MATERI KULIAH
ANALISIS PERILAKU KESEHATAN DAN PERANCANGAN INTERVENSI
PROMOSI KESEHATAN BERBASIS MASYARAKAT
Dr. Safrudin, SKM, M.Kes.
Mata Kuliah Dasar-Dasar Pemberdayaan Masyarakat
Program Studi Sarjana Terapan Promosi Kesehatan
A. CAPAIAN
PEMBELAJARAN
Setelah mengikuti
pembelajaran, mahasiswa diharapkan mampu:
- Menjelaskan
konsep perilaku kesehatan dan faktor-faktor yang memengaruhinya.
- Membedakan
faktor individu, interpersonal, lingkungan, sosial, budaya, dan kebijakan
yang memengaruhi perilaku kesehatan.
- Melakukan
analisis perilaku kesehatan berdasarkan data masyarakat.
- Mengidentifikasi faktor predisposisi,
pemungkin, dan penguat dalam suatu masalah kesehatan.
- Menentukan
masalah perilaku yang menjadi prioritas.
- Menyusun
tujuan intervensi promosi kesehatan yang SMART.
- Memilih
strategi intervensi yang sesuai dengan karakteristik masyarakat.
- Merancang
intervensi berbasis pemberdayaan masyarakat.
- Menentukan indikator proses,
output, outcome, dan dampak.
- Menyusun rancangan intervensi
promosi kesehatan yang partisipatif, berbasis bukti, sensitif budaya, dan
berkelanjutan.
B. PENDAHULUAN
Masalah kesehatan
masyarakat pada umumnya tidak hanya disebabkan oleh kurangnya pengetahuan.
Contohnya:
Masyarakat sudah
mengetahui bahwa merokok berbahaya, tetapi sebagian tetap merokok.
Ibu sudah mengetahui
pentingnya imunisasi, tetapi anak belum mendapatkan imunisasi lengkap.
Masyarakat mengetahui
pentingnya pemberantasan sarang nyamuk, tetapi tempat penampungan air masih
menjadi habitat nyamuk.
Remaja mengetahui
bahwa konsumsi makanan tinggi gula berlebihan dapat meningkatkan risiko
penyakit, tetapi tetap mengonsumsi minuman berpemanis secara rutin.
Kondisi tersebut
menunjukkan bahwa:
Pengetahuan →
tidak otomatis → menghasilkan perilaku sehat.
Perilaku dipengaruhi
oleh berbagai faktor, seperti:
Pengetahuan +
sikap + keyakinan + keterampilan + dukungan sosial + lingkungan + akses + norma
sosial + kebijakan.
Karena itu, promosi
kesehatan tidak cukup hanya dengan memberikan penyuluhan.
Pendekatan yang lebih
kuat adalah:
Memahami perilaku
→ menemukan penyebab → melibatkan masyarakat → merancang intervensi →
melaksanakan → memonitor → mengevaluasi → memperbaiki.
C. KONSEP PERILAKU KESEHATAN
1. Pengertian perilaku kesehatan
Perilaku kesehatan dapat dipahami sebagai berbagai tindakan individu,
keluarga, kelompok, maupun masyarakat yang berhubungan dengan:
- Pemeliharaan Kesehatan;
- Pencegahan Penyakit;
- Pencarian Pertolongan
Kesehatan;
- Penggunaan Pelayanan
Kesehatan;
- Pengobatan;
- Rehabilitasi;
- Peningkatan Kesehatan.
Dalam konteks promosi
kesehatan, perilaku tidak hanya dilihat sebagai tindakan individu,
tetapi sebagai hasil interaksi antara individu dengan lingkungan sosial dan
fisiknya.
D. JENIS PERILAKU KESEHATAN
Secara praktis, perilaku kesehatan dapat dianalisis dalam beberapa
kelompok.
1. Health-maintenance behavior
Perilaku mempertahankan dan meningkatkan kesehatan.
Contoh:
Aktivitas
Fisik;
Konsumsi
Makanan Sehat;
Tidur Cukup;
Menjaga
Kebersihan Diri.
2. Preventive behavior
Perilaku untuk mencegah penyakit.
Contoh:
Imunisasi;
Mencuci
Tangan;
Penggunaan
Kelambu;
Pemberantasan Sarang Nyamuk;
Pemeriksaan Kesehatan.
3. Health-seeking
behavior
Perilaku mencari pertolongan ketika mengalami masalah kesehatan.
Contoh:
Berkonsultasi
Ke Puskesmas;
Mencari
Informasi Kesehatan;
Mengikuti
Pemeriksaan;
Mencari
Pertolongan Ketika Mengalami Tanda Bahaya.
4. Adherence behavior
Perilaku mengikuti rekomendasi tenaga kesehatan.
Contoh:
Minum Obat
Sesuai Aturan;
Mengikuti Kontrol;
Mengikuti Program Rehabilitasi;
Mengikuti Anjuran Diet.
E. MENGAPA PERILAKU KESEHATAN SULIT DIUBAH?
Salah satu kesalahan dalam promosi kesehatan adalah menganggap:
"Kalau masyarakat tidak melakukan perilaku sehat, berarti masyarakat
kurang pengetahuan."
Padahal penyebabnya dapat berbeda.
Contoh:
Masyarakat tidak
melakukan aktivitas fisik.
Kemungkinan penyebab:
|
Faktor |
Contoh |
|
Pengetahuan |
Tidak mengetahui rekomendasi aktivitas fisik |
|
Sikap |
Menganggap olahraga
melelahkan |
|
Efikasi diri |
Tidak yakin mampu
berolahraga |
|
Waktu |
Bekerja sepanjang
hari |
|
Ekonomi |
Tidak mampu
membayar fasilitas olahraga |
|
Lingkungan |
Tidak tersedia
ruang terbuka |
|
Keamanan |
Lingkungan tidak
aman untuk berjalan |
|
Sosial |
Tidak ada teman
berolahraga |
|
Budaya |
Olahraga dianggap
bukan kebutuhan |
|
Kebijakan |
Belum tersedia program aktivitas fisik masyarakat |
Jadi intervensinya
tidak selalu berupa penyuluhan.
F. MODEL ANALISIS
PERILAKU KESEHATAN
1. Faktor
Predisposisi, Pemungkin, dan Penguat
Salah satu kerangka
yang sangat berguna dalam promosi kesehatan adalah membedakan faktor:
A. Predisposing factors
Faktor yang mendahului perilaku dan memberikan dasar motivasi.
Contoh:
Pengetahuan;
Sikap;
Keyakinan;
Nilai;
Persepsi;
Budaya;
Pengalaman.
B. Enabling
factors
Faktor yang
memungkinkan perilaku dilakukan.
Contoh:
Fasilitas;
Akses
Pelayanan;
Ketersediaan
Alat;
Keterampilan;
Sumber Daya;
Biaya;
Waktu.
C. Reinforcing
factors
Faktor yang memperkuat atau mempertahankan perilaku.
Contoh:
- Dukungan Keluarga;
- Kader;
- Tokoh Masyarakat;
- Teman Sebaya;
- Tenaga Kesehatan;
- Penghargaan;
- Norma Sosial.
Contoh: Perilaku cuci tangan pakai sabun
|
Faktor |
Contoh |
|
Predisposisi |
Mengetahui manfaat
CTPS |
|
Predisposisi |
Sikap positif
terhadap kebersihan |
|
Pemungkin |
Tersedia air |
|
Pemungkin |
Tersedia sabun |
|
Pemungkin |
Ada tempat cuci
tangan |
|
Penguat |
Guru mengingatkan |
|
Penguat |
Orang tua
memberikan contoh |
|
Penguat |
Kader melakukan
monitoring |
Implikasi:
Jika masalahnya
adalah tidak tersedia air dan sabun, penyuluhan saja tidak menyelesaikan
masalah.
G. PENDEKATAN ECOLOGICAL MODEL
Perilaku kesehatan dapat dianalisis pada beberapa tingkatan.
1. Individu
Pengetahuan;
Sikap;
Keterampilan;
Keyakinan.
2. Interpersonal
Keluarga;
Teman;
Pasangan;
Kelompok
Sebaya.
3. Organisasi
Sekolah;
Tempat Kerja;
Puskesmas;
Organisasi
Masyarakat.
4. Komunitas
Norma;
Tokoh
Masyarakat;
Budaya;
Lingkungan Sosial.
5. Kebijakan
Peraturan;
Program Pemerintah;
Regulasi;
Dukungan Anggaran.
Prinsip penting
Semakin kompleks
masalah kesehatan, semakin tidak memadai jika intervensi hanya diarahkan pada
individu.
H. ANALISIS
PERILAKU: DARI MASALAH KE AKAR MASALAH
Mahasiswa perlu
membedakan:
Masalah kesehatan
Contoh:
Angka kejadian DBD
meningkat.
Masalah perilaku
Contoh:
Masyarakat belum melakukan PSN secara rutin.
Faktor penyebab
Contoh:
Pengetahuan
Tidak Memadai;
Masyarakat
Merasa Psn Bukan Tanggung Jawab Pribadi;
Tidak Ada
Jadwal Bersama;
Kader Tidak
Aktif Melakukan Monitoring;
Lingkungan Memiliki Banyak Tempat
Penampungan Air.
