetahuan masyarakat;
  2. perilaku pencarian pelayanan;
  3. etika batuk;
  4. ventilasi rumah;
  5. kepadatan hunian;
  6. pemeriksaan kontak;
  7. kepatuhan pengobatan;
  8. dukungan keluarga;
  9. pengurangan stigma.

 

8. Pencegahan TBC Berbasis Masyarakat

Strategi promosi kesehatan dapat mencakup:

a.    Mengenali gejala

Masyarakat perlu mengetahui gejala yang memerlukan pemeriksaan, seperti:

1)       batuk berkepanjangan;

2)       demam;

3)       berkeringat pada malam hari;

4)       penurunan berat badan;

5)       lemah atau mudah lelah.

Pesan harus disesuaikan dengan bahasa masyarakat.

Contoh:

“Kalau batuk tidak kunjung sembuh, jangan ditunggu lama. Periksakan ke fasilitas kesehatan.”

 

b.   Etika batuk

Ajarkan:

1)       menutup mulut dan hidung saat batuk/bersin;

2)       menggunakan masker ketika diperlukan;

3)       membuang tisu dengan benar;

4)       mencuci tangan.

 

c.    Ventilasi rumah

Pesan:

“Buka jendela dan pintu pada waktu yang memungkinkan agar udara di dalam rumah berganti.”

 

d.   Mengurangi stigma

Jangan menggunakan istilah:

❌ “Orang TBC berbahaya.”

Lebih baik:

✅ “TBC dapat menular, tetapi dapat dicegah dan diobati. Orang dengan TBC perlu mendapatkan dukungan untuk menjalani pengobatan.”

 

9. Pemeriksaan Dini TBC

Promosi kesehatan perlu mendorong masyarakat yang memiliki gejala atau faktor risiko untuk mendapatkan pemeriksaan sesuai standar pelayanan kesehatan.

Peran promotor kesehatan:

  1. meningkatkan pengetahuan;
  2. melakukan komunikasi risiko;
  3. mengidentifikasi hambatan pemeriksaan;
  4. memberikan informasi tempat pelayanan;
  5. melakukan pengingat/follow-up;
  6. melibatkan kader;
  7. menjaga kerahasiaan;
  8. melakukan rujukan sesuai prosedur.

Promotor kesehatan bukan pengganti tenaga medis/laboratorium.

 

10. HIV dalam Perspektif Sensitivitas Budaya

HIV memiliki dimensi sosial yang sangat kuat karena sering dikaitkan dengan:

  1. stigma;
  2. moralitas;
  3. perilaku seksual;
  4. narkotika;
  5. relasi gender;
  6. ketakutan terhadap diskriminasi.

Karena itu, komunikasi HIV harus sangat hati-hati dan non-stigmatis.

 

11. Prinsip Komunikasi HIV

Hindari:

❌ “HIV adalah penyakit orang yang berperilaku buruk.”

Gunakan:

✅ “HIV dapat terjadi pada berbagai kelompok masyarakat. Pemeriksaan merupakan langkah penting untuk mengetahui status kesehatan dan memperoleh layanan yang sesuai.”

 

12. Pemeriksaan HIV

Promotor kesehatan dapat mendorong masyarakat untuk:

  1. memahami manfaat pemeriksaan;
  2. mengetahui lokasi layanan;
  3. memahami kerahasiaan layanan;
  4. mengurangi rasa takut;
  5. melakukan konseling sesuai prosedur;
  6. mengikuti rujukan apabila diperlukan.

Pemeriksaan HIV harus dilakukan melalui layanan yang sesuai standar, dengan memperhatikan persetujuan, kerahasiaan, dan prinsip non-diskriminasi.

 

13. TBC dan HIV: Persamaan dan Perbedaan Strategi Komunikasi

Aspek

TBC

HIV

Stigma

Ada

Umumnya sangat kuat

Fokus pesan

Gejala, penularan, pemeriksaan, pengobatan

Pencegahan, pemeriksaan, pengobatan, kerahasiaan

Pemeriksaan

Berdasarkan gejala/faktor risiko sesuai program

Berdasarkan indikasi, risiko, dan kebijakan pelayanan

Peran keluarga

Sangat penting

Penting tetapi kerahasiaan harus dijaga

Risiko komunikasi

Menakut-nakuti penderita

Menghakimi perilaku

Prinsip utama

Deteksi dan pengobatan dini

Pencegahan, testing, linkage to care, anti-stigma

 

14. Stigma sebagai Hambatan Pemeriksaan

Stigma dapat menyebabkan seseorang:

Takut diketahui → takut dikucilkan → tidak mau diperiksa → diagnosis terlambat → risiko penularan meningkat.

Oleh karena itu, promosi kesehatan harus memutus rantai tersebut.

Strategi:

Informasi → rasa aman → kepercayaan → pemeriksaan → pengobatan/layanan → dukungan sosial.

 

15. Pendekatan “Do No Harm” dalam Komunikasi

Setiap pesan promosi kesehatan harus ditanyakan:

Apakah pesan ini:

  1. menyalahkan?
  2. mempermalukan?
  3. menakut-nakuti?
  4. membuka identitas seseorang?
  5. memperkuat stereotip?
  6. menyudutkan kelompok tertentu?

Jika jawabannya “ya”, pesan perlu diperbaiki.

 

16. Cultural Assessment

Sebelum intervensi, mahasiswa dapat menggunakan pertanyaan berikut:

a.    Pengetahuan

“Menurut masyarakat, apa penyebab penyakit ini?”

b.   Keyakinan

“Apa yang biasanya dilakukan ketika seseorang mengalami gejala?”

c.    Bahasa

“Istilah apa yang biasa digunakan masyarakat untuk kondisi tersebut?”

d.   Kepercayaan

“Siapa yang paling dipercaya masyarakat ketika memberikan informasi kesehatan?”

e.    Hambatan

“Apa yang membuat masyarakat enggan pergi ke Puskesmas?”

f.     Akses

“Seberapa mudah masyarakat mencapai fasilitas kesehatan?”

g.    Stigma

“Apa yang biasanya terjadi jika seseorang diketahui menderita TBC atau HIV?”

 

 

17. Model Komunikasi Berbasis Budaya

Gunakan pendekatan:

DENGAR → PAHAMI → SESUAIKAN → SAMPAIKAN → KONFIRMASI → TINDAK LANJUT

1. Dengarkan

Jangan langsung memberikan ceramah.

2. Pahami

Cari tahu perspektif masyarakat.

3. Sesuaikan

Sesuaikan bahasa, media, dan komunikator.

4. Sampaikan

Gunakan pesan sederhana.

5. Konfirmasi

Gunakan teach-back:

“Untuk memastikan penjelasan saya tadi mudah dipahami, menurut Bapak/Ibu apa yang akan dilakukan jika mengalami batuk yang tidak kunjung sembuh?”

6. Tindak lanjut

 

Pastikan masyarakat mengetahui:

  1. kapan harus mencari pertolongan;
  2. ke mana harus pergi;
  3. siapa yang dapat dihubungi.

 

18. Media Promosi Kesehatan Sensitif Budaya

Media tidak harus selalu digital.

Pilihan:

  1. poster;
  2. leaflet;
  3. flipchart;
  4. video pendek;
  5. radio komunitas;
  6. pengeras suara desa;
  7. WhatsApp;
  8. storytelling;
  9. wayang/teater rakyat;
  10. permainan;
  11. diskusi kelompok;
  12. kunjungan rumah;
  13. forum masyarakat.

