Rabu, 18 April 2012

PEMELIHARAAN GIGI BALITA

Pemeliharaan Gigi
I. Pendahuluan
            Tahukah anda, janin usia 6 minggu sebenarnya sudah tumbuh gigi? Tentu saja bentuknya tonjolan-tonjolan disepanjang geraham atas dan bawah. Calon gigi itu baru benar-benar nongol menjadi gigi setelah si kecil berumur 4-7 bulan. Satu persatu gigi putih itu muncul  sampai yang terahir muncul adalah gigi geraham.yaitu geraham ke-2 bawah, yang muncul sesudah ia merayakan ulang tahun ke-2.
            Sejak kecil anak di latih mengenai kebersihan giginya, sebelum tidur, dan sesudah makan gigi dibersihkan dengan menggunakan sikat gigi yang baik dan pasta gigi sesuai. Pemeliharaan kesehatan gigi juga termasuk memeperhatikan makanan yang dikonsumsi, cokelat, permen, dan makanan lain yang amat manis sebaiknya dihindari.
A. Secara umum manfaat menjaga kesehatan gigi dan mulut anak adalah:
a.       Pada usia ini anak sedang tumbuh dan diperlukannya gigi yang kuat dan sehat supaya anak dapat mengunyah makanan dengan sempurna
b.      Mudah terjadi gigi yang berlubang, yang menimbulkan rasa sakit yang amat sangat mengganggu
c.       Hendaknya pemeliharaan gigi menjadi sustu kebiasaan.
d.      Gigi sebagai alat pengunyah amat diperlukan karena dengan mengunyah makanan akan memberikan rangsangan pada pertumbuhan rahang

B. Beberapa penyakit gigi:
Karies Gigi, penyakit gigi akibat infeksi bakteri penghasil asam yang merusak struktur gigi hingga menyebabkan gigi berlubang. Jenis baktri yang sering menjadi penyebabnya streptococus dan lactobacillus.
Kelainan pada gusi, pembekakan, luka-luka karena kekuranagan vitamin c.
Herpangina, penyakit infeksi mulut akibat virus coxsakie tipe A atau B yang banyak di derita balita. Muncul berupa benjolan berwarna merah di bagian belakang rongga mulut, dekat anak tekak. Biasanya sembuh dalam 7-10 hari infweksi ditandai dengan gejala demam tinggi dan radang tenggorokan

 C. Penyebab-penyebab sakit pada gigi anak:

¥  Kebiasaan minum susu dengan botol sebelum tidur, ganti isi bool dengn air putih.
¥  Kebiasaan anak ngemil makanan manis dan asam. Batasi atau menguranginya terutama camilan manis.
¥  Kebiasan mngemut makanan. Berikan makanan dalam potongan kecil atau memberinya makanan lunak agar mudah di kunyah dan ditelan.
¥  Ketiks gigi geraham susu tumbuh disertai demam atasi dengan obat penurun panas anak

D.Cara menyikat gigi yang benar menurut (Pedoman Pembinaan Kesehatan anak  )
1)      Menggosok gigi rahang bagian bawah
Cara meletakan sikat gigi:
Tangkai sikat gigi diletakan sejajar dengan dataran pengunyah. Perhatikan ujung-ujungnya bulu sikat terletak pada perbatasan gigi dengan gusi.
Sikat gigi kemudian dimiringkan sedikit sehingga bulu sikat terarah pada perbatasan
gigi dengan gusi.
2)      Menggosok permukaan gigi yag menghadap kepipi/bibir.
Sikat gigi digerakan dengan gerakan maju mundurnya yang pendek artinya siakt gigi digerak-gerakan di tempat. Gosoklah terlebih dahulu gigi yang terletak dibelakang.
Menggosok gigi depan, perhatikan letak sikat gigi gerakanya sama maju mundur sedikit.
3)       Menggosok permukaan gigi yang menghadap kelidah kiri dan kanan,  gerakannya sama maju mundur sedikit perhatikan letak sikat gigi.
4)      Lalu menggosok dataran pengunya dari gigi-gigi rhang atas maupun bawah di gosok dengan maju mundur.

