Jumat, 18 September 2026

PHBS, Demam Berdarah Dengue (DBD), dan Imunisasi

 

 

MATERI KULIAH

SOSIAL BUDAYA KESEHATAN MASYARAKAT

Dr. Safrudin, SKM, M.Kes.

 

Topik: PHBS, Demam Berdarah Dengue (DBD), dan Imunisasi

Program Studi: Sarjana Terapan Promosi Kesehatan
Pendekatan: Social and Cultural Determinants of Health – Health Promotion
Metode: Ceramah interaktif, case-based learning, diskusi kelompok, analisis data, role play

 

1. CAPAIAN PEMBELAJARAN

Setelah mengikuti pembelajaran, mahasiswa mampu:

  1. Menjelaskan hubungan sosial, budaya, perilaku, lingkungan, dan status kesehatan masyarakat.
  2. Menganalisis pengaruh nilai, norma, kepercayaan, tradisi, keluarga, dan kelompok sosial terhadap perilaku kesehatan.
  3. Menganalisis masalah PHBS, DBD, dan imunisasi berdasarkan data.
  4. Mengidentifikasi faktor sosial budaya sebagai faktor pendukung maupun penghambat.
  5. Menganalisis perilaku kesehatan menggunakan pendekatan promosi kesehatan.
  6. Merancang pesan dan intervensi yang sensitif budaya, tidak menstigma, dan berbasis bukti.
  7. Menentukan strategi pemberdayaan masyarakat dan kemitraan.
  8. Menyusun indikator monitoring dan evaluasi intervensi.

 

2. MENGAPA TOPIK INI PENTING?

Masalah kesehatan masyarakat tidak hanya ditentukan oleh keberadaan penyakit.

Seseorang dapat mengetahui bahwa:

"Nyamuk menyebabkan DBD."

tetapi tetap tidak melakukan PSN.

Orang tua dapat mengetahui bahwa:

"Imunisasi penting."

tetapi tetap menunda imunisasi anak.

Masyarakat dapat mengetahui:

"Cuci tangan menggunakan sabun itu penting."

tetapi tidak selalu melakukannya pada waktu yang tepat.

Artinya:

PENGETAHUAN ≠ PERILAKU

Perilaku kesehatan dipengaruhi oleh berbagai faktor:

Individu

Keluarga

Kelompok sosial

Budaya dan norma

Lingkungan

Akses pelayanan

Kebijakan

Perilaku kesehatan

Status kesehatan

Inilah alasan mahasiswa Promosi Kesehatan perlu memahami sosial budaya kesehatan masyarakat, bukan hanya materi penyakit.

 

3. KONSEP SOSIAL BUDAYA KESEHATAN

A. Apa yang dimaksud sosial budaya?

Sosial

Berkaitan dengan:

  1. keluarga;
  2. teman sebaya;
  3. kelompok masyarakat;
  4. organisasi;
  5. tokoh masyarakat;
  6. struktur sosial;
  7. status ekonomi;
  8. pendidikan;
  9. pekerjaan;
  10. jaringan komunikasi.

Budaya

Berkaitan dengan:

  1. nilai;
  2. norma;
  3. kepercayaan;
  4. adat;
  5. tradisi;
  6. kebiasaan;
  7. bahasa;
  8. simbol;
  9. persepsi tentang sehat dan sakit;
  10. cara mencari pertolongan kesehatan.

 

4. BUDAYA MEMENGARUHI PERILAKU KESEHATAN

Hubungan sederhananya:

Nilai

Kepercayaan

Persepsi

Sikap

Norma sosial

Perilaku

Dampak kesehatan

Contoh:

Masyarakat percaya:

"Anak yang habis imunisasi biasanya panas."

Pengalaman tersebut dapat menimbulkan:

khawatir → takut → menunda imunisasi.

Namun, pengalaman demam setelah imunisasi harus dipahami secara tepat melalui komunikasi kesehatan yang baik, bukan langsung dianggap sebagai bukti bahwa imunisasi berbahaya.

 

5. BUDAYA BUKAN SELALU HAMBATAN

Ini merupakan konsep penting.

Jangan mengajarkan kepada mahasiswa bahwa:

"Budaya masyarakat adalah masalah."

Yang lebih tepat:

Budaya dapat menjadi:

a.    Faktor risiko

atau

b.    Faktor protektif

atau

c.    Modal sosial untuk intervensi.

Contoh:

Budaya gotong royong

Jika tidak diarahkan:

→ hanya untuk kegiatan sosial.

Jika dimanfaatkan:

→ menjadi gerakan PSN bersama.

Tokoh agama

Jika tidak dilibatkan:

→ pesan kesehatan hanya berasal dari tenaga kesehatan.

Jika dilibatkan:

→ dapat menjadi penguat norma sosial hidup sehat.

Kader

Jika diberi pelatihan:

→ menjadi agen perubahan yang dipercaya masyarakat.

 

 

 

 

 

BAGIAN I

PHBS DALAM PERSPEKTIF SOSIAL BUDAYA

PENGERTIAN PHBS

PHBS adalah perilaku kesehatan yang dilakukan atas dasar kesadaran sehingga individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat mampu menolong dirinya sendiri dalam bidang kesehatan dan berperan aktif dalam mewujudkan kesehatan.

Kementerian Kesehatan menempatkan berbagai perilaku seperti pemberantasan jentik, konsumsi buah dan sayur, aktivitas fisik, dan tidak merokok di dalam rumah sebagai bagian penting perilaku hidup sehat. PHBS juga diterapkan dalam berbagai tatanan, termasuk rumah tangga, sekolah, tempat kerja, tempat umum, dan fasilitas pelayanan kesehatan. (Ayo Sehat)

 

PHBS BUKAN SEKADAR PENGETAHUAN

Mahasiswa perlu membedakan:

Knowledge

"Tahu bahwa cuci tangan penting."

Attitude

"Setuju bahwa cuci tangan penting."

Practice

"Benar-benar mencuci tangan menggunakan sabun pada waktu yang tepat."

Ketiga hal tersebut tidak selalu sama.

 

PHBS DAN DETERMINAN SOSIAL

Perilaku PHBS dipengaruhi oleh:

Faktor individu

  1. pengetahuan;
  2. sikap;
  3. persepsi risiko;
  4. efikasi diri.

Faktor interpersonal

  1. orang tua;
  2. pasangan;
  3. teman;
  4. keluarga.

Faktor komunitas

  1. norma;
  2. kader;
  3. RT/RW;
  4. tokoh masyarakat.

Faktor lingkungan

  1. air;
  2. sanitasi;
  3. tempat sampah;
  4. sarana cuci tangan.

Faktor struktural

  1. kemiskinan;
  2. akses;
  3. kebijakan;
  4. fasilitas publik.

SKI 2023 memang mengukur berbagai indikator kesehatan lingkungan, higiene, sanitasi, perilaku hidup bersih dan sehat, perilaku pencegahan gigitan nyamuk, penggunaan tembakau, aktivitas fisik, serta faktor kesehatan lainnya. (BKPK Kemenkes)

 

DATA KONTEKS INDONESIA

SKI 2023 menunjukkan bahwa:

  1. 89,6% rumah tangga memiliki akses air minum layak dasar;
  2. 91,1% memiliki akses fasilitas BAB untuk penggunaan sendiri;
  3. sekitar 3% masih melakukan buang air besar sembarangan. (BKPK Kemenkes)

Ketersediaan sarana cuci tangan juga tidak seragam menurut karakteristik sosial ekonomi dan pendidikan. Misalnya, pada data SKI 2023, proporsi rumah tangga dengan fasilitas cuci tangan di dalam rumah lebih tinggi pada kelompok berpendidikan lebih tinggi. (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia)

Pesan penting untuk mahasiswa:

PHBS harus dilihat sebagai interaksi antara perilaku dan lingkungan.

Tidak tepat menyalahkan individu semata ketika sarana pendukung perilaku sehat tidak tersedia.

 

CONTOH KASUS PHBS

Kasus 1 – "Tahu tetapi Tidak Melakukan"

Desa Mekarsari memiliki 1.200 KK.

 

Survei terhadap 200 KK menunjukkan:

 

Indikator

Hasil

Mengetahui pentingnya CTPS

91%

Memiliki fasilitas cuci tangan

78%

Memiliki sabun

61%

CTPS sebelum makan

57%

CTPS setelah BAB

68%

Tidak merokok di rumah

43%

PSN rutin

49%

 

Ketika diwawancarai, seorang ibu mengatakan:

"Kami tahu harus cuci tangan pakai sabun, Pak. Tapi kalau anak-anak buru-buru sekolah biasanya langsung makan."

Seorang bapak mengatakan:

"Merokok di ruang tamu sudah biasa dari dulu. Tidak ada yang merasa terganggu."

Pertanyaan mahasiswa

  1. Mengapa pengetahuan tinggi tetapi perilaku belum optimal?
  2. Apa faktor sosialnya?
  3. Apa faktor budayanya?
  4. Apakah perilaku merokok hanya masalah pengetahuan?
  5. Apa yang dapat menjadi entry point intervensi?
  6. Siapa opinion leader yang dapat dilibatkan?

 

BAGIAN II

DEMAM BERDARAH DENGUE DALAM PERSPEKTIF SOSIAL BUDAYA

DBD BUKAN HANYA MASALAH NYAMUK

DBD perlu dipahami sebagai masalah yang melibatkan:

Virus

  •  

vektor

  •  

lingkungan

  •  

perilaku

  •  

mobilitas penduduk

  •  

kondisi sosial

  •  

sistem kesehatan

  •  

iklim/lingkungan

 

Karena itu promosi kesehatan DBD tidak cukup hanya mengatakan:

"Jangan sampai digigit nyamuk."

 

SITUASI TERKINI DBD DI INDONESIA

DBD masih menjadi masalah kesehatan penting di Indonesia.

WHO melaporkan bahwa pada 2024 Indonesia mengalami lebih dari 257.000 kasus dengue dan lebih dari 1.400 kematian. Tantangan yang diidentifikasi mencakup keterlambatan deteksi, keterbatasan diagnostik, koordinasi, dan rendahnya partisipasi masyarakat dalam pencegahan dengue. (World Health Organization)

Pada 2025, Kementerian Kesehatan dan WHO juga memperkuat pendekatan multisource collaborative surveillance, yang menggabungkan data kesehatan, iklim, entomologi, dan sektor terkait untuk memperbaiki respons terhadap dengue. (World Health Organization)

Data surveilans Kemenkes pada awal 2026 juga menunjukkan adanya suspek dengue di berbagai provinsi, termasuk Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Banten, dan Jakarta. (Surveilans)

 

KESALAHAN PERSEPSI MASYARAKAT TENTANG DBD

Beberapa contoh yang perlu dikaji secara kritis:

Mitos 1

"Kalau sudah fogging berarti sudah aman."

Mitos 2

"Jentik di air bersih tidak berbahaya."

Mitos 3

"DBD hanya terjadi ketika musim hujan."

Mitos 4

"Kalau tidak ada nyamuk yang terlihat berarti rumah aman."

Mitos 5

"Anak demam pasti DBD."

Promotor kesehatan harus mengoreksi informasi tanpa mempermalukan masyarakat.

 

PSN SEBAGAI PERILAKU SOSIAL

Pencegahan DBD membutuhkan tindakan individu sekaligus komunitas.

Contohnya:

Individu

→ menguras/menutup/mengelola tempat penampungan air.

Keluarga

→ melakukan pemeriksaan jentik.

RT

→ pemantauan lingkungan.

Sekolah

→ pemeriksaan tempat berkembang biak nyamuk.

Puskesmas

→ surveilans dan respons.

Pemerintah

→ kebijakan lingkungan dan pengendalian vektor.

 

BUDAYA GOTONG ROYONG SEBAGAI MODAL

Pendekatan yang menarik:

"Gotong Royong → PSN"

Daripada hanya:

"Masyarakat harus melakukan PSN."

ubah menjadi:

"Gerakan warga menjaga lingkungan bersama."

Dengan demikian, promosi kesehatan menggunakan norma sosial positif yang sudah ada, bukan menciptakan budaya baru dari luar.

 

CONTOH KASUS DBD

Kasus 2 – "Fogging Sudah, Mengapa Kasus Tetap Ada?"

Kelurahan Harapan Jaya memiliki 8.500 penduduk.

 

Dalam enam bulan pertama 2026:

RW

Kasus DBD

RW 01

4

RW 02

7

RW 03

15

RW 04

6

RW 05

3

 

RW 03 sudah dua kali mendapatkan fogging.

Namun pemeriksaan 200 rumah menemukan:

  1. 54 rumah positif jentik;
  2. 31 rumah memiliki ember terbuka;
  3. 22 rumah memiliki barang bekas yang menampung air;
  4. 47 rumah tidak melakukan pemeriksaan jentik rutin.

Hasil wawancara:

"Kami sudah fogging, jadi sebenarnya sudah dilakukan pencegahan."

Ketua RT mengatakan:

"Kalau kerja bakti diumumkan, warga biasanya hadir. Tetapi PSN mingguan belum menjadi kebiasaan."

Pertanyaan mahasiswa

  1. Apa masalah utama?
  2. Apakah masalah utamanya kurang pengetahuan?
  3. Mengapa fogging belum menyelesaikan masalah?
  4. Apa modal sosial yang tersedia?
  5. Bagaimana mengubah kerja bakti menjadi kegiatan PSN?
  6. Siapa stakeholder utama?
  7. Apa indikator keberhasilan program?

 

BAGIAN III

IMUNISASI DALAM PERSPEKTIF SOSIAL BUDAYA

IMUNISASI SEBAGAI MASALAH SOSIAL

Imunisasi bukan hanya masalah:

"Apakah vaksin tersedia?"

Tetapi juga:

  1. apakah masyarakat percaya;
  2. apakah orang tua memahami manfaat;
  3. apakah informasi mudah dipahami;
  4. apakah layanan mudah dijangkau;
  5. apakah keluarga mendukung;
  6. apakah jadwal dipahami;
  7. apakah terdapat pengalaman negatif sebelumnya;
  8. apakah terdapat informasi keliru;
  9. apakah sistem pencatatan berjalan baik.

 

SITUASI IMUNISASI INDONESIA TERKINI

Pada 2025, WHO/UNICEF memperkirakan cakupan Indonesia untuk DTP3 dan HepB3 masing-masing mencapai 82%, meningkat dari 78% pada 2024. Jumlah anak yang tidak menerima satu pun dosis vaksin juga diperkirakan turun dari sekitar 748.000 pada 2024 menjadi 657.000 pada 2025. Namun, masih terdapat kesenjangan cakupan antarwilayah dan antar kelompok masyarakat. (World Health Organization)

Kementerian Kesehatan pada Mei 2026 melaporkan cakupan imunisasi dasar lengkap 80,2% pada 2025, tetapi masih terdapat hampir 960.000 anak zero-dose yang menjadi sasaran penguatan program. (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia)

Sementara itu, survei cakupan imunisasi Indonesia 2025 yang didukung WHO menemukan hanya 56,4% anak usia 12–23 bulan yang teridentifikasi mendapatkan imunisasi lengkap dalam survei tersebut. Perbedaan antara data survei dan data administratif menunjukkan pentingnya kualitas data dan pencatatan, selain persoalan akses dan penerimaan masyarakat. (World Health Organization)

Ini merupakan pembelajaran penting:

Angka cakupan bukan hanya masalah pelayanan.

Cakupan dipengaruhi oleh:

Supply

  •  

Access

  •  

Demand

  •  

Trust

  •  

Data quality

 

FAKTOR SOSIAL BUDAYA IMUNISASI

Faktor keluarga

  1. keputusan orang tua;
  2. pengaruh kakek-nenek;
  3. pengalaman keluarga.

Faktor komunitas

  1. tokoh masyarakat;
  2. kader;
  3. kelompok ibu;
  4. norma sosial.

Faktor informasi

  1. WhatsApp;
  2. TikTok;
  3. Facebook;
  4. influencer;
  5. grup keluarga.

Faktor pelayanan

  1. jarak;
  2. jadwal;
  3. waktu pelayanan;
  4. komunikasi petugas.

Faktor psikologis perilaku

  1. takut;
  2. persepsi risiko;
  3. pengalaman KIPI;
  4. kepercayaan.

 

MISINFORMASI DAN KOMUNIKASI IMUNISASI

Contoh:

"Anak demam setelah imunisasi berarti vaksinnya tidak cocok."

Respons promotor kesehatan tidak boleh:

"Itu salah! Jangan percaya."

Lebih baik:

  1. gali sumber informasi;
  2. dengarkan kekhawatiran;
  3. validasi emosi tanpa membenarkan informasi keliru;
  4. jelaskan fakta;
  5. berikan informasi tentang reaksi yang mungkin terjadi;
  6. jelaskan kapan harus mencari pertolongan;
  7. pastikan jadwal berikutnya.

Prinsip:

LISTEN → UNDERSTAND → EXPLAIN → SUPPORT → FOLLOW UP

 

CONTOH KASUS IMUNISASI

Kasus 3 – "Anak Saya Demam Setelah Imunisasi"

Di sebuah wilayah kerja Puskesmas terdapat 500 anak usia bawah dua tahun.

Data menunjukkan:

 

Indikator

Hasil

Imunisasi lengkap

78%

Belum lengkap

18%

Tidak pernah imunisasi

4%

Orang tua takut KIPI

37%

Lupa jadwal

22%

Kesulitan akses

15%

Pengaruh keluarga

18%

Mendapat informasi dari media sosial

61%

 

Seorang ibu mengatakan:

"Anak saya panas setelah imunisasi. Ibu saya bilang jangan diteruskan dulu."

Kader mengatakan:

"Kalau saya jelaskan sendiri, ibu masih ragu. Tetapi kalau bidan menjelaskan, biasanya lebih percaya."

Di sisi lain, grup WhatsApp ibu-ibu menyebarkan pesan:

"Lebih baik tunggu anak besar supaya tubuhnya kuat."

Pertanyaan mahasiswa

  1. Apa masalah perilaku?
  2. Apa masalah sosial?
  3. Apa masalah budaya?
  4. Apa masalah komunikasi?
  5. Apakah masalah tersebut semata-mata "anti-imunisasi"?
  6. Bagaimana melakukan komunikasi yang tidak menghakimi?
  7. Siapa yang harus menjadi komunikator?
  8. Media apa yang tepat?
  9. Bagaimana melakukan follow-up anak yang belum lengkap imunisasinya?

 

 

 

 

PERBANDINGAN TIGA MASALAH

ASPEK

PHBS

DBD

IMUNISASI

Fokus

Perilaku sehat

Pencegahan penyakit/vector

Pencegahan PD3I

Faktor individu

Pengetahuan/kebiasaan

Persepsi risiko

Kepercayaan/takut

Faktor keluarga

Kebiasaan rumah

PSN

Keputusan imunisasi

Faktor komunitas

Norma

Gotong royong

Dukungan sosial

Lingkungan

Sarana PHBS

Tempat berkembang biak nyamuk

Akses pelayanan

Media

Poster/WA

Kader/jumantik/WA

Konseling/WA

Tokoh penting

Kader/RT

RT/RW

Kader/bidan/tokoh

Strategi utama

Pembiasaan

Pemberdayaan

Demand & trust

 

MODEL ANALISIS SOSIAL BUDAYA

Mahasiswa dapat menggunakan model:

PRECEDE–PROCEED

Predisposing

  1. pengetahuan;
  2. kepercayaan;
  3. sikap;
  4. nilai.

Enabling

  1. fasilitas;
  2. akses;
  3. sarana;
  4. pelayanan.

Reinforcing

  1. keluarga;
  2. kader;
  3. tokoh masyarakat;
  4. teman sebaya.

Kemudian:

Intervensi

Perubahan perilaku

Perubahan lingkungan

Perubahan status kesehatan

 

MODEL ECOLOGICAL

Perilaku kesehatan dapat dianalisis dalam lima level:

Level 1 – Individu

Pengetahuan, sikap, persepsi.

Level 2 – Interpersonal

Keluarga dan teman.

Level 3 – Organisasi

Sekolah, Posyandu, Puskesmas.

Level 4 – Komunitas

RT/RW, tokoh masyarakat.

Level 5 – Kebijakan

Pemerintah dan regulasi.

Ini sangat sesuai untuk analisis:

PHBS + DBD + imunisasi.

 

PRINSIP PROMOSI KESEHATAN BERBASIS BUDAYA

Mahasiswa perlu menguasai 7 prinsip:

1. Respect

Menghargai masyarakat.

2. Listen

Mendengarkan sebelum memberi nasihat.

3. Understand

Memahami konteks budaya.

4. Engage

Melibatkan masyarakat.

5. Adapt

Menyesuaikan pesan.

6. Empower

Memberdayakan, bukan mendominasi.

7. Evidence-based

Tetap menggunakan bukti ilmiah.

 

JANGAN MELAKUKAN INI

Promotor kesehatan jangan mengatakan:

"Budaya masyarakat ini salah."

"Masyarakat tidak sadar kesehatan."

"Orang tua yang tidak imunisasi tidak peduli anak."

"Warga malas melakukan PSN."

"Mereka percaya mitos."

Sebaliknya:

"Apa alasan masyarakat melakukan praktik tersebut?"

"Nilai apa yang mendasarinya?"

"Siapa yang dipercaya masyarakat?"

"Apa hambatan yang dialami?"

"Bagaimana nilai lokal dapat menjadi kekuatan?"

 

CONTOH PESAN PROMOSI KESEHATAN

PHBS

"Cuci tangan pakai sabun sebelum makan, setelah dari toilet, dan setelah beraktivitas. Kebiasaan kecil melindungi keluarga."

DBD

"Jaga rumah, jaga tetangga. Luangkan waktu setiap minggu untuk memeriksa dan menghilangkan tempat berkembang biak nyamuk."

Imunisasi

"Pastikan imunisasi anak sesuai jadwal. Bila ada kekhawatiran setelah imunisasi, tanyakan kepada tenaga kesehatan dan jangan mengambil keputusan hanya dari informasi media sosial."

 

28. STRATEGI INTERVENSI TERPADU

Dosen dapat mengajak mahasiswa merancang program:

"KAMPUNG SEHAT BERBASIS BUDAYA"

Komponen 1 – PHBS

Keluarga sehat

→ CTPS
→ tidak merokok di rumah
→ sanitasi
→ aktivitas fisik.

Komponen 2 – DBD

Kampung bebas jentik

→ pemeriksaan jentik
→ PSN
→ gotong royong
→ pelaporan.

Komponen 3 – Imunisasi

Anak terlindungi

→ reminder
→ konseling
→ pelacakan anak yang belum lengkap
→ keterlibatan kader dan keluarga.

 

TUGAS MAHASISWA

Mahasiswa dibagi menjadi kelompok 5–6 orang.

Tugas utama:

"Anda adalah Tim Promosi Kesehatan Puskesmas Sukamaju."

Susun strategi untuk menangani ketiga masalah tersebut.

Mahasiswa harus menghasilkan:

1. Analisis masalah

PHBS, DBD, imunisasi.

2. Analisis sosial budaya

Minimal 5 faktor.

3. Analisis akar masalah

Fishbone.

4. Prioritas masalah

Metode USG.

5. Analisis stakeholder

Primer–sekunder–tersier.

6. Strategi intervensi

Minimal 3 intervensi.

7. Pesan kesehatan

Minimal 3 pesan.

8. Media

Minimal 3 media.

9. POA

Minimal 1 bulan.

10. Evaluasi

Input–proses–output–outcome.

 

PERTANYAAN HOTS

  1. Mengapa masyarakat yang mengetahui bahaya DBD tetap tidak melakukan PSN?
  2. Mengapa cakupan imunisasi dapat berbeda antara wilayah?
  3. Bagaimana keluarga memengaruhi keputusan imunisasi?
  4. Bagaimana WhatsApp dapat menjadi media pemberdayaan sekaligus sumber misinformasi?
  5. Apakah budaya harus diubah atau justru dimanfaatkan?
  6. Bagaimana membedakan nilai budaya dengan misinformasi?
  7. Mengapa promosi kesehatan tidak cukup menggunakan metode ceramah?
  8. Bagaimana cara melibatkan tokoh agama tanpa menjadikan pesan kesehatan kehilangan dasar ilmiahnya?
  9. Mengapa gotong royong dapat menjadi strategi promosi kesehatan?
  10. Bagaimana mengukur perubahan perilaku secara objektif?

 

PESAN KUNCI UNTUK MAHASISWA

PHBS

Perilaku sehat tidak hanya ditentukan oleh pengetahuan, tetapi juga oleh lingkungan dan norma sosial.

DBD

Pencegahan dengue membutuhkan keterlibatan masyarakat, pengendalian lingkungan, surveilans, dan respons yang tepat; tidak cukup mengandalkan satu tindakan seperti fogging. (World Health Organization)

Imunisasi

Meningkatkan cakupan bukan hanya menyediakan vaksin, tetapi juga memastikan akses, kepercayaan, komunikasi, pencatatan, dan kemampuan menjangkau anak yang terlewat. Strategi Imunisasi Nasional Indonesia 2025–2029 secara eksplisit menekankan cakupan yang berkeadilan, penguatan tata kelola, suplai, serta pembangunan permintaan dan kepercayaan masyarakat. (World Health Organization)

Sosial budaya

"Promotor kesehatan tidak datang untuk mengubah masyarakat terlebih dahulu; promotor kesehatan datang untuk memahami masyarakat, menemukan kekuatan yang sudah ada, lalu bersama masyarakat membangun perubahan yang sehat."

 

Referensi utama untuk bahan ajar

  1. Kementerian Kesehatan RI – Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, sebagai sumber data nasional tentang kesehatan lingkungan, perilaku dan PHBS. (BKPK Kemenkes)
  2. Kementerian Kesehatan RI – PHBS, untuk konsep dan indikator PHBS. (Ayo Sehat)
  3. WHO Indonesia – Dengue, untuk situasi dengue dan penguatan surveilans di Indonesia. (World Health Organization)
  4. WHO & UNICEF – WUENIC 2025, untuk perkembangan cakupan imunisasi Indonesia. (World Health Organization)
  5. Strategi Imunisasi Nasional Indonesia 2025–2029, untuk arah penguatan program imunisasi Indonesia. (World Health Organization)
  6. WHO Indonesia – Strengthening Immunization Evidence and Strategy, untuk isu kesenjangan cakupan, kualitas data, akses, persepsi, dan dukungan keluarga/komunitas. (World Health Organization)

145 komentar:

  1. Dini Nur Azizah
    1b

    bagian 2

    *1. Masalah utama?*
    Bukan kurang nyamuk, tapi *tingginya tempat perindukan karena PSN 3M Plus tidak rutin.*

    *2. Apakah kurang pengetahuan?*
    *Tidak.* Pengetahuan sudah tinggi, tapi perilaku rendah. Ini masalah sikap & kebiasaan, bukan info.

    *3. Kenapa fogging gagal?*
    Fogging cuma bunuh nyamuk dewasa, *tidak bunuh jentik & telur.* Efeknya cuma 1-2 hari. Tanpa PSN, nyamuk balik lagi. Fogging = pemadam, bukan pencegah.

    *4. Modal sosial?*
    - Gotong royong / kerja bakti
    - Kader Jumantik, PKK, RT/RW
    - Pengajian & Karang Taruna

    *5. Ubah kerja bakti jadi PSN?*
    Jangan bikin acara baru. *Tempel PSN ke kerja bakti yang ada.*
    Jumat = *30 menit pertama khusus cek jentik* + pakai checklist + lomba RT Bebas Jentik.

    *6. Stakeholder utama?*
    *Kunci: Ibu PKK & Ketua RT/RW.* Pendukung: Puskesmas, Lurah, Tokoh Agama.

    *7. Indikator berhasil?*
    - *Proses:* ABJ > 95%
    - *Outcome:* Container Index < 5%, rumah diperiksa > 80%
    - *Impact:* Kasus DBD turun

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  3. PERTANYAAN MAHASISWA 1

    1. Mengapa pengetahuan tinggi tetapi perilaku belum optimal?
    - Karena pengetahuan tidak selalu langsung mengubah perilaku. Seseorang bisa tahu dampak buruk merokok, tetapi tetap melakukannya karena sudah menjadi kebiasaan, pengaruh lingkungan, atau sulit untuk berhenti.
    2. Apa faktor sosialnya?
    - Faktor sosialnya antara lain pengaruh teman sebaya, keluarga, lingkungan pergaulan, serta anggapan bahwa merokok merupakan bagian dari interaksi sosial.
    3. Apa faktor budayanya?
    - Merokok sudah cukup melekat dalam sebagian kebiasaan masyarakat, misalnya sebagai bentuk pergaulan, menjamu tamu, atau simbol kedewasaan. Hal ini dapat membuat perilaku merokok dianggap wajar.
    4. Apakah perilaku merokok hanya masalah pengetahuan?
    - Tidak. Perilaku merokok juga dipengaruhi faktor psikologis, sosial, lingkungan, ekonomi, kebiasaan, dan ketergantungan terhadap nikotin.
    5. Apa yang dapat menjadi entry point intervensi?
    - Entry point bisa dimulai dari lingkungan yang paling dekat dengan sasaran, seperti keluarga, teman sebaya, kampus/sekolah, serta menciptakan lingkungan yang mendukung untuk tidak merokok.
    6. Siapa opinion leader yang dapat dilibatkan?
    - Bisa melibatkan tokoh masyarakat, tenaga kesehatan, guru atau dosen, tokoh agama, ketua organisasi mahasiswa, serta figur yang memang dipercaya oleh kelompok sasaran.

    BalasHapus
  4. PERTANYAAN MAHASISWA 2

    1. Apa masalah utama?
    - Masalah utamanya adalah masih adanya tempat perkembangbiakan nyamuk karena PSN belum dilakukan secara rutin dan konsisten.
    2. Apakah masalah utamanya kurang pengetahuan?
    - Tidak selalu. Masyarakat mungkin sudah mengetahui tentang DBD, tetapi penerapannya dalam kehidupan sehari-hari masih belum optimal.
    3. Mengapa fogging belum menyelesaikan masalah?
    - Karena fogging lebih banyak membunuh nyamuk dewasa, bukan memberantas telur dan jentiknya. Jadi, kalau tempat perkembangbiakan masih ada, nyamuk dapat muncul kembali.
    4. Apa modal sosial yang tersedia?
    - Modal sosialnya bisa berupa gotong royong, kader kesehatan, RT/RW, PKK, karang taruna, dan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan.
    5. Bagaimana mengubah kerja bakti menjadi kegiatan PSN?
    - Kerja bakti bisa diarahkan untuk 3M Plus, seperti menguras tempat air, menutup penampungan air, mengubur atau mendaur ulang barang bekas, serta memantau jentik secara rutin.
    6. Siapa stakeholder utama?
    - Stakeholder utamanya adalah puskesmas, kelurahan, RT/RW, kader jumantik, dan masyarakat sebagai pelaksana utama PSN.
    7. Apa indikator keberhasilan program?
    - Indikatornya dapat dilihat dari meningkatnya rumah yang bebas jentik, meningkatnya kepatuhan melakukan PSN, berkurangnya tempat perkembangbiakan nyamuk, dan menurunnya kasus DBD.

    BalasHapus
  5. PERTANYAAN HOTS

    1. Mengapa masyarakat yang mengetahui bahaya DBD tetap tidak melakukan PSN?
    - Karena pengetahuan saja belum tentu mengubah perilaku. Bisa dipengaruhi kebiasaan, rasa malas, lingkungan, atau anggapan bahwa PSN bukan tanggung jawab pribadi.
    2. Mengapa cakupan imunisasi dapat berbeda antara wilayah?
    - Karena akses pelayanan kesehatan, kondisi sosial ekonomi, pendidikan, kepercayaan masyarakat, serta ketersediaan tenaga dan fasilitas kesehatan berbeda di setiap wilayah.
    3. Bagaimana keluarga memengaruhi keputusan imunisasi?
    - Keluarga dapat menjadi sumber informasi dan dukungan. Jika keluarga percaya pada imunisasi, keputusan untuk imunisasi biasanya lebih mudah, begitu juga sebaliknya.
    4. Bagaimana WhatsApp dapat menjadi media pemberdayaan sekaligus sumber misinformasi?
    - WhatsApp memudahkan masyarakat berbagi informasi dan berkoordinasi, tetapi informasi yang salah juga dapat menyebar dengan cepat jika tidak diverifikasi.
    5. Apakah budaya harus diubah atau justru dimanfaatkan?
    - Sebaiknya budaya yang positif dimanfaatkan sebagai kekuatan. Yang perlu diubah adalah kebiasaan budaya yang terbukti bertentangan dengan prinsip kesehatan.
    6. Bagaimana membedakan nilai budaya dengan misinformasi?
    - Nilai budaya merupakan kebiasaan atau keyakinan yang berkembang dalam masyarakat, sedangkan misinformasi adalah informasi yang tidak sesuai dengan fakta atau bukti yang dapat dipercaya.
    7. Mengapa promosi kesehatan tidak cukup menggunakan metode ceramah?
    - Karena perubahan perilaku membutuhkan lebih dari sekadar pengetahuan. Masyarakat juga membutuhkan kesempatan untuk praktik, dukungan lingkungan, komunikasi dua arah, dan pendampingan.
    8. Bagaimana melibatkan tokoh agama tanpa menghilangkan dasar ilmiah?
    - Tokoh agama dapat membantu menyampaikan pesan kesehatan dengan bahasa dan nilai yang dekat dengan masyarakat, sementara isi medisnya tetap berdasarkan sumber ilmiah dan arahan tenaga kesehatan.
    9. Mengapa gotong royong dapat menjadi strategi promosi kesehatan?
    - Karena gotong royong memanfaatkan partisipasi dan rasa tanggung jawab bersama. Misalnya, masyarakat dapat bersama-sama melakukan PSN sehingga kegiatan tidak hanya menjadi tanggung jawab individu.
    10. Bagaimana mengukur perubahan perilaku secara objektif?
    - Tidak cukup dengan menanyakan pendapat masyarakat. Perubahan dapat diukur melalui observasi, checklist perilaku, frekuensi kegiatan, data sebelum-sesudah intervensi, atau indikator lingkungan seperti jumlah rumah bebas jentik.

    BalasHapus
  6. Jawaban Naura Eka Febriana Kelas 1B TK.1 Promosi Kesehatan, NIM P3.73.36.1.26.084
    BAGIAN 1
    1. Karena pengetahuan tidak selalu langsung menghasilkan tindakan. Perilaku juga dipengaruhi oleh kebiasaan, fasilitas, waktu, kenyamanan, dan dukungan lingkungan.
    2. Pengaruh keluarga, kebiasaan orang di sekitar, norma masyarakat, serta kurangnya dukungan untuk menerapkan PHBS.
    3. Adanya kebiasaan yang sudah dilakukan sejak lama, seperti menganggap merokok di ruang tamu sebagai hal yang biasa dan tidak menganggapnya sebagai masalah.
    4. Tidak. Merokok juga dipengaruhi oleh kebiasaan, lingkungan sosial, norma, serta penerimaan masyarakat terhadap perilaku tersebut.
    5. Dapat dimulai dari penyediaan fasilitas dan sabun, pembiasaan CTPS, edukasi yang praktis, serta membangun kebiasaan tidak merokok di dalam rumah.
    6. Kepala desa, ketua RT/RW, kader kesehatan/Jumantik, tokoh agama, tokoh masyarakat, guru, dan tokoh yang dihormati warga.

    BAGIAN 2
    1. Masalah utamanya adalah PSN belum dilakukan secara rutin, sehingga masih banyak tempat yang menjadi sarang nyamuk dan ditemukan rumah positif jentik.
    2. Tidak hanya pengetahuan. Masalah juga dipengaruhi kebiasaan, persepsi masyarakat, partisipasi warga, dan kondisi lingkungan.
    3. Karena fogging hanya membunuh nyamuk dewasa dan tidak menghilangkan jentik serta tempat perkembangbiakannya. Karena itu, PSN tetap diperlukan.
    4. Adanya gotong royong dan partisipasi warga dalam kegiatan kerja bakti.
    5. Dengan menggabungkan kerja bakti dengan pemeriksaan jentik, menguras dan menutup tempat air, serta membersihkan barang bekas yang dapat menampung air.
    6. Warga, RT/RW, kader Jumantik, Puskesmas, tokoh masyarakat, sekolah, dan pemerintah kelurahan.
    7. Berkurangnya rumah yang positif jentik, Meningkatnya pelaksanaan PSN rutin, Berkurangnya tempat penampungan air terbuka, Meningkatnya partisipasi warga dan Menurunnya kasus DBD.

    BAGIAN 3
    1. Masalah perilakunya adalah orang tua takut KIPI, menunda imunisasi, dan lupa jadwal imunisasi.
    2. Masalah sosialnya adalah pengaruh keluarga, terutama orang tua/kakek-nenek, serta pengaruh kelompok ibu di media sosial.
    3. Masalah budayanya adalah kepercayaan dan kebiasaan keluarga yang menganggap anak sebaiknya menunggu lebih besar sebelum imunisasi.
    4. Masalah komunikasinya adalah adanya informasi keliru di WhatsApp dan kurangnya komunikasi yang meyakinkan dari kader.
    5. Tidak semata-mata anti-imunisasi, karena sebagian orang tua sebenarnya menerima imunisasi tetapi takut KIPI, lupa jadwal, atau dipengaruhi informasi yang salah.
    6. Caranya dengan mendengarkan kekhawatiran, tidak menghakimi, menjelaskan fakta dengan bahasa sederhana, memberi kesempatan bertanya, dan melakukan tindak lanjut.
    7. Komunikator yang dapat dilibatkan adalah bidan, tenaga kesehatan, kader, dokter, serta tokoh masyarakat yang dipercaya.
    8. Media yang tepat adalah WhatsApp, media sosial, poster/leaflet, penyuluhan di Posyandu, dan komunikasi langsung dengan tenaga kesehatan.
    9. Follow-up dilakukan dengan mendata anak yang belum lengkap, mengingatkan jadwal melalui WhatsApp/telepon, melibatkan kader untuk kunjungan atau pemantauan, dan mengarahkan orang tua ke layanan imunisasi.

    BalasHapus
  7. KASUS 1 – PHBS

    1. Mengapa pengetahuan tinggi tetapi perilaku belum optimal?
    Karena pengetahuan tidak selalu langsung mengubah perilaku. Kebiasaan, lingkungan, rasa malas, lupa, dan kurangnya fasilitas juga dapat memengaruhi perilaku.

    2. Apa faktor sosialnya?
    Faktor sosial meliputi kebiasaan keluarga, pengaruh orang sekitar, norma masyarakat, dukungan lingkungan, dan kondisi ekonomi.

    3. Apa faktor budayanya?
    Faktor budaya berupa kebiasaan yang sudah dilakukan sejak lama dan dianggap wajar, seperti merokok di dalam rumah. Kebiasaan tersebut perlu diubah secara bertahap.

    4. Apakah perilaku merokok hanya masalah pengetahuan?
    Tidak. Merokok juga dipengaruhi kebiasaan, lingkungan, norma sosial, ketergantungan nikotin, dan persepsi terhadap risiko kesehatan.

    5. Apa yang dapat menjadi entry point intervensi?
    Keluarga, kader, serta tokoh masyarakat dapat menjadi entry point karena mereka memiliki pengaruh langsung terhadap kebiasaan masyarakat.

    6. Siapa opinion leader yang dapat dilibatkan?
    Ketua RT/RW, kader Posyandu, tokoh agama, tokoh masyarakat, guru, dan tenaga kesehatan.

    KASUS 2 – DBD

    1. Apa masalah utamanya?
    Masalah utamanya adalah PSN belum menjadi kebiasaan dan masih terdapat tempat perkembangbiakan nyamuk, seperti ember terbuka dan barang bekas yang menampung air.

    2. Apakah masalah utamanya kurang pengetahuan?
    Tidak sepenuhnya. Masalahnya juga berkaitan dengan kebiasaan, persepsi masyarakat, dan kurangnya penerapan PSN secara rutin.

    3. Mengapa fogging belum menyelesaikan masalah?
    Karena fogging terutama membunuh nyamuk dewasa, sedangkan telur dan jentik masih dapat berkembang jika tempat penampungan air tidak diberantas.

    4. Apa modal sosial yang tersedia?
    Gotong royong dan partisipasi warga dalam kerja bakti merupakan modal sosial yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan PSN.

    5. Bagaimana mengubah kerja bakti menjadi kegiatan PSN?
    Kerja bakti dapat diarahkan untuk memeriksa jentik, menguras dan menutup tempat penampungan air, serta membersihkan atau membuang barang bekas yang dapat menampung air.

    6. Siapa stakeholder utama?
    Masyarakat, keluarga, ketua RT/RW, kader, Puskesmas, kelurahan, tokoh masyarakat, dan Dinas Kesehatan.

    7. Apa indikator keberhasilan program?
    Menurunnya rumah positif jentik, berkurangnya tempat penampungan air terbuka, meningkatnya pemeriksaan jentik rutin, meningkatnya pelaksanaan PSN, dan menurunnya kasus DBD.

    BalasHapus
    Balasan
    1. PERTANYAAN HOTS

      1. Mengapa masyarakat yang mengetahui bahaya DBD tetap tidak melakukan PSN?
      Karena perilaku tidak hanya dipengaruhi pengetahuan, tetapi juga kebiasaan, lingkungan, persepsi risiko, dan dukungan masyarakat.

      2. Mengapa cakupan imunisasi dapat berbeda antarwilayah?
      Karena setiap wilayah memiliki perbedaan dalam akses pelayanan kesehatan, kondisi geografis, ekonomi, ketersediaan tenaga kesehatan, dan kepercayaan masyarakat.

      3. Bagaimana keluarga memengaruhi keputusan imunisasi?
      Keluarga dapat memberikan dukungan atau justru kekhawatiran. Kepercayaan dan pemahaman orang tua sangat memengaruhi keputusan imunisasi anak.

      4. Bagaimana WhatsApp dapat menjadi media pemberdayaan sekaligus sumber misinformasi?
      WhatsApp dapat digunakan untuk edukasi, pengingat jadwal, dan komunikasi kesehatan, tetapi juga dapat menyebarkan informasi yang belum terbukti kebenarannya. Karena itu, informasi perlu dicek dari sumber terpercaya.

      5. Apakah budaya harus diubah atau justru dimanfaatkan?
      Budaya yang mendukung kesehatan sebaiknya dimanfaatkan, sedangkan kebiasaan yang berisiko perlu diubah secara bertahap dengan tetap menghargai masyarakat.

      6. Bagaimana membedakan nilai budaya dengan misinformasi?
      Nilai budaya merupakan kebiasaan atau keyakinan masyarakat, sedangkan misinformasi adalah informasi yang keliru. Keduanya dapat dibedakan dengan melihat bukti ilmiah dan sumber informasinya.

      7. Mengapa promosi kesehatan tidak cukup menggunakan metode ceramah?
      Karena ceramah hanya meningkatkan pengetahuan. Perubahan perilaku juga membutuhkan praktik langsung, pemberdayaan, dukungan lingkungan, dan pemantauan.

      8. Bagaimana melibatkan tokoh agama tanpa menghilangkan dasar ilmiahnya?
      Tokoh agama dapat membantu menyampaikan dan memperkuat pesan kesehatan dengan mengaitkannya pada nilai agama, sementara informasi medis tetap berdasarkan bukti ilmiah dan tenaga kesehatan.

      9. Mengapa gotong royong dapat menjadi strategi promosi kesehatan?
      Karena gotong royong dapat meningkatkan partisipasi masyarakat dan digunakan untuk melakukan kegiatan kesehatan secara bersama, seperti PSN.

      10. Bagaimana mengukur perubahan perilaku secara objektif?
      Dengan menggunakan indikator yang dapat diamati, seperti jumlah rumah positif jentik, pelaksanaan PSN, pemeriksaan jentik rutin, cakupan imunisasi, dan perubahan jumlah kasus.

      Hapus
  8. Bagian 1

    1. Mengapa pengetahuan tinggi tetapi perilaku belum optimal?

    Karena pengetahuan tidak selalu sama dengan sikap dan praktik. Seseorang bisa mengetahui bahwa cuci tangan itu penting, tetapi belum tentu benar-benar melakukannya. Perilaku juga dipengaruhi oleh faktor individu, interpersonal, komunitas, lingkungan, dan struktural.
    2. Apa faktor sosialnya?

    Faktor sosialnya meliputi orang tua, pasangan, teman, keluarga, norma masyarakat, kader, RT/RW, dan tokoh masyarakat. Faktor-faktor tersebut dapat memengaruhi kebiasaan seseorang dalam menerapkan PHBS.
    3. Apa faktor budayanya?
    Faktor budayanya adalah kebiasaan dan norma yang sudah dianggap biasa dalam masyarakat. Contohnya, merokok di ruang tamu dianggap hal yang biasa karena sudah menjadi kebiasaan dan tidak ada yang merasa terganggu. Kebiasaan seperti ini dapat membuat perilaku tidak sehat terus dilakukan.
    4. Apakah perilaku merokok hanya masalah pengetahuan?

    Tidak. Berdasarkan materi, perilaku tidak hanya dipengaruhi oleh pengetahuan, tetapi juga sikap, persepsi risiko, efikasi diri, lingkungan, norma komunitas, keluarga, dan faktor struktural. Jadi, mengetahui bahaya merokok belum tentu membuat seseorang langsung berhenti merokok.
    5. Apa yang dapat menjadi entry point intervensi?

    Entry point intervensinya dapat dimulai dari lingkungan dan faktor sosial yang mendukung perilaku sehat, misalnya menyediakan sarana cuci tangan dan sabun, membangun kebiasaan CTPS, memberikan edukasi, serta melibatkan keluarga, RT/RW, kader, dan tokoh masyarakat.
    6. Siapa opinion leader yang dapat dilibatkan?

    Opinion leader yang dapat dilibatkan adalah kader, ketua RT/RW, tokoh masyarakat, dan tokoh lain yang berpengaruh di lingkungan masyarakat. Mereka dapat membantu memberikan contoh, mengajak masyarakat, dan membangun norma positif untuk menerapkan PHBS.

    BalasHapus
  9. Rezyta Deranova 1B (P3.73.36.1.26.092)
    Pertanyaan Mahasiswa 1 :
    1. Mengapa pengetahuan tinggi tetapi perilaku belum optimal?
    Pengetahuan yang tinggi tidak selalu langsung menghasilkan perubahan perilaku. Dalam kasus ini, masyarakat sudah mengetahui pentingnya CTPS, tetapi masih terdapat hambatan seperti terburu-buru, kebiasaan yang sudah berlangsung lama, kurangnya ketersediaan sabun, serta lingkungan yang belum mendukung. Hal ini terlihat dari 91% yang mengetahui pentingnya CTPS, tetapi hanya 57% yang melakukan CTPS sebelum makan.

    2. Apa faktor sosialnya?
    Faktor sosialnya meliputi kebiasaan keluarga, pengaruh anggota keluarga, lingkungan sekitar, serta norma yang berlaku di masyarakat. Misalnya, kebiasaan merokok di dalam rumah dianggap biasa karena sudah dilakukan sejak lama dan tidak ada anggota keluarga yang menegur atau merasa terganggu.

    3. Apa faktor budayanya?
    Faktor budaya terlihat dari kebiasaan yang dilakukan secara turun-temurun dan dianggap sebagai sesuatu yang normal. Contohnya, merokok di ruang tamu sudah menjadi kebiasaan sehingga masyarakat tidak menganggapnya sebagai perilaku yang perlu diubah. Selain itu, kebiasaan tidak mencuci tangan dengan sabun ketika terburu-buru juga dapat menjadi kebiasaan yang terus berulang.

    4. Apakah perilaku merokok hanya masalah pengetahuan?
    Tidak. Perilaku merokok tidak hanya dipengaruhi oleh pengetahuan, tetapi juga oleh kebiasaan, lingkungan sosial, norma keluarga, penerimaan masyarakat, serta kenyamanan atau ketergantungan terhadap rokok. Karena itu, peningkatan pengetahuan saja belum tentu cukup untuk mengubah perilaku merokok.

    5. Apa yang dapat menjadi entry point intervensi?
    Entry point yang dapat digunakan adalah keluarga dan lingkungan rumah, karena sebagian besar perilaku PHBS dilakukan di rumah. Intervensi dapat dimulai dengan menyediakan sabun dan fasilitas CTPS yang mudah dijangkau, membuat pengingat CTPS sebelum makan dan setelah BAB, serta membangun kesepakatan keluarga untuk tidak merokok di dalam rumah. Pendekatan tersebut dapat dilakukan secara bertahap agar masyarakat lebih mudah menerapkannya.

    6. Siapa opinion leader yang dapat dilibatkan?
    Opinion leader yang dapat dilibatkan antara lain kepala desa, ketua RT/RW, kader posyandu, tokoh masyarakat, tokoh agama, bidan atau tenaga kesehatan Puskesmas, serta guru. Mereka dapat memberikan contoh, menyampaikan pesan PHBS, mengajak masyarakat, dan membantu membentuk norma baru yang mendukung perilaku hidup bersih dan sehat.

    BalasHapus
  10. PERTANYAAN HOTS
    1. Karena pengetahuan saja tidak cukup. PSN juga dipengaruhi kebiasaan, lingkungan, fasilitas, norma sosial, dan partisipasi masyarakat.
    2. Karena setiap wilayah memiliki perbedaan akses pelayanan, kondisi sosial ekonomi, pendidikan, informasi, kepercayaan, dan ketersediaan fasilitas kesehatan.
    3. Keluarga dapat memengaruhi keputusan melalui dukungan, pengalaman, kepercayaan, dan pendapat orang tua atau anggota keluarga lainnya.
    4. WhatsApp dapat menjadi media pemberdayaan untuk berbagi informasi dan mengingatkan jadwal kesehatan, tetapi juga dapat menyebarkan informasi yang salah dengan cepat.
    5. Budaya sebaiknya dimanfaatkan sebagai modal sosial jika mendukung kesehatan, dan bagian yang menghambat dapat diperbaiki melalui pendekatan yang sesuai.
    6. Nilai budaya merupakan keyakinan atau kebiasaan yang dianut masyarakat, sedangkan misinformasi adalah informasi yang tidak sesuai dengan fakta atau bukti ilmiah.
    7. Karena perubahan perilaku membutuhkan partisipasi, praktik langsung, dukungan lingkungan, pemberdayaan, dan komunikasi dua arah, bukan hanya penyampaian informasi.
    8. Dengan melibatkan tokoh agama sebagai pendukung pesan kesehatan, sementara informasi medis tetap berdasarkan bukti ilmiah dan disampaikan bersama tenaga kesehatan.
    9. Karena gotong royong dapat meningkatkan partisipasi dan rasa tanggung jawab bersama, misalnya mengubah kerja bakti menjadi kegiatan PSN.
    10. Dengan membandingkan perubahan sebelum dan sesudah intervensi, seperti peningkatan praktik CTPS, peningkatan PSN, penurunan rumah positif jentik, atau peningkatan kelengkapan imunisasi.

