Rabu, 23 September 2026

Pendekatan Promosi Kesehatan Berbasis Sosial Budaya pada Masalah Diabetes Melitus

 

KASUS PEMBELAJARAN

Pendekatan Promosi Kesehatan Berbasis Sosial Budaya pada Masalah Diabetes Melitus

Mata Kuliah Sosial Budaya Kesehatan Masyarakat Program Studi Sarjana Terapan Promosi Kesehatan

Topik

Pendekatan Promosi Kesehatan Berbasis Sosial Budaya pada Masalah Diabetes Melitus

Metode Pembelajaran

Case-Based Learning (CBL)

Alokasi Waktu

2 × 50 menit atau dapat dikembangkan menjadi 3 × 50 menit

 

A. Deskripsi Kasus

Desa Sukamaju merupakan wilayah semi-perkotaan dengan jumlah penduduk sekitar 8.500 jiwa. Sebagian besar penduduk bekerja sebagai pedagang, pekerja informal, buruh, pegawai swasta, dan pelaku usaha makanan rumahan. Kehidupan sosial masyarakat masih cukup kuat. Kegiatan pengajian, arisan, pertemuan RT/RW, posyandu, kegiatan PKK, dan kegiatan keluarga besar berlangsung secara rutin.

Dalam dua tahun terakhir, Puskesmas Sukamaju menemukan semakin banyak masyarakat usia dewasa dan lanjut usia yang memiliki kadar gula darah tinggi. Hasil kegiatan skrining PTM menunjukkan bahwa dari 320 orang yang mengikuti pemeriksaan gula darah sewaktu, 68 orang memiliki hasil pemeriksaan yang perlu ditindaklanjuti. Sebagian masyarakat yang telah mendapatkan hasil pemeriksaan tersebut tidak melakukan pemeriksaan lanjutan secara rutin.

Petugas Puskesmas kemudian melakukan wawancara awal kepada masyarakat. Ditemukan beberapa kebiasaan yang berpotensi berkaitan dengan pengendalian diabetes melitus.

Masyarakat memiliki kebiasaan mengonsumsi teh manis, kopi dengan gula, minuman kemasan, dan makanan ringan manis ketika berkumpul. Pada kegiatan sosial seperti pengajian, arisan, rapat warga, dan pertemuan keluarga, makanan dan minuman manis sering dianggap sebagai bentuk penghormatan kepada tamu.

Salah seorang warga, Ibu S, 54 tahun, telah didiagnosis diabetes melitus sekitar tiga tahun yang lalu. Dokter telah memberikan edukasi mengenai pola makan, aktivitas fisik, pemeriksaan gula darah, dan konsumsi obat secara teratur. Namun, Ibu S mengatakan:

“Kalau sedang kumpul dengan keluarga, tidak enak kalau saya tidak ikut makan. Nanti dikira sombong atau tidak menghargai yang punya acara.”

Ibu S juga mengaku masih mengonsumsi teh manis beberapa kali sehari karena menurutnya teh tanpa gula “tidak enak dan tidak membuat badan terasa segar”.

Sementara itu, suaminya berpendapat bahwa makanan merupakan bagian penting dalam menjaga keharmonisan keluarga.

“Kalau makan bersama itu harus lengkap. Kalau cuma sayur dan sedikit nasi, rasanya seperti orang sakit.”

 

B. Temuan Sosial dan Budaya Masyarakat

Hasil diskusi awal petugas promosi kesehatan dengan kader menunjukkan beberapa kondisi berikut.

Temuan

Kondisi di Masyarakat

Kebiasaan makan

Nasi menjadi makanan pokok dan dikonsumsi dalam jumlah relatif banyak

Minuman

Teh/kopi dengan gula merupakan kebiasaan sehari-hari

Makanan sosial

Kue manis, gorengan, dan minuman manis sering disediakan dalam kegiatan masyarakat

Nilai sosial

Menolak makanan/minuman dari tuan rumah dianggap kurang menghargai

Keluarga

Keputusan makanan sering ditentukan atau dipengaruhi anggota keluarga

Pengetahuan

Sebagian masyarakat mengetahui diabetes berkaitan dengan gula, tetapi belum memahami faktor risiko secara komprehensif

Persepsi

Diabetes sering dianggap sebagai penyakit keturunan atau penyakit orang tua

Pengobatan

Sebagian warga lebih percaya pada pengalaman keluarga atau saran tokoh masyarakat

Aktivitas fisik

Aktivitas fisik belum menjadi kebiasaan terencana

Posbindu

Tersedia tetapi belum dimanfaatkan secara optimal oleh seluruh kelompok sasaran

Tokoh masyarakat

Ketua RT/RW, kader, tokoh agama, dan tokoh perempuan memiliki pengaruh cukup besar

Media komunikasi

WhatsApp group warga dan kegiatan tatap muka merupakan media yang paling sering digunakan

 

C. Masalah yang Semakin Kompleks

Petugas Puskesmas kemudian melakukan Focus Group Discussion (FGD) dengan masyarakat.

Dalam diskusi tersebut muncul beberapa pendapat.

Kelompok 1 – Masyarakat

Beberapa warga mengatakan:

“Di keluarga kami memang banyak yang diabetes. Jadi mungkin memang keturunan.”

Warga lainnya mengatakan:

“Kalau sudah diabetes, ya tinggal minum obat. Makanan tidak terlalu berpengaruh kalau obatnya diminum.”

Ada pula warga yang mengatakan:

“Kalau tidak makan nasi banyak, cepat lapar dan tidak kuat bekerja.”

Kelompok 2 – Kader

Kader mengatakan bahwa masyarakat sebenarnya sudah sering mendapatkan penyuluhan tentang diabetes.

Namun, menurut kader:

“Penyuluhannya sudah sering, tetapi setelah beberapa minggu kebiasaan masyarakat kembali seperti sebelumnya.”

Kader juga menyampaikan bahwa materi edukasi yang diberikan biasanya berupa ceramah dengan materi tentang definisi diabetes, gejala, komplikasi, dan anjuran mengurangi gula.

Kelompok 3 – Tokoh Masyarakat

Ketua RT menyampaikan bahwa kegiatan kesehatan akan lebih mudah diterima apabila melibatkan tokoh masyarakat.

Tokoh agama mengatakan bahwa pesan kesehatan dapat disampaikan melalui kegiatan pengajian, tetapi:

“Bahasanya jangan terlalu medis. Masyarakat lebih mudah menerima kalau dikaitkan dengan tanggung jawab menjaga kesehatan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.”

Kelompok 4 – Keluarga

Beberapa anggota keluarga pasien diabetes mengatakan mereka ingin membantu anggota keluarganya, tetapi tidak mengetahui bagaimana cara mengubah pola makan keluarga tanpa menimbulkan konflik.

Salah seorang anak pasien mengatakan:

“Kalau ibu tidak boleh makan makanan tertentu, anggota keluarga lain tetap makan seperti biasa. Akhirnya ibu ikut makan juga.”

 

D. Data Tambahan

Tim promosi kesehatan melakukan survei sederhana terhadap 100 orang dewasa di Desa Sukamaju.

Hasilnya:

Indikator

Hasil

Mengetahui bahwa diabetes berkaitan dengan pola makan

82%

Mengetahui bahwa aktivitas fisik penting dalam pencegahan diabetes

61%

Mengetahui bahwa obesitas merupakan faktor risiko diabetes

48%

Mengonsumsi minuman manis ≥1 kali/hari

72%

Mengonsumsi makanan/minuman manis saat kegiatan sosial

76%

Melakukan aktivitas fisik terencana ≥3 kali/minggu

29%

Memeriksa gula darah secara berkala

37%

Mengetahui cara membaca informasi gula pada label makanan

24%

Menganggap diabetes terutama disebabkan faktor keturunan

54%

Menganggap minum obat saja cukup untuk mengendalikan diabetes

41%

Pernah mengikuti edukasi diabetes dari Puskesmas

78%

Temuan tersebut menunjukkan adanya kesenjangan antara pengetahuan, lingkungan sosial-budaya, dan perilaku kesehatan.

 

E. Tantangan bagi Tenaga Promosi Kesehatan

Puskesmas kemudian meminta mahasiswa Sarjana Terapan Promosi Kesehatan untuk membantu merancang strategi promosi kesehatan.

Namun, Puskesmas memberikan beberapa batasan:

  1. Tidak boleh menggunakan pendekatan yang menyalahkan masyarakat.
  2. Tidak cukup hanya membuat penyuluhan tentang diabetes.
  3. Intervensi harus mempertimbangkan nilai, norma, kebiasaan, kepercayaan, dan struktur sosial masyarakat.
  4. Keluarga harus dilibatkan.
  5. Tokoh masyarakat dan kader perlu menjadi bagian dari strategi.
  6. Pesan kesehatan harus menggunakan bahasa yang mudah dipahami masyarakat.
  7. Strategi harus dapat dilaksanakan dengan sumber daya Puskesmas dan masyarakat yang tersedia.
  8. Intervensi harus mempunyai indikator proses dan indikator hasil.
  9. Strategi harus memperhatikan keberlanjutan setelah kegiatan mahasiswa selesai.

 

F. Tugas Mahasiswa

Mahasiswa berperan sebagai tim promosi kesehatan Puskesmas.

Berdasarkan kasus tersebut, susunlah rancangan “Program Promosi Kesehatan Berbasis Sosial Budaya untuk Pencegahan dan Pengendalian Diabetes Melitus di Desa Sukamaju.”

Mahasiswa harus menyelesaikan tugas berikut.

 

1. Identifikasi Masalah

Identifikasi minimal 5 masalah kesehatan dan sosial-budaya yang terdapat dalam kasus.

Mahasiswa harus membedakan:

  1. Masalah Kesehatan;
  2. Masalah Perilaku;
  3. Masalah Lingkungan Sosial;
  4. Masalah Budaya;
  5. Masalah Komunikasi;
  6. Masalah Sistem Pelayanan Kesehatan.

 

2. Analisis Sosial Budaya

Analisis bagaimana faktor berikut memengaruhi masalah diabetes:

a. Pengetahuan

Apa yang diketahui dan belum diketahui masyarakat?

b. Nilai

Nilai sosial apa yang memengaruhi perilaku makan?

c. Norma sosial

Perilaku apa yang dianggap “wajar” atau “tidak sopan” oleh masyarakat?

d. Kepercayaan

Keyakinan apa yang berpotensi memengaruhi pencegahan dan pengendalian diabetes?

e. Tradisi/kebiasaan

Kebiasaan apa yang berhubungan dengan makanan dan minuman?

f. Keluarga

Bagaimana keluarga memengaruhi pilihan makanan dan aktivitas fisik?

g. Tokoh masyarakat

Siapa yang memiliki pengaruh terhadap perilaku masyarakat?

h. Lingkungan sosial

Bagaimana kegiatan sosial dapat menjadi faktor risiko sekaligus peluang intervensi?

 

G. Analisis Menggunakan Pendekatan Sosial Budaya

Mahasiswa diminta menggunakan kerangka berikut:

Individu → Keluarga → Kelompok → Komunitas → Sistem

Tingkat

Pertanyaan Analisis

Individu

Apa pengetahuan, persepsi, sikap, dan kebiasaan individu?

Keluarga

Bagaimana keluarga memengaruhi pola makan dan aktivitas fisik?

Kelompok

Bagaimana teman sebaya, kelompok pengajian, arisan, atau kelompok kerja memengaruhi perilaku?

Komunitas

Bagaimana norma dan kebiasaan masyarakat memengaruhi perilaku?

Sistem

Bagaimana Puskesmas, kader, Posbindu, pemerintah desa, dan tokoh masyarakat dapat mendukung perubahan?


H. Analisis Akar Masalah

Mahasiswa diminta membuat pohon masalah atau fishbone analysis.

Contoh kategori:

Manusia

  1. Pengetahuan belum memadai
  2. Persepsi diabetes
  3. Motivasi perubahan perilaku

Perilaku

  1. Konsumsi minuman manis
  2. Aktivitas fisik rendah
  3. Pemeriksaan kesehatan tidak rutin

Sosial

  1. Tekanan sosial untuk makan/minum saat acara
  2. Pengaruh keluarga
  3. Kebiasaan komunitas

Budaya

  1. Makanan sebagai simbol penghormatan
  2. Makan bersama sebagai bentuk kebersamaan
  3. Anggapan menolak makanan sebagai perilaku tidak sopan

Pelayanan

  1. Edukasi masih dominan satu arah
  2. Belum optimal melibatkan keluarga
  3. Pemanfaatan Posbindu belum optimal

Lingkungan

  1. Ketersediaan makanan/minuman manis
  2. Lingkungan kurang mendukung aktivitas fisik

 

I. Tantangan Utama

Mahasiswa harus menjawab pertanyaan:

“Apakah masalah utama masyarakat adalah kurangnya pengetahuan tentang diabetes, atau terdapat kesenjangan antara pengetahuan dengan norma, nilai, kebiasaan, dan lingkungan sosial masyarakat?”

Berikan argumentasi berdasarkan data kasus.

 

J. Perancangan Intervensi

Mahasiswa kemudian merancang intervensi menggunakan prinsip:

“Bukan mengubah budaya masyarakat, tetapi mencari titik masuk budaya untuk membangun perilaku kesehatan.”

Mahasiswa harus menyusun:

Komponen

Rancangan

Masalah prioritas

...

Sasaran primer

...

Sasaran sekunder

...

Sasaran tersier

...

Nilai budaya yang dipertahankan

...

Kebiasaan yang perlu dimodifikasi

...

Tokoh yang dilibatkan

...

Media

...

Pesan utama

...

Metode

...

Aktivitas

...

Indikator proses

...

Indikator hasil

...

 

K. Pilihan Strategi Promosi Kesehatan

Mahasiswa dapat mengembangkan beberapa strategi berikut.

 

Strategi 1 – “Sehat Tetap Bersama”

Mengubah konsep:

“Menolak makanan = tidak menghargai”

menjadi:

“Menjaga kesehatan bersama = bentuk kepedulian terhadap keluarga.”

 

Strategi 2 – Modifikasi Hidangan Kegiatan Sosial

Bukan melarang makanan tradisional, tetapi melakukan modifikasi pilihan makanan dan minuman dalam kegiatan masyarakat.

Contohnya:

  1. mengurangi gula tambahan;
  2. menyediakan air putih;
  3. menyediakan pilihan makanan lebih sehat;
  4. mengatur porsi;
  5. memperbanyak buah/sayur;
  6. memberikan pilihan tanpa minuman manis.

 

Strategi 3 – Pelibatan Keluarga

Membuat pesan:

“Satu keluarga, satu kebiasaan sehat.”

Keluarga membuat kesepakatan sederhana, misalnya:

  1. menyediakan air putih;
  2. membatasi minuman manis;
  3. makan bersama dengan porsi yang lebih sehat;
  4. melakukan aktivitas fisik bersama.

 

Strategi 4 – Pelibatan Tokoh Agama

Tokoh agama tidak berperan sebagai tenaga kesehatan, tetapi sebagai social influencer yang membantu memperkuat pesan tentang menjaga kesehatan.

Pesan kesehatan dapat diintegrasikan secara kontekstual dalam kegiatan masyarakat tanpa mengubah substansi medis.

 

Strategi 5 – Kader sebagai Agen Perubahan

Kader dapat dilatih untuk:

  1. komunikasi interpersonal;
  2. konseling sederhana;
  3. membaca label pangan;
  4. pemantauan perilaku;
  5. mengingatkan pemeriksaan kesehatan;
  6. menghubungkan masyarakat dengan Posbindu/Puskesmas.

 

L. Tugas Merancang Pesan Komunikasi

Mahasiswa membuat 3 versi pesan promosi kesehatan:

Pesan untuk pasien diabetes

Maksimal 20 kata.

Pesan untuk keluarga

Maksimal 20 kata.

Pesan untuk masyarakat

Maksimal 20 kata.

Pesan harus:

  1. Tidak Menyalahkan;
  2. Tidak Menakut-Nakuti;
  3. Mudah Dipahami;
  4. Sesuai Konteks Budaya;
  5. Mendorong Tindakan Nyata.

 

M. Tugas Media Promosi Kesehatan

Mahasiswa memilih minimal dua media:

  1. poster;
  2. leaflet;
  3. WhatsApp;
  4. video pendek;
  5. infografis;
  6. kartu pengingat;
  7. kalender kesehatan;
  8. media komunitas;
  9. demonstrasi memasak;
  10. permainan edukatif;
  11. forum warga;
  12. pengajian;
  13. kegiatan PKK;
  14. Posbindu.

Kemudian jelaskan mengapa media tersebut sesuai dengan karakteristik sosial-budaya masyarakat.

 

N. Simulasi Kasus Komunikasi

Mahasiswa melakukan role play.

Skenario

Seorang kader memberikan edukasi kepada Ibu S yang mengatakan:

“Saya sudah tahu diabetes. Tapi kalau datang ke acara keluarga, saya tidak mungkin menolak makanan. Nanti keluarga tersinggung.”

Mahasiswa berperan sebagai kader promosi kesehatan.

Tantangan:

Mahasiswa tidak boleh langsung mengatakan:

“Ibu harus berhenti makan makanan manis.”

Mahasiswa harus menggunakan pendekatan komunikasi yang:

  1. menggali pengalaman;
  2. memahami nilai keluarga;
  3. mengidentifikasi hambatan;
  4. mengidentifikasi sumber daya;
  5. melakukan negosiasi perilaku;
  6. menyusun tujuan yang realistis;
  7. memberikan penguatan.

 

O. Pertanyaan Analitis Tingkat Tinggi

Pertanyaan 1

Mengapa edukasi diabetes yang sudah diberikan kepada 78% masyarakat belum otomatis menghasilkan perubahan perilaku?

Pertanyaan 2

Bagaimana norma sosial dapat menjadi faktor risiko sekaligus faktor protektif?