Prinsip pemilihan media

Media harus mengikuti masyarakat, bukan masyarakat dipaksa mengikuti media.

 

19. Peran Kader Kesehatan

Kader dapat menjadi:

  1. komunikator;
  2. penghubung masyarakat dengan Puskesmas;
  3. pendamping;
  4. pengingat pemeriksaan;
  5. penguat dukungan keluarga;
  6. pengidentifikasi hambatan;
  7. agen pengurangan stigma.

Namun, kader harus menjaga:

kerahasiaan + etika + batas kewenangan.

 

20. Peran Tokoh Adat dan Tokoh Agama

Tokoh lokal dapat membantu:

  1. membuka akses komunikasi;
  2. membangun kepercayaan;
  3. mengurangi resistensi;
  4. mengurangi stigma;
  5. menyampaikan pesan sesuai konteks lokal;
  6. mendorong masyarakat memanfaatkan layanan kesehatan.

Tetapi tokoh masyarakat tidak boleh diberi informasi identitas/status HIV seseorang tanpa dasar yang sah dan persetujuan yang sesuai.

 

21. Kerangka Intervensi Promosi Kesehatan

Mahasiswa dapat menggunakan kerangka:

INPUT

  1. data masyarakat;
  2. karakteristik budaya;
  3. kader;
  4. tokoh masyarakat;
  5. fasilitas kesehatan;
  6. media.

↓

PROSES

  1. cultural assessment;
  2. penyusunan pesan;
  3. pelatihan kader;
  4. komunikasi interpersonal;
  5. edukasi kelompok;
  6. mobilisasi masyarakat;
  7. fasilitasi pemeriksaan.

↓

OUTPUT

  1. peningkatan pengetahuan;
  2. peningkatan literasi kesehatan;
  3. meningkatnya niat melakukan pemeriksaan;
  4. berkurangnya stigma;
  5. meningkatnya pemanfaatan layanan.

↓

OUTCOME

  1. pemeriksaan lebih dini;
  2. penemuan kasus lebih cepat;
  3. keterhubungan dengan pelayanan;
  4. pengobatan dan tindak lanjut yang lebih baik;
  5. penurunan risiko penularan.

 

22. CONTOH KASUS

Kasus: “Batuk yang Disembunyikan”

Desa Harapan Jaya merupakan wilayah pedesaan dengan jarak sekitar 12 km dari Puskesmas. Sebagian besar penduduk bekerja sebagai petani dan buruh harian.

Masyarakat memiliki hubungan sosial yang sangat erat. Tokoh adat, tokoh agama, dan kader sangat dihormati.

Dalam tiga bulan terakhir, kader menemukan beberapa warga dengan keluhan batuk lama. Namun, sebagian warga enggan memeriksakan diri karena takut dianggap menderita TBC.

Seorang warga laki-laki berusia 48 tahun, sebut saja Pak A, telah mengalami batuk selama beberapa minggu. Keluarganya menyarankan untuk memeriksakan diri, tetapi Pak A menolak karena khawatir tetangga mengetahui bahwa dirinya sedang diperiksa TBC.

Ia mengatakan:

“Kalau saya pergi ke Puskesmas, nanti orang kampung mengira saya kena TBC.”

Kader kemudian melakukan pendekatan dengan cara memberikan penyuluhan umum di posyandu mengenai:

“Batuk Lama? Kenali, Cegah, dan Periksa.”

Namun, penyuluhan tersebut belum meningkatkan kunjungan pemeriksaan.

Pada saat yang sama, masyarakat juga memiliki kekhawatiran mengenai pemeriksaan HIV. Beberapa warga menganggap pemeriksaan HIV hanya diperlukan oleh “orang tertentu”, sehingga masyarakat takut melakukan pemeriksaan karena khawatir dicap negatif oleh lingkungan.

 

23. Analisis Kasus

Masalah utama

Masalah medis:

  1. kemungkinan keterlambatan pemeriksaan TBC;
  2. kemungkinan keterlambatan penemuan kasus.

Masalah perilaku:

  1. enggan melakukan pemeriksaan.

Masalah sosial:

  1. stigma;
  2. takut diketahui masyarakat.

Masalah komunikasi:

  1. penyuluhan bersifat umum;
  2. belum menyentuh hambatan psikososial.

Masalah akses:

  1. jarak ke fasilitas kesehatan;
  2. kemungkinan keterbatasan waktu kerja.

 

24. Kesalahan Pendekatan yang Harus Dihindari

❌ Pendekatan 1

“Bapak harus segera periksa karena TBC berbahaya.”

Masalah:

menimbulkan ketakutan;

tidak mengatasi stigma.

❌ Pendekatan 2

“Orang yang tidak mau diperiksa berarti tidak peduli kesehatan.”

Masalah:

menyalahkan masyarakat.

❌ Pendekatan 3

“Semua warga yang batuk harus dicurigai TBC.”

Masalah:

berpotensi meningkatkan stigma.

 

25. Pendekatan yang Lebih Tepat

Promotor kesehatan dapat bekerja sama dengan:

  1. Puskesmas;
  2. kepala desa;
  3. tokoh adat;
  4. tokoh agama;
  5. kader;
  6. kelompok perempuan;
  7. kelompok pemuda.

Pesan utama:

“Memeriksakan kesehatan adalah bentuk kepedulian terhadap diri sendiri, keluarga, dan masyarakat.”

Untuk TBC:

“Batuk yang tidak kunjung sembuh perlu diperiksa agar penyebabnya diketahui dan dapat ditangani lebih cepat.”

Untuk HIV:

“Mengetahui status kesehatan melalui layanan pemeriksaan yang tepat membantu seseorang memperoleh informasi dan layanan kesehatan yang sesuai.”

 

26. Tugas Mahasiswa: Problem Solving

Tugas kelompok

Mahasiswa dibagi menjadi kelompok 4–5 orang.

Tugas:

Berdasarkan kasus tersebut, susun Rencana Intervensi Promosi Kesehatan Sensitif Budaya.

Komponen:

  1. Identifikasi masalah.
  2. Analisis faktor budaya.
  3. Analisis stigma.
  4. Analisis hambatan akses.
  5. Identifikasi stakeholder.
  6. Tentukan komunikator.
  7. Rumuskan tujuan.
  8. Buat 3 pesan TBC.
  9. Buat 3 pesan HIV.
  10. Tentukan media.
  11. Buat strategi pemeriksaan dini.
  12. Buat indikator keberhasilan.

 

27. Contoh Format Jawaban Mahasiswa

KOMPONEN

JAWABAN

Masalah

Rendahnya kemauan pemeriksaan

Penyebab

Stigma, jarak, kekhawatiran diketahui

Tokoh kunci

Kepala desa, tokoh adat, kader

Strategi

Edukasi + komunikasi interpersonal

Media

Poster, forum warga, WhatsApp

Pesan

Batuk lama perlu diperiksa

Pendekatan

Non-stigmatis dan berbasis budaya

Indikator proses

Jumlah edukasi/kader dilatih

Indikator hasil

Peningkatan pengetahuan dan pemanfaatan layanan

 

28. Role Play

Mahasiswa memainkan empat peran:

Mahasiswa 1: Promotor kesehatan
Mahasiswa 2: Kader
Mahasiswa 3: Tokoh masyarakat
Mahasiswa 4: Warga yang takut melakukan pemeriksaan

Skenario

Promotor kesehatan harus meyakinkan warga untuk melakukan pemeriksaan tanpa memaksa, menakut-nakuti, atau membuka status kesehatan pribadi.