    BalasHapus
  11. Bagian 1

    1.Karena pengetahuan saja belum cukup untuk mengubah perilaku. Pada kasus tersebut, masyarakat sudah mengetahui pentingnya mencuci tangan dengan sabun, tetapi kebiasaan sehari-hari, keterbatasan waktu, lingkungan, serta pengaruh keluarga membuat perilaku tersebut belum dilakukan secara konsisten.
    2.-Pengaruh kebiasaan anggota keluarga.
    Kebiasaan teman atau lingkungan sekitar.
    -Kurangnya dukungan keluarga untuk menerapkan perilaku sehat.
    -Adanya anggapan bahwa perilaku seperti merokok merupakan hal yang biasa.
    3.Faktor budaya terlihat dari kebiasaan yang sudah dilakukan secara turun-temurun dan dianggap normal. Contohnya, bapak mengatakan bahwa merokok di ruang tamu sudah menjadi kebiasaan sejak dulu dan tidak ada yang merasa terganggu. Artinya, kebiasaan tersebut telah menjadi bagian dari norma dalam keluarga sehingga sulit diubah hanya dengan memberikan informasi kesehatan.
    4.Tidak. Perilaku merokok bukan hanya dipengaruhi oleh pengetahuan, tetapi juga oleh faktor sosial, budaya, lingkungan, kebiasaan, keluarga, teman sebaya, dan norma yang berkembang di masyarakat. Seseorang dapat mengetahui bahaya rokok tetapi tetap merokok karena sudah terbiasa atau karena lingkungan sosialnya mendukung perilaku tersebut.
    5.Entry point atau titik awal intervensi dapat dimulai dari keluarga dan lingkungan rumah, karena kebiasaan tersebut terjadi dalam kehidupan sehari-hari.
    6.-Ketua RT/RW
    -Kader Posyandu
    -Tokoh agama
    -Tokoh masyarakat
    -Guru atau pihak sekolah
    -Kepala desa/lurah
    -Petugas Puskesmas

    BalasHapus
  12. Bagian 2
    1. Apa masalah utama?
    Masalah utamanya adalah PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk) belum menjadi kebiasaan rutin masyarakat, meskipun fogging sudah dilakukan. Hal ini terlihat dari masih ditemukannya 54 rumah positif jentik, 31 rumah memiliki ember terbuka, 22 rumah memiliki barang bekas yang menampung air, dan 47 rumah tidak melakukan pemeriksaan jentik secara rutin.
    2. Apakah masalah utamanya kurang pengetahuan?
    Tidak hanya masalah pengetahuan. Dari kasus tersebut, masyarakat sudah mengetahui adanya pencegahan, tetapi perilaku PSN mingguan belum menjadi kebiasaan. Jadi, masalahnya lebih berkaitan dengan perilaku, kebiasaan, lingkungan, dan keterlibatan masyarakat.
    3. Mengapa fogging belum menyelesaikan masalah?
    Karena fogging saja tidak cukup untuk mencegah DBD. PSN tetap diperlukan untuk mengurangi tempat berkembang biaknya nyamuk, seperti tempat penampungan air terbuka dan barang bekas yang dapat menampung air. Jika tempat tersebut masih ada, risiko munculnya nyamuk tetap ada.
    4. Apa modal sosial yang tersedia?
    Modal sosial yang tersedia adalah gotong royong dan partisipasi masyarakat. Dalam kasus tersebut, ketua RT menyampaikan bahwa kalau kerja bakti diumumkan, warga biasanya hadir. Artinya, sudah ada kebersamaan dan partisipasi warga yang dapat dimanfaatkan untuk membangun kegiatan PSN rutin.
    5. Bagaimana mengubah kerja bakti menjadi kegiatan PSN?
    Caranya dengan mengarahkan kegiatan gotong royong menjadi “Gotong Royong → PSN”. Jadi, tidak hanya membersihkan lingkungan, tetapi juga melakukan pemeriksaan jentik, menguras dan menutup tempat penampungan air, serta mengelola barang bekas yang dapat menampung air secara rutin.
    6. Siapa stakeholder utama?
    Stakeholder utamanya adalah:
    Individu/masyarakat → menguras, menutup, dan mengelola tempat penampungan air.
    Keluarga → melakukan pemeriksaan jentik.
    RT → melakukan pemantauan lingkungan.
    Sekolah → memeriksa tempat berkembang biak nyamuk.
    Puskesmas → melakukan surveilans dan respons.
    Pemerintah → membuat kebijakan lingkungan dan pengendalian vektor.
    7. Apa indikator keberhasilan program?
    Indikator keberhasilannya dapat dilihat dari berkurangnya rumah yang positif jentik, berkurangnya tempat penampungan air yang terbuka, meningkatnya pemeriksaan jentik secara rutin, serta PSN mingguan yang mulai menjadi kebiasaan masyarakat.

    BalasHapus
  13. BAGIAN I:
    ​1.Pengetahuan tidak otomatis menjadi tindakan jika tidak didukung fasilitas, waktu, dan kebiasaan.
    2.Rutinitas keluarga yang terburu-buru serta penerimaan sosial terhadap perilaku merokok di rumah.
    3.​Kebiasaan merokok di ruang tamu yang sudah mengakar dan dianggap wajar.
    4.Bukan hanya masalah pengetahuan, melainkan gabungan norma budaya, tekanan sosial, dan adiksi.
    5.Edukasi bahaya asap rokok bagi anak serta integrasi kebiasaan cuci tangan pada momen makan keluarga.
    ​6.ketua RT/RW, tokoh agama, kader PKK, dan Bidan Desa.

    BAGIAN II:
    ​1.Rendahnya konsistensi warga dalam melakukan PSN secara mandiri dan rutin.
    ​2.Bukan kurang pengetahuan, melainkan ketergantungan pada fogging dan belum terbentuknya kebiasaan PSN.
    3.Fogging hanya membunuh nyamuk dewasa, tidak membasmi jentik dan telur nyamuk.
    ​4.Kehadiran warga yang tinggi dalam kegiatan kerja bakti RT/RW.
    ​5.Mengintegrasikan gerakan pemeriksaan jentik (Gertak PSN) ke dalam agenda rutin kerja bakti.
    ​6.Ketua RT/RW, Kader Jumantik, Puskesmas, dan Karang Taruna.
    ​7.Peningkatan Angka Bebas Jentik dan penurunan kasus DBD.

    BAGIAN III:
    ​1.Penundaan/penghentian imunisasi karena takut efek demam dan termakan hoaks.
    ​2.Pengaruh nasihat keluarga dan misinformasi di grup WhatsApp.
    ​3.Kepercayaan lokal bahwa anak lebih baik diimunisasi saat sudah besar agar lebih kuat.
    ​4.Petugas/kader kurang empati dan belum efektif meredakan kekhawatiran orang tua.
    ​5. Lain dari sekadar "anti-imunisasi", masalah utamanya adalah keraguan dan rasa takut.
    ​6.Menggunakan metode Listen, Understand, Explain, Support, & Follow-up (mendengar dan berempati).
    ​7. Bidan Desa atau Tenaga Kesehatan
    ​8.Konseling tatap muka saat Posyandu dan edukasi infografis via WhatsApp Group.
    9.Kunjungan rumah oleh kader/bidan dan sistem pengingat jadwal.

    BalasHapus
  14. Rezyta Deranova 1B (P3.73.36.1.26.092)
    Pertanyaan Mahasiswa 2 :
    1. Apa masalah utama?
    Masalah utamanya adalah pencegahan DBD belum dilakukan secara rutin dan berkelanjutan, terutama dalam pemberantasan sarang nyamuk (PSN). Hal ini terlihat dari 54 rumah yang positif jentik, 31 rumah memiliki ember terbuka, 22 rumah memiliki barang bekas yang menampung air, dan 47 rumah tidak melakukan pemeriksaan jentik secara rutin. RW 03 juga memiliki kasus DBD paling banyak, yaitu 15 kasus.

    2. Apakah masalah utamanya kurang pengetahuan?
    Tidak sepenuhnya. Masyarakat kemungkinan sudah mengetahui bahwa fogging dapat dilakukan untuk mencegah DBD, tetapi masih terdapat kesalahpahaman bahwa fogging sudah cukup sebagai pencegahan. Masalah yang lebih besar adalah perilaku dan kebiasaan PSN yang belum dilakukan secara rutin.

    3. Mengapa fogging belum menyelesaikan masalah?
    Fogging tidak menyelesaikan seluruh sumber masalah karena hanya membunuh nyamuk dewasa dan tidak menghilangkan tempat berkembang biaknya jentik. Jika masih terdapat genangan air, ember terbuka, dan barang bekas yang menampung air, jentik dapat terus berkembang menjadi nyamuk dewasa. Oleh karena itu, fogging perlu didukung dengan PSN secara rutin.

    4. Apa modal sosial yang tersedia?
    Modal sosial yang sudah tersedia adalah partisipasi warga dalam kegiatan kerja bakti. Ketua RT juga memiliki kemampuan untuk mengumpulkan dan menggerakkan warga. Kebiasaan warga untuk hadir ketika kerja bakti dapat dimanfaatkan sebagai dasar untuk membangun kebiasaan PSN mingguan.

    5. Bagaimana mengubah kerja bakti menjadi kegiatan PSN?
    Kerja bakti dapat diarahkan tidak hanya untuk membersihkan lingkungan, tetapi juga menjadi kegiatan PSN mingguan. Misalnya, setiap kegiatan warga disertai pemeriksaan tempat penampungan air, menguras bak mandi, menutup wadah air, mengubur atau mendaur ulang barang bekas yang dapat menampung air, serta melakukan pemeriksaan jentik. Kegiatan dapat dibuat rutin dengan pembagian tugas sederhana antarwarga.

    6. Siapa stakeholder utama?
    Stakeholder yang dapat dilibatkan adalah Puskesmas, kelurahan, RT/RW, kader jumantik, kader kesehatan, tokoh masyarakat, serta warga. Puskesmas berperan dalam pembinaan dan pemantauan kesehatan, RT/RW menggerakkan masyarakat, kader jumantik membantu pemeriksaan jentik, sedangkan warga menjadi pelaksana utama PSN di rumah masing-masing.

    7. Apa indikator keberhasilan program?
    Indikator keberhasilannya dapat dilihat dari:
    - Menurunnya jumlah rumah positif jentik.
    - Meningkatnya jumlah rumah yang melakukan pemeriksaan jentik secara rutin.
    - Berkurangnya tempat penampungan air terbuka dan barang bekas yang dapat menjadi tempat berkembang biak nyamuk.
    - Meningkatnya partisipasi warga dalam PSN mingguan.
    - Menurunnya jumlah kasus DBD, terutama di RW 03.

    BalasHapus
  15. Bagian I
    ​1. Mengapa pengetahuan tinggi tetapi perilaku belum optimal?
    ​Niat dan Kesadaran (Intention Gap): Tahu bahayanya tidak otomatis membentuk dorongan/niat untuk berubah.
    ​Persepsi Risiko (Optimism Bias): Merasa dampak buruk kesehatan baru terjadi di masa depan atau tidak akan menimpa dirinya.
    ​Adiksi & Lingkungan: Ketergantungan zat (seperti nikotin) dan pengaruh lingkungan mengalahkan pengetahuan akademis yang dimiliki.
    ​2. Apa faktor sosialnya?
    ​Tekanan Teman Sebaya (Peer Pressure): Keinginan untuk diterima dalam kelompok pergaulan.
    ​Norma Sosial Lingkungan: Perilaku tertentu (seperti merokok) dianggap wajar dan menjadi simbol keakraban di masyarakat.
    ​Status Ekonomi & Akses: Kemudahan memperoleh barang/fasilitas di lingkungan sekitar.
    ​3. Apa faktor budayanya?
    ​Tradisi & Simbolisme: Kebiasaan menyajikan rokok/makanan tertentu dalam acara adat, hajatan, atau kumpul warga.
    ​Konstruksi Maskulinitas: Pandangan budaya bahwa perilaku tertentu melekat pada simbol kedewasaan atau kejantanan.
    ​Kepercayaan Turun-Temurun: Kebiasaan atau mitos kesehatan yang diwariskan antar-generasi.
    ​4. Apakah perilaku merokok hanya masalah pengetahuan?
    ​Tidak. Pengetahuan hanya sebagian kecil dari faktor pemicu.
    ​Perilaku merokok sangat dipengaruhi oleh adiksi zat fisik (ketergantungan nikotin), faktor psikologis (mekanisme mengatasi stres), serta iklim sosial-budaya yang mendukungnya.
    ​5. Apa yang dapat menjadi entry point intervensi?
    ​Kebijakan Kawasan Tanpa Rokok (KTR): Penerapan aturan bebas asap rokok di tingkat RT/RW atau fasilitasi umum.
    ​Pendekatan Berbasis Komunitas: Memanfaatkan kegiatan rutin warga (seperti pengajian, arisan, atau gotong royong) untuk edukasi partisipatif.
    ​Layanan Konseling Berhenti Merokok (KBM): Penyediaan akses terapi atau fasilitasi klinis di Puskesmas.
    ​6. Siapa opinion leader yang dapat dilibatkan?
    ​Tokoh Agama: Ustadz, pendeta, atau pemimpin spiritual setempat.
    ​Tokoh Masyarakat & Adat: Ketua RT/RW, kepala desa, atau tetua adat.
    ​Kader Kesehatan & Petugas Puskesmas: Figur lokal yang rutin berinteraksi langsung dengan warga.

    BalasHapus
  16. BAGIAN 1

    1. Mengapa pengetahuan tinggi tapi perilaku belum optimal?

    Karena pengetahuan saja belum cukup untuk mengubah perilaku. Meskipun masyarakat sudah tahu pentingnya CTPS, masih ada kebiasaan lama, keterbatasan fasilitas, sertakondisi yang membuat orang tidak menerapkannya (misalnya terburu-buru).

    2. Apa faktor sosialnya?

    Faktor sosial berasal dari pengaruh orang sekitar seperti keluarga, orang tua, dan lingkungan. Kebiasaan dalam keluarga sangat berpengaruh, misalnya anak tidak dibiasakan cuci tangan sebelum makan.

    3. Apa faktor budayanya?

    Faktor budaya terlihat dari kebiasaan yang sudah dianggap wajar, seperti merokok di dalam rumah. Karena sudah menjadi kebiasaan turun-temurun, perilaku ini sulit diubah.

    4. Apakah merokok hanya masalah pengetahuan?

    Tidak. Selain pengetahuan, perilaku merokok dipengaruhi oleh kebiasaan, norma sosial, dan lingkungan. Jadi walaupun tahu bahaya, tetap dilakukan karena sudah terbiasa.

    5. Entry point intervensi?

    Intervensi bisa dimulai dari edukasi yang lebih praktis, penyediaan fasilitas cuci tangan, serta pembiasaan perilaku sehat di lingkungan keluarga dan masyarakat.

    6. Opinion leader?

    Yang bisa dilibatkan adalah tokoh masyarakat, kader kesehatan, tokoh agama, dan orang tua, karena mereka punya pengaruh besar dalam mengubah perilaku masyarakat.

    BalasHapus
  17. BAGIAN 2

    1. Apa masalah utama?

    Masalah utamanya adalah masih banyaknya tempat berkembang biak nyamuk (jentik), meskipun sudah dilakukan fogging.

    2. Apakah masalah utamanya kurang pengetahuan?

    Tidak sepenuhnya. Masyarakat sudah tahu, tapi perilakunya belum konsisten, seperti tidak rutin melakukan PSN.

    3. Mengapa fogging belum menyelesaikan masalah?

    Karena fogging hanya membunuh nyamuk dewasa, tidak membasmi jentik. Sumber masalah (genangan air) masih ada.

    4. Apa modal sosial yang tersedia?

    Adanya kerja bakti dan partisipasi warga saat ada kegiatan menunjukkan masyarakat bisa diajak bergerak bersama.

    5. Bagaimana mengubah kerja bakti menjadi kegiatan PSN?

    Kerja bakti diarahkan untuk fokus pada PSN, seperti membersihkan tempat penampungan air, menutup ember, dan mengubur barang bekas secara rutin.

    6. Siapa stakeholder utama?

    Ketua RT/RW, kader kesehatan, petugas puskesmas, dan masyarakat setempat.

    7. Apa indikator keberhasilan program?

    Menurunnya jumlah jentik dan kasus DBD, serta meningkatnya kebiasaan PSN rutin di masyarakat.

    BalasHapus
  18. Bagian 1, Pertanyaan Mahasiswa
    1. Mengapa pengetahuan tinggi tetapi perilaku belum optimal?

    Karena pengetahuan bukan satu-satunya faktor yang menentukan perilaku. Walaupun 91% masyarakat mengetahui pentingnya CTPS, hanya 57% yang melakukannya sebelum makan. Hal ini dapat terjadi karena terburu-buru, lupa, kebiasaan yang sudah terbentuk, kurangnya sabun, atau fasilitas yang belum memadai. Jadi, terdapat kesenjangan antara knowledge, attitude, dan practice.

    2. Apa faktor sosialnya?

    Faktor sosial meliputi keluarga, teman, tetangga, norma masyarakat, dan kebiasaan kelompok. Jika lingkungan sekitar tidak terbiasa mencuci tangan atau menganggap merokok di dalam rumah sebagai hal biasa, seseorang cenderung mengikuti kebiasaan tersebut. Dukungan keluarga dan tokoh masyarakat juga dapat memengaruhi keberhasilan perubahan perilaku.

    3. Apa faktor budayanya?

    Faktor budaya terlihat dari kebiasaan yang telah dilakukan secara turun-temurun dan dianggap normal. Contohnya pernyataan bapak bahwa “merokok di ruang tamu sudah biasa dari dulu.” Ini menunjukkan bahwa merokok di rumah sudah menjadi kebiasaan dan norma yang diterima oleh keluarga. Karena itu, intervensi perlu mempertimbangkan kebiasaan lokal dan dilakukan secara bertahap, bukan langsung menyalahkan masyarakat.

    4. Apakah perilaku merokok hanya masalah pengetahuan?

    Tidak. Perilaku merokok dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti ketergantungan nikotin, kebiasaan, lingkungan sosial, norma keluarga, stres, akses terhadap rokok, serta penerimaan masyarakat terhadap perilaku merokok. Karena itu, memberikan informasi tentang bahaya rokok saja belum tentu cukup untuk mengubah perilaku.

    5. Apa yang dapat menjadi entry point intervensi?

    Beberapa entry point yang dapat digunakan adalah:

    CTPS: memastikan fasilitas cuci tangan tersedia dan selalu dilengkapi sabun, terutama di lokasi yang mudah dijangkau.

    Kebiasaan sebelum makan: membuat pengingat atau membiasakan CTPS sebagai rutinitas keluarga sebelum makan.

    Kawasan rumah bebas asap rokok: mengajak keluarga membuat kesepakatan untuk tidak merokok di dalam rumah.

    Pemberdayaan keluarga: melibatkan anggota keluarga untuk saling mengingatkan.

    Kegiatan masyarakat: mengintegrasikan pesan PHBS dalam Posyandu, pertemuan RT/RW, atau kegiatan warga.


    6. Siapa opinion leader yang dapat dilibatkan?

    Yang dapat dilibatkan antara lain ketua RT/RW, kader kesehatan, kepala desa, tokoh agama, tokoh masyarakat, guru, tenaga kesehatan, dan tokoh pemuda. Mereka dapat menjadi contoh perilaku sehat sekaligus membantu menyampaikan pesan kepada masyarakat.

    BalasHapus
  19. Rezyta Deranova 1B (P3.73.36.1.26.092)
    Pertanyaan Mahasiswa 3 :
    1. Apa masalah perilaku?
    Masalah perilakunya adalah masih adanya orang tua yang menunda atau tidak melanjutkan imunisasi setelah anak mengalami KIPI, lupa jadwal imunisasi, serta belum menyelesaikan imunisasi sesuai jadwal. Hal ini terlihat dari 18% anak yang imunisasinya belum lengkap dan 4% yang tidak pernah imunisasi.

    2. Apa masalah sosial?
    Masalah sosialnya adalah adanya pengaruh keluarga dan lingkungan terhadap keputusan orang tua. Sebanyak 61% responden mendapat pengaruh keluarga, sementara informasi dari grup WhatsApp juga dapat memengaruhi keputusan orang tua.

    3. Apa masalah budaya?
    Masalah budaya terlihat dari kepercayaan dan nasihat keluarga yang sudah dianggap benar, seperti anggapan bahwa anak sebaiknya menunggu lebih besar agar tubuhnya lebih kuat. Pengalaman anak yang demam setelah imunisasi juga dapat memperkuat kekhawatiran tersebut.

    4. Apa masalah komunikasi?
    Masalah komunikasinya adalah adanya informasi yang kurang tepat atau menyesatkan di media sosial dan grup WhatsApp. Selain itu, kader merasa penjelasan dari tenaga kesehatan seperti bidan lebih mudah dipercaya oleh orang tua.

    5. Apakah masalah tersebut semata-mata “anti-imunisasi”?
    Tidak. Tidak semua orang tua yang menunda imunisasi dapat disebut anti-imunisasi. Sebagian mungkin memiliki kekhawatiran terhadap KIPI, lupa jadwal, kesulitan akses, atau terpengaruh informasi dari keluarga dan media sosial. Karena itu, penyebab perilakunya perlu dipahami terlebih dahulu.

    6. Bagaimana melakukan komunikasi yang tidak menghakimi?
    Komunikasi dapat dilakukan dengan mendengarkan kekhawatiran orang tua terlebih dahulu, tidak menyalahkan atau memberi label, kemudian memberikan informasi yang jelas dan mudah dipahami. Misalnya, kader dapat mengatakan, “Ibu khawatir karena anak demam setelah imunisasi, ya. Mari kita lihat bersama apa yang terjadi dan kapan imunisasi berikutnya.” Dengan begitu, orang tua merasa didengarkan dan lebih terbuka untuk menerima informasi.

    7. Siapa yang harus menjadi komunikator?
    Komunikator utama dapat melibatkan bidan, dokter, perawat, dan tenaga kesehatan Puskesmas, dengan dukungan kader posyandu. Berdasarkan kasus, bidan memiliki tingkat kepercayaan yang lebih tinggi sehingga dapat menjadi komunikator utama dalam menjelaskan KIPI dan jadwal imunisasi.

    8. Media apa yang tepat?
    Media yang dapat digunakan antara lain konseling tatap muka, kartu atau buku imunisasi, poster, leaflet, video edukasi, serta WhatsApp. Grup WhatsApp juga dapat dimanfaatkan untuk menyebarkan informasi yang benar dan pengingat jadwal imunisasi, sehingga menjadi sarana edukasi sekaligus menangkal informasi yang keliru.

    9. Bagaimana melakukan follow-up anak yang belum lengkap imunisasinya?
    Puskesmas dan kader dapat melakukan pendataan anak yang imunisasinya belum lengkap, kemudian memeriksa riwayat imunisasi dan mengidentifikasi penyebabnya. Orang tua dapat diberikan pengingat jadwal melalui WhatsApp atau kunjungan kader, kemudian diarahkan ke fasilitas kesehatan untuk melanjutkan imunisasi sesuai jadwal yang ditetapkan tenaga kesehatan. Follow-up dilakukan secara berkala sampai status imunisasi anak diperbarui.

    BalasHapus
  20. BAGIAN 3

    1. Apa masalah perilaku?
    Orang tua menunda atau tidak melanjutkan imunisasi karena anak demam setelah imunisasi dan merasa takut.

    2. Apa masalah sosial?
    Adanya pengaruh keluarga (misalnya nenek) dan lingkungan sekitar yang ikut memengaruhi keputusan orang tua.

    3. Apa masalah budaya?
    Kepercayaan bahwa imunisasi bisa berbahaya atau sebaiknya ditunda sampai anak lebih besar.

    4. Apa masalah komunikasi?
    Informasi yang beredar belum tepat, terutama dari media sosial, sehingga menimbulkan keraguan dan salah paham.

    5. Apakah ini semata-mata “anti-imunisasi”?
    Tidak. Lebih karena takut KIPI, kurang pemahaman, dan pengaruh lingkungan, bukan murni menolak imunisasi.

    6. Bagaimana komunikasi yang tidak menghakimi?
    Dengan pendekatan empati, mendengarkan kekhawatiran orang tua, dan memberikan penjelasan yang jelas tanpa menyalahkan.

    7. Siapa yang harus menjadi komunikator?
    Tenaga kesehatan seperti bidan, kader, dan petugas puskesmas yang dipercaya masyarakat.

    8. Media apa yang tepat?
    Media sosial (WhatsApp), penyuluhan langsung, dan komunikasi tatap muka.

    9. Bagaimana follow-up anak yang belum lengkap imunisasinya?
    Melakukan pendataan, pengingat jadwal (reminder), kunjungan rumah, dan edukasi ulang kepada orang tua.

    BalasHapus
  21. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  22. Nama: Chusnul Khotimah
    NIM: P3.73.36.1.26.061
    Kelas: 1B | No. Absen: 12
    Mata Kuliah: SBKM
    Jurusan: Promosi Kesehatan

    *BAGIAN I — PHBS*
    Kasus: “Tahu tetapi Tidak Melakukan”
    1. Karena pengetahuan tidak selalu langsung menjadi perilaku. Kebiasaan, lingkungan, fasilitas, dan keluarga juga berpengaruh.
    2. Kebiasaan keluarga, teman, lingkungan, dan norma masyarakat.
    3. Kebiasaan yang sudah dianggap biasa, seperti merokok di dalam rumah.
    4. Tidak. Merokok juga dipengaruhi kebiasaan, lingkungan, teman, dan keluarga.
    5. Membiasakan PHBS dari keluarga, seperti CTPS dan aturan tidak merokok di rumah.
    6. Ketua RT/RW, kader, tokoh masyarakat/agama, dan guru.

    *BAGIAN II — DBD*
    Kasus: “Fogging Sudah, Mengapa Kasus Tetap Ada?”
    1. PSN belum dilakukan secara rutin dan masih banyak tempat berkembang biak nyamuk.
    2. Tidak hanya pengetahuan, tetapi juga kebiasaan, perilaku, dan lingkungan.
    3. Fogging tidak menghilangkan jentik, sehingga tetap perlu PSN dan menjaga lingkungan.
    4. Gotong royong warga dan peran ketua RT.
    5. Saat kerja bakti sekaligus memeriksa dan membersihkan tempat yang bisa menjadi sarang nyamuk.
    6. Masyarakat, RT/RW, jumantik, puskesmas, kelurahan, dan pemerintah.
    7. Jentik dan kasus DBD berkurang serta PSN semakin rutin dilakukan.

    *BAGIAN III — IMUNISASI*
    Kasus: “Anak Saya Demam Setelah Imunisasi”
    1. Orang tua menunda imunisasi karena takut KIPI, lupa jadwal, atau informasi yang salah.
    2. Pengaruh keluarga dalam mengambil keputusan.
    3. Kepercayaan dan kebiasaan keluarga terhadap imunisasi.
    4. Informasi dari media sosial belum tentu benar dan perlu dikonfirmasi kepada tenaga kesehatan.
    5. Tidak. Bisa karena takut KIPI, lupa, sulit akses, pengaruh keluarga, atau informasi yang salah.
    6. Dengarkan kekhawatiran orang tua, lalu berikan penjelasan dengan bahasa sederhana tanpa menghakimi.
    7. Bidan, dokter, puskesmas, kader, dan promotor kesehatan.
    8. WhatsApp, poster/leaflet, dan video edukasi.
    9. Data anak yang belum lengkap, hubungi orang tua, berikan jadwal, lalu lakukan pemantauan.

    KESIMPULAN
    Masalah kesehatan tidak hanya dipengaruhi pengetahuan, tetapi juga kebiasaan, keluarga, lingkungan, budaya, dan komunikasi. Karena itu, promotor kesehatan perlu melibatkan masyarakat dan memberikan edukasi yang sesuai.

    BalasHapus
  23. PERTANYAAN HOTS

    1. Mengapa masyarakat tahu bahaya DBD tapi tidak melakukan PSN?
    Karena ada kebiasaan, rasa malas, dan lingkungan yang tidak mendukung, jadi pengetahuan tidak langsung jadi tindakan.

    2. Mengapa cakupan imunisasi berbeda antar wilayah?
    Dipengaruhi akses layanan, tingkat pendidikan, kondisi ekonomi, dan kepercayaan masyarakat.

    3. Bagaimana keluarga memengaruhi keputusan imunisasi?
    Keluarga (terutama orang tua/nenek) bisa mendukung atau malah menolak, sehingga sangat menentukan keputusan.

    4. Bagaimana WhatsApp bisa jadi pemberdayaan sekaligus misinformasi?
    WhatsApp bisa menyebarkan edukasi dengan cepat, tapi juga mudah menyebarkan informasi salah jika tidak disaring.

    5. Budaya harus diubah atau dimanfaatkan?
    Tidak selalu diubah, tapi bisa dimanfaatkan sebagai pendekatan agar pesan kesehatan lebih mudah diterima.

    6. Cara membedakan nilai budaya dan misinformasi?
    Nilai budaya biasanya turun-temurun dan tidak merugikan, sedangkan misinformasi tidak berbasis fakta dan bisa berdampak buruk.

    7. Mengapa promosi kesehatan tidak cukup ceramah?
    Karena ceramah hanya menambah pengetahuan, sedangkan perubahan perilaku butuh praktik dan dukungan lingkungan.

    8. Cara melibatkan tokoh agama tanpa hilang dasar ilmiah?
    Dengan menggabungkan pesan kesehatan dengan nilai agama, tapi tetap berdasarkan fakta ilmiah.

    9. Mengapa gotong royong efektif untuk promosi kesehatan?
    Karena melibatkan banyak orang sekaligus, memperkuat kebiasaan bersama, dan lebih mudah diterapkan.

    10. Bagaimana mengukur perubahan perilaku secara objektif?
    Dengan melihat indikator nyata seperti penurunan kasus, peningkatan praktik (misalnya PSN), dan data survei.

    BalasHapus
  24. Bagian 3
    1. Apa masalah perilaku?
    Orang tua menunda atau menghentikan imunisasi karena khawatir anak demam setelah imunisasi.

    2. Apa masalah sosial?
    Adanya pengaruh keluarga dan informasi dari media sosial terhadap keputusan orang tua.

    3. Apa masalah budaya?
    Adanya kepercayaan bahwa demam setelah imunisasi berarti vaksin tidak cocok sehingga imunisasi perlu dihentikan.

    4. Apa masalah komunikasi?
    Informasi tentang imunisasi dan KIPI belum dipahami dengan baik sehingga menimbulkan kekhawatiran.

    5. Apakah masalah tersebut semata-mata “anti-imunisasi”?
    Tidak. Ibu lebih menunjukkan keraguan dan kekhawatiran, bukan berarti sepenuhnya menolak imunisasi.

    6. Bagaimana melakukan komunikasi yang tidak menghakimi?
    Dengan mendengarkan kekhawatiran ibu, memahami masalahnya, memberikan penjelasan berdasarkan fakta, memberi dukungan, dan melakukan tindak lanjut.

    7. Siapa yang harus menjadi komunikator?
    Bidan atau tenaga kesehatan, karena ibu lebih percaya ketika mendapatkan penjelasan dari tenaga kesehatan.

    8. Media apa yang tepat?
    Konseling langsung, leaflet atau poster, serta media sosial dari sumber kesehatan yang terpercaya.

    9. Bagaimana melakukan follow-up anak yang belum lengkap imunisasinya?
    Mengecek riwayat imunisasi, mengetahui imunisasi yang belum lengkap, memberikan penjelasan, menentukan jadwal berikutnya, dan mengingatkan orang tua untuk datang sesuai jadwal.

    BalasHapus
  25. Rezyta Deranova 1B (P3.73.36.1.26.092)
    Pertanyaan HOTS :
    1. Mengapa masyarakat yang mengetahui bahaya DBD tetap tidak melakukan PSN?
    Karena pengetahuan tidak selalu langsung menghasilkan perubahan perilaku. Masyarakat dapat mengetahui bahaya DBD, tetapi masih dipengaruhi oleh kebiasaan, kesibukan, lingkungan, kurangnya fasilitas, dan anggapan bahwa fogging sudah cukup untuk mencegah DBD.

    2. Mengapa cakupan imunisasi dapat berbeda antara wilayah?
    Karena setiap wilayah memiliki kondisi sosial, ekonomi, budaya, akses pelayanan kesehatan, tingkat pendidikan, kepercayaan masyarakat, serta kualitas pelayanan dan kegiatan penyuluhan yang berbeda.

    3. Bagaimana keluarga memengaruhi keputusan imunisasi?
    Keluarga dapat menjadi sumber dukungan maupun keraguan. Orang tua, pasangan, kakek-nenek, atau anggota keluarga lain dapat memberikan pengalaman dan pendapat yang memengaruhi keputusan orang tua untuk melanjutkan atau menunda imunisasi.

    4. Bagaimana WhatsApp dapat menjadi media pemberdayaan sekaligus sumber misinformasi?
    WhatsApp dapat menjadi media pemberdayaan karena memudahkan penyebaran informasi kesehatan, pengingat jadwal, komunikasi dengan kader, dan koordinasi kegiatan masyarakat. Namun, WhatsApp juga dapat menjadi sumber misinformasi apabila informasi yang tidak benar dibagikan tanpa verifikasi.

    5. Apakah budaya harus diubah atau justru dimanfaatkan?
    Budaya yang mendukung kesehatan sebaiknya dimanfaatkan dan diperkuat, sedangkan kebiasaan yang berisiko bagi kesehatan dapat diubah secara bertahap. Pendekatan ini lebih efektif daripada langsung menganggap budaya masyarakat sebagai sesuatu yang salah.

    6. Bagaimana membedakan nilai budaya dengan misinformasi?
    Nilai budaya berkaitan dengan kebiasaan, norma, atau keyakinan yang berkembang dalam suatu kelompok masyarakat. Misinformasi adalah informasi yang tidak sesuai dengan bukti atau fakta yang dapat dipercaya. Untuk membedakannya, informasi kesehatan perlu dibandingkan dengan sumber ilmiah dan sumber resmi, seperti tenaga kesehatan atau institusi kesehatan.

    7. Mengapa promosi kesehatan tidak cukup menggunakan metode ceramah?
    Karena perubahan perilaku tidak hanya dipengaruhi oleh pengetahuan, tetapi juga sikap, kebiasaan, lingkungan, dukungan sosial, dan kemampuan seseorang untuk melakukan perilaku tersebut. Oleh karena itu, promosi kesehatan perlu melibatkan metode yang lebih interaktif, seperti praktik langsung, diskusi, pendampingan, pemberdayaan masyarakat, dan penggunaan media.

    8. Bagaimana cara melibatkan tokoh agama tanpa menjadikan pesan kesehatan kehilangan dasar ilmiahnya?
    Tokoh agama dapat dilibatkan sebagai pendukung dan penyampai pesan, sementara informasi kesehatan tetap disusun berdasarkan bukti ilmiah dan dikonsultasikan dengan tenaga kesehatan. Tokoh agama dapat menghubungkan pesan kesehatan dengan nilai-nilai yang sudah diterima masyarakat tanpa menggantikan penjelasan medis.

    9. Mengapa gotong royong dapat menjadi strategi promosi kesehatan?
    Gotong royong dapat meningkatkan partisipasi dan rasa memiliki masyarakat terhadap kegiatan kesehatan. Contohnya, kegiatan kerja bakti dapat dikembangkan menjadi kegiatan PSN sehingga masyarakat tidak hanya menerima informasi, tetapi ikut melakukan tindakan pencegahan secara bersama-sama.

    10. Bagaimana mengukur perubahan perilaku secara objektif?
    Perubahan perilaku dapat diukur dengan membandingkan kondisi sebelum dan sesudah intervensi menggunakan indikator yang dapat diamati. Misalnya, jumlah rumah yang melakukan PSN, jumlah rumah positif jentik, kepatuhan terhadap jadwal imunisasi, frekuensi CTPS, atau partisipasi masyarakat dalam kegiatan kesehatan. Pengukuran sebaiknya menggunakan data observasi atau catatan kegiatan, bukan hanya berdasarkan pengakuan masyarakat.

    BalasHapus
  26. PERTANYAAN MAHASISWA 1
    ​Pengetahuan vs. Perilaku: Pengetahuan tidak otomatis mengubah perilaku karena terhambat kebiasaan, pengaruh lingkungan, dan rasa sulit untuk berhenti.
    ​Faktor Sosial Merokok: Dipengaruhi oleh teman sebaya, keluarga, lingkungan pergaulan, dan anggapan merokok sebagai sarana bersosialisasi.
    ​Faktor Budaya Merokok: Merokok telah melekat dalam tradisi pergaulan, simbol kedewasaan, dan tata cara menjamu tamu.
    ​Faktor Lain Perilaku Merokok: Melibatkan aspek psikologis, sosial, lingkungan, ekonomi, kebiasaan, hingga ketergantungan nikotin.
    ​Entry Point Intervensi: Dimulai dari lingkungan terdekat seperti keluarga, sekolah/kampus, teman sebaya, serta menciptakan lingkungan bebas asap rokok.
    ​Opinion Leader: Melibatkan tokoh masyarakat, tenaga kesehatan, dosen/guru, tokoh agama, ketua organisasi, dan figur yang dipercaya.
    ​PERTANYAAN MAHASISWA 2
    ​Masalah Utama DBD: Keberadaan tempat perkembangbiakan nyamuk akibat pelaksanaan PSN yang belum rutin dan konsisten.
    ​Peran Pengetahuan: Pengetahuan DBD sudah ada, namun penerapannya dalam tindakan harian yang masih minim.
    ​Keterbatasan Fogging: Hanya membunuh nyamuk dewasa, tanpa memberantas telur dan jentik nyamuk.
    ​Modal Sosial: Gotong royong, kader kesehatan, RT/RW, PKK, Karang Taruna, serta kepedulian warga.
    ​Optimalisasi Kerja Bakti: Mengarahkan kegiatan langsung pada aksi 3M Plus dan pemantauan jentik secara berkala.
    ​Stakeholder Utama: Puskesmas, kelurahan, RT/RW, kader jumantik, dan masyarakat setempat.
    ​Indikator Keberhasilan: Peningkatan rumah bebas jentik, kepatuhan PSN, berkurangnya sarang nyamuk, dan turunnya kasus DBD.
    ​PERTANYAAN HOTS
    ​Apatisme PSN: Pengetahuan terhalang oleh kebiasaan, rasa malas, lingkungan, atau persepsi bahwa PSN bukan tanggung jawab pribadi.
    ​Kesenjangan Imunisasi: Dipengaruhi perbedaan akses layanan, sosio-ekonomi, pendidikan, kepercayaan warga, serta ketersediaan fasilitas/tenaga medis.
    ​Pengaruh Keluarga: Keluarga berperan sebagai penentu keputusan dan penyedia dukungan utama terkait imunisasi.
    ​Dilema WhatsApp: Sangat efektif untuk koordinasi dan edukasi, namun berisiko tinggi mempercepat penyebaran misinformasi.
    ​Pendekatan Budaya: Merawat dan memanfaatkan budaya positif, serta mengubah kebiasaan budaya yang bertentangan dengan kesehatan.
    ​Budaya vs. Misinformasi: Budaya adalah kebiasaan/keyakinan masyarakat, sedangkan misinformasi adalah klaim tidak berdasar fakta/bukti ilmiah.
    ​Kelemahan Ceramah: Perubahan perilaku memerlukan pemicu aksi nyata, komunikasi dua arah, praktik, dan pendampingan.
    ​Peran Tokoh Agama: Menyampaikan pesan kesehatan lewat pendekatan nilai spiritual tanpa mengubah substansi ilmiah medis dari tenaga kesehatan.
    ​Potensi Gotong Royong: Mengubah beban tanggung jawab individu menjadi gerakan bersama dalam menjaga kesehatan lingkungan.
    ​Pengukuran Objektif: Menggunakan observasi langsung, checklist perilaku, frekuensi aksi, serta data indikator lingkungan (seperti Angka Bebas Jentik).

    BalasHapus
  27. BAGIAN 1 — CTPS & Merokok

    1. Pengetahuan tinggi ≠ perilaku optimal



    Ada intention-behavior gap.

    Terburu-buru + fasilitas sabun kurang → perilaku tidak konsisten.

    2. Faktor sosial



    Kebiasaan anak ditoleransi orang tua.

    Kurang dorongan/saling mengingatkan PHBS.

    3. Faktor budaya



    Merokok di rumah dianggap kebiasaan turun-temurun.

    Dianggap wajar selama tidak ada yang protes.

    4. Merokok bukan sekadar pengetahuan



    Dipengaruhi kecanduan nikotin, psikologis, dan lingkungan sosial-budaya.

    5. Entry point intervensi



    Pengingat CTPS sebelum sekolah.

    Sediakan sabun.

    Kampanye rumah bebas asap rokok.

    6. Opinion leader



    Kepala desa/perangkat desa.

    Tokoh agama.

    Kepala sekolah/guru.

    Kader Posyandu.


    ---

    BAGIAN 2 — Jentik Nyamuk & DBD

    1. Masalah utama



    54/200 rumah ditemukan jentik.

    Wadah air sering terbuka.

    47 rumah tidak rutin mengecek jentik.

    2. Bukan hanya kurang pengetahuan



    Masalah utama: kebiasaan dan konsistensi PSN.

    3. Fogging tidak cukup



    Membunuh nyamuk dewasa, bukan jentik.

    Kalau genangan tidak dibersihkan, nyamuk tetap berkembang.

    4. Modal sosial



    Gotong royong.

    RT/RW masih dihormati warga.

    5. Mengubah kerja bakti menjadi PSN



    Jadwal rutin/Jumat Bersih.

    Fokus 3M Plus.

    1 rumah 1 jumantik.

    6. Stakeholder



    RT/RW.

    Kader Jumantik & PKK.

    Puskesmas.

    7. Indikator keberhasilan



    Kasus DBD menurun.

    ABJ >95%.

    PSN rutin tanpa harus disuruh.


    ---

    BAGIAN 3 — Imunisasi

    1. Masalah perilaku



    Imunisasi dihentikan/ditunda.

    Takut demam/KIPI.

    Lupa jadwal (22%).

    2. Masalah sosial



    Pengaruh keluarga/nenek.

    Hoaks dari grup WhatsApp.

    Kader kurang dipercaya dibanding bidan.

    3. Masalah budaya



    Kepercayaan bahwa anak kecil belum kuat divaksin.

    Mengikuti pendapat orang tua tanpa verifikasi.

    4. Masalah komunikasi



    Penjelasan kader kurang meyakinkan.

    Hoaks lebih cepat tersebar.

    Kurang komunikasi dua arah.

    5. Bukan semata-mata anti-imunisasi



    Mayoritas masih mau imunisasi.

    Hambatan utama: takut efek samping + misinformasi.

    6. Komunikasi yang tidak menghakimi



    Dengarkan dan empati.

    Validasi kekhawatiran.

    Jelaskan KIPI secara sederhana dan medis.

    7. Komunikator



    Bidan/nakes sebagai sumber utama.

    Kader sebagai pendamping.

    8. Media



    Konseling tatap muka.

    WhatsApp/media sosial resmi.

    9. Follow-up



    Kader kunjungan rumah.

    Bidan mengingatkan jadwal.

    Libatkan tokoh masyarakat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nadya Shifa Fauzia
      Kelas 1B
      (Maaf pak sedikit lewat dari jam 11 dikarenakan sedang diperjalanan)



      Bagian 1 — PHBS & Merokok

      1. Mengapa pengetahuan tinggi tetapi perilaku belum optimal?
      Karena tahu belum tentu langsung bertindak; dipengaruhi kebiasaan, terburu-buru, dan fasilitas sabun.


      2. Apa faktor sosialnya?
      Kurang pengawasan dan saling mengingatkan PHBS.


      3. Apa faktor budayanya?
      Kebiasaan lama, seperti merokok di rumah, dianggap wajar.


      4. Apakah merokok hanya masalah pengetahuan?
      Tidak. Dipengaruhi adiksi, stres, dan lingkungan.


      5. Apa entry point intervensinya?
      Biasakan CTPS, sediakan sabun, dan kampanye rumah bebas asap rokok.


      6. Siapa opinion leader yang dapat dilibatkan?
      Kepala desa, tokoh agama, guru, dan kader.




      ---

      Bagian 2 — DBD & Pemberdayaan

      1. Apa masalah utamanya?
      Banyak jentik, wadah air terbuka, dan pemeriksaan jentik tidak rutin.


      2. Apakah masalah utamanya kurang pengetahuan?
      Tidak. Masalahnya lebih pada kebiasaan dan konsistensi PSN.


      3. Mengapa fogging belum menyelesaikan masalah?
      Fogging membunuh nyamuk dewasa, tetapi tidak membasmi jentik.


      4. Apa modal sosial yang tersedia?
      Gotong royong dan kepatuhan warga terhadap RT/RW.


      5. Bagaimana mengubah kerja bakti menjadi PSN?
      Jadwal rutin, 3M Plus, dan 1 Rumah 1 Jumantik.


      6. Siapa stakeholder utamanya?
      RT/RW, kader Jumantik/PKK, dan Puskesmas.


      7. Apa indikator keberhasilan program?
      ABJ >95%, PSN rutin, dan kasus DBD menurun.




      ---

      Bagian 3 — Imunisasi & Komunikasi

      1. Apa masalah perilakunya?
      Takut efek samping dan lupa jadwal imunisasi.


      2. Apa masalah sosialnya?
      Pengaruh keluarga dan penyebaran informasi keliru di WhatsApp.


      3. Apa masalah budayanya?
      Kepercayaan turun-temurun dan terlalu mengikuti pendapat keluarga tanpa verifikasi.


      4. Apa masalah komunikasinya?
      Edukasi kurang meyakinkan dan komunikasi dua arah masih kurang.


      5. Apakah semata-mata anti-imunisasi?
      Tidak. Hambatannya terutama kekhawatiran efek samping dan misinformasi.


      6. Bagaimana komunikasi tidak menghakimi?
      Dengarkan, empati, jangan menyalahkan, dan berikan informasi berbasis bukti.


      7. Siapa komunikator yang tepat?
      Bidan/nakes dengan dukungan kader.


      8. Apa media yang tepat?
      Konseling langsung dan WhatsApp resmi.


      9. Bagaimana follow-up dilakukan?
      Kunjungan rumah dan pengingat pribadi dari tenaga kesehatan/kader.




      ---

      HOTS

      1. Mengapa tahu bahaya DBD tetapi tidak melakukan PSN?
      Pengetahuan belum tentu menjadi kebiasaan.


      2. Mengapa cakupan imunisasi berbeda antarwilayah?
      Karena perbedaan akses, ekonomi, informasi, dan dukungan.


      3. Bagaimana keluarga memengaruhi keputusan imunisasi?
      Melalui pengetahuan, dukungan, kepercayaan, dan keputusan bersama.


      4. Bagaimana WhatsApp menjadi media pemberdayaan sekaligus misinformasi?
      Memudahkan edukasi, tetapi juga mempercepat penyebaran informasi salah.


      5. Apakah budaya harus diubah atau dimanfaatkan?
      Budaya positif dimanfaatkan; budaya berisiko diubah bertahap.


      6. Bagaimana membedakan budaya dengan misinformasi?
      Budaya adalah nilai/kebiasaan; misinformasi adalah informasi yang tidak sesuai fakta.


      7. Mengapa promosi kesehatan tidak cukup dengan ceramah?
      Perubahan perilaku membutuhkan praktik, dukungan, dan pembiasaan.


      8. Bagaimana melibatkan tokoh agama tanpa mengabaikan dasar ilmiah?
      Tokoh agama membantu menyampaikan pesan, sedangkan isi kesehatan tetap berbasis bukti.


      9. Mengapa gotong royong menjadi strategi promosi kesehatan?
      Meningkatkan partisipasi dan tanggung jawab bersama.


      10. Bagaimana mengukur perubahan perilaku secara objektif?
      Dengan observasi, checklist, frekuensi tindakan, dan perbandingan sebelum-sesudah.


      Hapus
  28. Syifana Zahroh R (P3.73.36.1.26.096)
    Bagian 1
    1. Karena pengetahuan tinggi belum tentu langsung jadi kebiasaan masih ada gap antara tahu dan melakukan, apalagi kalau fasilitas dan dorongan lingkungan belum mendukung.
    2. Rutinitas pagi yang buru-buru bikin cuci tangan pakai sabun sering terlewat, karena anak-anak lebih diprioritaskan buat cepat berangkat sekolah.
    3. Kebiasaan makan langsung tanpa cuci tangan udah jadi turun-temurun dalam keluarga, jadi bukan soal nggak tahu, tapi udah mendarah daging.
    4. Bukan cuma soal pengetahuan, tapi kebiasaan/kecanduan merokok dan kurangnya kepekaan terhadap dampaknya ke orang lain di sekitar.
    5. Fokus ke pembiasaan perilaku: sediakan fasilitas cuci tangan yang mudah diakses, jadikan bagian rutinitas harian, dan edukasi dampak rokok ke anggota keluarga lain.
    6. Kader kesehatan/PKK, guru sekolah, atau kepala keluarga yang disegani warga setempat.

    Bagian 2
    1. Padahal sudah dilakukan fogging dua kali, tapi jentik nyamuk masih banyak ditemukan (54 rumah positif jentik) karena fogging cuma bunuh nyamuk dewasa, bukan sumber masalahnya.
    2. Masalahnya bukan cuma teknis (ember terbuka, barang bekas nampung air), tapi juga perilaku warga yang belum rutin PSN meski sudah tahu fogging sudah dilakukan.
    3. Karena kesadaran dan kebiasaan warga masih rendah, PSN dianggap tanggung jawab pemerintah/petugas, bukan kebiasaan mandiri warga.
    4. Modal sosial berupa kerja bakti/gotong royong yang biasanya diumumkan RT, tapi partisipasinya belum konsisten jadi kebiasaan rutin.
    5. Ketua RT/RW sebagai stakeholder utama yang berperan mengumumkan dan menggerakkan warga.
    6. Ketua RT dan kader-kader setempat yang aktif mengumumkan dan mengorganisir kerja bakti.
    7. Indikator keberhasilan bisa dilihat dari penurunan angka rumah positif jentik (ABJ - Angka Bebas Jentik) dan meningkatnya partisipasi rutin warga dalam PSN mingguan, bukan cuma dari fogging.

    Bagian 3
    1. Cakupan imunisasi lengkap 78% sudah cukup baik, tapi masih ada anak yang belum lengkap terutama karena orang tua takut KIPI dan lupa jadwal.
    2. Masalah sosial: kepercayaan warga masih bergeser ke tetangga/kader informal, bukan tenaga kesehatan resmi, jadi info bisa simpang siur.
    3. Masalah budaya: kebiasaan "tunggu anak besar dulu" dianggap lebih aman, padahal menunda imunisasi bikin anak rentan lebih lama.
    4. Anti-imunisasi murni penolakan karena keyakinan/ketakutan tertentu, kalau tidak menghakimi lebih ke gaya komunikasi yang tidak menyudutkan, bukan berarti setuju.
    5. Masalah komunikasi: pesan dari nakes belum menjangkau efektif ke ibu-ibu, sehingga mereka lebih percaya info dari sesama ibu di grup WA.
    6. Bisa dari kader kesehatan, nakes/bidan, atau ibu-ibu berpengaruh di grup WhatsApp setempat yang bisa jadi komunikator terpercaya.
    7. Kader posyandu, bidan desa, atau tokoh masyarakat yang disegani.
    8. Media WhatsApp grup ibu-ibu sudah tepat karena 61% dapat info dari media, tinggal dioptimalkan dengan konten yang benar dan terpercaya.
    9. Follow-up bisa lewat kunjungan rumah oleh kader/bidan, reminder via WA grup, atau sweeping imunisasi door-to-door untuk yang belum lengkap.