Akar masalah
Dapat dianalisis
menggunakan:
5 Why
Fishbone Diagram;
Problem Tree;
Precede-Proceed;
Social Ecological Model;
Stakeholder Analysis.
I. TEKNIK 5 WHY
Contoh:
Masalah: Banyak rumah memiliki tempat
penampungan air yang berpotensi menjadi tempat berkembang biak nyamuk.
Why 1
Mengapa terdapat
tempat penampungan air yang tidak dikelola?
→ Karena masyarakat tidak rutin memeriksa dan membersihkannya.
Why 2
Mengapa tidak rutin?
→ Karena PSN belum menjadi kebiasaan.
Why 3
Mengapa belum menjadi kebiasaan?
→ Karena belum ada jadwal dan pengingat rutin.
Why 4
Mengapa belum ada
jadwal?
→ Karena kegiatan PSN
masih dianggap tanggung jawab petugas kesehatan.
Why 5
Mengapa masyarakat
menganggap demikian?
→ Karena rasa
kepemilikan masyarakat terhadap program PSN masih rendah.
Kesimpulan
Intervensi bukan
hanya:
"Memberikan
penyuluhan tentang DBD."
Tetapi dapat
diarahkan pada:
pemberdayaan
masyarakat untuk membangun sistem PSN berbasis rumah tangga dan lingkungan.
J. ANALISIS
MENGGUNAKAN PRECEDE-PROCEED
Secara sederhana,
mahasiswa dapat menggunakan kerangka berikut:
PRECEDE
Social
assessment
↓
Epidemiological
assessment
↓
Behavioral
& environmental assessment
↓
Educational
& ecological assessment
↓
Administrative
& policy assessment
↓
PROCEED
Implementation
↓
Process
evaluation
↓
Impact
evaluation
↓
Outcome
evaluation
K. CONTOH ANALISIS
PRECEDE
Masalah
Rendahnya kepatuhan
masyarakat melakukan PSN.
Predisposing
Pengetahuan Tidak Merata;
Persepsi Risiko Rendah;
Psn Dianggap Pekerjaan Petugas.
Enabling
Tidak Tersedia Alat Sederhana;
Tidak Ada Jadwal;
Tidak Ada Sistem Monitoring.
Reinforcing
Dukungan Tokoh
Masyarakat Belum Optimal;
Kader Belum
Melakukan Pemantauan Rutin;
Belum Ada Penghargaan Sosial.
Intervensi
- Edukasi berbasis masalah.
- Pelatihan kader.
- Pembentukan kelompok pemantau
jentik.
- Jadwal PSN bersama.
- Pengingat melalui media
komunikasi.
- Pelibatan
RT/RW dan tokoh masyarakat.
- Monitoring berkala.
L. TEORI HEALTH
BELIEF MODEL
Health Belief Model
membantu memahami bagaimana persepsi individu memengaruhi perilaku.
Komponen penting:
1. Perceived
susceptibility
Persepsi seseorang
mengenai kemungkinan terkena penyakit.
2. Perceived
severity
Persepsi mengenai
keseriusan penyakit.
3. Perceived
benefits
Persepsi manfaat melakukan tindakan.
4. Perceived barriers
Hambatan yang
dirasakan.
5. Cues to action
Pemicu untuk
bertindak.
6. Self-efficacy
Keyakinan bahwa
seseorang mampu melakukan perilaku tersebut.
Contoh imunisasi
Seseorang mungkin tidak melakukan imunisasi karena:
"Anak saya sehat, jadi tidak perlu imunisasi."
Masalahnya bukan semata-mata kurang pengetahuan, tetapi persepsi
kerentanan.
M. THEORY OF
PLANNED BEHAVIOR
Perilaku dipengaruhi
oleh:
Attitude
Subjective norm
Perceived
behavioral control
↓
Intention
↓
Behavior
Contoh
Seorang remaja ingin berhenti merokok.
Namun:
Teman-Temannya
Merokok;
Kelompok
Menganggap Merokok Sebagai Bagian Dari Pergaulan;
Ia Tidak Yakin
Mampu Berhenti.
Maka intervensi perlu mempertimbangkan:
Sikap;
Norma Teman
Sebaya;
Kemampuan
Mengendalikan Perilaku.
N. SOCIAL
COGNITIVE THEORY
Perilaku dipengaruhi
hubungan timbal balik antara:
Person ↔ Behavior
↔ Environment
Konsep penting:
- Observational Learning;
- Modeling;
- Reinforcement;
- Self-Efficacy;
- Reciprocal Determinism.
Contoh
Jika kader melihat
tokoh masyarakat aktif melakukan aktivitas fisik dan mengajak masyarakat, maka
tokoh tersebut dapat menjadi model perilaku.
O. COM-B
Perilaku dapat dianalisis melalui:
C = Capability
Apakah seseorang mampu
melakukannya?
O = Opportunity
Apakah lingkungan memberikan
kesempatan?
M = Motivation
Apakah seseorang termotivasi?
↓
B = Behavior
Contoh:
Masyarakat tidak
melakukan olahraga.
|
Komponen |
Temuan |
|
Capability |
Tidak mengetahui
cara olahraga yang aman |
|
Opportunity |
Tidak ada ruang
olahraga |
|
Motivation |
Menganggap olahraga
tidak penting |
|
Behavior |
Tidak aktif |
Intervensi harus menjawab ketiga komponen tersebut.
P. PRINSIP PENTING DALAM ANALISIS PERILAKU
Mahasiswa harus menghindari kesalahan:
❌
"Masyarakat tidak sehat karena malas."
Lebih baik:
✅
"Apa faktor yang menyebabkan perilaku tersebut terjadi dan
dipertahankan?"
Pendekatan promosi
kesehatan seharusnya:
- Tidak Menyalahkan Korban;
- Tidak Memberi Stigma;
- Berbasis Data;
- Memahami Konteks;
- Mempertimbangkan Budaya;
- Melibatkan Masyarakat;
- Mempertimbangkan Sumber Daya;
- Berorientasi Pada Solusi.
Q. MENENTUKAN PRIORITAS MASALAH
Tidak semua masalah dapat ditangani sekaligus.
Mahasiswa dapat
menggunakan kriteria:
- Besarnya masalah.
- Tingkat urgensi.
- Dampak kesehatan.
- Kemungkinan masalah diubah.
- Ketersediaan sumber daya.
- Dukungan masyarakat.
- Kesesuaian dengan kewenangan
mahasiswa/program.
- Keberlanjutan intervensi.
Contoh matriks
sederhana:
|
Masalah |
Besaran |
Dampak |
Kemudahan
diubah |
Dukungan |
Prioritas |
|
PSN rendah |
4 |
4 |
4 |
4 |
16 |
|
Aktivitas fisik
rendah |
3 |
3 |
4 |
3 |
13 |
|
Konsumsi buah
rendah |
3 |
3 |
2 |
3 |
11 |
Catatan: Sistem skor harus ditetapkan terlebih dahulu dan
digunakan konsisten.
R. PERANCANGAN
INTERVENSI PROMOSI KESEHATAN
Setelah masalah dan
penyebab diketahui, mahasiswa mulai menyusun intervensi.
Urutannya:
Data
↓
Masalah
↓
Analisis perilaku
↓
Penyebab
↓
Prioritas
↓
Tujuan
↓
Strategi
↓
Kegiatan
↓
Indikator
↓
Implementasi
↓
Monev
S. MERUMUSKAN
TUJUAN INTERVENSI
Gunakan prinsip SMART:
S – Specific
Spesifik.
M – Measurable
Dapat diukur.
A – Achievable
Dapat dicapai.
R – Relevant
Relevan.
T – Time-bound
Memiliki batas waktu.
Contoh kurang
tepat
Meningkatkan
pengetahuan masyarakat tentang DBD.
Contoh lebih kuat
Meningkatkan proporsi
kepala keluarga yang mampu menyebutkan minimal tiga tindakan PSN dari baseline
menjadi minimal 80% setelah intervensi selama empat minggu.
T. MENENTUKAN SASARAN
Sasaran harus spesifik.
Jangan hanya:
"Masyarakat."
Lebih baik:
"Kepala keluarga dan anggota keluarga di RW 03."
Atau:
"Ibu yang memiliki balita usia 12–59 bulan."
Atau:
"Remaja kelas X–XI."
Sasaran dapat dibedakan menjadi:
Sasaran primer
Orang yang perilakunya ingin diubah.
Sasaran sekunder
Orang yang memengaruhi sasaran primer.
Sasaran tersier
Pengambil keputusan atau pihak yang dapat menciptakan lingkungan pendukung.
U. MEMILIH STRATEGI INTERVENSI
Strategi harus sesuai dengan hasil analisis.
|
Masalah |
Strategi |
|
Pengetahuan rendah |
Edukasi/KIE |
|
Keterampilan rendah |
Pelatihan/demonstrasi |
|
Motivasi rendah |
Konseling, peer
support |
|
Dukungan keluarga
rendah |
Family empowerment |
|
Fasilitas tidak
tersedia |
Advokasi |
|
Norma sosial
negatif |
Community
mobilization |
|
Kader kurang
kompeten |
Capacity building |
|
Kebijakan belum
mendukung |
Advocacy |
|
Perilaku tidak
dipertahankan |
Reinforcement/monitoring |
Prinsip:
Jangan memilih
metode intervensi sebelum memahami penyebab perilaku.