Semenjak gigi pertama muncul pada balita, sejak itulah perawatan gigi dimulai. Caranya, biasakan ia gosok gigi dengan bantuan anda:
1)      Gosok gigi depan bagian atas dan bawah dengan arah kesamping kanan dan kiri.
2)      Kemudian gosok seluruh gigi bagian samping.
3)      Gosok seluruh gigi bagian belakang
4)      Setelah itu mintalah si kecil berkumur dengan air bersih beberapa kali
5)      Bila ia tidak mau amenggosok gigi jangan menyerah, tetap ajak kebiasaan baik ini dengan terus menerus ini dirumah, yaitu dengan cara yang menyenangkan yaitu dengan menggunakan sikat gigi lucu, pasta gigi khusus rasa buah, dan juga bacakan dongeng tentang gigi yang rusak gara-gara anak malas sikat gigi dan lain.

Yang perlu diperhatikan ketika menggosok gigi anak, yaitu:
a.       Sikat gigi yang dipilih kecil, bulu sikatnya halus dan permukaanya datar setiap anak menggunakan sikat giginya  masing-masing
b.      Kalau mungkin gunakan pasta gigi yang mengandung flour.
c.       Kebiasaan menggosok gigi ditanamkan sejak dini.
d.      Anak dianjurkan untuk menggosok gigi dirumah, sesudah makan dan sebelum tidur.
e.       Orang tua dianjurkan untuk mengawasi kegiatan sikat gigi dirumah.

 Tips memilih Sikat gigi anak?


Sikat gigi adalah salah satu senjata penting penentuan kesehatan gigi anak. Dengan sikat gigi, berbagai kotoran yang menempel digigi si kecil dibersihkan siakt gigi anak yang berkualitas baik bercirikan:
Ÿ  Sikat terbuat dari bahan lunak sehingga tidak melukai gusi.
Ÿ  Panjang sikat gigi sesuai dengan ukuran mulut anak.
Ÿ  Kepala sikat berukuran relatif kecil, sehingga mudah mencapai semua bagian gigi
Ÿ  Ujung sikat berbentuk sedikit membulat.
EVALUASI
1. Bagaimana cara perawatan gigi pada anak yang benar?
Yaitu secara dini mengajarkan anak menjaga ksehatan giginya dengan cara rajin sikat gigi dan menyikat gigi yang benar  yaitu:
1)      Gosok gigi depan bagian atas dan bawah dengan arah kesamping kanan dan kiri.
2)      Kemudian gosok seluruh gigi bagian samping.
3)      Gosok seluruh gigi bagian belakang
4)      Setelah itu mintalah si kecil berkumur dengan air bersih beberapa kali
5)      Bila ia tidak mau menggosok gigi jangan menyerah, tetap ajak kebiasaan baik ini dengan terus menerus ini dirumah, yaitu dengan cara yang menyenangkan yaitu dengan menggunakan sikat gigi lucu, pasta gigi khusus rasa buah, dan juga bacakan dongeng tentang gigi yang rusak gara-gara anak malas sikat gigi dan lain.

2.Apa saja yang perlu diperhatikan saat menggosok gigi anak?
a.       Sikat gigi yang dipilih kecil, bulu sikatnya halus dan permukaanya datar setiap anak menggunakan sikat giginya  masing-masing
b.      Kalau mungkin gunakan pasta gigi yang mengandung flour.
c.       Kebiasaan menggosok gigi ditanamkan sejak dini.
d.      Anak dianjurkan untuk menggosok gigi dirumah, sesudah makan dan sebelum tidur.
Orang tua dianjurkan untuk mengawasi kegiatan sikat gigi dirumah.