Aspek penilaian

Aspek

Bobot

Sensitivitas budaya

20%

Komunikasi empatik

20%

Pesan non-stigmatis

20%

Ketepatan informasi

20%

Kemampuan problem solving

20%

 

29. Inti Materi

Mahasiswa harus mengingat 5 prinsip utama:

1. Kenali budaya

Jangan berasumsi bahwa semua masyarakat sama.

2. Dengarkan masyarakat

Pahami perspektif sebelum memberikan solusi.

3. Gunakan bahasa sederhana

Hindari jargon medis.

4. Hindari stigma

Jangan menghubungkan penyakit dengan penilaian moral seseorang.

5. Hubungkan dengan pelayanan

Promosi kesehatan harus berujung pada akses dan pemanfaatan layanan yang tepat.

 

RESUME

PROMOSI KESEHATAN SENSITIF BUDAYA =

Kenali budaya → Dengarkan masyarakat → Bangun kepercayaan → Gunakan bahasa sederhana → Hindari stigma → Libatkan tokoh lokal → Fasilitasi pemeriksaan → Hubungkan dengan pelayanan → Evaluasi.

Dalam konteks TBC dan HIV, seorang promotor kesehatan tidak hanya bertugas “memberikan penyuluhan”, tetapi menjadi fasilitator perubahan perilaku dan penghubung antara masyarakat dengan sistem pelayanan kesehatan.

Pesan kunci:

“Jangan hanya menyampaikan pesan yang benar. Pastikan pesan tersebut dapat dipahami, diterima, dipercaya, tidak menstigma, dan dapat ditindaklanjuti oleh masyarakat.”

 

 

EvaluasiPilihan Ganda

Soal 1

Prinsip utama sensitivitas budaya dalam promosi kesehatan adalah...

A. Mengubah seluruh budaya masyarakat agar sesuai dengan standar kesehatan
B. Mengabaikan budaya agar informasi kesehatan lebih objektif
C. Menghargai nilai budaya sambil memastikan pesan tetap sesuai bukti ilmiah
D. Menyerahkan seluruh keputusan kesehatan kepada tokoh adat
E. Menggunakan bahasa medis agar masyarakat memahami istilah profesional

 

Soal 2

Seorang promotor kesehatan akan melakukan edukasi TBC di masyarakat adat. Langkah pertama yang paling tepat adalah...

A. Membagikan leaflet kepada seluruh masyarakat
B. Melakukan cultural assessment terhadap masyarakat
C. Meminta masyarakat mengikuti semua prosedur Puskesmas
D. Memberikan ceramah mengenai bahaya TBC
E. Menentukan media berdasarkan pengalaman promotor

 

Soal 3

Masyarakat menolak pemeriksaan TBC karena takut dicap sebagai penderita TBC. Masalah utama yang perlu ditangani terlebih dahulu adalah...

A. Kurangnya poster
B. Kurangnya tenaga kesehatan
C. Stigma
D. Kurangnya obat
E. Kurangnya laboratorium

 

Soal 4

Manakah pesan yang paling sesuai dengan prinsip komunikasi non-stigmatis?

A. “Penderita TBC harus dijauhi agar tidak menular.”
B. “Orang yang terkena HIV biasanya memiliki perilaku buruk.”
C. “TBC hanya menyerang masyarakat dengan rumah tidak sehat.”
D. “TBC dapat dicegah dan diobati; orang yang sakit perlu mendapatkan dukungan.”
E. “HIV hanya perlu diperiksa oleh kelompok tertentu.”

 

Soal 5

Seorang kader mengetahui bahwa salah satu warga sedang menjalani pemeriksaan HIV. Tindakan kader yang paling tepat adalah...

A. Memberitahu tokoh masyarakat agar dapat memberikan dukungan
B. Memberitahu seluruh kader agar dapat membantu
C. Mengumumkan kepada keluarga pasien
D. Menjaga kerahasiaan dan mengikuti ketentuan pelayanan yang berlaku
E. Meminta warga tersebut menjelaskan alasan pemeriksaan kepada masyarakat

 

Soal 6

Tokoh adat sangat dipercaya masyarakat dan masyarakat cenderung mengikuti sarannya. Strategi promosi kesehatan yang paling tepat adalah...

A. Mengabaikan tokoh adat karena bukan tenaga kesehatan
B. Menggantikan tokoh adat dengan petugas kesehatan
C. Melibatkan tokoh adat sebagai mitra komunikasi setelah diberikan informasi yang tepat
D. Meminta tokoh adat menentukan diagnosis masyarakat
E. Menyerahkan seluruh keputusan klinis kepada tokoh adat

 

Soal 7

Contoh penggunaan teach-back dalam edukasi TBC adalah...

A. “Apakah penjelasan saya sudah jelas?”
B. “Apakah Bapak sudah membaca leaflet?”
C. “Bisa Bapak ceritakan kembali apa yang akan dilakukan jika batuk tidak kunjung sembuh?”
D. “Apakah Bapak setuju dengan pendapat saya?”
E. “Apakah Bapak pernah mengalami TBC?”

 

Soal 8

Masyarakat pedesaan sulit datang ke Puskesmas karena jarak dan pekerjaan. Intervensi promosi kesehatan yang paling sesuai adalah...

A. Menyalahkan masyarakat karena tidak memanfaatkan fasilitas
B. Mengurangi informasi mengenai pemeriksaan
C. Mengidentifikasi hambatan akses dan mengembangkan strategi pelayanan yang sesuai bersama Puskesmas
D. Menghentikan program edukasi
E. Mewajibkan semua warga datang ke Puskesmas

 

Soal 9

Seorang promotor kesehatan menggunakan istilah “transmisi droplet”, “diagnosis definitif”, dan “profilaksis” ketika berbicara kepada masyarakat dengan literasi kesehatan rendah. Masalah utama pendekatan tersebut adalah...

A. Informasi terlalu sedikit
B. Bahasa terlalu sederhana
C. Penggunaan jargon yang berpotensi menghambat pemahaman
D. Media yang terlalu banyak
E. Informasi tidak menggunakan bahasa asing

 

Soal 10

Indikator outcome yang paling sesuai untuk program promosi kesehatan TBC/HIV berbasis sensitivitas budaya adalah...