V. PENDEKATAN
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
Pemberdayaan bukan:
"Petugas datang
dan memberikan program kepada masyarakat."
Pemberdayaan lebih menekankan:
masyarakat memiliki kemampuan, kesempatan, peran, kendali, dan rasa
memiliki terhadap proses pemecahan masalah.
Tahapan praktis:
1. Identifikasi masalah bersama
2. Analisis kebutuhan
3. Identifikasi aset masyarakat
4. Penentuan prioritas bersama
5. Perencanaan bersama
6. Pelaksanaan bersama
7. Monitoring bersama
8. Evaluasi
bersama
9. Penguatan
keberlanjutan
W. ASSET-BASED
COMMUNITY DEVELOPMENT
Dalam pemberdayaan,
jangan hanya bertanya:
"Apa masalah masyarakat?"
Tetapi juga:
"Apa yang sudah dimiliki masyarakat?"
Contohnya:
- Kader;
- Posyandu;
- Pkk;
- Karang Taruna;
- Tokoh Agama;
- Tokoh Masyarakat;
- Sekolah;
- Kelompok Olahraga;
- Fasilitas Umum;
- Media Komunitas;
- Jejaring Puskesmas.
Pendekatan ini
membantu menghindari intervensi yang terlalu bergantung pada tenaga kesehatan.
X. CONTOH
PERANCANGAN INTERVENSI
Kasus: Demam
Berdarah Dengue
Situasi
Di suatu RW ditemukan peningkatan kasus DBD. Hasil assessment menunjukkan:
Sebagian Rumah
Memiliki Tempat Penampungan Air;
Psn Belum
Dilakukan Secara Konsisten;
Masyarakat
Mengetahui Dbd Tetapi Tidak Rutin Melakukan Pemeriksaan Jentik;
Kegiatan Psn
Masih Dianggap Tanggung Jawab Petugas;
Kader Tersedia Tetapi Monitoring
Belum Rutin.
Analisis
Predisposisi
Pengetahuan
Tidak Merata;
Persepsi
Risiko Rendah;
Kurangnya Rasa
Memiliki.
Enabling
Belum Ada
Sistem Jadwal PSN;
Alat
Pemantauan Terbatas.
Reinforcing
Dukungan RT/RW
Belum Optimal;
Kader Belum
Memiliki Sistem Monitoring.
Y. RANCANGAN
INTERVENSI
Nama program
"RW Peduli
PSN: Gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk Berbasis Keluarga dan Kader"
Tujuan umum
Meningkatkan praktik
PSN berbasis keluarga dan lingkungan melalui pemberdayaan kader serta
keterlibatan masyarakat.
Kegiatan
- Assessment bersama.
- Edukasi berbasis masalah.
- Pelatihan kader.
- Demonstrasi
pemeriksaan tempat penampungan air.
- Pembentukan jadwal PSN.
- Pengingat
melalui WhatsApp/kanal komunikasi masyarakat.
- Kunjungan pemantauan.
- Pelibatan RT/RW.
- Evaluasi.
Z. MATRIKS
INTERVENSI
|
Masalah |
Tujuan |
Strategi |
Kegiatan |
Indikator |
|
Pengetahuan belum
merata |
Meningkatkan
pengetahuan |
KIE |
Edukasi |
Skor pengetahuan |
|
Keterampilan kader
rendah |
Meningkatkan
keterampilan |
Pelatihan |
Praktik pemeriksaan
jentik |
Checklist
keterampilan |
|
PSN tidak rutin |
Membentuk kebiasaan |
Pemberdayaan |
Jadwal PSN |
Proporsi keluarga
melaksanakan PSN |
|
Dukungan lingkungan
rendah |
Meningkatkan
dukungan |
Advokasi |
Pertemuan RT/RW |
Kesepakatan |
|
Monitoring belum
rutin |
Meningkatkan
pemantauan |
Community
monitoring |
Pemantauan kader |
Jumlah monitoring |
AA. MEDIA PROMOSI KESEHATAN
Media harus berdasarkan:
Karakteristik
Sasaran;
Tingkat
Literasi;
Bahasa;
Budaya;
Akses
Teknologi;
Konteks
Lingkungan.
Contoh:
Anak sekolah
Permainan;
Poster;
Video Pendek;
Kartu Edukasi.
Remaja
Media Sosial;
Video;
Peer Education;
Infografis.
Lansia
Komunikasi
Interpersonal;
Media Cetak
Dengan Huruf Besar;
Demonstrasi.
Masyarakat umum
Poster;
Whatsapp;
Pertemuan Warga;
Demonstrasi;
Media Lingkungan.
AB. INDIKATOR
INTERVENSI
1. Input
Sumber daya yang
digunakan.
Contoh:
Jumlah Kader;
Media;
Dana;
Tempat;
Tenaga.
2. Process
Menilai pelaksanaan.
Contoh:
Jumlah Kegiatan;
Jumlah Peserta;
Jumlah Kader Dilatih.
3. Output
Hasil langsung.
Contoh:
Peningkatan
Pengetahuan;
Kader Mampu
Melakukan Pemeriksaan Jentik;
Tersusunnya
Jadwal Psn.
4. Outcome
Perubahan perilaku atau kondisi.
Contoh:
Meningkatnya
Praktik PSN;
Meningkatnya
Penggunaan Tempat Sampah;
Meningkatnya
Kunjungan Pemeriksaan.
5. Impact
Dampak jangka panjang.
Contoh:
Penurunan
Kejadian Penyakit.
AC. EVALUASI INTERVENSI
Mahasiswa harus membedakan:
Evaluasi proses
Apakah kegiatan dilaksanakan?
Evaluasi output
Apa yang dihasilkan?
Evaluasi outcome
Apakah terjadi perubahan perilaku?
Evaluasi impact
Apakah terjadi perubahan status kesehatan?
Contoh:
Input: 4 kader dilatih.
Proses: 4 sesi pelatihan terlaksana.
Output: 4 kader mampu melakukan pemeriksaan jentik.
Outcome: lebih banyak keluarga melakukan PSN secara rutin.
Impact: indikator DBD membaik dalam
periode yang lebih panjang.
AD. PRINSIP INTERVENSI BERBASIS MASYARAKAT
Intervensi yang kuat harus memenuhi prinsip:
1. Evidence-based
Berdasarkan data.
2. Community-based
Berbasis kebutuhan
masyarakat.
3. Participatory
Masyarakat
dilibatkan.
4. Culturally
appropriate
Sesuai budaya.
5. Feasible
Dapat dilaksanakan.
6. Sustainable
Dapat dilanjutkan.
7. Measurable
Dapat diukur.
8. Inclusive
Tidak diskriminatif dan tidak menstigma.
9. Collaborative
Melibatkan berbagai
pihak.
10.
Outcome-oriented
Berorientasi pada
perubahan yang bermakna.
AE. KESALAHAN YANG SERING DILAKUKAN MAHASISWA
Kesalahan 1
Masalah langsung dijawab dengan penyuluhan.
Perbaikan:
Lakukan analisis penyebab terlebih dahulu.
Kesalahan 2
Semua masalah dianggap masalah pengetahuan.
Perbaikan:
Analisis predisposisi, enabling, reinforcing, lingkungan, dan kebijakan.
Kesalahan 3
Masyarakat hanya menjadi objek.
Perbaikan:
Libatkan masyarakat sebagai subjek dan mitra.
Kesalahan 4
Tujuan terlalu umum.
Contoh:
"Meningkatkan kesehatan masyarakat."
Perbaikan:
Rumuskan tujuan yang spesifik dan terukur.
Kesalahan 5
Tidak ada baseline.
Perbaikan:
Ukur kondisi awal sebelum intervensi.
Kesalahan 6
Tidak ada indikator.
Perbaikan:
Setiap kegiatan harus mempunyai indikator keberhasilan.
AF. CONTOH KASUS UNTUK DISKUSI KELAS
Kasus 1 – PHBS dan CTPS
Di sebuah sekolah dasar, hasil observasi menunjukkan hanya sebagian siswa
mencuci tangan menggunakan sabun sebelum makan. Hasil wawancara menunjukkan
sebagian siswa mengetahui bahwa mencuci tangan penting untuk mencegah penyakit.
Namun ditemukan:
- Sabun Sering Habis;
- Tempat
Cuci Tangan Berada Jauh Dari Kantin;
- Guru
Belum Memiliki Sistem Pengawasan;
- Sebagian
Siswa Menganggap Mencuci Tangan Tidak Perlu Jika Tangan Terlihat Bersih;
- Belum Ada Pengingat Visual;
- Beberapa
Siswa Meniru Kebiasaan Teman.
Pertanyaan diskusi
- Apa masalah perilakunya?
- Apa faktor predisposisinya?
- Apa faktor enabling?
- Apa faktor reinforcing?
- Siapa sasaran primer?
- Siapa sasaran sekunder?
- Intervensi apa yang tepat?
- Media apa yang sesuai?
- Bagaimana melibatkan guru?
- Bagaimana mengukur
keberhasilan?
Contoh jawaban
inti
Masalah tidak cukup
diatasi dengan penyuluhan.
Intervensi dapat
berupa:
Edukasi +
penyediaan sabun + penempatan fasilitas strategis + modeling guru + pengingat
visual + peer support + monitoring.