PERLAKUAN SALAH PADA ANAK (CHILD ABUSE )

PERLAKUAN SALAH PADA ANAK (CHILD ABUSE )
I.       Pendahuluan
            Sangat sukar dipercaya, bahwa ada orang tua yang melakukan penganiayaan terhadap anaknya sampai perlu dirawat di Rumah Sakit atau bahkan sampai meninggal dunia. Hal ini disebabkan karena orang tua tersebut kurang dewasa dalam mengontrol dirinya saat bertindak pada anaknya. Tetapi untunglah di beberapa negara telah mempunyai hukum yang dibuat untuk melindungi anak-anak, walaupun masih terdapat kelemahan-kelemahan. Ketidakmatangan fisik dan mental anak membuat kita wajib memberikan perlindungan dan perawatan khusus, termasuk perlindungan hukum yang layak, sebelum dan sesudah kelahiran.
             “Child Abuse” adalah perlakuan salah terhadap fisik dan emosi seorang anak, termasuk menelantarkan pendidikan dan kesehatannya, dan juga penyalahgunaan seksual akibat perilaku manusia yang keliru terhadap anak.
II.      Materi penyuluhan
Perlakuan salah pada anak dibagi menjadi dua golongan besar, yaitu :
1.    Dalam keluarga
·         Penganiayaan fisik
Yaitu cedera fisik akibat hukuman badan diluar batas, kekejaman atau pemberian racun.
·         Kelalaian / penelantaran anak
Kelalaian ini selain tidak sengaja, juga akibat dari ketidaktahuan atau kesulitan ekonomi. Bentuk kelalaian ini termasuk pemeliharaan yang kurang memadai, yang dapat mengakibatkan gagal tumbuh, anak merasa kekurangan kasih sayang, gangguan kejiwaan, dan keterlambatan perkembangan. Pengawasan yang kurang dapat menyebabkan anak mengalami risiko terjadinya trauma fisik dan jiwa. Kelalaian dalam mendapatkan pengobatan meliputi kegagalan merwat anak dengan baik misalnya imunisasi, atau kelalaian dalam mencari pengobatan sehingga memperburuk penyakit anak. Kelalaian dalam pendidikan meliputi kegagalan dalam mendidik anak untuk mampu berinteraksi dengan llingkungannya, gagal menyekolahkannya atau menyuruh anak mencari nafkah untuk keluarga sehingga anak terpaksa putus sekolah.
·         Penganiayaan emosional
Ditandai dengan kecaman kata-kata yang merendahkan anak, atau tidak mengakuinya sebagai anak. Keadaan ini seringkali berlanjut dengan melalaikan anak, mengisolasikan anak dari lingkungannya / hubungan sosialnya, atau menyalahkan anak secara terus menerus. Penganiayaan emosi seperti ini umumnya selalu diikuti bentuk penganiayaan lain.
·         Penganiayaan seksual
Mengajak anak untuk melakukan aktivitas seksual yang melaggar norma-norma sosial yang berlaku di maasyarakat, dimana anak tidak memahami / tidak bersedia. Aktivitas sosial dapat berupa semua bentuk urogenital, genital, anal atau sodomi. Penganiayaan seksual ini juga termasuk incest yaitu penganiayaan seksual oleh orang yang masih ada hubungan keluarga.
·         Sindrom Munchausen
Sindrom ini merupakan permintaan pengobatan terhadap penyakit yang dibuat-buat dan pemberian keterangan palsu untuk menyokong tuntutan.
2.    Diluar keluarga :
·         Dalam institusi / keluarga
·         Di tempat kerja
·         Di jalan
·         Di medan perang