    BalasHapus
  29. PERTANYAAN HOTS

    1.​Disebabkan persepsi risiko yang rendah, anggapan PSN tugas pemerintah, dan tidak ada habituasi.
    ​2.Dipengaruhi ketimpangan akses layanan, tingkat literasi digital, norma lokal, dan keaktifan nakes.
    ​3.Keluarga menjadi penentu keputusan utama dalam pengasuhan anak.
    ​4.Menjadi sarana koordinasi dan edukasi cepat, sekaligus penyebar hoaks tanpa filter.
    ​5.Budaya harus dimanfaatkan dengan menyisipkan nilai kesehatan ke dalam tradisi lokal.
    ​6.Budaya berupa norma/tradisi kebersamaan, sedangkan misinformasi berupa klaim medis yang salah secara ilmiah.
    ​7.Ceramah hanya komunikasi satu arah yang menaikkan pengetahuan, tanpa mengubah sikap atau menyediakan fasilitas.
    ​8.Nakes menyediakan bukti ilmiah, tokoh agama menyampaikan melalui bahasa/perspektif nilai keagamaan.
    ​9.Menggunakan modal sosial dan tekanan kelompok positif untuk aksi kesehatan bersama.
    ​10.Diukur lewat pengamatan nyata (Angka Bebas Jentik, ketersediaan sabun, dan catatan buku KIA).

    BalasHapus
  30. BAGIAN III
    1. Apa masalah perilaku?
    - Keraguan terhadap Vaksin (Vaccine Hesitancy): Sikap menunda atau menolak pemberian imunisasi pada anak meski layanan kesehatan tersedia.
    - Apatisme & Kelalaian: Menganggap imunisasi tidak penting atau lupa dengan jadwal imunisasi lanjutan.
    - Ketakutan Efek Samping: Perilaku menghindari imunisasi karena khawatir anak akan mengalami KIPI (Kejadian Ikutan Pasca-Imunisasi) seperti demam atau rewel.
    2. Apa masalah sosial?
    - Tekanan & Stigma Lingkungan: Pengaruh pendapat tetangga, keluarga besar (seperti mertua/orang tua), atau kelompok arisan yang bersikap skeptis terhadap vaksinasi.
    - Akses & Ketimpangan Ekonomi: Keterbatasan biaya transportasi, jam kerja orang tua yang tidak fleksibel, atau sulitnya membagi waktu dengan pengasuhan anak lain.
    - Informasi Tidak Seimbang: Beredarnya norma kelompok yang memandang parenting "alami" tanpa vaksin lebih superior.
    3. Apa masalah budaya?
    - Isu Kehalalan & Bahan Vaksin: Kebingungan atau kekhawatiran masyarakat terkait status hukum syariat/kehalalan kandungan vaksin.
    - Kepercayaan Tradisional: Anggapan bahwa ramuan tradisional atau jamu turun-temurun sudah cukup untuk menangkal semua jenis penyakit.
    - Patriarki dalam Keputusan: Keputusan kesehatan anak sepenuhnya dipegang oleh pihak lain (suami/kakek) yang kurang terpapar edukasi kesehatan.
    4. Apa masalah komunikasi?
    - Komunikasi Satu Arah & Menghakimi: Petugas kesehatan sering kali memberikan ceramah medis yang kaku tanpa mendengarkan kekhawatiran orang tua.
    - Penyebaran Misinformasi & Hoaks: Beredarnya mitos seputar imunisasi yang dikemas menarik di media sosial atau grup obrolan.
    - Istilah Medis Terlalu Rumit: Penggunaan bahasa ilmiah yang sulit dipahami oleh masyarakat awam.
    5. Apakah masalah tersebut semata-mata "anti-imunisasi"?
    - Bukan. Sebagian besar orang tua bukan kelompok anti-vax ekstrem, melainkan kelompok hesitant (ragu-ragu) akibat kurangnya informasi tepercaya, rasa takut, atau hambatan aksesibilitas (jarak dan waktu).
    6. Bagaimana melakukan komunikasi yang tidak menghakimi?
    - Gunakan Teknik Empathic Listening: Dengarkan dulu kekhawatiran orang tua tanpa langsung memotong atau menyalahkan.
    * Validasi Perasaan Orang Tua: Akui bahwa rasa khawatir mereka terhadap kesehatan anak adalah hal yang wajar sebagai orang tua.
    - Sampaikan Edukasi Bertahap: Berikan penjelasan dengan bahasa awam yang sejuk, jujur mengenai risiko KIPI ringan, dan paparkan manfaat perlindungan jangka panjangnya.
    7. Siapa yang harus menjadi komunikator?
    - Komunikator Utama (Medis): Bidan desa, perawat, dan dokter Puskesmas.
    Komunikator Tokoh (Influencer Lokal): Kader Posyandu, tokoh agama (ustadz/kyai/pendeta), serta pimpinan PKK/RT/RW yang disegani warga.
    8. Media apa yang tepat?
    - Interpersonal / Tatap Muka: Konseling individu saat posyandu, kunjungan rumah (home visit), dan diskusi kelompok terarah (FGD).
    - Digital & Komunitas: Grup WhatsApp Posyandu/RT, lembar balik (flipchart), serta video edukasi animasi pendek yang disebarkan lewat media sosial lokal.
    9. Bagaimana melakukan follow-up anak yang belum lengkap imunisasinya?
    - Audit & Pelacakan Data (Sweeping): Memeriksa ulang rekam medis/Buku KIA untuk mendata anak yang drop-out atau belum lengkap status imunisasinya.
    - Kunjungan Rumah (Door-to-Door): Bidan desa dan kader mendatangi rumah orang tua untuk melakukan pendekatan personal dan konseling.
    - Layanan Penjangkauan (Outreach / Posyandu Keliling): Menyediakan sesi imunisasi susulan (catch-up immunization) dengan jadwal yang lebih fleksibel bagi orang tua yang bekerja.

    BalasHapus
  31. Bagian 2, Pertanyaan Mahasiswa

    1. Apa masalah utama?
    Masalah utamanya bukan hanya keberadaan nyamuk, tetapi perilaku PSN yang belum menjadi kebiasaan dan masih banyaknya tempat yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk. Hal ini terlihat dari 54 rumah positif jentik, 31 rumah memiliki ember terbuka, 22 rumah memiliki barang bekas yang menampung air, dan 47 rumah tidak melakukan pemeriksaan jentik rutin.
    2. Apakah masalah utamanya kurang pengetahuan?
    Tidak sepenuhnya. Pernyataan warga menunjukkan adanya pemahaman yang kurang tepat bahwa fogging sudah cukup untuk mencegah DBD. Masalah juga berkaitan dengan persepsi, kebiasaan, norma masyarakat, dan kurangnya praktik PSN rutin.
    3. Mengapa fogging belum menyelesaikan masalah?
    Fogging bukan satu-satunya bentuk pencegahan DBD. Fogging terutama digunakan untuk pengendalian nyamuk dewasa dalam situasi tertentu, sedangkan jentik yang berada di tempat penampungan air tetap perlu dikendalikan. Jika tempat berkembang biak nyamuk tidak dikelola, nyamuk dapat kembali muncul. Karena itu, fogging perlu disertai PSN dan pemantauan lingkungan.
    4. Apa modal sosial yang tersedia?
    Modal sosial yang paling jelas adalah gotong royong dan partisipasi warga. Ketua RT menyampaikan bahwa warga biasanya hadir ketika kerja bakti diumumkan. Artinya, sudah ada kebiasaan bekerja bersama yang dapat dikembangkan menjadi kegiatan PSN.
    5. Bagaimana mengubah kerja bakti menjadi kegiatan PSN?
    Kerja bakti dapat diarahkan secara khusus untuk pemeriksaan dan pemberantasan tempat perkembangbiakan nyamuk. Misalnya, warga dibagi menjadi beberapa kelompok untuk memeriksa tempat penampungan air, membersihkan barang bekas yang dapat menampung air, menutup wadah air, serta melakukan pemeriksaan jentik. Kegiatan dapat dibuat rutin, misalnya mingguan, dengan kader atau RT sebagai pengingat dan pemantau.
    6. Siapa stakeholder utama?
    Stakeholder yang dapat dilibatkan adalah:
    Puskesmas dan tenaga kesehatan
    Kelurahan
    Ketua RT/RW
    Kader kesehatan/jumantik
    Tokoh masyarakat
    Sekolah
    Kelompok masyarakat
    Keluarga dan warga setempat
    Setiap pihak memiliki peran berbeda dalam edukasi, pemantauan, pengendalian lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat.
    7. Apa indikator keberhasilan program?
    Indikator dapat dibagi menjadi:
    Proses: jumlah warga yang mengikuti kegiatan PSN.
    Perilaku: peningkatan jumlah rumah yang melakukan PSN secara rutin.
    Lingkungan: penurunan jumlah rumah positif jentik dan tempat penampungan air terbuka.
    Hasil kesehatan: penurunan kasus DBD dari waktu ke waktu.

    BalasHapus
  32. Bagian 2

    1. Apa masalah utama?
    Masalah utamanya adalah masih tingginya keberadaan jentik dan tempat berkembang biaknya nyamuk Aedes aegypti, meskipun RW 03 sudah dua kali mendapatkan fogging.

    2. Apakah masalah utamanya kurang pengetahuan?
    Tidak. Masalah utamanya bukan semata-mata kurang pengetahuan, tetapi lebih kepada perilaku dan kebiasaan masyarakat.

    3. Mengapa fogging belum menyelesaikan masalah?
    Karena fogging terutama bertujuan untuk mengendalikan nyamuk dewasa, sedangkan sumber masalah seperti jentik dan tempat penampungan air masih ada.

    4. Apa modal sosial yang tersedia?
    Modal sosial yang sudah terlihat dalam kasus tersebut adalah:

    -Warga mau hadir ketika ada kerja bakti yang diumumkan.
    -Adanya ketua RT yang dapat menggerakkan masyarakat.
    -Adanya kegiatan kerja bakti yang sudah dikenal masyarakat.

    5. Bagaimana mengubah kerja bakti menjadi kegiatan PSN?
    Kerja bakti dapat diarahkan menjadi kerja bakti khusus PSN, bukan hanya kegiatan membersihkan lingkungan.

    6. Siapa stakeholder utama?
    Stakeholder yang dapat dilibatkan antara lain:puskesmas,RT/RW,kader/Jumantik, kelurahan/desa, dan masyarakat

    BalasHapus
  33. Soal Hots
    1. Karena pengetahuan saja tidak otomatis mengubah perilaku — perlu ada kebiasaan, fasilitas pendukung, dan dorongan sosial agar PSN benar-benar dilakukan rutin.

    2. Karena akses fasilitas kesehatan, tingkat ekonomi, dan kondisi sosial-budaya tiap wilayah berbeda, sehingga cakupan imunisasi ikut bervariasi.

    3. Keputusan imunisasi sering ditentukan oleh anggota keluarga lain (suami, nenek/kakek) yang punya pengaruh atau otoritas, bukan hanya ibu sendiri.

    4. WhatsApp bisa jadi media edukasi cepat dan luas, tapi sekaligus rawan menyebarkan info salah kalau kontennya tidak diverifikasi dan mudah diteruskan tanpa saring.

    5. Ya, budaya bisa diubah kalau prosesnya menghargai nilai lama sambil memasukkan info baru secara halus, bukan langsung menyalahkan.

    6. Nilai budaya = keyakinan yang dianggap benar turun-temurun; misinformasi = informasi salah/tidak berdasar fakta. Keduanya beda, meski kadang tercampur dalam kepercayaan masyarakat.

    7. Karena promosi hanya menyampaikan info tanpa memakai pendekatan yang sesuai konteks sosial-budaya sasaran, jadi kurang "nyambung" dan sulit diterima.

    8. Libatkan tokoh agama sebagai mitra dialog, gunakan bahasa dan nilai yang mereka pahami untuk menyampaikan pesan kesehatan, bukan menggurui atau menggantikan posisi mereka.

    9. Karena gotong royong bisa jadi sarana penyampaian pesan kesehatan sambil membangun kebersamaan, sehingga pesan lebih mudah diterima secara sosial.

    10. Ukur lewat perubahan perilaku nyata (angka cakupan, partisipasi rutin) dibandingkan data sebelum-sesudah intervensi, bukan cuma dari testimoni atau kesan subjektif.

    BalasHapus
  34. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  35. Bagian 1
    1. Mengapa pengetahuan tinggi tetapi perilaku belum optimal?
    Karena pengetahuan saja belum cukup untuk mengubah perilaku. Perilaku juga dipengaruhi oleh kebiasaan, lingkungan, keluarga, norma sosial, serta kemudahan dalam melakukan perilaku sehat.


    2. Apa faktor sosialnya?
    Faktor sosialnya adalah pengaruh keluarga dan lingkungan sekitar. Contohnya, anak terbiasa makan tanpa mencuci tangan karena terburu-buru, serta anggota keluarga menganggap merokok di ruang tamu sebagai hal yang biasa.


    3. Apa faktor budayanya?
    Faktor budaya berupa kebiasaan yang sudah dilakukan secara turun-temurun dan dianggap normal, seperti merokok di dalam rumah sehingga tidak dianggap sebagai masalah.


    4. Apakah perilaku merokok hanya masalah pengetahuan?
    Tidak. Merokok juga dipengaruhi oleh kebiasaan, norma keluarga/masyarakat, lingkungan pergaulan, ketergantungan nikotin, dan penerimaan sosial terhadap rokok.


    5. Apa yang dapat menjadi entry point intervensi?
    Entry point dapat dimulai dari keluarga dan lingkungan rumah, misalnya membuat kesepakatan rumah bebas asap rokok, edukasi tentang bahaya asap rokok, serta membiasakan perilaku PHBS seperti cuci tangan pakai sabun.


    6. Siapa opinion leader yang dapat dilibatkan?
    Dapat melibatkan ketua RT/RW, kader kesehatan, tokoh masyarakat, tokoh agama, guru, petugas Puskesmas, dan tokoh keluarga yang berpengaruh di lingkungan tersebut.

    BalasHapus
  36. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  37. BAGIAN I
    1. Pengetahuan yang tinggi belum tentu membuat seseorang langsung menerapkan perilaku sehat.

    Kebiasaan sehari-hari dan lingkungan juga memengaruhi perilaku.

    2. Faktor sosialnya adalah pengaruh keluarga, teman, dan lingkungan sekitar yang dapat membentuk kebiasaan seseorang.

    3. Faktor budayanya adalah kebiasaan yang sudah dilakukan sejak lama dan dianggap wajar, seperti merokok di dalam rumah.

    4. Tidak. Merokok juga dipengaruhi oleh kebiasaan, lingkungan, keluarga, dan anggapan masyarakat terhadap perilaku tersebut.

    5. Entry point yang dapat dilakukan adalah melalui keluarga, dengan membiasakan cuci tangan pakai sabun dan membuat aturan tidak merokok di dalam rumah.

    6. Opinion leader yang dapat dilibatkan yaitu ketua RT/RW, kader kesehatan, tokoh masyarakat, tokoh agama, dan tenaga kesehatan.

    BAGIAN II

    1. Masalah utamanya adalah pencegahan DBD belum menjadi kebiasaan. Masih ditemukan jentik, ember terbuka, barang bekas yang menampung air, dan pemeriksaan jentik yang belum rutin.

    2. Tidak sepenuhnya karena kurang pengetahuan. Masalahnya juga karena kebiasaan dan kurangnya partisipasi masyarakat dalam melakukan PSN secara rutin.

    3. Fogging belum menyelesaikan masalah karena hanya membunuh nyamuk dewasa, sedangkan jentik dan tempat berkembang biaknya masih ada.

    4. Modal sosial yang tersedia adalah kerja bakti, ketua RT, kader, dan warga yang mau berpartisipasi dalam kegiatan bersama.

    5. Kerja bakti dapat dijadikan kegiatan PSN dengan menguras tempat air, menutup tempat penampungan air, membuang barang bekas, dan memeriksa jentik secara rutin.

    6. Stakeholder utamanya adalah masyarakat, RT/RW, kader jumantik, puskesmas, dan kelurahan.

    7. Indikator keberhasilannya yaitu jumlah rumah positif jentik menurun, PSN dilakukan rutin, tempat penampungan air terbuka berkurang, dan kasus DBD menurun.

    Bagian III
    1. Masalah perilakunya adalah orang tua menunda atau tidak melanjutkan imunisasi karena takut anak demam, lupa jadwal, atau memilih menunggu anak lebih besar.

    2. Masalah sosialnya adalah pengaruh keluarga, lingkungan, dan informasi dari grup WhatsApp ibu-ibu.

    3. Masalah budayanya adalah adanya kepercayaan bahwa anak sebaiknya menunggu besar agar tubuhnya kuat sebelum imunisasi.

    4. Masalah komunikasinya adalah adanya informasi yang kurang tepat dan cara penyampaian yang belum sesuai dengan kekhawatiran orang tua.

    5. Tidak. Masalah tersebut tidak selalu berarti anti-imunisasi karena bisa disebabkan oleh rasa takut, lupa jadwal, sulitnya akses, atau informasi yang salah.

    6. Komunikasi dilakukan dengan mendengarkan kekhawatiran orang tua terlebih dahulu, kemudian memberikan penjelasan dengan bahasa sederhana tanpa menyalahkan.

    7. Komunikator yang dapat dilibatkan adalah bidan, dokter, tenaga kesehatan, kader, dan tokoh masyarakat yang dipercaya.

    8. Media yang dapat digunakan yaitu WhatsApp, poster, leaflet, penyuluhan langsung, dan video edukasi.
    l

    9. Follow-up dilakukan dengan mendata anak yang belum lengkap imunisasinya, menghubungi orang tua, mengingatkan jadwal, dan mengarahkan ke Posyandu atau fasilitas kesehatan.

    BalasHapus
  38. Bagian 1
    1.Karena pengetahuan saja belum cukup untuk mengubah perilaku. Perilaku juga dipengaruhi oleh kebiasaan, lingkungan, fasilitas, dukungan keluarga, serta norma sosial.
    2.Faktor sosialnya antara lain pengaruh keluarga, kebiasaan masyarakat, dukungan dari tokoh masyarakat, serta kebiasaan anak-anak yang langsung makan setelah pulang sekolah.
    3.Kebiasaan yang sudah dilakukan sejak lama, seperti merokok di ruang tamu dan menganggapnya sebagai hal yang biasa, serta kebiasaan tidak mencuci tangan sebelum makan.
    4.Tidak. Merokok tidak hanya dipengaruhi pengetahuan, tetapi juga kebiasaan, lingkungan sosial, norma masyarakat, pengaruh teman atau keluarga, dan ketergantungan terhadap rokok.
    5.Entry point dapat dimulai dari keluarga dan tokoh masyarakat, dengan membangun kebiasaan cuci tangan pakai sabun, membuat aturan tidak merokok di dalam rumah, serta menggerakkan kegiatan PHBS bersama warga.
    6.Ketua RT/RW, kader Posyandu, tokoh agama, tokoh masyarakat, bidan atau tenaga kesehatan Puskesmas, serta tokoh yang dipercaya masyarakat.

    Bagian 2
    1.Masalah utamanya adalah pencegahan DBD belum dilakukan secara rutin, terutama masih adanya jentik, ember terbuka, barang bekas yang menampung air, dan rendahnya pelaksanaan PSN.
    2.Tidak hanya pengetahuan. Masyarakat mungkin sudah mengetahui fogging, tetapi masih menganggap fogging sebagai pencegahan utama. Masalah juga berkaitan dengan kebiasaan, partisipasi warga, dan kurang rutinnya PSN.
    3.Karena fogging terutama membunuh nyamuk dewasa, sedangkan jentik masih dapat berkembang di tempat penampungan air. Jika tempat berkembang biak tidak diberantas, kasus DBD dapat muncul kembali.
    4.Modal sosialnya adalah kerja bakti, ketua RT, kader, dan partisipasi warga. Dari kasus terlihat warga biasanya hadir ketika kerja bakti diumumkan.
    5.Kerja bakti dapat diarahkan menjadi kegiatan 3M Plus, seperti menguras tempat air, menutup tempat penampungan air, mengubur/mendaur ulang barang bekas, serta melakukan pemeriksaan jentik secara rutin.
    6.Puskesmas, kader Jumantik, RT/RW, kelurahan, masyarakat, serta Dinas Kesehatan.
    7.Berkurangnya rumah positif jentik.
    Berkurangnya tempat penampungan air terbuka.
    Meningkatnya rumah yang melakukan PSN rutin.
    Meningkatnya partisipasi warga.
    Menurunnya jumlah kasus DBD.

    Bagian 3
    1.Sebagian orang tua menunda atau tidak melanjutkan imunisasi karena takut terhadap efek setelah imunisasi dan lupa jadwal imunisasi.
    2.Adanya pengaruh keluarga dan lingkungan, termasuk informasi dari grup WhatsApp ibu-ibu yang dapat memengaruhi keputusan orang tua.
    3.Adanya kepercayaan atau kebiasaan bahwa anak sebaiknya menunggu lebih besar agar tubuhnya dianggap lebih kuat sebelum mendapatkan imunisasi.
    4.Informasi yang beredar belum tentu benar dan komunikasi tenaga kesehatan dengan orang tua belum selalu mampu menjawab kekhawatiran mereka. Kader juga merasa kesulitan ketika menjelaskan sendiri.
    5.Tidak. Sebagian orang tua mungkin sebenarnya bukan menolak imunisasi, tetapi takut, ragu, kurang informasi, lupa jadwal, atau mengalami kesulitan akses.
    6.Dengan mendengarkan kekhawatiran orang tua terlebih dahulu, menunjukkan empati, kemudian memberikan informasi berdasarkan fakta dengan bahasa yang sederhana tanpa menyalahkan atau menghakimi.
    7.Bidan, dokter, perawat, tenaga kesehatan Puskesmas, serta kader yang sudah mendapatkan pembekalan dan dapat menyampaikan informasi dengan benar.
    8.Media yang dapat digunakan yaitu WhatsApp, video pendek, poster, leaflet, penyuluhan langsung, dan grup komunikasi orang tua. Informasi sebaiknya berasal dari sumber kesehatan yang terpercaya.
    9.Melakukan pendataan anak yang belum lengkap, mengingatkan orang tua mengenai jadwal berikutnya, melakukan kunjungan atau komunikasi melalui kader, memberikan edukasi jika ada kekhawatiran, kemudian memastikan anak mendapatkan imunisasi sesuai jadwal yang direkomendasikan tenaga kesehatan.

    BalasHapus
  39. Bagian 3

    1.Apa masalah perilaku?
    Masalah perilakunya adalah menunda atau tidak melanjutkan imunisasi sesuai jadwal karena takut terhadap KIPI, lupa jadwal, serta terpengaruh informasi dari keluarga dan media sosial. Hal ini terlihat dari 18% anak yang imunisasinya belum lengkap dan 4% yang tidak pernah imunisasi.
    2. Apa masalah sosial?
    Masalah sosial terlihat dari adanya pengaruh keluarga dan lingkungan informasi. Ibu mendapat saran dari ibunya untuk tidak melanjutkan imunisasi. Selain itu, informasi mengenai imunisasi juga banyak diperoleh melalui media sosial. Jadi, keputusan imunisasi tidak hanya dipengaruhi oleh ibu, tetapi juga oleh orang-orang di sekitarnya.
    3. Apa masalah budaya?
    Masalah budaya dapat berupa kepercayaan dan kebiasaan keluarga dalam memahami kesehatan. Misalnya, anggapan bahwa anak yang masih kecil harus menunggu sampai tubuhnya lebih kuat sebelum mendapatkan imunisasi. Kepercayaan seperti ini perlu dipahami terlebih dahulu sebelum diberikan edukasi, bukan langsung menyalahkan keluarga.
    4. Apa masalah komunikasi?
    Masalah komunikasinya adalah adanya informasi kesehatan yang keliru atau tidak lengkap, terutama melalui grup WhatsApp. Selain itu, kader mengalami kesulitan meyakinkan ibu sehingga dibutuhkan komunikator yang lebih dipercaya, seperti bidan atau tenaga kesehatan.
    5. Apakah masalah tersebut semata-mata “anti-imunisasi”?
    Tidak selalu. Dari kasus tersebut, keraguan dapat muncul karena pengalaman anak mengalami demam, pengaruh keluarga, lupa jadwal, kesulitan akses, dan informasi dari media sosial. Jadi, seseorang yang menunda imunisasi belum tentu secara ideologis menolak imunisasi. Promotor kesehatan perlu mengetahui alasan spesifik di balik keraguan tersebut.
    6. Bagaimana melakukan komunikasi yang tidak menghakimi?
    Gunakan pendekatan LISTEN → UNDERSTAND → EXPLAIN → SUPPORT → FOLLOW UP.
    Contohnya:
    “Ibu khawatir karena setelah imunisasi anak mengalami demam, ya. Boleh diceritakan bagaimana kondisi anak setelah imunisasi?”
    Setelah mendengarkan, tenaga kesehatan dapat menjelaskan bahwa beberapa reaksi setelah imunisasi dapat terjadi, memberikan informasi yang sesuai dengan jenis vaksin, menjelaskan tindakan yang tepat, serta memberi tahu kapan anak perlu mendapatkan pertolongan medis. Dengan cara ini, kekhawatiran ibu dihargai tanpa membenarkan informasi yang keliru.
    7. Siapa yang harus menjadi komunikator?
    Komunikator utama sebaiknya tenaga kesehatan yang kompeten, seperti bidan, dokter, atau petugas imunisasi. Kader, tokoh masyarakat, dan anggota keluarga dapat menjadi pendukung pesan kesehatan. Dalam kasus ini, bidan terlihat lebih dipercaya oleh ibu sehingga dapat menjadi komunikator utama, sementara kader membantu melakukan pendampingan.
    8. Media apa yang tepat?
    Media sebaiknya disesuaikan dengan karakteristik masyarakat. Karena 61% memperoleh informasi dari media sosial, WhatsApp dapat dimanfaatkan untuk mengirim informasi yang sudah diverifikasi, pengingat jadwal imunisasi, dan komunikasi dua arah dengan tenaga kesehatan. Video pendek, poster digital, dan pesan infografis juga dapat digunakan.
    Namun, media sosial perlu disertai verifikasi sumber, karena media yang sama juga dapat menjadi tempat penyebaran misinformasi.
    9. Bagaimana melakukan follow-up anak yang belum lengkap imunisasinya?
    Puskesmas dan kader dapat membuat daftar anak yang belum lengkap imunisasinya berdasarkan pencatatan yang tersedia, kemudian:
    mengidentifikasi imunisasi yang belum diterima;
    menghubungi orang tua;
    mencari tahu penyebab keterlambatan;
    memberikan penjelasan sesuai kebutuhan;
    membantu orang tua memahami jadwal berikutnya;
    mengingatkan melalui WhatsApp atau kunjungan kader bila sesuai program;
    mencatat kembali setelah imunisasi dilakukan.

    BalasHapus
  40. BAGIAN 2

    1. Apa masalah utama?

    Masalah utamanya adalah masih banyaknya tempat berkembang biak nyamuk (jentik), meskipun sudah dilakukan fogging.

    2. Apakah masalah utamanya kurang pengetahuan?

    Tidak sepenuhnya. Masyarakat sudah tahu, tapi perilakunya belum konsisten, seperti tidak rutin melakukan PSN.

    3. Mengapa fogging belum menyelesaikan masalah?

    Karena fogging hanya membunuh nyamuk dewasa, tidak membasmi jentik. Sumber masalah (genangan air) masih ada.

    4. Apa modal sosial yang tersedia?

    Adanya kerja bakti dan partisipasi warga saat ada kegiatan menunjukkan masyarakat bisa diajak bergerak bersama.

    5. Bagaimana mengubah kerja bakti menjadi kegiatan PSN?

    Kerja bakti diarahkan untuk fokus pada PSN, seperti membersihkan tempat penampungan air, menutup ember, dan mengubur barang bekas secara rutin.

    6. Siapa stakeholder utama?

    Ketua RT/RW, kader kesehatan, petugas puskesmas, dan masyarakat setempat.

    7. Apa indikator keberhasilan program?

    Menurunnya jumlah jentik dan kasus DBD, serta meningkatnya kebiasaan PSN rutin di masyarakat.

    BalasHapus
  41. BAGIAN 3

    1. Apa masalah perilaku?
    Orang tua menunda atau tidak melanjutkan imunisasi karena anak demam setelah imunisasi dan merasa takut.

    2. Apa masalah sosial?
    Adanya pengaruh keluarga (misalnya nenek) dan lingkungan sekitar yang ikut memengaruhi keputusan orang tua.

    3. Apa masalah budaya?
    Kepercayaan bahwa imunisasi bisa berbahaya atau sebaiknya ditunda sampai anak lebih besar.

    4. Apa masalah komunikasi?
    Informasi yang beredar belum tepat, terutama dari media sosial, sehingga menimbulkan keraguan dan salah paham.

    5. Apakah ini semata-mata “anti-imunisasi”?
    Tidak. Lebih karena takut KIPI, kurang pemahaman, dan pengaruh lingkungan, bukan murni menolak imunisasi.

    6. Bagaimana komunikasi yang tidak menghakimi?
    Dengan pendekatan empati, mendengarkan kekhawatiran orang tua, dan memberikan penjelasan yang jelas tanpa menyalahkan.

    7. Siapa yang harus menjadi komunikator?
    Tenaga kesehatan seperti bidan, kader, dan petugas puskesmas yang dipercaya masyarakat.

    8. Media apa yang tepat?
    Media sosial (WhatsApp), penyuluhan langsung, dan komunikasi tatap muka.

    9. Bagaimana follow-up anak yang belum lengkap imunisasinya?
    Melakukan pendataan, pengingat jadwal (reminder), kunjungan rumah, dan edukasi ulang kepada orang tua.

    BalasHapus
  42. Bagian 3

    1. Apa masalah perilaku?
    Masalah perilakunya adalah ibu menghentikan atau menunda imunisasi anak karena khawatir setelah imunisasi anak mengalami demam. Selain itu, ibu lebih mengikuti informasi dari keluarga dan grup WhatsApp daripada berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.

    2. Apa masalah sosial?
    Masalah sosialnya adalah adanya pengaruh keluarga dan lingkungan pertemanan terhadap keputusan ibu. Nasihat dari nenek serta pesan dari grup WhatsApp ibu-ibu dapat memengaruhi keputusan untuk menunda imunisasi.

    3. Apa masalah budaya?
    Masalah budayanya adalah adanya kepercayaan atau kebiasaan yang diwariskan dalam keluarga, misalnya anggapan bahwa anak sebaiknya menunggu besar agar tubuhnya lebih kuat sebelum mendapatkan imunisasi. Kepercayaan tersebut dapat memengaruhi penerimaan terhadap imunisasi.

    4. Apa masalah komunikasi?
    Masalah komunikasinya adalah informasi kesehatan yang diterima ibu berasal dari berbagai sumber dengan tingkat kepercayaan yang berbeda. Penjelasan kader belum sepenuhnya dipercaya, sedangkan informasi dari bidan lebih dipercaya. Ditambah lagi, informasi yang beredar di WhatsApp belum tentu benar atau sesuai dengan kondisi anak.

    5. Apakah masalah tersebut semata-mata "anti-imunisasi"?
    Tidak. Ibu dalam kasus tersebut belum tentu anti-imunisasi. Keraguannya muncul karena anak mengalami demam setelah imunisasi dan adanya pengaruh keluarga serta informasi yang diterima dari lingkungan. Jadi, pendekatannya sebaiknya bukan langsung memberi label "anti-imunisasi", tetapi memahami alasan keraguan ibu dan memberikan informasi yang tepat.

    6. Bagaimana melakukan komunikasi yang tidak menghakimi?
    Komunikasi dapat dilakukan dengan pendekatan yang empati, mendengarkan, dan tidak menyalahkan.

    BalasHapus
  43. 🟢 BAGIAN I (jawaban)
    1. Karena mengetahui bahaya rokok belum tentu membuat seseorang langsung berhenti. Bisa karena sudah terbiasa, kecanduan nikotin, terpengaruh teman, atau merasa rokok bisa membantu mengurangi stres.
    2. Faktornya bisa berasal dari diri sendiri seperti kebiasaan dan ketergantungan, serta dari lingkungan seperti teman yang merokok, keluarga, dan lingkungan sosial.
    3.Faktor pendukungnya yaitu adanya teman yang merokok, rokok yang mudah didapat, kebiasaan merokok di lingkungan sekitar, dan kurangnya dukungan untuk berhenti merokok.
    4. Menurut saya, bukan hanya masalah individu tetapi juga masalah sosial. Karena perilaku merokok bisa dipengaruhi oleh teman, keluarga, lingkungan, kebiasaan masyarakat, dan norma yang ada di sekitar.
    5. Promkes bisa memberikan edukasi tentang bahaya merokok, membantu meningkatkan kesadaran masyarakat, membuat kampanye berhenti merokok, serta memberikan dukungan supaya orang yang merokok mau mengubah perilakunya.
    6. Bisa melibatkan ketua RT/RW, tokoh masyarakat, tokoh agama, kader kesehatan, tenaga kesehatan, guru, atau orang yang memang berpengaruh di lingkungan tersebut.

    BalasHapus
  44. ADELIA ZAHIR BAITI
    1. Penyebab: Pengetahuan tidak sama dengan perilaku. Tindakan nyata terhambat oleh faktor situasional individu (seperti terburu-buru sekolah) dan persepsi risiko yang masih rendah.
    2. Faktor Sosial: Dipengaruhi hubungan interpersonal/keluarga di dalam rumah serta ketiadaan kontrol sosial dari lingkungan sekitar terhadap perilaku merokok.
    3. Faktor Budaya: Adanya norma sosial permisif atau pemakluman budaya menahun yang menganggap merokok di dalam ruang tamu sebagai hal biasa.
    4. Masalah Merokok: Bukan sekadar masalah pengetahuan. Perilaku ini dikunci oleh faktor adiksi biologis, kebiasaan (habit), serta absennya aturan tegas (kebijakan) keluarga.
    5. Entry Point:
    * Fisik: Memfasilitasi ketersediaan sarana penunjang seperti sabun cuci tangan di rumah tangga (karena kepemilikan sabun baru 61%).
    * Sosial: Merumuskan kesepakatan bersama program "Rumah Tanpa Asap Rokok" di tingkat RT.
    6. Opinion Leader: Melibatkan Ketua RT/RW, Kader Posyandu, dan tokoh masyarakat setempat untuk menggerakkan warga dan menegakkan norma sehat baru.

    BalasHapus
    Balasan
    1. BAGIAN DUA
      BAGIAN 2
      1. Rendahnya pelaksanaan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) mandiri secara rutin oleh warga (47 rumah tidak memeriksa jentik secara rutin).
      2. ⁠Bukan. Masalah utamanya adalah salah persepsi (mitos) bahwa tindakan fogging otomatis membuat lingkungan terbebas total dari DBD.
      3. ⁠Karena fogging hanya membunuh nyamuk dewasa, sedangkan jentik-jentik di ember terbuka dan barang bekas tetap hidup dan akan menetas.
      4. ⁠ dibuktikan dengan warga yang selalu aktif hadir jika diumumkan kerja bakti oleh ketua RT.
      5. ⁠Mengalihkan fokus kerja bakti dari sekadar membersihkan fasilitas umum/sosial menjadi gerakan PSN terintegrasi, seperti keliling kampung bersama untuk berburu jentik di dalam dan luar rumah (gerakan satu rumah satu jumantik).
      6. ⁠Ketua RT/RW, Kader Jumantik, petugas Puskesmas (surveilans), dan seluruh kepala keluarga.
      7. ⁠ Meningkatnya Angka Bebas Jentik (ABJ) (target rumah positif jentik turun drastis menuju 0) dan penurunan jumlah kasus DBD baru di RW 03.

      Hapus
    2. BAGIAN 3
      BAGIAN 3
      1. Penundaan atau penghentian jadwal imunisasi anak secara sepihak oleh orang tua akibat kekhawatiran yang berlebih.
      2. Pengaruh negatif dari struktur keluarga/interpersonal (kakek-nenek/ibu mertua) yang mengintervensi keputusan ibu muda untuk tidak mengimunisasi anaknya.
      3. Kepercayaan yang keliru secara turun-temurun bahwa demam pasca-imunisasi pertanda vaksin tidak cocok atau merusak tubuh anak.
      4. Masifnya misinformasi (hoaks) yang tersebar di grup WhatsApp ibu-ibu (61%) yang menyarankan menunda vaksin demi "menunggu anak besar".
      5. Masalah ini didasari oleh ketakutan terhadap efek samping (KIPI), lupa jadwal (22%), dan keraguan akibat kurangnya paparan edukasi yang valid.
      6. ⁠Menerapkan prinsip LISTEN → UNDERSTAND → EXPLAIN → SUPPORT → FOLLOW UP. Dengarkan kecemasan ibu, akui bahwa wajar jika mereka khawatir saat anak demam, lalu jelaskan dengan lembut bahwa demam adalah tanda imun tubuh bekerja secara positif.
      7. Bidan desa/tenaga kesehatan Puskesmas, karena secara sosial budaya mereka memegang tingkat kepercayaan tertinggi dari masyarakat dibanding kader biasa.
      8. Konseling tatap muka langsung di Posyandu/kunjungan rumah.Pesan edukasi resmi berbasis audio/video pendek yang disebarkan langsung ke dalam grup WhatsApp ibu-ibu untuk menangkal hoaks digital.
      9. Melakukan strategi pelacakan / sweeping zero-dose (kunjungan rumah) oleh bidan dan kader, memberikan kartu pengingat jadwal (reminder), serta memberikan edukasi langsung kepada kakek/nenek anak tersebut.

      Hapus
    3. HOTS
      1. ⁠1. Mengapa masyarakat yang mengetahui bahaya DBD tetap tidak melakukan PSN?Karena pengetahuan tidak sama dengan perilaku. Masyarakat sering kali terjebak dalam salah persepsi (mitos), seperti merasa sudah aman total karena sudah dilakukan fogging, memiliki persepsi risiko yang rendah terhadap jentik di air bersih, atau belum menjadikannya sebagai kebiasaan rutin mingguan.
      2. Mengapa cakupan imunisasi dapat berbeda antara wilayah?Perbedaan ini terjadi karena cakupan imunisasi tidak hanya dipengaruhi oleh ketersediaan vaksin (supply), melainkan gabungan dari aspek akses geografis, tingkat permintaan (demand), kepercayaan masyarakat (trust), serta kualitas pencatatan data di masing-masing wilayah.
      3. ⁠Bagaimana keluarga memengaruhi keputusan imunisasi?Keluarga bertindak sebagai level interpersonal terdekat. Keputusan ibu muda sering kali disetir atau diintervensi oleh pengalaman masa lalu keluarga atau pengaruh kakek-nenek yang melarang imunisasi lanjutan ketika anak mengalami demam (KIPI).
      4. ⁠Bagaimana WhatsApp dapat menjadi media pemberdayaan sekaligus sumber misinformasi?Pemberdayaan: Dapat menjadi saluran komunikasi massal yang cepat bagi kader/RT untuk menyebarkan pengingat (reminder) jadwal Posyandu atau jadwal PSN warga.Misinformasi: Menjadi ruang gema (echo chamber) di mana hoaks kesehatan mudah beredar secara berantai tanpa filter ilmiah, seperti ajaran menunda vaksin di grup WhatsApp ibu-ibu.
      5. ⁠Apakah budaya harus diubah atau justru dimanfaatkan?Justru dimanfaatkan. Budaya masyarakat jangan dianggap sebagai hambatan atau masalah. Budaya harus dijadikan modal sosial, contohnya meminjam tradisi gotong royong warga untuk menyukseskan gerakan pemeriksaan jentik bersama.
      6. ⁠Bagaimana membedakan nilai budaya dengan misinformasi?Nilai budaya: Pola hidup, norma sosial, atau kearifan lokal yang dipegang teguh (seperti gotong royong atau kepatuhan pada petuah sesepuh).Misinformasi: Data atau klaim fakta keliru tentang kesehatan (seperti "fogging membunuh semua jenis nyamuk" atau "vaksin tidak cocok jika anak demam") yang dapat diluruskan dengan bukti ilmiah (evidence-based) tanpa harus menyerang kebudayaan mereka.
      7. ⁠Mengapa promosi kesehatan tidak cukup menggunakan metode ceramah?Karena ceramah satu arah hanya menyentuh level pengetahuan (knowledge), tetapi gagal mengubah sikap (attitude) dan praktik (practice) yang tertanam di bawah pengaruh norma sosial dan lingkungan fisik nyata.
      8. ⁠Bagaimana cara melibatkan tokoh agama tanpa menjadikan pesan kesehatan kehilangan dasar ilmiahnya?Dengan cara membangun kemitraan dan melakukan edukasi awal kepada tokoh agama mengenai bukti ilmiah penyakit. Tokoh agama dilibatkan untuk memperkuat norma sosial hidup sehat lewat bahasa agama, sementara penjelasan teknis medis/sains tetap disampaikan atau didampingi oleh tenaga kesehatan.
      9. ⁠Mengapa gotong royong dapat menjadi strategi promosi kesehatan?Karena gotong royong adalah norma sosial positif yang sudah mengakar di masyarakat. Memanfaatkan gotong royong membuat masyarakat merasa memiliki program tersebut (community engagement), bukan merasa didikte oleh orang luar.
      10. ⁠Bagaimana mengukur perubahan perilaku secara objektif?Perubahan perilaku tidak boleh diukur sekadar dari pengakuan lisan (wawancara) saja, melainkan harus diukur secara objektif berbasis data riil lapangan (observasi/surveilans). Contohnya: menghitung persentase rumah tangga yang memiliki sabun di dekat wastafel, memeriksa Angka Bebas Jentik (ABJ) secara langsung ke bak air, atau melihat bukti catatan rekam medis cakupan imunisasi anak.

      Hapus

  45. 🟡 BAGIAN II
    1. Penyebabnya bisa karena masyarakat belum memiliki kesadaran yang cukup, kebiasaan yang sudah berlangsung lama, kurangnya informasi, dan belum adanya tindakan bersama yang konsisten untuk mengatasi masalah tersebut.
    2. Tidak. Menurut saya masalah tersebut bukan hanya masalah kesehatan, tetapi juga berkaitan dengan sosial, lingkungan, ekonomi, kebiasaan masyarakat, dan komunikasi antarwarga.
    3. Kemungkinan karena koordinasi antarwarga belum berjalan dengan baik, keterbatasan sumber daya, kurangnya dukungan dari masyarakat, atau kader belum mendapatkan informasi dan arahan yang cukup mengenai tindakan yang harus dilakukan.
    4. Masyarakat bisa ikut mengidentifikasi masalah, memberikan ide, mengikuti kegiatan yang dibuat, menjaga lingkungan, serta ikut mengawasi supaya kegiatan yang sudah dilakukan tetap berjalan.
    5. Caranya bisa dimulai dari perubahan kecil yang dilakukan secara bertahap, misalnya membiasakan hidup bersih dan sehat, mengikuti kegiatan kesehatan, mengurangi kebiasaan yang berisiko, serta saling mengingatkan antarwarga.
    6. Stakeholder utamanya bisa melibatkan ketua RT/RW, kader kesehatan, puskesmas, kelurahan, tokoh masyarakat, dan masyarakat setempat.
    7. Dengan melakukan koordinasi dan musyawarah terlebih dahulu, membagi tugas sesuai kemampuan masing-masing, kemudian membuat kegiatan bersama dan melakukan evaluasi secara berkala.

    BalasHapus
  46. PERTANYAAN HOTS

    1. Mengapa masyarakat yang mengetahui bahaya DBD tetap tidak melakukan PSN?
    Karena pengetahuan tidak selalu langsung mengubah perilaku. PSN juga dipengaruhi oleh kebiasaan, persepsi risiko, lingkungan, dukungan keluarga, norma masyarakat, dan keterlibatan bersama.

    2. Mengapa cakupan imunisasi dapat berbeda antara wilayah?
    Karena setiap wilayah memiliki perbedaan dalam akses pelayanan, ketersediaan vaksin, jadwal pelayanan, kondisi sosial ekonomi, kepercayaan masyarakat, dukungan keluarga, dan kualitas pencatatan data.

    3. Bagaimana keluarga memengaruhi keputusan imunisasi?
    Keluarga, terutama orang tua, berperan dalam menentukan apakah anak mendapat imunisasi. Keputusan dapat dipengaruhi oleh pengetahuan, pengalaman sebelumnya, kepercayaan, kekhawatiran terhadap efek samping, dan informasi yang diterima keluarga.

    4. Bagaimana WhatsApp dapat menjadi media pemberdayaan sekaligus sumber misinformasi?
    WhatsApp dapat digunakan untuk memberikan edukasi, pengingat jadwal imunisasi, dan mengajak masyarakat melakukan PSN. Namun, informasi yang salah juga dapat menyebar dengan cepat. Karena itu, informasi sebaiknya berasal dari sumber kesehatan yang terpercaya dan diverifikasi sebelum dibagikan.

    5. Apakah budaya harus diubah atau justru dimanfaatkan?
    Budaya yang positif sebaiknya dimanfaatkan sebagai kekuatan dalam promosi kesehatan. Misalnya budaya gotong royong dapat digunakan untuk melakukan PSN bersama. Budaya yang kurang mendukung kesehatan dapat diperbaiki secara bertahap tanpa merendahkan masyarakat.

    6. Bagaimana membedakan nilai budaya dengan misinformasi?
    Nilai budaya merupakan kebiasaan atau keyakinan yang berkembang dalam masyarakat, sedangkan misinformasi adalah informasi yang keliru atau tidak sesuai dengan bukti. Keduanya perlu dipahami dalam konteks masyarakat dan dibandingkan dengan informasi ilmiah.

    7. Mengapa promosi kesehatan tidak cukup menggunakan metode ceramah?
    Karena perubahan perilaku tidak hanya dipengaruhi pengetahuan. Faktor lingkungan, fasilitas, kebiasaan, dukungan keluarga, norma sosial, dan akses pelayanan juga berpengaruh. Oleh karena itu, promosi kesehatan perlu disertai pemberdayaan dan perubahan lingkungan.

    8. Bagaimana cara melibatkan tokoh agama tanpa menjadikan pesan kesehatan kehilangan dasar ilmiahnya?
    Tokoh agama dapat dilibatkan sebagai mitra dalam menyampaikan pesan kesehatan. Materi yang diberikan tetap berdasarkan bukti ilmiah, kemudian disesuaikan dengan nilai dan bahasa yang mudah diterima masyarakat.

    9. Mengapa gotong royong dapat menjadi strategi promosi kesehatan?
    Karena beberapa masalah kesehatan membutuhkan tindakan bersama. Contohnya PSN tidak cukup dilakukan oleh satu orang atau satu rumah saja. Gotong royong dapat meningkatkan kepedulian, rasa tanggung jawab, dan kebiasaan menjaga lingkungan secara bersama.

    10. Bagaimana mengukur perubahan perilaku secara objektif?
    Dengan membandingkan kondisi sebelum dan sesudah intervensi menggunakan indikator yang dapat diamati, seperti jumlah rumah yang melakukan PSN, hasil pemeriksaan jentik, cakupan imunisasi, kehadiran kegiatan, serta hasil observasi dan pencatatan secara berkala.

    BalasHapus
  47. Hasna Naura Afifah P3.73.36.1.26.070
    PBAGIAN 1 – PHBS
    1. Pengetahuan yang tinggi belum tentu membuat seseorang menerapkan PHBS karena perilaku juga dipengaruhi kebiasaan, sikap, lingkungan, fasilitas, keluarga, dan orang sekitar.
    2. Faktor sosialnya bisa berasal dari keluarga, teman, kader kesehatan, RT/RW, dan tokoh masyarakat. Lingkungan yang mendukung akan memudahkan seseorang menerapkan PHBS.
    3. Faktor budaya dapat berupa kebiasaan yang sudah dilakukan sejak lama dan dianggap wajar, sehingga masyarakat terkadang sulit mengubahnya menjadi perilaku yang lebih sehat.
    4. Perilaku merokok tidak hanya disebabkan kurangnya pengetahuan, tetapi juga karena kebiasaan, pengaruh teman atau keluarga, lingkungan, dan cara seseorang melihat risiko kesehatan.
    5. Intervensi dapat dimulai dari kebiasaan sederhana, seperti membiasakan CTPS, menyediakan fasilitas cuci tangan, memberikan edukasi, dan melibatkan keluarga serta kader.
    6. Opinion leader yang dapat dilibatkan yaitu RT/RW, kader kesehatan, tokoh masyarakat, tokoh agama, guru, dan petugas Puskesmas.

    BAGIAN 2 – DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD)
    1. Masalah utamanya bukan hanya kurang pengetahuan, tetapi masih adanya tempat perkembangbiakan nyamuk dan PSN yang belum dilakukan secara rutin.
    2. DBD juga dipengaruhi kondisi lingkungan, kebiasaan masyarakat, partisipasi warga, dan konsistensi dalam melakukan PSN.
    3. Fogging saja tidak cukup karena tidak menghilangkan semua tempat perkembangbiakan jentik. Jadi, fogging perlu disertai PSN dan menjaga kebersihan lingkungan.
    4. Modal sosial yang dapat dimanfaatkan yaitu gotong royong, kerja bakti, RT/RW, kader atau jumantik, keluarga, dan kepedulian masyarakat.
    5. Kerja bakti dapat dijadikan kegiatan PSN dengan menguras dan menutup tempat air serta membersihkan barang bekas yang bisa menampung air.
    6. Pihak yang perlu dilibatkan yaitu masyarakat, keluarga, RT/RW, kader, Puskesmas, sekolah, kelurahan, dan Dinas Kesehatan.
    7. Keberhasilan dapat dilihat dari meningkatnya kegiatan PSN, berkurangnya jentik dan tempat perkembangbiakan nyamuk, serta meningkatnya partisipasi masyarakat.

    BAGIAN 3 – IMUNISASI
    1. Orang tua yang menunda imunisasi belum tentu tidak tahu manfaatnya. Bisa saja karena takut KIPI, lupa jadwal, kurang informasi, atau masih ragu.
    2. Keputusan imunisasi juga dapat dipengaruhi keluarga, teman, dan lingkungan. Dukungan yang baik dapat membantu orang tua lebih yakin.
    3. Faktor budaya dapat berupa kepercayaan atau kebiasaan keluarga yang memengaruhi keputusan dalam memberikan imunisasi.
    4. Informasi yang salah, terutama dari media sosial, dapat menimbulkan keraguan. Karena itu, tenaga kesehatan perlu memberikan informasi dengan bahasa yang jelas dan tidak menghakimi.
    5. Orang tua yang ragu terhadap imunisasi tidak selalu berarti anti-imunisasi. Keraguan bisa muncul karena rasa takut, pengalaman, pengaruh lingkungan, atau kurangnya informasi.
    6. Komunikasi sebaiknya dimulai dengan mendengarkan kekhawatiran orang tua, kemudian memberikan penjelasan berdasarkan informasi yang benar.
    7. Komunikator yang dapat dilibatkan yaitu dokter, bidan, perawat, petugas Puskesmas, dan kader kesehatan.
    8. Media yang dapat digunakan yaitu konseling, poster, leaflet, WhatsApp, media sosial, dan edukasi di Posyandu.
    9. Anak yang belum lengkap imunisasinya dapat ditindaklanjuti dengan pendataan, mengingatkan jadwal, memberikan konseling, dan melakukan pemantauan sampai imunisasi lengkap.

    BalasHapus
  48. HOTS

    1. Mengapa masyarakat tahu bahaya DBD tapi tidak PSN?
    Tahu saja tidak cukup. Hambatannya: merasa tidak rentan, malas, tidak ada waktu, anggapan PSN tugas petugas, dan norma sosial di lingkungan tidak mendukung. Perilaku dipengaruhi lingkungan, bukan cuma pengetahuan.

    2. Mengapa cakupan imunisasi beda antar wilayah?
    Karena akses beda, geografis sulit, petugas terbatas, rantai dingin rusak, faktor sosial budaya, kepercayaan terhadap imunisasi, dan dukungan tokoh lokal yang berbeda.