Pertanyaan 3

Apakah budaya makan masyarakat harus dihilangkan untuk mencegah diabetes? Jelaskan.

Pertanyaan 4

Bagaimana cara melakukan modifikasi perilaku tanpa membuat masyarakat merasa budaya mereka disalahkan?

Pertanyaan 5

Mengapa keluarga harus menjadi sasaran intervensi, bukan hanya pasien diabetes?

Pertanyaan 6

Bagaimana mahasiswa menentukan entry point budaya untuk intervensi promosi kesehatan?

Pertanyaan 7

Bagaimana membedakan antara kepercayaan masyarakat yang perlu dihargai dengan informasi kesehatan yang perlu dikoreksi?

Pertanyaan 8

Jika masyarakat sudah sering mendapatkan penyuluhan tetapi perilaku belum berubah, apakah solusi berikutnya harus berupa penyuluhan yang lebih banyak? Jelaskan alasan Anda.

Pertanyaan 9

Bagaimana tokoh masyarakat dapat digunakan sebagai penguat norma kesehatan tanpa menggantikan peran tenaga kesehatan?

Pertanyaan 10

Bagaimana memastikan intervensi tidak berhenti setelah program mahasiswa selesai?

 

P. Produk Akhir Kelompok

Setiap kelompok menghasilkan mini project promosi kesehatan yang terdiri atas:

  1. Analisis situasi
  2. Analisis sosial-budaya
  3. Pemetaan stakeholder
  4. Pohon masalah
  5. Penentuan masalah prioritas
  6. Tujuan intervensi
  7. Segmentasi sasaran
  8. Strategi promosi kesehatan
  9. Strategi komunikasi
  10. Pesan kesehatan
  11. Pemilihan media
  12. Rencana kegiatan
  13. Indikator proses
  14. Indikator hasil
  15. Rencana monitoring dan evaluasi
  16. Strategi keberlanjutan

 

Q. Rubrik Penilaian

Komponen

Bobot

Identifikasi masalah

10%

Analisis sosial-budaya

20%

Analisis akar masalah

15%

Analisis stakeholder

10%

Ketepatan strategi promosi kesehatan

15%

Integrasi pendekatan sosial-budaya

15%

Media dan pesan komunikasi

5%

Monitoring dan evaluasi

5%

Kreativitas dan kelayakan program

5%

Total

100%

 

R. Kompetensi yang Diharapkan

Setelah menyelesaikan kasus, mahasiswa diharapkan mampu:

  1. Menganalisis hubungan sosial, budaya, dan perilaku dengan masalah diabetes melitus.
  2. Mengidentifikasi nilai, norma, kepercayaan, kebiasaan, dan struktur sosial yang memengaruhi perilaku kesehatan.
  3. Menganalisis kesenjangan antara pengetahuan dan praktik kesehatan.
  4. Memetakan stakeholder dan sumber daya sosial masyarakat.
  5. Merancang pendekatan promosi kesehatan yang sensitif terhadap konteks sosial-budaya.
  6. Mengembangkan pesan dan media komunikasi yang sesuai karakteristik sasaran.
  7. Merancang intervensi yang melibatkan individu, keluarga, kelompok, dan komunitas.
  8. Menetapkan indikator monitoring dan evaluasi program.
  9. Membangun strategi keberlanjutan berbasis pemberdayaan masyarakat.

 

S. Inti Pembelajaran

Kasus ini sengaja dibangun agar mahasiswa memahami bahwa:

Masalah diabetes melitus di masyarakat bukan semata-mata persoalan kurangnya pengetahuan. Perilaku kesehatan terbentuk melalui interaksi antara pengetahuan, persepsi, keluarga, norma sosial, nilai budaya, kebiasaan, lingkungan, akses pelayanan, dan dukungan komunitas.

Karena itu, pendekatan promosi kesehatan tidak cukup hanya memberikan informasi, tetapi perlu memahami “mengapa masyarakat melakukan sesuatu”, kemudian menemukan titik masuk sosial-budaya untuk menghasilkan perubahan perilaku yang dapat diterima, realistis, dan berkelanjutan.

Pertanyaan penutup untuk diskusi kelas

“Jika Anda menjadi tenaga promosi kesehatan di Desa Sukamaju, apakah Anda akan mengubah perilaku masyarakat terlebih dahulu, atau mengubah lingkungan sosial yang membentuk perilaku tersebut? Jelaskan strategi Anda dan alasan pemilihannya.”

Kasus ini cocok dikembangkan menjadi PBL/CBL lengkap untuk Sarjana Terapan, termasuk lembar kerja mahasiswa (LKM), skenario role play, kunci jawaban/dosen, kisi-kisi penilaian, rubrik CBL, dan PPT bahan ajar.

 

45 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. Nama : Nabila Anjani Putri
    Kelas : 1B
    Kelompok : 2
    Prodi : Promosi Kesehatan

    1. Karena pengetahuan hanya salah satu determinan perilaku. Model seperti Health Belief Model dan Theory of Planned Behavior menunjukkan perilaku juga dipengaruhi sikap, norma sosial, kontrol diri (akses, biaya, waktu), kebiasaan, dan lingkungan. Tahu belum tentu mampu atau mau berubah, ada gap antara knowledge, attitude, dan practice (KAP gap).

    2. Norma bisa mendukung perilaku sehat (misalnya budaya makan bersama-sama porsi terkontrol) tapi juga melanggengkan perilaku berisiko (misalnya norma "makan banyak nasi = sehat/berkecukupan", atau tekanan sosial untuk menghabiskan makanan manis saat acara). Norma yang sama bisa jadi penguat atau penghambat tergantung isinya.

    3. Tidak. Pendekatan yang tepat adalah modifikasi, bukan penghapusan. Mempertahankan nilai budaya (kebersamaan, jenis makanan) sambil menyesuaikan porsi, frekuensi, atau cara pengolahan. Menghapus budaya berisiko menimbulkan resistensi dan dianggap tidak menghormati identitas masyarakat.

    4. Gunakan pendekatan partisipatif: libatkan masyarakat dalam merancang solusi, framing pesan sebagai "penyesuaian" bukan "kesalahan", gunakan tokoh masyarakat sebagai penyampai pesan, dan tonjolkan aspek budaya yang tetap bisa dipertahankan.

    5. Karena pola makan dan perilaku kesehatan biasanya dibentuk dan dijaga di tingkat rumah tangga (siapa yang memasak, pola belanja, dukungan emosional). Keluarga juga faktor pendukung/penghambat kepatuhan pengobatan pasien.

    6. Melalui analisis sosial-budaya awal: observasi kebiasaan makan, wawancara dengan tokoh masyarakat/kader, identifikasi nilai atau kebiasaan yang paling berpengaruh dan paling mungkin diubah tanpa menimbulkan penolakan besar.

    7. Kepercayaan yang bersifat nilai/identitas (tidak membahayakan kesehatan) dihargai; informasi yang secara medis salah dan berisiko (misalnya mitos tentang pengobatan) perlu diluruskan secara halus dengan edukasi berbasis bukti, tanpa merendahkan kepercayaan itu sendiri.

    8. Belum tentu. Jika penyuluhan berulang tidak mengubah perilaku, masalahnya kemungkinan bukan kurangnya informasi, melainkan hambatan struktural (akses, biaya, lingkungan) atau psikososial (norma, motivasi). Solusinya perlu diversifikasi metode: pendekatan perilaku, dukungan lingkungan, kebijakan lokal, bukan sekadar mengulang ceramah.

    9. Tokoh masyarakat bisa memodelkan perilaku sehat dan memberi legitimasi sosial terhadap pesan kesehatan, sehingga pesan lebih diterima. Namun perannya sebagai penguat pesan dan motivator, bukan pengganti tenaga kesehatan dalam hal diagnosis, edukasi klinis, atau pengobatan.

    10. Dengan strategi keberlanjutan (sustainability), misalnya: melatih kader lokal, melibatkan puskesmas/tenaga kesehatan setempat, membentuk kelompok pendukung mandiri (support group), dan mendokumentasikan program agar bisa dilanjutkan oleh pemangku kepentingan lokal.

    BalasHapus
  3. Aulia Nur Fitriyani
    1B
    Kelompok 3
    Promosi Kesehatan

    1.Karena mengetahui tentang diabetes belum tentu membuat seseorang langsung mengubah kebiasaan. Perilaku juga dipengaruhi lingkungan, kebiasaan, keluarga, dan kemauan diri sendiri.
    2. Norma sosial bisa menjadi risiko kalau kebiasaan yang dilakukan bersama tidak sehat. Sebaliknya, bisa menjadi pelindung kalau lingkungan saling mendukung untuk hidup sehat.
    3. Tidak perlu dihilangkan. Budaya makan tetap bisa dipertahankan dengan menyesuaikan porsi, bahan, atau frekuensinya agar lebih sehat.
    4. Dengan memahami budaya masyarakat terlebih dahulu, lalu mencari kebiasaan yang bisa diubah secara perlahan tanpa menyalahkan budaya mereka.
    5. Karena keluarga sangat berpengaruh terhadap pola makan dan kebiasaan pasien. Dukungan keluarga juga membuat perubahan perilaku lebih mudah dilakukan.
    6. Dengan melihat kebiasaan dan nilai budaya yang paling dekat dengan kehidupan masyarakat, lalu menentukan bagian mana yang bisa digunakan untuk menyampaikan pesan kesehatan.
    7. Kepercayaan tetap dihargai selama tidak membahayakan kesehatan. Kalau ada informasi yang tidak sesuai fakta, bagian informasinya yang perlu diluruskan dengan cara yang baik.
    8. Tidak selalu. Kalau penyuluhan sudah sering tetapi perilaku belum berubah, berarti perlu dicari hambatan lain seperti lingkungan, kebiasaan, atau kurangnya dukungan.
    9. Tokoh masyarakat bisa membantu mengajak dan memberi contoh kepada warga, sedangkan tenaga kesehatan tetap memberikan informasi dan arahan berdasarkan ilmu kesehatan.
    10. Dengan melibatkan kader, keluarga, dan tokoh masyarakat sejak awal agar program bisa tetap dilanjutkan meskipun mahasiswa sudah selesai.

    BalasHapus
  4. Nama : Rezyta Deranova
    Kelas : 1B
    Kelompok : 3
    Jurusan : Promosi Kesehatan

    1. Karena mengetahui tentang diabetes belum tentu membuat seseorang langsung mengubah kebiasaan. Perilaku juga dipengaruhi lingkungan, kebiasaan, keluarga, dan kemauan diri sendiri.

    2. Norma sosial bisa menjadi risiko kalau kebiasaan yang dilakukan bersama tidak sehat. Sebaliknya, bisa menjadi pelindung kalau lingkungan saling mendukung untuk hidup sehat.

    3. Tidak perlu dihilangkan. Budaya makan tetap bisa dipertahankan dengan menyesuaikan porsi, bahan, atau frekuensinya agar lebih sehat.

    4. Dengan memahami budaya masyarakat terlebih dahulu, lalu mencari kebiasaan yang bisa diubah secara perlahan tanpa menyalahkan budaya mereka.

    5. Karena keluarga sangat berpengaruh terhadap pola makan dan kebiasaan pasien. Dukungan keluarga juga membuat perubahan perilaku lebih mudah dilakukan.

    6. Dengan melihat kebiasaan dan nilai budaya yang paling dekat dengan kehidupan masyarakat, lalu menentukan bagian mana yang bisa digunakan untuk menyampaikan pesan kesehatan.

    7. Kepercayaan tetap dihargai selama tidak membahayakan kesehatan. Kalau ada informasi yang tidak sesuai fakta, bagian informasinya yang perlu diluruskan dengan cara yang baik.

    8. Tidak selalu. Kalau penyuluhan sudah sering tetapi perilaku belum berubah, berarti perlu dicari hambatan lain seperti lingkungan, kebiasaan, atau kurangnya dukungan.

    9. Tokoh masyarakat bisa membantu mengajak dan memberi contoh kepada warga, sedangkan tenaga kesehatan tetap memberikan informasi dan arahan berdasarkan ilmu kesehatan.

    10. Dengan melibatkan kader, keluarga, dan tokoh masyarakat sejak awal agar program bisa tetap dilanjutkan meskipun mahasiswa sudah selesai.

    BalasHapus
  5. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  6. Nama : Naura Eka Febriana
    Kelas : 1B
    Kelompok : 2
    Jurusan : Promosi Kesehatan

    1. Karena pengetahuan hanya salah satu determinan perilaku. Model seperti Health Belief Model dan Theory of Planned Behavior menunjukkan perilaku juga dipengaruhi sikap, norma sosial, kontrol diri (akses, biaya, waktu), kebiasaan, dan lingkungan. Tahu belum tentu mampu atau mau berubah, ada gap antara knowledge, attitude, dan practice (KAP gap).

    2. Norma bisa mendukung perilaku sehat (misalnya budaya makan bersama-sama porsi terkontrol) tapi juga melanggengkan perilaku berisiko (misalnya norma "makan banyak nasi = sehat/berkecukupan", atau tekanan sosial untuk menghabiskan makanan manis saat acara). Norma yang sama bisa jadi penguat atau penghambat tergantung isinya.

    3. Tidak. Pendekatan yang tepat adalah modifikasi, bukan penghapusan. Mempertahankan nilai budaya (kebersamaan, jenis makanan) sambil menyesuaikan porsi, frekuensi, atau cara pengolahan. Menghapus budaya berisiko menimbulkan resistensi dan dianggap tidak menghormati identitas masyarakat.

    4. Gunakan pendekatan partisipatif: libatkan masyarakat dalam merancang solusi, framing pesan sebagai "penyesuaian" bukan "kesalahan", gunakan tokoh masyarakat sebagai penyampai pesan, dan tonjolkan aspek budaya yang tetap bisa dipertahankan.

    5. Karena pola makan dan perilaku kesehatan biasanya dibentuk dan dijaga di tingkat rumah tangga (siapa yang memasak, pola belanja, dukungan emosional). Keluarga juga faktor pendukung/penghambat kepatuhan pengobatan pasien.

    6. Melalui analisis sosial-budaya awal: observasi kebiasaan makan, wawancara dengan tokoh masyarakat/kader, identifikasi nilai atau kebiasaan yang paling berpengaruh dan paling mungkin diubah tanpa menimbulkan penolakan besar.

    7. Kepercayaan yang bersifat nilai/identitas (tidak membahayakan kesehatan) dihargai; informasi yang secara medis salah dan berisiko (misalnya mitos tentang pengobatan) perlu diluruskan secara halus dengan edukasi berbasis bukti, tanpa merendahkan kepercayaan itu sendiri.

    8. Belum tentu. Jika penyuluhan berulang tidak mengubah perilaku, masalahnya kemungkinan bukan kurangnya informasi, melainkan hambatan struktural (akses, biaya, lingkungan) atau psikososial (norma, motivasi). Solusinya perlu diversifikasi metode: pendekatan perilaku, dukungan lingkungan, kebijakan lokal, bukan sekadar mengulang ceramah.

    9. Tokoh masyarakat bisa memodelkan perilaku sehat dan memberi legitimasi sosial terhadap pesan kesehatan, sehingga pesan lebih diterima. Namun perannya sebagai penguat pesan dan motivator, bukan pengganti tenaga kesehatan dalam hal diagnosis, edukasi klinis, atau pengobatan.

    10. Dengan strategi keberlanjutan (sustainability), misalnya: melatih kader lokal, melibatkan puskesmas/tenaga kesehatan setempat, membentuk kelompok pendukung mandiri (support group), dan mendokumentasikan program agar bisa dilanjutkan oleh pemangku kepentingan lokal.

    BalasHapus
  7. Nama : Hasna Naura Afifah
    Kelas : 1B
    Kelompok : 3
    Jurusan : Promosi Kesehatan

    1. Karena mengetahui tentang diabetes belum tentu membuat seseorang langsung mengubah kebiasaan. Perilaku juga dipengaruhi lingkungan, kebiasaan, keluarga, dan kemauan diri sendiri.

    2. Norma sosial bisa menjadi risiko kalau kebiasaan yang dilakukan bersama tidak sehat. Sebaliknya, bisa menjadi pelindung kalau lingkungan saling mendukung untuk hidup sehat.

    3. Tidak perlu dihilangkan. Budaya makan tetap bisa dipertahankan dengan menyesuaikan porsi, bahan, atau frekuensinya agar lebih sehat.

    4. Dengan memahami budaya masyarakat terlebih dahulu, lalu mencari kebiasaan yang bisa diubah secara perlahan tanpa menyalahkan budaya mereka.

    5. Karena keluarga sangat berpengaruh terhadap pola makan dan kebiasaan pasien. Dukungan keluarga juga membuat perubahan perilaku lebih mudah dilakukan.

    6. Dengan melihat kebiasaan dan nilai budaya yang paling dekat dengan kehidupan masyarakat, lalu menentukan bagian mana yang bisa digunakan untuk menyampaikan pesan kesehatan.

    7. Kepercayaan tetap dihargai selama tidak membahayakan kesehatan. Kalau ada informasi yang tidak sesuai fakta, bagian informasinya yang perlu diluruskan dengan cara yang baik.

    8. Tidak selalu. Kalau penyuluhan sudah sering tetapi perilaku belum berubah, berarti perlu dicari hambatan lain seperti lingkungan, kebiasaan, atau kurangnya dukungan.

    9. Tokoh masyarakat bisa membantu mengajak dan memberi contoh kepada warga, sedangkan tenaga kesehatan tetap memberikan informasi dan arahan berdasarkan ilmu kesehatan.

    10. Dengan melibatkan kader, keluarga, dan tokoh masyarakat sejak awal agar program bisa tetap dilanjutkan meskipun mahasiswa sudah selesai.