Akibat perlakuan salah pada anak
1.      Akibat pada fisik anak
·         Lecet, hematom, luka bekas gigitan, luka bakar, patah tulang, perdarahan retina akibat dari adanya subdural hematom, dan adanya kerusakan organ dalam lainnya.
·         Sekuele/cacat sebagai akibat trauma, misalnya jaringan parut, kerusakan saraf, gangguan pendengaran, kerusakan mata, dan cacat lainnya.
·         Kematian
Di Amerika diperkirakan 1000 anak tiap tahunnya meninggal akibat perlakuan salah dari orang tuanya atau orang yang mengasuhnya. 1 dari 1000 anak tiap tahunnya mengalami perlakuan fisik yang mematikan dengan menggunakan pisau atau pistol.
2.      Akibat pada tumbuh kembang anak
·         Pertumbuhan fisik anak pada umumnya kurang dari anak-anak sebayanya yang tidak mendapat perlakuan salah. Tetapi tidak ada perbedaan yang spesifik dalam tinggi badan dan berat badan dengn anak yang normal.
·         Perkembangan kejiwaan juga mengalami gangguan yaitu :
a.    Kecerdasan
Terdapat keterlambatan dalam perkembangan kognitif, bahasa, membaca dan motorik. Retardasi mental dapat diakibatkan trauma langsung pada kepala, juga karena malnutrisi. Pada beberapa kasus keterlambatan ini diperkuat oleh lingkungan anak, dimana tidak adanya stimulasi yang adekuat atau karena gangguan emosi.
b.    Emosi
Untuk mengetahui akibat emosional pada anak yang mendapat perlakuan salah, perlu anamnesis yang lengkap dari keluarga, termasuk informasi berapa orang dewasa yang ada dirumah, bagaimana hubungan masing-masing dengan anak tersebut, rencana perawatan anak, kejadian terakhir yang menimpa orang tua yang memelihara anak tersebut.
Terdapat gangguan emosi pada perkembangan konsep diri yang positif, dalam mengatasi sifat agresif, perkembangan hubungan sosial dengan orang lain, termasuk kemampuan untuk percaya diri.
Terjadi pseudomaturitas emosi. Beberapa anak menjadi agresif atau bermusuhan dengan orang dewasa, sedang yang lainnya menjadi menarik diri / menjauhi pergaulan. Anak suka ngompol, hiperaktif, perilaku aneh, kesulitan belajar, gagal sekolah, sulit tidur, temperamen dan sebagainya.
c.    Konsep diri
Anak yang mendapat perlakuan salah merasa dirinya jelek, tidak dicintai, tidak dikehendaki, muram dan tidak bahagia, tidak mampu menyenangi aktivitas dan bahkan ada yang sampai bunuh diri.
d.    Agresif
Anak yang mendapat perlakuan salah secara badani, lebih agresif terhadap teman sebayanya. Sering tindakan agresif tersebut meniru tindakan orang tua mereka atau mengalihkan perasaan agresif kepada teman sebayanya sebagai hasil miskinnya konsep diri.
e.    Hubungan sosial
Pada anak ini sering kurang dapat bergaul dengan teman sebayanya atau dengan orang dewasa. Mereka mempunyai sedikit teman, dan suka mengganggu orang dewasa. Misalnya melempar batu, atau perbuatan-perbuatan kriminal lainnya.

3.      Akibat dari penganiayaan seksual
Tanda-tanda penganiayaan seksual antara lain adalah :
·         Tanda akibat trauma atau infeksi lokal, misalnya nyeri perineal, sekret vagina, nyeri dan perdarahan anus.
·         Tanda gangguan emosi, misalnya konsentrasi berkurang, enuresis, enkopresis, anoreksia, atau perubahan tingkah laku.
·         Tingkah laku atau pengetahuan seksual anak yang tidak sesuai dengan umurnya. Pemeriksaan alat kelamin dilakukan dengan memperhatikan vulva, himen dan anus anak.
4.      Sindrom Munchausen
Gambaran sindrom ini terdiri dari gejala :
·         Gejala yang tidak biasa / tidak spesifik
·         Gejala terlihat hanya kalau ada orang tuanya
·         Cara pengobatan oleh orang tuanya yang luar biasa
·         Tingkah laku orang tua yang berlebihan
·         Adanya penyakit yang sama tetapi tidak biasa pada saudara atau orang tuanya.
5.      Akibat lain dari perlakuan salah tersebut, anak akan melakukan hal yang sama dikemudian hari terhadap anaknya.

