Kamis, 09 Agustus 2012

IMUNISASI DASAR


IMUNISASI DASAR
Syafrudin, SKM, M.Kes.

I. PENDAHULUAN
Dibandingkan dengan 10 tahun lalu, cakupan beberapa imunisasi rutin yang wajib diberikan sesuai program pemerintah cenderung menurun. Hal ini mengakibatkan sejumlah penyakit infeksi pada bayi, seperti campak, belum teratasi dan masih mengancam bayi yang tidak diimunisasi.
Sejumlah daerah belum optimal melakukan imunisasi, dengan cakupan kurang dari 90 persen pada tahun 2008. Untuk imunisasi campak di Papua baru tercakup 60,7 persen, Sulawesi Barat 77,6 persen, dan Nusa Tenggara Timur 74,2 persen. Campak merupakan penyakit yang ditandai oleh demam tinggi dan adanya bintik-bintik merah. Penyakit ini di dunia membunuh satu dari 1.000 kasus infeksi.

Tidak tercapainya target imunisasi hingga mencakup semua bayi, di beberapa daerah, antara lain disebabkan pemahaman masyarakat yang masih terbatas bahkan keliru terhadap imunisasi, terutama di perkotaan. Adapun di pedesaan karena minimnya infrastruktur dan rendahnya cara hidup sehat.

”Keberhasilan program imunisasi sangat tergantung dari kesiapan petugas kesehatan, tingkat kesadaran masyarakat, dan alat untuk menjamin efektivitas vaksin,” kata Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan Tjandra Yoga Aditama, Sabtu (5/9) di Jakarta.



Lima imunisasi wajib
Upaya imunisasi di Indonesia telah dilakukan sejak tahun 1970-an pada bayi dan anak. Sesuai program imunisasi pemerintah, ada lima jenis imunisasi yang wajib diberikan kepada bayi usia 0-11 bulan, yaitu polio, BCG, hepatitis B, DPT, dan campak.
Adapun imunisasi yang dianjurkan adalah MMR, Hib, tifoid, hepatitis A, varisela, PPV, dan pneumokokus (IPD).

Beberapa manfaat imunisasi yang wajib diberikan itu antara lain vaksin hepatitis B mencegah infeksi hepatitis B, vaksin BCG untuk menghindari tuberkulosis berat, vaksin DPT untuk mencegah difteri, batuk rejan (pertusis) dan tetanus. Adapun vaksin polio untuk menghindari penyakit polio.

Namun, cakupan imunisasi yang wajib diberikan itu menurun beberapa tahun terakhir dibandingkan dengan 10 tahun lalu. Sebagai contoh, cakupan imunisasi DPT tahun 1997 secara nasional mencapai 100 persen atau lebih, sedangkan tahun 2008 cakupannya turun menjadi 91,6 persen. Dengan sasaran imunisasi pada bayi sekitar 5 juta anak, ini berarti ada sekitar 420.000 bayi tidak mendapat vaksin DPT.

Kondisi ini menyebabkan sejumlah penyakit infeksi pada anak balita belum bisa diatasi hingga tak ada lagi kasus. Sebagai contoh, angka kasus campak tahun 2007 berjumlah 18.488 orang. Polio muncul tahun 2005 setelah tidak ditemukan sejak tahun 1995 meski berhasil dieliminasi setelah imunisasi nasional.

Mencegah infeksi
Imunisasi merupakan hal mendasar untuk diberikan kepada setiap anak. ”Masa depan bangsa ditentukan anak saat ini. Karena itu, salah satu sasaran Millennium Development Goals 2015 adalah menurunkan angka kematian bayi dan anak balita, membasmi berbagai penyakit infeksi,” kata Ketua Umum Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Bagriul Hegar.

Sejauh ini, kematian anak di bawah usia satu tahun di Indonesia sangat tinggi. Menurut Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia, angka kematian bayi tahun 2007 adalah 34 per 1.000 kelahiran hidup. ”Angka kematian bayi di Indonesia tertinggi di antara negara ASEAN,” ujar Sri Rezeki S Hadinegoro, Ketua Satuan Tugas Imunisasi IDAI.
Sekitar 75 persen dari kematian bayi di bawah umur 1 tahun karena infeksi saluran napas akut (ISPA), komplikasi perinatal (bayi umur 0-28 hari), dan diare. Karena itu, upaya mengatasi ketiga penyebab utama kesakitan dan kematian itu harus diutamakan. Banyak penyakit terkait ISPA bisa dicegah dengan imunisasi, antara lain campak, pertusis, Hib, dan pneumokokus.
Imunisasi juga mencegah penyakit di masa depan. Sebagai contoh, hepatitis B pada bayi bisa mencegah kanker hati pada usia produktif. Karena 90 persen bayi yang dilahirkan ibu dengan infeksi hepatitis B akan terinfeksi virus itu, 95 persen di antaranya berkembang menjadi kronik dan kanker hati.