AG. KASUS 2 –
IMUNISASI
Di suatu wilayah,
cakupan imunisasi dasar lengkap belum mencapai target. Hasil assessment
menunjukkan sebagian ibu mengetahui manfaat imunisasi, tetapi masih terdapat
kekhawatiran terhadap efek samping. Sebagian keluarga juga lebih percaya pada
informasi dari media sosial dibandingkan tenaga kesehatan.
Analisis mahasiswa
Predisposisi:
Persepsi
Risiko;
Keyakinan;
Kepercayaan Terhadap Informasi.
Enabling:
Akses Pelayanan;
Jadwal Pelayanan;
Kemudahan Mendapatkan Informasi
Yang Kredibel.
Reinforcing:
Dukungan Suami;
Keluarga;
Kader;
Tokoh Masyarakat.
Intervensi
Tidak cukup:
"Penyuluhan imunisasi."
Tetapi dapat berupa:
Konseling;
Komunikasi
Interpersonal;
Pelibatan
Kader;
Diskusi Dengan
Keluarga;
Media Berbasis
Pertanyaan Masyarakat;
Penguatan
Akses Informasi Kredibel;
Pelibatan
Tokoh Masyarakat;
Reminder Jadwal.
AH. AKTIVITAS PEMBELAJARAN MAHASISWA
Tugas Kelompok
Setiap kelompok memilih satu masalah kesehatan masyarakat, misalnya:
- DBD/PSN.
- PHBS.
- Merokok.
- Imunisasi.
- Aktivitas fisik.
- Hipertensi.
- Anemia remaja.
- Stunting.
- Penggunaan gadget berlebihan.
- Kesehatan reproduksi remaja.
Kemudian mahasiswa
menyusun:
Tahap 1
Analisis masalah
Tahap 2
Analisis perilaku
Gunakan:
- Predisposisi;
- Enabling;
- Reinforcing;
- Ecological Model;
- Atau Com-B.
Tahap 3
Prioritas masalah
Tahap 4
Tujuan SMART
Tahap 5
Rancangan
intervensi
Tahap 6
Indikator
Tahap 7
Rencana Monev
AI. FORMAT TUGAS
MAHASISWA
|
Komponen |
Isi |
|
Masalah kesehatan |
... |
|
Data pendukung |
... |
|
Masalah perilaku |
... |
|
Sasaran |
... |
|
Predisposing |
... |
|
Enabling |
... |
|
Reinforcing |
... |
|
Prioritas |
... |
|
Tujuan umum |
... |
|
Tujuan khusus |
... |
|
Strategi |
... |
|
Kegiatan |
... |
|
Media |
... |
|
Mitra |
... |
|
Indikator proses |
... |
|
Indikator output |
... |
|
Indikator outcome |
... |
|
Metode evaluasi |
... |
|
Keberlanjutan |
... |
AJ. RANGKUMAN MATERI
Mahasiswa perlu memahami delapan prinsip utama:
1.
Jangan mulai dari intervensi.
Mulai dari data.
2.
Jangan menganggap semua masalah adalah masalah pengetahuan.
Analisis berbagai determinan perilaku.
3.
Jangan hanya melihat individu.
Analisis keluarga, lingkungan, komunitas, organisasi, dan kebijakan.
4.
Jangan menjadikan masyarakat sebagai objek.
Libatkan masyarakat sebagai subjek.
5.
Jangan langsung menentukan media.
Sesuaikan dengan sasaran dan penyebab perilaku.
6.
Jangan membuat tujuan yang terlalu umum.
Gunakan tujuan SMART.
7.
Jangan hanya menghitung jumlah peserta.
Ukur perubahan pengetahuan, keterampilan, perilaku, dan bila memungkinkan
outcome kesehatan.
8.
Jangan berhenti pada kegiatan.
Rancang keberlanjutan dan kepemilikan masyarakat.
AK. 10 SOAL
PILIHAN GANDA
Soal 1
Hasil assessment menunjukkan
masyarakat sudah memiliki pengetahuan yang baik mengenai PSN, tetapi praktik
PSN masih rendah karena tidak tersedia alat dan belum terdapat jadwal kegiatan
rutin. Faktor utama yang paling sesuai dengan kondisi tersebut adalah...
A. Predisposing factor
B. Enabling factor
C. Reinforcing factor
D. Genetic factor
E. Demographic factor
Soal 2
Petugas promosi kesehatan menemukan
bahwa ibu sebenarnya mengetahui manfaat imunisasi, tetapi tidak membawa anak ke
pelayanan imunisasi karena khawatir terhadap efek samping dan menganggap
penyakit yang dicegah imunisasi tidak terlalu berbahaya. Analisis yang paling
tepat adalah...
A. Masalah utama hanya keterbatasan
fasilitas
B. Masalah terutama berkaitan dengan persepsi dan keyakinan
C. Masalah terutama karena tidak adanya kader
D. Masalah terutama karena kurangnya tenaga kesehatan
E. Masalah terutama karena tidak tersedia media cetak
Soal 3
Mahasiswa menemukan bahwa
masyarakat mengetahui bahaya merokok, tetapi kebiasaan merokok tetap tinggi
karena sebagian besar teman sebaya juga merokok dan terdapat anggapan bahwa
merokok merupakan bagian dari pergaulan. Strategi yang paling relevan adalah...
A. Memberikan poster bahaya rokok
saja
B. Menambah ceramah mengenai kandungan rokok
C. Mengembangkan intervensi yang mempertimbangkan norma sosial dan peer support
D. Membagikan leaflet kepada seluruh masyarakat
E. Melakukan pemeriksaan kesehatan tanpa intervensi perilaku
Soal 4
Manakah rumusan tujuan intervensi
yang paling memenuhi prinsip SMART?
A. Meningkatkan kesehatan
masyarakat.
B. Meningkatkan kesadaran masyarakat tentang DBD.
C. Meningkatkan pengetahuan masyarakat sebanyak-banyaknya.
D. Meningkatkan proporsi keluarga yang melakukan PSN secara rutin menjadi
minimal 80% dalam empat minggu setelah intervensi.
E. Memberikan edukasi DBD kepada masyarakat.
Soal 5
Dalam pendekatan pemberdayaan
masyarakat, posisi masyarakat yang paling tepat adalah...
A. Sebagai penerima instruksi
program
B. Sebagai objek kegiatan tenaga kesehatan
C. Sebagai peserta pasif kegiatan penyuluhan
D. Sebagai subjek dan mitra dalam identifikasi masalah hingga evaluasi
E. Sebagai penerima informasi dari petugas
Soal 6
Suatu program promosi kesehatan
telah melatih 20 kader. Evaluasi menunjukkan seluruh kader mengikuti pelatihan
dan memperoleh sertifikat, tetapi belum diketahui apakah keterampilan mereka
benar-benar diterapkan di masyarakat. Data tersebut terutama menggambarkan...
A. Impact
B. Outcome
C. Output
D. Health status
E. Sustainability
Soal 7
Dalam analisis COM-B, masyarakat
tidak melakukan aktivitas fisik karena tidak mengetahui cara olahraga yang
aman, tidak tersedia ruang yang memadai, dan tidak memiliki motivasi. Komponen
COM-B yang perlu diperhatikan secara berurutan adalah...
A. Capability, Opportunity,
Motivation
B. Communication, Organization, Motivation
C. Capability, Organization, Behavior
D. Community, Opportunity, Behavior
E. Culture, Organization, Motivation
Soal 8
Mahasiswa
menemukan masalah DBD di suatu RW. Setelah assessment diketahui masyarakat
mengetahui bahaya DBD, tetapi tidak melakukan PSN secara rutin karena merasa
kegiatan tersebut merupakan tanggung jawab petugas kesehatan. Intervensi yang
paling sesuai dengan pendekatan pemberdayaan adalah...
A. Menambah
jumlah poster DBD
B. Memberikan ceramah lebih lama
C. Membentuk mekanisme PSN yang direncanakan, dilakukan, dan dipantau bersama
masyarakat
D. Meminta petugas kesehatan melakukan PSN di seluruh rumah
E. Membagikan leaflet kepada seluruh keluarga
Soal 9
Sebuah intervensi promosi kesehatan
memiliki kegiatan berupa pelatihan kader, edukasi keluarga, penyediaan
fasilitas, dan monitoring perilaku. Agar intervensi dapat dinilai
secara komprehensif, indikator yang paling tepat adalah...
A. Hanya
jumlah peserta kegiatan
B. Hanya jumlah media yang dibuat
C. Hanya jumlah kegiatan yang terlaksana
D. Input, proses, output, dan outcome
E. Hanya penurunan angka kesakitan
Soal 10
Dalam
merancang intervensi, mahasiswa langsung memilih metode ceramah sebelum
melakukan analisis perilaku. Kesalahan utama dari pendekatan tersebut adalah...
A. Ceramah
tidak boleh digunakan dalam promosi kesehatan
B. Media harus selalu menggunakan teknologi digital
C. Intervensi seharusnya dipilih berdasarkan analisis masalah dan determinan
perilaku
D. Semua masalah kesehatan harus ditangani melalui advokasi
E. Intervensi harus selalu dilakukan oleh tenaga kesehatan
1. B. Enabling factor
BalasHapus2. B. Masalah terutama berkaitan dengan persepsi dan keyakinan
3. C. Mengembangkan intervensi yang mempertimbangkan norma sosial dan peer support
4. D. Meningkatkan proporsi keluarga yang melakukan PSN secara rutin menjadi minimal 80% dalam empat minggu setelah intervensi.