Penatalaksanaan perlakuan salah pada anak adalah secara khusus ditujukan untuk menyelamatkan anak dan secara umum untuk mencegah terulangnya kembali perlakuan salah tersebut.
Anak yang mengalami lesi pada susunan saraf pusat yang berulang dapat mengakibatkan retardasi mental, sindrom otak organik, kejang, hidrosefalus, atau ataksia. Akibat itu perlakuan salah tersebut dapat mengakibatkan usaha bunuh diri pada usai remaja, peminum alkohol, pengisap rokok, pecandu obat-obatan. Sedangkan yang riwat dengan perlakuanseksual yang salah, sering terlibat prostitusi atau untuk usaha bunuh diri. Pada anak gagal tumbuh, dapat terjadi kematian akiat dari kelaparan.
Dengan penatalaksanaan secara multidisiplin, maka sebagian besar keluarga yang terlibat perlakuan salah tersebut dapat direhabilitasi untuk memberikan perawatan yang baik pada anaknya. Hanya sebagian kecil yang masih diperlukan pengawasan sampai anak mencapai usia dewasa atau yang terpaksa diputuskan hak mengasuh anaknya dan anaknya ditempatkan di panti asuhan atau di keluarga lain.


Evaluasi
 1. Sebutkan dan jelaskan apa saja sih dua perilaku yang salah pada anak?
a.    Dalam keluarga
·         Penganiayaan fisik
·         Kelalaian / penelantaran anak
·         Penganiayaan emosional
·         Penganiayaan seksual
·         Sindrom Munchausen
b.    Diluar keluarga :
·         Dalam institusi / keluarga
·         Di tempat kerja
·         Di jalan
·         Di medan perang
2.  Gangguan apa saja yang disebabkan oleh perkembangan kejiwaan ?
a.    Kecerdasan
b.    Emosi
c.    Konsep diri
d.    Agresif
e.    Hubungan sosial






DAFTAR PUSTAKA

Dr. Soetjiningsih,SpAK.Tumbuh Kembang Anak : Buku  Kedokteran, jakarta 24 januari, 1994

AUTIS

Autis

PENDAHULUAN
Dari waktu ke waktu jumlah penyandang spektrum autisme tampaknya semakin meningkat pesat. Autisme seolah-olah mewabah ke berbagai belahan dunia. Di beberapa negara terdapat kenaikan angka kejadian penderita Autisme yang cukup tajam. Jumlah tersebut di atas sangat mengkhawatirkan mengingat sampai saat ini penyebab autisme masih misterius dan menjadi bahan perdebatan diantara para pakar kesehatan di dunia. Di Amerika Serikat disebutkan autisme terjadi pada 60.000 s/d 15.000 anak dibawah 15 tahun. Kepustakaan lain menyebutkan angka kejadian autisme 10-20 kasus dalam 10.000 orang, bahkan ada yang mengatakan 1 diantara 1000 anak.
Sementara di Inggris sendiri disebutkan rasionya yaitu 1:100. Dari data yang sudah muncul di beberapa media terlihat semakin lama semakin tinggi orang dengan autisme. Autisme bukan penyakit jadi jangan disebut penderita atau penyandang karena memang disandang seumur hidup. Autisme adalah suatu gangguan perkembangan. Bedanya dengan penyakit adalah kalau penyakit ada virusnya, ada kumannya, ada jamurnya. Sedangkan autisme tidak ada. Jadi tidak ada obatnya juga.

MATERI PENYULUHAN

Kenali Gejala Autis Sedini Mungkin
beberapa pengertian autisme :
  1. Autisme adalah gangguan perkembangan pervasif pada anak yang ditandai dengan adanya gangguan dan keterlambatan dalam bidang kognitif, bahasa, perilaku, komunikasi dan interaksi sosial.
  2. Autisma berasal dari kata auto yang berarti sendiri. Kelainan perkembangan yang luas dan berat, dan mempengaruhi anak secara mendalam. Gangguan tersebut mencakup bidang interaksi sosial , komunikasi , dan perilaku. (masih dalam postingan)
  3. autisme adalah suatu gangguan yang menyangkut banyak aspek perkembangan yang bila dikelompokkan akan menyangkut tiga aspek yaitu perkembangan fungsi bahasa, aspek fungsi sosial, dan perilaku repetitif. Karena gambaran autisme begitu beragam dan setiap saat seorang anak akan senantiasa mengalami perkembangan, maka penegakan diagnosa tidak bisa begitu saja, sebab bisa saja kemudian diagnosa menjadi berubah-ubah dari waktu ke waktu.