”Pemberian vaksin dapat melindungi anak dari serangan berbagai penyakit infeksi yang bisa menyebabkan kematian dan kecacatan. Imunisasi merangsang sistem imunologi tubuh untuk membentuk antibodi spesifik sehingga dapat melindungi tubuh dari serangan penyakit,” kata Sri Rezeki.
Keuntungan vaksin dapat dirasakan secara individu, sosial, dan menunjang sistem kesehatan nasional. Jika seorang anak telah mendapat vaksinasi, 80-95 persen akan terhindar dari penyakit itu. Hal ini memutus rantai penularan penyakit dari anak ke anak lain atau orang dewasa yang hidup bersama, menurunkan biaya pengobatan dan perawatan di rumah sakit, mencegah kematian dan kecacatan seumur hidup.



Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari mengatakan, pemerintah terus melakukan kegiatan vaksinasi. ”Itu terus berlanjut di seluruh Indonesia,” katanya.
Mengenai adanya kelompok dalam masyarakat yang menolak imunisasi, Menkes menyatakan, penolakan memang pernah terjadi, tetapi sekarang ini sudah jauh berkurang. ”Saya lakukan pendekatan kepada mereka selama dua tahun,” kata Menkes.

Menkes menyatakan, empat vaksin wajib seperti polio, DPT, campak, dan BCG adalah produksi dalam negeri. Karena itu, saat melakukan pendekatan kepada kelompok-kelompok yang menolak vaksin tersebut, ia menjelaskan bahwa keempat vaksin diproduksi oleh Bio Farma. Bio Farma sudah mengekspor vaksin produksinya dan sudah menguasai 35 persen pasar dunia.
Tjandra Yoga menyatakan, cakupan imunisasi tidak menurun, tetapi berfluktuasi dari tahun ke tahun. Pada hepatitis B, penurunan cakupan imunisasi tahun 2007 terjadi karena perubahan kebijakan, yaitu menggabungkan DPT dan hepatitis B apabila bayi sudah berusia di atas tujuh hari.
Keberhasilan imunisasi rutin bergantung pada petugas kesehatan, kesadaran masyarakat, dan alat penyimpan vaksin. Sejak desentralisasi sektor kesehatan, dana operasional imunisasi dilimpahkan ke daerah, pemerintah pusat bertanggung jawab atas pengadaan dan distribusi logistik vaksin ke semua provinsi.
Dalam menjalankan program imunisasi rutin, kendala yang dihadapi adalah banyak posyandu yang tidak aktif lagi di banyak daerah. Karena itu, revitalisasi posyandu mulai dilakukan agar bayi terpantau kesehatannya dan mendapat imunisasi lengkap.



Imunisasi adalah upaya memberikan kekebalan aktif kepada seseorang dengan cara memberikan vaksin dengan imunisasi, seseorang akan memiliki kekebalan terhadap penyakit. sebaliknya, bila tidak, akan mudah terkena penyakit infeksi berbahaya.
1.   MACAM MACAM IMUNISASI
-BCG diberikan  1 kali            (pada usia 1 bulan)
-DPT diberikan 3 kali (pada usia 2,3,dan 4 bulan)
-Polio diberikan 4 kali (pada usia 1,2,3, dan 4 bulan)
-Campak diberikan 1 kali (pada usia 9 bulan)
-Hepatitis B diberikan 1 kali (pada usia 0-7 hari)
Jadwal Pemberian Imunisasi
No
Jenis Vaksin
Jumlah Vaksinasi
Selang Waktu Pemberian
Sasaran
1
BCG
1 kali
-
Bayi 0-11 bulan
2
DPT-Hb
3 kali (DPT-Hb 1,2,3)
4 minggu
Bayi 2-11 bulan
3
Polio
4 kali (Polio 1,2,3,4)
4 minggu
Bayi 0-11 bulan
4
Campak
1 kali
-
Anak 9-11 bulan