    3. Bagaimana keluarga memengaruhi keputusan imunisasi?
    Keluarga adalah pengambil keputusan. Ibu butuh izin suami/orang tua. Jika keluarga percaya mitos atau pengalaman buruk, anak tidak diimunisasi. Sebaliknya dukungan keluarga jadi pendorong kuat.

    4. Bagaimana WhatsApp jadi media pemberdayaan sekaligus sumber misinformasi?
    Cepat, murah, sampai pelosok, bisa buat grup edukasi. Tapi tidak ada filter, hoaks menyebar lebih cepat dari fakta, sering dipercaya karena dikirim keluarga/teman dekat.

    5. Apakah budaya harus diubah atau dimanfaatkan?
    Jangan diubah total, tapi dimanfaatkan. Budaya yang positif seperti gotong royong, arisan, pengajian dipakai sebagai wadah promosi. Yang merugikan baru diubah perlahan dengan pendekatan.

    6. Bagaimana membedakan nilai budaya dengan misinformasi?
    Nilai budaya = diwariskan lama, punya fungsi sosial, disepakati komunitas. Misinformasi = informasi baru yang salah, tidak ada bukti ilmiah, biasanya bertentangan dengan fakta kesehatan, cepat viral tapi tidak berakar.

    7. Mengapa promosi tidak cukup ceramah?
    Karena ceramah hanya menambah pengetahuan, tidak mengubah sikap dan keterampilan. Masyarakat bosan, tidak partisipatif, tidak sesuai cara belajar orang dewasa. Perlu diskusi, demonstrasi, praktek.

    8. Bagaimana melibatkan tokoh agama tanpa menghilangkan dasar ilmiah?
    Libatkan sebagai pembawa pesan, bukan pembuat pesan. Materi ilmiah tetap dari tenaga kesehatan, tokoh agama memperkuat dengan dalil agama yang relevan. Kolaborasi, bukan titip pesan mentah.

    9. Mengapa gotong royong jadi strategi promosi kesehatan?
    Karena sesuai nilai Indonesia, biaya murah, rasa memiliki tinggi, berkelanjutan, dan mampu mengubah norma sosial. PSN serentak efektif kalau gotong royong.

    10. Bagaimana mengukur perubahan perilaku secara objektif?
    Jangan tanya "sudah PSN?", tapi cek langsung: lihat ada jentik atau tidak, cek bak mandi tertutup, hitung cakupan PSN, lihat jumlah kasus DBD. Gunakan observasi dan data, bukan cuma wawancara.

    BalasHapus
  49. SOAL HOTS

    1. Mengapa tahu bahaya DBD tetapi tidak melakukan PSN?
    Karena pengetahuan tidak selalu menjadi perilaku. Kebiasaan, motivasi, lingkungan, dan dukungan masyarakat juga berpengaruh.


    2. Mengapa cakupan imunisasi berbeda tiap wilayah?
    Karena perbedaan akses pelayanan, kondisi ekonomi, pendidikan, kepercayaan, tenaga kesehatan, dan informasi.


    3. Bagaimana keluarga memengaruhi imunisasi?
    Keluarga dapat memberi dukungan, tetapi juga dapat menimbulkan keraguan melalui pengalaman atau kepercayaan tertentu.


    4. Bagaimana WhatsApp menjadi pemberdayaan sekaligus sumber misinformasi?
    WhatsApp memudahkan edukasi dan pengingat kesehatan, tetapi informasi yang salah juga dapat menyebar dengan cepat.


    5. Budaya harus diubah atau dimanfaatkan?
    Budaya yang mendukung kesehatan sebaiknya dimanfaatkan, sedangkan budaya yang berisiko diarahkan secara bertahap.


    6. Bagaimana membedakan budaya dan misinformasi?
    Budaya merupakan nilai atau kebiasaan masyarakat, sedangkan misinformasi adalah informasi yang tidak sesuai fakta atau bukti ilmiah.


    7. Mengapa promosi kesehatan tidak cukup dengan ceramah?
    Karena perubahan perilaku membutuhkan praktik, motivasi, dukungan sosial, fasilitas, dan lingkungan yang mendukung.


    8. Bagaimana melibatkan tokoh agama?
    Tokoh agama dapat memperkuat pesan kesehatan, tetapi informasi medis tetap harus berdasarkan bukti ilmiah dan dijelaskan oleh tenaga kesehatan.


    9. Mengapa gotong royong menjadi strategi promosi kesehatan?
    Karena gotong royong dapat meningkatkan partisipasi dan tanggung jawab bersama, misalnya dalam kegiatan PSN.


    10. Bagaimana mengukur perubahan perilaku secara objektif?
    Dengan membandingkan data sebelum dan sesudah intervensi, misalnya frekuensi PSN, jumlah rumah positif jentik, atau kepatuhan imunisasi.


    BalasHapus
  50. Pertanyaan HOTS
    1.Karena pengetahuan saja belum cukup. Perilaku juga dipengaruhi kebiasaan, lingkungan, kesadaran, dukungan masyarakat, dan anggapan bahwa fogging sudah cukup untuk mencegah DBD.
    2.Karena setiap wilayah memiliki perbedaan akses pelayanan kesehatan, kondisi sosial ekonomi, pendidikan, kepercayaan masyarakat, ketersediaan tenaga kesehatan, serta dukungan keluarga dan lingkungan.
    3.Keluarga dapat menjadi sumber dukungan atau sebaliknya. Jika keluarga memberikan informasi yang benar dan mendukung imunisasi, orang tua lebih yakin. Sebaliknya, ketakutan atau informasi keliru dari keluarga dapat membuat orang tua menunda imunisasi.
    4.WhatsApp dapat digunakan untuk menyebarkan edukasi, mengingatkan jadwal imunisasi, dan mengajak masyarakat melakukan PSN. Namun, informasi yang belum diverifikasi juga dapat menyebar dengan cepat sehingga menimbulkan kesalahpahaman.
    5.Budaya yang positif sebaiknya dimanfaatkan, sedangkan kebiasaan yang berisiko dapat diperbaiki secara bertahap. Contohnya, budaya gotong royong dapat dimanfaatkan untuk kegiatan PSN.
    6.Nilai budaya merupakan kebiasaan atau keyakinan yang berkembang dalam masyarakat, sedangkan misinformasi adalah informasi yang tidak sesuai dengan fakta. Keduanya perlu dilihat berdasarkan bukti dan sumber informasi yang terpercaya.
    7.Karena ceramah lebih banyak memberikan informasi, sedangkan perubahan perilaku membutuhkan praktik, dukungan lingkungan, keterlibatan masyarakat, dan tindak lanjut. Oleh karena itu, promosi kesehatan perlu menggunakan berbagai metode.
    8.Tokoh agama dapat dilibatkan sebagai pendukung dan penyampai pesan kesehatan, tetapi materi kesehatan harus tetap berdasarkan sumber ilmiah yang terpercaya. Pesan agama digunakan untuk memperkuat motivasi, bukan menggantikan fakta medis.
    9.Karena gotong royong meningkatkan partisipasi dan rasa tanggung jawab bersama. Contohnya, kegiatan gotong royong dapat diarahkan untuk membersihkan lingkungan dan melakukan PSN secara rutin.
    10.Dengan menggunakan indikator yang dapat diukur sebelum dan sesudah intervensi, seperti frekuensi cuci tangan, jumlah rumah yang melakukan PSN, keberadaan jentik, cakupan imunisasi, atau kehadiran masyarakat dalam kegiatan kesehatan.

    BalasHapus

  51. 🔵 BAGIAN III
    1. Masalah perilakunya adalah kebiasaan anak membeli atau mengonsumsi jajanan yang kurang sehat dan kemungkinan kurang memperhatikan kebersihan serta kandungan makanan yang dikonsumsi.
    2. Masalah sosialnya bisa berasal dari lingkungan pertemanan dan kebiasaan masyarakat. Anak bisa ikut membeli jajanan karena teman-temannya juga melakukan hal yang sama.
    3. Masalah budayanya adalah kebiasaan masyarakat dalam memilih makanan atau jajanan yang sudah dianggap biasa, misalnya lebih memilih makanan yang murah, mudah didapat, atau rasanya lebih disukai tanpa memperhatikan nilai gizinya.
    4. Masalah komunikasinya adalah informasi mengenai makanan sehat dan pentingnya memilih jajanan yang aman mungkin belum disampaikan dengan cara yang mudah dipahami anak maupun orang tua.
    5. Bisa dilakukan secara bertahap dengan memberikan edukasi yang menarik dan mudah dipahami anak. Misalnya menggunakan gambar, permainan, video pendek, atau contoh jajanan sehat. Orang tua juga perlu ikut mendukung dengan menyediakan pilihan makanan yang lebih sehat di rumah.
    6. Yang bisa terlibat yaitu anak, orang tua, guru, kader kesehatan, puskesmas, pedagang jajanan, sekolah, dan lingkungan masyarakat.
    7. Orang tua: mengawasi dan memberikan contoh pola makan sehat.
    Guru/sekolah: memberikan edukasi dan mengawasi jajanan di lingkungan sekolah.
    Puskesmas/kader: memberikan penyuluhan tentang makanan sehat dan keamanan pangan.
    Pedagang: menyediakan jajanan yang bersih dan aman.
    Pemerintah/kelurahan: mendukung aturan dan kegiatan yang berkaitan dengan kesehatan lingkungan sekolah.
    8. Strateginya bisa berupa penyuluhan tentang jajanan sehat, membuat poster atau media edukasi yang menarik untuk anak, mengadakan kegiatan pemeriksaan atau pemantauan jajanan sekolah, serta melibatkan orang tua, guru, kader, dan pedagang supaya perubahan perilaku bisa dilakukan bersama-sama.

    BalasHapus
  52. HOTS
    1 Mengapa tahu bahaya DBD tapi tidak PSN?
    - Kesenjangan Perilaku: Pengetahuan tidak otomatis jadi kebiasaan (knowledge-behavior gap).
    - Menganggap Sepele: Merasa risiko terkena DBD rendah (optimism bias).
    - Malas & Pasif: Menganggap PSN menyita waktu dan memilih menunggu tindakan fogging.
    2 Mengapa cakupan imunisasi antarwilayah berbeda?
    - Akses & Fasilitas: Perbedaan jarak ke posyandu dan ketersediaan vaksin.
    - Tingkat Hoaks: Wilayah dengan misinformasi tinggi cenderung takut vaksin.
    - Peran Tokoh Lokal: Dukungan dari tokoh masyarakat setempat tidak merata.
    3. Bagaimana keluarga memengaruhi keputusan imunisasi?
    - Penentu Keputusan: Izin sering kali tergantung suami atau orang tua/mertua.
    - Kepercayaan Keluarga: Kebiasaan dan pandangan kesehatan yang dianut turun-temurun.
    4. Bagaimana WhatsApp jadi media pemberdayaan sekaligus misinformasi?
    - Pemberdayaan: Cepat untuk sebar info jadwal posyandu dan edukasi kader.
    - Misinformasi: Memudahkan penyebaran hoaks/mitos vaksin via forward chat.
    5. Budaya harus diubah atau dimanfaatkan?
    - Dimanfaatkan jika mendukung kesehatan (misal: gotong royong untuk PSN).
    - Diubah secara bertahap hanya jika terbukti membahayakan kesehatan (misal: penanganan medis yang ditunda akibat tradisi).
    6. Cara membedakan nilai budaya vs misinformasi?
    - Nilai Budaya: Warisan adat, kearifan lokal, dan norma kepercayaan sosial.
    - Misinformasi: Klaim ilmiah/medis yang salah dan tidak terbukti secara medis.
    7. Mengapa promosi kesehatan tidak cukup ceramah?
    - Pasif & Satu Arah: Tidak melatih keterampilan praktis masyarakat.
    - Mudah Lupa: Tanpa praktik langsung, pesan jarang mengubah perilaku nyata.
    8. Cara pelibatan tokoh agama tanpa kehilangan dasar ilmiah?
    - Kolaborasi: Bekali tokoh agama dengan data medis agar disampaikan lewat bahasa agama yang sejuk.
    - Bagi Peran: Tokoh agama menguatkan kesadaran moral/hukum, petugas medis menjelaskan teknis kesehatan.
    9. Mengapa gotong royong jadi strategi promkes?
    - Tanggung Jawab Bersama: Menjadikan kebersihan lingkungan sebagai norma kelompok.
    - Sanksi Sosial: Mendorong warga malu jika lingkungan rumahnya kotor sendirian.
    10. Cara mengukur perubahan perilaku secara objektif?
    - Indikator Fisik: Peningkatan Angka Bebas Jentik (ABJ) di rumah warga.
    - Observasi & Data: Pengecekan sarana air/cuci tangan dan rekap kelengkapan imunisasi/kasus DBD di puskesmas.

    BalasHapus
  53. JAWABAN PERTANYAAN HOTS

    1. Karena mengetahui bahaya DBD belum tentu membuat seseorang mau bertindak. Bisa dipengaruhi oleh kebiasaan, lingkungan, kurangnya kesadaran, atau merasa PSN belum menjadi kebutuhan penting.

    2. Karena setiap wilayah memiliki kondisi lingkungan, akses pelayanan kesehatan, pengetahuan masyarakat, serta kebiasaan dan dukungan program imunisasi yang berbeda.

    3. Keluarga sangat memengaruhi keputusan imunisasi melalui pengetahuan, dukungan, kepercayaan, dan pengalaman anggota keluarga terhadap imunisasi.

    4. WhatsApp dapat digunakan untuk menyebarkan informasi kesehatan, mengingatkan jadwal imunisasi, dan mengajak masyarakat melakukan kegiatan kesehatan. Namun, WhatsApp juga bisa menjadi sumber misinformasi jika informasi tidak berasal dari sumber yang terpercaya.

    5. Budaya sebaiknya tidak langsung diubah, tetapi dimanfaatkan selama tidak bertentangan dengan prinsip kesehatan. Budaya yang mendukung kesehatan dapat menjadi kekuatan dalam promosi kesehatan.

    6. Nilai budaya biasanya menjadi kebiasaan atau aturan yang dianggap baik oleh masyarakat, sedangkan misinformasi adalah informasi yang salah atau tidak sesuai dengan bukti ilmiah.
    7. Karena ceramah lebih banyak membuat masyarakat menerima informasi secara pasif. Promosi kesehatan juga membutuhkan diskusi, praktik, pendampingan, dan keterlibatan masyarakat agar terjadi perubahan perilaku.

    8. Tokoh agama dapat dilibatkan untuk menyampaikan pesan kesehatan dengan bahasa yang sesuai dengan masyarakat, tetapi isi kesehatan tetap berdasarkan informasi dan bukti ilmiah.

    9. Gotong royong dapat meningkatkan partisipasi masyarakat, misalnya melalui kerja bersama membersihkan lingkungan dan mengurangi tempat berkembang biaknya nyamuk. Hal ini membuat upaya kesehatan menjadi tanggung jawab bersama.

    10. Perubahan perilaku dapat diukur dengan melihat pengetahuan, sikap, dan tindakan sebelum dan sesudah program, serta menggunakan indikator yang dapat diamati, seperti peningkatan kegiatan PSN atau kepatuhan imunisasi.

    BalasHapus
  54. Pertanyaan mahasiswa bagian 1
    1. Gap Antara Pengetahuan dan Praktik (KAP Gap), Faktor Ketersediaan Fasilitas, Pengaruh Lingkungan & Norma Sosial
    2. Pengaruh Keluarga & Teman Sebaya, Status Sosial Ekonomi, Dukungan Sosial
    3. Nilai dan Tradisi Lokal, Persepsi Sehat-Sakit,Kebiasaan Turun-Temurun
    4. Faktor Adiksi/Ketergantungan, Simbol Sosial & Maskulinitas, Koping Stres
    5. Tatanan Rumah Tangga & Sekolah, Kegiatan Komunitas/Keagamaan
    6. Tokoh Agama, Tokoh MasyarakatKader Kesehatan & PKK


    Pertanyaan mahasiswa bagian 2
    1. tingginya angka kejadian/KLB DBD akibat masih ditemukannya jentik nyamuk Aedes aegypti di lingkungan pemukiman
    2. Bukan, Masalah utamanya ada pada konsistensi tindakan (pemberdayaan) dan ketergantungan masyarakat pada solusi instan (seperti fogging), serta kurangnya kepedulian terhadap genangan air bersih di sekitar rumah.
    3. Fogging Hanya Membunuh Nyamuk Dewasa, Resiko Resistensi, Menciptakan False Sense of Security
    4. Budaya Gotong Royong, Jaringan Kader PKK & Jumantik, Kelembagaan RT/RW
    5. Reorientasi Fokus Kerja Bakti, Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik (G1R1J)
    6. Primer: Puskesmas, Petugas Sanitarian, Kader Jumantik, Ketua RT/RW, dan Kepala Keluarga. Sekunder: Kantor Kecamatan/Kelurahan, Dinas Kesehatan, Sekolah/Guru (untuk PSN tatanan sekolah), dan Tokoh Masyarakat.
    7. Indikator Perilaku/Lingkungan, Indikator Partisipasi, Indikator Kesehatan Masyarakat


    Pertanyaan mahasiswa bagian 3
    1. Penundaan (delay) atau penolakan (refusal) orang tua untuk melengkapi jadwal imunisasi anak akibat rasa takut terhadap Efek Samping KIP (Kejadian Ikutan Pasca-Imunisasi) seperti demam atau rewel.
    2. Tekanan Keluarga (Orang Tua/Mertua
    3. Kepercayaan Tradisional/Agama
    4. Komunikasi Satu Arah & Menggurui
    5. Tidak. Sebagian besar kasus bukan karena anti-vaksin radikal, melainkan vaccine hesitancy (keraguan/kekhawatiran).
    6. Gunakan Teknik Motivational Interviewing
    7. Tenaga Kesehatan Interpersonal (Bidan/Perawat/Dokter)
    8. Media Antarpribadi (Face-to-Face)
    9. Pencatatan & Pemetaan (Tracking/Sweeping)

    BalasHapus
  55. Pertanyaan HOTS

    1. Mengapa masyarakat yang mengetahui bahaya DBD tetap tidak melakukan PSN?

    Karena pengetahuan tidak selalu langsung menghasilkan perilaku. Masyarakat mungkin mengetahui bahaya DBD, tetapi belum memiliki kebiasaan PSN, merasa kegiatan tersebut merepotkan, kurang mendapat pengawasan, atau menganggap fogging sudah cukup sebagai pencegahan.

    2. Mengapa cakupan imunisasi dapat berbeda antara wilayah?

    Karena setiap wilayah memiliki kondisi yang berbeda, seperti akses pelayanan kesehatan, kondisi ekonomi, pendidikan, budaya, kepercayaan masyarakat, ketersediaan tenaga kesehatan, serta dukungan keluarga dan lingkungan.

    3. Bagaimana keluarga memengaruhi keputusan imunisasi?

    Keluarga dapat menjadi sumber dukungan maupun keraguan. Orang tua atau anggota keluarga yang memberikan informasi positif dapat mendorong imunisasi, sedangkan pengalaman atau kepercayaan keluarga tentang efek samping dapat membuat orang tua menunda atau tidak melanjutkan imunisasi.

    4. Bagaimana WhatsApp dapat menjadi media pemberdayaan sekaligus sumber misinformasi?

    WhatsApp dapat menjadi media pemberdayaan karena memudahkan masyarakat berbagi informasi, berdiskusi, mengingatkan jadwal kesehatan, dan berkoordinasi dalam kegiatan kesehatan. Namun, WhatsApp juga dapat menyebarkan informasi yang salah dengan cepat. Karena itu, informasi kesehatan perlu diverifikasi dari tenaga kesehatan atau sumber resmi sebelum dibagikan.

    5. Apakah budaya harus diubah atau justru dimanfaatkan?

    Keduanya, tergantung jenis budayanya. Budaya yang mendukung kesehatan sebaiknya dimanfaatkan, misalnya gotong royong untuk PSN. Sementara kebiasaan atau kepercayaan yang berisiko terhadap kesehatan perlu diperbaiki secara bertahap melalui pendekatan yang menghargai masyarakat.

    6. Bagaimana membedakan nilai budaya dengan misinformasi?

    Nilai budaya berkaitan dengan kebiasaan, norma, dan nilai yang berkembang dalam suatu masyarakat, sedangkan misinformasi adalah informasi yang tidak tepat atau tidak sesuai dengan bukti yang dapat dipercaya. Cara membedakannya adalah dengan memeriksa sumber, membandingkan dengan bukti ilmiah, dan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.

    7. Mengapa promosi kesehatan tidak cukup menggunakan metode ceramah?

    Karena ceramah terutama meningkatkan pengetahuan, tetapi perubahan perilaku membutuhkan lebih dari itu. Masyarakat juga perlu praktik, dukungan lingkungan, fasilitas, motivasi, pendampingan, serta kesempatan untuk berpartisipasi. Oleh karena itu, promosi kesehatan sebaiknya menggunakan metode seperti diskusi, demonstrasi, simulasi, praktik langsung, dan pemberdayaan masyarakat.

    8. Bagaimana cara melibatkan tokoh agama tanpa menjadikan pesan kesehatan kehilangan dasar ilmiahnya?

    Tokoh agama dapat membantu menyampaikan dan memperkuat pesan kesehatan, sedangkan isi medisnya tetap berasal dari tenaga kesehatan dan bukti ilmiah. Misalnya, tokoh agama menyampaikan pentingnya menjaga kesehatan sebagai bagian dari tanggung jawab, kemudian tenaga kesehatan menjelaskan cara pencegahan penyakit berdasarkan ilmu medis.

    9. Mengapa gotong royong dapat menjadi strategi promosi kesehatan?

    Karena gotong royong dapat meningkatkan partisipasi, rasa memiliki, tanggung jawab bersama, dan dukungan sosial. Contohnya, kegiatan gotong royong membersihkan lingkungan dapat sekaligus dijadikan kegiatan PSN untuk mencegah DBD.

    10. Bagaimana mengukur perubahan perilaku secara objektif?

    Perubahan perilaku sebaiknya tidak hanya diukur melalui pengakuan masyarakat, tetapi menggunakan indikator yang dapat diamati dan dibandingkan sebelum-sesudah intervensi. Contohnya:

    Persentase rumah yang melakukan PSN rutin.
    Jumlah rumah yang ditemukan jentik.
    Persentase anak dengan imunisasi lengkap.
    Jumlah keluarga yang menerapkan CTPS.
    Frekuensi kegiatan PSN masyarakat.
    Perbandingan data sebelum dan sesudah program.

    BalasHapus
  56. Pertanyaan hots

    1. Mengapa masyarakat yang mengetahui bahaya DBD tetap tidak melakukan PSN?
    Karena pengetahuan tidak selalu langsung mengubah perilaku. Perilaku PSN juga dipengaruhi oleh kebiasaan, kesibukan, lingkungan, dukungan keluarga, fasilitas, dan norma sosial. Masyarakat bisa mengetahui bahaya DBD, tetapi jika PSN belum menjadi kebiasaan, pelaksanaannya tetap rendah.

    2. Mengapa cakupan imunisasi dapat berbeda antara wilayah?
    Karena setiap wilayah memiliki kondisi yang berbeda, seperti akses terhadap fasilitas kesehatan, kondisi sosial ekonomi, pendidikan, kepercayaan masyarakat, budaya, ketersediaan tenaga kesehatan, serta informasi yang diterima masyarakat. Dukungan dari pemerintah dan tokoh masyarakat juga dapat memengaruhi cakupan imunisasi.

    3. Bagaimana keluarga memengaruhi keputusan imunisasi?
    Keluarga dapat menjadi sumber dukungan maupun keraguan. Orang tua, kakek-nenek, atau anggota keluarga lain dapat memengaruhi keputusan melalui pengalaman, kepercayaan, dan informasi yang mereka miliki. Jika keluarga mendukung imunisasi, orang tua lebih terdorong untuk melengkapinya. Sebaliknya, jika keluarga menyebarkan kekhawatiran atau informasi yang keliru, keputusan imunisasi dapat tertunda.

    4. Bagaimana WhatsApp dapat menjadi media pemberdayaan sekaligus sumber misinformasi?
    WhatsApp dapat menjadi media pemberdayaan karena memungkinkan penyebaran informasi kesehatan, pengingat jadwal imunisasi, koordinasi kegiatan PSN, dan komunikasi antara kader dengan masyarakat secara cepat.

    5. Apakah budaya harus diubah atau justru dimanfaatkan?
    Budaya yang mendukung kesehatan sebaiknya dimanfaatkan dan diperkuat, sedangkan kebiasaan atau kepercayaan yang berisiko terhadap kesehatan dapat diarahkan secara bertahap.

    6. Bagaimana membedakan nilai budaya dengan misinformasi?
    Nilai budaya merupakan kebiasaan, nilai, atau kepercayaan yang berkembang dalam masyarakat, sedangkan misinformasi adalah informasi yang keliru atau tidak sesuai dengan bukti yang dapat dipercaya.

    7. Mengapa promosi kesehatan tidak cukup menggunakan metode ceramah?
    Karena ceramah lebih banyak berfokus pada pemberian informasi, sedangkan perubahan perilaku membutuhkan lebih dari sekadar pengetahuan.

    8. Bagaimana cara melibatkan tokoh agama tanpa menjadikan pesan kesehatan kehilangan dasar ilmiahnya?
    Tokoh agama dapat dilibatkan sebagai pendukung dan penyampai pesan, sementara informasi medis tetap mengacu pada bukti ilmiah dan sumber kesehatan yang terpercaya.

    9. Mengapa gotong royong dapat menjadi strategi promosi kesehatan?
    Karena gotong royong dapat meningkatkan partisipasi, rasa memiliki, kepedulian, dan tanggung jawab bersama terhadap kesehatan lingkungan.

    10. Bagaimana mengukur perubahan perilaku secara objektif?
    Perubahan perilaku dapat diukur menggunakan indikator yang dapat diamati dan dibandingkan sebelum dan sesudah intervensi.

    BalasHapus
  57. Kasus 1 – PHBS

    1. Mengapa pengetahuan tinggi tetapi perilaku belum optimal?**
    Karena perilaku dipengaruhi kebiasaan, lingkungan, dan dukungan sosial, bukan hanya pengetahuan.

    2. Apa faktor sosialnya?
    Pengaruh keluarga, teman, dan tokoh masyarakat.

    3. Apa faktor budayanya?
    Kebiasaan yang sudah dianggap normal, seperti merokok di dalam rumah.

    4. Apakah merokok hanya masalah pengetahuan?
    Tidak, juga dipengaruhi kebiasaan dan norma sosial.

    5. Apa yang dapat menjadi entry point intervensi?
    Edukasi keluarga, kampanye PHBS, dan kegiatan masyarakat.

    6. Siapa opinion leader yang dapat dilibatkan?
    RT/RW, kader kesehatan, tokoh agama, dan tokoh masyarakat.

    Kasus 2 – DBD

    1. Apa masalah utama?
    Masih banyak tempat berkembang biaknya nyamuk dan PSN belum dilakukan secara rutin.

    2. Apakah masalah utamanya kurang pengetahuan?
    Tidak sepenuhnya, karena perilaku pencegahan masih rendah.

    3. Mengapa fogging belum menyelesaikan masalah?
    Karena fogging hanya membunuh nyamuk dewasa, bukan jentiknya.

    4. Apa modal sosial yang tersedia?
    Gotong royong, kerja bakti, dan peran kader kesehatan.

    5. Bagaimana mengubah kerja bakti menjadi kegiatan PSN?
    Dengan memasukkan pemeriksaan jentik dan pembersihan lingkungan secara rutin.

    6. Siapa stakeholder utama?
    Masyarakat, RT/RW, kader, Puskesmas, dan pemerintah setempat.

    7. Apa indikator keberhasilan program?
    Menurunnya jumlah jentik, meningkatnya PSN, dan berkurangnya kasus DBD.

    Kasus 3 – Imunisasi

    1. Apa masalah perilaku?
    Orang tua menunda atau tidak melengkapi imunisasi anak.

    2. Apa masalah sosial?
    Pengaruh keluarga, lingkungan, dan media sosial.

    3. Apa masalah budaya?
    Kepercayaan bahwa anak harus lebih besar atau lebih kuat sebelum imunisasi.

    4. Apa masalah komunikasi?
    Kurangnya informasi yang jelas tentang manfaat imunisasi dan KIPI.

    **5. Apakah masalah tersebut semata-mata anti-imunisasi?**
    Tidak, sebagian besar karena rasa takut dan kurangnya pemahaman.

    6. Bagaimana melakukan komunikasi yang tidak menghakimi?**
    Mendengarkan kekhawatiran, lalu memberikan penjelasan dengan sopan dan berdasarkan fakta.

    7. Siapa yang harus menjadi komunikator?**
    Bidan, dokter, kader kesehatan, dan tokoh masyarakat.

    **8. Media apa yang tepat?**
    WhatsApp, poster, leaflet, dan penyuluhan Posyandu.

    9. Bagaimana melakukan follow-up anak yang belum lengkap imunisasinya?
    Melalui pengingat jadwal, pendataan, dan kunjungan rumah oleh kader.

    Pertanyaan HOTS

    1. Mengapa masyarakat yang mengetahui bahaya DBD tetap tidak melakukan PSN?
    Karena perilaku dipengaruhi kebiasaan, motivasi, dan lingkungan sosial.

    2. Mengapa cakupan imunisasi dapat berbeda antara wilayah?
    Karena perbedaan akses layanan, pendidikan, ekonomi, dan kepercayaan masyarakat.

    3. Bagaimana keluarga memengaruhi keputusan imunisasi?
    Keluarga dapat mendukung atau menghambat keputusan orang tua untuk imunisasi.

    4. Bagaimana WhatsApp dapat menjadi media pemberdayaan sekaligus sumber misinformasi?
    Karena dapat menyebarkan informasi kesehatan dengan cepat, tetapi juga informasi yang belum tentu benar.

    5. Apakah budaya harus diubah atau justru dimanfaatkan?**
    Budaya yang positif dapat dimanfaatkan untuk mendukung program kesehatan.

    6. Bagaimana membedakan nilai budaya dengan misinformasi?
    Nilai budaya berasal dari tradisi masyarakat, sedangkan misinformasi tidak sesuai dengan bukti ilmiah.

    7. Mengapa promosi kesehatan tidak cukup menggunakan metode ceramah?
    Karena perubahan perilaku membutuhkan partisipasi dan praktik langsung.

    8. Bagaimana cara melibatkan tokoh agama tanpa menghilangkan dasar ilmiah?
    Dengan bekerja sama menyampaikan pesan kesehatan yang berbasis bukti.

    9. Mengapa gotong royong dapat menjadi strategi promosi kesehatan?
    Karena dapat meningkatkan partisipasi dan kepedulian masyarakat.

    10. Bagaimana mengukur perubahan perilaku secara objektif?
    Melalui observasi, survei, dan pengukuran indikator kesehatan sebelum dan sesudah program.

    BalasHapus
  58. BAGIAN 1
    1. Mengapa pengetahuan tinggi tetapi perilaku belum optimal?
    Karena pengetahuan saja belum tentu mengubah perilaku. Kebiasaan, kenyamanan, lingkungan, contoh dari keluarga, serta kurangnya pengawasan dapat membuat seseorang tetap melakukan kebiasaan lama meskipun sudah mengetahui perilaku yang benar.

    2. Apa faktor sosialnya?

    Kebiasaan keluarga yang sudah berlangsung lama.
    Pengaruh orang tua terhadap anak.
    Kurangnya dorongan atau pengawasan dari lingkungan.
    Merokok di dalam rumah dianggap sebagai hal yang biasa.
    Perilaku sehat belum menjadi norma bersama.

    3. Apa faktor budayanya?

    Kebiasaan yang diwariskan dari generasi sebelumnya.
    Anggapan bahwa merokok di rumah merupakan hal yang wajar.
    Kebiasaan terburu-buru sehingga anak tidak mencuci tangan sebelum makan.
    Perilaku sehat belum menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari.

    4. Apakah perilaku merokok hanya masalah pengetahuan?
    Tidak. Merokok juga dipengaruhi oleh kebiasaan, lingkungan sosial, penerimaan masyarakat, ketergantungan nikotin, serta norma yang berkembang di keluarga dan lingkungan.

    5. Apa yang dapat menjadi entry point intervensi?

    Membiasakan CTPS melalui fasilitas dan pengingat di tempat yang mudah terlihat.
    Edukasi yang disertai praktik langsung.
    Membentuk kebiasaan PSN secara rutin.
    Membuat aturan rumah bebas asap rokok.
    Melibatkan keluarga, kader, dan tokoh masyarakat.

    6. Siapa opinion leader yang dapat dilibatkan?

    Kepala desa/lurah.
    Ketua RT/RW.
    Kader kesehatan.
    Bidan atau petugas Puskesmas.
    Tokoh agama.
    Tokoh masyarakat.
    Guru dan orang tua.

    BalasHapus
  59. Kasus 1
    1. Karena pengetahuan tidak selalu langsung menjadi perilaku. Kebiasaan, keluarga, lingkungan, dan norma sosial juga memengaruhi.
    2. Keluarga, teman, kelompok masyarakat, kader, RT/RW, dan tokoh masyarakat.
    3. Kebiasaan dan norma yang sudah dianggap biasa, seperti merokok di ruang tamu.
    4. Tidak. Merokok juga dipengaruhi kebiasaan, lingkungan, keluarga, dan norma sosial.
    5. Pembiasaan perilaku sehat dan penyediaan fasilitas pendukung, seperti sarana CTPS dan kebiasaan tidak merokok di rumah.
    6. Kader, RT/RW, tokoh masyarakat, tokoh agama, dan keluarga.

    Kasus 2
    1. PSN belum menjadi kebiasaan rutin sehingga masih banyak rumah yang ditemukan jentik.
    2. Tidak. Masalahnya juga berkaitan dengan kebiasaan, perilaku, dan anggapan bahwa fogging sudah cukup.
    3. Karena fogging tidak menghilangkan tempat berkembang biaknya jentik. PSN tetap diperlukan.
    4. Gotong royong warga.
    5. Kerja bakti diarahkan untuk menguras, menutup, mengelola tempat penampungan air, dan memeriksa jentik.
    6. Masyarakat, RT/RW, kader/jumantik, puskesmas, kelurahan, dan pemerintah.
    7. Rumah positif jentik menurun, PSN rutin meningkat, tempat perkembangbiakan nyamuk berkurang, dan kasus DBD menurun.

    Kasus 3
    1. Orang tua menunda atau tidak melanjutkan imunisasi karena takut KIPI, lupa jadwal, atau terpengaruh informasi yang keliru.
    2. Pengaruh keluarga, kader, kelompok masyarakat, dan media sosial.
    3. Kepercayaan dan kebiasaan keluarga yang memengaruhi keputusan imunisasi.
    4. Kekhawatiran orang tua belum terjawab dengan baik dan terdapat informasi keliru dari media sosial.
    5. Tidak. Bisa disebabkan rasa takut, pengaruh keluarga, pengalaman KIPI, lupa jadwal, akses, atau informasi yang keliru.
    6. Dengarkan kekhawatiran, pahami alasannya, lalu jelaskan fakta dengan bahasa sederhana tanpa menyalahkan.
    7. Bidan atau tenaga kesehatan, didukung kader dan tokoh masyarakat.
    8. Konseling langsung dan WhatsApp.
    9. Mendata anak, menghubungi orang tua, mengingatkan jadwal, memberikan konseling, dan mengarahkan ke fasilitas kesehatan.

    Soal HOTS
    1. Karena pengetahuan saja tidak cukup; kebiasaan, lingkungan, dan dukungan sosial juga memengaruhi perilaku.
    2. Karena setiap wilayah memiliki perbedaan akses layanan, kondisi sosial, budaya, dan informasi.
    3. Keluarga dapat menjadi pendukung atau penghambat melalui nasihat, pengalaman, dan kepercayaan.
    4. WhatsApp dapat digunakan untuk edukasi dan pengingat, tetapi juga dapat menyebarkan informasi yang tidak benar.
    5. Budaya positif sebaiknya dimanfaatkan, seperti gotong royong untuk kegiatan PSN.
    6. Nilai budaya merupakan kebiasaan atau kepercayaan masyarakat, sedangkan misinformasi adalah informasi yang tidak sesuai fakta.
    7. Karena perubahan perilaku membutuhkan pembiasaan, pemberdayaan, dukungan sosial, dan lingkungan yang mendukung.
    8. Tokoh agama membantu menyampaikan pesan, sedangkan informasi kesehatan tetap berdasarkan bukti ilmiah.
    9. Karena gotong royong merupakan modal sosial yang dapat diarahkan untuk kegiatan kesehatan seperti PSN.
    10. Dengan melihat indikator yang dapat diukur, seperti peningkatan PSN, penurunan rumah positif jentik, dan peningkatan imunisasi lengkap.


    BalasHapus
  60. BAGIAN II
    1. Masalah Utama
    Rendahnya perilaku Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) secara mandiri dan rutin di tingkat rumah tangga. Warga mengalami ketergantungan pada fogging dan menganggapnya sebagai satu-satunya bentuk pencegahan, padahal tempat perindukan nyamuk masih sangat tinggi (54 dari 200 rumah positif jentik).
    2. Apakah Masalah Utamanya Kurang Pengetahuan?
    Bukan kurang pengetahuan, melainkan masalah perilaku dan miskonsepsi. Warga mau ikut kerja bakti dan tahu DBD berbahaya, tetapi punya anggapan keliru bahwa fogging sudah cukup untuk mencegah DBD sehingga PSN mingguan belum menjadi kebiasaan.
    3. Mengapa Fogging Belum Menyelesaikan Masalah?
    - Fogging hanya membunuh nyamuk dewasa, tidak membunuh jentik maupun telur nyamuk.
    - Jika wadah air tergenang (ember terbuka, barang bekas) tidak dibersihkan lewat PSN, telur/jentik akan terus menetas menjadi nyamuk baru dalam hitungan hari.
    - Tanpa PSN rutin, siklus penularan akan terus berulang.
    4. Modal Sosial yang Tersedia
    - Partisipasi gotong royong tinggi: Warga responsif jika ada pengumuman kerja bakti.
    - Kepemimpinan lokal aktif: Ketua RT memahami kondisi warga dan siap menggerakkan massa.
    - Kelembagaan warga: Adanya wadah RT/RW dan potensi kader komunitas (PKK/Jumantik).
    5. Cara Mengubah Kerja Bakti Menjadi Kegiatan PSN
    - Shift Fokus: Alihkan kerja bakti dari sekadar membersihkan lingkungan umum ke gerakan "PSN Serentak Mandiri" di dalam dan sekitar rumah masing-masing.
    - Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik (G1R1J): Edukasi tiap keluarga agar punya satu penanggung jawab pemantau jentik di rumahnya.
    - Jadwal Rutin: Buat kesepakatan gerakan "10 Menit PSN" setiap minggu (misal Jumat/Minggu pagi) serentak se-RW 03.
    - Edukasi Praktis: Jelaskan beda fungsi fogging vs PSN agar warga tidak salah paham lagi.
    6. Stakeholder Utama
    - Fasilitator/Edukator: Puskesmas & Tenaga Promosi Kesehatan (Promkes).
    - Tokoh Lokal/Penentu Kebijakan: Lurah Harapan Jaya, Ketua RW 03, dan Ketua RT.
    - Penggerak Lapangan: Kader PKK, Kader Posyandu, dan Kader Jumantik.
    - Target Sasaran: Seluruh kepala keluarga & warga di RW 03.
    7. Indikator Keberhasilan Program
    - Proses/Perilaku:
    - Kenaikan Angka Bebas Jentik (ABJ) di RW 03 mencapai standar nasional (\ge 95\%).
    - Terbentuknya kebiasaan pemantauan jentik mingguan secara mandiri oleh warga.
    - Berkurangnya jumlah rumah yang memiliki ember terbuka/barang bekas menampung air.
    - Hasil (Outcome):
    - Penurunan jumlah kasus DBD di wilayah RW 03.

    BalasHapus
  61. Bagian I
    1. Karena pengetahuan saja belum cukup untuk mengubah perilaku. Terlihat 91% mengetahui pentingnya CTPS, tetapi hanya 57% yang melakukan CTPS sebelum makan. Dari wawancara, hambatannya adalah kebiasaan dan keterbatasan waktu, seperti anak yang terburu-buru sekolah sehingga langsung makan.
    Selain itu, kepemilikan fasilitas dan sabun juga belum 100%, sehingga pengetahuan belum didukung kondisi yang memudahkan perilaku.

    2. Kebiasaan keluarga di rumah.
    Pengaruh orang tua terhadap perilaku anak.
    Kebiasaan teman atau lingkungan sekitar.
    Norma sosial yang membuat perilaku tertentu dianggap biasa.
    Kurangnya dukungan atau pengawasan untuk membentuk kebiasaan sehat.

    3. Pada kasus merokok, terdapat kebiasaan yang sudah berlangsung lama. Pernyataan “sudah biasa dari dulu” menunjukkan bahwa merokok di ruang tamu sudah dianggap sebagai hal yang normal dalam keluarga/lingkungan.
    Jadi, budaya atau kebiasaan yang sudah mengakar dapat membuat seseorang tetap melakukan perilaku tersebut meskipun mengetahui risikonya.

    4. Tidak. Merokok bukan hanya masalah pengetahuan, tetapi juga dipengaruhi oleh:
    kebiasaan dan ketergantungan nikotin,
    lingkungan sosial,
    norma keluarga/masyarakat,
    sikap terhadap rokok,
    pengaruh teman,
    serta kemudahan mendapatkan rokok.
    Dalam kasus ini, masalah utamanya juga terlihat dari normalisasi merokok di dalam rumah.

    5. Entry point yang paling jelas adalah mengubah kebiasaan dan norma di tingkat keluarga.
    Contohnya:
    membiasakan CTPS sebelum makan melalui rutinitas keluarga;
    memastikan sabun selalu tersedia;
    membuat kesepakatan rumah bebas asap rokok;
    memberikan edukasi yang disertai praktik, bukan hanya penyampaian informasi;
    melibatkan keluarga dalam pemantauan kebiasaan.
    Jadi, intervensinya tidak cukup hanya “memberikan pengetahuan”, tetapi harus membuat perilaku sehat menjadi mudah, terbiasa, dan didukung lingkungan.

    6. Yang bisa dilibatkan antara lain:
    Ketua RT/RW → menggerakkan masyarakat dan membuat kesepakatan lingkungan.
    Kader kesehatan → memberikan edukasi dan memantau perubahan perilaku.
    Tokoh agama → menyampaikan pesan kesehatan melalui kegiatan keagamaan.
    Tokoh masyarakat → menjadi contoh dan mendukung norma rumah/lingkungan sehat.
    Puskesmas/tenaga promkes → memberikan edukasi dan pendampingan.
    Orang tua → terutama untuk membentuk kebiasaan CTPS pada anak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bagian II
      1. Masalah utamanya adalah PSN belum menjadi kebiasaan rutin masyarakat, sehingga tempat berkembang biak nyamuk masih ditemukan.
      Buktinya:
      • 54 dari 200 rumah positif jentik.
      • 31 rumah memiliki ember terbuka.
      • 22 rumah memiliki barang bekas yang menampung air.
      • 47 rumah tidak melakukan pemeriksaan jentik secara rutin.
      • RW 03 memiliki kasus DBD paling banyak, yaitu 15 kasus.
      Jadi, masalahnya bukan sekadar belum dilakukan fogging, tetapi pengendalian tempat berkembang biak nyamuk belum konsisten.

      2. Tidak hanya pengetahuan. Dari kasus terlihat masyarakat sudah mengetahui bahwa fogging merupakan upaya pencegahan, tetapi pemahaman tersebut belum diikuti dengan PSN rutin.
      Hambatannya lebih berkaitan dengan kebiasaan, konsistensi, lingkungan, dan partisipasi masyarakat.
      3. Karena fogging terutama digunakan untuk mengendalikan nyamuk dewasa, sedangkan tempat berkembang biak seperti ember terbuka dan barang bekas yang menampung air masih ada.

      Kalau sumber perkembangbiakan nyamuk tidak dikendalikan, populasi nyamuk dapat muncul kembali. Jadi, fogging tidak dapat menggantikan PSN yang dilakukan secara rutin.

      4. Modal sosial yang paling jelas adalah budaya gotong royong.
      Ketua RT mengatakan warga biasanya hadir ketika kerja bakti diumumkan. Artinya, masyarakat sebenarnya sudah memiliki kemauan untuk berkegiatan bersama. Modal ini dapat digunakan untuk mengembangkan kegiatan kerja bakti menjadi PSN rutin.

      5. Konsepnya bisa dibuat:
      Kerja Bakti → PSN → Pemeriksaan Jentik
      Misalnya setiap minggu: warga membersihkan lingkungan; menguras dan menutup tempat penampungan air; membuang atau mengelola barang bekas yang dapat menampung air; melakukan pemeriksaan jentik di rumah; kader mencatat rumah yang sudah diperiksa.

      6. Puskesmas: Surveilans DBD, pemeriksaan jentik, edukasi, dan respons kasus.
      Kelurahan: Koordinasi dan dukungan program.
      RT/RW: Menggerakkan warga dan mengatur kegiatan PSN.
      Kader kesehatan/jumantik: Memantau jentik dan mengingatkan warga.
      Masyarakat: Melakukan PSN di rumah dan lingkungan.
      Sekolah: Melakukan edukasi serta pemeriksaan tempat yang berpotensi menjadi sarang nyamuk.
      Dinas Kesehatan: Dukungan kebijakan, sumber daya, dan pengendalian DBD.

      7. Contohnya:
      Penurunan jumlah rumah positif jentik.
      • Peningkatan jumlah rumah yang melakukan pemeriksaan jentik rutin.
      • Berkurangnya tempat penampungan air terbuka.
      • Berkurangnya barang bekas yang dapat menampung air.
      • Meningkatnya partisipasi warga dalam PSN mingguan.
      • Penurunan kasus DBD dari waktu ke waktu.

      Hapus
    2. Bagian III
      1. Masalah perilakunya adalah sebagian orang tua belum melanjutkan imunisasi anak sesuai jadwal. Hal ini terlihat dari 18% imunisasi belum lengkap dan 4% tidak pernah imunisasi.
      Penyebabnya antara lain takut KIPI (37%), lupa jadwal (22%), kesulitan akses (15%), dan pengaruh keluarga (18%).

      2. Masalah sosialnya adalah pengaruh keluarga dan lingkungan pergaulan, terutama ketika informasi yang keliru menyebar melalui grup WhatsApp. Keluarga dapat memengaruhi keputusan orang tua untuk melanjutkan atau menghentikan imunisasi.

      3. Ada keyakinan atau pemahaman dalam keluarga bahwa demam setelah imunisasi berarti imunisasi harus dihentikan. Pernyataan nenek, “jangan diteruskan dulu,” menunjukkan adanya pengaruh kepercayaan keluarga terhadap keputusan kesehatan.

      4. Masalah komunikasinya adalah informasi kesehatan yang diterima orang tua tidak selalu berasal dari sumber yang kompeten. Sebanyak 61% mendapatkan informasi dari media sosial, sementara pesan yang beredar belum tentu benar.
      Selain itu, kader merasa penjelasannya belum cukup meyakinkan, sedangkan orang tua lebih percaya ketika bidan menjelaskan. Artinya, perlu komunikator yang dipercaya masyarakat.

      5. Tidak. Tidak semua orang tua yang menunda atau belum melengkapi imunisasi berarti menolak imunisasi.
      Data menunjukkan ada beberapa hambatan:
      takut KIPI; lupa jadwal; kesulitan akses; pengaruh keluarga; informasi yang keliru dari media sosial.

      6. Gunakan prinsip:
      LISTEN → UNDERSTAND → EXPLAIN → SUPPORT → FOLLOW UP
      Contohnya:
      • Listen: dengarkan pengalaman dan kekhawatiran ibu.
      • Understand: pahami mengapa ibu takut setelah anak demam.
      • Explain: jelaskan bahwa reaksi setelah imunisasi dapat terjadi dan apa yang perlu dilakukan.
      • Support: bantu ibu menentukan langkah selanjutnya dan berikan sumber informasi yang dapat dipercaya.
      • Follow up: pastikan jadwal imunisasi berikutnya dan lakukan pengingat.

      7. Bidan atau tenaga kesehatan Puskesmas dapat menjadi komunikator utama karena dalam kasus ini orang tua lebih percaya ketika bidan menjelaskan.
      Kader tetap penting sebagai penghubung, misalnya mengingatkan jadwal, mendata anak yang belum lengkap, dan mengarahkan orang tua kepada tenaga kesehatan ketika memiliki pertanyaan.

      8. Karena 61% mendapatkan informasi dari media sosial dan terdapat grup WhatsApp ibu-ibu, maka WhatsApp dapat dimanfaatkan sebagai media komunikasi.
      Misalnya:
      • pesan singkat dari bidan/Puskesmas
      • poster atau infografis tentang imunisasi
      jadwal imunisasi
      • informasi mengenai reaksi setelah imunisasi dan kapan perlu mencari pertolongan;
      pengingat jadwal melalui WhatsApp.

      9. Bisa dibuat sistem sederhana:
      Pendataan → Identifikasi anak → Hubungi orang tua → Konseling → Tentukan jadwal → Pengingat → Cek kembali
      Kader dapat membantu mendata anak yang belum lengkap, kemudian menghubungi orang tua dan mengarahkan mereka ke bidan/Puskesmas. Setelah itu, jadwal berikutnya dicatat dan orang tua diberikan reminder melalui WhatsApp atau kunjungan kader.

      Hapus
    3. Pertanyaan HOTS
      1. Karena pengetahuan tidak otomatis menjadi perilaku. PSN dipengaruhi kebiasaan, rasa malas, kesibukan, dukungan lingkungan, serta norma sosial. Jika masyarakat merasa fogging sudah cukup atau tidak melihat dampak langsung dari jentik, motivasi melakukan PSN bisa rendah.

      2. Karena setiap wilayah memiliki kondisi yang berbeda, seperti akses ke fasilitas kesehatan, ketersediaan tenaga kesehatan, kondisi sosial ekonomi, tingkat pendidikan, kepercayaan masyarakat, informasi yang diterima, dan dukungan keluarga.

      3. Keluarga dapat menjadi sumber dukungan sekaligus sumber keraguan. Orang tua mungkin ingin melanjutkan imunisasi, tetapi pendapat kakek, nenek, pasangan, atau anggota keluarga lain dapat memengaruhi keputusan. Karena itu, edukasi sebaiknya tidak hanya ditujukan kepada ibu, tetapi juga keluarga yang berpengaruh dalam pengambilan keputusan.

      4. WhatsApp dapat menjadi media pemberdayaan karena memungkinkan informasi kesehatan, pengingat jadwal, diskusi, dan koordinasi kegiatan tersebar dengan cepat.
      Namun, WhatsApp juga dapat menjadi sumber misinformasi karena pesan dapat diteruskan tanpa memeriksa kebenarannya. Solusinya bukan menghindari WhatsApp, tetapi mengisinya dengan informasi yang benar dari tenaga kesehatan dan sumber terpercaya.

      5. Tidak semua budaya harus diubah. Budaya yang mendukung kesehatan sebaiknya dimanfaatkan.
      Contohnya, gotong royong merupakan kebiasaan positif yang dapat digunakan sebagai dasar kegiatan PSN. Yang perlu diubah adalah kebiasaan atau norma yang justru meningkatkan risiko kesehatan.

      6. Nilai budaya merupakan nilai, kebiasaan, atau praktik yang hidup dalam suatu kelompok masyarakat, sedangkan misinformasi adalah informasi yang tidak sesuai dengan fakta, baik disebarkan sengaja maupun tidak sengaja.
      Caranya dengan melihat bukti ilmiah dan sumber informasi. Budaya dapat dihargai sebagai konteks sosial, tetapi klaim tentang kesehatan tetap perlu dibandingkan dengan bukti medis atau ilmiah.