Penyebab Autis
            Penyebab autis belum diketahui secara pasti. Beberapa ahli menyebutkan autis disebabkan   oleh  :
-  karena multifaktorial.
- Beberapa peneliti mengungkapkan terdapat gangguan biokimia.
-  Ahli lain berpendapat bahwa autisme disebabkan oleh gangguan psikiatri/jiwa.
- Ahli lainnya berpendapat bahwa autisme disebabkan oleh karena kombinasi makanan yang salah atau lingkungan yang terkontaminasi zat-zat beracun yang mengakibatkan kerusakan pada usus besar yang mengakibatkan masalah dalam tingkah laku dan fisik termasuk autis.
.
Gejala-gejala Autis
Gejala autisme
Sejumlah gejala biasanya diperlihatkan oleh anak yang menderita autisme.
1. Gangguan dalam bidang komunikasi verbal maupun nonverbal, seperti:
- Terlambat bicara atau tidak dapat bicara.
- Mengeluarkan kata-kata yang tidak dapat dimengerti orang lain.
- Tidak mengerti dan tidak mengeluarkan kata-kata dalam konteks yang sesuai.
- Bicara tidak digunakan untuk komunikasi.
- Meniru atau membeo (ekolalia). Beberapa anak sangat pandai menirukan nyanyian, nada maupun kata-katanya, tanpa mengerti artinya.
2. Gangguan dalam bidang interaksi sosial, misalnya:
- Menolak atau menghindar untuk bertatap mata.
- Tidak menoleh bila dipanggil.
- Merasa tidak senang dan menolak untuk dipeluk.
- Tidak ada usaha untuk melakukan interaksi dengan orang lain.
- Bila ingin sesuatu ia menarik tangan orang lain yang terdekat dan mengharapkan tangan orang itu membantu melakukan sesuatu untuknya.
- Bila didekati untuk bermain justru menjauh.
- Tidak berbagi kesenangan untuk orang lain.
3. Gangguan dalam bidang perilaku dan bermain:
- Ia seolah tidak mengerti cara bermain. Bila sudah senang dengan satu mainan tidak mau mainan yang lain dan cara bermainnya juga aneh. Yang paling sering adalah keterpakuan pada roda atau sesuatu yang berputar.
- Ia sering juga memerhatikan jari-jarinya sendiri, kipas angin yang berputar atau air yang bergerak. Perilaku yang ritualistik sering terjadi, misalnya kalau bepergian harus melalui rute tertentu, saat bermain harus melakukan urutan-urutan tertentu.
- Anak dapat terlihat hiperaktif sekali, misalnya tidak bisa diam, lari ke sana sini tidak terarah, melompat-lompat, berputar-putar, memukul-mukul pintu atau meja, mengulang-ulang suatu gerakan tertentu. Kadang-kadang terlihat perilaku melukai diri sendiri, anak memukul kepala sendiri atau membenturkan kepala ke dinding.
- Kadang anak terlalu diam, misalnya duduk diam bengong dengan tatapan mata yang kosong, bermain secara monoton dan kurang variatif secara berulang-ulang, duduk diam terpukau oleh suatu hal, misalnya bayangan atau benda berputar.
4. Gangguan dalam bidang perasaan/emosi:
- Tidak ada atau kurangnya rasa empati.
Ia tak kasihan melihat anak lain menangis melainkan merasa terganggu.
- Tertawa-tawa sendiri, menangis atau marah-marah tanpa sebab yang nyata.
- Sering mengamuk tak terkendali (temper tantrum), terutama bila tidak mendapat yang diinginkannya, bahkan bisa menjadi agresif dan destruktif.
5. Gangguan dalam persepsi sensoris:
- Mencium-cium, menggigit atau menjilati benda apa saja.
- Bila mendengar suara keras langsung menutup telinga.