5. D. Sebagai subjek dan mitra dalam identifikasi masalah hingga evaluasi
6. C. Output
7. A. Capability, Opportunity, Motivation
8. C. Membentuk mekanisme PSN yang direncanakan, dilakukan, dan dipantau bersama masyarakat
9. D. Input, proses, output, dan outcome
10. C. Intervensi seharusnya dipilih berdasarkan analisis masalah dan determinan perilaku
Nama : Nesya Ananda
BalasHapusNIM : P3.73.24.3.24.088
1. B. Enabling factor
2. B. Masalah terutama berkaitan dengan persepsi dan keyakinan
3.C. Mengembangkan intervensi yang mempertimbangkan norma sosial dan peer support
4. D. Meningkatkan proporsi keluarga yang melakukan PSN secara rutin menjadi minimal 80% dalam empat minggu setelah intervensi.
5. D. Sebagai subjek dan mitra dalam identifikasi masalah hingga evaluasi
6. C. Output
7. A. Capability, Opportunity, Motivation
8. C. Membentuk mekanisme PSN yang direncanakan, dilakukan, dan dipantau bersama masyarakat
9. D. Input, proses, output, dan outcome
10. C. Intervensi seharusnya dipilih berdasarkan analisis masalah dan determinan perilaku
Gemintang Cahyani Putri
BalasHapusP3.73.24.3.24.067
1. B. Enabling factor
2. B. Persepsi dan keyakinan
3. C. Norma sosial dan peer support
4. D. Tujuan SMART
5. D. Masyarakat sebagai subjek dan mitra
6. C. Output
7. A. Capability, Opportunity, Motivation
8. C. Pemberdayaan bersama masyarakat
9. D. Input, proses, output, dan outcome
10. C. Analisis masalah dan determinan perilaku
3B_12_Dzakwan Nur Huda
BalasHapus1. B. Enabling factor
2. B. Masalah terutama berkaitan dengan persepsi dan keyakinan
3. C. Mengembangkan intervensi yang mempertimbangkan norma sosial dan peer support
4. D. Meningkatkan proporsi keluarga yang melakukan PSN secara rutin menjadi minimal 80% dalam empat minggu setelah intervensi.
5. D. Sebagai subjek dan mitra dalam identifikasi masalah hingga evaluasi
6. C. Output
7. A. Capability, Opportunity, Motivation
8. C. Membentuk mekanisme PSN yang direncanakan, dilakukan, dan dipantau bersama masyarakat
9. D. Input, proses, output, dan outcome
10. C. Intervensi seharusnya dipilih berdasarkan analisis masalah dan determinan perilaku
nesya ummul h
BalasHapus1. B. Enabling factor
2. B. Masalah terutama berkaitan dengan persepsi dan keyakinan
3. C. Mengembangkan intervensi yang mempertimbangkan norma sosial dan peer support
4. D. Meningkatkan proporsi keluarga yang melakukan PSN secara rutin menjadi minimal 80% dalam empat minggu setelah intervensi
5. D. Sebagai subjek dan mitra dalam identifikasi masalah hingga evaluasi
6. C. Output
7. A. Capability, Opportunity, Motivation
8. C. Membentuk mekanisme PSN yang direncanakan, dilakukan, dan dipantau bersama masyarakat
9. D. Input, proses, output, dan outcome
10. C. Intervensi seharusnya dipilih berdasarkan analisis masalah dan determinan perilaku
1. B. Enabling factor
BalasHapus2. B. Masalah terutama berkaitan dengan persepsi dan keyakinan
3. C. Mengembangkan intervensi yang mempertimbangkan norma sosial dan peer support
4. D. Meningkatkan proporsi keluarga yang melakukan PSN secara rutin menjadi minimal 80% dalam empat minggu setelah intervensi.
5. D. Sebagai subjek dan mitra dalam identifikasi masalah hingga evaluasi
6. C. Output
7. A. Capability, Opportunity, Motivation
8. C. Membentuk mekanisme PSN yang direncanakan, dilakukan, dan dipantau bersama masyarakat
9. D. Input, proses, output, dan outcome
10. C. Intervensi seharusnya dipilih berdasarkan analisis masalah dan determinan perilaku
Azmil Mujdi Adz-Dzakiya
P3.73.24.3.24.056 (Health Promotion B)
3B_34_Najla Syahirah
BalasHapus1. B. Enabling factor
2. B. Masalah terutama berkaitan dengan persepsi dan keyakinan
3. C. Mengembangkan intervensi yang mempertimbangkan norma sosial dan peer support
4. D. Meningkatkan proporsi keluarga yang melakukan PSN secara rutin menjadi minimal 80% dalam empat minggu setelah intervensi
5. D. Sebagai subjek dan mitra dalam identifikasi masalah hingga evaluasi
6. C. Output
7. A. Capability, Opportunity, Motivation
8. C. Membentuk mekanisme PSN yang direncanakan, dilakukan, dan dipantau bersama masyarakat
9. D. Input, proses, output, dan outcome
10. C. Intervensi seharusnya dipilih berdasarkan analisis masalah dan determinan perilaku
1. B. Enabling factor
BalasHapus2. B. Masalah terutama berkaitan dengan persepsi dan keyakinan
3. C. Mengembangkan intervensi yang mempertimbangkan norma sosial dan peer support
4. D. Meningkatkan proporsi keluarga yang melakukan PSN secara rutin menjadi minimal 80% dalam empat minggu setelah intervensi.
5. D. Sebagai subjek dan mitra dalam identifikasi masalah hingga evaluasi
6. C. Output
7. A. Capability, Opportunity, Motivation
8. C. Membentuk mekanisme PSN yang direncanakan, dilakukan, dan dipantau bersama masyarakat
9. D. Input, proses, output, dan outcome
10. C. Intervensi seharusnya dipilih berdasarkan analisis masalah dan determinan perilaku
evelyn utami dewi /P3.73.24.3.24.064
BalasHapus3B promkes
1. B. Enabling factor
2. B. Masalah terutama berkaitan dengan persepsi dan keyakinan
3. C. Mengembangkan intervensi yang mempertimbangkan norma sosial dan peer support
4. D. Meningkatkan proporsi keluarga yang melakukan PSN secara rutin menjadi minimal 80% dalam empat minggu setelah intervensi.
5. D. Sebagai subjek dan mitra dalam identifikasi masalah hingga evaluasi
6. C. Output
7. A. Capability, Opportunity, Motivation
8. C. Membentuk mekanisme PSN yang direncanakan, dilakukan, dan dipantau bersama masyarakat
9. D. Input, proses, output, dan outcome
10. C. Intervensi seharusnya dipilih berdasarkan analisis masalah dan determinan perilaku
Ghina Kuggy Rimanda
BalasHapusP3.73.24.3.24.069
3B
1. B. Enabling factor
2. B. Masalah terutama berkaitan dengan persepsi dan keyakinan
3. C. Mengembangkan intervensi yang mempertimbangkan norma sosial dan peer support
4. D. Meningkatkan proporsi keluarga yang melakukan PSN secara rutin menjadi minimal 80% dalam empat minggu setelah intervensi.
5. D. Sebagai subjek dan mitra dalam identifikasi masalah hingga evaluasi
6. C. Output
7. A. Capability, Opportunity, Motivation
8. C. Membentuk mekanisme PSN yang direncanakan, dilakukan, dan dipantau bersama masyarakat
9. D. Input, proses, output, dan outcome
10. C. Intervensi seharusnya dipilih berdasarkan analisis masalah dan determinan perilaku
Satrio Maulana Handoko
BalasHapusP3.73.24.3.24.096
kelas 3 B
1. B. Enabling factor
2. B. Masalah terutama berkaitan dengan persepsi dan keyakinan
3. C. Mengembangkan intervensi yang mempertimbangkan norma sosial dan peer support
4. D. Meningkatkan proporsi keluarga yang melakukan PSN secara rutin menjadi minimal 80% dalam empat minggu setelah intervensi.
5. D. Sebagai subjek dan mitra dalam identifikasi masalah hingga evaluasi
6. C. Output
7. A. Capability, Opportunity, Motivation
8. C. Membentuk mekanisme PSN yang direncanakan, dilakukan, dan dipantau bersama masyarakat
9. D. Input, proses, output, dan outcome
10. C. Intervensi seharusnya dipilih berdasarkan analisis masalah dan determinan perilaku
1. B. Enabling factor
BalasHapus2. B. Masalah terutama berkaitan dengan persepsi dan keyakinan
3. C. Mengembangkan intervensi yang mempertimbangkan norma sosial dan peer support
4. D. Meningkatkan proporsi keluarga yang melakukan PSN secara rutin menjadi minimal 80% dalam empat minggu setelah intervensi.
5. D. Sebagai subjek dan mitra dalam identifikasi masalah hingga evaluasi
6.C. Output
7. A. Capability, Opportunity, Motivation
8 .C. Membentuk mekanisme PSN yang direncanakan, dilakukan, dan dipantau bersama masyarakat
9. D. Input, proses, output, dan outcome
10. C. Intervensi seharusnya dipilih berdasarkan analisis masalah dan determinan perilaku
Nama: Muhammad fikri maulana
BalasHapusNIM: P3.73.24.3.24.082
1. B. Enabling factor
2. B. Masalah terutama berkaitan dengan persepsi dan keyakinan
3.C. Mengembangkan intervensi yang mempertimbangkan norma sosial dan peer support
4. D. Meningkatkan proporsi keluarga yang melakukan PSN secara rutin menjadi minimal 80% dalam empat minggu setelah intervensi.