A. Jumlah poster yang dicetak
B. Jumlah kader yang hadir dalam pelatihan
C. Jumlah kegiatan penyuluhan
D. Peningkatan pemanfaatan layanan pemeriksaan dan berkurangnya stigma terhadap pemeriksaan
E. Jumlah leaflet yang dibagikan


 

30 komentar:

  1. 1. c
    2. b
    3. c
    4. d
    5. d
    6. c
    7. c
    8. c
    9. c
    10. d

    BalasHapus
  2. 1. C. Menghargai nilai budaya sambil memastikan pesan tetap sesuai bukti ilmiah
    2. B. Melakukan cultural assessment terhadap masyarakat
    3. C. Stigma
    4. D. “TBC dapat dicegah dan diobati; orang yang sakit perlu mendapatkan dukungan.”
    5. D. Menjaga kerahasiaan dan mengikuti ketentuan pelayanan yang berlaku
    6. C. Melibatkan tokoh adat sebagai mitra komunikasi setelah diberikan informasi yang tepat
    7. C. “Bisa Bapak ceritakan kembali apa yang akan dilakukan jika batuk tidak kunjung sembuh?”
    8. C. Mengidentifikasi hambatan akses dan mengembangkan strategi pelayanan yang sesuai bersama Puskesmas
    9. C. Penggunaan jargon yang berpotensi menghambat pemahaman
    10. D. Peningkatan pemanfaatan layanan pemeriksaan dan berkurangnya stigma terhadap pemeriksaan

    BalasHapus
  3. 1. C. Menghargai nilai budaya sambil memastikan pesan tetap sesuai bukti ilmiah.
    2. ⁠B. Melakukan cultural assessment terhadap masyarakat.
    3. ⁠C. Stigma
    4. ⁠D. "TBC dapat dicegah dan diobati; orang yang sakit perlu mendapatkan dukungan."
    5. ⁠D. Menjaga kerahasiaan dan mengikuti ketentuan pelayanan yang berlaku.
    6. ⁠C. Melibatkan tokoh adat sebagai mitra komunikasi setelah diberikan informasi yang tepat.
    7. ⁠C. "Bisa Bapak ceritakan kembali apa yang akan dilakukan jika batuk tidak kunjung sembuh?"
    8. ⁠C. Mengidentifikasi hambatan akses dan mengembangkan strategi pelayanan yang sesuai bersama Puskesmas
    9. ⁠C. Penggunaan jargon yang berpotensi menghambat pemahaman.
    10. ⁠D. Peningkatan pemanfaatan layanan pemeriksaan dan berkurangnya stigma terhadap pemeriksaan.

    BalasHapus
  4. Soal 1: C. Menghargai nilai budaya sambil memastikan pesan tetap sesuai bukti ilmiah
    Soal 2: B. Melakukan cultural assessment terhadap masyarakat
    Soal 3: C. Stigma
    Soal 4: D. “TBC dapat dicegah dan diobati; orang yang sakit perlu mendapatkan dukungan.”
    Soal 5: D. Menjaga kerahasian dan mengikuti ketentuan pelayanan yang berlaku
    Soal 6: C. Melibatkan tokoh adat sebagai mitra komunikasi setelah diberikan informasi yang tepat
    Soal 7: C. “Bisa Bapak ceritakan kembali apa yang akan dilakukan jika batuk tidak kunjung sembuh?”
    Soal 8: C. Mengidentifikasi hambatan akses dan mengembangkan strategi pelayanan yang sesuai bersama Puskesmas
    Soal 9: C. Penggunaan jargon yang berpotensi menghambat pemahaman
    Soal 10: D. Peningkatan pemanfaatan layanan pemeriksaan dan berkurangnya stigma terhadap pemeriksaan

    BalasHapus
  5. kalyca shazia ashalina

    no 1
    C. Menghargai nilai budaya sambil memastikan pesan tetap sesuai bukti ilmiah.

    no 2
    B. Melakukan cultural assessment terhadap masyarakat.

    no 3
    C. Stigma.

    no 4
    D. “TBC dapat dicegah dan diobati; orang yang sakit perlu mendapatkan dukungan.”

    no 5
    D. Menjaga kerahasiaan dan mengikuti ketentuan pelayanan yang berlaku.

    no 6
    C. Melibatkan tokoh adat sebagai mitra komunikasi setelah diberikan informasi yang tepat.

    no 7
    C. “Bisa Bapak ceritakan kembali apa yang akan dilakukan jika batuk tidak kunjung sembuh?”

    no 8
    C. Mengidentifikasi hambatan akses dan mengembangkan strategi pelayanan yang sesuai bersama Puskesmas.

    no 9
    C. Penggunaan jargon yang berpotensi menghambat pemahaman.

    no 10
    D. Peningkatan pemanfaatan layanan pemeriksaan dan berkurangnya stigma terhadap pemeriksaan.

    BalasHapus
  6. 1) C. Menghargai nilai budaya sambil memastikan pesan tetap sesuai bukti ilmiah
    2) B. Melakukan cultural assessment terhadap masyarakat
    3) C. Stigma
    4) D. "TBC dapat dicegah dan diobati; orang yang sakit perlu mendapatkan dukungan."
    5) D. Menjaga kerahasiaan dan mengikuti ketentuan pelayanan yang berlaku
    6) C. Melibatkan tokoh adat sebagai mitra komunikasi setelah diberikan informasi yang tepat
    7) C. "Bisa Bapak ceritakan kembali apa yang akan dilakukan jika batuk tidak kunjung sembuh?"
    8) C. Mengidentifikasi hambatan akses dan mengembangkan strategi pelayanan yang sesuai bersama Puskesmas
    9) C. Penggunaan jargon yang berpotensi menghambat pemahaman
    10) D. Peningkatan pemanfaatan layanan pemeriksaan dan berkurangnya stigma terhadap pemeriksaan

    BalasHapus
  7. Saya Diah Septia Kelas 1A, Izin mengirimkan jawaban bapak
    1. C. Mengakui nilai budaya sambil memastikan pesan tetap sesuai bukti ilmiah.
    2. B. Melakukan cultural assessment terhadap masyarakat.
    3. C. Stigma.
    4. D. “TBC dapat dicegah dan diobati; orang yang sakit perlu mendapatkan dukungan.”
    5. D. Menjaga kerahasiaan dan mengikuti ketentuan pelayanan yang berlaku.
    6. C. Melibatkan tokoh adat sebagai mitra komunikasi setelah diberikan informasi yang tepat.
    7. C. “Bisa Bapak ceritakan kembali apa yang akan dilakukan jika batuk tidak kunjung sembuh?”
    8. C. Mengidentifikasi hambatan akses dan mengembangkan strategi pelayanan yang sesuai bersama Puskesmas.
    9. C. Penggunaan jargon yang berpotensi menghambat pemahaman.
    10. D. Peningkatan pemanfaatan layanan pemeriksaan dan berkurangnya stigma terhadap pemeriksaan.

    BalasHapus
  8. 1. C. Menghargai nilai budaya sambil memastikan pesan tetap sesuai bukti ilmiah.
    2. B. Melakukan cultural assessment terhadap masyarakat
    3. C. Stigma
    4. D. "TBC dapat dicegah dan diobati; orang yang sakit perlu mendapatkan dukungan."
    5. D. Menjaga kerahasiaan dan mengikuti ketentuan pelayanan yang berlaku
    6. C. Melibatkan tokoh adat sebagai mitra komunikasi setelah diberikan informasi yang tepat
    7. C. "Bisa Bapak ceritakan kembali apa yang akan dilakukan jika batuk tidak kunjung sembuh?"
    8. C. Mengidentifikasi hambatan akses dan mengembangkan strategi pelayanan yang sesuai bersama Puskesmas
    9. C. Penggunaan jargon yang berpotensi menghambat pemahaman

    10. D. Peningkatan pemanfaatan layanan pemeriksaan dan berkurangnya stigma terhadap pemeriksaan

    BalasHapus
  9. 1.) C. Mengakui nilai budaya sambil memastikan pesan tetap sesuai bukti ilmiah.
    2.) B. Melakukan cultural assessment terhadap masyarakat.
    3.) C. Stigma.
    4.) D. “TBC dapat dicegah dan diobati; orang yang sakit perlu mendapatkan dukungan.”
    5.) D. Menjaga kerahasiaan dan mengikuti ketentuan pelayanan yang berlaku.
    6.) C. Melibatkan tokoh adat sebagai mitra komunikasi setelah diberikan informasi yang tepat.
    7.) C. “Bisa Bapak ceritakan kembali apa yang akan dilakukan jika batuk tidak kunjung sembuh?”
    8.) C. Mengidentifikasi hambatan akses dan mengembangkan strategi pelayanan yang sesuai bersama Puskesmas.
    9.) C. Penggunaan jargon yang berpotensi menghambat pemahaman.
    10.) D. Peningkatan pemanfaatan layanan pemeriksaan dan berkurangnya stigma terhadap pemeriksaan.