    BalasHapus
  8. 1.Edukasi perubahan perilaku karena perilaku dipengaruhi juga oleh norma sosial, lingkungan, kebiasaan, akses, dan keyakinan, bukan hanya pengetahuan.
    2. Norma sosial bisa jadi faktor risiko (mis. “harus habis”, “tamu dihormati dengan makanan manis”) atau faktor protektif (mis. “keluarga sehat itu keren”, “komplek batasi gorengan”).
    3. Budaya makan tidak perlu dihilangkan, cukup dimodifikasi (bahan, cara masak, porsi) agar tetap bermakna tapi lebih sehat.
    4. Modifikasi tanpa menyalahkan budaya: gunakan bahasa positif, libatkan tokoh & ibu, mulai dari perubahan kecil, tekankan manfaat bersama, hindari label baik/buruk.
    5. Keluarga jadi sasaran karena mereka yang belanja, masak, mendukung/menggoda, dan menentukan rutinitas sehari-hari pasien.
    6. Entry point budaya: observasi & wawancara cepat, identifikasi nilai inti, cari praktik sehat yang sudah ada, pilih titik yang selaras, uji kecil dan minta umpan balik.
    7. Bedakan kepercayaan: hormati yang tidak berbahaya dan memberi makna; koreksi halus yang meningkatkan risiko atau menunda pengobatan, dengan validasi dulu lalu tambahkan informasi medis.
    8. Bukan lebih banyak penyuluhan, tapi ubah pendekatan (diskusi, demo, pendampingan), libatkan keluarga & tokoh, modifikasi lingkungan, fokus pada keterampilan praktis.
    9. Tokoh masyarakat jadi teladan, penguat pesan, fasilitator, dan jembatan budaya; tenaga kesehatan tetap sebagai sumber teknis, pelatih, dan evaluator.
    10. Agar tidak berhenti: libatkan institusi lokal sejak awal, bangun kader, integrasikan ke kegiatan rutin, sediakan alat sederhana, buat rencana transisi dan monitoring sederhana.

    BalasHapus
  9. Nama : Arimbi Asyifa Kinanti
    Kelas : 1B
    Kelompok : 3
    Jurusan : Promosi Kesehatan

    1. Karena mengetahui tentang diabetes belum tentu membuat seseorang langsung mengubah kebiasaan. Perilaku juga dipengaruhi lingkungan, kebiasaan, keluarga, dan kemauan diri sendiri.

    2. Norma sosial bisa menjadi risiko kalau kebiasaan yang dilakukan bersama tidak sehat. Sebaliknya, bisa menjadi pelindung kalau lingkungan saling mendukung untuk hidup sehat.

    3. Tidak perlu dihilangkan. Budaya makan tetap bisa dipertahankan dengan menyesuaikan porsi, bahan, atau frekuensinya agar lebih sehat.

    4. Dengan memahami budaya masyarakat terlebih dahulu, lalu mencari kebiasaan yang bisa diubah secara perlahan tanpa menyalahkan budaya mereka.

    5. Karena keluarga sangat berpengaruh terhadap pola makan dan kebiasaan pasien. Dukungan keluarga juga membuat perubahan perilaku lebih mudah dilakukan.

    6. Dengan melihat kebiasaan dan nilai budaya yang paling dekat dengan kehidupan masyarakat, lalu menentukan bagian mana yang bisa digunakan untuk menyampaikan pesan kesehatan.

    7. Kepercayaan tetap dihargai selama tidak membahayakan kesehatan. Kalau ada informasi yang tidak sesuai fakta, bagian informasinya yang perlu diluruskan dengan cara yang baik.

    8. Tidak selalu. Kalau penyuluhan sudah sering tetapi perilaku belum berubah, berarti perlu dicari hambatan lain seperti lingkungan, kebiasaan, atau kurangnya dukungan.

    9. Tokoh masyarakat bisa membantu mengajak dan memberi contoh kepada warga, sedangkan tenaga kesehatan tetap memberikan informasi dan arahan berdasarkan ilmu kesehatan.

    10. Dengan melibatkan kader, keluarga, dan tokoh masyarakat sejak awal agar program bisa tetap dilanjutkan meskipun mahasiswa sudah selesai.

    BalasHapus
  10. Kelompok 4
    Chusnul Khotimah
    P3.73.36.1.26.061
    1B Promosi kesehatan
    Bagian O.
    1. Mengapa edukasi diabetes 78% belum otomatis mengubah perilaku?
    Karena pengetahuan dipengaruhi kebiasaan, lingkungan, keluarga, dan norma sosial.
    2. Bagaimana norma sosial menjadi risiko sekaligus protektif?
    Norma tidak sehat menjadi risiko, sedangkan kebiasaan sehat bersama menjadi pelindung.
    3. Apakah budaya makan harus dihilangkan?
    Tidak. Budaya tetap dipertahankan dengan modifikasi yang lebih sehat.
    4. Bagaimana modifikasi tanpa menyalahkan budaya?
    Libatkan masyarakat dan fokus pada perubahan kebiasaan, bukan menyalahkan budaya.
    5. Mengapa keluarga menjadi sasaran?
    Keluarga memengaruhi makanan, kebiasaan, dan dukungan pasien.
    6. Bagaimana menentukan entry point budaya?
    Amati kebiasaan masyarakat yang berkaitan dengan masalah kesehatan.
    7. Bagaimana membedakan kepercayaan dan informasi yang perlu dikoreksi?
    Kepercayaan dihargai, tetapi informasi yang keliru dikoreksi berdasarkan bukti ilmiah.
    8. Apakah penyuluhan harus diperbanyak?
    Tidak selalu. Perlu melihat faktor lingkungan, kebiasaan, dan dukungan sosial.
    9. Bagaimana peran tokoh masyarakat?
    Tokoh masyarakat memperkuat norma sehat, sedangkan tenaga kesehatan memberikan informasi ilmiah.
    10. Bagaimana intervensi tetap berjalan setelah mahasiswa selesai?
    Libatkan kader dan masyarakat agar program dapat dilanjutkan secara mandiri.

    BalasHapus
  11. Nama: ratu noerfika aulia jamilah
    Kelas :1B
    Jurusan: D4 Promosi Kesehatan
    Nim: P3.73.36.1.26.091

    Jawaban (o):
    *1.* Edukasi tidak selalu mengubah perilaku karena perubahan perilaku dipengaruhi oleh kebiasaan, lingkungan, motivasi, dukungan keluarga, dan norma sosial.

    *2.* Norma sosial menjadi faktor risiko jika mendorong kebiasaan tidak sehat, tetapi menjadi faktor protektif jika mendukung pola hidup sehat dan saling mengingatkan.

    *3.* Tidak perlu dihilangkan, tetapi perlu dimodifikasi agar lebih sehat tanpa menghilangkan nilai budaya dan kebiasaan masyarakat.

    *4.* Modifikasi perilaku dilakukan secara bertahap dengan menghargai budaya, melibatkan masyarakat, dan menawarkan alternatif sehat yang tetap sesuai dengan kebiasaan setempat.

    *5.* Keluarga perlu menjadi sasaran karena keluarga memengaruhi pola makan, aktivitas, kebiasaan, serta memberikan dukungan dalam menjaga perilaku sehat pasien.

    *6.* Mahasiswa dapat menentukan *entry point* dengan mengidentifikasi kebiasaan, nilai budaya, tokoh berpengaruh, serta masalah kesehatan yang paling dekat dengan masyarakat.

    *7.* Kepercayaan masyarakat perlu dihargai selama tidak membahayakan kesehatan. Informasi yang bertentangan dengan bukti ilmiah perlu dikoreksi dengan pendekatan yang sopan dan mudah dipahami.

    *8*. Tidak selalu perlu menambah penyuluhan. Jika pengetahuan sudah cukup tetapi perilaku belum berubah, perlu ditinjau faktor lingkungan, kebiasaan, dukungan sosial, dan hambatan lainnya.

    *9.* Tokoh masyarakat dapat menjadi contoh, mengajak masyarakat menerapkan perilaku sehat, dan memperkuat pesan kesehatan tanpa menggantikan peran tenaga kesehatan.

    10. Keberlanjutan dapat dijaga dengan melibatkan kader, keluarga, tokoh masyarakat, dan tenaga kesehatan sejak awal serta melakukan pemantauan agar masyarakat mampu melanjutkan program secara mandiri.

    BalasHapus
  12. Nama : Syifana Zahroh Romadloni
    NIM : P3.73.36.1.26.096
    Kelas : 1B
    Kelompok : 4
    Jurusan : Promosi Kesehatan

    Bagian O
    1. Mengapa edukasi diabetes 78% belum otomatis mengubah perilaku?
    Karena pengetahuan dipengaruhi kebiasaan, lingkungan, keluarga, dan norma sosial.
    2. Bagaimana norma sosial menjadi risiko sekaligus protektif?
    Norma tidak sehat menjadi risiko, sedangkan kebiasaan sehat bersama menjadi pelindung.
    3. Apakah budaya makan harus dihilangkan?
    Tidak. Budaya tetap dipertahankan dengan modifikasi yang lebih sehat.
    4. Bagaimana modifikasi tanpa menyalahkan budaya?
    Libatkan masyarakat dan fokus pada perubahan kebiasaan, bukan menyalahkan budaya.
    5. Mengapa keluarga menjadi sasaran?
    Keluarga memengaruhi makanan, kebiasaan, dan dukungan pasien.
    6. Bagaimana menentukan entry point budaya?
    Amati kebiasaan masyarakat yang berkaitan dengan masalah kesehatan.
    7. Bagaimana membedakan kepercayaan dan informasi yang perlu dikoreksi?
    Kepercayaan dihargai, tetapi informasi yang keliru dikoreksi berdasarkan bukti ilmiah.
    8. Apakah penyuluhan harus diperbanyak?
    Tidak selalu. Perlu melihat faktor lingkungan, kebiasaan, dan dukungan sosial.
    9. Bagaimana peran tokoh masyarakat?
    Tokoh masyarakat memperkuat norma sehat, sedangkan tenaga kesehatan memberikan informasi ilmiah.
    10. Bagaimana intervensi tetap berjalan setelah mahasiswa selesai?
    Libatkan kader dan masyarakat agar program dapat dilanjutkan secara mandiri.

    BalasHapus
  13. Nama: Hana Naurah Talitha
    Kelas: 1B
    Kelompok: 4
    Jurusan: Promosi Kesehatan

    1. Mengapa edukasi diabetes 78% belum otomatis mengubah perilaku?
    Karena pengetahuan dipengaruhi kebiasaan, lingkungan, keluarga, dan norma sosial.
    2. Bagaimana norma sosial menjadi risiko sekaligus protektif?
    Norma tidak sehat menjadi risiko, sedangkan kebiasaan sehat bersama menjadi pelindung.
    3. Apakah budaya makan harus dihilangkan?
    Tidak. Budaya tetap dipertahankan dengan modifikasi yang lebih sehat.
    4. Bagaimana modifikasi tanpa menyalahkan budaya?
    Libatkan masyarakat dan fokus pada perubahan kebiasaan, bukan menyalahkan budaya.
    5. Mengapa keluarga menjadi sasaran?
    Keluarga memengaruhi makanan, kebiasaan, dan dukungan pasien.
    6. Bagaimana menentukan entry point budaya?
    Amati kebiasaan masyarakat yang berkaitan dengan masalah kesehatan.
    7. Bagaimana membedakan kepercayaan dan informasi yang perlu dikoreksi?
    Kepercayaan dihargai, tetapi informasi yang keliru dikoreksi berdasarkan bukti ilmiah.
    8. Apakah penyuluhan harus diperbanyak?
    Tidak selalu. Perlu melihat faktor lingkungan, kebiasaan, dan dukungan sosial.
    9. Bagaimana peran tokoh masyarakat?
    Tokoh masyarakat memperkuat norma sehat, sedangkan tenaga kesehatan memberikan informasi ilmiah.
    10. Bagaimana intervensi tetap berjalan setelah mahasiswa selesai?
    Libatkan kader dan masyarakat agar program dapat dilanjutkan secara mandiri.

    BalasHapus
  14. Nama: Adelia zahir baiti
    kelas: 1B
    kelompok: 1
    1. Menurut kami, edukasi belum tentu langsung mengubah perilaku karena perubahan perilaku tidak hanya dipengaruhi oleh pengetahuan. Masyarakat juga dipengaruhi oleh kebiasaan, lingkungan, kondisi ekonomi, keluarga, serta norma sosial. Jadi, walaupun masyarakat sudah mengetahui bahaya diabetes, belum tentu mereka mampu atau mau mengubah pola makan dan gaya hidupnya.

    2.Menurut kami, norma sosial dapat menjadi faktor risiko jika kebiasaan yang dilakukan bersama justru tidak sehat, seperti sering mengonsumsi makanan atau minuman manis karena dianggap hal yang biasa. Sebaliknya, norma sosial dapat menjadi faktor protektif jika lingkungan masyarakat membiasakan perilaku sehat, misalnya saling mengingatkan untuk mengurangi gula, melakukan aktivitas fisik, dan memilih makanan yang lebih sehat.

    3. Menurut kami, budaya makan masyarakat tidak harus dihilangkan karena makanan merupakan bagian dari identitas dan kebiasaan masyarakat. Yang perlu dilakukan adalah memodifikasi bagian yang berisiko terhadap kesehatan, misalnya mengurangi gula, garam, atau lemak tanpa menghilangkan makanan khasnya. Dengan begitu, pencegahan diabetes tetap dapat dilakukan tanpa menghilangkan budaya masyarakat.

    4. Menurut kami, caranya adalah dengan menghargai budaya yang sudah ada dan tidak langsung mengatakan bahwa kebiasaan masyarakat itu salah. Tenaga kesehatan dapat mengajak masyarakat berdiskusi, mencari kebiasaan yang berisiko, kemudian mencari alternatif yang lebih sehat tetapi tetap sesuai dengan budaya mereka. Pendekatannya sebaiknya menggunakan komunikasi yang menghargai dan melibatkan masyarakat.

    5. Menurut kami, keluarga berperan besar dalam kehidupan sehari-hari pasien. Keluarga dapat memengaruhi makanan yang tersedia di rumah, kebiasaan aktivitas fisik, serta kepatuhan pasien dalam menjalankan pola hidup sehat. Jika hanya pasien yang diberikan edukasi tetapi keluarganya tidak mendukung, perubahan perilaku akan lebih sulit dipertahankan.

    6. Menuruy kami, mahasiswa dapat menentukan entry point dengan terlebih dahulu mengidentifikasi kebiasaan, nilai, kepercayaan, makanan, kegiatan, dan tokoh yang memiliki pengaruh di masyarakat. Setelah itu, mahasiswa dapat melihat bagian budaya mana yang dapat menjadi pintu masuk untuk menyampaikan pesan kesehatan. Jadi, intervensi tidak langsung dibuat berdasarkan asumsi mahasiswa, tetapi berdasarkan kondisi dan kebiasaan masyarakat.

    7. Menurut kami, kepercayaan masyarakat tetap perlu dihargai sebagai bagian dari budaya mereka, tetapi jika kepercayaan tersebut berkaitan dengan informasi kesehatan yang tidak sesuai dengan bukti ilmiah dan dapat membahayakan, maka perlu diberikan klarifikasi. Cara menyampaikannya juga harus sopan dan tidak merendahkan kepercayaan masyarakat, tetapi memberikan informasi yang benar berdasarkan sumber kesehatan yang dapat dipercaya.

    8. Menurut kami, tidak selalu. Jika penyuluhan sudah sering dilakukan tetapi perilaku belum berubah, berarti masalahnya mungkin bukan hanya kurangnya pengetahuan. Perlu dilakukan identifikasi terhadap hambatan lain, seperti lingkungan, kebiasaan, dukungan keluarga, akses terhadap makanan sehat, atau norma sosial. Intervensi dapat dilanjutkan dengan pemberdayaan, pendampingan, perubahan lingkungan, dan pemberian contoh perilaku secara langsung.

    9. Menurut kami, tokoh masyarakat dapat berperan sebagai penggerak dan pemberi contoh kepada masyarakat, misalnya mengajak warga mengikuti kegiatan kesehatan atau menerapkan kebiasaan hidup sehat. Sementara itu, tenaga kesehatan tetap berperan memberikan informasi dan arahan berdasarkan ilmu kesehatan. Jadi, keduanya saling melengkapi dan memiliki peran masing-masing.

    10.Menurut kami, intervensi harus melibatkan masyarakat sejak awal dan tidak hanya bergantung pada mahasiswa. Kegiatan dapat dilanjutkan dengan melibatkan kader, keluarga, tokoh masyarakat, dan tenaga kesehatan setempat. Selain itu, perlu dibuat kegiatan yang sederhana dan mudah dilakukan secara mandiri oleh masyarakat sehingga program tetap dapat berjalan setelah mahasiswa selesai.

    BalasHapus
  15. Nama: Lenita Nathania Catya
    Kelas: 1B
    Kelompok: 7
    Jurusan: Promosi kesehatan

    1. Edukasi tidak selalu mengubah perilaku karena perubahan perilaku dipengaruhi oleh kebiasaan, lingkungan, motivasi, dukungan keluarga, dan norma sosial.

    2. Norma sosial menjadi faktor risiko jika mendorong kebiasaan tidak sehat, tetapi menjadi faktor protektif jika mendukung pola hidup sehat dan saling mengingatkan.

    3. Tidak perlu dihilangkan, tetapi perlu dimodifikasi agar lebih sehat tanpa menghilangkan nilai budaya dan kebiasaan masyarakat.

    4. Modifikasi perilaku dilakukan secara bertahap dengan menghargai budaya, melibatkan masyarakat, dan menawarkan alternatif sehat yang tetap sesuai dengan kebiasaan setempat.

    5 Keluarga perlu menjadi sasaran karena keluarga memengaruhi pola makan, aktivitas, kebiasaan, serta memberikan dukungan dalam menjaga perilaku sehat pasien.