5. D. Sebagai subjek dan mitra dalam identifikasi masalah hingga evaluasi
6. C. Output
7. A. Capability, Opportunity, Motivation
8. C. Membentuk mekanisme PSN yang direncanakan, dilakukan, dan dipantau bersama masyarakat
9. D. Input, proses, output, dan outcome
10. C. Intervensi seharusnya dipilih berdasarkan analisis masalah dan determinan perilaku
Laksita Garnis Puspamurti
BalasHapusP3.73.24.3.24.077
1. B. Enabling factor
2. B. Masalah terutama berkaitan dengan persepsi dan keyakinan
3. C. Mengembangkan intervensi yang mempertimbangkan norma sosial dan peer support
4. D. Meningkatkan proporsi keluarga yang melakukan PSN secara rutin menjadi minimal 80% dalam empat minggu setelah intervensi.
5. D. Sebagai subjek dan mitra dalam identifikasi masalah hingga evaluasi
6. C. Output
7. A. Capability, Opportunity, Motivation
8. C. Membentuk mekanisme PSN yang direncanakan, dilakukan, dan dipantau bersama masyarakat
9. D. Input, proses, output, dan outcome
10. C. Intervensi seharusnya dipilih berdasarkan analisis masalah dan determinan perilaku
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusSiti Zahra Mubakir 3B
BalasHapusP3.73.24.3.24.098
1. B. Enabling factor
2. B. Persepsi dan keyakinan
3. C. Norma sosial dan peer support
4. D. Tujuan SMART
5. D. Masyarakat sebagai subjek dan mitra
6. C. Output
7. A. Capability, Opportunity, Motivation
8. C. Pemberdayaan bersama masyarakat
9. D. Input, proses, output, dan outcome
10. C. Analisis masalah dan determinan perilaku
Aliyah Ramadani (P3.73.24.3.24.053)
BalasHapus1. B. Enabling factor
2. B. Masalah terutama berkaitan dengan persepsi dan keyakinan
3. C. Mengembangkan intervensi yang mempertimbangkan norma sosial dan peer support
4. D. Meningkatkan proporsi keluarga yang melakukan PSN secara rutin menjadi minimal 80% dalam empat minggu setelah intervensi.
5. D. Sebagai subjek dan mitra dalam identifikasi masalah hingga evaluasi
6. C. Output
7. A. Capability, Opportunity, Motivation
8. C. Membentuk mekanisme PSN yang direncanakan, dilakukan, dan dipantau bersama masyarakat
9. D. Input, proses, output, dan outcome
10. C. Intervensi seharusnya dipilih berdasarkan analisis masalah dan determinan perilaku
ahmad fauzan
BalasHapusP3.73.24.3.24.051
1. B. Enabling factor
2. B. Masalah terutama berkaitan dengan persepsi dan keyakinan
3. C. Mengembangkan intervensi yang mempertimbangkan norma sosial dan peer support
4. D. Meningkatkan proporsi keluarga yang melakukan PSN secara rutin menjadi minimal 80% dalam empat minggu setelah intervensi.
5. D. Sebagai subjek dan mitra dalam identifikasi masalah hingga evaluasi
6. C. Output
7. A. Capability, Opportunity, Motivation
8. C. Membentuk mekanisme PSN yang direncanakan, dilakukan, dan dipantau bersama masyarakat
9. D. Input, proses, output, dan outcome
10. C. Intervensi seharusnya dipilih berdasarkan analisis masalah dan determinan perilaku
1. B. Enabling factor
BalasHapus2. B. Masalah terutama berkaitan dengan persepsi dan keyakinan
3. C. Mengembangkan intervensi yang mempertimbangkan norma sosial dan peer support
4. D. Meningkatkan proporsi keluarga yang melakukan PSN secara rutin menjadi minimal 80% dalam empat minggu setelah intervensi.
5. D. Sebagai subjek dan mitra dalam identifikasi masalah hingga evaluasi
6. C. Output
7. A. Capability, Opportunity, Motivation
8. C. Membentuk mekanisme PSN yang direncanakan, dilakukan, dan dipantau bersama masyarakat
9.D. Input, proses, output, dan outcome
10. C. Intervensi seharusnya dipilih berdasarkan analisis masalah dan determinan perilaku
1. B. Enabling factor
BalasHapus2. B. Masalah terutama berkaitan dengan persepsi dan keyakinan
3. C. Mengembangkan intervensi yang mempertimbangkan norma sosial dan peer support
4. D. Meningkatkan proporsi keluarga yang melakukan PSN secara rutin menjadi minimal 80% dalam empat minggu setelah intervensi.
5. D. Sebagai subjek dan mitra dalam identifikasi masalah hingga evaluasi
6. C. Output
7. A. Capability, Opportunity, Motivation
8. C. Membentuk mekanisme PSN yang direncanakan, dilakukan, dan dipantau bersama masyarakat
9. D. Input, proses, output, dan outcome
10. C. Intervensi seharusnya dipilih berdasarkan analisis masalah dan determinan perilaku
P3.73.24.3.24.092
BalasHapus1. B. Enabling factor
2. B. Masalah terutama berkaitan dengan persepsi dan keyakinan
3. C. Mengembangkan intervensi yang mempertimbangkan norma sosial dan peer support
4. D. Meningkatkan proporsi keluarga yang melakukan PSN secara rutin menjadi minimal 80% dalam empat minggu setelah intervensi.
5. D. Sebagai subjek dan mitra dalam identifikasi masalah hingga evaluasi
6. C. Output
7. A. Capability, Opportunity, Motivation
8. C. Membentuk mekanisme PSN yang direncanakan, dilakukan, dan dipantau bersama masyarakat
9. D. Input, proses, output, dan outcome
10. C. Intervensi seharusnya dipilih berdasarkan analisis masalah dan determinan perilaku
Kaila Naura Sabillah 3B (P3.73.24.3.24.075)
BalasHapus1. B. Enabling factor
2. B. Masalah terutama berkaitan dengan persepsi dan keyakinan
3. C. Mengembangkan intervensi yang mempertimbangkan norma sosial dan peer support
4. D. Meningkatkan proporsi keluarga yang melakukan PSN secara rutin menjadi minimal 80% dalam empat minggu setelah intervensi
5. D. Sebagai subjek dan mitra dalam identifikasi masalah hingga evaluasi
6. C. Output
7. A. Capability, Opportunity, Motivation
8. C. Membentuk mekanisme PSN yang direncanakan, dilakukan, dan dipantau bersama masyarakat
9. D. Input, proses, output, dan outcome
10. C. Intervensi seharusnya dipilih berdasarkan analisis masalah dan determinan perilaku
Hafizah Zahra
BalasHapusP3.73.24.3.24.071
kelas 3 B
1. B. Enabling factor
2. B. Masalah terutama berkaitan dengan persepsi dan keyakinan
3. C. Mengembangkan intervensi yang mempertimbangkan norma sosial dan peer support
4. D. Meningkatkan proporsi keluarga yang melakukan PSN secara rutin menjadi minimal 80% dalam empat minggu setelah intervensi.