    BalasHapus
  10. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  11. 1A.030 Nabila Zulaikhah

    1. C. Menghargai nilai budaya sambil memastikan pesan tetap sesuai bukti ilmiah
    2. B. Melakukan cultural assessment terhadap masyarakat
    3. C. Stigma
    4. D. TBC dapat dicegah dan diobati, orang yang sakit perlu mendapatkan dukungan
    5. D. Menjaga kerahasiaan dan mengikuti ketentuan pelayanan yang berlaku
    6. C. Melibatkan tokoh adat sebagai mitra komunikasi setelah diberikan informasi yang tepat
    7. C. Bisa Bapak ceritakan kembali apa yang akan dilakukan jika batuk tidak kunjung sembuh?
    8. C. Mengidentifikasi hambatan akses dan mengembangkan strategi pelayanan yang sesuai bersama Puskesmas
    9. C. Penggunaan jargon yang berpotensi menghambat pemahaman
    10. D. Peningkatan pemanfaatan layanan pemeriksaan dan berkurangnya stigma terhadap pemeriksaan

    BalasHapus
  12. Soal 1
    C. Menghargai nilai budaya sambil memastikan pesan tetap sesuai bukti ilmiah.

    Soal 2
    B. Melakukan cultural assessment terhadap masyarakat.

    Soal 3
    C. Stigma.

    Soal 4
    D. “TBC dapat dicegah dan diobati; orang yang sakit perlu mendapatkan dukungan.”

    Soal 5
    D. Menjaga kerahasiaan dan mengikuti ketentuan pelayanan yang berlaku.

    Soal 6
    C. Melibatkan tokoh adat sebagai mitra komunikasi setelah diberikan informasi yang tepat.

    Soal 7
    C. “Bisa Bapak ceritakan kembali apa yang akan dilakukan jika batuk tidak kunjung sembuh?”

    Soal 8
    C. Mengidentifikasi hambatan akses dan mengembangkan strategi pelayanan yang sesuai bersama Puskesmas.

    Soal 9
    C. Penggunaan jargon yang berpotensi menghambat pemahaman.

    Soal 10
    D. Peningkatan pemanfaatan layanan pemeriksaan dan berkurangnya stigma terhadap pemeriksaan.

    BalasHapus
  13. 1.C. Menghargai nilai budaya sambil memastikan pesan tetap sesuai bukti ilmiah
    2.B. Melakukan cultural assessment terhadap masyarakat
    3.C. Stigma
    4.D. “TBC dapat dicegah dan diobati; orang yang sakit perlu mendapatkan dukungan.”
    5.D. Menjaga kerahasiaan dan mengikuti ketentuan pelayanan yang berlaku
    6.C. Melibatkan tokoh adat sebagai mitra komunikasi setelah diberikan informasi yang tepat
    7.C. “Bisa Bapak ceritakan kembali apa yang akan dilakukan jika batuk tidak kunjung sembuh?”
    8.C. Mengidentifikasi hambatan akses dan mengembangkan strategi pelayanan yang sesuai bersama Puskesmas
    9.C. Penggunaan jargon yang berpotensi menghambat pemahaman
    10.D. Peningkatan pemanfaatan layanan pemeriksaan dan berkurangnya stigma terhadap pemeriksaan

    BalasHapus
  14. 1C. Menghargai nilai budaya sambil memastikan pesan tetap sesuai bukti ilmiah
    2B. Melakukan cultural assessment terhadap masyarakat
    3C. Stigma
    4D. "TBC dapan dicegah dan diobati; orang yang sakit perlu mendapat dukungan"
    5D. Menjaga kerahasiaan dan mengikuti ketentuan pelayanan yang berlaku
    6C. Melibatkan tokoh aday sebagai mitra komunikasi setelah diberikan informasi yang tepat
    7C. "Bisa Bapak ceritakan kembali apa yang akan dilakukan jika batuk tidak kunjung sembuh
    8C Mengidentifikasi hambatan akses dan mengembangkan strategi pelayanan yang sesuai bersama puskesmas
    9C penggunaan jargon yang berpotensi menghambat Pemahaman
    10D. Peningkatan Pemanfaatan layanan pemeriksaan dan berkurangnya stigma terhadap pemeriksaan

    BalasHapus
  15. 1.C. Menghargai nilai budaya sambil memastikan pesan tetap sesuai bukti ilmiah
    2. B. Melakukan cultural assessment terhadap masyarakat
    3.C. Stigma
    4.D. “TBC dapat dicegah dan diobati; orang yang sakit perlu mendapatkan dukungan.”
    5. D. Menjaga kerahasiaan dan mengikuti ketentuan pelayanan yang berlaku
    6.C. Melibatkan tokoh adat sebagai mitra komunikasi setelah diberikan informasi yang tepat
    7.C. “Bisa Bapak ceritakan kembali apa yang akan dilakukan jika batuk tidak kunjung sembuh?”
    8.C. Mengidentifikasi hambatan akses dan mengembangkan strategi pelayanan yang sesuai bersama Puskesmas
    9.C. Penggunaan jargon yang berpotensi menghambat pemahaman
    10.D. Peningkatan pemanfaatan layanan pemeriksaan dan berkurangnya stigma terhadap pemeriksaan

    BalasHapus
  16. Jalila Fahima Arsya Promkes 1A

    1) C. Menghargai nilai budaya sambil memastikan pesan tetap sesuai bukti ilmiah
    2) B. Melakukan cultural assessment terhadap masyarakat
    3) C. Stigma
    4) D. "TBC dapat dicegah dan diobati; orang yang sakit perlu mendapatkan dukungan."
    5) D. Menjaga kerahasiaan dan mengikuti ketentuan pelayanan yang berlaku
    6) C. Melibatkan tokoh adat sebagai mitra komunikasi setelah diberikan informasi yang tepat
    7) C. "Bisa Bapak ceritakan kembali apa yang akan dilakukan jika batuk tidak kunjung sembuh?"
    8) C. Mengidentifikasi hambatan akses dan mengembangkan strategi pelayanan yang sesuai bersama Puskesmas
    9) C. Penggunaan jargon yang berpotensi menghambat pemahaman
    10) D. Peningkatan pemanfaatan layanan pemeriksaan dan berkurangnya stigma terhadap pemeriksaan

    BalasHapus
  17. 1. C. Menghargai nilai budaya sambil memastikan pesan tetap sesuai bukti ilmiah
    2. B. Melakukan cultural assessment terhadap masyarakat
    3. C. Stigma
    4. D. “TBC dapat dicegah dan diobati; orang yang sakit perlu mendapatkan dukungan.”
    5. D. Menjaga kerahasian dan mengikuti ketentuan pelayanan yang berlaku
    6. C. Melibatkan tokoh adat sebagai mitra komunikasi setelah diberikan informasi yang tepat
    7. C. “Bisa Bapak ceritakan kembali apa yang akan dilakukan jika batuk tidak kunjung sembuh?”
    8. C. Mengidentifikasi hambatan akses dan mengembangkan strategi pelayanan yang sesuai bersama Puskesmas
    9. C. Penggunaan jargon yang berpotensi menghambat pemahaman
    10. D. Peningkatan pemanfaatan layanan pemeriksaan dan berkurangnya stigma terhadap pemeriksaan