- Tidak menyukai rabaan atau pelukan. Jika digendong cenderung merosot atau melepaskan diri dari pelukan.
- Merasakan sangat tidak nyaman bila memakai pakaian dari bahan tertentu.
Penanganan pada Anak Autis
Penanganan
Untuk menangani anak autisme dilakukan melalui pendekatan terapi terkini dengan memaksimalkan potensi dasar anak melalui peran orang tua dan pendidikan yang bersifat multidisiplin. Pendidikan ini mencakup pendidikan khusus, intervensi tingkah laku dan terapi yang bersifat spesifik.
Terapi terkini untuk menangani anak autisme (Mauk JE, Reger M., Batshaw M., 2000), terdiri atas:
a. Program edukasi seperti program berbasis sekolah, prevocational services. Diharapkan hal itu dapat mengurangi tingkah laku stereotypic, memperbaiki sosialisasi, meningkatkan keterampilan mandiri, meningkatkan kemampuan komunikasi verbal/nonverbal.
b. Terapi tingkah laku mencakup upaya meningkatkan tingkah laku positif, termasuk kontak mata, komunikasi verbal dan interaksi sosial. Awalnya upaya ini digunakan untuk mengurangi tingkah laku negatif seperti self injured.
c. Terapi berbicara dan bahasa. Dilakukan agar anak dapat berkomunikasi, meski secara nonverbal jika anak tidak mampu mengeluarkan kata-kata.
d. Dukungan keluarga
Dilakukan untuk membantu anggota keluarga agar mengerti dan paham tentang autisme. Keluarga diharapkan memahami kekhususan tingkah laku dan perkembangan anaknya, keterbatasan dan keunggulan anaknya serta metode yang paling tepat bagi anaknya untuk meningkatkan kemampuan belajar adaptifnya.
e. Terapi psikofarmakologis
Meski bukan merupakan terapi utama, berguna untuk terapi tambahan pada gejala tertentu, seperti menyakiti diri sendiri, stereotypic, anxious (gelisah) atau hiperaktif.
Pendekatan F.I.T (functional integrated team approach)
- Functional
Memberi perhatian pada keterampilan yang dapat menunjang kehidupan sehari-hari, sesuai aktivitas berdasarkan umur, tingkat kemampuan dan keterampilan yang dibutuhkan oleh anak.- Integrated
Menggabungkan semua aspek yang tercakup pada kurikulum. Tujuannya untuk menunjang perkembangan optimal anak.
- Team approached
Memberi penekanan pada kerja sama antara berbagai pihak yang menjadi kunci keberhasilan penanganan anak dengan kebutuhan khusus. Kerja sama ini penting untuk menjamin keberhasilan dan konsistensi pelayanan. Pihak-pihak yang terkait terdiri atas dokter ahli saraf anak, dokter ahli rehabilitasi medik, psikolog anak, pendidik, terapis, orang tua anak, pengasuh anak dan masyarakat luas.
Penanganan autisme di masyarakat akan memperoleh hasil yang nyata bila didukung oleh peran aktif dari pemerintah dan pihak swasta untuk memfasilitasi semua hal yang berkaitan dengan kemajuan pendidikan dan terapi. (Dr. H. Purboyo Solek, Sp.A.(K), Konsultan Saraf Anak FKUP/RSHS Bandung, Santosa Bandung International Hospital.
Terapi pada Anak Autis
Orang tua dari seorang anak yang menderita autis umumnya rela membayar berapapun asalkan anaknya bisa disembuhkan. Namun seringkali sangat sulit untuk menemukan terapi yang tepat untuk menyembuhkan atau paling tidak meringankan beban orang tua dan anak penderita autis.