2.      Tujuan imunisasi
Untuk memberikan kekebalan kepada bayi agar dapat mencegah penyakit dan kematian bayi serta anak yang disebabkan oleh penyakit yang sering berjangkit.
  • Penyakit yang Dapat di Cegah Dengan Imunisasi
a.    TBC
Untuk mencegah timbulnya tuberkolosis (TBC) dapat dilakukan imunisasi BCG. Imunisasi BCG adalah singkatan dari Basillus Calmatto Guenin. Imunisasi BCG diberikan pada semua bayi baru lahir sampai usia kurang dari dua bulan. Penyuntikan biasanya dilakukan dibagian atas lengan kanan (region deltoid) dengan dosis 0,05 ml reaksi yang mungkin timbul setelah penyuntikan adalah :
Kemerah-merahan disekitar suntikan, dapat timbul luka yang lama sembuh di daerah suntikan, dan terjadi pembengkakan di kelenjar sekitar daerah suntikan (biasanya di daerah ketiak).
Bila terjadi hal tersebut di atas yang penting adalah menjaga kebersihan terutama daerah sekitar luka dan segera bawa ke dokter.
b.    Difteri, Pertusis dan Tetanus
Penderita difteri, pertusis, dan tetanus ini bila tidak segera mendapat pertolongan yang memadai maka berakibat fatal. Imunisasi DPT dimaksudkan untuk mencegah ketiga penyakit tersebut di atas. Imunisasi dasar diberikan tiga kali, pertama kali bersama dengan BCG dan polio, kemudian berturut-turut dua kali dengan jarak masing-masing 4 minggu (1 bulan). Imunisasi ulangan dapat dilakukan 1 tahun setelah imunisasi ketiga dan pada saat usia masuk sekolah dasar (5-6 tahun). Imunisasi selanjutnya dianjurkan tiap lima tahun dengan imunisasi DT (tanpa pertusis).
c.    Poliomyelitis
Penderita poliomyelitis apabila terhindar dari kematian banyak yang menderita kecacatan sehingga imunisasi sebagai usaha pencegahan sangat dianjurkan.
Imunisasi polio di Indonesia dilakukan dengan cara meneteskan vaksin sebanyak 2 tetes di mulut. Pertama kali diberikan bersama BCG dan DPT pertama pada usia dua bulan. Kemudian diulang dengan jarak 4 minggu sebanyak 4 kali. Imunisasi ulangan dilakukan satu tahun, setelah imunisasi dasar ke-4 dan saat masuk SD (6-7 tahun). Imunisasi tambahan dapat diberikan apabila ada resiko kontak dengan virus ganas.
d.    Hepatitis B
Pencegahan dapat dilakukan dengan cara vaksin hepatitis B yang dipakai untuk program pemerintah di Indonesia adalah vaksin buatan Korean Green Cross yang dibuat dari plasma darah penderita hepatitis B. Jadwal imunisasi yang dianjurkan adalah untuk bayi baru lahir (0 – 7 bulan) dengan satu kali suntikan dosis 0,5 ml satu bulan kemudian mendapat satu kali lagi. Setelah itu, imunisasi ketiga diberikan pada saat bayi berusia 6 bulan, mengenai waktu pemberian suntikan yang ketiga ada beberapa pendapat. Untuk pelaksanaan program diberikan 1 bulan setelah suntikan kedua. Hal ini semata-mata untuk kemudahan dalam pelaksanaan, tetapi kekebalan yang didapat tidaklah berbeda. Imunisasi hepatitis B ulangan dilakukan setiap 5 tahun sekali.
e.    Campak
Pencegahan penyakit campak dapat dilakukan melalui imunisasi. Imunisasi campak dilakukan ketika bayi berumur sekitar 9 bulan. Imunisasi campak hanya dilakukan satu kali dan kekebalannya bisa berlangsung seumur hidup. Imunisasi campak bisa diberikan sendiri atau bersama dalam imunisasi
  • Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI)
KIPI adalah kejadian sakit yang mungkin timbul setelah imunisasi. kejadian ini umumnya terjadi dalam masa satu bulan setelah imunisasi.
BCG = setelah 2 minggu akan terjadi pembengkakan kecil dan merah di tempat suntikan. setelah 2-3 minggu kemudian pembengkakan menjadi abses kecil yang menjadi luka dengan garis tengah sekitar 10 mm. jangan diberi obat apapun, dan biarkan luka tetap terbuka. luka tersebut akan sembuh dengan sendirinya dan meninggalkan parut yang kecil.
DPT = kadang-kadang bayi menderita panas setelah mendapat vaksin ini. tetapi panas ini umumnya akan sembuh dalam 1-2 hari. sebagian bayi merasa nyeri, sakit, merah atau bengkak di tempat suntikan. sedangkan sebagian bayi lainnya tidak. keadaan ini tidak berbahaya dan tidak perlu pengobatan, akan sembuh sendiri.
Polio
1.    Sangat jarang; bila terjadi kelumpuhan ekstremitas segera konsul,
2.    Diare,
3.    Dehidrasi (tergantung derajat diare, biasanya hanya diare ringan).
Campak = anak mungkin panas pada hari ke 5-12 sesudah suntikan. kadang2 disertai kemerahan pada kulit seperti campak. hal ini adalah gejala penyakit campak ringan dan umumnya setelah 1-2 hari akan hilang.
Hepatitis B = tidak ada efek samping
  • Yang Perlu ibu lakukan bila anak demam setelah di imunisasi :
1. lebih sering meneteki (ASI) dari biasanya, untuk menjamin bayi/anak menerima cukup zat cair.jika bayi berusia lebih dari 6 bulan boleh diberi tambahan air minum.
2. memberikan obat penurun panas dengan dosis sesuai anjuran dokter.
3. mengompres dahi bayi dengan menggunakan kain yang dibasahi air hangat.
4. membawa bayi ke dokter atau layanan kesehatan jika demam berlanjut.