      7. Karena ceramah terutama meningkatkan pengetahuan, sedangkan perubahan perilaku membutuhkan lebih dari itu.
      Promosi kesehatan juga perlu memperhatikan: keterampilan; lingkungan; fasilitas; dukungan sosial; motivasi; kesempatan untuk melakukan perilaku sehat.

      8. Tokoh agama dapat digunakan sebagai penguat pesan dan penggerak masyarakat, bukan sebagai pengganti tenaga kesehatan.
      Misalnya, tenaga kesehatan memberikan fakta ilmiah mengenai imunisasi, kemudian tokoh agama membantu menyampaikan pentingnya menjaga kesehatan dan tanggung jawab terhadap keluarga dengan bahasa yang sesuai dengan nilai masyarakat.
      Dasar kesehatan tetap berasal dari bukti ilmiah, sedangkan tokoh agama membantu memperkuat penerimaan sosialnya.

      9. Karena gotong royong sudah menjadi modal sosial yang membuat masyarakat terbiasa bekerja bersama.
      Daripada menciptakan kegiatan baru, promosi kesehatan dapat memasukkan PSN ke dalam kegiatan gotong royong. Dengan begitu, kegiatan kesehatan terasa lebih dekat dengan kebiasaan masyarakat dan berpotensi lebih mudah dipertahankan.

      10. Jangan hanya bertanya “Apakah sudah melakukan?”, tetapi gunakan indikator yang dapat diamati dan dibandingkan sebelum-sesudah.
      Contohnya:
      jumlah rumah yang positif jentik sebelum dan sesudah intervensi;
      persentase rumah yang melakukan PSN rutin; jumlah tempat penampungan air terbuka; cakupan imunisasi lengkap; ketepatan kehadiran sesuai jadwal imunisasi; hasil observasi atau checklist perilaku.

      Hapus
  62. Bagian 1
    1.Karena tahu aja gak cukup buat ngubah kebiasaan. Banyak orang tahu mana yang baik (seperti CTPS 91%), tapi begitu
    2.​Kebiasaan lingkungan (norma sosial): Karena orang lain di sekitarnya juga merokok di dalam rumah dan gak ada yang protes, perilaku itu dianggap lumrah.
    ​3 Budaya "dari dulu sudah begitu": Kebiasaan merokok di ruang tamu sudah jadi tradisi atau hal yang dianggap biasa sejak lama.
    ​4.Bukan. Warga sebenarnya tahu dampak buruknya, tapi ada faktor lain yang lebih berpengaruh:
    ​Kecanduan fisik (nikotin).
    ​Faktor psikologis & kenyamanan (merokok sebagai sarana santai).
    ​Faktor sosial (merokok di ruang tamu dianggap bagian dari keramahan menyambut tamu/ngobrol).
    5.Fokus ke anak-anak sekolah: Bikin gerakan cuci tangan yang seru di sekolah sebelum jam makan.
    ​6.Kepala Desa & Ketua RT/RW: Buat memberi imbauan resmi dan teladan.
    ​Kader PKK & Ibu-Ibu Dasawisma: Sangat efektif buat pendekatan ke keluarga dan edukasi masalah anak/kebersihan dapur.
    ​​Bagian 2
    1. Masalah utamanya adalah salah paham soal fogging. Warga mikir kalau sudah fogging, rumah otomatis aman dari DBD.
    2.​•Warga sebenarnya tahu ada kerja bakti dan DBD itu bahaya​
    •Masalahnya, warga merasa fogging aja udah cukup buat cegah DBD
    •PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk) mingguan belum jadi rutinitas atau kebiasaan mandiri di rumah masing-masing
    3.Karena fogging cuma membunuh nyamuk dewasa, sementara jentik nyamuk di wadah air bakal tetap hidup dan menetas jadi nyamuk baru dalam hitungan hari. Kalau tempat bertelurnya (seperti 54 rumah yang positif jentik) gak dibersihkan, kasus DBD bakal ada terus.​
    4.•​Semangat gotong royong warga tinggi: Warga mau datang dan berpartisipasi kalau ada pengumuman kerja bakti

    ​Gunakan sistem Jumantik mandiri: Bikin tantangan antar-RT/RW atau berikan apresiasi buat rumah yang konsisten bebas jentik.
    5.​Ubah fokus kerja bakti: Jangan cuma nyapu jalanan atau selokan, tapi fokus ke cek jentik nyamuk dan buang genangan air di rumah masing-masing.
    ​Bikin gerakan "Jumat/Minggu Bersih PSN": Cukup 10 menit seminggu sekali tiap warga wajib cek wadah penampungan air di rumah sendiri.
    ​5.Gunakan sistem Jumantik mandiri: Bikin tantangan antar-RT/RW atau berikan apresiasi buat rumah yang konsisten bebas jentik.​
    •Pihak Puskesmas & Petugas Kesehatan: Buat pendampingan teknis dan edukasi.
    •​Ketua RT/RW & Pengurus Lingkungan: Buat menggerakkan warga dan mengoordinasikan jadwal.​
    •Kader Jumantik & PKK: Buat rajin keliling ngingetin dan ngecek rumah warga.
    6.Kasus DBD turun: Jumlah penderita DBD di RW 03 dan RW lainnya menurun signifikan.
    7.Rutinitas PSN berjalan: Warga terbiasa kuras dan tutup tempat penampungan air seminggu sekali tanpa harus ditagih.
    Bagian 3
    sehari-hari:
    ​1. Masalah perilaku: Orang tua milih berhenti atau nunda imunisasi pas anak demam, plus sering lupa jadwal.
    ​2.Masalah sosial: Masih nurut sama omongan keluarga (seperti nenek/ibu) dan gampang termakan kabar burung di grup WhatsApp.
    ​3.Masalah budaya: Ada kepercayaan salah kalau anak mending ditunggu besar dulu baru diimunisasi biar lebih kuat.
    ​4.Masalah komunikasi: Banyak informasi keliru yang menyebar di medsos/WA, dan penjelasan kader kurang dipercaya dibanding bidan.
    ​5.Apakah semata-mata "anti-imunisasi"? Bukan. Kebanyakan bukan karena menolak total, tapi karena takut efek samping (demam), bingung, dan dapat info yang salah.
    6.​Cara komunikasi tidak menghakimi: Dengarkan dulu kekhawatiran ibunya, wajarkan rasa takutnya, baru jelaskan pelan-pelan kalau demam itu reaksi wajar dan aman.
    ​7.Siapa komunikatornya? Bidan atau tenaga kesehatan (karena lebih dipercaya), dibantu kader yang dekat sama warga.
    ​8.Edukasi langsung tatap muka (pas posyandu/kunjungan rumah) dan bagikan flyer/pesan singkat yang jelas di grup WA.
    ​9Catat data anak yang belum lengkap, lakukan kunjungan ke rumahnya, lalu dampingi dan bantu aturkan jadwal ulang.

    BalasHapus
  63. BAGIAN 1
    1. Karena pengetahuan tidak otomatis menghasilkan perubahan perilaku. Dari survei terlihat 91% mengetahui pentingnya CTPS, tetapi hanya 57% yang melakukannya sebelum makan.
    2. Kebiasaan anggota keluarga memengaruhi perilaku anak. Jika orang tua tidak melakukan CTPS, anak cenderung tidak menjadikannya kebiasaan.
    3. Faktor budaya terlihat dari kebiasaan yang dianggap normal dan dilakukan turun-temurun. Misalnya, seseorang mungkin sudah terbiasa mencuci tangan dengan air, tetapi belum terbiasa menggunakan sabun pada waktu-waktu penting.
    4. Tidak. Perilaku merokok bukan hanya masalah pengetahuan, tetapi juga dipengaruhi oleh kebiasaan dan ketergantungan dari orang tersebut
    5. Seperti memastikan fasilitas cuci tangan tersedia, menyediakan sabun dan membuat pengingat di tempat strategis.
    6. ketua Rt/Rw, Kepala desa/lurah, Kader Posyandu/kader kesehatan, Tokoh agama, Guru/kepala sekolah, Tokoh Masyarakat
    BAGIAN 2
    1. Karena pengetahuan tidak otomatis menghasilkan perubahan perilaku. Dari survei terlihat 91% mengetahui pentingnya CTPS, tetapi hanya 57% yang melakukannya sebelum makan.
    2. Kebiasaan anggota keluarga memengaruhi perilaku anak. Jika orang tua tidak melakukan CTPS, anak cenderung tidak menjadikannya kebiasaan.
    3. Faktor budaya terlihat dari kebiasaan yang dianggap normal dan dilakukan turun-temurun. Misalnya, seseorang mungkin sudah terbiasa mencuci tangan dengan air, tetapi belum terbiasa menggunakan sabun pada waktu-waktu penting.
    4. Tidak. Perilaku merokok bukan hanya masalah pengetahuan, tetapi juga dipengaruhi oleh kebiasaan dan ketergantungan dari orang tersebut
    5. Seperti memastikan fasilitas cuci tangan tersedia, menyediakan sabun dan membuat pengingat di tempat strategis.
    6. ketua Rt/Rw, Kepala desa/lurah, Kader Posyandu/kader kesehatan, Tokoh agama, Guru/kepala sekolah, Tokoh Masyarakat
    BAGIAN 3
    1. Masalah perilakunya adalah cakupan imunisasi belum lengkap
    2. Masalah sosial terlihat dari pengaruh keluarga dan lingkungan informasi
    3. Ada kepercayaan keluarga bahwa demam setelah imunisasi merupakan tanda bahwa imunisasi tidak cocok atau berbahaya. Selain itu, pendapat anggota keluarga yang lebih tua dapat memiliki pengaruh kuat terhadap keputusan orang tua
    4. Masalah komunikasinya adalah informasi yang diterima orang tua berasal dari banyak sumber dengan tingkat keakuratan yang berbeda. Data menunjukkan 61% mendapatkan informasi dari media sosial, sementara kader mengatakan orang tua lebih percaya ketika penjelasan diberikan oleh bidan.
    5. Tidak, Orang tua yang ragu atau menunda imunisasi belum tentu merupakan kelompok anti-imunisasi
    6. Mendengarkan, memahami, jelaskan, dukung,
    7. Orang tua perlu mendapatkan pertolongan medis segera apabila setelah imunisasi muncul kondisi yang mengkhawatirkan atau berat
    8. Dalam kasus ini, bidan menjadi komunikator utama, karena kader sendiri mengatakan bahwa ibu biasanya lebih percaya ketika mendapat penjelasan dari bidan
    9. Karena 61% orang tua mendapatkan informasi dari media sosial, media digital perlu dimanfaatkan, bukan hanya dianggap sebagai sumber masalah.
    PERTANYAAN HOST
    1. Dipengaruhi kebiasaan, fasilitas, motivasi, dan lingkungan.
    2. Perbedaan akses, fasilitas kesehatan, budaya, ekonomi, dan informasi.
    3. Keluarga dapat menjadi pendukung atau penghambat keputusan imunisasi.
    4. edukasi, pengingat, koordinasi.
    5. Manfaatkan budaya yang positif atau ubah atau modifikasi kebiasaan yang berisiko.
    6. Budaya = nilai/kebiasaan masyarakat.
    Misinformasi = informasi yang tidak benar/tidak berdasarkan bukti.
    7. Karena perilaku dipengaruhi pengetahuan, kebiasaan, fasilitas, dan lingkungan.
    8. Tokoh agama memperkuat pesan dan kepercayaan.
    9. Merupakan modal sosial yang sudah ada dan dapat diarahkan untuk kegiatan PSN dan menjaga lingkungan.
    10. Observasi langsung,
    Bandingkan data sebelum dan sesudah, Gunakan indikator seperti cakupan imunisasi, rumah positif jentik, dan keikutsertaan PSN.

    BalasHapus
  64. Jawaban Hots
    1.Kenapa yang tahu bahaya DBD tetap tidak PSN? Karena tahu belum tentu mau dan mampu. Ada rasa malas, merasa "bukan saya yang kena", sibuk, dan kebiasaan sekitar yang cuek. Banyak juga yang mengira fogging sudah cukup.
    2. Kenapa cakupan imunisasi beda antar wilayah? Kondisinya tidak sama, yaitu jarak dan akses ke faskes, ketersediaan vaksin, tingkat kepercayaan warga, pengaruh tokoh setempat, dan kualitas pencatatan datanya.
    3. Bagaimana keluarga memengaruhi keputusan imunisasi? Keputusan sering diambil bersama, bukan ibu sendiri. Kalau nenek atau suami bilang "jangan dulu", ibu biasanya ikut. Jadi keluarga perlu dilibatkan dalam edukasi.
    4. WhatsApp: pemberdayaan sekaligus sumber misinformasi? Positifnya, WA cepat, murah, bisa untuk pengingat jadwal dan diskusi kader-warga. Negatifnya, pesan bisa diteruskan tanpa dicek, sehingga hoaks cepat menyebar. Kuncinya ada admin yang aktif meluruskan.
    5. Budaya diubah atau dimanfaatkan? Sebaiknya dimanfaatkan dulu. Budaya yang baik, seperti gotong royong dan pengajian, dipakai sebagai wadah pesan kesehatan. Hanya budaya yang jelas merugikan kesehatan yang diubah pelan-pelan, dan bersama warga.
    6. Membedakan nilai budaya dan misinformasi? Nilai budaya berakar pada tradisi dan tidak bertentangan dengan bukti kesehatan. Misinformasi adalah klaim yang bisa diuji dan ternyata salah menurut bukti ilmiah. Cek sumbernya, apakah sesuai data dari Kemenkes atau WHO. Dengarkan dulu, jangan langsung menyalahkan.
    7. Kenapa ceramah saja tidak cukup? Ceramah searah, sehingga warga pasif dan mudah lupa. Perubahan perilaku butuh diskusi, contoh nyata, praktik, dukungan lingkungan, dan tindak lanjut.
    8. Melibatkan tokoh agama tanpa kehilangan dasar ilmiah? Beri tokoh agama data dan penjelasan dari tenaga kesehatan dulu, lalu bersama-sama sampaikan pesan yang selaras dengan nilai agama (misalnya menjaga kebersihan dan menjaga kesehatan sebagai amanah). Pastikan isi medisnya tetap sesuai bukti ilmiah.
    9. Kenapa gotong royong bisa jadi strategi promkes? Karena sudah ada, dipercaya warga, dan menggerakkan banyak orang sekaligus. Tinggal diarahkan ke kegiatan seperti PSN, kebersihan lingkungan, dan sweeping imunisasi. Ini juga membuat warga merasa program itu milik mereka, sehingga lebih berkelanjutan.
    10. Mengukur perubahan perilaku secara objektif? Pakai indikator yang bisa dihitung dan dibandingkan sebelum dan sesudah program:
    survei perilaku dengan kuesioner, ceklis, atau observasi langsung (misalnya cek jentik di rumah);
    angka nyata seperti ABJ, cakupan imunisasi, dan jumlah warga yang CTPS;
    data program seperti kehadiran dan catatan Puskesmas.

    BalasHapus
  65. Jawaban Alyssa Nindya Putri 1B Promkes

    Bagian 1
    1. Tahu saja tidak cukup. Sarana belum lengkap (sabun baru 61%), kebiasaan belum terbentuk, dan tidak ada yang mengingatkan.
    2. Faktor sosial: merokok di rumah dianggap biasa, tidak ada teguran dari lingkungan, anak meniru orang tua, dan kegiatan bersama warga belum rutin.
    3. Faktor budaya: kebiasaan turun-temurun, rokok dianggap simbol pergaulan laki-laki, sungkan menegur kepala keluarga, dan bahaya asap rokok dianggap kecil.
    4. Bukan. Merokok juga dipengaruhi kecanduan, kebiasaan, pergaulan, dan norma. Perlu perubahan norma dan aturan, misalnya rumah dan kawasan tanpa rokok.
    5. Ibu dan anak sekolah, kegiatan yang sudah ada (posyandu, PKK, pengajian, RT/RW), sabun dan tempat cuci tangan di dekat dapur, serta kesepakatan rumah bebas asap rokok yang diperkuat peraturan desa.
    6. Tokoh agama, kepala desa dan RT/RW, bidan dan petugas puskesmas, kader, guru, serta tokoh yang sudah berhenti merokok.

    Bagian 2
    1. Warga hanya mengandalkan fogging, padahal 54 dari 200 rumah masih ada jentik dan PSN belum rutin. Kasus terbanyak di RW 03 (15 kasus).
    2. Bukan. Warga salah paham bahwa fogging sudah cukup dan belum terbiasa PSN mingguan.
    3. Fogging hanya membunuh nyamuk dewasa, efeknya sementara, dan membuat warga merasa aman sehingga PSN diabaikan.
    4. Modal sosial: gotong royong warga, ketua RT yang peduli, dan dukungan kelurahan serta puskesmas.
    5. Dari kerja bakti ke PSN: jadwal tetap ("Jumat PSN"), kader jumantik di tiap RT, pengingat lewat WhatsApp dan pengumuman, serta lomba rumah bebas jentik.
    6. warga, ketua RT/RW, kader jumantik dan PKK, lurah, puskesmas, tokoh agama dan masyarakat.
    7. ABJ ≥95%, kasus DBD turun, lebih banyak rumah PSN mingguan, dan ember terbuka serta barang bekas berkurang.

    Bagian 3
    1. 22% anak belum lengkap imunisasi, dan orang tua menunda setelah anak demam.
    2. Nenek ikut menentukan keputusan, dan grup WhatsApp serta media sosial menyebarkan keraguan.
    3. Anak dianggap perlu menunggu "kuat", dan demam dianggap tanda tidak cocok.
    4. Orang tua belum paham demam ringan itu wajar, kader kurang dipercaya dibanding bidan, dan hoaks lebih cepat menyebar.
    5. Bukan. Ini keraguan (vaccine hesitancy), bukan penolakan.
    6. Komunikasi tanpa menghakimi: dengarkan kekhawatiran ibu, jelaskan sederhana dan jujur, lalu beri solusi.
    7. Bidan sebagai utama, dibantu kader dan tokoh masyarakat.
    8. konsultasi langsung di posyandu, grup WhatsApp resmi posyandu, dan poster sederhana.
    9. kunjungan rumah oleh kader dan bidan, cari tahu alasan tiap keluarga, dan kirim pengingat jadwal.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jawaban HOTS

      1. Tahu belum tentu jadi kebiasaan. Warga merasa fogging sudah cukup, menganggap risikonya kecil, dan tidak ada yang mengingatkan.
      2. Karena akses layanan, jumlah tenaga dan kader, pendidikan, budaya, pengaruh tokoh, dan paparan hoaks berbeda di tiap wilayah.
      3. Keputusan sering diambil bersama keluarga. Suami dan nenek bisa mendukung atau menunda imunisasi, jadi keluarga perlu dilibatkan dalam edukasi.
      4. WhatsApp cepat dan murah untuk pengingat jadwal serta tanya jawab dengan bidan, tetapi pesan berantai juga mudah menyebarkan hoaks. Solusinya, bidan atau kader ikut bergabung di grup untuk meluruskan informasi.
      5. Dimanfaatkan, seperti gotong royong dan peran tokoh. Yang diubah hanya kebiasaan yang merugikan kesehatan.
      6. Nilai budaya tidak bertentangan dengan bukti kesehatan. Misinformasi adalah klaim yang bertentangan dengan bukti ilmiah dan bisa membahayakan.
      7. Ceramah hanya satu arah, mudah dilupakan, dan tidak mengubah kebiasaan. Perlu diskusi, demonstrasi, dan pendampingan.
      8. Tenaga kesehatan menyiapkan fakta ilmiahnya, lalu tokoh agama menyampaikannya dengan nilai agama tanpa mengubah isinya.
      9. Gotong royong sudah menjadi nilai warga, membangun rasa memiliki, dan mendorong tekanan sosial yang positif untuk ikut serta.
      10. Gunakan observasi langsung (sabun dan air tersedia, rumah bebas jentik), data program (ABJ, cakupan imunisasi), dan survei sebelum-sesudah dengan indikator yang sama.

      Hapus
  66. BAGIAN 2
    1. Apa masalah utamanya?
    Masalah utamanya bukan hanya adanya kasus DBD, tetapi pencegahan lingkungan dan PSN belum dilakukan secara rutin. Hal ini terlihat dari masih banyaknya rumah positif jentik, ember terbuka, barang bekas yang menampung air, dan rumah yang tidak melakukan pemeriksaan jentik.

    2. Apakah masalah utamanya kurang pengetahuan?
    Tidak sepenuhnya. Masyarakat kemungkinan sudah mengetahui bahwa DBD berkaitan dengan nyamuk, tetapi pengetahuan belum berubah menjadi kebiasaan rutin. Ada kesenjangan antara mengetahui dan melakukan.

    3. Mengapa fogging belum menyelesaikan masalah?
    Fogging terutama bertujuan membunuh nyamuk dewasa. Jika tempat perkembangbiakan seperti genangan air dan wadah yang menjadi tempat jentik tidak dihilangkan, siklus nyamuk dapat terus berlangsung. Karena itu, fogging tidak menggantikan PSN 3M Plus dan pemeriksaan jentik secara rutin.

    4. Apa modal sosial yang tersedia?

    Warga mau hadir ketika kerja bakti diumumkan.
    Ketua RT memiliki kemampuan menggerakkan warga.
    Sudah ada pengalaman kerja bakti.
    Adanya struktur RT/RW yang dapat digunakan untuk koordinasi.

    5. Bagaimana mengubah kerja bakti menjadi kegiatan PSN?

    Kerja bakti tidak hanya membersihkan lingkungan, tetapi dibuat lebih terarah:
    Menentukan jadwal PSN rutin, misalnya setiap minggu.
    Membagi warga berdasarkan wilayah/rumah.
    Melakukan pemeriksaan tempat penampungan air.
    Menghilangkan atau menutup tempat yang berpotensi menjadi sarang nyamuk.
    Mencatat rumah yang ditemukan jentik.
    Melakukan evaluasi bersama RT/kader.

    6. Siapa stakeholder utama?

    Puskesmas.
    Kelurahan.
    Ketua RT/RW.
    Kader Jumantik.
    Masyarakat.
    Tokoh masyarakat.
    Sekolah dan kelompok masyarakat setempat.

    7. Apa indikator keberhasilan program?

    Jumlah rumah positif jentik menurun.
    Kepatuhan pemeriksaan jentik meningkat.
    Wadah air terbuka berkurang.
    PSN mingguan berjalan rutin.
    Kasus DBD menurun dalam periode pemantauan.
    Partisipasi warga dalam kegiatan PSN meningkat.

    BalasHapus
  67. BAGIAN 1 – PHBS
    1. Pengetahuan tinggi belum tentu membuat seseorang menerapkan PHBS karena dipengaruhi kebiasaan, sikap, lingkungan, keluarga, dan fasilitas.
    2. Faktor sosialnya yaitu keluarga, teman, kader, RT/RW, dan tokoh masyarakat.
    3. Faktor budaya berupa kebiasaan dan norma yang sudah dianggap biasa di masyarakat.
    4. Merokok tidak hanya karena kurang pengetahuan, tetapi juga dipengaruhi kebiasaan, lingkungan, teman, dan keluarga.
    5. Intervensi dapat dilakukan melalui edukasi, pembiasaan PHBS, penyediaan fasilitas, serta melibatkan keluarga dan masyarakat.
    6. Opinion leader yang dapat dilibatkan yaitu RT/RW, kader, tokoh masyarakat, tokoh agama, guru, dan tenaga kesehatan.

    BAGIAN 2 – DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD)
    1. Masalah utamanya adalah masih adanya tempat berkembang biaknya nyamuk dan PSN yang belum dilakukan secara rutin.
    2. DBD tidak hanya dipengaruhi pengetahuan, tetapi juga kebiasaan, kondisi lingkungan, dan partisipasi masyarakat.
    3. Fogging saja tidak cukup karena tidak menghilangkan jentik, sehingga PSN tetap perlu dilakukan secara rutin.
    4. Modal sosialnya yaitu gotong royong, kerja bakti, RT/RW, kader atau jumantik, keluarga, dan masyarakat.
    5. Kerja bakti dapat dijadikan kegiatan PSN dengan menguras dan menutup tempat air serta membersihkan barang bekas yang dapat menampung air.
    6. Stakeholder yang dilibatkan yaitu masyarakat, RT/RW, kader, Puskesmas, sekolah, kelurahan, dan Dinas Kesehatan.
    7. Keberhasilan dapat dilihat dari PSN yang rutin, berkurangnya jentik, dan meningkatnya partisipasi masyarakat.

    BAGIAN 3 – IMUNISASI
    1. Orang tua dapat menunda imunisasi karena takut KIPI, lupa jadwal, atau masih ragu terhadap manfaat imunisasi.
    2. Keputusan imunisasi dapat dipengaruhi oleh keluarga, teman, dan lingkungan sekitar.
    3. Faktor budaya dapat berupa kepercayaan atau kebiasaan keluarga yang memengaruhi keputusan imunisasi.
    4. Informasi yang salah dapat menimbulkan keraguan, sehingga tenaga kesehatan perlu memberikan informasi yang jelas dan tidak menghakimi.
    5. Keraguan terhadap imunisasi tidak selalu berarti anti-imunisasi karena bisa disebabkan rasa takut, kurang informasi, pengaruh keluarga, atau masalah akses.
    6. Komunikasi dilakukan dengan mendengarkan kekhawatiran orang tua, kemudian memberikan informasi yang benar dengan bahasa yang mudah dipahami.
    7. Komunikator yang dapat dilibatkan yaitu dokter, bidan, perawat, petugas Puskesmas, dan kader kesehatan.
    8. Media yang dapat digunakan yaitu konseling, poster, leaflet, WhatsApp, media sosial, dan kegiatan Posyandu.
    9. Follow-up dilakukan dengan pendataan, mengingatkan jadwal, memberikan konseling, dan memantau sampai imunisasi anak lengkap.

    BalasHapus
  68. Pertanyaan hots
    1. Rendahnya Perceived Susceptibility (Kerentanan Diri), Absensi Keterkaitan Langsung (Optimism Bias)
    2. Aksesibilitas & Struktur Geografis, Kepadatan Norma Sosial Lokal, Kualitas Pelayanan Interpersonal
    3. Struktur Pengambil Keputusan (Power Relation), Mekanisme Social Proof Internal, Dukungan Emosional & Praktis
    4. Sebagai Media Pemberdayaan, Sebagai Sumber Misinformasi
    5. Budaya harus dimanfaatkan, bukan diubah secara frontal. Mengubah budaya secara paksa akan memicu perlawanan (resistance). Pendekatan yang tepat adalah reorientasi budaya: menggunakan struktur, norma, dan nilai budaya yang sudah ada sebagai "wadah", lalu mengisinya dengan substansi/pesan kesehatan modern.
    6. Nilai budaya bersifat reflektif dan adaptif, sedangkan misinformasi berupa klaim sebab-akibat medis yang secara faktual dapat dibuktikan salah secara ilmiah.
    7. Sifat Pasif (One-Way Communication): Ceramah hanya menyasar ranah pengetahuan (knowledge) tanpa melatih keterampilan atau mengubah persepsi emosional. Tidak Mendorong Self-Efficacy: Ceramah memberitahu apa yang harus dilakukan, tetapi tidak memberikan pengalaman langsung (skill/practice) tentang bagaimana cara mengatasinya dalam situasi kehidupan nyata. Abaikan Pembentukan Norma: Perubahan perilaku membutuhkan ruang diskusi, negosiasi sosial, dan umpan balik yang hanya bisa didapatkan melalui diskusi kelompok terarah (FGD), simulasi, atau praktik langsung.
    8. Strategi Co-Design Pesan, Bagi Peran Secara Jelas, Edukasi Internal (Capacity Building)
    9. Menciptakan Akuntabilitas Sosial (Peer Pressure), Mengurangi Beban Individu, Memperkuat Social Capital
    10. Observasi Langsung (Direct Observation), Indikator Hasil/Dampak Lingkungan, Audit Catatan Rekam Medis/Cakupan

    BalasHapus
  69. BAG I

    1. Pengetahuan belum tentu menjadi perilaku karena dipengaruhi kebiasaan, fasilitas, dan lingkungan.
    2. Faktor sosial: keluarga, teman, norma, dan tokoh masyarakat.
    3. Faktor budaya: kebiasaan turun-temurun yang dianggap normal.
    4. Merokok dipengaruhi nikotin, kebiasaan, keluarga, dan lingkungan.
    5. Intervensi: CTPS, rumah bebas rokok, edukasi, dan keluarga.
    6. Opinion leader: RT/RW, kader, nakes, tokoh masyarakat/agama, dan guru.



    BAG II

    1. Masalah utama: banyak jentik dan PSN belum rutin.
    2. Bukan hanya pengetahuan, tetapi juga kebiasaan dan lingkungan.
    3. Fogging tidak membunuh telur dan jentik.
    4. Modal sosial: gotong royong.
    5. PSN: cek jentik, kuras, tutup, dan kelola barang bekas.
    6. Stakeholder: warga, RT/RW, kader, Puskesmas, dan kelurahan.
    7. Indikator: jentik dan kasus DBD menurun, PSN meningkat.



    BAG III

    1. Masalah: ragu, lupa jadwal, dan imunisasi tidak lengkap.
    2. Dipengaruhi keluarga dan media sosial.
    3. Budaya: anggapan anak harus lebih besar sebelum imunisasi.
    4. Misinformasi menimbulkan ketakutan.
    5. Keraguan tidak selalu berarti anti-imunisasi.
    6. Komunikasi: dengarkan dan jelaskan tanpa menghakimi.
    7. Komunikator: nakes dan kader.
    8. Media: WhatsApp dan Posyandu.
    9. Follow-up: data, ingatkan, bantu akses, dan pantau.



    HOTS

    1. Perilaku dipengaruhi kebiasaan, motivasi, dan lingkungan.
    2. Imunisasi berbeda karena akses, fasilitas, ekonomi, dan budaya.
    3. Keluarga dapat mendukung atau menimbulkan keraguan.
    4. WhatsApp dapat menjadi media edukasi maupun sumber misinformasi.
    5. Budaya positif dimanfaatkan, yang berisiko diubah.
    6. Ceramah perlu dilengkapi fasilitas, motivasi, dan dukungan.
    7. Gotong royong meningkatkan partisipasi PSN.
    8. Perubahan diukur sebelum dan sesudah intervensi.

    BalasHapus
  70. BAGIAN 3
    1. Apa masalah perilakunya?
    Sebagian orang tua menunda atau tidak melengkapi imunisasi karena takut terhadap KIPI, lupa jadwal, atau mengikuti informasi dari orang sekitar tanpa melakukan konfirmasi kepada tenaga kesehatan.

    2. Apa masalah sosialnya?

    Pengaruh keluarga, terutama anggota keluarga yang lebih tua.
    Pengaruh kelompok WhatsApp ibu-ibu.
    Informasi dari lingkungan sekitar dapat lebih dipercaya daripada informasi tenaga kesehatan.
    Adanya pengaruh sosial terhadap keputusan orang tua.

    3. Apa masalah budayanya?
    Kepercayaan bahwa anak sebaiknya menunggu lebih besar agar tubuhnya lebih kuat.
    Pengalaman atau cerita dari keluarga yang kemudian dianggap sebagai pedoman.
    Kebiasaan mengikuti nasihat orang yang dianggap lebih tua atau berpengalaman.

    4. Apa masalah komunikasinya?

    Informasi tentang imunisasi dan KIPI belum tersampaikan dengan baik.
    Kader merasa penjelasannya kurang meyakinkan dibandingkan tenaga kesehatan.
    Media sosial menjadi sumber informasi penting, tetapi informasinya belum tentu akurat.
    Orang tua membutuhkan ruang untuk bertanya tanpa merasa dihakimi.

    5. Apakah masalah tersebut semata-mata “anti-imunisasi”?
    Tidak. Data menunjukkan adanya beberapa faktor: takut KIPI, lupa jadwal, kesulitan akses, pengaruh keluarga, serta informasi dari media sosial. Jadi, pendekatan perlu memahami alasan masing-masing keluarga, bukan langsung memberikan label.

    6. Bagaimana melakukan komunikasi yang tidak menghakimi?
    Gunakan pendekatan empati dan dialog, misalnya:
    “Ibu khawatir karena anak demam setelah imunisasi, ya. Mari kita bahas bersama apakah kondisi tersebut termasuk reaksi yang dapat terjadi setelah imunisasi dan kapan perlu diperiksakan.”

    7. Siapa yang harus menjadi komunikator?

    Bidan.
    Dokter.
    Petugas Puskesmas.
    Kader sebagai pendamping.
    Tokoh masyarakat atau tokoh yang dipercaya masyarakat untuk membantu memperkuat pesan kesehatan.

    8. Media apa yang tepat?
    Konseling langsung di Posyandu/Puskesmas.
    Grup WhatsApp dengan informasi yang sudah diverifikasi tenaga kesehatan.
    Poster atau leaflet sederhana.
    Video edukasi singkat.
    Pengingat jadwal imunisasi melalui WhatsApp/SMS.

    9. Bagaimana melakukan follow-up anak yang belum lengkap imunisasinya?

    Membuat daftar anak yang belum lengkap.
    Mengidentifikasi penyebabnya: takut KIPI, lupa, akses, atau faktor lainnya.
    Menghubungi orang tua secara personal.
    Memberikan edukasi sesuai kekhawatiran mereka.
    Membantu menentukan jadwal kunjungan berikutnya bersama tenaga kesehatan.
    Melakukan pemantauan sampai imunisasi yang diperlukan dapat dilengkapi.

    BalasHapus
  71. 1. sebagian warga sudah memahami manfaat CTPS, tetapi belum memiliki sarana, kebiasaan, waktu, atau dorongan sosial yang cukup.
    2. pengaruh hubungan antarindividu, kelompok, dan lingkungan masyarakat terhadap perilaku.
    3. Faktor budaya berkaitan dengan kebiasaan, nilai, anggapan, dan praktik yang telah berlangsung lama.
    4. Tidak. Merokok bukan hanya masalah kurang pengetahuan, tetapi juga masalah ketergantungan nikotin, norma sosial, budaya, akses terhadap rokok
    5. membangun kebiasaan CTPS pada waktu dan tempat yang spesifik
    6. orang yang benar-benar dipercaya dan sering berinteraksi dengan warga seperti rt atau rw dan tokoh masyarakat

    1. PSN 3M Plus belum menjadi perilaku rutin rumah tangga dan komunitas, sehingga tempat perkembangbiakan nyamuk masih tersedia.
    2. Tidak. Pernyataan warga menunjukkan bahwa masalah utamanya lebih berkaitan dengan persepsi, kebiasaan, dan rasa aman yang keliru.
    3.tidak menghilangkan semua jentik jentik,dan efeknya terbatas pada nyamuk dewasa dan kegiatan pun tidak rutin
    4. Warga bersedia hadir ketika kerja bakti diumumkan dan Kasus DBD dan temuan jentik dapat menjadi masalah bersama yang mudah dipahami.
    5. Kerja bakti dapat diubah menjadi PSN dengan membuat kegiatan lebih terarah dan rutin.
    6.puskesmas,lurah dan kelurahan rw dan rt
    7. PSN terlaksana minimal satu kali setiap minggu dan Persentase rumah yang diperiksa jentiknya meningkat.


    1. keraguan terhadap imunisasi, kekhawatiran KIPI, pengaruh keluarga dan media sosial, serta hambatan jadwal dan akses
    2. Menunda atau tidak melanjutkan imunisasi setelah anak mengalami demam.
    3. Masalah sosial terlihat dari kuatnya pengaruh orang terdekat seperti keluarga itu sendiri
    4. Informasi tentang KIPI belum disampaikan secara jelas sebelum imunisasi dan Orang tua mungkin tidak mengetahui perbedaan reaksi ringan dan tanda bahaya.
    5. Anggapan bahwa anak harus “menunggu besar supaya tubuhnya kuat” merupakan keyakinan kesehatan yang keliru tetapi dapat bertahan karena diwariskan antargenerasi.
    6. Gunakan pola dengar–akui–jelaskan–sepakati.
    7. bidan atau tenaga kesehatan puskesmas, karena data lapangan menunjukkan ibu lebih percaya ketika bidan menjelaskan.
    8. Konseling tatap muka oleh bidan dan Poster di posyandu dan puskesmas
    9. Puskesmas dapat membuat daftar defaulter tracking atau penelusuran anak yang belum menyelesaikan imunisasi agar si anak bisa di data dengan tranparan dan jelas sehingga imunisasi bisa berjalan dengan normal

    BalasHapus
  72. Hasna Naura Afifah P3.73.36.1.26.070
    PERTANYAAN HOTS
    1. Mengapa masyarakat yang mengetahui bahaya DBD tetap tidak melakukan PSN?
    Karena mengetahui belum tentu membuat seseorang mau bertindak. Bisa saja mereka merasa PSN tidak penting, malas, tidak punya waktu, atau menganggap lingkungan mereka aman dari DBD.

    2. Mengapa cakupan imunisasi dapat berbeda antara wilayah?
    Karena setiap wilayah memiliki kondisi yang berbeda, seperti akses ke fasilitas kesehatan, tingkat pendidikan, ekonomi, kepercayaan masyarakat, serta informasi yang diterima.

    3. Bagaimana keluarga memengaruhi keputusan imunisasi?
    Keluarga bisa menjadi sumber dukungan, tetapi juga bisa memengaruhi seseorang untuk menolak jika ada anggota keluarga yang percaya pada informasi yang salah atau memiliki kekhawatiran terhadap imunisasi.

    4. Bagaimana WhatsApp dapat menjadi media pemberdayaan sekaligus sumber misinformasi?
    WhatsApp bisa digunakan untuk menyebarkan edukasi dan mengingatkan masyarakat tentang kesehatan. Namun, informasi yang belum terbukti kebenarannya juga dapat menyebar dengan cepat melalui grup keluarga atau masyarakat.

    5. Apakah budaya harus diubah atau justru dimanfaatkan?
    Tidak semua budaya harus diubah. Budaya yang mendukung kesehatan sebaiknya dimanfaatkan, sedangkan kebiasaan yang berisiko terhadap kesehatan dapat diarahkan secara perlahan agar menjadi lebih sehat.

    6. Bagaimana membedakan nilai budaya dengan misinformasi?
    Nilai budaya merupakan kebiasaan atau kepercayaan yang berkembang dalam masyarakat, sedangkan misinformasi adalah informasi yang tidak benar atau tidak memiliki dasar yang jelas. Jadi, perlu dilihat sumber dan bukti dari informasi tersebut.

    7. Mengapa promosi kesehatan tidak cukup menggunakan metode ceramah?
    Karena ceramah lebih banyak memberikan informasi, tetapi belum tentu membuat masyarakat berubah perilaku. Promosi kesehatan juga perlu melibatkan masyarakat melalui diskusi, praktik, pemberdayaan, dan kegiatan langsung.

    8. Bagaimana cara melibatkan tokoh agama tanpa menjadikan pesan kesehatan kehilangan dasar ilmiahnya?
    Dengan memberikan informasi kesehatan yang berdasarkan bukti ilmiah kepada tokoh agama, kemudian tokoh tersebut membantu menyampaikan pesan menggunakan pendekatan agama dan bahasa yang mudah diterima masyarakat.

    9. Mengapa gotong royong dapat menjadi strategi promosi kesehatan?
    Karena gotong royong membuat masyarakat terlibat secara langsung dan merasa memiliki tanggung jawab bersama terhadap kesehatan lingkungannya. Jadi, perubahan tidak hanya bergantung pada individu.

    10. Bagaimana mengukur perubahan perilaku secara objektif?
    Tidak cukup hanya bertanya apakah seseorang sudah berubah. Perlu melihat tindakan nyata, misalnya melalui observasi, catatan kegiatan, kuesioner sebelum dan sesudah intervensi, atau membandingkan kondisi sebelum dan setelah program.

    BalasHapus
  73. Bagian hots

    ​1.Mengapa masyarakat yang mengetahui bahaya DBD tetap tidak melakukan PSN?
    Karena sekadar tahu aja nggak cukup; banyak orang merasa repot, menganggap itu tugas petugas kesehatan, atau merasa lingkungannya aman-aman aja.
    ​2.Mengapa cakupan imunisasi dapat berbeda antarwilayah?
    Beda wilayah beda juga akses ke faskes, ketersediaan tenaga medis, tingkat pendidikan warga, dan seberapa kuat isu atau hoaks yang beredar di situ.
    ​3.Bagaimana keluarga mempengaruhi keputusan imunisasi?
    Keluarga (terutama suami atau orang tua/mertua) punya suara besar; kalau mereka melarang atau takut efek samping, si ibu biasanya bakal ngikut.
    ​4.Bagaimana WhatsApp dapat menjadi media pemberdayaan sekaligus sumber misinformasi?
    Bisa buat pemberdayaan karena cepat dan gampang buat bagi-bagi info resmi/jadwal Posyandu, tapi bisa jadi sumber misinformasi kalau dipakai buat nyebarin hoaks yang dicopas tanpa disaring.
    ​5.Apakah bahaya harus ditakuti atau justru dimanfaatkan?
    Harus dimanfaatkan secara bijak; rasa takut akan bahaya penyakit bisa dipakai buat memicu kesadaran warga, asal disertai solusi yang jelas dan nggak bikin panik berlebihan.
    ​6.Bagaimana menjembatani nilai budaya dengan imunisasi?
    Ajak tokoh adat/agama diskusi, jelaskan imunisasi pakai pendekatan yang sejalan dengan nilai lokal (misal: bentuk ikhtiar menjaga kesehatan anak), dan hindari menyalahkan tradisi warga.
    ​7.Mengapa promosi kesehatan tidak cukup menggunakan metode ceramah?
    Ceramah cuma bikin orang dengar pasif dan gampang lupa; butuh praktik langsung, diskusi dua arah, atau simulasi biar warga beneran paham dan mau berubah.
    ​8.Bagaimana cara melibatkan tokoh agama tetapi menjadikan pesan kesehatan kehilangan fokus ilmiahnya?
    Kalau terlalu fokus ke pembahasan hukum agama saja tanpa menjelaskan alasan medis yang benar, pesan kesehatan ilmiahnya malah bisa tertutupi.
    ​9.Mengapa gotong royong dapat menjadi strategi promosi kesehatan?
    Karena gotong royong memanfaatkan kebiasaan kumpul warga; kalau dikerjakan bareng-bareng (seperti kerja bakti PSN), warga jadi merasa punya tanggung jawab bersama.
    ​10.Bagaimana mengukur perubahan perilaku secara objektif?
    Dengan melihat bukti nyata di lapangan, misalnya menghitung Angka Bebas Jentik (ABJ) lewat survei, atau mengecek catatan kelengkapan kartu imunisasi anak

    BalasHapus

  74. Ratu Noerfika Aulia Jamilah
    Kelas: 1B PromkesNIM: P3.73.36.1.26.091

    Bagian 1
    1. Pengetahuan belum tentu mengubah perilaku.
    2. Dipengaruhi keluarga, lingkungan, kebiasaan, norma.
    3. Kebiasaan turun-temurun sulit diubah.
    4. Iya, merokok membahayakan perokok dan sekitar.
    5. Edukasi, praktik, rumah bebas rokok, CTPS, kader.
    6. RT/RW, kader, tokoh, Puskesmas.

    Bagian 2
    1. DBD terjadi karena PSN belum optimal.
    2. Pemerintah dan masyarakat bertanggung jawab.
    3. Gotong royong mengurangi sarang nyamuk.
    4. Edukasi, PSN, cek jentik, pengingat.
    5. Masyarakat, kader, RT/RW, Puskesmas, kelurahan, Dinkes.
    6. Kasus DBD, bebas jentik, partisipasi PSN.
    Bagian 3
    1. PHBS, DBD, imunisasi belum optimal.
    2. Kebiasaan, pengetahuan, keluarga, tokoh, gotong royong.
    3. Fishbone: manusia, metode, lingkungan, sarana, sosial.
    4. DBD prioritas karena berisiko menyebar.
    5. Masyarakat, kader, RT/RW, Puskesmas, kelurahan, Dinkes.
    6. Edukasi, PSN, pemeriksaan jentik, reminder imunisasi.
    7. “3M Plus”, “Lengkapi imunisasi”, “Cuci tangan”.
    8. Poster, WhatsApp, video.
    9. Pendataan, edukasi, PSN, evaluasi.
    10. Evaluasi input, proses, output, outcome.

    HOTS
    1. Pengetahuan belum mengubah perilaku.
    2. Kondisi setiap wilayah berbeda.
    3. Keluarga memengaruhi dukungan imunisasi.
    4. WhatsApp menjadi media edukasi dan misinformasi.
    5. Budaya positif sebaiknya dimanfaatkan.
    6. Budaya adalah kebiasaan; misinformasi adalah informasi salah.
    7. Perubahan perilaku membutuhkan praktik, bukan ceramah.

    8. Tokoh agama menyampaikan pesan berdasarkan ilmu.
    9. Gotong royong meningkatkan partisipasi kesehatan.
    10. Ukur perubahan sebelum dan sesudah intervensi.


    BalasHapus
  75. PERTANYAAN HOTS
    1. Mengapa masyarakat yang mengetahui bahaya DBD tetap tidak melakukan PSN?
    Karena tahu aja belum tentu langsung mau melakukannya. Bisa karena malas, lupa, atau udah terbiasa.
    2. Mengapa cakupan imunisasi dapat berbeda antara wilayah?
    Karena tiap wilayah punya kondisi yang beda, seperti akses kesehatan, informasi, ekonomi, dan kebiasaan masyarakat.
    3. Bagaimana keluarga memengaruhi keputusan imunisasi?
    Keluarga bisa bikin orang tua makin yakin, tapi bisa juga bikin ragu kalau mendapat informasi yang kurang tepat.
    4. Bagaimana WhatsApp dapat menjadi media pemberdayaan sekaligus sumber misinformasi?
    WhatsApp bisa dipakai buat berbagi info kesehatan dan pengingat imunisasi, tapi info yang salah juga gampang banget tersebar.
    5. Apakah budaya harus diubah atau justru dimanfaatkan?
    Nggak semua budaya harus diubah. Kalau budayanya baik, seperti gotong royong, justru bisa dimanfaatkan.
    6. Bagaimana membedakan nilai budaya dengan misinformasi?
    Bisa dilihat dari sumber dan kebenaran informasinya. Kalau nggak sesuai fakta kesehatan, berarti perlu dicek lagi.
    7. Mengapa promosi kesehatan tidak cukup menggunakan metode ceramah?
    Karena orang nggak cukup cuma dikasih tahu. Mereka juga perlu contoh, praktik, dan dukungan dari lingkungan.
    8. Bagaimana cara melibatkan tokoh agama tanpa menjadikan pesan kesehatan kehilangan dasar ilmiahnya?
    Tokoh agama bisa membantu menyampaikan pesan dengan cara yang lebih dekat dengan masyarakat, tapi isi kesehatannya tetap harus berdasarkan fakta.
    9. Mengapa gotong royong dapat menjadi strategi promosi kesehatan?
    Karena masyarakat bisa ikut bergerak bareng, misalnya kerja bakti membersihkan lingkungan dan melakukan PSN.
    10. Bagaimana mengukur perubahan perilaku secara objektif?
    Dengan melihat tindakan nyatanya, misalnya PSN jadi lebih rutin atau jumlah tempat yang ada jentiknya berkurang.

    BalasHapus
  76. 1. sebagian warga sudah memahami manfaat CTPS, tetapi belum memiliki sarana, kebiasaan, waktu, atau dorongan sosial yang cukup.
    2. pengaruh hubungan antarindividu, kelompok, dan lingkungan masyarakat terhadap perilaku.
    3. Faktor budaya berkaitan dengan kebiasaan, nilai, anggapan, dan praktik yang telah berlangsung lama.
    4. Tidak. Merokok bukan hanya masalah kurang pengetahuan, tetapi juga masalah ketergantungan nikotin, norma sosial, budaya, akses terhadap rokok
    5. membangun kebiasaan CTPS pada waktu dan tempat yang spesifik
    6. orang yang benar-benar dipercaya dan sering berinteraksi dengan warga seperti rt atau rw dan tokoh masyarakat

    1. PSN 3M Plus belum menjadi perilaku rutin rumah tangga dan komunitas, sehingga tempat perkembangbiakan nyamuk masih tersedia.
    2. Tidak. Pernyataan warga menunjukkan bahwa masalah utamanya lebih berkaitan dengan persepsi, kebiasaan, dan rasa aman yang keliru.
    3.tidak menghilangkan semua jentik jentik,dan efeknya terbatas pada nyamuk dewasa dan kegiatan pun tidak rutin
    4. Warga bersedia hadir ketika kerja bakti diumumkan dan Kasus DBD dan temuan jentik dapat menjadi masalah bersama yang mudah dipahami.
    5. Kerja bakti dapat diubah menjadi PSN dengan membuat kegiatan lebih terarah dan rutin.
    6.puskesmas,lurah dan kelurahan rw dan rt
    7. PSN terlaksana minimal satu kali setiap minggu dan Persentase rumah yang diperiksa jentiknya meningkat.


    1. keraguan terhadap imunisasi, kekhawatiran KIPI, pengaruh keluarga dan media sosial, serta hambatan jadwal dan akses
    2. Menunda atau tidak melanjutkan imunisasi setelah anak mengalami demam.
    3. Masalah sosial terlihat dari kuatnya pengaruh orang terdekat seperti keluarga itu sendiri
    4. Informasi tentang KIPI belum disampaikan secara jelas sebelum imunisasi dan Orang tua mungkin tidak mengetahui perbedaan reaksi ringan dan tanda bahaya.
    5. Anggapan bahwa anak harus “menunggu besar supaya tubuhnya kuat” merupakan keyakinan kesehatan yang keliru tetapi dapat bertahan karena diwariskan antargenerasi.
    6. Gunakan pola dengar–akui–jelaskan–sepakati.
    7. bidan atau tenaga kesehatan puskesmas, karena data lapangan menunjukkan ibu lebih percaya ketika bidan menjelaskan.
    8. Konseling tatap muka oleh bidan dan Poster di posyandu dan puskesmas
    9. Puskesmas dapat membuat daftar defaulter tracking atau penelusuran anak yang belum menyelesaikan imunisasi agar si anak bisa di data dengan tranparan dan jelas sehingga imunisasi bisa berjalan dengan normal

    BalasHapus
  77. Hana Naurah Talitha 1BPromKes P3.73.36.1.26.068

    Kasus 1: PHBS
    1. Mengapa pengetahuan tinggi tetapi perilaku belum optimal?
    Pengetahuan tidak secara otomatis membentuk perilaku. Niat individu sering kali terhambat oleh rutinitas/terburu-buru, persepsi risiko yang rendah (Health Belief Model), serta kurangnya konsistensi fasilitas pendukung seperti keterbatasan ketersediaan sabun (61%).
    2. Apa faktor sosialnya?
    Faktor sosial meliputi kebiasaan merokok bersama di ruang tamu tanpa teguran, kurangnya norma sosial yang mendukung, serta pengaruh pola asuh/rutinitas keluarga yang tergesa-gesa di pagi hari.
    3. Apa faktor budayanya?
    Budaya patriarki dan anggapan bahwa merokok di ruang tamu adalah simbol keramahan/penghormatan tamu yang sudah berlangsung lama ("biasa dari dulu").
    4. Apakah perilaku merokok hanya masalah pengetahuan?
    Tidak. Perilaku merokok erat kaitannya dengan adiksi psikologis, konstruksi maskulinitas, serta penerimaan sosial/budaya di lingkungan sekitar.
    5. Apa yang dapat menjadi entry point intervensi?
    Pemberdayaan keluarga melalui pembuatan kesepakatan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di tingkat rumah tangga serta pengadaan sarana CTPS yang mudah dijangkau di area ruang makan/dapur.
    6. Siapa opinion leader yang dapat dilibatkan?
    Tokoh masyarakat (Ketua RT/RW, Kepala Desa), tokoh agama, serta pimpinan kelompok ibu-ibu (PKK).