5. D. Sebagai subjek dan mitra dalam identifikasi masalah hingga evaluasi
6. C. Output
7. A. Capability, Opportunity, Motivation
8. C. Membentuk mekanisme PSN yang direncanakan, dilakukan, dan dipantau bersama masyarakat
9. D. Input, proses, output, dan outcome
10. C. Intervensi seharusnya dipilih berdasarkan analisis masalah dan determinan perilaku
Gemintang Cahyani Putri
BalasHapusP3.73.24.3.24.067
1. B. Enabling factor
2. B. Masalah terutama berkaitan dengan persepsi dan keyakinan
3. C. Mengembangkan intervensi yang mempertimbangkan norma sosial dan peer support
4. D. Meningkatkan proporsi keluarga yang melakukan PSN secara rutin menjadi minimal 80% dalam empat minggu setelah intervensi
5. D. Sebagai subjek dan mitra dalam identifikasi masalah hingga evaluasi
6. C. Output
7. A. Capability, Opportunity, Motivation
8. C. Membentuk mekanisme PSN yang direncanakan, dilakukan, dan dipantau bersama masyarakat
9. D. Input, proses, output, dan outcome
10. C. Intervensi seharusnya dipilih berdasarkan analisis masalah dan determinan perilaku
Jyasmine Usi Syahbani
BalasHapus074/3B
1) A. Enabling factor
2) B. Masalah terutama berkaitan dengan persepsi dan keyakinan
3) C. Mengembangkan intervensi yang mempertimbangkan norma sosial dan peer support
4) D. Meningkatkan proporsi keluarga yang melakukan PSN secara rutin menjadi minimal 80% dalam empat minggu setelah intervensi
5) D. Sebagai subjek dan mitra dalam identifikasi masalah hingga evaluasi
6) C. Output
7) A. Capability, Opportunity, Motivation
8) C. Membentuk mekanisme PSN yang direncanakan, dilakukan, dan dipantau bersama masyarakat
9) D. Input, proses, output, dan outcome
10) C. Intervensi seharusnya dipilih berdasarkan analisis masalah dan determinan perilaku
NAMA : fathira rajwah
BalasHapusNIM : P3.73.24.3.24.066
1. B. Enabling factor
2. B. Masalah terutama berkaitan dengan persepsi dan keyakinan
3. C. Mengembangkan intervensi yang mempertimbangkan norma sosial dan peer support
4. D. Meningkatkan proporsi keluarga yang melakukan PSN secara rutin menjadi minimal 80% dalam empat minggu setelah intervensi
5. D. Sebagai subjek dan mitra dalam identifikasi masalah hingga evaluasi
6. C. Output
7. A. Capability, Opportunity, Motivation
8. C. Membentuk mekanisme PSN yang direncanakan, dilakukan, dan dipantau bersama masyarakat
9. D. Input, proses, output, dan outcome
10. C. Intervensi seharusnya dipilih berdasarkan analisis masalah dan determinan perilaku
1. B. Enabling factor
BalasHapus2. B. Masalah terutama berkaitan dengan persepsi dan keyakinan
3. C. Mengembangkan intervensi yang mempertimbangkan norma sosial dan peer support
4. D. Meningkatkan proporsi keluarga yang melakukan PSN secara rutin menjadi minimal 80% dalam empat minggu setelah intervensi
5. D. Sebagai subjek dan mitra dalam identifikasi masalah hingga evaluasi
6. C. Output
7. A. Capability, Opportunity, Motivation
8. C. Membentuk mekanisme PSN yang direncanakan, dilakukan, dan dipantau bersama masyarakat
9. D. Input, proses, output, dan outcome
10. C. Intervensi seharusnya dipilih berdasarkan analisis masalah dan determinan perilaku
1. B. Enabling factor
BalasHapus2. B. Masalah terutama berkaitan dengan persepsi dan keyakinan
3. C. Mengembangkan intervensi yang mempertimbangkan norma sosial dan peer support
4. D. Meningkatkan proporsi keluarga yang melakukan PSN secara rutin menjadi minimal 80% dalam empat minggu setelah intervensi.
5. D. Sebagai subjek dan mitra dalam identifikasi masalah hingga evaluasi
6. C. Output
7. A. Capability, Opportunity, Motivation
8. C. Membentuk mekanisme PSN yang direncanakan, dilakukan, dan dipantau bersama masyarakat
9. D. Input, proses, output, dan outcome
10. C. Intervensi seharusnya dipilih berdasarkan analisis masalah dan determinan perilaku
Muhammad Aditya Irawan (3B)
BalasHapusP3.73.24.3.24.081
1. B. Enabling factor
2. B. Masalah terutama berkaitan dengan persepsi dan keyakinan
3. C. Mengembangkan intervensi yang mempertimbangkan norma sosial dan peer support
4. D. Meningkatkan proporsi keluarga yang melakukan PSN secara rutin menjadi minimal 80% dalam empat minggu setelah intervensi.
5. D. Sebagai subjek dan mitra dalam identifikasi masalah hingga evaluasi
6. C. Output
7. A. Capability, Opportunity, Motivation
8. C. Membentuk mekanisme PSN yang direncanakan, dilakukan, dan dipantau bersama masyarakat
9. D. Input, proses, output, dan outcome
10. C. Intervensi seharusnya dipilih berdasarkan analisis masalah dan determinan perilaku
Alika Az Zahra P3.73.24.3.24.052
BalasHapus1. B. Enabling factor
2. B. Masalah terutama berkaitan dengan persepsi dan keyakinan
3. C. Mengembangkan intervensi yang mempertimbangkan norma sosial dan peer support
4. D. Meningkatkan proporsi keluarga yang melakukan PSN secara rutin menjadi minimal 80% dalam empat minggu setelah intervensi
5. D. Sebagai subjek dan mitra dalam identifikasi masalah hingga evaluasi
6. C. Output
7. A. Capability, Opportunity, Motivation
8. C. Membentuk mekanisme PSN yang direncanakan, dilakukan, dan dipantau bersama masyarakat
9. D. Input, proses, output, dan outcome
10.C. Intervensi seharusnya dipilih berdasarkan analisis masalah dan determinan perilaku
B. Enabling factor
BalasHapusB. Masalah terutama berkaitan dengan persepsi dan keyakinan
C. Mengembangkan intervensi yang mempertimbangkan norma sosial dan peer support
D. Meningkatkan proporsi keluarga yang melakukan PSN secara rutin menjadi minimal 80% dalam empat minggu setelah intervensi.
D. Sebagai subjek dan mitra dalam identifikasi masalah hingga evaluasi
C. Output
A. Capability, Opportunity, Motivation
C. Membentuk mekanisme PSN yang direncanakan, dilakukan, dan dipantau bersama masyarakat
D. Input, proses, output, dan outcome
C. Intervensi seharusnya dipilih berdasarkan analisis masalah dan determinan perilaku
Khansa Khaalida Ghassani
BalasHapusP3.73.24.3.24.076
1. B. Enabling factor
2. B. Masalah terutama berkaitan dengan persepsi dan keyakinan
3. C. Mengembangkan intervensi yang mempertimbangkan norma sosial dan peer support
4. D. Meningkatkan proporsi keluarga yang melakukan PSN secara rutin menjadi minimal 80% dalam empat minggu setelah intervensi
5. D. Sebagai subjek dan mitra dalam identifikasi masalah hingga evaluasi
6. C. Output
7. A. Capability, Opportunity, Motivation
8. C. Membentuk mekanisme PSN yang direncanakan, dilakukan, dan dipantau bersama masyarakat
9. D. Input, proses, output, dan outcome
10. C. Intervensi seharusnya dipilih berdasarkan analisis masalah dan determinan perilaku
Gladys Parkita Prenanti Rahayu
BalasHapusP3.73.24.3.24.070
1. B. Enabling factor
2. B. Masalah terutama berkaitan dengan persepsi dan keyakinan
3. C. Mengembangkan intervensi yang mempertimbangkan norma sosial dan peer support
4. D. Meningkatkan proporsi keluarga yang melakukan PSN secara rutin menjadi minimal 80% dalam empat minggu setelah intervensi
5. D. Sebagai subjek dan mitra dalam identifikasi masalah hingga evaluasi
6. C. Output
7. A. Capability, Opportunity, Motivation
8. C. Membentuk mekanisme PSN yang direncanakan, dilakukan, dan dipantau bersama masyarakat
9. D. Input, proses, output, dan outcome
10. C. Intervensi seharusnya dipilih berdasarkan analisis masalah dan determinan perilaku
Siti zahra mubakir 3B
BalasHapusP3.73.24.3.24.098
1. B. Enabling factor
2. B. Masalah terutama berkaitan dengan persepsi dan keyakinan
3. C. Mengembangkan intervensi yang mempertimbangkan norma sosial dan peer support
4. D. Meningkatkan proporsi keluarga yang melakukan PSN secara rutin menjadi minimal 80% dalam empat minggu setelah intervensi.
5. D. Sebagai subjek dan mitra dalam identifikasi masalah hingga evaluasi
6. C. Output
7. A. Capability, Opportunity, Motivation
8. C. Membentuk mekanisme PSN yang direncanakan, dilakukan, dan dipantau bersama masyarakat
9. D. Input, proses, output, dan outcome
10. C. Intervensi seharusnya dipilih berdasarkan analisis masalah dan determinan perilaku
nim (P3.73.24.3.24.079)
BalasHapus1. B. Enabling factor
2. B. Masalah terutama berkaitan dengan persepsi dan keyakinan
3. C. Mengembangkan intervensi yang mempertimbangkan norma sosial dan peer support
4. D. Meningkatkan proporsi keluarga yang melakukan PSN secara rutin menjadi minimal 80% dalam empat minggu setelah intervensi.