    6.Mahasiswa dapat menentukan entry point dengan mengidentifikasi kebiasaan, nilai budaya, tokoh berpengaruh, serta masalah kesehatan yang paling dekat dengan masyarakat.

    7. Kepercayaan masyarakat perlu dihargai selama tidak membahayakan kesehatan. Informasi yang bertentangan dengan bukti ilmiah perlu dikoreksi dengan pendekatan yang sopan dan mudah dipahami.

    8. Tidak selalu perlu menambah penyuluhan. Jika pengetahuan sudah cukup tetapi perilaku belum berubah, perlu ditinjau faktor lingkungan, kebiasaan, dukungan sosial, dan hambatan lainnya.

    9.Tokoh masyarakat dapat menjadi contoh, mengajak masyarakat menerapkan perilaku sehat, dan memperkuat pesan kesehatan tanpa menggantikan peran tenaga kesehatan.

    10. Keberlanjutan dapat dijaga dengan melibatkan kader, keluarga, tokoh masyarakat, dan tenaga kesehatan sejak awal serta melakukan pemantauan agar masyarakat mampu melanjutkan program secara mandiri.

    BalasHapus
  16. Nama : Christina Indah Putri Handoko
    Kelas : 1.B
    Kelompok : 9
    Jurusan : Promosi Kesehatan

    1. Karena pengetahuan tidak selalu langsung berubah menjadi tindakan. Perilaku dipengaruhi oleh banyak faktor lain, seperti kebiasaan, lingkungan, norma sosial, harga dan ketersediaan makanan sehat, dukungan keluarga, motivasi, serta kemampuan seseorang menetapkan informasi yang diterima. Jadi, edukasi merupakan salah satu prasyarat, tetapi bukan satu-satunya faktor perubahan perilaku.

    2. Norma sosial dapat menjadi faktor risiko jika masyarakat menganggap kebiasaan seperti konsumsi makanan atau minuman manis sebagai hal yang wajar dan sulit ditolak ketika berada dalam kelompok. Sebaliknya, norma yang mendukung aktivitas fisik, pola makan seimbang, dan pemeriksaan kesehatan dapat menjadi faktor protektif karena individu memperoleh dukungan dan dorongan dari lingkungannya.

    3. Tidak perlu dihilangkan, tetapi dimodifikasi. Budaya makan tetap dihargai, namun bisa disesuaikan agar lebih sehat, misalnya mengurangi gula atau mengubah cara pengolahan makanan.

    4. Dengan pendekatan yang menghargai budaya, tidak menyalahkan, dan menggunakan bahasa yang positif. Edukasi dilakukan dengan cara mengajak, bukan melarang, serta melibatkan masyarakat dalam proses perubahan.

    5. Karena keluarga berperan besar dalam pola makan, kebiasaan, dan dukungan sehari-hari. Jika keluarga mendukung, perubahan perilaku pasien akan lebih mudah terjadi dan bertahan.

    6. Mahasiswa dapat menentukan entry point dengan melihat kebiasaan, nilai sosial, tokoh, dan kegiatan yang sudah kuat di masyarakat. Misalnya, menggunakan kegiatan pengajian, arisan, posbindu, atau melibatkan kader dan tokoh masyarakat sebagai jalan masuk untuk menyampaikan edukasi kesehatan.

    7. Kepercayaan perlu dihargai jika berkaitan dengan nilai dan kebiasaan sosial, seperti makan bersama sebagai bentuk kebersamaan. Namun, informasi yang keliru dan dapat berdampak pada kesehatan perlu dikoreksi, misalnya anggapan bahwa diabetes hanya penyakit keturunan. Jadi, budayanya dihargai, tetapi informasi kesehatannya diluruskan dengan cara yang baik.

    8. Tidak. Jika penyuluhan sudah sering dilakukan tetapi perilaku belum berubah, perlu dicari penyebab lain seperti kebiasaan, keluarga, norma sosial, dan lingkungan. Jadi, solusinya bukan hanya menambah penyuluhan.

    9. Tokoh masyarakat dapat membantu menyampaikan dan memperkuat pesan kesehatan kepada warga, misalnya melalui pengajian atau kegiatan RT/RW. Namun, informasi dan pelayanan medis tetap dilakukan oleh tenaga kesehatan.

    10. Agar berkelanjutan, program perlu melibatkan kader, keluarga, tokoh masyarakat, Posbindu, dan Puskesmas sejak awal. Kader dapat melanjutkan pemantauan dan mengingatkan masyarakat setelah mahasiswa selesai.

    BalasHapus
  17. Nama : Novelita Azara
    NIM : P3.73.361.26.088
    Kelas : 1B
    Jurusan : Promosi Kesehatan
    Kelompok 9

    Jawaban untuk Bagian O
    1. Karena pengetahuan tidak selalu langsung berubah menjadi tindakan. Perilaku dipengaruhi oleh banyak faktor lain, seperti kebiasaan, lingkungan, norma sosial, harga dan ketersediaan makanan sehat, dukungan keluarga, motivasi, serta kemampuan seseorang menetapkan informasi yang diterima. Jadi, edukasi merupakan salah satu prasyarat, tetapi bukan satu-satunya faktor perubahan perilaku.

    2. Norma sosial dapat menjadi faktor risiko jika masyarakat menganggap kebiasaan seperti konsumsi makanan atau minuman manis sebagai hal yang wajar dan sulit ditolak ketika berada dalam kelompok. Sebaliknya, norma yang mendukung aktivitas fisik, pola makan seimbang, dan pemeriksaan kesehatan dapat menjadi faktor protektif karena individu memperoleh dukungan dan dorongan dari lingkungannya.

    3. Tidak perlu dihilangkan, tetapi dimodifikasi. Budaya makan tetap dihargai, namun bisa disesuaikan agar lebih sehat, misalnya mengurangi gula atau mengubah cara pengolahan makanan.

    4. Dengan pendekatan yang menghargai budaya, tidak menyalahkan, dan menggunakan bahasa yang positif. Edukasi dilakukan dengan cara mengajak, bukan melarang, serta melibatkan masyarakat dalam proses perubahan

    5. Karena keluarga berperan besar dalam pola makan, kebiasaan, dan dukungan sehari-hari. Jika keluarga mendukung, perubahan perilaku pasien akan lebih mudah terjadi dan bertahan.

    6. Mahasiswa dapat menentukan entry point dengan melihat kebiasaan, nilai sosial, tokoh, dan kegiatan yang sudah kuat di masyarakat. Misalnya, menggunakan kegiatan pengajian, arisan, posbindu, atau melibatkan kader dan tokoh masyarakat sebagai jalan masuk untuk menyampaikan edukasi kesehatan.

    7. Kepercayaan perlu dihargai jika berkaitan dengan nilai dan kebiasaan sosial, seperti makan bersama sebagai bentuk kebersamaan. Namun, informasi yang keliru dan dapat berdampak pada kesehatan perlu dikoreksi, misalnya anggapan bahwa diabetes hanya penyakit keturunan. Jadi, budayanya dihargai, tetapi informasi kesehatannya diluruskan dengan cara yang baik.

    8. Tidak. Jika penyuluhan sudah sering dilakukan tetapi perilaku belum berubah, perlu dicari penyebab lain seperti kebiasaan, keluarga, norma sosial, dan lingkungan. Jadi, solusinya bukan hanya menambah penyuluhan.

    9. Tokoh masyarakat dapat membantu menyampaikan dan memperkuat pesan kesehatan kepada warga, misalnya melalui pengajian atau kegiatan RT/RW. Namun, informasi dan pelayanan medis tetap dilakukan oleh tenaga kesehatan.

    10. Agar berkelanjutan, program perlu melibatkan kader, keluarga, tokoh masyarakat, Posbindu, dan Puskesmas sejak awal. Kader dapat melanjutkan pemantauan dan mengingatkan masyarakat setelah mahasiswa selesai.

    BalasHapus
  18. Nama : Sekar Rahmaningrum
    Kelas : 1B
    Kelompok : 10
    Jurusan : Promosi Kesehatan

    1. Karena edukasi hanya meningkatkan pengetahuan, belum tentu mengubah kebiasaan. Perubahan perilaku juga dipengaruhi oleh motivasi, lingkungan, dukungan keluarga, akses terhadap makanan sehat, serta kemampuan menerapkan informasi dalam kehidupan sehari-hari.
    2. Edukasi hanya meningkatkan pengetahuan, belum tentu mengubah kebiasaan karena dipengaruhi motivasi dan lingkungan. Norma sosial menjadi faktor risiko jika mendorong perilaku tidak sehat, dan faktor protektif jika mendukung perilaku sehat.
    3. Tidak harus dihilangkan, tapi lebih baik diubah sedikit jadi lebih sehat. Karena budaya makan itu sudah jadi kebiasaan masyarakat, jadi bukan berarti makanannya harus dilarang. Misalnya, makanan manis tetap boleh dimakan, tapi porsinya dikurangi dan jangan terlalu sering.
    4. Caranya dengan menghargai kebiasaan dan budaya masyarakat dulu, bukan langsung bilang kalau budaya mereka salah. Kita bisa ngajak mereka melakukan perubahan kecil, misalnya mengurangi gula atau porsi makanan tanpa menghilangkan makanan khas keluarga. Jadi, masyarakat tetap bisa menjalankan budayanya, tapi dengan cara yang lebih sehat.
    5. Karena keluarga memengaruhi makanan, aktivitas, kebiasaan, dan dukungan pasien. Jika keluarga ikut berubah, pasien lebih mudah mempertahankan perilaku sehat.
    6. Mahasiswa perlu mengidentifikasi kebiasaan, nilai, tokoh, dan kegiatan budaya yang dekat dengan masyarakat, lalu memilih bagian yang paling mudah digunakan sebagai entry point intervensi.
    7. Kepercayaan perlu dihargai selama tidak membahayakan kesehatan. Jika bertentangan dengan fakta medis, informasinya perlu dikoreksi dengan cara yang sopan.
    8. Tidak selalu. Perubahan perilaku juga membutuhkan dukungan lingkungan, motivasi, akses, dan pendampingan, bukan hanya penyuluhan.
    9. Tokoh masyarakat dapat menjadi teladan, penyampai pesan kesehatan, dan penggerak masyarakat, sementara keputusan medis dan edukasi klinis tetap dilakukan oleh tenaga kesehatan.
    10. Dengan melibatkan kader dan masyarakat sejak awal, menyediakan panduan sederhana, serta melakukan monitoring dan tindak lanjut agar program dapat diteruskan secara mandiri.

    BalasHapus
  19. Nama : dini nur Azizah
    Kelas : 1b
    Kelompok : 9
    Jurusan : d4 promosi kesehatan

    1. Karena pengetahuan tidak selalu langsung berubah menjadi tindakan. Perilaku dipengaruhi oleh banyak faktor lain, seperti kebiasaan, lingkungan, norma sosial, harga dan ketersediaan makanan sehat, dukungan keluarga, motivasi, serta kemampuan seseorang menetapkan informasi yang diterima. Jadi, edukasi merupakan salah satu prasyarat, tetapi bukan satu-satunya faktor perubahan perilaku.
    2. Norma sosial dapat menjadi faktor risiko jika masyarakat menganggap kebiasaan seperti konsumsi makanan atau minuman manis sebagai hal yang wajar dan sulit ditolak ketika berada dalam kelompok. Sebaliknya, norma yang mendukung aktivitas fisik, pola makan seimbang, dan pemeriksaan kesehatan dapat menjadi faktor protektif karena individu memperoleh dukungan dan dorongan dari lingkungannya.
    3. Tidak perlu dihilangkan, tetapi dimodifikasi. Budaya makan tetap dihargai, namun bisa disesuaikan agar lebih sehat, misalnya mengurangi gula atau mengubah cara pengolahan makanan.
    4. Dengan pendekatan yang menghargai budaya, tidak menyalahkan, dan menggunakan bahasa yang positif. Edukasi dilakukan dengan cara mengajak, bukan melarang, serta melibatkan masyarakat dalam proses perubahan.
    5. Karena keluarga berperan besar dalam pola makan, kebiasaan, dan dukungan sehari-hari. Jika keluarga mendukung, perubahan perilaku pasien akan lebih mudah terjadi dan bertahan.
    6. Mahasiswa dapat menentukan entry point dengan melihat kebiasaan, nilai sosial, tokoh, dan kegiatan yang sudah kuat di masyarakat. Misalnya, menggunakan kegiatan pengajian, arisan, posbindu, atau melibatkan kader dan tokoh masyarakat sebagai jalan masuk untuk menyampaikan edukasi kesehatan.
    7. Kepercayaan perlu dihargai jika berkaitan dengan nilai dan kebiasaan sosial, seperti makan bersama sebagai bentuk kebersamaan. Namun, informasi yang keliru dan dapat berdampak pada kesehatan perlu dikoreksi, misalnya anggapan bahwa diabetes hanya penyakit keturunan. Jadi, budayanya dihargai, tetapi informasi kesehatannya diluruskan dengan cara yang baik.
    8. Tidak. Jika penyuluhan sudah sering dilakukan tetapi perilaku belum berubah, perlu dicari penyebab lain seperti kebiasaan, keluarga, norma sosial, dan lingkungan. Jadi, solusinya bukan hanya menambah penyuluhan.

    9. Tokoh masyarakat dapat membantu menyampaikan dan memperkuat pesan kesehatan kepada warga, misalnya melalui pengajian atau kegiatan RT/RW. Namun, informasi dan pelayanan medis tetap dilakukan oleh tenaga kesehatan.

    10. Agar berkelanjutan, program perlu melibatkan kader, keluarga, tokoh masyarakat, Posbindu, dan Puskesmas sejak awal. Kader dapat melanjutkan pemantauan dan mengingatkan masyarakat setelah mahasiswa selesai.

    BalasHapus
  20. Nama : Nurul Aurelia Disvyanti
    Kelas : 1B
    Kelompok : 6
    Jurusan : Promosi Kesehatan

    1. Edukasi baru meningkatkan pengetahuan, belum tentu mengubah sikap dan tindakan. Perilaku juga dipengaruhi lingkungan, ekonomi, dan kebiasaan.

    2. Norma sosial bisa menjadi faktor risiko jika mendorong perilaku tidak sehat, tetapi bisa menjadi protektif jika mendukung kebiasaan sehat.

    3. Tidak perlu dihilangkan, tetapi dimodifikasi. Budaya tetap dipertahankan dengan menyesuaikan porsi, frekuensi, atau cara pengolahan agar lebih sehat.

    4. Gunakan negosiasi budaya dengan menghargai tradisi terlebih dahulu, kemudian mengajak masyarakat melakukan perubahan yang lebih sehat.

    5. Keluarga merupakan support system dan lingkungan terdekat. Perubahan perilaku keluarga membantu menciptakan lingkungan yang mendukung pasien.

    6. Lakukan rapid assessment melalui observasi dan wawancara untuk menemukan kebiasaan atau kegiatan masyarakat yang bisa menjadi pintu masuk pesan kesehatan.

    7. Kepercayaan yang tidak membahayakan dapat dihargai, sedangkan kepercayaan yang membahayakan atau menghambat pengobatan perlu dikoreksi.

    8. Tidak. Penyuluhan perlu dilengkapi dengan perubahan lingkungan, seperti membatasi minuman manis dan menyediakan sarana olahraga.

    9. Tokoh masyarakat menjadi teladan dan penggerak, sedangkan tenaga kesehatan tetap berperan dalam memberikan informasi dan tindakan medis.

    10. Program dibuat berkelanjutan dengan melatih kader, membentuk kepengurusan, dan mengintegrasikannya ke program yang sudah ada. Mahasiswa cukup menjadi fasilitator.

    BalasHapus
  21. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  22. Nama : Muhammad Ilham Arifin
    Kelas :1B
    Kelompok :9
    Jurusan :Promosi Kesehatan
    Bagian O

    1. Karena pengetahuan tidak selalu langsung berubah menjadi tindakan. Perilaku dipengaruhi oleh banyak faktor lain, seperti kebiasaan, lingkungan, norma sosial, harga dan ketersediaan makanan sehat, dukungan keluarga, motivasi, serta kemampuan seseorang menetapkan informasi yang diterima. Jadi, edukasi merupakan salah satu prasyarat, tetapi bukan satu-satunya faktor perubahan perilaku.
    2. Norma sosial dapat menjadi faktor risiko jika masyarakat menganggap kebiasaan seperti konsumsi makanan atau minuman manis sebagai hal yang wajar dan sulit ditolak ketika berada dalam kelompok. Sebaliknya, norma yang mendukung aktivitas fisik, pola makan seimbang, dan pemeriksaan kesehatan dapat menjadi faktor protektif karena individu memperoleh dukungan dan dorongan dari lingkungannya.
    3. Tidak perlu dihilangkan, tetapi dimodifikasi. Budaya makan tetap dihargai, namun bisa disesuaikan agar lebih sehat, misalnya mengurangi gula atau mengubah cara pengolahan makanan.
    4. Dengan pendekatan yang menghargai budaya, tidak menyalahkan, dan menggunakan bahasa yang positif. Edukasi dilakukan dengan cara mengajak, bukan melarang, serta melibatkan masyarakat dalam proses perubahan.
    5. Karena keluarga berperan besar dalam pola makan, kebiasaan, dan dukungan sehari-hari. Jika keluarga mendukung, perubahan perilaku pasien akan lebih mudah terjadi dan bertahan.
    6. Mahasiswa dapat menentukan entry point dengan melihat kebiasaan, nilai sosial, tokoh, dan kegiatan yang sudah kuat di masyarakat. Misalnya, menggunakan kegiatan pengajian, arisan, posbindu, atau melibatkan kader dan tokoh masyarakat sebagai jalan masuk untuk menyampaikan edukasi kesehatan.
    7. Kepercayaan perlu dihargai jika berkaitan dengan nilai dan kebiasaan sosial, seperti makan bersama sebagai bentuk kebersamaan. Namun, informasi yang keliru dan dapat berdampak pada kesehatan perlu dikoreksi, misalnya anggapan bahwa diabetes hanya penyakit keturunan. Jadi, budayanya dihargai, tetapi informasi kesehatannya diluruskan dengan cara yang baik.
    8. Tidak. Jika penyuluhan sudah sering dilakukan tetapi perilaku belum berubah, perlu dicari penyebab lain seperti kebiasaan, keluarga, norma sosial, dan lingkungan. Jadi, solusinya bukan hanya menambah penyuluhan.
    9. Tokoh masyarakat dapat membantu menyampaikan dan memperkuat pesan kesehatan kepada warga, misalnya melalui pengajian atau kegiatan RT/RW. Namun, informasi dan pelayanan medis tetap dilakukan oleh tenaga kesehatan.
    10. Agar berkelanjutan, program perlu melibatkan kader, keluarga, tokoh masyarakat, Posbindu, dan Puskesmas sejak awal. Kader dapat melanjutkan pemantauan dan mengingatkan masyarakat setelah mahasiswa selesai.