Autisme masih menjadi misteri yang belum terpecahkan sepenuhnya oleh kedokteran. Para pakar belum sepakat soal penyebab penyakit ini. Namun, sebagian pakar setuju bahwa sindrom autis terjadi karena kelainan pada otak.

Hingga kini, bisa tidaknya autis autis disembuhkan (total) juga masih menjadi pertentangan dalam dunia kedokteran dan psikologi. Namun, orang tua hendaknya harus mencoba berbagai terapi. Setidaknya dengan terapi keadaan si anak lebih baik.

Saat ini, ada berbagai terapi autis, baik yang diakui oleh dunia medis maupun yang masih bedasarkan disiplin ilmu tradisional. Macam-macam terapi autis diantaranya:
  1. Terapi akupunktur. Metode tusuk jarum ini diharapkan bisa menstimulasi sistem saraf pada otak hingga dapat bekerja kembali.
  2. Terapi musik. Lewat terapi ini, musik diharapkan memberikan getaran gelombang yang akan berpengaruh terhadap permukaan membran otak. Secara tak langsung, itu akan turut memperbaiki kondisi fisiologis. Harapannya, fungsi indera pendengaran menjadi hidup sekaligus merangsang kemampuan berbicara.
  3. Terapi balur. Banyak yang yakin autisme disebabkan oleh tingginya zat merkuri pada tubuh penderita. Nah, terapi balur ini bertujuan mengurangi kadar merkuri dalam tubuh penyandang autis. Caranya, menggunakan cuka aren campur bawang yang dilulurkan lewat kulit. Tujuannya melakukan detoksifikasi gas merkuri.
  4. Terapi perilaku. Tujuannya, agar sang anak memfokuskan perhatian dan bersosialisasi dengan lingkungannya. Caranya dengan membuat si anak melakukan berbagai kegiatan seperti mengambil benda yang ada di sekitarnya.
  5. Terapi anggota keluarga. Orangtua harus mendampingi dan memberi perhatian penuh pada sang anak hingga terbentuk ikatan emosional yang kuat. Umumnya, terapi ini merupakan terapi pendukung yang wajib dilakukan untuk semua jenis terapi lain
  6. Dan terakhir, adalah terapi lumba-lumba. Telah diketahui oleh dunia medis bahwa di tubuh lumba-lumba teerkandung potensi yang bisa menyelaraskan kerja saraf motorik dan sensorik pendeerita autis. Sebab lumba-lumba mempunyai gelomba sonar (gelombang suara dengan frewkuensi tertentu) yang dapat merangsang otak manusia untuk memproduksi energi yang ada dalam tulang tengkorak, dada, dan tulang belakang pasien sehingga dapat membentuk keseimbangan antara otak kanan dan kiri. Selain itu, gelombang suara dari lumba-lumba juga dapat meningkatkan neurotransmitter.













EVALUASI
1.      Apa yang di maksud dengan autis?
Autisme adalah gangguan perkembangan pervasif pada anak yang ditandai dengan adanya gangguan dan keterlambatan dalam bidang kognitif, bahasa, perilaku, komunikasi dan interaksi sosial.

2.      Apa saja penyebab autis?
Penyebab autis belum diketahui secara pasti,tapi ada beberapa pendapat yang mengatakan  :
-  karena multifaktorial.
- Beberapa peneliti mengungkapkan terdapat gangguan biokimia.
-  Ahli lain berpendapat bahwa autisme disebabkan oleh gangguan psikiatri/jiwa.
- Ahli lainnya berpendapat bahwa autisme disebabkan oleh karena kombinasi makanan yang salah atau lingkungan yang terkontaminasi zat-zat beracun yang mengakibatkan kerusakan pada usus besar yang mengakibatkan masalah dalam tingkah laku dan fisik termasuk autis.

3.      Gejala-gejala yang perlu diketahui pada anak autis  ?
1. Gangguan dalam bidang komunikasi verbal maupun nonverbal
2. Gangguan dalam bidang interaksi social
3. Gangguan dalam bidang perilaku dan bermain
4. Gangguan dalam bidang perasaan/emosi
5. Gangguan dalam persepsi sensoris

4.      Terapi apa saja yang dapat membantu penyembuhan pada anak autis ?
    • Terapi akupunktur.
    • Terapi musik.
    • Terapi balur.

    • Terapi perilaku.
    • Terapi anggota keluarga.
    • Terapi lumba-lumba.


5.      Bagaimana cara Penanganan pada Autis?
·         Program edukasi seperti program berbasis sekolah, prevocational services.
·         Terapi tingkah laku mencakup upaya meningkatkan tingkah laku positif, termasuk kontak mata, komunikasi verbal dan interaksi sosial.
·         Terapi berbicara dan bahasa. Dilakukan agar anak dapat berkomunikasi, meski secara nonverbal jika anak tidak mampu mengeluarkan kata-kata.
·         Dukungan keluarga
Terapi psikofarmakologis