    BalasHapus
  18. 1. C. menghargai nilai budaya sambil memastikan pesan tetap sesuai bukti ilmiah
    2. B. melakukan cultural assessment terhadap masyarakat
    3. C. stigma
    4. D. TBC dapat dicegah dan diobati; orang yang sakit perlu mendapatkan dukungan.
    5. D. menjaga kerahasiaan dan mengikuti ketentuan pelayanan yang berlaku
    6. C. melibatkan tokoh adat sebagai mitra komunikasi setelah diberikan informasi yang tepat
    7. C. “bisa Bapak ceritakan kembali apa yang akan dilakukan jika batuk tidak kunjung sembuh?”
    8. C. mengidentifikasi hambatan akses dan mengembangkan strategi pelayanan yang sesuai bersama Puskesmas
    9. C. penggunaan jargon yang berpotensi menghambat pemahaman
    10. D. peningkatan pemanfaatan layanan pemeriksaan dan berkurangnya stigma terhadap pemeriksaan

    BalasHapus
  19. Cahaya Arifah Zain 1A Promosi Kesehatan
    Soal 1:
    C. Menghargai nilai budaya sambil memastikan pesan tetap sesuai bukti ilmiah.
    Soal 2:
    B — Melakukan cultural assessment terhadap masyarakat.
    Soal 3: C — Stigma.
    Soal 4: D — "TBC dapat dicegah dan diobati; orang yang sakit perlu mendapatkan dukungan."
    Soal 5: D — Menjaga kerahasiaan dan mengikuti ketentuan pelayanan yang berlaku.
    Soal 6: C — Melibatkan tokoh adat sebagai mitra komunikasi setelah diberikan informasi yang tepat.
    Soal 7: C — "Bisa Bapak ceritakan kembali apa yang akan dilakukan jika batuk tidak kunjung sembuh?"
    Soal 8: C — Mengidentifikasi hambatan akses dan mengembangkan strategi pelayanan yang sesuai bersama Puskesmas.
    Soal 9: C — Penggunaan jargon yang berpotensi menghambat pemahaman.
    Soal 10: D — Peningkatan pemanfaatan layanan pemeriksaan dan berkurangnya stigma terhadap pemeriksaan.

    BalasHapus
  20. 1. C. Menghargai nilai budaya sambil memastikan pesan tetap sesuai bukti ilmiah.
    2. B. Melakukan cultural assessment terhadap masyarakat.
    3. C. Stigma.
    4. D. TBC dapat dicegah dan diobati; orang yang sakit perlu mendapatkan dukungan.
    5. D. Menjaga kerahasiaan dan mengikuti ketentuan pelayanan yang berlaku.
    6. C. Melibatkan tokoh adat sebagai mitra komunikasi setelah diberikan informasi yang tepat.
    7. C. Meminta masyarakat menceritakan kembali informasi yang telah dipahami.
    8. C. Mengidentifikasi hambatan akses dan mengembangkan strategi pelayanan yang sesuai.
    9. C. Penggunaan jargon dapat menghambat pemahaman masyarakat dengan literasi kesehatan rendah.
    10. D. Peningkatan pemanfaatan layanan pemeriksaan dan berkurangnya stigma terhadap pemeriksaan.

    BalasHapus
  21. 1: Jawaban C
    "Menghargai nilai budaya sambil memastikan pesan tetap sesuai bukti ilmiah"

    2: Jawaban B
    "Melakukan cultural assessment terhadap masyarakat"

    3: Jawaban C
    "Stigma"

    4: Jawaban D
    "TBC dapat dicegah dan diobati; orang yang sakit perlu mendapatkan dukungan"

    5: Jawaban D
    "Menjaga kerahasiaan dan mengikuti ketentuan pelayanan yang berlaku"

    6: Jawaban C
    "Melibatkan tokoh adat sebagai mitra komunikasi setelah diberikan informasi yang tepat"

    7: Jawaban C
    "Bisa Bapak ceritakan kembali apa yang akan dilakukan jika batuk tidak kunjung sembuh?"

    8: Jawaban C
    "Mengidentifikasi hambatan akses dan mengembangkan strategi pelayanan yang sesuai bersama Puskesmas"

    9: Jawaban C
    "Penggunaan jargon yang berpotensi menghambat pemahaman"

    10: Jawaban D
    "Peningkatan pemanfaatan layanan pemeriksaan dan berkurangnya stigma terhadap pemeriksaan"

    BalasHapus
  22. 1. C. Menghargai nilai budaya sambil memastikan pesan tetap sesuai bukti ilmiah.
    2. ⁠B. Melakukan cultural assessment terhadap masyarakat.
    3. ⁠C. Stigma
    4. ⁠D. "TBC dapat dicegah dan diobati; orang yang sakit perlu mendapatkan dukungan."
    5. ⁠D. Menjaga kerahasiaan dan mengikuti ketentuan pelayanan yang berlaku.
    6. ⁠C. Melibatkan tokoh adat sebagai mitra komunikasi setelah diberikan informasi yang tepat.
    7. ⁠C. "Bisa Bapak ceritakan kembali apa yang akan dilakukan jika batuk tidak kunjung sembuh?"
    8. ⁠C. Mengidentifikasi hambatan akses dan mengembangkan strategi pelayanan yang sesuai bersama Puskesmas
    9. ⁠C. Penggunaan jargon yang berpotensi menghambat pemahaman.
    10. ⁠D. Peningkatan pemanfaatan layanan pemeriksaan dan berkurangnya stigma terhadap pemeriksaan

    BalasHapus
  23. no 1
    C. Menghargai nilai budaya sambil memastikan pesan tetap sesuai bukti ilmiah.

    no 2
    B. Melakukan cultural assessment terhadap masyarakat.

    no 3
    C. Stigma.

    no 4
    D. TBC dapat dicegah dan diobati; orang yang sakit perlu mendapatkan dukungan.

    no 5
    D. Menjaga kerahasiaan dan mengikuti ketentuan pelayanan yang berlaku.

    no 6
    C. Melibatkan tokoh adat sebagai mitra komunikasi setelah diberikan informasi yang tepat.

    no 7
    C. Bisa Bapak ceritakan kembali apa yang akan dilakukan jika batuk tidak kunjung sembuh?

    no 8
    C. Mengidentifikasi hambatan akses dan mengembangkan strategi pelayanan yang sesuai bersama Puskesmas.

    no 9
    C. Penggunaan jargon yang berpotensi menghambat pemahaman.

    no 10
    D. Peningkatan pemanfaatan layanan pemeriksaan dan berkurangnya stigma terhadap pemeriksaan

    BalasHapus
  24. Vidi Indira Keisha Dinanti

    Soal 1
    C. Menghargai nilai budaya sambil memastikan pesan tetap sesuai bukti ilmiah.

    Soal 2
    B. Melakukan cultural assessment terhadap masyarakat.

    Soal 3
    C. Stigma.

    Soal 4
    D. “TBC dapat dicegah dan diobati; orang yang sakit perlu mendapatkan dukungan.”

    Soal 5
    D. Menjaga kerahasiaan dan mengikuti ketentuan pelayanan yang berlaku.