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kasus 2: DBD
      Ketergantungan masyarakat pada intervensi sesaat (fogging) dan kurangnya keberlanjutan tindakan pencegahan mandiri melalui Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN 3M Plus).
      2. Apakah masalah utamanya kurang pengetahuan?
      Bukan. Masalah utamanya terletak pada persepsi yang keliru (misconception) mengenai efektivitas fogging dan kurangnya pembentukan kebiasaan (habit formation) PSN secara rutin.
      3. Mengapa fogging belum menyelesaikan masalah?
      Fogging hanya membunuh nyamuk dewasa secara sementara dan tidak membasmi jentik nyamuk di tempat penampungan air (seperti 54 rumah positif jentik).
      4. Apa modal sosial yang tersedia?
      Budaya gotong royong dan partisipasi masyarakat yang tinggi saat kegiatan kerja bakti diumumkan.
      5. Bagaimana mengubah kerja bakti menjadi kegiatan PSN?
      Mengarahkan fokus kerja bakti dari sekadar membersihkan lingkungan umum menjadi gerakan "Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik" (G1R1J) yang terintegrasi secara rutin setiap minggu.
      6. Siapa stakeholder utama?
      Ketua RT/RW, kader jumantik, petugas P2P Puskesmas, serta kepala kelurahan.
      7. Apa indikator keberhasilan program?
      a. Angka Bebas Jentik (ABJ) ≥95%
      b. Penurunan jumlah rumah dengan container/ember terbuka.
      c. Penurunan angka kejadian kasus DBD di wilayah tersebut.

      Kasus 3: Imunisasi
      1. Apa masalah perilaku?
      Penundaan (vaccine hesitancy) atau penghentian jadwal imunisasi akibat rasa takut berlebih terhadap Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) seperti demam.
      2. Apa masalah sosial?
      Adanya tekanan/pengaruh keluarga (nasihat dari nenek/orang tua) serta maraknya penyebaran informasi yang kurang tepat di grup media sosial (WhatsApp).
      3. Apa masalah budaya?
      Mitos atau kepercayaan lokal bahwa bayi yang masih kecil rentan/belum kuat menerima tindakan medis sehingga perlu ditunda hingga anak membesar.
      4. Apa masalah komunikasi?
      Komunikasi satu arah yang belum mampu membangun rasa percaya (trust) serta maraknya miss informasi digital yang mendahului edukasi tenaga kesehatan.
      5. Apakah masalah tersebut semata-mata "anti-imunisasi"?
      Tidak. Mayoritas orang tua mengalami kecemasan akibat rasa sayang dan perlindungan anak yang dipicu oleh kurangnya pemahaman tentang penanganan KIPI ringan.
      6. Bagaimana melakukan komunikasi yang tidak menghakimi?
      Menggunakan teknik Motivational Interviewing dan komunikasi empatik (mendengarkan kekhawatiran ibu, memvalidasi rasa sayangnya pada anak, lalu memberikan penjelasan solutif).
      7. Siapa yang harus menjadi komunikator?
      Bidan desa/tenaga kesehatan profesional (sebagai sumber terpercaya) dibantu oleh kader kesehatan setempat.
      8. Media apa yang tepat?
      Pesan edukasi visual berbasis digital (infografis/video singkat di grup WhatsApp) serta lembar balik/Buku KIA saat konseling tatap muka.
      9. Bagaimana melakukan follow-up anak yang belum lengkap imunisasinya?
      Melakukan kegiatan pelacakan (sweeping) oleh kader/bidan, Kunjungan Rumah (home visit), serta memberikan layanan imunisasi kejar (catch-up immunization).

      Hapus
    2. HOTS
      1. Mengapa masyarakat yang tahu bahaya DBD tetap tidak melakukan PSN?
      a. Kognitif vs Perilaku: Pengetahuan baru di tingkat pemahaman, belum menjadi niat dan tindakan nyata.
      b. Persepsi Kerumitan: PSN dianggap menyita waktu dan tenaga, sedangkan fogging dinilai lebih praktis.
      c. Belum Jadi Kebiasaan: PSN butuh rutinitas mingguan, sementara warga cenderung baru bergerak saat ada kasus.
      2. Mengapa cakupan imunisasi berbeda antar wilayah?
      a. Aksesibilitas: Jarak, fasilitas transportasi, dan kondisi ekonomi wilayah.
      b. Kapasitas Pelayanan: Jumlah dan keaktifan bidan desa serta kader Posyandu.
      c. Pengaruh Informasi: Tingginya paparan hoaks dan lemahnya kepemimpinan lokal di wilayah tertentu.
      3. Bagaimana keluarga memengaruhi keputusan imunisasi?
      a. Otoritas Keputusan: Pengaruh senior keluarga (nenek/kakek) atau suami sebagai kepala keluarga.
      b. Dukungan Mitos/Fakta: Nasihat orang tua tua sering memicu keraguan (vaccine hesitancy).
      c. Dukungan Emosional: Pendampingan keluarga saat anak demam (KIPI) menentukan kelanjutan imunisasi.
      4. Bagaimana WhatsApp menjadi media pemberdayaan sekaligus misinformasi?
      a. Pemberdayaan: Mempercepat koordinasi jadwal Posyandu dan diskusi warga dengan kader.
      b. Ruang Tertutup (Echo Chamber): Pesan hoaks menyebar cepat antaranggota grup atas dasar saling percaya tanpa verifikasi.
      c. Bias Emosional: Informasi yang memicu rasa takut lebih cepat viral dibanding edukasi medis resmi.
      5. Apakah budaya harus diubah atau justru dimanfaatkan?
      a. Dimanfaatkan & Diadaptasi: Budaya adalah perekat sosial, mengubahnya secara paksa memicu penolakan.
      b. Re-interpretasi Nilai: Membingkai pesan kesehatan lewat nilai lokal (misal: "gotong royong" untuk PSN, "sayang anak" untuk imunisasi).
      c. Intervensi Terukur: Hanya kebiasaan spesifik yang merugikan kesehatan yang diubah secara bertahap.
      6. Bagaimana membedakan nilai budaya dengan misinformasi?
      a. Nilai Budaya: Pandangan hidup, norma, atau tradisi penataan sosial (contoh: rasa hormat, kebersamaan).
      b. Misinformasi: Klaim medis/ilmiah yang salah dan tidak teruji secara klinis (contoh: "vaksin itu racun").
      c. Cara Membedakan: Cek apakah itu prinsip norma sosial (Budaya) atau klaim sebab-akibat medis yang keliru (Misinformasi).
      7. Mengapa promosi kesehatan tidak cukup menggunakan metode ceramah?
      a. Satu Arah & Pasif: Hanya menambah pengetahuan, tidak membentuk keterampilan dan kesadaran bertindak.
      b. Membuat Bosan: Warga cenderung pasif dan tidak merasa memiliki tanggung jawab perubahan.
      c. Butuh Partisipasi: Perilaku berubah melalui diskusi interaktif, praktik langsung, dan pendekatan antarpribadi.
      8. Bagaimana melibatkan tokoh agama tanpa kehilangan dasar ilmiah?
      a. Pembagian Peran: Tenaga kesehatan menyediakan fakta medis, tokoh agama menyusun narasi/dalil pendukung.
      b. Pembekalan Teknis: Tokoh agama diberi edukasi materi kesehatan terlebih dahulu sebelum ceramah.
      c. Penyampaian Kontekstual: Tokoh agama menguatkan dari sisi moral/agama, lalu merujuk detail medis ke fasilitas kesehatan.
      9. Mengapa gotong royong dapat menjadi strategi promosi kesehatan?
      a. Modal Sosial: Memanfaatkan tradisi kebersamaan dan rasa saling percaya yang sudah ada.
      b. Efisiensi Kolektif: Pembersihan lingkungan (PSN) lebih cepat dan efektif jika dilakukan bersama-sama.
      c. Tekanan Sosial Positif: Mengajak warga yang pasif untuk ikut serta karena melihat tetangganya bergerak.
      10. Bagaimana mengukur perubahan perilaku secara objektif?
      a. Observasi Langsung: Mengamati tindakan warga secara langsung menggunakan lembar pantau (checklist).
      b. Indikator Lingkungan: Mengukur dampak fisik (contoh: menghitung Angka Bebas Jentik/ABJ di rumah warga).
      c. Catatan Verifikatif: Memeriksa bukti pelayanan (contoh: kelengkapan catatan di Buku KIA anak).

      Hapus
  78. PERTANYAAN HOTS

    1. Mengapa masyarakat yang mengetahui bahaya DBD tetap tidak melakukan PSN?
    Karena pengetahuan saja belum cukup. Kebiasaan, lingkungan, rasa malas, dan kurangnya dukungan dari masyarakat juga memengaruhi perilaku.

    2. Mengapa cakupan imunisasi dapat berbeda antarwilayah?
    Karena setiap wilayah punya kondisi yang berbeda, seperti akses pelayanan kesehatan, kondisi geografis, ekonomi, tenaga kesehatan, dan kepercayaan masyarakat.

    3. Bagaimana keluarga memengaruhi keputusan imunisasi?
    Keluarga bisa memberi dukungan, tetapi juga bisa membuat orang tua ragu. Keputusan imunisasi biasanya dipengaruhi oleh pengetahuan dan kepercayaan keluarga.

    4. Bagaimana WhatsApp dapat menjadi media pemberdayaan sekaligus sumber misinformasi?
    WhatsApp bisa digunakan untuk edukasi dan mengingatkan jadwal kesehatan. Tapi, informasi yang salah juga mudah menyebar. Jadi, informasi kesehatan harus dicek dari sumber yang terpercaya.

    5. Apakah budaya harus diubah atau justru dimanfaatkan?
    Budaya yang mendukung kesehatan sebaiknya dimanfaatkan. Kalau ada kebiasaan yang kurang baik, perubahannya dilakukan secara bertahap tanpa merendahkan budaya masyarakat.

    6. Bagaimana membedakan nilai budaya dengan misinformasi?
    Nilai budaya merupakan kebiasaan atau kepercayaan masyarakat, sedangkan misinformasi adalah informasi yang tidak benar. Keduanya bisa dibedakan dengan melihat bukti dan sumber informasinya.

    7. Mengapa promosi kesehatan tidak cukup menggunakan metode ceramah?
    Karena ceramah lebih banyak memberikan pengetahuan. Agar perilaku berubah, masyarakat juga perlu praktik langsung, dukungan lingkungan, dan pemantauan.

    8. Bagaimana melibatkan tokoh agama tanpa menghilangkan dasar ilmiahnya?
    Tokoh agama bisa membantu menyampaikan pesan kesehatan dengan mengaitkannya pada nilai agama, sedangkan informasi kesehatannya tetap berdasarkan bukti ilmiah dan tenaga kesehatan.

    9. Mengapa gotong royong dapat menjadi strategi promosi kesehatan?
    Karena gotong royong membuat masyarakat ikut terlibat langsung dalam kegiatan kesehatan, misalnya kerja bakti dan PSN.

    10. Bagaimana mengukur perubahan perilaku secara objektif?
    Dengan melihat hasil yang bisa diukur, seperti jumlah rumah positif jentik, kegiatan PSN, pemeriksaan jentik, cakupan imunisasi, dan jumlah kasus penyakit.

    BalasHapus
  79. *Hilya Nabilah – P3.73.36.1.26.071**

    **Kasus 1**

    1. Pengetahuan tinggi belum tentu mengubah perilaku karena dipengaruhi kebiasaan, lingkungan, fasilitas, dan dukungan keluarga.
    2. Faktor sosial meliputi keluarga, teman, norma masyarakat, kader, dan tokoh masyarakat.
    3. Faktor budaya berupa kebiasaan yang dianggap wajar, seperti merokok di rumah atau tidak CTPS.
    4. Perilaku merokok dipengaruhi kebiasaan, lingkungan, ketergantungan, dan faktor sosial.
    5. Entry point: keluarga, kader, dan tokoh masyarakat.
    6. Opinion leader: RT/RW, kader, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan guru.

    **Kasus 2**
    1. Masalah utama adalah pencegahan DBD masih berfokus pada fogging, sedangkan PSN belum rutin.
    2. DBD dipengaruhi kebiasaan, persepsi masyarakat, lingkungan, dan rendahnya konsistensi PSN.
    3. Fogging hanya membunuh nyamuk dewasa sehingga perlu disertai PSN.
    4. Modal sosial: gotong royong, RT/RW, kader, dan partisipasi warga.
    5. Kerja bakti dapat diarahkan menjadi kegiatan PSN rutin.
    6. Stakeholder: warga, keluarga, kader, RT/RW, Puskesmas, dan kelurahan.
    7. Indikator keberhasilan: penurunan jentik, peningkatan PSN, dan penurunan kasus DBD.

    **Kasus 3*
    1. Orang tua menunda imunisasi karena takut KIPI.
    2. Faktor sosial berasal dari keluarga, lingkungan, dan WhatsApp.
    3. Faktor budaya berupa kepercayaan yang berkembang di masyarakat.
    4. Komunikasi kesehatan perlu jelas dan empatik.
    5. Tidak semua termasuk anti-imunisasi.
    6. Edukasi dilakukan dengan mendengarkan lalu memberi penjelasan sederhana.
    7. Komunikator: tenaga kesehatan dan kader.
    8. Media: WhatsApp, poster, leaflet, video, dan Posyandu.
    9. Follow-up: pendataan, edukasi, penjadwalan, dan pemantauan imunisasi.

    .

    BalasHapus
  80. BAGIAN 1

    1.Karena kebiasaan yang sudah dilakukan sejak dahulu cukup sulit untuk diubah. Selain itu, kurangnya edukasi dan praktik langsung dari tenaga kesehatan atau tokoh masyarakat di sekitar juga membuat masyarakat belum terbiasa menerapkan perilaku hidup sehat.
    2.Faktor sosial berasal dari orang-orang dan kelompok di sekitar individu, seperti keluarga, orang tua, teman, serta lingkungan masyarakat.
    3.Faktor budaya terlihat dari kebiasaan yang sudah dilakukan terus-menerus dan dianggap normal oleh masyarakat.
    4.Tidak, perilaku merokok bukan hanya masalah pengetahuan, tetapi juga berdasarkan faktor individu, interpersonal, komunitas, dan lingkungan.
    5.Entry point yang dapat digunakan adalah kebiasaan dan lingkungan yang paling mudah diubah terlebih dahulu, misalnya meningkatkan kebiasaan CTPS sebelum makan dan setelah BAB.
    6.Opinion leader yang dapat dilibatkan antara lain ketua RT/RW, kader kesehatan, tokoh masyarakat, tokoh agama, serta kepala keluarga/ orang tua.

    BalasHapus
  81. Hilya Nabilah p3.73.36.1.26.071
    Pertanyaan HOTS
    1. Masyarakat yang mengetahui bahaya DBD tetap tidak melakukan PSN karena perilaku tidak hanya dipengaruhi pengetahuan, tetapi juga kebiasaan, motivasi, lingkungan, dan persepsi bahwa fogging sudah cukup.
    2. Cakupan imunisasi dapat berbeda antarwilayah karena adanya perbedaan akses pelayanan kesehatan, kondisi sosial ekonomi, budaya, dukungan keluarga, serta informasi yang diterima masyarakat.
    3. Keluarga dapat memberikan pengaruh positif maupun negatif terhadap keputusan imunisasi. Dukungan dan informasi yang benar dapat mendorong imunisasi, sedangkan ketakutan atau informasi yang salah dapat menyebabkan penundaan.
    4. WhatsApp dapat menjadi media pemberdayaan karena memudahkan penyebaran informasi kesehatan, tetapi juga dapat menjadi sumber misinformasi. Oleh karena itu, informasi yang dibagikan harus berasal dari sumber yang terpercaya.
    5. Budaya yang mendukung kesehatan sebaiknya dimanfaatkan, sedangkan kebiasaan yang berisiko diperbaiki secara bertahap. Contohnya, budaya gotong royong dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kegiatan PSN.
    6. Nilai budaya merupakan kebiasaan atau keyakinan yang berkembang dalam masyarakat, sedangkan misinformasi adalah informasi yang tidak sesuai fakta. Keduanya perlu dibedakan agar promosi kesehatan tetap menghargai budaya masyarakat.
    7. Promosi kesehatan tidak cukup dengan ceramah karena pengetahuan belum tentu menghasilkan perubahan perilaku. Oleh karena itu, perlu dilakukan demonstrasi, praktik, pendampingan, dan pemberdayaan masyarakat.
    8. Tokoh agama dapat dilibatkan untuk memperkuat penerimaan pesan kesehatan di masyarakat, tetapi informasi medis tetap harus berdasarkan ilmu kesehatan dan disampaikan atau didukung oleh tenaga kesehatan.
    9. Gotong royong dapat menjadi strategi promosi kesehatan karena sudah menjadi modal sosial masyarakat. Kegiatan tersebut dapat diarahkan untuk melakukan PSN dan menjaga kebersihan lingkungan bersama.
    10. Perubahan perilaku dapat diukur melalui indikator yang dapat diamati, seperti peningkatan CTPS, jumlah rumah yang melakukan PSN, penurunan rumah positif jentik, serta peningkatan cakupan imunisasi lengkap.

    BalasHapus
  82. BAGIAN 2

    1.Masalah utamanya adalah pencegahan DBD belum dilakukan secara rutin dan berkelanjutan, terutama PSN, terlihat masih ada rumah positif jentik, ember terbuka, barang bekas yang menampung air, dan rumah yang tidak melakukan pemeriksaan jentik secara rutin.
    2.Tidak hanya kurang pengetahuan, masalah juga dipengaruhi oleh kebiasaan dan perilaku masyarakat, masyarakat menganggap fogging sudah cukup sebagai bentuk pencegahan padahal PSN perlu dilakukan secara rutin.
    3.Karena fogging tidak menghilangkan sumber perkembangbiakan nyamuk secara menyeluruh. Jika masih ada tempat yang dapat menampung air dan terdapat jentik, nyamuk dapat berkembang kembali, oleh karena itu, fogging perlu disertai dengan PSN dan pemeriksaan jentik secara rutin.
    4.Modal sosial yang tersedia adalah kerja bakti dan keterlibatan warga ketika kegiatan diumumkan. Ketua RT mengatakan bahwa warga biasanya hadir jika kerja bakti diumumkan. Artinya, sudah ada gotong royong dan dukungan masyarakat yang dapat dikembangkan menjadi kegiatan PSN rutin.
    5.Kerja bakti dapat diarahkan tidak hanya untuk membersihkan lingkungan, tetapi juga menjadi kegiatan PSN rutin, seperti menguras tempat penampungan air, menutup tempat air, mengubur atau mendaur ulang barang bekas yang dapat menampung air, serta melakukan pemeriksaan jentik bersama.
    6.Stakeholder utamanya adalah Puskesmas, kader kesehatan/jumantik, ketua RT/RW, masyarakat atau kepala keluarga, serta kelurahan. Masing-masing dapat berperan dalam edukasi, pemantauan jentik, penggerakan masyarakat, dan pelaksanaan PSN.
    7.Indikator keberhasilannya dapat dilihat dari menurunnya jumlah rumah positif jentik, berkurangnya tempat yang dapat menjadi perkembangbiakan nyamuk, meningkatnya pemeriksaan jentik rutin, serta meningkatnya kegiatan PSN di masyarakat.

    BalasHapus
  83. BAGIAN 3

    1.Masalah perilakunya adalah sebagian orang tua belum melengkapi imunisasi anak karena takut terhadap KIPI, lupa jadwal, atau mengikuti informasi yang kurang tepat.
    2.Masalah sosialnya adalah adanya pengaruh keluarga dan lingkungan sosial terhadap keputusan orang tua.
    3.Masalah budayanya adalah adanya kepercayaan atau kebiasaan yang berkembang di masyarakat, misalnya anggapan bahwa anak sebaiknya menunggu lebih besar agar tubuhnya kuat sebelum imunisasi.
    4.Masalah komunikasinya adalah informasi tentang imunisasi belum tersampaikan dengan cara dan melalui komunikator yang paling dipercaya oleh orang tua. Kader mengatakan bahwa ketika dirinya menjelaskan, ibu masih ragu, sedangkan ketika bidan menjelaskan, ibu biasanya lebih percaya, informasi dari media sosial juga cukup mempengaruhi.
    5.Tidak, masalah tersebut tidak bisa langsung disebut sebagai anti-imunisasi. Ada berbagai faktor lain, seperti takut KIPI 37%, lupa jadwal 22%, kesulitan akses 15%, dan pengaruh keluarga 18%.
    6.Komunikasi dilakukan dengan mendengarkan kekhawatiran orang tua terlebih dahulu, kemudian memberikan penjelasan berdasarkan informasi kesehatan yang benar dengan bahasa yang mudah dipahami.
    7.Komunikator yang dapat dilibatkan adalah bidan, tenaga kesehatan di Puskesmas, dokter, kader kesehatan, serta tokoh masyarakat atau tokoh yang dipercaya oleh orang tua.
    8.Media yang dapat digunakan adalah WhatsApp, media sosial, poster, leaflet, penyuluhan langsung, dan kegiatan Posyandu. Karena 61% mendapatkan informasi dari media sosial, media sosial dapat dimanfaatkan untuk menyebarkan informasi imunisasi yang benar dan mudah dipahami.
    9.Melakukan pendataan anak yang imunisasinya belum lengkap, mengingatkan orang tua mengenai jadwal imunisasi, menghubungi orang tua melalui WhatsApp atau kunjungan rumah, serta melibatkan kader dan tenaga kesehatan untuk memastikan anak mendapatkan imunisasi yang belum lengkap.

    BalasHapus
  84. Bagian 1 PHBS

    1. Mengapa pengetahuan tinggi tetapi perilaku belum optimal?
    Karena pengetahuan tidak otomatis membuat seseorang melakukan perilaku sehat. Masyarakat mungkin sudah tahu pentingnya CTPS, tetapi masih dipengaruhi kebiasaan, kesibukan, fasilitas, dan lingkungan. Jadi ada kesenjangan antara tahu dan melakukan.
    2. Apa faktor sosialnya?
    Faktor sosial meliputi pengaruh keluarga, teman, kebiasaan masyarakat, dukungan lingkungan, dan kurangnya pengingat atau pengawasan.
    3. Apa faktor budayanya?
    Kebiasaan yang sudah dilakukan sejak lama dan dianggap normal dapat memengaruhi perilaku. Contohnya, merokok di ruang tamu dianggap biasa karena sudah dilakukan sejak dulu.
    4. Apakah merokok hanya masalah pengetahuan?
    Tidak. Merokok juga dipengaruhi kebiasaan, ketergantungan nikotin, lingkungan, keluarga, dan norma sosial.
    5. Apa entry point intervensinya?
    Mulai dari kebiasaan sederhana seperti CTPS, menyediakan sabun, membuat rumah bebas asap rokok, dan melibatkan keluarga.
    6. Siapa opinion leader yang dilibatkan?
    Ketua RT/RW, kader kesehatan, tenaga kesehatan, tokoh masyarakat, tokoh agama, guru, dan karang taruna.

    BalasHapus
  85. Bagian 2 DBD
    1. Apa masalah utama?
    Masalah utamanya adalah PSN belum menjadi kebiasaan rutin masyarakat. Hal ini terlihat dari masih banyaknya rumah positif jentik dan tempat yang dapat menjadi perkembangbiakan nyamuk.
    2. Apakah masalah utamanya kurang pengetahuan?
    Tidak hanya pengetahuan. Masyarakat mungkin sudah mengetahui bahaya DBD, tetapi pengetahuan tersebut belum menjadi tindakan. Ada pula persepsi bahwa fogging sudah cukup untuk mencegah DBD.
    3. Mengapa fogging belum menyelesaikan masalah?
    Karena fogging tidak menghilangkan seluruh tempat perkembangbiakan nyamuk. Jika ember terbuka, barang bekas berisi air, dan tempat penampungan air tidak dikelola, jentik masih dapat berkembang. Karena itu, fogging perlu disertai PSN.
    4. Apa modal sosial yang tersedia?
    Modal sosialnya adalah gotong royong. Warga sudah terbiasa hadir ketika kerja bakti dilakukan. Kebiasaan tersebut dapat dimanfaatkan untuk kegiatan PSN secara rutin.
    5. Bagaimana mengubah kerja bakti menjadi kegiatan PSN?
    Kerja bakti diarahkan menjadi kegiatan pemeriksaan jentik, menguras dan menutup tempat air, mengelola barang bekas, serta mencatat hasil pemeriksaan. Jadi kerja bakti tidak hanya membersihkan lingkungan, tetapi juga menjadi gerakan PSN.
    6. Siapa stakeholder utama?
    Puskesmas, kader/Jumantik, RT/RW, kelurahan, masyarakat, sekolah, tokoh masyarakat, tokoh agama, dan karang taruna. Masing-masing dapat berperan dalam edukasi, pemantauan, mobilisasi warga, dan pengendalian lingkungan.
    7. Apa indikator keberhasilan program?
    Indikatornya dapat berupa meningkatnya kegiatan PSN, jumlah rumah yang diperiksa, menurunnya rumah positif jentik, berkurangnya tempat penampungan air terbuka, meningkatnya pemeriksaan jentik, dan pada akhirnya menurunnya kasus DBD

    BalasHapus
  86. BAGIAN 3 — KASUS IMUNISASI
    1. Apa masalah perilaku?
    Sebagian orang tua belum melengkapi imunisasi anak karena takut KIPI, lupa jadwal, pengaruh keluarga, informasi media sosial, dan kesulitan akses. Jadi masalahnya bukan sekadar menolak imunisasi.
    2. Apa masalah sosial?
    Keputusan orang tua dipengaruhi keluarga dan lingkungan informasi. Contohnya, ibu mengikuti saran orang tua dan mendapatkan informasi dari grup WhatsApp.
    3. Apa masalah budaya?
    Adanya kepercayaan atau kebiasaan keluarga yang diwariskan dari generasi sebelumnya. Misalnya, orang tua lebih mengikuti nasihat anggota keluarga yang lebih tua karena dianggap berpengalaman.
    4. Apa masalah komunikasi?
    Informasi yang diterima masyarakat belum tentu berasal dari sumber terpercaya. Dalam kasus ini, media sosial menjadi sumber informasi utama, sementara kader kurang dipercaya dibandingkan bidan.
    5. Apakah masalah tersebut semata-mata “anti-imunisasi”?
    Tidak. Ada berbagai alasan seperti takut KIPI, lupa jadwal, kesulitan akses, pengaruh keluarga, dan informasi yang salah. Karena itu, alasan keraguan perlu dipahami terlebih dahulu.
    6. Bagaimana komunikasi yang tidak menghakimi?
    Dengarkan kekhawatiran orang tua, tanyakan sumber informasinya, jangan langsung menyalahkan, kemudian berikan penjelasan berdasarkan informasi kesehatan yang benar dan mudah dipahami.
    7. Siapa komunikatornya?
    Bidan dapat menjadi komunikator utama karena lebih dipercaya dalam kasus ini. Promkes, kader, dan Puskesmas dapat mendukung edukasi, pengingat, serta pendampingan.
    8. Media apa yang tepat?
    WhatsApp, video pendek, infografis, media sosial Puskesmas, konseling Posyandu, dan penyuluhan kelompok. Media harus berisi informasi yang benar dan terverifikasi.
    9. Bagaimana follow-up anak yang belum lengkap?
    Identifikasi anak, periksa catatan imunisasi, cari penyebab ketidaklengkapan, lakukan konseling, tentukan jadwal berikutnya, berikan pengingat, lakukan kunjungan bila diperlukan, kemudian pantau sampai imunisasi lengkap.

    BalasHapus
  87. nama : dini nur Azizah
    1b

    bagian 1

    1. Mengapa pengetahuan tinggi tetapi perilaku belum optimal?

    Ini namanya Kesenjangan KAP (Knowledge - Attitude - Practice Gap). Dalam teori Lawrence Green, perilaku tidak hanya ditentukan pengetahuan.

    > Pengetahuan itu faktor predisposisi, tapi bukan penentu utama.

    Penjelasannya:
    - Pengetahuan tinggi = tahu rokok berbahaya
    - Tapi perilaku belum berubah karena ada faktor Enabling (mudahnya akses rokok, murah) dan Reinforcing (dapat dukungan sosial dari teman).
    - Merokok juga sudah masuk tahap adiksi nikotin, bukan lagi ranah pengetahuan, tapi sudah ranah fisiologis dan psikologis.
    - Ada Health Belief Model: meski tahu bahaya, kalau merasa "ah saya masih muda, tidak akan sakit sekarang" -> perceived susceptibility rendah, …

    Dini Nur Azizah
    1b

    bagian 2

    1. Masalah utama?
    Bukan kurang nyamuk, tapi tingginya tempat perindukan karena PSN 3M Plus tidak rutin.

    2. Apakah kurang pengetahuan?
    Tidak. Pengetahuan sudah tinggi, tapi perilaku rendah. Ini masalah sikap & kebiasaan, bukan info.

    3. Kenapa fogging gagal?
    Fogging cuma bunuh nyamuk dewasa, tidak bunuh jentik & telur. Efeknya cuma 1-2 hari. Tanpa PSN, nyamuk balik lagi. Fogging = pemadam, bukan pencegah.

    4. Modal sosial?
    - Gotong royong / kerja bakti
    - Kader Jumantik, PKK, RT/RW
    - Pengajian & Karang Taruna

    5. Ubah kerja bakti jadi PSN?
    Jangan bikin acara baru. Tempel PSN ke kerja bakti yang ada.
    Jumat = 30 menit pertama khusus cek jentik + pakai checklist + lomba RT Bebas Jentik.

    6. Stakeholder utama?
    Kunci: Ibu PKK & Ketua RT/RW. Pendukung: Puskesmas, Lurah, Tokoh Agama.

    7. Indikator berhasil?
    - Proses: ABJ > 95%
    - Outcome: Container Index < 5%, rumah diperiksa > 80%
    - Impact: Kasus DBD

    BalasHapus
  88. dini nur Azizah
    1b
    bagian 3

    1. Masalah perilaku?
    Menunda & tidak lengkap. Bukan menolak total. Takut demam, lupa jadwal.

    2. Masalah sosial?
    Hoax di WA grup, tekanan keluarga "dulu nggak imunisasi juga sehat", ibu kerja tidak sempat ke Posyandu.

    3. Masalah budaya?
    Isu halal-haram, lebih percaya jamu/dukun, fatalisme "sakit itu takdir".

    4. Masalah komunikasi?
    Nakes menghakimi: "Ibu malas ya?" -> ibu kapok. Komunikasi satu arah, bahasa medis.

    5. Anti-imunisasi?
    Bukan. Kebanyakan ragu (hesitant), bukan anti. Kalau dicap anti, makin menjauh.

    6. Komunikasi tidak menghakimi?
    Tanya - Dengar - Validasi.
    Jangan langsung ceramah.
    Contoh: "Wajar khawatir Bu, banyak ibu juga takut demam. Boleh saya jelaskan sebentar?"

    7. Siapa komunikator?
    - Bidan/Kader yang ramah
    - Ustadzah / Ketua Pengajian (untuk isu halal)
    - Ibu sebaya yang sudah lengkap (testimoni)

    8. Media tepat?
    - Ibu muda: Video 30 detik / Status WA
    - Keluarga: Pengajian / Arisan
    - Paling ampuh: Pengingat WA personal H-1 + stiker jadwal di Buku KIA

    9. Follow-up?
    Lacak - Ingat - Jemput:
    1. Lacak dari kohort bayi
    2. WA personal dari kader
    3. Kalau 2x absen -> home visit, bukan dimarahi tapi dibantu.


    dini nur Azizah
    1b

    pertanyaan host

    1. Tahu bahaya DBD tapi tidak PSN?
    Karena merasa "tidak akan kena saya" + PSN dianggap repot. Tahu ≠ mau.

    2. Cakupan imunisasi beda wilayah?
    Karena akses & tokohnya beda. Bukan pengetahuan, tapi sistem & dukungan RT.

    3. Keluarga pengaruhi imunisasi?
    Keputusan bukan ibu saja, tapi nenek & suami. Kalau mereka tidak setuju, ibu tidak berani.

    4. WA pemberdayaan & hoax?
    Karena WA cepat + dipercaya. Bisa jadi tempat reminder, bisa juga tempat hoax menyebar. Kuncinya: kita harus masuk ke grupnya.

    5. Budaya diubah atau dimanfaatkan?
    Manfaatkan. Jangan lawan gotong royong, tempelkan PSN di dalamnya.

    6. Bedakan budaya vs misinformasi?
    Budaya = soal identitas (selamatan). Misinformasi = klaim kesehatan yang salah (vaksin bikin autis).

    7. Kenapa ceramah tidak cukup?
    Ceramah cuma ingat 10%. Orang berubah karena praktik, bukan karena didengar.

    8. Libatkan tokoh agama?
    Bagi tugas: Nakes jelaskan medisnya aman, Ustadz jelaskan agamanya baik. Jangan suruh ustadz jelaskan virus.

    9. Gotong royong strategi promkes?
    Karena ada malu sosial & kebanggaan kelompok. "Kalau semua ikut, saya malu kalau tidak."

    10. Ukur perilaku objektif?
    Jangan tanya "sudah PSN?", tapi cek jentik langsung (ABJ) dan lihat Buku KIA.

    BalasHapus
  89. Pertanyaan HOTS

    1. Mengapa masyarakat yang tahu bahaya DBD tetap tidak melakukan PSN?
    Karena pengetahuan saja tidak cukup. Perilaku juga dipengaruhi kebiasaan, lingkungan, fasilitas, dan dukungan sosial.
    2. Mengapa cakupan imunisasi berbeda antarwilayah?
    Karena akses pelayanan, kondisi sosial ekonomi, budaya, kepercayaan, informasi, dan dukungan keluarga tiap wilayah berbeda.
    3. Bagaimana keluarga memengaruhi keputusan imunisasi?
    Keluarga dapat mendukung dengan mengingatkan imunisasi, tetapi juga dapat menghambat jika memberikan informasi yang keliru.
    4. Bagaimana WhatsApp menjadi media pemberdayaan sekaligus misinformasi?
    WhatsApp memudahkan edukasi dan komunikasi, tetapi informasi yang tidak terverifikasi juga dapat menyebar dengan cepat.
    5. Apakah budaya harus diubah atau dimanfaatkan?
    Budaya positif sebaiknya dimanfaatkan, seperti gotong royong untuk PSN. Budaya yang berisiko diarahkan secara bertahap.
    6. Bagaimana membedakan budaya dengan misinformasi?
    Budaya adalah nilai atau kebiasaan masyarakat, sedangkan misinformasi adalah informasi yang tidak akurat dan perlu dikoreksi.
    7. Mengapa Promkes tidak cukup menggunakan ceramah?
    Karena perubahan perilaku membutuhkan praktik, dukungan lingkungan, pemberdayaan, dan pendampingan, bukan hanya pengetahuan.
    8. Bagaimana melibatkan tokoh agama tanpa menghilangkan dasar ilmiah?
    Tokoh agama memperkuat nilai dan dukungan sosial, sedangkan informasi medis tetap disampaikan berdasarkan bukti oleh tenaga kesehatan.
    9. Mengapa gotong royong menjadi strategi Promkes?
    Karena gotong royong merupakan modal sosial yang dapat diarahkan untuk kegiatan kesehatan seperti PSN.
    10. Bagaimana mengukur perubahan perilaku secara objektif?
    Dengan membandingkan data sebelum dan sesudah intervensi, seperti jumlah rumah positif jentik, kegiatan PSN, atau cakupan imunisasi.

    BalasHapus
  90. PERTANYAAN HOTS

    1.Karena pengetahuan tersebut belum menjadi kebiasaan, masih banyak masyarakat yang mengandalkan fogging dan belum rutin melakukan PSN.
    2.Karena setiap wilayah memiliki akses kesehatan, kondisi sosial ekonomi, pendidikan, budaya, dan informasi yang berbeda.
    3.Keluarga dapat memengaruhi keputusan orang tua melalui saran, dukungan, atau kepercayaan yang diberikan, jika keluarga mendukung imunisasi, banyak orang tua yang lebih yakin untuk mengimunisasi anaknya.
    4.Whatsapp dapat digunakan untuk berbagi informasi dan mengingatkan jadwal kesehatan, tetapi juga dapat menyebarkan informasi yang salah jika sumbernya tidak tepat.
    5.Budaya yang positif dapat dimanfaatkan, seperti gotong royong. Budaya yang menghambat kesehatan perlu diubah secara perlahan melalui edukasi.
    6.Nilai budaya berasal dari kebiasaan dan keyakinan masyarakat, sedangkan misinformasi adalah informasi yang tidak sesuai fakta.
    7.Karena ceramah hanya memberikan pengetahuan, sedangkan perubahan perilaku juga membutuhkan praktik, pendampingan, dan dukungan lingkungan.
    8.Tokoh agama dapat membantu menyampaikan pesan kesehatan melalui nilai agama, sedangkan informasi medis tetap berdasarkan penjelasan tenaga kesehatan.
    9.Karena gotong royong dapat meningkatkan kerja sama dan partisipasi masyarakat, seperti melakukan PSN bersama.
    10.Dengan melihat tindakan nyata dan indikator yang dapat diukur, misalnya jumlah rumah bebas jentik berkurang.

    BalasHapus
  91. KASUS 1 - PHBS
    1. Mengapa pengetahuan tinggi tetapi perilaku belum optimal? Adanya kesenjangan antara pengetahuan dan tindakan (kesadaran belum menjadi kebiasaan/rutinitas).
    2. Apa faktor sosialnya? Tekanan rutinitas pagi (anak buru-buru sekolah) dan norma lingkungan yang mewajarkan merokok di rumah.
    3. Apa faktor budayanya? Kebiasaan merokok di ruang tamu yang sudah dianggap wajar sejak dulu.
    4. Apakah perilaku merokok hanya masalah pengetahuan? Bukan. Ini juga melibatkan norma sosial, budaya, dan persepsi kenyamanan bersama.
    5. Apa yang dapat menjadi entry point intervensi? Pembentukan kebiasaan CTPS di sekolah/rumah serta edukasi rumah bebas asap rokok.
    6. Siapa opinion leader yang dapat dilibatkan? Tokoh masyarakat, ketua RT/RW, dan tokoh agama setempat.
    KASUS 2 - DBD
    1. Apa masalah utama? Masih tingginya tempat perindukan nyamuk akibat PSN mandiri/mingguan yang tidak berjalan.
    2. Apakah masalah utamanya kurang pengetahuan? Bukan, melainkan kurangnya konsistensi dan pemahaman bahwa fogging saja tidak cukup.
    3. Mengapa fogging belum menyelesaikan masalah? Fogging hanya membunuh nyamuk dewasa, tidak membunuh jentik nyamuk.
    4. Apa modal sosial yang tersedia? Kehadiran dan kepedulian warga yang tinggi saat kegiatan kerja bakti bersama.
    5. Bagaimana mengubah kerja bakti menjadi kegiatan PSN? Mengintegrasikan agenda pemantauan & pemberantasan jentik nyamuk rutin ke dalam kegiatan kerja bakti.
    6. Siapa stakeholder utama? Ketua RT/RW, Kader Jumantik, dan Puskesmas.
    7. Apa indikator keberhasilan program? Penurunan Angka Bebas Jentik (ABJ) dan penurunan kasus DBD.
    KASUS 3 - IMUNISASI
    1. Apa masalah perilaku? Orang tua menunda atau menghentikan imunisasi anak karena takut KIPI (demam).
    2. Apa masalah sosial? Pengaruh nasihat keluarga (nenek/orang tua) dan norma kelompok di grup WhatsApp.
    3. Apa masalah budayanya? Mitos/kepercayaan bahwa anak sebaiknya ditunggu sampai besar agar tubuhnya lebih kuat.
    4. Apa masalah komunikasinya? Maraknya kebingungan/kekhawatiran akibat informasi di media sosial dan pesan berantai WA.
    5. Apakah masalah tersebut semata-mata "anti-imunisasi"? Tidak, melainkan karena rasa takut akan KIPI dan kurang pemahaman penanganannya.
    6. Bagaimana melakukan komunikasi yang tidak menghakimi? Dengarkan kekhawatiran orang tua, validasi rasa sayang mereka pada anak, lalu jelaskan manfaat dan cara mengatasi KIPI dengan empati.
    7. Siapa yang harus menjadi komunikator? Bidan desa atau tenaga kesehatan (karena lebih dipercaya masyarakat).
    8. Media apa yang tepat? Konseling tatap muka (posyandu/kunjungan rumah) dan edukasi digital ringkas via grup WA.
    9. Bagaimana melakukan follow-up anak yang belum lengkap imunisasinya? Pelacakan (sweeping) oleh kader posyandu bersama bidan melalui kunjungan langsung ke rumah.

    BalasHapus
  92. PERTANYAAN HOTS
    1. Mengapa masyarakat yang mengetahui bahaya DBD tetap tidak melakukan PSN? Pengetahuan tidak otomatis menjadi tindakan karena adanya hambatan kebiasaan, persepsi risiko yang rendah (merasa aman selama belum sakit), dan anggapan bahwa pencegahan adalah tugas pemerintah (fogging).
    2. Mengapa cakupan imunisasi dapat berbeda antara wilayah? Dipengaruhi oleh ketimpangan akses fasilitas kesehatan, tingkat literasi digital, persepsi budaya lokal, serta kuat/lemahnya pengaruh keluarga dan tokoh masyarakat di wilayah tersebut.
    3. Bagaimana keluarga memengaruhi keputusan imunisasi? Keluarga (terutama senior/orang tua) memegang norma kepatuhan; nasihat atau kekhawatiran mereka terkait efek samping langsung memengaruhi tingkat kepercayaan orang tua bayi.
    4. Bagaimana WhatsApp dapat menjadi media pemberdayaan sekaligus sumber misinformasi? Menjadi wadah pemberdayaan saat digunakan untuk edukasi/koordinasi cepat dari tenaga kesehatan, namun menjadi sumber misinformasi karena kemudahan menyebarkan hoaks atau mitos tanpa penyaringan.
    5. Apakah budaya harus diubah atau justru dimanfaatkan? Dimanfaatkan. Mengubah budaya itu sulit, jadi nilai budaya positif (seperti gotong royong dan kepatuhan pada tokoh) diarahkan untuk mendukung perilaku sehat.
    Bagaimana membedakan nilai budaya dengan misinformasi? Nilai budaya adalah tradisi, norma sosial, atau kepercayaan kearifan lokal yang dianut masyarakat; sedangkan misinformasi adalah klaim faktual/medis yang salah dan bertentangan dengan bukti ilmiah.
    6. Mengapa promosi kesehatan tidak cukup menggunakan metode ceramah? Ceramah hanya bersifat satu arah dan menambah pengetahuan dasar, tetapi tidak mengubah norma sosial, kebiasaan, atau persepsi emosional masyarakat.
    7. Bagaimana cara melibatkan tokoh agama tanpa menjadikan pesan kesehatan kehilangan dasar ilmiahnya? Berikan pembekalan data ilmiah yang mudah dipahami kepada tokoh agama, lalu biarkan mereka menyampaikan pesan kesehatan tersebut menggunakan pendekatan ayat/bahasa agama yang relevan.
    8. Mengapa gotong royong dapat menjadi strategi promosi kesehatan? Gotong royong memanfaatkan norma sosial dan ikatan kebersamaan warga untuk menciptakan kontrol sosial positif serta mempercepat aksi massal (seperti PSN atau kerja bakti).
    9. Bagaimana mengukur perubahan perilaku secara objektif? Melakukan pemantauan langsung terhadap indikator fisik yang terukur, seperti Angka Bebas Jentik (ABJ), ketersediaan sabun di tempat cuci tangan, atau catatan cakupan imunisasi.

    BalasHapus
  93. Bagian 1, Pertanyaan Mahasiswa
    1. Mengapa pengetahuan tinggi tetapi perilaku belum optimal? Karena pengetahuan yang tinggi belum tentu membuat seseorang langsung menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Perilaku juga dipengaruhi oleh sikap, kebiasaan, motivasi, lingkungan, serta dukungan dan fasilitas 2. Apa faktor sosialnya? dukungan keluarga, pengaruh teman sebaya, lingkungan sekitar, norma atau kebiasaan masyarakat, tingkat pendidikan, dan kondisi ekonomi yang dapat memengaruhi perilaku seseorang.3.Apa faktor budayanya?kebiasaan, adat istiadat, kepercayaan, nilai-nilai, dan pola hidup masyarakat yang memengaruhi cara seseorang memahami dan menerapkan perilaku kesehatan dalam kehidupan sehari-hari.4.Apakah perilaku merokok hanya masalah pengetahuan?Tidak,perilaku merokok tidak hanya dipengaruhi oleh pengetahuan, tetapi juga kebiasaan, lingkungan, pengaruh teman, keluarga, serta faktor sosial dan budaya.5. Apa yang dapat menjadi entry point intervensi?CTPS: memastikan fasilitas cuci tangan tersedia dan selalu dilengkapi sabun, terutama di lokasi yang mudah dijangkau.
    Kebiasaan sebelum makan: membuat pengingat atau membiasakan CTPS sebagai rutinitas keluarga sebelum makan.
    Kawasan rumah bebas asap rokok: mengajak keluarga membuat kesepakatan untuk tidak merokok di dalam rumah.
    Pemberdayaan keluarga: melibatkan anggota keluarga untuk saling mengingatkan.
    Kegiatan masyarakat: mengintegrasikan pesan PHBS dalam Posyandu, pertemuan RT/RW, atau kegiatan warga.6. Siapa opinion leader yang dapat dilibatkan? Yang dapat dilibatkan antara lain ketua RT/RW, kader kesehatan, kepala desa, tokoh agama, tokoh masyarakat, guru, tenaga kesehatan, dan tokoh pemuda. Mereka dapat menjadi contoh perilaku sehat sekaligus membantu menyampaikan pesan kepada masyarakat.

    BalasHapus
  94. - BAGIAN 1 & 2 - Perilaku CTPS & Kebiasaan Sehat

    Pengetahuan vs Tindakan: Mengetahui manfaat tidak menjamin seseorang langsung bertindak. Buktinya, meski 91% paham pentingnya CTPS, baru 57% yang menerapkannya sebelum makan.

    Peran Keluarga: Pola hidup di rumah sangat menentukan. Anak sulit membiasakan CTPS jika orang tuanya sendiri tidak mencontohkannya.

    Pengaruh Budaya: Kebiasaan lokal yang diturunkan antar-generasi memegang peranan, seperti tradisi sekadar membilas tangan dengan air tanpa sabun.

    Masalah Adiksi: Perilaku merokok sulit dihentikan hanya dengan edukasi karena melibatkan faktor ketergantungan dan kebiasaan yang mengakar.

    Dukungan Sarana: Perlu penyediaan wadah cuci tangan, pasokan sabun, serta petunjuk pengingat di lokasi-lokasi strategis.

    Tokoh Kunci: Penggerak di lapangan mencakup pengurus RT/RW, perangkat desa/kelurahan, kader Posyandu, pemuka agama, tenaga pendidik, dan tokoh masyarakat.

    - BAGIAN 3 - Tantangan Imunisasi

    Isu Perilaku: Masih banyak anak yang belum menerima imunisasi secara rutin dan lengkap.

    Isu Sosial: Keputusan orang tua sangat dipengaruhi oleh dinamika keluarga dan paparan informasi lingkungan.

    Mitos & Pengaruh Senior: Adanya anggapan salah bahwa efek demam pasca-imunisasi itu berbahaya, ditambah dorongan dari anggota keluarga senior untuk menolak vaksin.

    Isu Komunikasi: Terjadi kesenjangan informasi. Sebanyak 61% orang tua mengandalkan media sosial, padahal mereka sebenarnya lebih yakin jika dijelaskan langsung oleh bidan.

    Kategori Kelompok: Orang tua yang menunda atau ragu tidak selalu tergolong kelompok anti-vaksin.

    Langkah Pendekatan: Terapkan prinsip dengarkan, pahami, jelaskan, dan dukung.

    Tindakan Darurat: Segera membawa anak ke fasilitas kesehatan jika muncul gejala berat yang mengkhawatirkan pasca-imunisasi.

    Komunikator Utama: Bidan memegang peran sentral karena tingkat kepercayaan masyarakat terhadap penjelasannya relatif lebih tinggi dibanding kader.

    Peran Media Digital: Media sosial sebaiknya dimanfaatkan secara optimal sebagai sarana edukasi resmi, bukan sekadar dianggap pemicu masalah.

    - JAWABAN PERTANYAAN HOST

    Faktor Perilaku: Dipengaruhi oleh habit, ketersediaan fasilitas, dorongan internal, serta kondisi sekitar.

    Variasi Antar-Wilayah: Disebabkan oleh ketimpangan fasilitas medis, aksesibilitas, latar belakang ekonomi, budaya, dan penerimaan informasi.

    Peran Keluarga: Dapat bertindak sebagai pendorong utama sekaligus penghambat penerimaan imunisasi.

    Fungsi Kader: Berperan dalam memberikan edukasi, menyampaikan pengingat jadwal, dan mengoordinasikan kegiatan lapangan.

    Pendekatan Budaya: Mengoptimalkan tradisi yang baik, serta perlahan mengubah kebiasaan yang berisiko bagi kesehatan.

    Perbedaan Konsep:
    Budaya: Nilai dan pola kebiasaan yang dianut masyarakat secara kolektif.
    Misinformasi: Informasi keliru atau tidak bersumber dari data valid.

    Penyebab Perilaku Kompleks: Karena tindakan seseorang dibentuk oleh perpaduan antara wawasan, fasilitas pendukung, habit, serta dorongan lingkungan.

    Peran Pemuka Agama: Meningkatkan rasa percaya masyarakat dan memperkuat bobot pesan kesehatan yang disampaikan.

    Modal Sosial PSN: Budaya gotong royong yang sudah ada di masyarakat bisa diarahkan langsung untuk aksi Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN).

    Metode Evaluasi: Lakukan pemantauan langsung, bandingkan kondisi sebelum dan sesudah intervensi, serta ukur melalui data konkrit (cakupan imunisasi, angka bebas jentik, dan partisipasi PSN).

    BalasHapus
  95. Bagian 2, Pertanyaan Mahasiswa
    1.Apa masalah utama?yaitu seseorang sudah mengetahui perilaku sehat, tetapi belum mampu menerapkannya secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari.2. Apakah masalah utamanya kurang pengetahuan?Tidak, masalah utamanya bukan kurang pengetahuan, melainkan pengetahuan yang sudah dimiliki belum diterapkan secara konsisten karena dipengaruhi oleh kebiasaan, lingkungan, teman sebaya, motivasi, dan faktor sosial budaya.3. Mengapa fogging belum menyelesaikan masalah?Karena fogging terutama bertujuan untuk mengendalikan nyamuk dewasa, sedangkan sumber masalah seperti jentik dan tempat penampungan air masih ada.4. Apa modal sosial yang tersedia?Modal sosial yang paling jelas adalah gotong royong dan partisipasi warga. Ketua RT menyampaikan bahwa warga biasanya hadir ketika kerja bakti diumumkan. Artinya, sudah ada kebiasaan bekerja bersama yang dapat dikembangkan menjadi kegiatan PSN.
    5. Bagaimana mengubah kerja bakti menjadi kegiatan PSN?memfokuskan kegiatan pada 3M Plus, seperti menguras, menutup, dan mendaur ulang tempat yang berpotensi menjadi sarang nyamuk serta membersihkan lingkungan secara rutin.6. Siapa stakeholder utama?puskesmas, kader kesehatan, pemerintah desa/kelurahan, RT/RW, tokoh masyarakat, dan warga setempat.7. Apa indikator keberhasilan program?meningkatnya partisipasi masyarakat dalam PSN, berkurangnya tempat perkembangbiakan nyamuk, dan menurunnya kasus DBD di lingkungan masyarakat.