    BalasHapus
  23. Nama:Fiqry Airlangga
    Kelas:1B
    Kelompok:6
    Jurusan:promosi kesehatan

    1. Mengapa edukasi diabetes yang sudah diberikan kepada 78% masyarakat belum otomatis menghasilkan perubahan perilaku?
    Karena mengetahui informasi belum tentu membuat seseorang langsung mengubah kebiasaannya. Perubahan perilaku juga dipengaruhi oleh lingkungan, kebiasaan, ekonomi, dukungan keluarga, dan kemauan dari diri sendiri.

    2. Bagaimana norma sosial dapat menjadi faktor risiko sekaligus faktor protektif?
    Norma sosial bisa menjadi risiko jika kebiasaan yang dianggap biasa justru tidak sehat, misalnya sering makan atau minum yang manis. Sebaliknya, norma sosial bisa menjadi pelindung jika masyarakat terbiasa saling mengingatkan untuk makan sehat dan berolahraga.

    3. Apakah budaya makan masyarakat harus dihilangkan untuk mencegah diabetes? Jelaskan.
    Tidak harus dihilangkan. Budaya makan tetap perlu dihargai, tetapi kebiasaan yang kurang sehat bisa disesuaikan. Misalnya, tetap mengonsumsi makanan tradisional tetapi mengurangi gula, garam, atau porsinya.

    4. Bagaimana cara melakukan modifikasi perilaku tanpa membuat masyarakat merasa budaya mereka disalahkan?
    Caranya dengan tidak menyalahkan budaya yang sudah ada. Tenaga kesehatan dapat mengajak masyarakat mencari cara yang lebih sehat dengan tetap mempertahankan makanan atau kebiasaan yang menjadi bagian dari budaya mereka.

    5. Mengapa keluarga harus menjadi sasaran intervensi, bukan hanya pasien diabetes?
    Karena keluarga sangat berpengaruh terhadap kebiasaan sehari-hari. Keluarga bisa membantu menyediakan makanan yang lebih sehat, mengingatkan minum obat, dan memberikan dukungan agar pasien tetap menjalankan pola hidup sehat.

    6. Bagaimana mahasiswa menentukan entry point budaya untuk intervensi promosi kesehatan?
    Mahasiswa perlu memahami dulu kebiasaan masyarakat melalui observasi, wawancara, atau diskusi. Dari situ dapat diketahui kebiasaan, tokoh yang berpengaruh, makanan yang sering dikonsumsi, dan kegiatan masyarakat yang bisa dijadikan tempat masuknya intervensi.

    7. Bagaimana membedakan antara kepercayaan masyarakat yang perlu dihargai dengan informasi kesehatan yang perlu dikoreksi?
    Kepercayaan yang tidak membahayakan kesehatan tetap perlu dihargai. Namun, jika ada kepercayaan yang bertentangan dengan fakta kesehatan atau dapat membahayakan, informasi tersebut perlu diluruskan dengan cara yang sopan dan menggunakan sumber yang jelas.

    8. Jika masyarakat sudah sering mendapatkan penyuluhan tetapi perilaku belum berubah, apakah solusi berikutnya harus berupa penyuluhan yang lebih banyak? Jelaskan alasan Anda.
    Tidak selalu. Jika penyuluhan sudah sering dilakukan tetapi tidak ada perubahan, berarti masalahnya mungkin bukan kurangnya informasi. Perlu dilihat faktor lain seperti lingkungan, kebiasaan, dukungan keluarga, fasilitas, atau kemampuan masyarakat untuk menerapkan informasi tersebut.

    9. Bagaimana tokoh masyarakat dapat digunakan sebagai penguat norma kesehatan tanpa menggantikan peran tenaga kesehatan?
    Tokoh masyarakat dapat membantu mengajak dan memberi contoh kepada masyarakat untuk menerapkan kebiasaan sehat. Sementara itu, tenaga kesehatan tetap berperan memberikan informasi dan arahan berdasarkan ilmu kesehatan. Jadi, keduanya saling mendukung.

    10. Bagaimana memastikan intervensi tidak berhenti setelah program mahasiswa selesai?
    Program sebaiknya melibatkan kader, keluarga, tokoh masyarakat, dan pihak setempat sejak awal. Selain itu, perlu dibuat kegiatan yang sederhana dan bisa dilanjutkan oleh masyarakat sendiri setelah mahasiswa selesai menjalankan program.

    BalasHapus
  24. Nama : Nadya Shifa Fauzia
    Kelas : 1B
    Kelompok : 10
    Jurusan : D4 Promosi Kesehatan

    1. Karena edukasi hanya meningkatkan pengetahuan, belum tentu mengubah kebiasaan. Perubahan perilaku juga dipengaruhi oleh motivasi, lingkungan, dukungan keluarga, akses terhadap makanan sehat, serta kemampuan menerapkan informasi dalam kehidupan sehari-hari.
    2. Edukasi hanya meningkatkan pengetahuan, belum tentu mengubah kebiasaan karena dipengaruhi motivasi dan lingkungan. Norma sosial menjadi faktor risiko jika mendorong perilaku tidak sehat, dan faktor protektif jika mendukung perilaku sehat.
    3. Tidak harus dihilangkan, tapi lebih baik diubah sedikit jadi lebih sehat. Karena budaya makan itu sudah jadi kebiasaan masyarakat, jadi bukan berarti makanannya harus dilarang. Misalnya, makanan manis tetap boleh dimakan, tapi porsinya dikurangi dan jangan terlalu sering.
    4. Caranya dengan menghargai kebiasaan dan budaya masyarakat dulu, bukan langsung bilang kalau budaya mereka salah. Kita bisa ngajak mereka melakukan perubahan kecil, misalnya mengurangi gula atau porsi makanan tanpa menghilangkan makanan khas keluarga. Jadi, masyarakat tetap bisa menjalankan budayanya, tapi dengan cara yang lebih sehat.
    5. Karena keluarga memengaruhi makanan, aktivitas, kebiasaan, dan dukungan pasien. Jika keluarga ikut berubah, pasien lebih mudah mempertahankan perilaku sehat.
    6. Mahasiswa perlu mengidentifikasi kebiasaan, nilai, tokoh, dan kegiatan budaya yang dekat dengan masyarakat, lalu memilih bagian yang paling mudah digunakan sebagai entry point intervensi.
    7. Kepercayaan perlu dihargai selama tidak membahayakan kesehatan. Jika bertentangan dengan fakta medis, informasinya perlu dikoreksi dengan cara yang sopan.
    8. Tidak selalu. Perubahan perilaku juga membutuhkan dukungan lingkungan, motivasi, akses, dan pendampingan, bukan hanya penyuluhan.
    9. Tokoh masyarakat dapat menjadi teladan, penyampai pesan kesehatan, dan penggerak masyarakat, sementara keputusan medis dan edukasi klinis tetap dilakukan oleh tenaga kesehatan.
    10. Dengan melibatkan kader dan masyarakat sejak awal, menyediakan panduan sederhana, serta melakukan monitoring dan tindak lanjut agar program dapat diteruskan secara mandiri.

    BalasHapus
  25. Nama : Rahmania WidiaPutri
    Kelas : 1B
    Kelompok : 1
    Jurusan : Promosi Kesehatan

    1. Edukasi vs. Perubahan Perilaku Edukasi saja tidak cukup karena perilaku dipengaruhi oleh kebiasaan, kondisi ekonomi, keluarga, dan norma sosial, bukan hanya pengetahuan.

    2. Norma Sosial (Risiko vs. Protektif) Menjadi faktor risiko jika membiasakan pola hidup tidak sehat (misal: konsumsi manis bersama), dan menjadi faktor protektif jika saling mendukung kebiasaan sehat.

    3. Budaya Makan Tidak perlu dihilangkan karena merupakan identitas daerah; cukup dimodifikasi kandungan berisikonya (seperti mengurangi gula/lemak).

    4. Modifikasi Tanpa Menyalahkan Gunakan komunikasi yang menghargai budaya, ajak masyarakat berdiskusi, dan cari alternatif sehat bersama tanpa mengintimidasi.

    5. Peran Keluarga Keluarga mengontrol ketersediaan makanan dan suasana di rumah, sehingga dukungan mereka krusial agar perubahan perilaku pasien bertahan lama.

    6. Entry Point Budaya Ditemukan dengan mengamati kebiasaan, nilai, makanan khas, dan tokoh berpengaruh lokal, bukan berdasarkan asumsi mahasiswa.

    7. Membedakan Kepercayaan vs. Mitos Kesehatan Kepercayaan budaya dihargai, tetapi jika ada mitos medis yang membahayakan, perlu diklarifikasi secara sopan berbasis bukti ilmiah.

    8. Solusi Pasca-Penyuluhan Jangan menambah penyuluhan, melainkan atasi hambatan riil (akses, lingkungan, fasilitas) melalui pemberdayaan dan pendampingan langsung.

    9. Peran Tokoh Masyarakat Tokoh masyarakat bertindak sebagai penggerak dan teladan, sedangkan tenaga kesehatan tetap menjadi sumber informasi medis

    10. Keberlanjutan Program Melibatkan kader, tokoh lokal, dan fasilitas kesehatan sejak awal serta merancang kegiatan mandiri yang mudah diteruskan warga.

    BalasHapus
  26. Nama : Fatihatussaa’dah/P3.73.36.1.26.066
    Kelas : 1B
    Kelompok : 10
    Jurusan : Promosi Kesehatan

    1. Karena edukasi hanya meningkatkan pengetahuan, belum tentu mengubah kebiasaan. Perubahan perilaku juga dipengaruhi oleh motivasi, lingkungan, dukungan keluarga, akses terhadap makanan sehat, serta kemampuan menerapkan informasi dalam kehidupan sehari-hari.
    2. Edukasi hanya meningkatkan pengetahuan, belum tentu mengubah kebiasaan karena dipengaruhi motivasi dan lingkungan. Norma sosial menjadi faktor risiko jika mendorong perilaku tidak sehat, dan faktor protektif jika mendukung perilaku sehat.
    3. Tidak harus dihilangkan, tapi lebih baik diubah sedikit jadi lebih sehat. Karena budaya makan itu sudah jadi kebiasaan masyarakat, jadi bukan berarti makanannya harus dilarang. Misalnya, makanan manis tetap boleh dimakan, tapi porsinya dikurangi dan jangan terlalu sering.
    4. Caranya dengan menghargai kebiasaan dan budaya masyarakat dulu, bukan langsung bilang kalau budaya mereka salah. Kita bisa ngajak mereka melakukan perubahan kecil, misalnya mengurangi gula atau porsi makanan tanpa menghilangkan makanan khas keluarga. Jadi, masyarakat tetap bisa menjalankan budayanya, tapi dengan cara yang lebih sehat.
    5. Karena keluarga memengaruhi makanan, aktivitas, kebiasaan, dan dukungan pasien. Jika keluarga ikut berubah, pasien lebih mudah mempertahankan perilaku sehat.
    6. Mahasiswa perlu mengidentifikasi kebiasaan, nilai, tokoh, dan kegiatan budaya yang dekat dengan masyarakat, lalu memilih bagian yang paling mudah digunakan sebagai entry point intervensi.
    7. Kepercayaan perlu dihargai selama tidak membahayakan kesehatan. Jika bertentangan dengan fakta medis, informasinya perlu dikoreksi dengan cara yang sopan.
    8. Tidak selalu. Perubahan perilaku juga membutuhkan dukungan lingkungan, motivasi, akses, dan pendampingan, bukan hanya penyuluhan.
    9. Tokoh masyarakat dapat menjadi teladan, penyampai pesan kesehatan, dan penggerak masyarakat, sementara keputusan medis dan edukasi klinis tetap dilakukan oleh tenaga kesehatan.
    10. Dengan melibatkan kader dan masyarakat sejak awal, menyediakan panduan sederhana, serta melakukan monitoring dan tindak lanjut agar program dapat diteruskan secara mandiri.

    BalasHapus
  27. 1. Mengapa edukasi diabetes 78% belum otomatis mengubah perilaku?
    Karena pengetahuan dipengaruhi kebiasaan, lingkungan, keluarga, dan norma sosial.
    2. Bagaimana norma sosial menjadi risiko sekaligus protektif?
    Norma tidak sehat menjadi risiko, sedangkan kebiasaan sehat bersama menjadi pelindung.
    3. Apakah budaya makan harus dihilangkan?
    Tidak. Budaya tetap dipertahankan dengan modifikasi yang lebih sehat.
    4. Bagaimana modifikasi tanpa menyalahkan budaya?
    Libatkan masyarakat dan fokus pada perubahan kebiasaan, bukan menyalahkan budaya.
    5. Mengapa keluarga menjadi sasaran?
    Keluarga memengaruhi makanan, kebiasaan, dan dukungan pasien.
    6. Bagaimana menentukan entry point budaya?
    Amati kebiasaan masyarakat yang berkaitan dengan masalah kesehatan.
    7. Bagaimana membedakan kepercayaan dan informasi yang perlu dikoreksi?
    Kepercayaan dihargai, tetapi informasi yang keliru dikoreksi berdasarkan bukti ilmiah.
    8. Apakah penyuluhan harus diperbanyak?
    Tidak selalu. Perlu melihat faktor lingkungan, kebiasaan, dan dukungan sosial.
    9. Bagaimana peran tokoh masyarakat?
    Tokoh masyarakat memperkuat norma sehat, sedangkan tenaga kesehatan memberikan informasi ilmiah.
    10. Bagaimana intervensi tetap berjalan setelah mahasiswa selesai?
    Libatkan kader dan masyarakat agar program dapat dilanjutkan secara mandiri.

    BalasHapus
  28. Nama : Yasmin Khoiriyyah
    Kelas : 1B
    Kelompok : 2
    Jurusan : DIV Promosi Kesehatan

    1. Karena pengetahuan hanya salah satu determinan perilaku. Model seperti Health Belief Model dan Theory of Planned Behavior menunjukkan perilaku juga dipengaruhi sikap, norma sosial, kontrol diri (akses, biaya, waktu), kebiasaan, dan lingkungan. Tahu belum tentu mampu atau mau berubah, ada gap antara knowledge, attitude, dan practice (KAP gap).

    2. Norma bisa mendukung perilaku sehat (misalnya budaya makan bersama-sama porsi terkontrol) tapi juga melanggengkan perilaku berisiko (misalnya norma "makan banyak nasi = sehat/berkecukupan", atau tekanan sosial untuk menghabiskan makanan manis saat acara). Norma yang sama bisa jadi penguat atau penghambat tergantung isinya.

    3. Tidak. Pendekatan yang tepat adalah modifikasi, bukan penghapusan. Mempertahankan nilai budaya (kebersamaan, jenis makanan) sambil menyesuaikan porsi, frekuensi, atau cara pengolahan. Menghapus budaya berisiko menimbulkan resistensi dan dianggap tidak menghormati identitas masyarakat.

    4. Gunakan pendekatan partisipatif: libatkan masyarakat dalam merancang solusi, framing pesan sebagai "penyesuaian" bukan "kesalahan", gunakan tokoh masyarakat sebagai penyampai pesan, dan tonjolkan aspek budaya yang tetap bisa dipertahankan.

    5. Karena pola makan dan perilaku kesehatan biasanya dibentuk dan dijaga di tingkat rumah tangga (siapa yang memasak, pola belanja, dukungan emosional). Keluarga juga faktor pendukung/penghambat kepatuhan pengobatan pasien.

    6. Melalui analisis sosial-budaya awal: observasi kebiasaan makan, wawancara dengan tokoh masyarakat/kader, identifikasi nilai atau kebiasaan yang paling berpengaruh dan paling mungkin diubah tanpa menimbulkan penolakan besar.

    7. Kepercayaan yang bersifat nilai/identitas (tidak membahayakan kesehatan) dihargai; informasi yang secara medis salah dan berisiko (misalnya mitos tentang pengobatan) perlu diluruskan secara halus dengan edukasi berbasis bukti, tanpa merendahkan kepercayaan itu sendiri.

    8. Belum tentu. Jika penyuluhan berulang tidak mengubah perilaku, masalahnya kemungkinan bukan kurangnya informasi, melainkan hambatan struktural (akses, biaya, lingkungan) atau psikososial (norma, motivasi). Solusinya perlu diversifikasi metode: pendekatan perilaku, dukungan lingkungan, kebijakan lokal, bukan sekadar mengulang ceramah.

    9. Tokoh masyarakat bisa memodelkan perilaku sehat dan memberi legitimasi sosial terhadap pesan kesehatan, sehingga pesan lebih diterima. Namun perannya sebagai penguat pesan dan motivator, bukan pengganti tenaga kesehatan dalam hal diagnosis, edukasi klinis, atau pengobatan.