5. D. Sebagai subjek dan mitra dalam identifikasi masalah hingga evaluasi
6. C. Output
7. A. Capability, Opportunity, Motivation
8. C. Membentuk mekanisme PSN yang direncanakan, dilakukan, dan dipantau bersama masyarakat
9. D. Input, proses, output, dan outcome
10. C. Intervensi seharusnya dipilih berdasarkan analisis masalah dan determinan perilaku
Asma Naifa Sa'diyyah
BalasHapusP3.73.24.3.24.055
1. B. Enabling factor
2. B. Persepsi dan keyakinan
3. C. Norma sosial dan peer support
4. D. Tujuan SMART
5. D. Masyarakat sebagai subjek dan mitra
6. C. Output
7. A. Capability, Opportunity, Motivation
8. C. Pemberdayaan bersama masyarakat
9. D. Input, proses, output, dan outcome
10. C. Analisis masalah dan determinan perilaku
Razan Ammar Faiq
BalasHapusP3.73.24.3.24.093
1) B. Enabling factor
2) B. Masalah terutama berkaitan dengan persepsi dan keyakinan
3) C. Mengembangkan intervensi yang mempertimbangkan norma sosial dan peer support
4) D. Meningkatkan proporsi keluarga yang melakukan PSN secara rutin menjadi minimal 80% dalam empat minggu setelah intervensi
5) D. Sebagai subjek dan mitra dalam identifikasi masalah hingga evaluasi
6) C. Output
7) A. Capability, Opportunity, Motivation
8) C. Membentuk mekanisme PSN yang direncanakan, dilakukan, dan dipantau bersama masyarakat
9) D. Input, proses, output, dan outcome
10) C. Intervensi seharusnya dipilih berdasarkan analisis masalah dan determinan perilaku
Renata Tazua
BalasHapusP3.73.24.3.24.094
1. B. enabling factor
2. B. masalah terutama berkaitan dengan persepsi dan keyakinan
3. C. mengembangkan intervensi yang mempertimbangkan norma sosial dan peer support
4. D. meningkatkan proporsi keluarga yang melakukan PSN secara rutin menjadi minimal 80% dalam empat minggu setelah intervensi
5. D. sebagai subjek dan mitra dalam identifikasi masalah hingga evaluasi
6. C. output
7. A. capability, opportunity, motivation
8. C. membentuk mekanisme PSN yang direncanakan, dilakukan, dan dipantau bersama masyarakat
9. D. input, proses, output, dan outcome
10. C. intervensi seharusnya dipilih berdasarkan analisis masalah dan determinan perilaku
Nama : Revalina Cindy Aulia
BalasHapusKelas : 3B (P3.73.24.3.24.095
Jawaban :
1. B. Enabling Factor
2. B. Masalah terutama berkaitan dengan persepsi dan keyakinan
3. C. Mengembangkan intervensi yang mempertimbangkan norma sosial dan peer support
4. D. Meningkatkan proporsi keluarga yang melakukan PSN secara rutin menjadi minuimal 80% dalam empat minggu setelah intervensi
5. D. Sebagai subjek dan Mitra dalam identifikasi masalah hingga evaluasi
6. C. Output
7. A. Capability, opportunity, motivation
8. C. Membentuk mekanisme PSN yang direncanakan, dilakukan dan di pantau bersama masyarakat
9. D. Input, proses, output, dan outcome
10. C. Intervensi seharusnya dipilih berdasarkan analisis masalah dan determinan perilaku
B. Enabling factor — Berkaitan dengan ketersediaan alat, sarana, prasarana, dan kesempatan untuk melakukan PSN.
BalasHapusB. Masalah terutama berkaitan dengan persepsi dan keyakinan — Ibu sudah memiliki pengetahuan, tetapi persepsi tentang efek samping dan tingkat bahaya penyakit menjadi penghambat.
C. Mengembangkan intervensi yang mempertimbangkan norma sosial dan peer support — Perilaku merokok dipengaruhi teman sebaya dan norma dalam pergaulan.
D. Meningkatkan proporsi keluarga yang melakukan PSN secara rutin menjadi minimal 80% dalam empat minggu setelah intervensi — Tujuan tersebut spesifik, terukur, relevan, realistis, dan memiliki batas waktu (SMART).
D. Sebagai subjek dan mitra dalam identifikasi masalah hingga evaluasi — Pemberdayaan menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama, bukan sekadar penerima program.
C. Output — Jumlah kader yang dilatih dan memperoleh sertifikat merupakan hasil langsung dari kegiatan.
A. Capability, Opportunity, Motivation — COM-B terdiri atas kemampuan, kesempatan, dan motivasi yang memengaruhi perilaku.
C. Membentuk mekanisme PSN yang direncanakan, dilakukan, dan dipantau bersama masyarakat — Sesuai prinsip pemberdayaan karena masyarakat terlibat dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pemantauan.
D. Input, proses, output, dan outcome — Keempat indikator tersebut memberikan gambaran evaluasi program secara menyeluruh.
C. Intervensi seharusnya dipilih berdasarkan analisis masalah dan determinan perilaku — Metode intervensi harus disesuaikan dengan masalah dan faktor yang memengaruhi perilaku, bukan ditentukan sebelum analisis.
Muhammad Ma'ruf Dinata
BalasHapusP3.73.24.3.24.083
1. B. Enabling factor
2. B. Masalah terutama berkaitan dengan persepsi dan keyakinan
3. C. Mengembangkan intervensi yang mempertimbangkan norma sosial dan peer support
4. D. Meningkatkan proporsi keluarga yang melakukan PSN secara rutin menjadi minimal 80% dalam empat minggu setelah intervensi
5. D. Sebagai subjek dan mitra dalam identifikasi masalah hingga evaluasi
6. C. Output
7. A. Capability, Opportunity, Motivation
8. C. Membentuk mekanisme PSN yang direncanakan, dilakukan, dan dipantau bersama masyarakat
9. D. Input, proses, output, dan outcome
10. C. Intervensi seharusnya dipilih berdasarkan analisis masalah dan determinan perilaku
Nama: Signori Cannigia Situmorang
BalasHapusNIM: P3.73.24.3.24.097
Jawaban:
1. B) Enabling Factors
2. B) Masalah terutama berkaitan dengan persepsi dan keyakinan
3. C) Mengembangkan intervensi yang mempertimbangkan norma sosial dan peer support
4. D) Meningkatkan proporsi keluarga yang melakukan PSN secara rutin menjadi minimal 80% dalam empat minggu setelah intervensi
5. D) Sebagai subjek dan mitra dalam identifikasi masalah hingga evaluasi
6. C) Ouput
7. A) Capability, Opportunity & Motivation
8. C) Membentuk mekanisme PSN yang
direncanakan, dilakukan, dan dipantau bersama
masyarakat
9. D) Input, proses, output, dan outcome
10. C) Intervensi seharusnya dipilih berdasarkan
analisis masalah dan determinan perilaku
Annisa zulfa hidayat 3B promkes
BalasHapus1. B.Enabling factor
2. B. Masalah terutama berkaitan dengan persepsi dan keyakinan
3. c. Mengembangkan intervensi yang mempertimbangkan norma sosial dan peer support
4. D. Meningkatkan proporsi keluarga yang melakukan PSN secara rutin menjadi minimal 80% dalam empat minggu setelah intervensi.
5. D. Sebagai subjek dan mitra dalam identifikasi masalah hingga evaluasi
6. C. Output
7. A. Capability, Opportunity, Motivation
8. C. Membentuk mekanisme PSN yang direncanakan, dilakukan, dan dipantau bersama masyarakat
9. D. Input, proses, output, dan outcome
10 C. Intervensi seharusnya dipilih berdasarkan analisis masalah dan determinan perilaku
Nafrishya Helva Nadya 3B Promkes
BalasHapusP3.73.24.3.24.086
1. B. Enabling factor
2. B. Masalah terutama berkaitan dengan persepsi dan keyakinan
3. C. Mengembangkan intervensi yang mempertimbangkan norma sosial dan peer support
4. D. Meningkatkan proporsi keluarga yang melakukan PSN secara rutin menjadi minimal 80% dalam empat minggu setelah intervensi
5. D. Sebagai subjek dan mitra dalam identifikasi masalah hingga evaluasi
6. C. Output
7. A. Capability, Opportunity, Motivation
8. C. Membentuk mekanisme PSN yang direncanakan, dilakukan, dan dipantau bersama masyarakat
9. D. Input, proses, output, dan outcome
10. C. Intervensi seharusnya dipilih berdasarkan analisis masalah dan determinan perilaku
Dewi Candra Wulan 3B / P3.73.24.3.24.060
BalasHapusJawaban
1. B. Enabling factor
alasan : Alat dan fasilitas yang tidak tersedia merupakan faktor pendukung yang memengaruhi kemampuan masyarakat melakukan PSN.
2. B. Masalah terutama berkaitan dengan persepsi dan keyakinan
alasan : Ibu sudah mengetahui manfaat imunisasi, tetapi memiliki kekhawatiran dan menganggap penyakitnya tidak berbahaya. Ini berkaitan dengan persepsi/keyakinan.
3. C. Mengembangkan intervensi yang mempertimbangkan norma sosial dan peer support
alasan : Perilaku merokok dipengaruhi teman sebaya dan norma pergaulan, sehingga intervensi perlu melibatkan lingkungan sosial.
4. D. Meningkatkan proporsi keluarga yang melakukan PSN secara rutin menjadi minimal 80% dalam empat minggu setelah intervensi. alasan : Tujuannya spesifik, terukur, dapat dicapai, relevan, dan memiliki batas waktu (SMART).
5. D. Sebagai subjek dan mitra dalam identifikasi masalah hingga evaluasi
alasan : Pemberdayaan menempatkan masyarakat sebagai pihak yang aktif terlibat dalam seluruh proses program.
6. C. Output
alasan : Jumlah kader yang dilatih dan mendapatkan sertifikat merupakan hasil langsung dari kegiatan pelatihan.
7. A. Capability, Opportunity, Motivation
alasan : Tidak tahu cara olahraga = Capability, fasilitas tidak tersedia = Opportunity, tidak memiliki motivasi = Motivation.
8. C. Membentuk mekanisme PSN yang direncanakan, dilakukan, dan dipantau bersama masyarakat
alasan : Sesuai prinsip pemberdayaan karena masyarakat dilibatkan secara aktif dan tidak hanya menjadi penerima instruksi.
9. D. Input, proses, output, dan outcome
alasan : Keempat indikator memberikan gambaran yang lebih lengkap mengenai pelaksanaan dan hasil intervensi.
10. C. Intervensi seharusnya dipilih berdasarkan analisis masalah dan determinan perilaku
alasan : Metode intervensi seharusnya ditentukan setelah mengetahui penyebab dan faktor yang memengaruhi perilaku.