    BalasHapus
  96. PERTANYAAN MAHASISWA 1-9
    1. Apa masalah perilaku?
    Orang tua belum melengkapi imunisasi anak, bisa karena takut efek samping, kurang informasi, lupa jadwal, atau merasa imunisasi belum diperlukan.

    2. Apa masalah sosial?
    Adanya pengaruh keluarga, teman, atau lingkungan yang menyebarkan informasi/pendapat negatif tentang imunisasi sehingga memengaruhi keputusan orang tua.

    3. Apa masalah budaya?
    Keyakinan atau kebiasaan tertentu dapat membuat imunisasi dianggap tidak perlu, bertentangan dengan kepercayaan, atau lebih percaya pada pengobatan tradisional.

    4. Apa masalah komunikasi?
    Informasi tentang imunisasi mungkin kurang jelas, menggunakan bahasa medis yang sulit dipahami, atau komunikasi tenaga kesehatan terasa menghakimi sehingga orang tua enggan bertanya.

    5. Apakah masalah tersebut semata-mata “anti-imunisasi”?
    Tidak. Anak yang belum lengkap imunisasinya tidak otomatis berarti orang tuanya anti-imunisasi. Bisa ada hambatan akses, ekonomi, lupa jadwal, takut efek samping, kurang informasi, atau kendala pelayanan.

    6. Bagaimana melakukan komunikasi yang tidak menghakimi?
    Dengarkan alasan orang tua terlebih dahulu, gunakan bahasa sederhana, validasi kekhawatirannya, lalu berikan informasi berdasarkan bukti tanpa menyalahkan atau memaksa.

    7. Siapa yang harus menjadi komunikator?
    Tenaga kesehatan seperti bidan, perawat, dokter, dan kader kesehatan, dengan melibatkan tokoh masyarakat atau keluarga yang dipercaya jika diperlukan.

    8. Media apa yang tepat?
    Media yang mudah dipahami dan sesuai dengan masyarakat, seperti WhatsApp, poster, video pendek, buku KIA, penyuluhan langsung, dan media sosial.

    9. Bagaimana melakukan follow-up anak yang belum lengkap imunisasinya?
    Identifikasi anak yang belum lengkap, cek riwayat imunisasinya, hubungi orang tua melalui kader/WhatsApp, berikan pengingat jadwal, lalu arahkan ke Posyandu atau fasilitas kesehatan untuk melanjutkan imunisasi sesuai jadwal catch-up yang berlaku.

    BalasHapus
  97. Diah Septia Nugrahani 1A
    1. Apa masalah perilaku?
    Masalah perilakunya adalah ibu memilih untuk menunda imunisasi anak karena menganggap demam setelah imunisasi sebagai tanda bahwa imunisasi tidak cocok. Selain itu, ada juga perilaku mengikuti informasi dari grup WhatsApp tanpa memastikan kebenarannya terlebih dahulu.

    2. Apa masalah sosial?
    Masalah sosialnya adalah adanya pengaruh dari lingkungan sekitar, terutama dari grup WhatsApp ibu-ibu. Informasi yang menyebar di lingkungan tersebut dapat memengaruhi keputusan orang tua dalam memberikan imunisasi kepada anak.

    3. Apa masalah budaya?
    Masalah budayanya adalah masih adanya kepercayaan bahwa anak sebaiknya menunggu sampai lebih besar agar tubuhnya lebih kuat sebelum imunisasi. Kebiasaan atau kepercayaan seperti ini bisa membuat orang tua ragu mengikuti jadwal imunisasi.

    4. Apa masalah komunikasi?
    Masalah komunikasinya adalah informasi yang diberikan belum tentu disampaikan dengan cara yang sesuai dengan kebutuhan ibu. Ibu lebih percaya ketika informasi disampaikan oleh bidan dibandingkan kader. Selain itu, informasi dari WhatsApp juga bisa menimbulkan salah pemahaman karena belum tentu berasal dari sumber yang terpercaya.

    5. Apakah masalah tersebut semata-mata “anti-imunisasi”?
    Menurut saya, tidak selalu. Ibu tersebut belum tentu benar-benar anti-imunisasi, tetapi bisa saja masih ragu, takut, atau kurang memahami tentang efek setelah imunisasi. Jadi, sebaiknya kita tidak langsung memberi label anti-imunisasi, tetapi mencari tahu dulu alasan dan kekhawatirannya.

    6. Bagaimana melakukan komunikasi yang tidak menghakimi?
    Caranya dengan mendengarkan dulu alasan dan kekhawatiran ibu tanpa langsung menyalahkan. Misalnya, kader bisa mengatakan, “Ibu khawatir karena anak demam setelah imunisasi, ya? Kita bahas sama-sama supaya ibu lebih paham.” Setelah itu baru diberikan penjelasan yang mudah dimengerti dan berdasarkan informasi kesehatan yang benar.

    7. Siapa yang harus menjadi komunikator?
    Komunikatornya bisa melibatkan bidan, kader posyandu, petugas puskesmas, dan tenaga kesehatan lainnya. Karena dalam kasus ini ibu lebih percaya kepada bidan, maka bidan bisa menjadi komunikator utama, sedangkan kader membantu dalam pendekatan dan tindak lanjut.

    8. Media apa yang tepat?
    Media yang digunakan bisa disesuaikan dengan kebiasaan masyarakat. Misalnya WhatsApp, poster, leaflet, video pendek, penyuluhan di posyandu, dan komunikasi langsung. Untuk grup WhatsApp, sebaiknya informasi yang dibagikan berasal dari sumber kesehatan yang jelas supaya tidak menimbulkan hoaks.

    9. Bagaimana melakukan follow-up anak yang belum lengkap imunisasinya?
    Kader atau petugas puskesmas bisa melakukan pendataan anak yang imunisasinya belum lengkap, kemudian menghubungi atau mengunjungi orang tuanya. Setelah itu ditanyakan kendalanya dan diberikan penjelasan mengenai pentingnya melanjutkan imunisasi. Orang tua juga bisa diarahkan ke posyandu atau puskesmas untuk mendapatkan jadwal imunisasi berikutnya.

    BalasHapus
  98. 1. Apa masalah perilaku?
    Keraguan, penolakan, atau menunda imunisasi sehingga cakupan imunisasi tidak lengkap.
    2. Apa masalah sosial?
    Pengaruh keluarga, teman, tokoh masyarakat, serta informasi yang salah di lingkungan sekitar.
    3. Apa masalah budaya?
    Adanya kepercayaan, mitos, atau kebiasaan tertentu yang memengaruhi penerimaan imunisasi.
    4. Apa masalah komunikasi?
    Informasi yang kurang jelas, hoaks/misinformasi, serta komunikasi tenaga kesehatan yang kurang sesuai dengan pemahaman masyarakat.
    5. Apakah masalah tersebut semata-mata “anti-imunisasi”?
    Tidak. Bisa disebabkan oleh keraguan, kurang informasi, akses, pengalaman buruk, ketakutan terhadap efek samping, maupun faktor sosial dan budaya.
    6. Bagaimana melakukan komunikasi yang tidak menghakimi?
    Dengarkan alasan mereka, gunakan bahasa sederhana, validasi kekhawatiran, lalu berikan informasi berdasarkan fakta tanpa menyalahkan.
    7. Siapa yang harus menjadi komunikator?
    Tenaga kesehatan, terutama bidan, perawat, dokter, dan petugas puskesmas, dengan dukungan kader serta tokoh masyarakat yang dipercaya.
    8. Media apa yang tepat?
    Media yang mudah dijangkau seperti WhatsApp, media sosial, poster, video pendek, penyuluhan langsung, dan komunikasi tatap muka.
    9. Bagaimana melakukan follow-up anak yang belum lengkap imunisasinya?
    Identifikasi anak yang belum lengkap, lakukan pengingat melalui kader/WhatsApp, kunjungan bila diperlukan, lalu arahkan ke fasilitas kesehatan untuk melanjutkan imunisasi sesuai jadwal.


    BalasHapus
  99. 1. apa masalah perilaku?
    masih ada orang tua yang nunda, nolak, atau tidak melengkapi imunisasi anak karena kurang informasi, takut efek samping, atau merasa imunisasi tidak diperlukan


    2. apa masalah sosial?
    terjadi pengaruh keluarga, lingkungan, dan kelompok sosial terhadap keputusan orang tua. Informasi atau pengalaman dari teman dan media sosial juga dapat memengaruhi kepercayaan terhadap imunisasi


    3. apa masalah budaya?
    adanya nilai, kepercayaan, kebiasaan, atau pengalaman turun-temurun yang memengaruhi pandangan orang tua terhadap imunisasi. Karena itu, petugas perlu memahami latar belakang masyarakat sebelum memberikan edukasi


    4. apa masalah komunikasi?
    informasi tentang imunisasi mungkin belum disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami. selain itu, komunikasi satu arah, penggunaan istilah medis, atau sikap petugas yang terkesan menghakimi dapat membuat orang tua enggan berdiskusi


    5. apakah masalah tersebut semata-mata “anti-imunisasi”?
    tidak selalu. ortu yang belum mengimunisasi anaknya bisa memiliki berbagai alasan, seperti kurang informasi, takut efek samping, akses pelayanan yang sulit, pengalaman buruk, pengaruh lingkungan, atau keraguan terhadap informasi yang diterima. jadi, penyebabnya perlu digali terlebih dahulu.


    6. bagaimana melakukan komunikasi yang tidak menghakimi?
    dengarkan alasan dan kekhawatiran orang tua terlebih dahulu, jangan langsung menyalahkan. gunakan bahasa sederhana, berikan informasi berdasarkan fakta, validasi kekhawatiran mereka tanpa membenarkan informasi yang keliru, lalu ajak berdiskusi untuk menentukan langkah yang tepat


    7. siapa yang harus menjadi komunikator?
    komunikator utama dapat berasal dari tenaga kesehatan, seperti dokter, bidan, perawat, atau petugas puskesmas. kader kesehatan dan tokoh masyarakat juga dapat dilibatkan karena lebih dekat dengan masyarakat dan dapat membantu membangun kepercayaan


    8. media apa yang tepat?
    media disesuaikan dengan karakteristik masyarakat. menggunakan poster, leaflet, video pendek, media sosial, penyuluhan langsung, atau diskusi kelompok. untuk masyarakat dengan literasi kesehatan yang rendah, media visual dan bahasa sederhana lebih mudah digunakan


    9. bagaimana melakukan follow-up anak yang belum lengkap imunisasinya?
    petugas melakukan pendataan anak yang imunisasinya belum lengkap, mengecek riwayat imunisasi, menghubungi atau mengunjungi orang tua, mencari tahu hambatannya, memberikan edukasi sesuai kebutuhannya, lalu mengarahkan ke fasilitas kesehatan untuk melanjutkan imunisasi sesuai jadwal. lalu, status imunisasi perlu dipantau kembali agar tidak terlewat

    BalasHapus
  100. 1. Apa masalah perilaku?
    Orang tua ragu melanjutkan imunisasi karena anak mengalami demam dan takut KIPI.
    2. Apa masalah sosial?
    Adanya pengaruh keluarga, kader, dan kelompok ibu di WhatsApp terhadap keputusan orang tua.
    3. Apa masalah budaya?
    Adanya kepercayaan bahwa anak sebaiknya menunggu besar agar tubuhnya lebih kuat sebelum imunisasi.
    4. Apa masalah komunikasi?
    Misinformasi di media sosial dan kurangnya komunikasi dua arah antara petugas kesehatan dan orang tua.
    5. Apakah masalah tersebut semata-mata "anti-imunisasi"?
    Tidak selalu. Ibu lebih tepat dipandang sebagai orang tua yang ragu dan membutuhkan informasi yang benar, bukan langsung dianggap anti-imunisasi.
    Komunikasi tidak menghakimi:
    Dengarkan kekhawatiran ibu, pahami sumber informasinya, validasi perasaannya, lalu jelaskan fakta dan langkah yang harus dilakukan.
    Listen → Understand → Explain → Support → Follow up.
    7. Siapa yang harus menjadi komunikator?
    Bidan/tenaga kesehatan sebagai pemberi informasi utama, dibantu kader sebagai pendamping.
    8. Media apa yang tepat?
    WhatsApp, poster, leaflet, video pendek, dan konseling langsung.
    9. Bagaimana melakukan follow-up anak yang belum lengkap imunisasinya?
    Identifikasi anak yang belum lengkap, cari penyebabnya, berikan edukasi, ingatkan jadwal melalui kader/WhatsApp, dan lakukan kunjungan ulang bila diperlukan.

    BalasHapus
  101. 1. Perilaku: Ibu menunda imunisasi lanjutan karena anak demam.
    2. Sosial:Nenek dan grup WhatsApp memengaruhi keputusan ibu.
    3. Budaya: Ada keyakinan bahwa anak harus "kuat dulu" dan bahwa demam tanda vaksin tidak cocok.
    4. Komunikasi:Ibu belum dibekali informasi tentang demam pasca-imunisasi, kader kurang dipercaya, dan hoaks lebih cepat menyebar.
    5. Anti-imunisasi?Bukan. Ini keraguan (vaccine hesitancy) karena takut dan terpengaruh lingkungan.
    6. Tanpa menghakimi:Validasi kekhawatiran ibu, dengarkan dulu, jelaskan sederhana, hargai peran nenek, lalu beri pilihan.
    7. Komunikator: Bidan sebagai sumber utama, kader sebagai pendamping, dan nenek atau ibu lain dilibatkan.
    8. Media:Konseling tatap muka, Buku KIA, leaflet, dan pesan singkat di WhatsApp.
    9. Follow-up:Cek Buku KIA dan register, kader kunjungi rumah, bidan periksa anak, lalu jadwalkan imunisasi kejar dan beri pengingat.

    BalasHapus
  102. - BAGIAN 1 & 2 - Perilaku CTPS & Kebiasaan Sehat
    Pengetahuan vs Tindakan: Mengetahui manfaat tidak menjamin seseorang langsung bertindak. Buktinya, meski 91% paham pentingnya CTPS, baru 57% yang menerapkannya sebelum makan.

    Peran Keluarga: Pola hidup di rumah sangat menentukan. Anak sulit membiasakan CTPS jika orang tuanya sendiri tidak mencontohkannya.

    Pengaruh Budaya: Kebiasaan lokal yang diturunkan antar-generasi memegang peranan, seperti tradisi sekadar membilas tangan dengan air tanpa sabun.

    Masalah Adiksi: Perilaku merokok sulit dihentikan hanya dengan edukasi karena melibatkan faktor ketergantungan dan kebiasaan yang mengakar.

    Dukungan Sarana: Perlu penyediaan wadah cuci tangan, pasokan sabun, serta petunjuk pengingat di lokasi-lokasi strategis.

    Tokoh Kunci: Penggerak di lapangan mencakup pengurus RT/RW, perangkat desa/kelurahan, kader Posyandu, pemuka agama, tenaga pendidik, dan tokoh masyarakat.

    - BAGIAN 3 - Tantangan Imunisasi

    Isu Perilaku: Masih banyak anak yang belum menerima imunisasi secara rutin dan lengkap.

    Isu Sosial: Keputusan orang tua sangat dipengaruhi oleh dinamika keluarga dan paparan informasi lingkungan.

    Mitos & Pengaruh Senior: Adanya anggapan salah bahwa efek demam pasca-imunisasi itu berbahaya, ditambah dorongan dari anggota keluarga senior untuk menolak vaksin.

    Isu Komunikasi: Terjadi kesenjangan informasi. Sebanyak 61% orang tua mengandalkan media sosial, padahal mereka sebenarnya lebih yakin jika dijelaskan langsung oleh bidan.

    Kategori Kelompok: Orang tua yang menunda atau ragu tidak selalu tergolong kelompok anti-vaksin.

    Langkah Pendekatan: Terapkan prinsip dengarkan, pahami, jelaskan, dan dukung.

    Tindakan Darurat: Segera membawa anak ke fasilitas kesehatan jika muncul gejala berat yang mengkhawatirkan pasca-imunisasi.

    Komunikator Utama: Bidan memegang peran sentral karena tingkat kepercayaan masyarakat terhadap penjelasannya relatif lebih tinggi dibanding kader.

    Peran Media Digital: Media sosial sebaiknya dimanfaatkan secara optimal sebagai sarana edukasi resmi, bukan sekadar dianggap pemicu masalah.

    - JAWABAN PERTANYAAN HOST

    Faktor Perilaku: Dipengaruhi oleh habit, ketersediaan fasilitas, dorongan internal, serta kondisi sekitar.

    Variasi Antar-Wilayah: Disebabkan oleh ketimpangan fasilitas medis, aksesibilitas, latar belakang ekonomi, budaya, dan penerimaan informasi.

    Peran Keluarga: Dapat bertindak sebagai pendorong utama sekaligus penghambat penerimaan imunisasi.

    Fungsi Kader: Berperan dalam memberikan edukasi, menyampaikan pengingat jadwal, dan mengoordinasikan kegiatan lapangan.

    Pendekatan Budaya: Mengoptimalkan tradisi yang baik, serta perlahan mengubah kebiasaan yang berisiko bagi kesehatan.

    Perbedaan Konsep:
    Budaya: Nilai dan pola kebiasaan yang dianut masyarakat secara kolektif.
    Misinformasi: Informasi keliru atau tidak bersumber dari data valid.

    Penyebab Perilaku Kompleks: Karena tindakan seseorang dibentuk oleh perpaduan antara wawasan, fasilitas pendukung, habit, serta dorongan lingkungan.

    Peran Pemuka Agama: Meningkatkan rasa percaya masyarakat dan memperkuat bobot pesan kesehatan yang disampaikan.

    Modal Sosial PSN: Budaya gotong royong yang sudah ada di masyarakat bisa diarahkan langsung untuk aksi Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN).

    Metode Evaluasi: Lakukan pemantauan langsung, bandingkan kondisi sebelum dan sesudah intervensi, serta ukur melalui data konkrit (cakupan imunisasi, angka bebas jentik, dan partisipasi PSN).

    BalasHapus
  103. ​1. Masalah Perilaku
    jawaban :
    - ​Ibu menunda atau kapok imunisasi anak karena panik anak demam.
    ​- Orang tua gampang lupa jadwal posyandu (22%) dan gampang kemakan omongan media sosial atau keluarga.
    ​2. Masalah Sosial
    jawaban:
    ​- Ada tekanan dari orang tua/nenek (18%) yang nyuruh imunisasinya distop dulu.
    ​-Terpengaruh norma kelompok atau obrolan grup WA ibu-ibu yang bilang tunggu anak gedean aja baru diimunisasi.
    ​3. Masalah Budaya
    jawaban:
    ​-Masih ada kepercayaan tua kalau bayi kecil itu ringkih, jadi dianggap lebih aman diimunisasi pas udah agak besar.
    ​-Patuh banget sama omongan orang tua/senior di keluarga, jadi keputusan ibu bisa berubah kalau neneknya udah ngelarang.
    ​4. Masalah Komunikasi
    jawaban:
    ​-Pesan hoaks dan mitos cepat banget nyebar di grup WA (61% dapat info dari medsos).
    -​Penjelasan dari kader kesehatan kurang dapet trust dari warga dibanding omongan bidan.
    5. Apakah masalah ini cuma karena "anti-imunisasi"?
    jawaban:
    Tidak. Ini bukan sekadar anti-imunisasi, tapi lebih ke rasa takut atau panik saat anak demam/KIPI (37%), lupa jadwal (22%), sama ribet di akses lokasi (15%).
    6. Cara Komunikasi yang Tidak Menghakimi
    jawaban:
    -Pakai pendekatan empati dulu, jangan langsung disalahin. Misal: "Wajar kok bu kalau panik liat si kecil demam, saya juga bakal ngerasa gitu..."
    Jelaskan pelan-pelan kalau demam itu tanda imun tubuhnya lagi bekerja, bukan karena bahaya.
    -Jangan memojokkan omongan neneknya atau menyudutkan pesan di grup WA.
    7. Siapa Komunikator yang Pas?
    jawaban:
    -Bidan/Nakes: Berperan sebagai penjelas utama dari sisi medis, soalnya warga lebih percaya sama nakes.
    -Kader: Berperan sebagai jembatan yang ngajak ibu buat mau ngobrol langsung sama bidan.
    8. Media yang Tepat
    jawaban:
    - Ngobrol langsung (konseling interpersonal) pas posyandu atau pas main ke rumahnya.
    Pakai poster/lembar balik yang ada gambarnya biar jelas.
    - Kirim infografis singkat di grup WA Posyandu buat meluruskan kabar miring.
    9. Langkah Follow-Up Buat Anak yang Imunisasinya Bolong
    jawaban:
    -Cek ulang data buku KIA buat nemuin anak mana aja yang belum lengkap imunisasinya.
    -Bidan dan kader jalan bareng buat sweeping atau datang langsung ke rumahnya (home visit).
    -Kirim reminder via WA beberapa hari sebelum jadwal imunisasi berikutnya.

    BalasHapus

  104. Bagian 3

    1.Apa masalah perilaku?masih kurangnya kebiasaan masyarakat dalam melakukan PSN secara rutin, sehingga tempat perkembangbiakan nyamuk masih banyak ditemukan.2. Apa masalah sosial?kurangnya partisipasi dan kerja sama masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan serta melakukan PSN secara rutin.3. Apa masalah budaya?kebiasaan masyarakat yang belum konsisten menjaga kebersihan dan masih mengandalkan fogging sebagai cara utama untuk mencegah DBD.4. Apa masalah komunikasi?informasi tentang pentingnya PSN dan 3M Plus belum tersampaikan secara efektif dan merata kepada masyarakat.5. Apakah ini semata-mata “anti-imunisasi”?Tidak, masalah ini bukan semata-mata anti-imunisasi, tetapi juga dipengaruhi oleh kurangnya informasi, kepercayaan, lingkungan, dan pemahaman masyarakat tentang imunisasi.6. Bagaimana komunikasi yang tidak menghakimi?mendengarkan pendapat masyarakat, menghargai kepercayaan mereka, menggunakan bahasa yang sederhana, dan membe7. Siapa yang harus menjadi komunikator?tenaga kesehatan, kader kesehatan, tokoh masyarakat, tokoh agama, serta pihak sekolah atau pemerintah setempat yang dipercaya masyarakat.8. Media apa yang tepat?poster, leaflet, media sosial, video edukasi, serta penyuluhan langsung yang mudah dipahami dan sesuai dengan kondisi masyarakat.9. Bagaimana melakukan follow-up anak yang belum lengkap imunisasinya?mendata anak yang belum lengkap imunisasinya, menghubungi orang tua, memberikan edukasi, lalu mengarahkan ke puskesmas untuk melengkapi imunisasi sesuai jadwal.

    BalasHapus
  105. Diah Septia Nugrahani 1A
    1. Mengapa pengetahuan tinggi tetapi perilaku belum optimal?
    Karena ada gap antara tahu teori dan menjadikannya kebiasaan otomatis (knowledge-to-action gap). Pengetahuan cuma menyentuh aspek kognitif, sementara perilaku dipengaruhi oleh faktor lingkungan, ketersediaan sarana (misalnya punya wastafel tapi sabun habis atau cuma 61%), pembiasaan, serta situasi praktis sehari-hari seperti terburu-buru.

    2. Apa faktor sosialnya?
    Pengawasan dan peran keluarga: Ibu kesulitan mengontrol kebiasaan anak saat kondisi terburu-buru pagi hari.
    Konformitas dan tekanan sosial: Adanya anggapan merokok di ruang tamu itu wajar dan "tidak ada yang merasa terganggu", sehingga anggota keluarga lain sungkan menegur bapak demi menjaga keharmonisan rumah tangga.

    3. Apa faktor budayanya?
    Normalisasi rokok: Merokok di ruang tamu sudah dianggap tradisi atau bagian dari keramahan/kebiasaan turun-temurun ("sudah biasa dari dulu").
    Budaya permisif: Masyarakat atau anggota keluarga cenderung memaklumi paparan asap rokok dan menganggapnya bukan ancaman langsung yang mendesak.

    4. Apakah perilaku merokok hanya masalah pengetahuan?
    Bukan. Merokok melibatkan adiksi zat nikotin secara biologis, kebiasaan psikologis untuk relaksasi/mengatasi stres, serta faktor sosial-budaya di mana merokok dianggap simbol maskulinitas atau media sosialisasi yang lumrah di dalam rumah.

    5. Apa yang dapat menjadi entry point intervensi?
    Jalur sekolah dan anak: Program cuci tangan serentak sebelum jam makan atau masuk kelas untuk membangun pembiasaan (habituation) pada anak-anak.
    Posyandu / PKK: Edukasi berbasis keluarga yang menyasar ibu-ibu untuk pengingat CTPS di rumah dan kesepakatan area tanpa rokok di dalam rumah demi kesehatan balita/anak.
    Penyediaan sarana praktis: Menempatkan sabun tepat di samping fasilitas cuci tangan agar mudah dijangkau saat buru-buru.

    6. Siapa opinion leader yang dapat dilibatkan?
    Ketua RT/RW dan Kepala Dusun: Untuk membuat kesepakatan sosial atau komitmen lingkungan "Rumah Bebas Asap Rokok".
    Kader Posyandu dan Penggerak PKK: Sebagai penggerak edukasi keluarga dan pemantauan CTPS serta PSN di tingkat rumah tangga.
    Guru/Kepala Sekolah SD: Figur otoritas yang efektif menanamkan kebiasaan CTPS langsung ke anak-anak.
    Tokoh Agama / Tokoh Masyarakat: Untuk memberi contoh langsung bahwa menjaga kebersihan dan tidak membahayakan perokok pasif adalah tanggung jawab moral bersama.

    BalasHapus
  106. 1. Apa masalah perilaku?
    Orang tua menunda atau tidak melanjutkan imunisasi anak. Data kasus menunjukkan 18% anak imunisasinya belum lengkap dan 4% tidak pernah diimunisasi. Perilaku ini dipicu rasa takut terhadap KIPI (37%) dan lupa jadwal (22%). Sang ibu juga menghentikan imunisasi lanjutan setelah anaknya demam.
    2. Apa masalah sosial?
    Keputusan orang tua dipengaruhi keluarga. Ibu dari si ibu menyarankan agar imunisasi tidak diteruskan dulu, dan 18% orang tua terpengaruh keluarga.
    Grup WhatsApp ibu-ibu menyebarkan pesan yang menganjurkan menunggu anak besar.
    61% orang tua mendapat informasi dari media sosial.
    Kader belum cukup dipercaya, karena ibu lebih percaya penjelasan bidan.
    3. Apa masalah budaya?
    Ada kepercayaan bahwa demam setelah imunisasi berarti imunisasi berbahaya atau tidak cocok. Ada juga anggapan bahwa anak lebih baik menunggu besar supaya tubuhnya kuat. Selain itu, nasihat orang tua atau nenek dianggap otoritatif dan sulit dibantah. Nilai menghormati keluarga ini sebenarnya positif, tetapi di sini justru menjadi penghambat.
    4. Apa masalah komunikasi?
    Reaksi yang mungkin muncul setelah imunisasi, seperti demam, tampaknya tidak dijelaskan dengan cukup sebelumnya. Orang tua jadi mudah panik dan salah menafsirkan.
    Penjelasan kader belum meyakinkan.
    Informasi keliru di WhatsApp lebih cepat menyebar daripada informasi resmi.
    Kekhawatiran orang tua belum didengarkan dan ditindaklanjuti.
    5. Apakah masalahnya semata-mata "anti-imunisasi"?
    Bukan. Sebanyak 78% anak sudah imunisasi lengkap dan hanya 4% yang tidak pernah imunisasi. Hambatannya beragam: takut KIPI, lupa jadwal, sulit akses (15%), pengaruh keluarga, dan misinformasi. Kalimat sang ibu, "jangan diteruskan dulu", menunjukkan keraguan dan penundaan, bukan penolakan. Kelompok ini masih bisa dijangkau dengan komunikasi yang tepat. Melabeli mereka "anti-imunisasi" berarti menstigma dan menutup pintu dialog.
    6. Bagaimana melakukan komunikasi yang tidak menghakimi? gunakan prinsip Listen - Understand - Explain - Support - follow up
    7. Siapa yang harus menjadi komunikator?
    Sumber medis utamanya adalah bidan atau tenaga kesehatan Puskesmas, karena paling dipercaya dalam kasus ini. Kader berperan sebagai pendamping yang dekat dengan warga, dan sebaiknya dilatih agar lebih percaya diri. Keluarga berpengaruh seperti nenek juga perlu dilibatkan langsung dalam konseling. Tokoh masyarakat atau tokoh agama dapat memperkuat norma sosial yang mendukung imunisasi.
    8. Media apa yang tepat?
    Konseling tatap muka oleh bidan di Posyandu atau Puskesmas, sebagai media utama untuk mengatasi rasa takut.
    Grup WhatsApp yang dikelola kader dan bidan, berisi informasi benar dan pengingat jadwal. Media ini bisa melawan misinformasi karena 61% orang tua memang mengakses informasi lewat media sosial.
    Leaflet atau poster tentang KIPI dan jadwal imunisasi, ditambah kartu atau buku KIA sebagai pengingat.
    Kunjungan rumah untuk keluarga yang ragu.
    9. Bagaimana melakukan follow-up anak yang belum lengkap imunisasinya?
    Data nama dan alamat anak yang belum lengkap (18%) dan yang belum pernah imunisasi (4%), dengan mencocokkan buku KIA dan catatan Puskesmas.
    Identifikasi alasan tiap keluarga: takut KIPI, lupa jadwal, sulit akses, atau pengaruh keluarga.
    Beri pengingat jadwal lewat WhatsApp atau telepon, dan pastikan jadwal berikutnya jelas.
    Lakukan kunjungan rumah oleh kader atau bidan. Libatkan pengambil keputusan di keluarga, misalnya nenek.
    Tawarkan imunisasi susulan yang mudah dijangkau, seperti Posyandu atau jadwal yang lebih fleksibel.
    Pantau dan catat hasilnya secara berkala sampai status imunisasi anak lengkap.

    BalasHapus
  107. Sri Nurlaila TK.1A
    - Kasus PHBS
    1. Mengapa pengetahuan tinggi tetapi perilaku belum optimal?
    Karena pengetahuan saja belum cukup untuk mengubah perilaku. Kebiasaan, lingkungan, kenyamanan, fasilitas, dan pengaruh orang sekitar juga memengaruhi perilaku.
    2. Apa faktor sosialnya?
    Faktor sosialnya antara lain kebiasaan keluarga, pengaruh anggota keluarga, teman, dan norma lingkungan. Contohnya, kebiasaan merokok di ruang tamu dianggap biasa karena sudah dilakukan sejak lama.
    3. Apa faktor budayanya?
    Faktor budayanya adalah kebiasaan yang sudah berlangsung lama dan dianggap normal oleh masyarakat, seperti merokok di dalam rumah dan tidak terbiasa melakukan PSN secara rutin.
    4. Apakah perilaku merokok hanya masalah pengetahuan?
    Tidak. Perilaku merokok juga dipengaruhi oleh kebiasaan, lingkungan sosial, norma keluarga, ketergantungan, serta anggapan bahwa merokok di dalam rumah merupakan hal yang biasa.
    5. Apa yang dapat menjadi entry point intervensi?
    Entry point dapat dimulai dari perilaku yang paling mudah diubah, seperti membiasakan CTPS dengan sabun, menyediakan sabun di tempat cuci tangan, membuat jadwal PSN, dan menciptakan aturan rumah bebas asap rokok.
    6. Siapa opinion leader yang dapat dilibatkan?
    Dapat melibatkan ketua RT/RW, tokoh masyarakat, tokoh agama, kader kesehatan, guru, dan tenaga kesehatan untuk memberikan contoh serta mengajak masyarakat menerapkan PHBS.

    Kasus DBD
    - 1. Apa masalah utama?
    Tingginya kasus DBD di RW 03 (15 kasus) akibat tingginya tempat perindukan nyamuk (54 dari 200 rumah positif jentik) dan belum rutinnya kegiatan PSN mandiri. 
    2. Apakah masalah utamanya kurang pengetahuan?
    Bukan. Warga sudah paham dan mau ikut kerja bakti, tetapi belum menjadikannya kebiasaan rutin mingguan serta masih menganggap fogging saja sudah cukup. 
    3. Mengapa fogging belum menyelesaikan masalah?
    Fogging hanya membunuh nyamuk dewasa, sedangkan jentik di ember terbuka dan barang bekas tetap hidup dan menetas. 
    4. Apa modal sosial yang tersedia?
    Tingginya jiwa gotong royong warga saat ada pengumuman kerja bakti serta kepemimpinan Ketua RT/RW yang aktif menggerakkan warga. 
    5. Bagaimana mengubah kerja bakti menjadi kegiatan PSN?
    Menerapkan program 1 Rumah 1 Jumantik (pemeriksaan mandiri tiap minggu), mengintegrasikan fokus PSN ke agenda kerja bakti, dan membuat sistem pemantauan rutin oleh kader.
    6. Siapa stakeholder utama?
    Ketua RT/RW, Kader PKK/Jumantik, warga RW 03, Puskesmas, dan Kelurahan Harapan Jaya. 
    7. Apa indikator keberhasilan program?
    Kenaikan Angka Bebas Jentik (kurang lebih 95%), penurunan kasus DBD di RW 03, dan meningkatnya partisipasi rumah yang rutin melakukan PSN mingguan.

    BalasHapus
  108. Shafa Aina Firdausia 1A P3.73.36.1.26.040

    Kasus 1
    1. Pengetahuan tinggi tidak serta-merta membentuk perilaku karena adanya hambatan ketersediaan sarana pendukung (hanya 61% memiliki sabun), faktor kebiasaan, serta persepsi kepraktisan waktu di tingkat domestik.
    2. Adanya pemakluman kolektif terhadap perilaku merokok di ruang komunal serta ketiadaan sanksi sosial atau pengawasan norma kelompok di tingkat rumah tangga.
    3. Normalisasi rokok sebagai simbol keramahan dan tradisi jamuan tamu, dipadukan dengan pola asuh permisif terhadap kebiasaan cuci tangan anak saat terburu-buru.
    4. Bukan, melainkan masalah kecanduan nikotin, konstruksi kebiasaan menahun, dan kuatnya penerimaan norma kultural setempat.
    5. Pemberdayaan sekolah dan guru untuk intervensi cuci tangan anak, serta momentum arisan atau pengajian rukun warga untuk kampanye rumah bebas asap rokok.
    6. Kepala keluarga, tokoh agama, ketua rukun tetangga, dan kader pemberdayaan kesejahteraan keluarga.
    7.
    Kasus 2
    1. Terjadinya penularan DBD yang tinggi akibat tingginya densitas jentik nyamuk dan rendahnya PSN mandiri di lingkungan warga.
    2. Bukan kurang pengetahuan, melainkan adanya persepsi keliru bahwa tindakan pengasapan merupakan solusi tuntas pengendalian nyamuk.
    3. Pengasapan hanya membunuh nyamuk dewasa secara temporer tanpa mengeliminasi jentik di penampungan air dan barang bekas.
    4. Budaya kerja bakti dan gotong royong warga yang sudah mapan dan rutin dihadiri secara komunal.
    5. Mereorientasi agenda kerja bakti dari membersihkan fasilitas umum luar ruang menjadi gerakan serentak pemberantasan jentik ke dalam rumah masing-masing.
    6. Ketua rukun tetangga, ketua rukun warga, koordinator juru pemantau jentik, dan petugas sanitarian puskesmas.
    7. Angka bebas jentik mencapai minimal 95% dan penurunan kurva insiden kasus DBD hingga nol di wilayah tersebut.

    Kasus 3
    1. Penundaan atau penghentian imunisasi lanjutan akibat ketakutan terhadap kejadian ikutan pascaimunisasi.
    2. Dominasi pengaruh anggota keluarga senior (nenek) dalam pengambilan keputusan medis anak serta paparan misinformasi di grup daring.
    3. Kepercayaan tradisional bahwa demam pascaimunisasi berbahaya dan anggapan imunisasi alamiah lebih aman dibanding vaksin.
    4. Komunikasi risiko terkait kejadian ikutan pascaimunisasi yang minim dari tenaga medis serta merebaknya pesan berantai tanpa validasi ilmiah di WhatsApp.
    5. Bukan murni anti-imunisasi secara ideologis, melainkan keraguan vaksin yang dipicu kekhawatiran reaksi demam dan minimnya edukasi tatalaksana.
    6. Komunikasi persuasif dengan teknik mendengarkan aktif, memvalidasi kekhawatiran orang tua, lalu menjelaskan mekanisme demam sebagai respons imun normal.
    7. Bidan desa atau tenaga kesehatan profesional yang memiliki legitimasi klinis dan tingkat kepercayaan tertinggi di mata masyarakat.
    8. Konseling tatap muka interpersonal saat posyandu, didukung infografis ringkas dan video testimoni yang disalurkan melalui grup pesan singkat.
    9. Pelacakan sasaran berbasis nama dan alamat oleh kader, diikuti kunjungan rumah secara persuasif bersama bidan sebelum jadwal imunisasi berikutnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Shafa Aina 1A P3.73.36.1.26.040
      1. Persepsi risiko rendah dan efikasi diri minim; masyarakat menganggap DBD bukan ancaman mendesak dan merasa PSN melelahkan serta menjadi tanggung jawab pemerintah.
      2. Ketimpangan akses geografis, fasilitas rantai dingin, ketersediaan tenaga kesehatan, prioritas anggaran daerah, serta perbedaan tingkat literasi lokal.
      3. Keluarga berperan sebagai penentu keputusan melalui figur dominan seperti kepala keluarga atau nenek, pertimbangan kekhawatiran efek samping, dan riwayat pengalaman medis keluarga.
      4. WhatsApp memberdayakan lewat kecepatan koordinasi komunitas, namun memicu misinformasi akibat ruang gema dan tingginya rasa percaya pada pesan dari lingkaran dekat tanpa verifikasi.
      5. Budaya dimanfaatkan dan diselaraskan; mengubah budaya secara frontal memicu resistensi, sehingga nilai lokal dijadikan sarana penyampaian sementara praktik berisiko direkayasa ulang.
      6. Nilai budaya berkaitan dengan etika, identitas sosial, dan norma relasional, sedangkan misinformasi adalah klaim fakta empiris yang keliru dan bertentangan dengan bukti ilmiah.
      7. Ceramah bersifat pasif satu arah; metode ini hanya menaikkan pengetahuan tanpa melatih keterampilan, membangun efikasi diri, atau memengaruhi norma sosial komunitas.
      8. Kolaborasi pembagian peran; tenaga kesehatan mengawal substansi ilmiah medis, sementara tokoh agama memperkuat legitimasi moral dan teologis tanpa mengubah fakta klinis.
      9. Mengoptimalkan modal sosial; gotong royong membagi beban kerja fisik, menumbuhkan kontrol sosial antartetangga, dan mengubah perilaku sehat menjadi norma kolektif.
      10. Menggunakan indikator proksi dan observasi langsung yang tervalidasi, seperti audit jentik nyamuk, konsumsi logistik kesehatan, atau verifikasi catatan rekam medis, bukan sekadar survei wawancara.

      Hapus
  109. Diah Septia Nugrahani 1A
    1. Apa masalah utama?
    Tingginya kasus DBD di RW 03 (15 kasus) akibat masih banyaknya tempat perindukan nyamuk dan jentik di lingkungan warga (54 dari 200 rumah positif jentik), yang diperparah oleh ketergantungan warga pada fogging serta ketiadaan kebiasaan PSN rutin.

    2. Apakah masalah utamanya kurang pengetahuan?
    Bukan semata-mata kurang pengetahuan, melainkan persepsi yang keliru (false sense of security). Warga merasa sudah aman dan sudah melakukan pencegahan hanya karena wilayahnya disemprot fogging, sehingga mengabaikan tindakan preventif yang sebenarnya paling krusial, yaitu menguras dan menutup tempat penampungan air secara mandiri.

    3. Mengapa fogging belum menyelesaikan masalah?
    * Fogging hanya membunuh nyamuk dewasa saat insektisida disemprotkan, tetapi tidak mematikan telur, larva, maupun jentik nyamuk di wadah air terbuka.
    * Ember terbuka (31 rumah) dan barang bekas penampung air (22 rumah) tetap dibiarkan, sehingga beberapa hari pasca-fogging, jentik-jentik tersebut tetap menetas menjadi nyamuk dewasa baru.

    4. Apa modal sosial yang tersedia?
    Tingkat partisipasi gotong royong warga masih sangat baik. Seperti yang disampaikan Ketua RT, warga selalu mau hadir dan aktif berkumpul jika ada pengumuman kerja bakti.

    5. Bagaimana mengubah kerja bakti menjadi kegiatan PSN?
    * Menggeser fokus kerja bakti: Tidak lagi cuma membersihkan rumput atau menyapu jalan umum, melainkan difokuskan ke gerakan serentak "Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik" (G1R1J) untuk memeriksa ember terbuka dan mengubur/mendaur ulang barang bekas di halaman serta dalam rumah masing-masing.
    * Menjadwalkan ritme mingguan: Memanfaatkan momentum kumpul warga setiap pekan dengan durasi singkat (misal: "15 Menit PSN Setiap Minggu Pagi") agar terbentuk pembiasaan tanpa membebani warga.

    6. Siapa stakeholder utama?
    * Ketua RT dan RW 03 (koordinator wilayah dan penggerak massa).
    * Kader Posyandu / Kader Jumantik (petugas pemantau dan edukator jentik di lapangan).
    * Ibu-ibu PKK (penggerak kebersihan di ranah domestik/rumah tangga).
    * Puskesmas setempat / Sanitarian (pembina teknis surveilans vektor dan penyuluh kesehatan).

    7. Apa indikator keberhasilan program?
    * Angka Bebas Jentik (ABJ) meningkat hingga mencapai standar nasional (minimal $\ge 95\%$).
    * Penurunan jumlah rumah yang positif jentik dan wadah terbuka secara signifikan pada pemeriksaan berkala berikutnya.
    * Terlaksananya kegiatan PSN mandiri mingguan secara konsisten di tingkat rumah tangga.
    * Penurunan kasus baru DBD di RW 03 hingga nol kasus (zero case).

    BalasHapus
  110. Sri Nurlaila TK.1A
    - Kasus Imunisasi
    1. Apa masalah perilaku?
    Perilakunya adalah sebagian orang tua menunda atau tidak melengkapi imunisasi karena takut anak demam dan mengikuti informasi yang belum tentu benar.
    2. Apa masalah sosial?
    Adanya pengaruh keluarga dan lingkungan, seperti ibu yang mengikuti saran anggota keluarga serta informasi dari grup WhatsApp.
    3. Apa masalah budaya?
    Adanya kepercayaan bahwa anak sebaiknya menunggu besar agar tubuhnya lebih kuat sebelum imunisasi.
    4. Apakah masalah tersebut semata-mata “anti-imunisasi”?
    Tidak. Masalahnya tidak hanya karena menolak imunisasi, tetapi juga karena ketakutan terhadap efek samping, pengaruh keluarga, kurangnya pemahaman, dan informasi yang keliru.
    5. Bagaimana melakukan komunikasi yang tidak menghakimi?
    Dengarkan kekhawatiran orang tua terlebih dahulu, kemudian berikan penjelasan berdasarkan fakta dengan bahasa sederhana tanpa menyalahkan atau memaksa.
    6. Siapa yang harus menjadi komunikator utama?
    Tenaga kesehatan seperti bidan, dokter, atau petugas Puskesmas dapat menjadi komunikator utama karena lebih dipercaya dan memiliki kompetensi untuk menjelaskan imunisasi.
    7. Media apa yang tepat?
    Media yang dapat digunakan adalah konsultasi langsung dengan tenaga kesehatan, leaflet/poster, grup WhatsApp, video edukasi, dan media sosial dengan informasi dari sumber terpercaya.
    8. Bagaimana melakukan follow-up anak yang belum lengkap imunisasinya?
    Petugas dapat mendata anak yang belum lengkap, menghubungi orang tua, mengingatkan jadwal imunisasi, memberikan edukasi, dan melakukan kunjungan atau pengingat melalui WhatsApp bila diperlukan.
    9. Bagaimana menangani informasi “lebih baik tunggu anak besar”?
    Jangan langsung menyalahkan penyebarnya. Berikan klarifikasi berdasarkan jadwal imunisasi yang dianjurkan dan jelaskan manfaat imunisasi sejak usia yang sesuai serta risiko jika imunisasi ditunda.

    - Soal Hots
    1. Mengapa masyarakat yang mengetahui bahaya DBD tetap tidak melakukan PSN?
    Karena pengetahuan belum tentu mengubah perilaku. Kebiasaan dan kurangnya dukungan lingkungan juga berpengaruh.
    2. Mengapa cakupan imunisasi dapat berbeda antara wilayah?
    Karena perbedaan akses kesehatan, kondisi geografis, ekonomi, pendidikan, dan budaya.
    3. Bagaimana keluarga memengaruhi keputusan imunisasi?
    Keluarga dapat memberikan dukungan atau menimbulkan keraguan terhadap imunisasi.
    4. Bagaimana WhatsApp dapat menjadi media pemberdayaan sekaligus sumber misinformasi?
    WhatsApp memudahkan penyebaran informasi kesehatan, tetapi juga dapat menyebarkan informasi yang belum terbukti benar.
    5. Apakah budaya harus diubah atau justru dimanfaatkan?
    Budaya sebaiknya dimanfaatkan selama mendukung dan tidak bertentangan dengan kesehatan.
    6. Bagaimana membedakan nilai budaya dengan misinformasi?
    Nilai budaya adalah kebiasaan atau keyakinan masyarakat, sedangkan misinformasi tidak sesuai fakta atau bukti ilmiah.
    7. Mengapa promosi kesehatan tidak cukup menggunakan metode ceramah?
    Karena perubahan perilaku membutuhkan praktik, dukungan, dan keterlibatan masyarakat.
    8. Bagaimana cara melibatkan tokoh agama tanpa menghilangkan dasar ilmiahnya?
    Tokoh agama menyampaikan pesan dengan nilai agama, tetapi informasi kesehatan tetap berdasarkan bukti ilmiah.
    9. Mengapa gotong royong dapat menjadi strategi promosi kesehatan?
    Karena meningkatkan partisipasi masyarakat, misalnya dalam membersihkan lingkungan untuk mencegah DBD.
    10. Bagaimana mengukur perubahan perilaku secara objektif?
    Dengan indikator yang dapat diamati dan membandingkan kondisi sebelum dan sesudah intervensi.

    BalasHapus
  111. Pertanyaan Hots. Diah Septia Nugrahani 1A
    1. Mengapa masyarakat yang mengetahui bahaya DBD tetap tidak melakukan PSN?
    Karena ada optimism bias (merasa diri atau keluarganya tidak akan tertular), menganggap PSN butuh waktu dan tenaga ekstra (perceived barrier), serta ketergantungan pada fogging yang menciptakan rasa aman semu bahwa urusan nyamuk adalah tanggung jawab pemerintah.

    2. Mengapa cakupan imunisasi dapat berbeda antara wilayah?
    Perbedaannya dipengaruhi disparitas akses geografis ke fasilitas kesehatan, ketersediaan rantai dingin (cold chain vaksin), tingkat literasi kesehatan warga, serta kuatnya pengaruh norma lokal, isu kehalalan, atau penolakan berbasis kelompok di wilayah tertentu.

    3. Bagaimana keluarga memengaruhi keputusan imunisasi?
    Dalam struktur keluarga kita, pengambil keputusan bukan cuma ibu. Nenek, kakek, atau suami memegang peran dominan sebagai gatekeeper. Kalau figur senior dalam keluarga punya trauma atau persepsi negatif soal efek samping demam pascaimunisasi, ibu muda sering kali mengalah dan membatalkan imunisasi anak.

    4. Bagaimana WhatsApp dapat menjadi media pemberdayaan sekaligus sumber misinformasi?
    Pemberdayaan: Sangat efektif sebagai jalur komunikasi cepat grup Posyandu/RT untuk menyebar jadwal posyandu, pengingat minum obat, dan pemantauan jentik secara horizontal.
    Sumber misinformasi: Format forwarded message tanpa verifikasi memudahkan hoaks medis (seperti konspirasi vaksin atau obat herbal alternatif yang belum teruji) menyebar cepat karena dibagikan oleh orang terdekat yang dipercaya.

    5. Apakah budaya harus diubah atau justru dimanfaatkan?
    Prinsipnya dimanfaatkan terlebih dahulu melalui pendekatan cultural tailoring. Nilai budaya positif (seperti gotong royong, kumpul arisan, pengajian) dijadikan wadah promosi kesehatan. Budaya baru perlu diubah secara bertahap jika praktiknya terbukti membahayakan keselamatan secara klinis.

    6. Bagaimana membedakan nilai budaya dengan misinformasi?
    Nilai budaya: Berakar dari filosofi tradisi, norma sosial, atau kearifan lokal yang diwariskan turun-temurun antargenerasi (contoh: gotong royong, jamu tradisional).
    Misinformasi: Informasi keliru berbasis klaim fakta/medis yang salah, biasanya muncul tiba-tiba, tidak memiliki rujukan ilmiah, dan sering memanipulasi ketakutan masyarakat.

    7. Mengapa promosi kesehatan tidak cukup menggunakan metode ceramah?
    Ceramah bersifat satu arah dan cuma berhenti di level kognitif (tahu konsep), tanpa menyentuh aspek psikomotorik maupun afektif. Perubahan perilaku butuh dialog dua arah, demonstrasi keterampilan langsung, identifikasi kendala di lapangan, serta pembiasaan rutin.

    8. Bagaimana cara melibatkan tokoh agama tanpa menjadikan pesan kesehatan kehilangan dasar ilmiahnya?
    Dengan strategi bridging: tenaga kesehatan memberikan fakta dan mekanisme medisnya, sementara tokoh agama memperkuat legitimasi moral/etikanya (misalnya mengaitkan dalil kebersihan, menjaga jiwa, dan perlindungan anak tanpa mengganti penjelasan klinis penyakit).

    9. Mengapa gotong royong dapat menjadi strategi promosi kesehatan?
    Gotong royong adalah modal sosial yang menciptakan peer pressure positif dan rasa tanggung jawab bersama. Saat menjaga kebersihan lingkungan dilakukan serentak, aksi tersebut menjadi norma kelompok sehingga anggota masyarakat yang pasif terdorong untuk ikut berpartisipasi.

    10. Bagaimana mengukur perubahan perilaku secara objektif?
    Tidak bisa hanya lewat kuesioner wawancara (self-report rentan bias). Harus diukur lewat observasi langsung menggunakan instrumen checklist terstandar dan indikator fisik/biologis yang valid, misalnya:

    Angka Bebas Jentik (ABJ) untuk PSN.
    Ketersediaan sabun dan air mengalir yang benar-benar basah terpakai untuk CTPS.
    Kartu KMS/buku KIA yang terisi lengkap untuk imunisasi.