    Soal 6
    C. Melibatkan tokoh adat sebagai mitra komunikasi setelah diberikan informasi yang tepat.

    Soal 7
    C. “Bisa Bapak ceritakan kembali apa yang akan dilakukan jika batuk tidak kunjung sembuh?”

    Soal 8
    C. Mengidentifikasi hambatan akses dan mengembangkan strategi pelayanan yang sesuai bersama Puskesmas.

    Soal 9
    C. Penggunaan jargon yang berpotensi menghambat pemahaman.

    Soal 10
    D. Peningkatan pemanfaatan layanan pemeriksaan dan berkurangnya stigma terhadap pemeriksaan.

    BalasHapus
  25. 1. C. Menghargai nilai budaya sambil memastikan pesan tetap sesuai bukti ilmiah
    2. B. Melakukan cultural assessment terhadap masyarakat
    3. C. stigma
    4. D. TBC dapat dicegah dan diobati; orang yang sakit perlu mendapatkan dukungan.
    5. D. Menjaga kerahasiaan dan ketentuan pelayanan yang berlaku
    6. C. Melibatkan tokoh adat sebagai mitra komunikasi setelah diberikan informasi yang tepat
    7. C. "Bisa Bapak ceritakan kembali apa yang akan dilakukan jika batuk tidak kunjung sembuh?"
    8. C. Mengidentifikasi hambatan akses dan mengembangkan strategi pelayanan yang sesuai bersama
    9. C. Penggunaan jargon yang berpotensi menghambat pemahaman
    10. D. Peningkatan pemanfaatan layanan pemeriksaan dan berkurangnya stigma terhadap pemeriksaan

    BalasHapus
  26. 1. C. Mengakui nilai budaya sambil memastikan pesan tetap sesuai bukti ilmiah.
    2. B. Melakukan cultural assessment terhadap masyarakat.
    3. C. Stigma.
    4. D. “TBC dapat dicegah dan diobati; orang yang sakit perlu mendapatkan dukungan.”
    5. D. Menjaga kerahasiaan dan mengikuti ketentuan pelayanan yang berlaku.
    6. C. Melibatkan tokoh adat sebagai mitra komunikasi setelah diberikan informasi yang tepat.
    7. C. “Bisa Bapak ceritakan kembali apa yang akan dilakukan jika batuk tidak kunjung sembuh?”
    8. C. Mengidentifikasi hambatan akses dan mengembangkan strategi pelayanan yang sesuai bersama Puskesmas.
    9. C. Penggunaan jargon yang berpotensi menghambat pemahaman.
    10. D. Peningkatan pemanfaatan layanan pemeriksaan dan berkurangnya stigma terhadap pemeriksaan.

    BalasHapus
  27. BAGIAN 1

    1. Mengapa pengetahuan tinggi tetapi perilaku belum optimal?
    Karena mengetahui sesuatu belum tentu membuat seseorang langsung melakukannya. Pada kasus ini, masyarakat sebenarnya sudah tahu bahwa cuci tangan pakai sabun itu penting, tetapi masih ada yang tidak melakukannya karena terburu-buru, lupa, atau sudah terbiasa dengan kebiasaan sebelumnya. Selain itu, tidak semua keluarga memiliki fasilitas dan sabun yang cukup. Jadi, perilaku PHBS tidak hanya dipengaruhi oleh pengetahuan, tetapi juga oleh kebiasaan, kondisi lingkungan, fasilitas, dan kemauan untuk berubah.
    2. Apa faktor sosialnya?
    Faktor sosialnya dapat berasal dari keluarga dan lingkungan sekitar. Kebiasaan seseorang biasanya dipengaruhi oleh orang-orang yang ada di sekitarnya. Misalnya, jika orang tua selalu mengingatkan anak untuk mencuci tangan, anak akan lebih terbiasa melakukannya. Sebaliknya, jika lingkungan keluarga tidak terlalu memperhatikan PHBS, seseorang juga bisa menganggap perilaku tersebut tidak terlalu penting. Kebiasaan masyarakat sekitar juga dapat memengaruhi seseorang dalam menjalankan PHBS.
    3. Apa faktor budayanya?
    Faktor budaya terlihat dari kebiasaan yang sudah dilakukan sejak lama dan dianggap biasa oleh masyarakat. Contohnya adalah kebiasaan merokok di ruang tamu. Karena sudah dilakukan dari dulu dan tidak ada yang mempermasalahkannya, perilaku tersebut akhirnya dianggap normal. Hal seperti ini dapat menjadi hambatan dalam menerapkan PHBS karena masyarakat tidak merasa bahwa kebiasaan tersebut perlu diubah.
    4. Apakah perilaku merokok hanya masalah pengetahuan?
    Tidak. Merokok bukan hanya masalah kurangnya pengetahuan tentang bahaya rokok. Seseorang mungkin sudah mengetahui bahwa rokok berbahaya, tetapi tetap merokok karena sudah menjadi kebiasaan, mendapat pengaruh dari teman atau keluarga, atau karena lingkungan menganggap merokok sebagai hal yang biasa. Dalam kasus ini, merokok di ruang tamu sudah dianggap sebagai kebiasaan sejak dulu. Jadi, untuk mengubahnya diperlukan perubahan kebiasaan dan dukungan dari keluarga serta lingkungan, bukan hanya memberikan informasi tentang bahaya rokok.
    5. Apa yang dapat menjadi entry point intervensi?
    Intervensi dapat dimulai dari keluarga karena keluarga merupakan lingkungan yang paling dekat dengan individu. Misalnya dengan menyediakan tempat cuci tangan yang mudah digunakan dan selalu menyediakan sabun. Orang tua juga dapat membiasakan anak mencuci tangan sebelum makan dan setelah BAB. Untuk masalah merokok, keluarga dapat membuat kesepakatan agar tidak ada yang merokok di dalam rumah. Setelah itu, kebiasaan tersebut dapat didukung oleh kegiatan di tingkat RT/RW atau desa melalui edukasi dan kegiatan PHBS.
    6. Siapa opinion leader yang dapat dilibatkan?
    Opinion leader yang dapat dilibatkan adalah kepala desa, ketua RT/RW, kader Posyandu, tokoh agama, tokoh masyarakat, guru, dan tenaga kesehatan. Orang-orang tersebut biasanya cukup dipercaya dan memiliki pengaruh terhadap masyarakat. Mereka dapat memberikan contoh, mengingatkan warga, serta mengajak masyarakat untuk menerapkan PHBS. Misalnya, kader Posyandu dapat mengingatkan ibu dan keluarga tentang CTPS, sedangkan ketua RT dapat mengajak warga membuat kebiasaan untuk tidak merokok di dalam rumah.