BOUNDING ATTACHMENT


BOUNDING ATTACHMENT
Syafrudin, SKM, M.Kes.

Latar Belakang
         Seorang bayi baru lahir, mempunyi kemampuan yang banyak misalnya dapat mencium, merasa, mendengar dan melihat. Kulit mereka sagat sensitive terhadap suhu dan sentuhan dan selama satu jam pertama setelah melahirkan, mereka sangat waspada dan siap untuk mampeljari dunia baru mereka. Adanya kontak kulit segera antara ibu dan bayi akan membantu agar bayi tetap dalam keadaan hangat. Sejalan dengan perkembanngan bulan – bulan pertamam kehidupan bayi dan ibunya saling mengadakan hubungan dan ikatan batin. Jika seorang ibu konsisten dalam responnya terhadap kebutuhan bayi dan mampu menafsirkan dengan tepat isyarat seorang bayi, perkembangan bayi akan terpacu dan terbentuknya ikatan batin yang kokoh. Keberhasilan dalam hubungan ikatan batin antara seorang bayi denngan ibunya dapat mempengaruhi hubungan sepanjang masa.


A.       PENGERTIAN BOUNDING ATTACHMENT
Secara harfiah kata Bounding dapat diartukan sebagai ikatan dan attachment adalah sentuhan.
Attachment adalah proses penggabungan berdasarkan cinta dan penerimaan yang tulus dari orang tua terhadap anaknya dan memberi dukungan asuhan dalam perawatannya.
Bounding adalah masa sensitive pada menit pertama dan beberapa jam setelah dan kelahiran dimana kontak ibu dan ayah ini akan menentukan tumbuh kembang anak menjadi optimal.
Selain pengertian tersebut bounding attachment dapat di artikan pula sebagai berikut :
1.      Bounding attachment  adalah interaksi orang tua dan bayi secara nyata baik fisik, emosi dan sensorik pada menit – menit dan jam – jam pertama segara setalah bayi lahir, ( Klause dan Kennel,1983 ).
2.      Bounding menurut Nelson ( 1986 ) adalah dimulainya interaksi emosi sensorik fisik antara ornag tua dan bayi segera setelah lahir, sedangkan Attachment adalah ikatan yang terjalin diantara individu meliputi pencurahan perhatian, hubunngan emosi dan fisik yang akrab.
3.      Menurut Bennet dan Brown ( 1999 ) pengertian Bounding adalah terjadinya hubungan orang tua dan bayi sejak awal kehidupan, sedangkan attachment adalah pencurahan kasih sayang diantara individu.
4.      Bounding Attachment adalah permulaan saling mengikat  antara orang-orang seperti antara orang tua dan anak pad pertemuan pertama, ( Brozelton dalam Bobak, 1995 ).
5.      Parmi ( 2000 ) mendefinisikan sebagai suatu usaha untuk memberikan kasih sayang dan suatu proses yang saling menrespon antara orang tua dan bayi lahir.
6.      Menurut Perry ( 2002 ) Bounding adalah proses  pembentukan attachment atau bangunan ikatan, dan Attachment adalah suatu ikatan khusus yang dikarakteristikkan denga kualitas – kualitas khusus yang terbentuk dalam hubungan orang tua dan bayi.
7.      Bounding Attachment yaitu suatu peningkatan hubungan kasih sayang dengan keterkaitan batin antara oranng tua dan bayi, ( subroto Cit Lestari, 2002 ).