    10. Dengan strategi keberlanjutan (sustainability), misalnya: melatih kader lokal, melibatkan puskesmas/tenaga kesehatan setempat, membentuk kelompok pendukung mandiri (support group), dan mendokumentasikan program agar bisa dilanjutkan oleh pemangku kepentingan lokal.

    BalasHapus
  29. Nama : Malika Faiza As Shabro
    Kelas : 1B
    Kelompok : 8
    Jurusan : Promosi Kesehatan

    Jawaban 1
    Edukasi kognitif tidak cukup karena perubahan perilaku butuh dorongan afektif dan psikomotor, serta sering terhalang kebiasaan, lingkungan, finansial, dan keterbatasan akses.

    Jawaban 2
    Norma sosial menjadi risiko jika memaklumi konsumsi gula tinggi, tetapi menjadi protektif jika komunitas membudayakan gaya hidup aktif bersama.

    Jawaban 3
    Tidak, karena memicu penolakan sosial; solusinya cukup memodifikasi porsi, bahan, dan cara masak tanpa merusak nilai kebersamaan.

    Jawaban 4
    Modifikasi perilaku dilakukan melalui dialog empatis dan penyesuaian resep bertahap dengan tetap menghargai tradisi lokal.

    Jawaban 5
    Keluarga wajib diintervensi karena menentukan pola makan dan aktivitas rumah; tanpa dukungan mereka, pasien sulit konsisten.

    Jawaban 6
    Mahasiswa masuk melalui observasi kebiasaan warga, pemanfaatan positive deviance, dan forum warga yang sudah aktif seperti posyandu atau pengajian.

    Jawaban 7
    Tradisi yang aman dan bernilai sosial wajib dihargai, sedangkan mitos yang membahayakan kesehatan harus dikoreksi.

    Jawaban 8
    Tidak, penyuluhan ulang tidak berdampak; solusi harus bergeser ke modifikasi lingkungan, coaching, dan penguatan kelompok.

    Jawaban 9
    Tokoh masyarakat menjadi panutan norma sosial, sementara tenaga kesehatan menangani diagnosis, intervensi medis, dan edukasi resmi.

    Jawaban 10
    Keberlanjutan dijaga lewat pelatihan kader lokal, integrasi ke program Puskesmas/Posbindu, dan penyusunan panduan kerja mandiri.

    BalasHapus
  30. Nama : Bunga Putri Dahlia
    Kelas : 1B
    Kelompok : 10
    Jurusan : Promosi Kesehatan

    1. Karena edukasi hanya meningkatkan pengetahuan, belum tentu mengubah kebiasaan. Perubahan perilaku juga dipengaruhi oleh motivasi, lingkungan, dukungan keluarga, akses terhadap makanan sehat, serta kemampuan menerapkan informasi dalam kehidupan sehari-hari.
    2. Edukasi hanya meningkatkan pengetahuan, belum tentu mengubah kebiasaan karena dipengaruhi motivasi dan lingkungan. Norma sosial menjadi faktor risiko jika mendorong perilaku tidak sehat, dan faktor protektif jika mendukung perilaku sehat.
    3. Tidak harus dihilangkan, tapi lebih baik diubah sedikit jadi lebih sehat. Karena budaya makan itu sudah jadi kebiasaan masyarakat, jadi bukan berarti makanannya harus dilarang. Misalnya, makanan manis tetap boleh dimakan, tapi porsinya dikurangi dan jangan terlalu sering.
    4. Caranya dengan menghargai kebiasaan dan budaya masyarakat dulu, bukan langsung bilang kalau budaya mereka salah. Kita bisa ngajak mereka melakukan perubahan kecil, misalnya mengurangi gula atau porsi makanan tanpa menghilangkan makanan khas keluarga. Jadi, masyarakat tetap bisa menjalankan budayanya, tapi dengan cara yang lebih sehat.
    5. Karena keluarga memengaruhi makanan, aktivitas, kebiasaan, dan dukungan pasien. Jika keluarga ikut berubah, pasien lebih mudah mempertahankan perilaku sehat.
    6. Mahasiswa perlu mengidentifikasi kebiasaan, nilai, tokoh, dan kegiatan budaya yang dekat dengan masyarakat, lalu memilih bagian yang paling mudah digunakan sebagai entry point intervensi.
    7. Kepercayaan perlu dihargai selama tidak membahayakan kesehatan. Jika bertentangan dengan fakta medis, informasinya perlu dikoreksi dengan cara yang sopan.
    8. Tidak selalu. Perubahan perilaku juga membutuhkan dukungan lingkungan, motivasi, akses, dan pendampingan, bukan hanya penyuluhan.
    9. Tokoh masyarakat dapat menjadi teladan, penyampai pesan kesehatan, dan penggerak masyarakat, sementara keputusan medis dan edukasi klinis tetap dilakukan oleh tenaga kesehatan.
    10. Dengan melibatkan kader dan masyarakat sejak awal, menyediakan panduan sederhana, serta melakukan monitoring dan tindak lanjut agar program dapat diteruskan secara mandiri.

    BalasHapus
  31. Nama : Hudzaifi Alhaqqan Yusuf Wibowo
    Kelas :1B
    Kelompok :12
    Jurusan :D4 Promosi Kesehatan

    1 Edukasi baru mengubah pengetahuan, bukan perilaku. Perubahan perilaku membutuhkan dorongan sikap, keterampilan, serta daya dukung lingkungan. Seseorang paham bahaya gula, tetapi tetap mengonsumsinya jika tidak ada opsi lain, terpengaruh norma sosial, atau kurang memiliki daya tangkal diri.

    2 Sebagai faktor risiko, norma sosial memvalidasi kebiasaan tidak sehat, seperti tradisi menyajikan teh manis pekat atau nasi porsi besar yang sulit ditolak karena alasan kesopanan. Sebagai faktor protektif, norma dapat memicu kepatuhan sosial yang positif jika komunitas menyepakati aturan sehat bersama, seperti olahraga rutin warga atau penyediaan opsi air putih di acara lokal.

    3 Tidak. Menghilangkan budaya makan memicu penolakan masyarakat. Solusinya adalah enkulturasi atau akulturasi kesehatan, yaitu mempertahankan nilai sosial dan ritual budayanya, tetapi mengadaptasi bahan atau porsinya. Contohnya mengganti sebagian nasi putih dengan serat atau mengurangi takaran gula minuman tradisional.

    4 Gunakan pendekatan yang mengapresiasi budaya setempat. Pertama, validasi nilai mulia di balik budaya tersebut. Kedua, tekankan penyesuaian porsi atau takaran demi menjaga kesehatan agar bisa terus menjalankan tradisi. Ketiga, pakai narasi positif seperti penambahan opsi sehat dibanding larangan mutlak. Keempat, libatkan masyarakat merumuskan sendiri variasi resep lokal yang lebih sehat.

    5 Keluarga menentukan lingkungan mikro pasien. Keputusan menu makanan, belanja harian, pengawasan minum obat, dan dukungan psikologis berada di tingkat keluarga. Mengedukasi keluarga sekaligus mencegah risiko diabetes pada generasi berikutnya.

    6 Langkah menentukan titik masuk budaya diawali dengan mengobservasi atau memetakan rutinitas warga seperti pengajian, arisan, atau kerja bakti. Selanjutnya mengidentifikasi tokoh kunci yang dipatuhi dan nilai utama yang dianut. Terakhir, menyisipkan pesan dan kegiatan kesehatan seperti cek gula darah gratis ke dalam forum budaya yang sudah berjalan.

    7 Gunakan kriteria dampak klinis. Kepercayaan yang netral atau positif serta tidak membahayakan fisik seperti minum jamu rempah perlu dihargai dan diintegrasikan. Sebaliknya, informasi atau mitos berbahaya yang menunda penanganan medis atau memicu perburukan seperti menghentikan obat demi ramuan yang belum teruji perlu dikoreksi secara persuasif dan bertahap.

    8 Tidak. Menambah penyuluhan hanya memicu kejenuhan informasi. Masalah utamanya ada pada lingkungan dan daya dukung. Solusi berikutnya adalah rekayasa lingkungan, pelatihan keterampilan praktis seperti cara membaca label gula, serta pembentukan regulasi atau kesepakatan di tingkat lokal.

    9 Tokoh masyarakat bertindak sebagai contoh teladan dan pendorong norma sosial, sedangkan tenaga kesehatan adalah pakar medis dan penyedia layanan. Tokoh masyarakat mengomunikasikan pesan dengan bahasa lokal dan memberi contoh langsung, sementara tenaga kesehatan menangani data klinis, diagnosis, dan panduan teknis.

    10 Langkah menjaga keberlanjutan program dilakukan dengan melatih kader lokal agar mampu melakukan pendampingan secara mandiri. Selain itu, integrasikan kegiatan ke dalam agenda dan dana rutin desa atau RT, sediakan alat bantu edukasi yang mudah digunakan kembali, serta lakukan serah terima pemantauan program kepada Puskesmas pembina wilayah.

    BalasHapus
  32. Nama : Danthi Solehati
    Kelas : 1B
    Kelompok : 7
    Jurusan :Promosi Kesehatan

    1.Edukasi tidak selalu mengubah perilaku karena perubahan perilaku dipengaruhi oleh kebiasaan, lingkungan, motivasi, dukungan keluarga, dan norma sosial.

    2.Norma sosial menjadi faktor risiko jika mendorong kebiasaan tidak sehat, tetapi menjadi faktor protektif jika mendukung pola hidup sehat dan saling mengingatkan.

    3.Tidak perlu dihilangkan, tetapi perlu dimodifikasi agar lebih sehat tanpa menghilangkan nilai budaya dan kebiasaan masyarakat.

    4.Modifikasi perilaku dilakukan secara bertahap dengan menghargai budaya, melibatkan masyarakat, dan menawarkan alternatif sehat yang tetap sesuai dengan kebiasaan setempat.

    5.Keluarga perlu menjadi sasaran karena keluarga memengaruhi pola makan, aktivitas, kebiasaan, serta memberikan dukungan dalam menjaga perilaku sehat pasien.

    6.Mahasiswa dapat menentukan *entry point* dengan mengidentifikasi kebiasaan, nilai budaya, tokoh berpengaruh, serta masalah kesehatan yang paling dekat dengan masyarakat.

    8.Kepercayaan masyarakat perlu dihargai selama tidak membahayakan kesehatan. Informasi yang bertentangan dengan bukti ilmiah perlu dikoreksi dengan pendekatan yang sopan dan mudah dipahami.

    8. Tidak selalu perlu menambah penyuluhan. Jika pengetahuan sudah cukup tetapi perilaku belum berubah, perlu ditinjau faktor lingkungan, kebiasaan, dukungan sosial, dan hambatan lainnya.

    9.Tokoh masyarakat dapat menjadi contoh, mengajak masyarakat menerapkan perilaku sehat, dan memperkuat pesan kesehatan tanpa menggantikan peran tenaga kesehatan.

    10. Keberlanjutan dapat dijaga dengan melibatkan kader, keluarga, tokoh masyarakat, dan tenaga kesehatan sejak awal serta melakukan pemantauan agar masyarakat mampu melanjutkan program secara mandiri.

    BalasHapus
  33. Nama : Cahaya Putri Salsabila
    NIM : P3.73.36.1.26.059
    Kelas : 1B
    Kelompok : 6
    Jurusan : D-IV STr Promosi Kesehatan

    1. Edukasi baru meningkatkan pengetahuan, belum tentu mengubah sikap dan tindakan. Perilaku juga dipengaruhi lingkungan, ekonomi, dan kebiasaan.

    2. Norma sosial bisa menjadi faktor risiko jika mendorong perilaku tidak sehat, tetapi bisa menjadi protektif jika mendukung kebiasaan sehat.

    3. Tidak perlu dihilangkan, tetapi dimodifikasi. Budaya tetap dipertahankan dengan menyesuaikan porsi, frekuensi, atau cara pengolahan agar lebih sehat.

    4. Gunakan negosiasi budaya dengan menghargai tradisi terlebih dahulu, kemudian mengajak masyarakat melakukan perubahan yang lebih sehat.

    5. Keluarga merupakan support system dan lingkungan terdekat. Perubahan perilaku keluarga membantu menciptakan lingkungan yang mendukung pasien.

    6. Lakukan rapid assessment melalui observasi dan wawancara untuk menemukan kebiasaan atau kegiatan masyarakat yang bisa menjadi pintu masuk pesan kesehatan.

    7. Kepercayaan yang tidak membahayakan dapat dihargai, sedangkan kepercayaan yang membahayakan atau menghambat pengobatan perlu dikoreksi.

    8. Tidak. Penyuluhan perlu dilengkapi dengan perubahan lingkungan, seperti membatasi minuman manis dan menyediakan sarana olahraga.

    9. Tokoh masyarakat menjadi teladan dan penggerak, sedangkan tenaga kesehatan tetap berperan dalam memberikan informasi dan tindakan medis.

    10. Program dibuat berkelanjutan dengan melatih kader, membentuk kepengurusan, dan mengintegrasikannya ke program yang sudah ada. Mahasiswa cukup menjadi fasilitator.

    BalasHapus
  34. Nama : Hanifah Arancia Anasshaumi
    Kelas : 1B
    Kelompok : 12
    Jurusan : Promosi Kesehatan

    1. Karena pengetahuan tidak selalu langsung mengubah perilaku. Kebiasaan, lingkungan, ekonomi, dan norma sosial juga memengaruhi.
    2. Norma sosial menjadi risiko jika mendukung kebiasaan tidak sehat, dan menjadi protektif jika mendorong pola hidup sehat.
    3. Tidak. Budaya makan tidak perlu dihilangkan, tetapi dapat dimodifikasi agar lebih sehat tanpa menghilangkan nilai budayanya.
    4. Dengan menghargai budaya masyarakat dan melakukan perubahan secara bertahap, misalnya mengurangi gula atau porsi makanan.
    5. Karena keluarga memengaruhi pola makan, kebiasaan, dan dukungan pasien dalam menjalankan perilaku sehat.
    6. Dengan mengidentifikasi kebiasaan, nilai, makanan, tokoh, dan aktivitas yang paling berpengaruh melalui observasi atau wawancara.
    7. Kepercayaan perlu dihargai, tetapi informasi yang terbukti dapat membahayakan kesehatan perlu dikoreksi berdasarkan bukti ilmiah secara sopan.
    8. Tidak. Jika penyuluhan sudah sering dilakukan, perlu melihat hambatan lain seperti lingkungan, kebiasaan, dukungan keluarga, dan akses terhadap pilihan sehat.
    9. Tokoh masyarakat dapat menjadi contoh dan mengajak warga menerapkan kebiasaan sehat, sedangkan tenaga kesehatan tetap memberikan edukasi dan arahan medis.
    10. Dengan melibatkan masyarakat sejak awal serta membentuk kader atau penanggung jawab yang dapat melanjutkan program.

    BalasHapus
  35. Nama : Jihan Leisanny
    Kelas : 1B
    Kelompok : 11
    Jurusan : Promosi Kesehatan

    1. Mengapa edukasi diabetes yang sudah diberikan kepada 78% masyarakat belum otomatis menghasilkan perubahan perilaku?
    Karena pengetahuan saja belum tentu mengubah kebiasaan. Perilaku juga dipengaruhi oleh lingkungan, keluarga, kebiasaan, dan norma sosial.

    2. Bagaimana norma sosial dapat menjadi faktor risiko sekaligus faktor protektif?
    Norma sosial menjadi risiko jika kebiasaannya tidak sehat, misalnya sering mengonsumsi makanan manis. Sebaliknya, bisa menjadi protektif jika masyarakat saling mendukung untuk hidup sehat.

    3. Apakah budaya makan masyarakat harus dihilangkan untuk mencegah diabetes? Jelaskan.
    Tidak perlu dihilangkan. Menurut kami, budaya makan tetap bisa dipertahankan dengan memodifikasi bagian yang berisiko, seperti mengurangi gula, lemak, atau porsi.

    4. Bagaimana cara melakukan modifikasi perilaku tanpa membuat masyarakat merasa budaya mereka disalahkan?
    Caranya dengan memahami dan menghargai budaya masyarakat terlebih dahulu. Setelah itu, ajak masyarakat mencari perubahan yang lebih sehat tanpa menyalahkan kebiasaan mereka.

    5. Mengapa keluarga harus menjadi sasaran intervensi, bukan hanya pasien diabetes?
    Karena keluarga sangat memengaruhi pola makan dan kebiasaan sehari-hari. Dukungan keluarga juga dapat membantu pasien lebih mudah mempertahankan perilaku sehat.

    6. Bagaimana mahasiswa menentukan entry point budaya untuk intervensi promosi kesehatan?
    Dengan melihat kebiasaan masyarakat melalui observasi, wawancara, atau diskusi. Kemudian pilih kebiasaan yang berkaitan dengan masalah kesehatan dan memungkinkan untuk dimodifikasi.

    7. Bagaimana membedakan antara kepercayaan masyarakat yang perlu dihargai dengan informasi kesehatan yang perlu dikoreksi?
    Kepercayaannya tetap dihargai, tetapi informasi yang terbukti tidak sesuai dengan fakta kesehatan perlu diluruskan dengan cara yang sopan dan tidak menyalahkan.

    8. Jika masyarakat sudah sering mendapatkan penyuluhan tetapi perilaku belum berubah, apakah solusi berikutnya harus berupa penyuluhan yang lebih banyak? Jelaskan alasan Anda.
    Tidak selalu. Kalau pengetahuan sudah diberikan tetapi perilaku belum berubah, perlu dicari penyebab lainnya, seperti kebiasaan, lingkungan, atau dukungan keluarga. Jadi, bisa dilakukan pendampingan atau praktik langsung, bukan hanya menambah penyuluhan.