    BalasHapus
  28. BAGIAN II
    1.Masalah utamanya bukan hanya karena adanya nyamuk, tetapi karena pencegahan DBD belum dilakukan secara rutin oleh masyarakat. Hal ini terlihat dari masih adanya 54 rumah yang ditemukan positif jentik, 31 rumah memiliki ember terbuka, 22 rumah memiliki barang bekas yang bisa menampung air, dan 47 rumah tidak melakukan pemeriksaan jentik secara rutin. Masyarakat juga masih menganggap bahwa fogging sudah cukup untuk mencegah DBD. Padahal, tempat berkembang biak nyamuk masih banyak ditemukan di lingkungan rumah.
    2.Menurut saya, masalahnya bukan hanya kurang pengetahuan. Masyarakat mungkin sudah mengetahui bahwa DBD disebabkan oleh nyamuk dan perlu dicegah, tetapi pengetahuan tersebut belum menjadi kebiasaan. Contohnya, masyarakat sudah tahu pentingnya membersihkan lingkungan, tetapi PSN mingguan belum dilakukan secara rutin. Jadi, yang menjadi masalah adalah adanya jarak antara pengetahuan dengan tindakan. Selain itu, masih ada anggapan bahwa setelah dilakukan fogging maka lingkungan sudah aman.
    3.Fogging belum menyelesaikan masalah karena fogging hanya membantu membunuh nyamuk dewasa, sedangkan jentik yang berada di tempat penampungan air tetap bisa berkembang menjadi nyamuk jika tempat tersebut tidak dibersihkan. Pada kasus ini masih ditemukan ember terbuka, barang bekas yang menampung air, dan banyak rumah yang tidak melakukan pemeriksaan jentik. Jadi, kalau setelah fogging masyarakat kembali membiarkan tempat-tempat tersebut menampung air, nyamuk dapat muncul kembali. Karena itu, fogging sebaiknya tidak dianggap sebagai satu-satunya cara pencegahan, tetapi perlu disertai PSN yang dilakukan secara rutin.
    4.Modal sosial yang sudah dimiliki masyarakat adalah semangat gotong royong dan adanya keterlibatan warga dalam kegiatan kerja bakti. Hal ini terlihat dari pernyataan ketua RT bahwa warga biasanya hadir ketika kerja bakti diumumkan. Artinya, masyarakat sebenarnya sudah memiliki kemauan untuk bekerja sama. Modal tersebut bisa dimanfaatkan untuk kegiatan PSN, sehingga PSN tidak terasa seperti kewajiban individu saja, tetapi menjadi kegiatan bersama untuk menjaga lingkungan.
    5.Kerja bakti yang selama ini dilakukan dapat digabungkan dengan kegiatan PSN. Misalnya, saat kerja bakti warga tidak hanya membersihkan jalan atau lingkungan, tetapi juga memeriksa tempat penampungan air, menguras bak mandi, menutup tempat air, dan membuang atau mengelola barang bekas yang dapat menampung air. Kader atau petugas kesehatan juga bisa membantu memberikan arahan mengenai tempat-tempat yang sering menjadi sarang jentik. Kegiatan tersebut bisa dibuat rutin, misalnya satu kali dalam seminggu, sehingga lama-kelamaan PSN menjadi kebiasaan masyarakat dan bukan hanya dilakukan ketika sudah ada kasus DBD.
    6.Stakeholder yang dapat dilibatkan antara lain Puskesmas, kelurahan, RT/RW, kader kesehatan atau jumantik, masyarakat, sekolah, dan tokoh masyarakat. Puskesmas dapat melakukan pemantauan dan memberikan edukasi, sedangkan RT/RW dapat mengajak serta mengoordinasikan warga. Kader atau jumantik dapat membantu pemeriksaan jentik dari rumah ke rumah. Masyarakat sendiri menjadi pihak yang paling penting karena pencegahan DBD harus dilakukan dari lingkungan rumah masing-masing. Sekolah juga dapat dilibatkan untuk menjaga lingkungan sekolah dan mengajarkan kebiasaan PSN kepada siswa.
    7.Keberhasilan program dapat dilihat dari beberapa hal, seperti berkurangnya jumlah rumah yang ditemukan positif jentik, meningkatnya jumlah rumah yang melakukan pemeriksaan jentik secara rutin, berkurangnya tempat penampungan air yang terbuka, serta meningkatnya partisipasi warga dalam kegiatan PSN. Selain itu, keberhasilan juga dapat dilihat dari menurunnya kasus DBD di wilayah tersebut. Jadi, keberhasilan program bukan hanya dilihat dari berapa kali fogging dilakukan, tetapi dari apakah masyarakat sudah mulai terbiasa melakukan PSN dan lingkungan menjadi lebih bersih dari tempat berkembang biaknya nyamuk.

    BalasHapus

  29. BAGIAN III
    1.Masalah perilakunya adalah masih ada orang tua yang menunda atau tidak melanjutkan imunisasi anak karena takut terhadap KIPI, lupa jadwal imunisasi, atau merasa anak lebih baik menunggu sampai besar.

    2.Masalah sosialnya terlihat dari adanya pengaruh keluarga dan lingkungan sekitar terhadap keputusan orang tua.
    3.Masalah budayanya berkaitan dengan kebiasaan dan kepercayaan yang berkembang di masyarakat. Misalnya, masih ada anggapan bahwa anak sebaiknya menunggu sampai lebih besar agar tubuhnya lebih kuat sebelum mendapatkan imunisasi. Kepercayaan seperti ini bisa membuat orang tua ragu karena sudah dianggap sebagai pemahaman yang benar dalam keluarga atau lingkungan mereka.

    4.Masalah komunikasinya adalah informasi tentang imunisasi belum diterima dengan baik oleh orang tua. Ibu merasa lebih percaya ketika bidan yang menjelaskan dibandingkan ketika kader yang menjelaskan. Selain itu, informasi dari WhatsApp yang belum tentu benar lebih mudah menyebar dan bisa membuat orang tua semakin bingung.

    5.Menurut saya, belum tentu. Tidak semua orang tua yang menunda imunisasi berarti anti-imunisasi. Ada yang sebenarnya mau anaknya diimunisasi, tetapi takut anak demam, mendapat informasi yang salah, lupa jadwal, atau kesulitan datang ke tempat pelayanan. Jadi, masalahnya lebih luas daripada sekadar menolak imunisasi. Kita perlu mengetahui dulu alasan orang tua sebelum memberikan penilaian.

    6.Caranya adalah dengan mendengarkan dulu kekhawatiran orang tua dan tidak langsung menyalahkan mereka.

    7.Komunikator utamanya bisa melibatkan bidan, tenaga kesehatan di Puskesmas, dan kader Posyandu. Dalam kasus ini, bidan dapat memberikan penjelasan mengenai KIPI dan keamanan imunisasi karena ibu terlihat lebih percaya ketika bidan yang menjelaskan. Kader juga tetap penting karena lebih dekat dengan masyarakat dan bisa membantu mengingatkan jadwal serta melakukan pendekatan kepada keluarga. Tokoh masyarakat atau tokoh keluarga juga bisa dilibatkan agar dukungan terhadap imunisasi semakin kuat.

    8.Media yang digunakan sebaiknya disesuaikan dengan kebiasaan masyarakat. Karena 61% orang tua mendapatkan informasi dari media sosial, WhatsApp bisa dimanfaatkan untuk menyebarkan informasi yang benar dan mudah dipahami. Misalnya berupa poster, video pendek, atau pesan singkat tentang manfaat imunisasi, jadwal imunisasi, KIPI yang umum terjadi, dan kapan anak perlu dibawa ke fasilitas kesehatan. Selain media sosial, penyuluhan langsung di Posyandu juga tetap penting karena orang tua bisa bertanya langsung kepada kader atau tenaga kesehatan.

    9.Follow-up bisa dilakukan dengan mendata anak yang imunisasinya belum lengkap, kemudian melihat imunisasi apa yang masih kurang dan kapan seharusnya diberikan. Kader dapat mengingatkan orang tua melalui WhatsApp atau kunjungan rumah jika diperlukan.

    BalasHapus