    BalasHapus
  112. bagian 1 Syifa Zahratu Salwa 1A
    1. Mengapa pengetahuan tinggi tetapi perilaku belum optimal?
    Karena tahu dan melakukan itu dua hal yang beda. Warga sudah paham pentingnya CTPS (91%), tapi praktiknya masih rendah, cuma 57% yang benar-benar cuci tangan sebelum makan. Ini biasanya karena ada hambatan lain di luar pengetahuan, misalnya keterbatasan waktu (anak buru-buru sekolah) dan kebiasaan lama yang susah diubah walau sudah paham secara teori.
    2. Apa faktor sosialnya?
    Kebiasaan merokok di ruang tamu yang dianggap wajar dan tidak dianggap mengganggu menunjukkan adanya norma sosial dalam keluarga yang cenderung menoleransi perilaku kurang sehat. Selain itu, rutinitas pagi yang terburu-buru juga jadi tekanan sosial tersendiri sehingga CTPS sering terlewat.
    3. Apa faktor budayanya?
    Merokok di dalam rumah sudah jadi kebiasaan turun-temurun ("sudah biasa dari dulu"), jadi dianggap bagian dari budaya keluarga, bukan masalah kesehatan. Karena sudah melekat sebagai kebiasaan, perilaku ini jadi lebih susah diubah dibanding sekadar soal kurang informasi.
    4. Apakah perilaku merokok hanya masalah pengetahuan?
    Bukan. Bapak yang merokok di ruang tamu kemungkinan besar sudah tahu risikonya, tapi tetap dilakukan karena sudah jadi kebiasaan lama dan dianggap tidak mengganggu orang lain. Jadi masalahnya lebih ke sikap dan norma sosial yang sudah mengakar, bukan soal kurang tahu.
    5. Apa yang bisa jadi entry point intervensi?
    Bisa mulai dari rutinitas pagi anak sebelum sekolah, misalnya membiasakan CTPS jadi bagian dari kebiasaan siap-siap sekolah, bukan cuma diedukasi searah. Untuk isu merokok, entry point nya bisa lewat kesehatan anak di rumah, misalnya edukasi soal dampak asap rokok ke anak yang tinggal serumah, karena ini lebih menyentuh sisi emosional orang tua tanpa terkesan menyalahkan kebiasaan mereka.
    6. Siapa opinion leader yang dapat dilibatkan?
    Tokoh masyarakat, kader kesehatan, guru sekolah (untuk kebiasaan CTPS anak), serta tokoh agama atau sesepuh desa yang dihormati warga bisa dilibatkan. Soalnya kebiasaan yang ada sudah mengakar secara sosial budaya, jadi butuh figur yang memang dipercaya masyarakat supaya pesan perubahannya lebih mudah diterima.

    BalasHapus
  113. bagian 2
    1. Apa masalah utama?
    Masalah utamanya ada di RW 03: fogging sudah dilakukan dua kali, tapi kasus DBD justru paling tinggi (15 kasus). Ini karena fogging cuma bunuh nyamuk dewasa sesaat, sementara sumber masalahnya masih ada, yaitu 54 dari 200 rumah positif jentik dan 47 rumah tidak pernah periksa jentik rutin. Jadi fogging bukan solusi utama kalau sumber perkembangbiakan nyamuknya tidak dibereskan.

    2. Apakah masalah utamanya kurang pengetahuan?
    Bukan semata soal itu. Warga sudah tahu soal fogging dan bahkan menganggap itu sudah cukup ("kami sudah fogging, jadi sebenarnya sudah dilakukan pencegahan"). Masalahnya lebih ke pemahaman yang keliru tentang cara kerja fogging, plus kebiasaan PSN mandiri yang belum jalan rutin di rumah masing-masing.

    3. Mengapa fogging belum menyelesaikan masalah?
    Karena fogging hanya membunuh nyamuk dewasa yang sedang terbang saat itu, tidak membunuh jentik atau telur nyamuk. Selama masih ada genangan air seperti ember terbuka (31 rumah) dan barang bekas penampung air (22 rumah), jentik akan terus berkembang biak dan nyamuk dewasa baru akan muncul lagi setelah efek fogging habis.

    4. Apa modal sosial yang tersedia?
    Modal sosialnya adalah kebiasaan kerja bakti yang masih hidup di warga. Terbukti kalau diumumkan, warga biasanya hadir. Modal ini bisa dimanfaatkan, tinggal diarahkan supaya kegiatan PSN "menempel" pada kebiasaan kerja bakti yang sudah ada, bukan dibuat jadi program baru dari nol.

    5. Bagaimana mengubah kerja bakti menjadi kegiatan PSN?
    Bisa dengan menjadikan PSN sebagai bagian rutin dari kerja bakti yang sudah biasa dilakukan, misalnya dijadwalkan bareng (kerja bakti sekaligus periksa jentik), bukan kegiatan terpisah. Framing nya juga bisa diubah dari "warga wajib PSN" jadi "gerakan bersama menjaga lingkungan RW", supaya terasa sebagai kegiatan sosial, bukan beban tambahan.

    6. Siapa stakeholder utama?
    Ketua RT/RW karena punya pengaruh langsung untuk menggerakkan warga (terbukti dari soal kerja bakti), kader jumantik untuk pemeriksaan jentik rutin, Puskesmas untuk surveilans dan edukasi, serta warga sendiri sebagai pelaku PSN di tingkat rumah tangga.

    7. Apa indikator keberhasilan program?
    Beberapa yang bisa dipakai: menurunnya angka rumah positif jentik (target di bawah 54/200), meningkatnya jumlah rumah yang rutin periksa jentik (saat ini baru 153/200 yang rutin), PSN mingguan berjalan konsisten bukan cuma saat kerja bakti diumumkan, dan yang paling penting, menurunnya jumlah kasus DBD di RW 03 pada periode berikutnya.

    BalasHapus
  114. bagian 3 Syifa Zahratu Salwa 1A
    1. Masalah Perilaku
    Orang tua cenderung menghentikan atau menunda imunisasi anak ketika muncul demam ringan pasca imunisasi (KIPI), padahal ini reaksi yang wajar terjadi. Hal ini terlihat dari data, di mana 37% orang tua takut terhadap KIPI dan 22% lupa jadwal, sehingga imunisasi anak jadi tidak lengkap.

    2. Masalah Sosial
    Ada perbedaan tingkat kepercayaan terhadap sumber informasi kesehatan di masyarakat. Nasihat dari nenek atau keluarga senior lebih didengarkan dibandingkan penjelasan kader. Bahkan kader sendiri menyadari bahwa penjelasannya kurang meyakinkan dibandingkan jika disampaikan langsung oleh bidan.

    3. Masalah Budaya
    Masih ada keyakinan turun-temurun bahwa anak perlu "dikuatkan tubuhnya" dulu secara alami sebelum diimunisasi. Ini menunjukkan pengaruh nilai budaya dan pengalaman keluarga masih cukup kuat dibandingkan anjuran medis.

    4. Masalah Komunikasi
    Informasi yang keliru menyebar lebih cepat lewat media sosial, terbukti dari data bahwa 61% responden mendapat informasi kesehatan dari media sosial. Selain itu, komunikasi petugas kesehatan selama ini masih cenderung satu arah, langsung menyampaikan fakta tanpa lebih dulu memahami kekhawatiran orang tua.

    5. Apakah Masalah Ini Semata-Mata "Anti-Imunisasi"?
    Tidak. Sebagian besar orang tua bukan menolak imunisasi karena anti vaksin, melainkan karena khawatir efek samping, kurangnya informasi yang akurat, serta pengaruh keluarga dan lingkungan sekitar. Jadi ini lebih tepat disebut keraguan terhadap imunisasi (vaccine hesitancy), bukan penolakan total.

    6. Pendekatan Komunikasi yang Tidak Menghakimi
    Bisa menggunakan prinsip Listen–Understand–Explain–Support–Follow Up: dengarkan dulu kekhawatiran orang tua, validasi perasaan mereka tanpa membenarkan info yang salah, baru jelaskan fakta medis secara sederhana, beri dukungan praktis, dan pastikan ada tindak lanjut jadwal berikutnya. Respons seperti "itu salah, jangan percaya" sebaiknya dihindari karena bisa membuat orang tua defensif.

    7. Pihak yang Sebaiknya Jadi Komunikator
    Bidan dinilai lebih tepat karena tingkat kepercayaan masyarakat terhadapnya lebih tinggi. Namun kader tetap punya peran penting karena lebih dekat dengan masyarakat sehari-hari. Jadi idealnya kolaborasi antara keduanya, kader melakukan pendekatan awal, bidan memberi penguatan edukasi medis.

    8. Media yang Tepat
    Karena mayoritas masyarakat mendapat informasi dari media sosial, media promosi yang cocok adalah konten digital yang mudah disebarkan, seperti infografis atau video edukasi singkat dari tenaga kesehatan resmi, dibarengi pendekatan langsung lewat kader dan kelompok ibu bagi yang kurang aktif di media sosial.

    9. Tindak Lanjut Anak dengan Imunisasi Belum Lengkap
    Bisa dilakukan lewat kunjungan langsung oleh kader/petugas kesehatan (sweeping) untuk mendata anak yang belum lengkap imunisasinya, penjadwalan ulang imunisasi susulan, edukasi ulang kepada orang tua dan anggota keluarga yang berpengaruh, serta pemantauan berkala sampai status imunisasi anak lengkap.

    BalasHapus
  115. soal hots Syifa Zahratu Salwa 1A
    1. Mengapa masyarakat yang tahu bahaya DBD tetap tidak PSN?
    Karena tahu saja belum tentu bikin orang bertindak, apalagi kalau belum ada kasus di lingkungan sendiri atau sudah merasa aman gara-gara fogging. PSN juga butuh konsistensi mingguan, sementara warga biasanya baru gerak kalau ada momentum sosial seperti kerja bakti.

    2. Mengapa cakupan imunisasi bisa berbeda antarwilayah?
    Karena tiap wilayah beda akses layanan, tingkat kepercayaan ke nakes/kader, pengaruh tokoh masyarakat atau keluarga, dan seberapa besar paparan misinformasi di sana.

    3. Bagaimana keluarga memengaruhi keputusan imunisasi?
    Anggota keluarga senior seperti nenek sering jadi penentu akhir, kadang lebih didengar daripada nakes, meski orang tua sendiri sebenarnya sudah paham manfaat imunisasi.

    4. Bagaimana WhatsApp bisa jadi media pemberdayaan sekaligus sumber misinformasi?
    Bisa jadi alat edukasi cepat kalau isinya benar (reminder, info dari nakes), tapi juga gampang jadi jalur hoaks karena mudah diteruskan tanpa verifikasi, apalagi kalau dari orang yang dipercaya di grup keluarga.

    5. Apakah budaya harus diubah atau dimanfaatkan?
    Dimanfaatkan. Budaya seperti gotong royong itu modal sosial yang sudah ada dan efektif menggerakkan warga, tinggal diarahkan ke perilaku sehat, bukan diganti dengan budaya baru dari luar.

    6. Bagaimana membedakan nilai budaya dengan misinformasi?
    Nilai budaya soal cara masyarakat hidup dan berinteraksi (netral/bisa mendukung kesehatan), sedangkan misinformasi adalah klaim yang secara medis salah dan bisa dibuktikan keliru.

    7. Mengapa promosi kesehatan tidak cukup pakai metode ceramah?
    Karena ceramah satu arah dan cuma menyentuh pengetahuan, padahal perubahan perilaku butuh keterlibatan aktif dan dukungan sosial, bukan cuma didengarkan.

    8. Bagaimana melibatkan tokoh agama tanpa menghilangkan dasar ilmiah pesan kesehatan?
    Tokoh agama menyampaikan pesan lewat nilai yang sudah dipercaya masyarakat (menjaga tubuh, melindungi keluarga), tapi isi faktanya tetap harus dari sumber medis, bukan tokoh agama yang menentukan kebenaran ilmiahnya.

    9. Mengapa gotong royong bisa jadi strategi promosi kesehatan?
    Karena sudah jadi kebiasaan yang punya daya gerak kuat, warga lebih mau ikut kalau kegiatan dibingkai sebagai kerja bersama, bukan kewajiban individu.

    10. Bagaimana mengukur perubahan perilaku secara objektif?
    Bandingkan data sebelum-sesudah intervensi (rumah bebas jentik, cakupan imunisasi, angka kasus DBD), plus observasi langsung praktik, bukan cuma tanya "tahu atau tidak".

    BalasHapus
  116. jawaban hana nabila 1A
    1. Masalah Perilaku: Penundaan atau penolakan pemberian imunisasi pada anak akibat ketakutan/keraguan orang tua, serta kebiasaan memercayai informasi yang belum terverifikasi dari media sosial/grup percakapan.
    2. Masalah Sosial: Adanya pengaruh dinamika kelompok (grup WhatsApp ibu-ibu) yang menyebarkan norma sosial keliru, sehingga tercipta kecemasan kolektif di kalangan para ibu.
    3. Masalah Budaya: Mitos atau kepercayaan lokal bahwa bayi yang masih kecil rentan/lemah terhadap obat/vaksin, sehingga muncul paham "menunggu anak besar baru diimunisasi".
    4. Masalah Komunikasi: Ketimpangan kredibilitas penyampai pesan (kader kurang dipercaya dibandingkan bidan) serta meluasnya misinformasi/hoaks di media digital tanpa adanya klarifikasi langsung dari tenaga kesehatan.
    5. Apakah semata-mata "anti-imunisasi"? Tidak. Ini lebih merupakan vaccine hesitancy (keraguan vaksin) yang dipicu oleh kekhawatiran terhadap keamanan anak, kurangnya pemahaman, dan minimnya figur otoritas medis yang menjelaskan secara langsung.
    6. Komunikasi yang Tidak Menghakimi: Menggunakan pendekatan komunikasi persuasif dan empati (seperti dengarkan kekhawatiran ibu terlebih dahulu, validasi rasa sayangnya pada anak, lalu jelaskan manfaat dan keamanan imunisasi secara tenang tanpa menyalahkan).
    7. Komunikator yang Tepat: Bidan atau tenaga kesehatan setempat (sebagai orang yang dipercaya), didampingi oleh kader kesehatan sebagai penghubung dan pendamping komunitas.
    8. Media yang Tepat:
    -Luring: Edukasi tatap muka / konseling interpersonal saat posyandu atau kunjungan rumah.
    -Daring: Pesan edukatif berbasis visual/video pendek yang disebarkan melalui grup WhatsApp resmi desa/RT untuk menandingi hoaks.
    9. Follow-up Anak yang Belum Lengkap Imunisasinya:
    -Melakukan pendataan dan pemetaan oleh kader kesehatan untuk mencatat anak yang menunggak imunisasi.
    - Kunjungan rumah bersama bidan untuk memberikan pendekatan individual dan penjadwalan imunisasi susulan



    BalasHapus
  117. BAGIAN 3

    1. Apa masalah perilaku?
    Orang tua menunda atau mangkir imunisasi karena takut KIPI (demam) dan sering lupa jadwal.
    2. Apa masalah sosial?
    Pengaruh kuat dari keluarga (kakek-nenek yang menyuruh berhenti) dan norma grup WhatsApp ibu-ibu yang menyebarkan informasi keliru.
    3. Apa masalah budaya?
    Kepercayaan turun-temurun bahwa anak harus dibiarkan besar dulu secara alami tanpa intervensi medis atau menunggu tubuhnya kuat sendiri.
    4. Masalah komunikasi?
    Kurangnya edukasi antisipatif soal KIPI dari tenaga kesehatan, sehingga warga lebih percaya hoaks di media sosial (61%).
    5. Apakah masalah tersebut semata-mata "anti-imunisasi"?
    Bukan. Mayoritas bukan kelompok anti-vaksin, melainkan diliputi rasa takut (KIPI), termakan misinformasi, dan mendapat pengaruh keluarga.
    6. Bagaimana melakukan komunikasi yang tidak menghakimi?
    Terapkan prinsip LISTEN (dengarkan kekhawatiran), UNDERSTAND (validasi emosi), EXPLAIN (jelaskan fakta KIPI), hingga SUPPORT.
    7. Siapa yang harus menjadi komunikator?
    Bidan atau tenaga kesehatan (karena warga lebih percaya) yang didampingi kader posyandu setempat.
    8. Media apa yang tepat?
    Edukasi langsung tatap muka (konseling personal oleh nakes) serta infografis/pesan pendek yang mudah dipahami di grup WhatsApp.
    9. Bagaimana melakukan follow-up anak yang belum lengkap imunisasinya?
    Kader dan nakes mendata by name by address, melakukan kunjungan rumah (sweeping), serta membuat pengingat jadwal via pesan personal.

    BalasHapus
  118. Adiba Farhani TK 1A (P3.73.36.1.26.003)
    BAGIAN CONTOH KASUS IMUNISASI
    1. Apa masalah perilaku? Masalah perilakunya yaitu ibu menunda atau tidak melanjutkan imunisasi karena takut anak demam setelah imunisasi (KIPI).
    2. Apa masalah sosial? Masalah sosialnya adalah adanya pengaruh dari keluarga dan lingkungan, seperti saran nenek serta informasi dari grup WhatsApp yang memengaruhi keputusan ibu.
    3. Apa masalah budaya? Ada kepercayaan yang masih berkembang bahwa imunisasi lebih baik diberikan saat anak sudah besar karena dianggap tubuhnya lebih kuat.
    4. Apa masalah komunikasi? Komunikasinya belum efektif karena informasi dari kader kurang meyakinkan bagi ibu, sedangkan informasi yang salah di media sosial justru lebih mudah dipercaya.
    5. Apakah masalah tersebut semata-mata anti-imunisasi? Tidak. Ini lebih kepada keraguan orang tua akibat takut KIPI, pengaruh keluarga, dan informasi yang kurang tepat, bukan penolakan imunisasi secara penuh.
    6. Bagaimana melakukan komunikasi yang tidak menghakimi? Dengarkan dulu kekhawatiran ibu, jangan menyalahkan, lalu jelaskan dengan bahasa yang sederhana bahwa demam ringan setelah imunisasi merupakan reaksi yang normal dan biasanya akan membaik.
    7. Siapa yang harus menjadi komunikator? Bidan sebagai komunikator utama karena lebih dipercaya, sedangkan kader berperan mendampingi dan memberikan edukasi kepada keluarga.
    8. Media apa yang tepat? Penyuluhan di posyandu, Media cetak, dan grup WhatsApp resmi yang dikelola bidan atau puskesmas agar informasi yang diterima lebih akurat.
    9. Bagaimana melakukan follow-up anak yang belum lengkap imunisasinya? Kader mendata anak yang belum lengkap imunisasinya, menghubungi orang tua melalui WhatsApp atau kunjungan rumah, memberikan edukasi, lalu menjadwalkan imunisasi susulan di posyandu atau puskesmas.

    Kesimpulan: Berdasarkan kasus tersebut, masalah utama bukan karena orang tua menolak imunisasi, tetapi karena masih adanya keraguan yang dipengaruhi rasa takut terhadap KIPI, pengaruh keluarga, serta informasi yang salah dari media sosial. Oleh karena itu, diperlukan komunikasi yang empati, edukasi yang mudah dipahami, dan pendampingan aktif dari bidan serta kader agar cakupan imunisasi lengkap dapat meningkat.

    BalasHapus
  119. Fanya Raniachalisa Alfany P3.73.36.1.26.011 ( 1A Promkes )

    1. Masalah perilaku: Orang tua menunda atau berhenti imunisasi setelah anak demam. Buktinya 18% anak belum lengkap, 4% tidak pernah imunisasi, 37% orang tua takut KIPI, dan 22% lupa jadwal.
    2. Masalah sosial: Keputusan ibu dipengaruhi keluarga, misalnya neneknya bilang "jangan diteruskan dulu" (18% dipengaruhi keluarga). Grup WhatsApp ibu-ibu juga ikut menyebarkan pesan yang bikin ragu, dan 61% orang tua dapat info dari media sosial.
    3. Masalah budaya: Ada anggapan bahwa anak sebaiknya menunggu besar supaya tubuhnya kuat dulu. Demam setelah imunisasi juga dianggap tanda vaksin tidak cocok, padahal itu reaksi yang wajar dan bisa dijelaskan.
    4. Masalah komunikasi: Informasi yang salah beredar di WhatsApp. Penjelasan kader belum cukup meyakinkan dibanding bidan, dan kemungkinan reaksi setelah imunisasi belum dijelaskan dengan baik sejak awal. Akibatnya ibu kaget dan takut saat anaknya demam.
    5. Apakah semata-mata "anti-imunisasi"? Tidak. Sebagian besar anak (78%) sudah imunisasi lengkap. Orang tua yang menunda umumnya bukan menolak, tapi ragu karena takut KIPI, lupa jadwal, sulit akses (15%), pengaruh keluarga, atau informasi yang keliru. Kalau langsung dicap "anti-imunisasi", orang tua malah jadi menutup diri.
    6. Komunikasi yang tidak menghakimi: Pakai prinsip Listen → Understand → Explain → Support → Follow up.
    • Dengarkan dulu kekhawatiran ibu, jangan langsung dipotong.
    • Akui perasaannya, misalnya "Wajar Bu khawatir kalau anak demam", tanpa membenarkan informasi yang keliru.
    • Jelaskan dengan bahasa sederhana soal reaksi setelah imunisasi, kapan harus segera ke fasilitas kesehatan, dan jadwal imunisasi berikutnya.
    • Hindari kalimat seperti "Itu salah, jangan percaya hoaks."
    7. Komunikator: Bidan sebagai komunikator utama karena paling dipercaya ibu, dibantu kader sebagai pendamping yang dekat dengan warga. Tokoh masyarakat atau tokoh agama bisa memperkuat pesan, dan nenek juga perlu dilibatkan supaya ikut paham.
    8. Media:
    • Konseling tatap muka saat Posyandu untuk kekhawatiran ibu secara pribadi.
    • Grup WhatsApp Posyandu atau Puskesmas untuk info yang benar, pengingat jadwal, dan meluruskan hoaks.
    • Leaflet atau poster tentang KIPI dan jadwal imunisasi.
    9. Follow-up anak yang belum lengkap imunisasinya:
    • Data anak yang belum lengkap atau belum pernah imunisasi, lalu cek buku KIA.
    • Cari tahu alasan tiap keluarga (takut, lupa, akses, atau pengaruh keluarga).
    • Ingatkan jadwal lewat WhatsApp atau kunjungan rumah oleh kader dan bidan.
    • Sediakan imunisasi susulan dengan jadwal yang fleksibel.
    • Pantau rutin sampai imunisasinya lengkap.

    BalasHapus
  120. Shafa Aina Firdausia 1A P3.73.36.1.26.040
    1. Masalah perilaku: Ibu menunda imunisasi karena khawatir demam setelah imunisasi.


    2. Masalah sosial: Adanya pengaruh keluarga dan grup WhatsApp yang menyebarkan informasi yang kurang tepat.


    3. Masalah budaya: Adanya kepercayaan bahwa anak sebaiknya menunggu besar agar tubuhnya lebih kuat sebelum imunisasi.


    4. Masalah komunikasi: Informasi tentang imunisasi dan efek sampingnya belum tersampaikan dengan baik sehingga ibu lebih percaya informasi dari lingkungan.


    5. Tidak semata-mata anti-imunisasi, tetapi lebih kepada keraguan dan kekhawatiran akibat informasi yang diterima.


    6. Komunikasi tidak menghakimi: Dengarkan kekhawatiran ibu terlebih dahulu, kemudian berikan informasi dengan empati dan bahasa sederhana.


    7. Komunikator: Bidan sebagai tenaga kesehatan yang lebih dipercaya ibu, dengan dukungan kader.


    8. Media: Konseling tatap muka, WhatsApp grup, poster/leaflet, dan video edukasi.


    9. Follow-up: Cek catatan imunisasi, identifikasi imunisasi yang belum lengkap, hubungi/kunjungi orang tua, berikan edukasi, arahkan ke Posyandu/Puskesmas, lalu pantau sampai imunisasi lengkap.

    BalasHapus
  121. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  122. Aisyah Kamila Muslim TK.1A

    1. Masalah perilaku: Ibu menunda imunisasi lanjutan karena anak demam. Keputusannya mengikuti saran ibu dan grup WhatsApp, bukan tenaga kesehatan.

    2. Masalah sosial: Keluarga (18%) dan media sosial (61%) sangat memengaruhi keputusan ibu. Kepercayaan juga bertingkat: bidan lebih dipercaya daripada kader.

    3. Masalah budaya: Ada keyakinan bahwa anak harus "besar dan kuat" dulu sebelum diimunisasi. Demam juga dianggap tanda tubuh anak tidak cocok. Selain itu, pendapat orang tua atau sesepuh cenderung dituruti.

    4. Masalah komunikasi: Ibu tidak dibekali informasi tentang demam sebagai reaksi normal (KIPI) sebelum imunisasi. Penjelasan kader kurang dipercaya, sedangkan hoaks di WhatsApp menyebar lebih cepat daripada informasi resmi.

    5. Semata-mata "anti-imunisasi"? Bukan. Ibu tidak menolak imunisasi, tetapi ragu dan cemas karena kurang informasi (vaccine hesitancy). Ibu sudah membawa anaknya diimunisasi, jadi pendekatannya harus edukasi, bukan menganggapnya penolak.

    6. Komunikasi tidak menghakimi:
    - Dengarkan dulu dan akui kekhawatiran ibu.
    - Gunakan pertanyaan terbuka, misalnya "Apa yang membuat Ibu khawatir?"
    - Jelaskan dengan bahasa sederhana bahwa demam ringan itu wajar dan cara mengatasinya.
    - Jangan menyalahkan ibu atau nenek.

    7. Komunikator: Bidan sebagai sumber medis utama, didampingi kader yang dekat dengan warga. Libatkan juga nenek, suami, atau tokoh masyarakat, serta ibu lain yang anaknya sudah lengkap imunisasi sebagai teladan.

    8. Media yang tepat: Kombinasikan beberapa cara:
    - Tatap muka di posyandu dan kunjungan rumah.
    - Grup WhatsApp yang dikelola bidan atau kader untuk meluruskan hoaks.
    - Leaflet atau video pendek berbahasa lokal tentang KIPI.

    9. Follow-up anak yang belum lengkap:
    - Catat dan pantau lewat buku KIA atau register.
    - Kunjungi rumah (sweeping) dan kirim pengingat lewat WhatsApp.
    - Tawarkan jadwal imunisasi ulang atau kejar (catch-up).
    - Libatkan keluarga, dalam edukasi.
    - Laporkan ke puskesmas untuk tindak lanjut.

    BalasHapus
  123. a. Apakah masyarakat percaya?
    Kepercayaan masyarakat terhadap vaksin dan tenaga kesehatan sangat memengaruhi kesediaan mengikuti imunisasi. Kepercayaan dapat dipengaruhi oleh budaya, pengalaman, tokoh masyarakat, dan informasi yang diterima.
    b. Apakah orang tua memahami manfaat?
    Orang tua perlu memahami bahwa imunisasi membantu melindungi anak dari berbagai penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi. Kurangnya pemahaman dapat menyebabkan orang tua menunda atau tidak melengkapi imunisasi.
    c. Apakah informasi mudah dipahami?
    Informasi imunisasi harus disampaikan menggunakan bahasa sederhana, sesuai tingkat pendidikan dan latar belakang budaya masyarakat. Informasi yang terlalu medis atau sulit dipahami dapat menimbulkan kesalahpahaman.
    d. Apakah layanan mudah dijangkau?
    Ketersediaan vaksin saja tidak cukup. Masyarakat juga membutuhkan akses yang mudah terhadap fasilitas kesehatan, baik dari segi jarak, transportasi, biaya, maupun waktu pelayanan.
    e. Apakah keluarga mendukung?
    Keputusan imunisasi sering kali dipengaruhi oleh keluarga. Dukungan dari pasangan, orang tua, atau anggota keluarga lainnya dapat membantu orang tua mengambil keputusan untuk melengkapi imunisasi anak.
    f. Apakah jadwal dipahami?
    Orang tua perlu mengetahui kapan anak harus mendapatkan imunisasi. Jadwal yang tidak dipahami atau terlupakan dapat menyebabkan imunisasi anak tidak lengkap atau terlambat.
    g. Apakah terdapat pengalaman negatif sebelumnya?
    Pengalaman seperti anak mengalami demam atau rewel setelah imunisasi dapat menimbulkan kekhawatiran. Jika tidak mendapatkan penjelasan yang tepat, pengalaman tersebut dapat memengaruhi keputusan imunisasi berikutnya.
    h. Apakah terdapat informasi keliru?
    Informasi yang salah mengenai keamanan atau manfaat vaksin dapat menyebar melalui media sosial, lingkungan keluarga, maupun masyarakat. Karena itu, diperlukan komunikasi kesehatan yang mampu meluruskan informasi tanpa menyalahkan masyarakat.
    i. Apakah sistem pencatatan berjalan baik?
    Pencatatan yang baik membantu tenaga kesehatan mengetahui status imunisasi setiap anak dan menemukan anak yang belum mendapatkan imunisasi lengkap. Sistem yang kurang baik dapat menyebabkan anak terlewat dari pemantauan dan tindak lanjut.

    BalasHapus
  124. Kasus 3 – Anak Saya Demam Setelah Imunisasi

    1. Apa masalah perilaku?
    Masalah perilakunya adalah orang tua memilih untuk menunda atau menghentikan imunisasi karena takut setelah imunisasi anak mengalami demam. Selain itu, ada juga perilaku mengikuti informasi dari keluarga dan grup WhatsApp tanpa memastikan kebenaran informasinya terlebih dahulu.

    2. Apa masalah sosial?
    Masalah sosialnya adalah adanya pengaruh keluarga dan lingkungan sekitar terhadap keputusan orang tua. Contohnya, ibu mendapat saran dari nenek untuk tidak melanjutkan imunisasi. Selain itu, informasi dari grup WhatsApp ibu-ibu juga ikut memengaruhi pemikiran orang tua.

    3. Apa masalah budaya?
    Masalah budayanya adalah masih adanya kepercayaan atau kebiasaan yang menganggap anak harus menunggu lebih besar agar tubuhnya kuat sebelum imunisasi. Kepercayaan seperti ini bisa diwariskan dari keluarga dan akhirnya memengaruhi keputusan orang tua.

    4. Apa masalah komunikasi?
    Masalah komunikasinya adalah informasi mengenai imunisasi dan kejadian demam setelah imunisasi belum disampaikan dengan cara yang mudah dipahami dan meyakinkan orang tua. Kader juga merasa penjelasannya kurang dipercaya dibandingkan bidan. Di sisi lain, informasi yang salah di WhatsApp justru lebih mudah menyebar dan dipercaya.

    5. Apakah masalah tersebut semata-mata “anti-imunisasi”?
    Menurut saya, tidak selalu. Kasus ini lebih menunjukkan adanya rasa takut, kurangnya pemahaman, pengaruh keluarga, dan informasi yang kurang tepat. Ibu tersebut sebenarnya belum tentu menolak imunisasi sepenuhnya, tetapi takut karena anaknya mengalami demam dan mendapat saran untuk menunda imunisasi.

    6. Bagaimana melakukan komunikasi yang tidak menghakimi?
    Bisa dimulai dengan mendengarkan kekhawatiran ibu terlebih dahulu, bukan langsung menyalahkan. Misalnya, “Ibu khawatir karena setelah imunisasi anak demam, ya?” Setelah itu baru dijelaskan bahwa keluhan setelah imunisasi bisa terjadi dan orang tua perlu mengetahui apa yang normal dan kapan harus berkonsultasi. Jadi, komunikasinya lebih seperti berdiskusi daripada menggurui.

    7. Siapa yang harus menjadi komunikator?
    Menurut saya, bidan menjadi komunikator utama, karena dalam kasus ini ibu lebih percaya dengan penjelasan bidan. Namun, kader juga tetap dilibatkan karena kader lebih dekat dengan masyarakat dan bisa membantu melakukan pendekatan serta follow-up kepada keluarga.

    8. Media apa yang tepat?
    Media yang digunakan bisa disesuaikan dengan kebiasaan masyarakat. Karena 61% mendapat informasi dari media sosial, WhatsApp bisa dimanfaatkan untuk menyebarkan informasi yang benar, misalnya melalui poster, video pendek, atau pesan edukasi sederhana. Tetapi untuk orang tua yang masih ragu, sebaiknya tetap dilakukan komunikasi langsung dengan bidan atau tenaga kesehatan, supaya mereka bisa bertanya dan mendapatkan penjelasan sesuai kondisi anak.

    9. Bagaimana melakukan follow-up anak yang belum lengkap imunisasinya?
    jawaban: Pertama, data anak yang imunisasinya belum lengkap perlu dicatat dan dicek jadwal imunisasinya. Setelah itu bisa dilakukan pengingat melalui WhatsApp atau telepon, kemudian jika masih belum datang, kader dapat melakukan kunjungan atau menghubungi keluarga secara langsung. Saat follow-up, jangan hanya mengingatkan jadwal, tetapi juga tanyakan alasan belum imunisasi dan berikan edukasi sesuai masalahnya. Dengan begitu, follow-up tidak terasa seperti memaksa, tetapi membantu orang tua menyelesaikan imunisasi anaknya.

    BalasHapus
  125. Kasus 3
    1. Masalah Perilaku
    - Ketakutan terhadap KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi): Orang tua menghentikan/menunda imunisasi setelah anak mengalami demam.
    - Kehilangan/Menunda Jadwal Imunisasi: Sebesar 22\% orang tua lupa jadwal, dan 18\% anak imunisasinya belum lengkap serta 4\% tidak pernah imunisasi.
    2. Masalah Sosial
    - Pengaruh Lingkungan & Keluarga: Sebesar 18\% dipengaruhi keluarga; ucapan nenek ("Ibu saya bilang jangan diteruskan dulu") sangat memengaruhi keputusan ibu.
    - Pengaruh Komunitas (Grup WhatsApp): Beredarnya narasi kolektif di grup WA yang menganjurkan menunda imunisasi.
    3. Masalah Budaya
    - Mitos/Kepercayaan Tradisional: Anggapan bahwa "anak harus menunggu besar dulu supaya tubuhnya kuat" sebelum diimunisasi.
    - Hierarki Pengambilan Keputusan dalam Keluarga: Anggota keluarga yang lebih senior (seperti nenek/orang tua) memiliki otoritas tinggi dalam menentukan kesehatan anak.
    4. Masalah Komunikasi
    - Ketidakpercayaan pada Kader: Penjelasan dari kader kurang dipercayai oleh masyarakat dibandingkan dengan tenaga medis profesional (bidan).
    - Paparan Misinformasi Media Sosial: Sebesar 61\% orang tua mendapat informasi dari media sosial, termasuk pesan menyesatkan di grup WA.
    5. Apakah Masalah Tersebut Semata-mata "Anti-Imunisasi"?
    Tidak. Mayoritas orang tua bukan kelompok anti-imunisasi murni, terbukti dari:
    - Sebesar 78\% anak sudah mendapatkan imunisasi lengkap.
    - Hambatan utama mencakup ketakutan KIPI (37\%), lupa jadwal (22\%), kesulitan akses (15\%), serta minimnya pemahaman mengenai reaksi normal pasca-imunisasi.
    6. Cara Melakukan Komunikasi yang Tidak Menghakimi
    - Empati & Validasi: Dengarkan kekhawatiran ibu tanpa menyalahkan
    - Edukasi KIPI secara Normatif: Jelaskan bahwa demam ringan adalah tanda alami tubuh anak sedang membentuk kekebalan.
    - Bahasa yang Mudah Dipahami: Hindari istilah medis yang rumit dan fokus pada solusi penanganan demam di rumah (misal: pemberian parasetamol sesuai dosis dan kompres hangat).
    7. Komunikator yang Tepat
    - Bidan/Tenaga Kesehatan: Sebagai komunikator utama untuk edukasi medis karena paling dipercayai oleh ibu.
    - Kader Kesehatan: Sebagai penghubung (bridge) yang melakukan pemantauan dan pendataan di lapangan.
    - Tokoh Keluarga (Nenek/Suami): Perlu dilibatkan dalam sesi edukasi karena memegang peranan penting dalam pengambilan keputusan keluarga.
    8. Media yang Tepat
    - Edukasi Interaktif & Tatap Muka: Konseling langsung saat Posyandu atau kunjungan rumah oleh Bidan.
    - Media Digital Terarah: Pesan edukatif (infografis/video singkat) yang disebarkan melalui grup WhatsApp resmi Puskesmas/Posyandu untuk mengkonter misinformasi.
    - Buku KIA / Kartu Pengingat (Reminder): Untuk mengatasi masalah lupa jadwal.
    9. Cara Melakukan Follow-up Anak yang Belum Lengkap Imunisasinya
    - Pelacakan (Sweeping) & Outbreak Response: Kader dan bidan mendata ulang anak yang belum lengkap (18\%) atau tidak pernah (4\%).
    - Kunjungan Rumah (Home Visit): Bidan dan kader mendatangi rumah orang tua bersama tokoh keluarga/nenek untuk memberikan edukasi langsung secara kekeluargaan.
    - Sistem Pengingat (SMS/WA Gateway): Mengirimkan pesan pengingat jadwal imunisasi berikutnya kepada orang tua sebelum hari Posyandu.

    BalasHapus
  126. kanayya humairra soewandy 1A P3.73.36.1.26.022 (1A)
    1. Apa masalah perilaku?
    Jawaban: Orang tua menunda atau tidak melanjutkan imunisasi anak.

    2. Apa masalah sosial?
    Jawaban: Adanya pengaruh keluarga dan kelompok sosial terhadap keputusan orang tua.

    3. Apa masalah budaya?
    Jawaban: Adanya kepercayaan atau kebiasaan yang memengaruhi persepsi terhadap imunisasi.

    4. Apa masalah komunikasi?
    Jawaban: Informasi yang keliru dan komunikasi kesehatan yang belum optimal.

    5. Apakah masalah tersebut semata-mata “anti-imunisasi”?
    Jawaban: Tidak. Ada faktor takut KIPI, pengaruh keluarga, media sosial, akses, dan kepercayaan.

    6. Bagaimana melakukan komunikasi yang tidak menghakimi?
    Jawaban: Dengarkan kekhawatiran, pahami sumber informasi, jelaskan fakta, dan berikan dukungan.

    7. Siapa yang harus menjadi komunikator?
    Jawaban: Bidan atau tenaga kesehatan, dengan dukungan kader.

    8. Media apa yang tepat?
    Jawaban: Konseling langsung dan WhatsApp sebagai media pendukung.

    9. Bagaimana melakukan follow-up anak yang belum lengkap imunisasinya?
    Jawaban: Mendata anak, mengingatkan jadwal, memberikan konseling, dan memantau imunisasi berikutnya.

    BalasHapus
  127. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  128. Sofina Tk 1A
    [1.] Apa masalah perilaku?
    Masalah perilakunya adalah keraguan dan penundaan imunisasi setelah anak mengalami demam atau KIPI. Orang tua cenderung menghentikan atau menunda imunisasi karena takut anak kembali mengalami demam. Selain itu, juga terdapat perilaku lupa jadwal imunisasi.
    [2.] Apa masalah sosial?
    Masalah sosialnya adalah adanya pengaruh keluarga dan kelompok ibu-ibu terhadap keputusan imunisasi. Contohnya, ibu mengikuti saran dari ibunya untuk tidak melanjutkan imunisasi. Sebanyak 18% dipengaruhi keluarga dan 22% mengalami masalah lupa jadwal.
    [3.] Apa masalah budaya?
    Masalah budayanya adalah adanya kepercayaan atau anggapan yang diwariskan dalam keluarga, misalnya anggapan bahwa anak sebaiknya menunggu sampai lebih besar agar tubuhnya kuat. Kepercayaan seperti ini dapat memengaruhi keputusan orang tua dalam memberikan imunisasi.
    [4.] Apa masalah komunikasi?
    Masalah komunikasinya adalah informasi yang diterima orang tua belum tentu benar dan belum disampaikan oleh komunikator yang paling dipercaya. Sebanyak 61% mendapat informasi dari media sosial, sementara kader mengatakan ibu lebih percaya jika penjelasan diberikan oleh bidan. Selain itu, pesan di WhatsApp yang salah dapat memperkuat keraguan terhadap imunisasi.
    [5.] Apakah masalah tersebut semata-mata “anti-imunisasi”?
    Tidak. Masalah tersebut tidak selalu berarti anti-imunisasi. Sebagian orang tua sebenarnya ingin memberikan imunisasi, tetapi takut KIPI, kurang memahami manfaat imunisasi, lupa jadwal, mengalami kesulitan akses, atau terpengaruh keluarga dan informasi yang salah.
    Data kasus menunjukkan 78% imunisasi lengkap, sedangkan 18% belum lengkap dan 4% tidak pernah imunisasi. Jadi, perlu dibedakan antara penolakan imunisasi dengan keraguan atau hambatan untuk melengkapi imunisasi.
    [6.] Bagaimana melakukan komunikasi yang tidak menghakimi?
    Komunikasi dilakukan dengan mendengarkan kekhawatiran orang tua terlebih dahulu, kemudian memberikan informasi dengan bahasa sederhana.
    [7.] Siapa yang harus menjadi komunikator?
    Komunikator utama sebaiknya bidan atau tenaga kesehatan di Puskesmas, karena dalam kasus disebutkan bahwa ibu lebih percaya ketika dijelaskan oleh bidan.
    [9.] Bagaimana melakukan follow-up anak yang belum lengkap imunisasinya?
    Follow-up dapat dilakukan secara bertahap yaitu dengan tahap:
    1. Pendataan,
    2. Pengingat,
    3. Edukasi,
    4. Kunjungan,
    5. Pelayanan imunisasi,
    6. Pemantauan.

    BalasHapus
  129. Kasus 3.

    1. Apa masalah perilaku?
    Masalah perilakunya adalah masih ada orang tua yang menunda atau tidak melanjutkan imunisasi karena takut setelah imunisasi anak mengalami demam. Selain itu, ada orang tua yang mengikuti saran keluarga atau informasi dari WhatsApp tanpa mengecek kebenarannya terlebih dahulu.

    2. Apa masalah sosial?
    Masalah sosialnya adalah adanya pengaruh keluarga terhadap keputusan orang tua. Dalam kasus ini, ibu mengikuti perkataan nenek yang menyarankan agar imunisasi dihentikan sementara. Selain itu, kepercayaan masyarakat terhadap bidan lebih tinggi dibandingkan kader, sehingga peran kader dalam memberikan informasi masih kurang kuat.

    3. Apa masalah budaya?
    Masalah budayanya terlihat dari adanya kepercayaan bahwa anak sebaiknya menunggu sampai besar agar tubuhnya lebih kuat sebelum melanjutkan imunisasi. Kebiasaan mengikuti nasihat orang yang lebih tua dalam keluarga juga dapat memengaruhi keputusan orang tua.

    4. Apa masalah komunikasi?
    Masalah komunikasinya adalah masih adanya informasi yang kurang tepat mengenai imunisasi, terutama dari grup WhatsApp ibu-ibu. Informasi tentang demam setelah imunisasi belum dipahami dengan baik, sehingga demam dianggap sebagai alasan untuk menghentikan imunisasi. Selain itu, kader juga mengalami kesulitan karena penjelasannya belum cukup membuat ibu yakin.

    5. Apakah masalah tersebut semata-mata “anti-imunisasi”?
    Tidak. Masalah tersebut tidak bisa langsung disebut sebagai anti-imunisasi. Sebagian orang tua sebenarnya masih menerima imunisasi, tetapi mereka merasa takut, ragu, lupa jadwal, mendapat pengaruh keluarga, atau menerima informasi yang kurang tepat. Jadi, penyebabnya perlu dipahami terlebih dahulu sebelum memberikan penilaian.

    6. Bagaimana melakukan komunikasi yang tidak menghakimi?
    Komunikasi dapat dilakukan dengan mendengarkan kekhawatiran ibu terlebih dahulu dan tidak langsung menyalahkan atau mengatakan bahwa ibu salah. Misalnya, petugas bisa mengatakan, Ibu khawatir karena anak demam setelah imunisasi, ya. Kita coba bahas bersama supaya ibu lebih memahami apa yang terjadi setelah imunisasi. Setelah itu, petugas memberikan penjelasan dengan bahasa sederhana dan memberikan kesempatan kepada ibu untuk bertanya.

    7. Siapa yang harus menjadi komunikator?
    Bidan atau tenaga kesehatan sebaiknya menjadi komunikator utama karena pada kasus ini ibu lebih percaya kepada bidan. Kader tetap dilibatkan sebagai pendamping dan penghubung dengan masyarakat, terutama untuk mengingatkan jadwal dan melakukan tindak lanjut kepada keluarga.

    8. Media apa yang tepat?
    Media yang tepat adalah komunikasi langsung atau tatap muka dengan bidan, kemudian dapat diperkuat melalui WhatsApp. WhatsApp bisa digunakan untuk mengirim informasi singkat, poster, video pendek, dan pengingat jadwal imunisasi. Karena banyak ibu mendapatkan informasi dari media sosial, media tersebut sebaiknya digunakan untuk memberikan informasi yang benar dan mudah dipahami.

    9. Bagaimana melakukan follow-up anak yang belum lengkap imunisasinya?
    Pertama, Puskesmas atau kader mendata anak yang imunisasinya belum lengkap dan mencari tahu penyebabnya, misalnya takut KIPI, lupa jadwal, pengaruh keluarga, atau kesulitan akses. Setelah itu, orang tua diberikan penjelasan oleh bidan sesuai kekhawatirannya dan diberikan informasi mengenai jadwal imunisasi berikutnya. Kader dapat membantu mengingatkan jadwal dan melakukan kunjungan atau menghubungi keluarga kembali. Anak yang belum lengkap kemudian diarahkan untuk mendapatkan imunisasi sesuai jadwal catch-up yang ditentukan oleh tenaga kesehatan.

    BalasHapus
  130. kasus 3

    1. Apa masalah perilaku?
    = Masalah perilakunya yaitu masih ada orang tua yang takut dan memilih menunda imunisasi karena anaknya mengalami demam setelah imunisasi. Selain itu, ada juga orang tua yang lupa dengan jadwal imunisasi.

    2. Apa masalah sosial?
    =Masalah sosialnya adalah adanya pengaruh dari keluarga dan lingkungan sekitar. Contohnya, ibu mengikuti perkataan nenek anak yang menyarankan untuk tidak melanjutkan imunisasi. Informasi dari grup WhatsApp juga bisa memengaruhi keputusan orang tua.

    3. Apa masalah budaya?
    =Masalah budayanya bisa dilihat dari kepercayaan yang sudah berkembang di masyarakat, seperti anggapan bahwa anak sebaiknya menunggu sampai besar agar tubuhnya lebih kuat. Selain itu, pendapat orang yang lebih tua dalam keluarga juga masih cukup berpengaruh.

    4. Apa masalah komunikasi?
    =Masalah komunikasinya adalah informasi tentang imunisasi dan KIPI belum diterima atau dipahami dengan baik oleh orang tua. Kader sudah mencoba menjelaskan, tetapi ibu masih ragu. Sementara itu, informasi dari media sosial justru lebih mudah menyebar dan bisa membuat orang tua semakin takut.

    5. Apakah masalah tersebut semata-mata “anti-imunisasi”?
    = Menurut saya, tidak bisa langsung disebut anti-imunisasi. Bisa saja orang tua sebenarnya tidak menolak imunisasi, tetapi mereka takut karena anaknya demam, mendapat pengaruh dari keluarga, atau percaya dengan informasi yang salah dari media sosial.

    6. Bagaimana melakukan komunikasi yang tidak menghakimi?
    =Caranya dengan mendengarkan kekhawatiran orang tua terlebih dahulu, bukan langsung menyalahkan mereka. Setelah itu, tenaga kesehatan bisa menjelaskan tentang KIPI dengan bahasa yang sederhana, termasuk mana reaksi yang masih normal dan kapan anak perlu diperiksa.

    7. Siapa yang harus menjadi komunikator?
    =Yang paling berperan adalah bidan atau tenaga kesehatan, karena dari kasus tersebut ibu lebih percaya ketika mendapat penjelasan dari bidan. Kader juga tetap berperan untuk membantu memberikan informasi dan mengingatkan jadwal imunisasi.

    8. Media apa yang tepat?
    =Media yang bisa digunakan seperti WhatsApp, poster, leaflet, video pendek, dan penyuluhan langsung. Karena banyak orang tua mendapat informasi dari media sosial, WhatsApp bisa digunakan untuk menyebarkan informasi tentang imunisasi yang benar dan mudah dipahami.

    9. Bagaimana melakukan follow-up anak yang =belum lengkap imunisasinya?
    Puskesmas dan kader bisa mendata anak yang imunisasinya belum lengkap, kemudian menghubungi orang tuanya untuk menanyakan kendalanya. Setelah itu, orang tua diingatkan mengenai jadwal imunisasi berikutnya dan dibantu jika mengalami kesulitan untuk datang ke fasilitas kesehatan.

    BalasHapus
  131. 1. Apa masalah perilaku?
    = Masalah perilakunya yaitu masih ada orang tua yang takut dan memilih menunda imunisasi karena anaknya mengalami demam setelah imunisasi. Selain itu, ada juga orang tua yang lupa dengan jadwal imunisasi.

    2. Apa masalah sosial?
    =Masalah sosialnya adalah adanya pengaruh dari keluarga dan lingkungan sekitar. Contohnya, ibu mengikuti perkataan nenek anak yang menyarankan untuk tidak melanjutkan imunisasi. Informasi dari grup WhatsApp juga bisa memengaruhi keputusan orang tua.

    3. Apa masalah budaya?
    =Masalah budayanya bisa dilihat dari kepercayaan yang sudah berkembang di masyarakat, seperti anggapan bahwa anak sebaiknya menunggu sampai besar agar tubuhnya lebih kuat. Selain itu, pendapat orang yang lebih tua dalam keluarga juga masih cukup berpengaruh.

    4. Apa masalah komunikasi?
    =Masalah komunikasinya adalah informasi tentang imunisasi dan KIPI belum diterima atau dipahami dengan baik oleh orang tua. Kader sudah mencoba menjelaskan, tetapi ibu masih ragu. Sementara itu, informasi dari media sosial justru lebih mudah menyebar dan bisa membuat orang tua semakin takut.

    5. Apakah masalah tersebut semata-mata “anti-imunisasi”?
    = Menurut saya, tidak bisa langsung disebut anti-imunisasi. Bisa saja orang tua sebenarnya tidak menolak imunisasi, tetapi mereka takut karena anaknya demam, mendapat pengaruh dari keluarga, atau percaya dengan informasi yang salah dari media sosial.

    6. Bagaimana melakukan komunikasi yang tidak menghakimi?
    =Caranya dengan mendengarkan kekhawatiran orang tua terlebih dahulu, bukan langsung menyalahkan mereka. Setelah itu, tenaga kesehatan bisa menjelaskan tentang KIPI dengan bahasa yang sederhana, termasuk mana reaksi yang masih normal dan kapan anak perlu diperiksa.

    7. Siapa yang harus menjadi komunikator?
    =Yang paling berperan adalah bidan atau tenaga kesehatan, karena dari kasus tersebut ibu lebih percaya ketika mendapat penjelasan dari bidan. Kader juga tetap berperan untuk membantu memberikan informasi dan mengingatkan jadwal imunisasi.

    8. Media apa yang tepat?
    =Media yang bisa digunakan seperti WhatsApp, poster, leaflet, video pendek, dan penyuluhan langsung. Karena banyak orang tua mendapat informasi dari media sosial, WhatsApp bisa digunakan untuk menyebarkan informasi tentang imunisasi yang benar dan mudah dipahami.

    9. Bagaimana melakukan follow-up anak yang =belum lengkap imunisasinya?
    Puskesmas dan kader bisa mendata anak yang imunisasinya belum lengkap, kemudian menghubungi orang tuanya untuk menanyakan kendalanya. Setelah itu, orang tua diingatkan mengenai jadwal imunisasi berikutnya dan dibantu jika mengalami kesulitan untuk datang ke fasilitas kesehatan.

    BalasHapus