    9. Bagaimana tokoh masyarakat dapat digunakan sebagai penguat norma kesehatan tanpa menggantikan peran tenaga kesehatan?
    Tokoh masyarakat dapat membantu mengajak dan memotivasi warga untuk menerapkan perilaku sehat. Sementara itu, tenaga kesehatan tetap berperan memberikan informasi dan edukasi berdasarkan ilmu kesehatan.

    10. Bagaimana memastikan intervensi tidak berhenti setelah program mahasiswa selesai?
    Dengan melibatkan kader, keluarga, RT/RW, dan tokoh masyarakat sejak awal. Kegiatan juga harus dibuat sederhana agar dapat dilanjutkan oleh masyarakat secara mandiri.

    BalasHapus
  36. Nama : Mullah Muhammad Umar
    Kelas : 1B
    Kelompok : 2
    Jurusan : Promosi Kesehatan
    1. Karena pengetahuan tidak selalu sama dengan tindakan. Perilaku dipengaruhi banyak faktor, seperti kebiasaan, lingkungan, kondisi ekonomi, akses terhadap makanan sehat, dukungan keluarga, motivasi, dan norma sosial. Jadi, meskipun 78% masyarakat sudah mendapatkan edukasi, mereka mungkin mengetahui risiko diabetes tetapi belum memiliki kondisi atau dukungan yang memungkinkan mereka mengubah kebiasaan.

    2. Norma sosial dapat menjadi faktor risiko apabila masyarakat menganggap kebiasaan tertentu sebagai sesuatu yang wajar, misalnya konsumsi makanan atau minuman manis dalam acara keluarga. Sebaliknya, norma dapat menjadi faktor protektif apabila lingkungan sosial mendorong kebiasaan sehat, seperti keluarga yang membiasakan konsumsi makanan seimbang, aktivitas fisik bersama, atau saling mengingatkan untuk melakukan pemeriksaan kesehatan.

    3. Tidak. Tujuannya bukan menghilangkan budaya, tetapi memodifikasi bagian yang berisiko terhadap kesehatan. Makanan tradisional tetap dapat dipertahankan dengan menyesuaikan porsi, frekuensi konsumsi, cara pengolahan, atau komposisinya. Pendekatan ini lebih realistis karena masyarakat tidak dipaksa meninggalkan identitas dan kebiasaan budayanya.

    4. Gunakan pendekatan partisipatif dan tidak menghakimi. Tenaga kesehatan dapat mengidentifikasi kebiasaan yang sudah baik terlebih dahulu, kemudian bersama masyarakat mencari alternatif yang lebih sehat. Misalnya bukan mengatakan “makanan ini salah”, tetapi “bagaimana makanan yang biasa kita konsumsi ini bisa dibuat lebih sehat?” Dengan demikian, masyarakat menjadi bagian dari solusi.

    5. Karena keluarga merupakan lingkungan terdekat yang sangat memengaruhi pola makan, aktivitas fisik, kepatuhan pengobatan, dan kebiasaan sehari-hari. Jika hanya pasien yang diberi edukasi sementara keluarga tetap menyediakan atau mendorong pola hidup yang kurang sehat, perubahan perilaku pasien akan lebih sulit dipertahankan. Intervensi keluarga membuat perubahan menjadi lingkungan bersama, bukan beban individu.

    6. Mahasiswa perlu melakukan pemetaan budaya dan kebiasaan masyarakat terlebih dahulu. Caranya melalui observasi, wawancara, diskusi dengan masyarakat, kader, tokoh masyarakat, dan tenaga kesehatan. Cari kebiasaan yang paling berpengaruh terhadap masalah kesehatan sekaligus memiliki peluang untuk diubah. Entry point yang baik adalah kebiasaan yang diterima masyarakat, relevan dengan masalah kesehatan, dan memungkinkan dilakukan modifikasi tanpa konflik budaya yang besar.

    7. Kepercayaan dan nilai budaya tetap perlu dihormati selama tidak membahayakan kesehatan. Namun, klaim kesehatan yang bertentangan dengan bukti ilmiah perlu diluruskan dengan cara yang tidak merendahkan masyarakat. Misalnya, tenaga kesehatan dapat mengatakan bahwa suatu kepercayaan memiliki nilai budaya tertentu, tetapi untuk aspek pengobatan atau pencegahan penyakit, masyarakat juga perlu mendapatkan informasi berdasarkan bukti medis.

    8. Tidak selalu. Jika masalah utamanya bukan kurangnya pengetahuan, penyuluhan tambahan mungkin tidak menyelesaikan masalah. Intervensi perlu bergeser dari sekadar menambah pengetahuan menjadi mengubah lingkungan dan memfasilitasi perilaku. Contohnya menyediakan pilihan makanan sehat, membangun aktivitas fisik bersama, melibatkan keluarga, menggunakan kader sebagai pengingat, atau membuat target perubahan perilaku yang kecil dan realistis.

    9. Tokoh masyarakat dapat berfungsi sebagai penggerak dan pemberi contoh sosial, misalnya mengajak warga mengikuti kegiatan aktivitas fisik atau mendukung pilihan makanan yang lebih sehat. Sementara itu, tenaga kesehatan tetap bertanggung jawab memberikan informasi medis, melakukan skrining, menentukan intervensi kesehatan, dan memberikan rujukan.

    10. Intervensi harus dirancang sejak awal agar dapat dilanjutkan oleh masyarakat dan institusi setempat. Mahasiswa sebaiknya melibatkan kader, Puskesmas, keluarga, dan tokoh masyarakat sejak tahap perencanaan, bukan hanya saat pelaksanaan.

    BalasHapus

  37. Nama: Farah Azizah Khairunniswah
    Kelas: 1B
    Kelompok: 11
    Jurusan: D4 Promosi Kesehatan


    1. Mengapa edukasi diabetes yang sudah diberikan kepada 78% masyarakat belum otomatis menghasilkan perubahan perilaku?
    Karena pengetahuan saja belum tentu mengubah kebiasaan. Perilaku juga dipengaruhi oleh lingkungan, keluarga, kebiasaan, dan norma sosial.

    2. Bagaimana norma sosial dapat menjadi faktor risiko sekaligus faktor protektif?
    Norma sosial menjadi risiko jika kebiasaannya tidak sehat, misalnya sering mengonsumsi makanan manis. Sebaliknya, bisa menjadi protektif jika masyarakat saling mendukung untuk hidup sehat.

    3. Apakah budaya makan masyarakat harus dihilangkan untuk mencegah diabetes? Jelaskan.
    Tidak perlu dihilangkan. Menurut kami, budaya makan tetap bisa dipertahankan dengan memodifikasi bagian yang berisiko, seperti mengurangi gula, lemak, atau porsi.

    4. Bagaimana cara melakukan modifikasi perilaku tanpa membuat masyarakat merasa budaya mereka disalahkan?
    Caranya dengan memahami dan menghargai budaya masyarakat terlebih dahulu. Setelah itu, ajak masyarakat mencari perubahan yang lebih sehat tanpa menyalahkan kebiasaan mereka.

    5. Mengapa keluarga harus menjadi sasaran intervensi, bukan hanya pasien diabetes?
    Karena keluarga sangat memengaruhi pola makan dan kebiasaan sehari-hari. Dukungan keluarga juga dapat membantu pasien lebih mudah mempertahankan perilaku sehat.

    6. Bagaimana mahasiswa menentukan entry point budaya untuk intervensi promosi kesehatan?
    Dengan melihat kebiasaan masyarakat melalui observasi, wawancara, atau diskusi. Kemudian pilih kebiasaan yang berkaitan dengan masalah kesehatan dan memungkinkan untuk dimodifikasi.

    7. Bagaimana membedakan antara kepercayaan masyarakat yang perlu dihargai dengan informasi kesehatan yang perlu dikoreksi?
    Kepercayaannya tetap dihargai, tetapi informasi yang terbukti tidak sesuai dengan fakta kesehatan perlu diluruskan dengan cara yang sopan dan tidak menyalahkan.

    8. Jika masyarakat sudah sering mendapatkan penyuluhan tetapi perilaku belum berubah, apakah solusi berikutnya harus berupa penyuluhan yang lebih banyak? Jelaskan alasan Anda.
    Tidak selalu. Kalau pengetahuan sudah diberikan tetapi perilaku belum berubah, perlu dicari penyebab lainnya, seperti kebiasaan, lingkungan, atau dukungan keluarga. Jadi, bisa dilakukan pendampingan atau praktik langsung, bukan hanya menambah penyuluhan.

    9. Bagaimana tokoh masyarakat dapat digunakan sebagai penguat norma kesehatan tanpa menggantikan peran tenaga kesehatan?
    Tokoh masyarakat dapat membantu mengajak dan memotivasi warga untuk menerapkan perilaku sehat. Sementara itu, tenaga kesehatan tetap berperan memberikan informasi dan edukasi berdasarkan ilmu kesehatan.

    10. Bagaimana memastikan intervensi tidak berhenti setelah program mahasiswa selesai?
    Dengan melibatkan kader, keluarga, RT/RW, dan tokoh masyarakat sejak awal. Kegiatan juga harus dibuat sederhana agar dapat dilanjutkan oleh masyarakat secara mandiri.

    BalasHapus
  38. Hilya Nabilah
    P3.73.36.1.26.071
    Kelompok 12
    1. Karena pengetahuan bukan satu-satunya faktor yang menentukan perilaku. Perubahan perilaku juga dipengaruhi oleh sikap, norma sosial, lingkungan, dukungan keluarga, akses terhadap makanan sehat, serta kemampuan masyarakat menerapkan informasi dalam kehidupan sehari-hari.
    2. Norma sosial menjadi faktor risiko ketika kebiasaan tidak sehat dianggap wajar, seperti konsumsi makanan dan minuman manis. Sebaliknya, norma dapat menjadi faktor protektif ketika masyarakat membiasakan pola makan sehat, aktivitas fisik, dan saling mengingatkan untuk menjaga kesehatan.
    3. Tidak. Budaya makan tidak perlu dihilangkan, tetapi dapat dimodifikasi agar lebih sehat, misalnya dengan mengatur porsi, frekuensi konsumsi, cara pengolahan, serta penggunaan gula dan lemak tanpa menghilangkan identitas makanan tradisional.
    4. Dengan menghargai budaya masyarakat dan melibatkan mereka dalam menentukan perubahan. Fokusnya bukan menyalahkan budaya, tetapi mencari bagian dari kebiasaan yang dapat disesuaikan agar lebih sehat.
    5. Karena keluarga merupakan lingkungan terdekat yang memengaruhi pola makan dan kebiasaan sehari-hari. Dukungan keluarga dapat membantu pasien menjalankan dan mempertahankan perilaku hidup sehat.
    6. Dengan mengidentifikasi kebiasaan, nilai, kepercayaan, pola makan, serta tokoh yang berpengaruh melalui observasi dan komunikasi dengan masyarakat. Dari informasi tersebut ditentukan aspek budaya yang paling memungkinkan menjadi titik awal intervensi.
    7. Kepercayaan yang menjadi bagian dari identitas dan nilai budaya perlu dihargai. Namun, informasi yang bertentangan dengan bukti kesehatan atau berisiko membahayakan perlu dikoreksi secara santun, berdasarkan bukti, dan tanpa merendahkan masyarakat.
    8. Tidak selalu. Jika penyuluhan sudah sering dilakukan tetapi perilaku belum berubah, perlu dicari hambatan lain seperti lingkungan, motivasi, dukungan keluarga, akses, atau norma sosial, kemudian intervensi disesuaikan dengan masalah tersebut.
    9. Tokoh masyarakat dapat menjadi contoh dan penguat kebiasaan sehat di lingkungan masyarakat. Namun, informasi medis tetap harus berdasarkan kompetensi tenaga kesehatan sehingga peran tokoh masyarakat lebih sebagai pendukung, bukan pengganti tenaga kesehatan.
    10. Dengan melibatkan masyarakat sejak awal, membentuk kader atau kelompok lokal, meningkatkan kemampuan masyarakat, serta mengintegrasikan kegiatan ke dalam program yang sudah berjalan. Dengan demikian, masyarakat dapat melanjutkan kegiatan secara mandiri setelah program mahasiswa selesai

    BalasHapus
  39. Nama : Niswah Naaifah Hasan
    Kelas :1B
    Kelompok :1
    Jurusan :D4 promkes
    1. Menurut kami, edukasi belum tentu langsung mengubah perilaku karena perubahan perilaku tidak hanya dipengaruhi oleh pengetahuan. Masyarakat juga dipengaruhi oleh kebiasaan, lingkungan, kondisi ekonomi, keluarga, serta norma sosial. Jadi, walaupun masyarakat sudah mengetahui bahaya diabetes, belum tentu mereka mampu atau mau mengubah pola makan dan gaya hidupnya.
    2. Menurut kami, norma sosial dapat menjadi faktor risiko jika kebiasaan yang dilakukan bersama justru tidak sehat, seperti sering mengonsumsi makanan atau minuman manis karena dianggap hal yang biasa. Sebaliknya, norma sosial dapat menjadi faktor protektif jika lingkungan masyarakat membiasakan perilaku sehat, misalnya saling mengingatkan untuk mengurangi gula, melakukan aktivitas fisik, dan memilih makanan yang lebih sehat.
    3. Menurut kami, budaya makan masyarakat tidak harus dihilangkan karena makanan merupakan bagian dari identitas dan kebiasaan masyarakat. Yang perlu dilakukan adalah memodifikasi bagian yang berisiko terhadap kesehatan, misalnya mengurangi gula, garam, atau lemak tanpa menghilangkan makanan khasnya. Dengan begitu, pencegahan diabetes tetap dapat dilakukan tanpa menghilangkan budaya masyarakat.
    4. Menurut kami, caranya dengan menghargai budaya yang sudah ada dan tidak langsung mengatakan bahwa kebiasaan masyarakat itu salah. Tenaga kesehatan dapat mengajak masyarakat berdiskusi, mencari kebiasaan yang berisiko, kemudian mencari alternatif yang lebih sehat tetapi tetap sesuai dengan budaya mereka. Pendekatannya sebaiknya menggunakan komunikasi yang menghargai dan melibatkan masyarakat.
    5. Menurut kami, keluarga berperan besar dalam kehidupan sehari-hari pasien. Keluarga dapat memengaruhi makanan yang tersedia di rumah, kebiasaan aktivitas fisik, serta kepatuhan pasien dalam menjalankan pola hidup sehat. Jika hanya pasien yang diberikan edukasi tetapi keluarganya tidak mendukung, perubahan perilaku akan lebih sulit dipertahankan.
    6. Menurut kami, mahasiswa dapat menentukan entry point dengan terlebih dahulu mengidentifikasi kebiasaan, nilai, kepercayaan, makanan, kegiatan, dan tokoh yang memiliki pengaruh di masyarakat. Setelah itu, mahasiswa dapat melihat bagian budaya mana yang dapat menjadi pintu masuk untuk menyampaikan pesan kesehatan. Jadi, intervensi tidak langsung dibuat berdasarkan asumsi mahasiswa, tetapi berdasarkan kondisi dan kebiasaan masyarakat.
    7. Menurut kami, kepercayaan masyarakat tetap perlu dihargai sebagai bagian dari budaya mereka, tetapi jika kepercayaan tersebut berkaitan dengan informasi kesehatan yang tidak sesuai dengan bukti ilmiah dan dapat membahayakan, maka perlu diberikan klarifikasi. Cara menyampaikannya juga harus sopan dan tidak merendahkan kepercayaan masyarakat, tetapi memberikan informasi yang benar berdasarkan sumber kesehatan yang dapat dipercaya.
    8. Menurut kami, tidak selalu. Jika penyuluhan sudah sering dilakukan tetapi perilaku belum berubah, berarti masalahnya mungkin bukan hanya kurangnya pengetahuan. Perlu dilakukan identifikasi terhadap hambatan lain, seperti lingkungan, kebiasaan, dukungan keluarga, akses terhadap makanan sehat, atau norma sosial. Intervensi dapat dilanjutkan dengan pemberdayaan, pendampingan, perubahan lingkungan, dan pemberian contoh perilaku secara langsung.
    9. Menurut kami, tokoh masyarakat dapat berperan sebagai penggerak dan pemberi contoh kepada masyarakat, misalnya mengajak warga mengikuti kegiatan kesehatan atau menerapkan kebiasaan hidup sehat. Sementara itu, tenaga kesehatan tetap berperan memberikan informasi dan arahan berdasarkan ilmu kesehatan. Jadi, keduanya saling melengkapi dan memiliki peran masing-masing.
    10. Menurut kami, intervensi harus melibatkan masyarakat sejak awal dan tidak hanya bergantung pada mahasiswa. Kegiatan dapat dilanjutkan dengan melibatkan kader, keluarga, tokoh masyarakat, dan tenaga kesehatan setempat. Selain itu, perlu dibuat kegiatan yang sederhana dan mudah dilakukan secara mandiri oleh masyarakat sehingga program tetap dapat berjalan setelah mahasiswa selesai.

    BalasHapus
  40. Nama : Aisyah Haditha Fatiya
    Kelas : 1B
    Kelompok : 5
    Jurusan : Promosi kesehatan

    JAWABAN
    1. Pengetahuan bukan satu-satunya penentu perilaku. Meski 82% tahu diabetes berkaitan dengan pola makan, 72% tetap minum manis ≥1 kali/hari dan 76% mengonsumsi makanan manis saat kegiatan sosial. Norma sosial (takut dianggap tidak menghargai tuan rumah) lebih kuat dari pengetahuan, dan edukasi masih satu arah serta tidak melibatkan keluarga.
    2. Norma "menolak hidangan berarti tidak menghargai" menjadi faktor risiko karena mendorong konsumsi makanan manis. Nilai dasarnya, yaitu saling menghormati dan peduli, menjadi faktor protektif jika dibingkai ulang. Menyediakan air putih dan hidangan lebih sehat dapat dimaknai sebagai bentuk kepedulian kepada tamu.
    3. Tidak. Makan bersama dan keramahan adalah modal sosial. Yang dimodifikasi hanya unsur berisiko, seperti gula tambahan, jenis minuman, dan porsi. Bukan mengubah budaya, tetapi mencari titik masuk budaya.
    4. Tradisi berkumpul tetap dijalankan, hanya menu yang disesuaikan (gula dikurangi bertahap, bukan dilarang). Pesan disampaikan oleh tokoh dan kader yang dipercaya warga, dilengkapi alternatif nyata seperti demo camilan sehat saat arisan. Gunakan bahasa yang tidak menghakimi dan libatkan masyarakat mencari solusi agar terasa sebagai keputusan bersama.
    5. Keputusan makan ditentukan bersama keluarga, bukan hanya pasien. Suami Ibu S memegang nilai "makan lengkap = harmonis", dan tekanan keluarga lebih kuat dari nasihat dokter. Jika keluarga terus menyediakan makanan manis, pasien sulit menjaga pola makan. Melibatkan keluarga juga mencegah anggota lain terkena diabetes, dan keluarga bisa menjadi pendukung, bukan penghambat.
    6. Identifikasi kebiasaan, nilai, norma, dan kepercayaan yang paling memengaruhi perilaku, lalu pilih bagian budaya yang bisa dimodifikasi tanpa menghilangkannya. Contohnya, kebiasaan menyajikan makanan manis saat berkumpul diintervensi dengan mengurangi gula dan menyediakan pilihan sehat, bukan melarang acara berkumpul.
    7. Kepercayaan dihargai selama tidak membahayakan kesehatan. Jika bertentangan dengan bukti kesehatan dan berisiko, perlu diluruskan dengan informasi benar dan cara yang sopan, tanpa menyalahkan masyarakat.
    8. Tidak. Jika penyuluhan sudah sering tetapi perilaku belum berubah, masalahnya bukan kurang pengetahuan, melainkan kebiasaan, lingkungan, dan norma sosial. Intervensi perlu dilengkapi dukungan keluarga, perubahan lingkungan, dan kegiatan praktik langsung, bukan sekadar menambah frekuensi penyuluhan.
    9. Tokoh masyarakat memberi contoh perilaku sehat dan menyampaikan pesan dari tenaga kesehatan dengan bahasa yang mudah diterima, karena lebih dekat dan dipercaya warga. Perannya memperkuat pesan dan mengajak warga memeriksakan diri ke Puskesmas atau Posbindu, sedangkan substansi medis tetap dari tenaga kesehatan.
    10. Libatkan masyarakat sejak awal dan serahkan tanggung jawab kepada kader dan tokoh masyarakat. Setelah program mahasiswa selesai, mereka melanjutkan kegiatan, memantau secara rutin, dan mengevaluasi hasilnya bersama Puskesmas.

    BalasHapus
  41. Nama : Alyssa Nindya Putri
    Kelas : 1B
    Kelompok : 5
    Jurusan : Promosi kesehatan

    JAWABAN
    1. Pengetahuan bukan satu-satunya penentu perilaku. Meski 82% tahu diabetes berkaitan dengan pola makan, 72% tetap minum manis ≥1 kali/hari dan 76% mengonsumsi makanan manis saat kegiatan sosial. Norma sosial (takut dianggap tidak menghargai tuan rumah) lebih kuat dari pengetahuan, dan edukasi masih satu arah serta tidak melibatkan keluarga.
    2. Norma "menolak hidangan berarti tidak menghargai" menjadi faktor risiko karena mendorong konsumsi makanan manis. Nilai dasarnya, yaitu saling menghormati dan peduli, menjadi faktor protektif jika dibingkai ulang. Menyediakan air putih dan hidangan lebih sehat dapat dimaknai sebagai bentuk kepedulian kepada tamu.
    3. Tidak. Makan bersama dan keramahan adalah modal sosial. Yang dimodifikasi hanya unsur berisiko, seperti gula tambahan, jenis minuman, dan porsi. Bukan mengubah budaya, tetapi mencari titik masuk budaya.
    4. Tradisi berkumpul tetap dijalankan, hanya menu yang disesuaikan (gula dikurangi bertahap, bukan dilarang). Pesan disampaikan oleh tokoh dan kader yang dipercaya warga, dilengkapi alternatif nyata seperti demo camilan sehat saat arisan. Gunakan bahasa yang tidak menghakimi dan libatkan masyarakat mencari solusi agar terasa sebagai keputusan bersama.
    5. Keputusan makan ditentukan bersama keluarga, bukan hanya pasien. Suami Ibu S memegang nilai "makan lengkap = harmonis", dan tekanan keluarga lebih kuat dari nasihat dokter. Jika keluarga terus menyediakan makanan manis, pasien sulit menjaga pola makan. Melibatkan keluarga juga mencegah anggota lain terkena diabetes, dan keluarga bisa menjadi pendukung, bukan penghambat.
    6. Identifikasi kebiasaan, nilai, norma, dan kepercayaan yang paling memengaruhi perilaku, lalu pilih bagian budaya yang bisa dimodifikasi tanpa menghilangkannya. Contohnya, kebiasaan menyajikan makanan manis saat berkumpul diintervensi dengan mengurangi gula dan menyediakan pilihan sehat, bukan melarang acara berkumpul.
    7. Kepercayaan dihargai selama tidak membahayakan kesehatan. Jika bertentangan dengan bukti kesehatan dan berisiko, perlu diluruskan dengan informasi benar dan cara yang sopan, tanpa menyalahkan masyarakat.
    8. Tidak. Jika penyuluhan sudah sering tetapi perilaku belum berubah, masalahnya bukan kurang pengetahuan, melainkan kebiasaan, lingkungan, dan norma sosial. Intervensi perlu dilengkapi dukungan keluarga, perubahan lingkungan, dan kegiatan praktik langsung, bukan sekadar menambah frekuensi penyuluhan.
    9. Tokoh masyarakat memberi contoh perilaku sehat dan menyampaikan pesan dari tenaga kesehatan dengan bahasa yang mudah diterima, karena lebih dekat dan dipercaya warga. Perannya memperkuat pesan dan mengajak warga memeriksakan diri ke Puskesmas atau Posbindu, sedangkan substansi medis tetap dari tenaga kesehatan.
    10. Libatkan masyarakat sejak awal dan serahkan tanggung jawab kepada kader dan tokoh masyarakat. Setelah program mahasiswa selesai, mereka melanjutkan kegiatan, memantau secara rutin, dan mengevaluasi hasilnya bersama Puskesmas.

    BalasHapus
  42. Nama : Naura Nur Ramadhani
    Kelas : 1B
    Kelompok : 5
    Jurusan : Promosi kesehatan

    JAWABAN
    1. Pengetahuan bukan satu-satunya penentu perilaku. Meski 82% tahu diabetes berkaitan dengan pola makan, 72% tetap minum manis ≥1 kali/hari dan 76% mengonsumsi makanan manis saat kegiatan sosial. Norma sosial (takut dianggap tidak menghargai tuan rumah) lebih kuat dari pengetahuan, dan edukasi masih satu arah serta tidak melibatkan keluarga.
    2. Norma "menolak hidangan berarti tidak menghargai" menjadi faktor risiko karena mendorong konsumsi makanan manis. Nilai dasarnya, yaitu saling menghormati dan peduli, menjadi faktor protektif jika dibingkai ulang. Menyediakan air putih dan hidangan lebih sehat dapat dimaknai sebagai bentuk kepedulian kepada tamu.
    3. Tidak. Makan bersama dan keramahan adalah modal sosial. Yang dimodifikasi hanya unsur berisiko, seperti gula tambahan, jenis minuman, dan porsi. Bukan mengubah budaya, tetapi mencari titik masuk budaya.
    4. Tradisi berkumpul tetap dijalankan, hanya menu yang disesuaikan (gula dikurangi bertahap, bukan dilarang). Pesan disampaikan oleh tokoh dan kader yang dipercaya warga, dilengkapi alternatif nyata seperti demo camilan sehat saat arisan. Gunakan bahasa yang tidak menghakimi dan libatkan masyarakat mencari solusi agar terasa sebagai keputusan bersama.
    5. Keputusan makan ditentukan bersama keluarga, bukan hanya pasien. Suami Ibu S memegang nilai "makan lengkap = harmonis", dan tekanan keluarga lebih kuat dari nasihat dokter. Jika keluarga terus menyediakan makanan manis, pasien sulit menjaga pola makan. Melibatkan keluarga juga mencegah anggota lain terkena diabetes, dan keluarga bisa menjadi pendukung, bukan penghambat.
    6. Identifikasi kebiasaan, nilai, norma, dan kepercayaan yang paling memengaruhi perilaku, lalu pilih bagian budaya yang bisa dimodifikasi tanpa menghilangkannya. Contohnya, kebiasaan menyajikan makanan manis saat berkumpul diintervensi dengan mengurangi gula dan menyediakan pilihan sehat, bukan melarang acara berkumpul.
    7. Kepercayaan dihargai selama tidak membahayakan kesehatan. Jika bertentangan dengan bukti kesehatan dan berisiko, perlu diluruskan dengan informasi benar dan cara yang sopan, tanpa menyalahkan masyarakat.
    8. Tidak. Jika penyuluhan sudah sering tetapi perilaku belum berubah, masalahnya bukan kurang pengetahuan, melainkan kebiasaan, lingkungan, dan norma sosial. Intervensi perlu dilengkapi dukungan keluarga, perubahan lingkungan, dan kegiatan praktik langsung, bukan sekadar menambah frekuensi penyuluhan.
    9. Tokoh masyarakat memberi contoh perilaku sehat dan menyampaikan pesan dari tenaga kesehatan dengan bahasa yang mudah diterima, karena lebih dekat dan dipercaya warga. Perannya memperkuat pesan dan mengajak warga memeriksakan diri ke Puskesmas atau Posbindu, sedangkan substansi medis tetap dari tenaga kesehatan.
    10. Libatkan masyarakat sejak awal dan serahkan tanggung jawab kepada kader dan tokoh masyarakat. Setelah program mahasiswa selesai, mereka melanjutkan kegiatan, memantau secara rutin, dan mengevaluasi hasilnya bersama Puskesmas.

    BalasHapus
  43. Nama : agusta putra maulana
    Kelas : 1B
    Kelompok : 5
    Jurusan : Promosi kesehatan

    JAWABAN
     1.⁠ ⁠Pengetahuan bukan satu-satunya penentu perilaku. Meski 82% tahu diabetes berkaitan dengan pola makan, 72% tetap minum manis ≥1 kali/hari dan 76% mengonsumsi makanan manis saat kegiatan sosial. Norma sosial (takut dianggap tidak menghargai tuan rumah) lebih kuat dari pengetahuan, dan edukasi masih satu arah serta tidak melibatkan keluarga.
     2.⁠ ⁠Norma "menolak hidangan berarti tidak menghargai" menjadi faktor risiko karena mendorong konsumsi makanan manis. Nilai dasarnya, yaitu saling menghormati dan peduli, menjadi faktor protektif jika dibingkai ulang. Menyediakan air putih dan hidangan lebih sehat dapat dimaknai sebagai bentuk kepedulian kepada tamu.
     3.⁠ ⁠Tidak. Makan bersama dan keramahan adalah modal sosial. Yang dimodifikasi hanya unsur berisiko, seperti gula tambahan, jenis minuman, dan porsi. Bukan mengubah budaya, tetapi mencari titik masuk budaya.
     4.⁠ ⁠Tradisi berkumpul tetap dijalankan, hanya menu yang disesuaikan (gula dikurangi bertahap, bukan dilarang). Pesan disampaikan oleh tokoh dan kader yang dipercaya warga, dilengkapi alternatif nyata seperti demo camilan sehat saat arisan. Gunakan bahasa yang tidak menghakimi dan libatkan masyarakat mencari solusi agar terasa sebagai keputusan bersama.
     5.⁠ ⁠Keputusan makan ditentukan bersama keluarga, bukan hanya pasien. Suami Ibu S memegang nilai "makan lengkap = harmonis", dan tekanan keluarga lebih kuat dari nasihat dokter. Jika keluarga terus menyediakan makanan manis, pasien sulit menjaga pola makan. Melibatkan keluarga juga mencegah anggota lain terkena diabetes, dan keluarga bisa menjadi pendukung, bukan penghambat.
     6.⁠ ⁠Identifikasi kebiasaan, nilai, norma, dan kepercayaan yang paling memengaruhi perilaku, lalu pilih bagian budaya yang bisa dimodifikasi tanpa menghilangkannya. Contohnya, kebiasaan menyajikan makanan manis saat berkumpul diintervensi dengan mengurangi gula dan menyediakan pilihan sehat, bukan melarang acara berkumpul.
     7.⁠ ⁠Kepercayaan dihargai selama tidak membahayakan kesehatan. Jika bertentangan dengan bukti kesehatan dan berisiko, perlu diluruskan dengan informasi benar dan cara yang sopan, tanpa menyalahkan masyarakat.
     8.⁠ ⁠Tidak. Jika penyuluhan sudah sering tetapi perilaku belum berubah, masalahnya bukan kurang pengetahuan, melainkan kebiasaan, lingkungan, dan norma sosial. Intervensi perlu dilengkapi dukungan keluarga, perubahan lingkungan, dan kegiatan praktik langsung, bukan sekadar menambah frekuensi penyuluhan.
     9.⁠ ⁠Tokoh masyarakat memberi contoh perilaku sehat dan menyampaikan pesan dari tenaga kesehatan dengan bahasa yang mudah diterima, karena lebih dekat dan dipercaya warga. Perannya memperkuat pesan dan mengajak warga memeriksakan diri ke Puskesmas atau Posbindu, sedangkan substansi medis tetap dari tenaga kesehatan.
    10.⁠ ⁠Libatkan masyarakat sejak awal dan serahkan tanggung jawab kepada kader dan tokoh masyarakat. Setelah program mahasiswa selesai, mereka melanjutkan kegiatan, memantau secara rutin, dan mengevaluasi hasilnya bersama Puskesmas.

    BalasHapus
  44. Nama : Monica Nanette
    Kelas : 1B
    Kelompok : 11
    Jurusan : Promosi Kesehatan

    1. Mengapa edukasi diabetes yang sudah diberikan kepada 78% masyarakat belum otomatis menghasilkan perubahan perilaku?
    Karena pengetahuan saja belum tentu mengubah kebiasaan. Perilaku juga dipengaruhi oleh lingkungan, keluarga, kebiasaan, dan norma sosial.

    2. Bagaimana norma sosial dapat menjadi faktor risiko sekaligus faktor protektif?
    Norma sosial menjadi risiko jika kebiasaannya tidak sehat, misalnya sering mengonsumsi makanan manis. Sebaliknya, bisa menjadi protektif jika masyarakat saling mendukung untuk hidup sehat.

    3. Apakah budaya makan masyarakat harus dihilangkan untuk mencegah diabetes? Jelaskan.
    Tidak perlu dihilangkan. Menurut kami, budaya makan tetap bisa dipertahankan dengan memodifikasi bagian yang berisiko, seperti mengurangi gula, lemak, atau porsi.

    4. Bagaimana cara melakukan modifikasi perilaku tanpa membuat masyarakat merasa budaya mereka disalahkan?
    Caranya dengan memahami dan menghargai budaya masyarakat terlebih dahulu. Setelah itu, ajak masyarakat mencari perubahan yang lebih sehat tanpa menyalahkan kebiasaan mereka.

    5. Mengapa keluarga harus menjadi sasaran intervensi, bukan hanya pasien diabetes?
    Karena keluarga sangat memengaruhi pola makan dan kebiasaan sehari-hari. Dukungan keluarga juga dapat membantu pasien lebih mudah mempertahankan perilaku sehat.

    6. Bagaimana mahasiswa menentukan entry point budaya untuk intervensi promosi kesehatan?
    Dengan melihat kebiasaan masyarakat melalui observasi, wawancara, atau diskusi. Kemudian pilih kebiasaan yang berkaitan dengan masalah kesehatan dan memungkinkan untuk dimodifikasi.

    7. Bagaimana membedakan antara kepercayaan masyarakat yang perlu dihargai dengan informasi kesehatan yang perlu dikoreksi?
    Kepercayaannya tetap dihargai, tetapi informasi yang terbukti tidak sesuai dengan fakta kesehatan perlu diluruskan dengan cara yang sopan dan tidak menyalahkan.

    8. Jika masyarakat sudah sering mendapatkan penyuluhan tetapi perilaku belum berubah, apakah solusi berikutnya harus berupa penyuluhan yang lebih banyak? Jelaskan alasan Anda.
    Tidak selalu. Kalau pengetahuan sudah diberikan tetapi perilaku belum berubah, perlu dicari penyebab lainnya, seperti kebiasaan, lingkungan, atau dukungan keluarga. Jadi, bisa dilakukan pendampingan atau praktik langsung, bukan hanya menambah penyuluhan.

    9. Bagaimana tokoh masyarakat dapat digunakan sebagai penguat norma kesehatan tanpa menggantikan peran tenaga kesehatan?
    Tokoh masyarakat dapat membantu mengajak dan memotivasi warga untuk menerapkan perilaku sehat. Sementara itu, tenaga kesehatan tetap berperan memberikan informasi dan edukasi berdasarkan ilmu kesehatan.

    10. Bagaimana memastikan intervensi tidak berhenti setelah program mahasiswa selesai?
    Dengan melibatkan kader, keluarga, RT/RW, dan tokoh masyarakat sejak awal. Kegiatan juga harus dibuat sederhana agar dapat dilanjutkan oleh masyarakat secara mandiri.

    BalasHapus