B.       BOUNDING DAN ATTACHMENT DALAM PERKEMBANGAN ANAK
Kesuksesan bounding dan attachment antara ibu – anak selama periode awal masa anak ( usia 0 – 3 ), merupakan dasar untuk terbentuknya hubungan yang sehat bagi anak dalam kehidupan selanjutnya.
Bagi anak usia 0 – 6 bulan, kurang interaksi dengan ibunya dalam pembentukan ikatan akan menimbulkan penyimpangan pola perilaku seperti : menarik diri, menyakiti diri sendiri atau orang lain dan sebagainya. Jika keadaan ini tidak segera diatasi, maka akan memunculkan problem – problem perilaku pada tahap perkembangan selanjutkan.
Menurut Steel dan Pollack : Dalam parenting proses terdapat dua komponen yang mempengaruhi fungsi keibuan, dua komponen tersebut adalah :
1.       Keterampilan kognitif – motorik meliputi aktivitas perawatan anak seperti menyusui, menggendong, mengganti pakaian, memandikan dan melindungi dari bahaya.
2.       Keterampilan – afektif meliputi perilaku – perilaku kelembutan, perhatian dan kasih sayang yang dibutuhkan anak, disini emosional ibu memegang peranan yang sangat besar. Kedua komponen tersebut berpengaruh terhadap penyediaan lingkungan, dimana kebiasaan terhadap perawatan anak dipraktekkan.

C.       CARA MELAKUKAN BOUNDING ATTACHMENT
Salah satu cara melakukan bounding attachment adalah bayi yang baru lahir dikeringkan kemudian diberikan pada ibu, diletakkan diantara perut ibu dan dada ibu untuk didekap dan diberikan ASI  untuk pertama kali.
Respon – respon berikut merupakan respon yang terjadi antara ibu dan bayi sejak terjadi kontak awal hingga tahap perkembangan selanjutnya, yaitu :
1.       Touch ( sentuhan )
Sebuah penelitian menunjukan bahwa dalam kontak pertama antara ibu dan bayinya, terjadi perilaku menyentuuh tanpa kecuali pada ibu muda atau tua, primipara atau multipara, menikah atau tidak. Ibu memulai dengan sebuah ujung jarinya memeriksa bagian kepala dan ekstermitas bayinya. Dalam waktu singkat secara terbuka perabaan digunakan untuk membelai tubuh, dan mungkin bayi akan dipeluk dilengan ibu, gerakan dilanjutkan sebagai usapan lembut untuk menenangkan bayi, bayi akan merapat pada payudara ibu, menggenggam satu jari atau seuntai ranbut dan terjadilah ikatan antara keduanya.

2.       Eye to eye contact ( kotak mata )
Kesadaran untuk membuat kontak mata dilakkukan kemudian dengan segera, sebagian ibu berpendapat bahwa sesuatu dari bayinya terdapat kemiripan dengan dirinya dan mereka sangat dekat sekali. Kontak mata mempunyai efek yang erat terhadap perkembangan dimulainya hubungan dan rasa percaya sebagai faktor yang penting dalam hubungan manusia pada umumnya.

3.       Odor ( bau badan )
Perilaku lain antara ibu dan bayi yang sangat responsive adalah bau badan masing – masing diantara mereka. Para ibu berpendapat terhadap bau badan bayi saat lahir dan dicatat bahwa tiap anak mempunyai bau badan berasal darinya. Hal ini terjadi lebih awal, dimana bayi belajar secara cepat untuk mengenal bau badan ibunya dari dari air susu ibunya sendiri.

4.       Body warm ( kehangatan tubuh )
Ibu dan bayi tampak menikmati saat saling berbagi kehangatan tubuh masing-masing. Peneliti telah membutikkan bahwa bayi tidak kehilangan panas tubuhnya jika perlindungan yang layak diberikan, misalkan : jika di keletakkan diatas perut ibunya setelah lahir dan di keringkan segera. Bayi tampak nyaman bersentuhan dengan kehangatan tubuh ibunya.

5.       Voice ( suara )
Hal lain yang menarik perhatian adalah respon antara ibu – bayi yang berupa suara masing – masing. Yang dinantikan orang tua adalah tangisan pertama bayi. Dari tangisan tersebut, ibu menjadi tenang karena merasa bayinya baik-baik saja ( hidup ), dan selanjutnya dapat memulai tingkah laku mengenali suara masing – masing. Bayi akan terjaga saat orang tua berbicara  dengan suara yang tinggi dan menoleh kearah mereka.

6.       Entrainment ( logat )
Bayi yang baru lahir menemukan perubahan structur pembicaraan dari orang dewasa ( Condon dan Sander, 1974 ). Artinya bahwa bayi sudah berkembang yang ditentukan secara kultur dalam berbicara, jauh sebelum ia menggunakan bahasa dalam berkomunikasi. Dengan demikian terdapat salah satu yang akan lebih banyak dibawanya dalam memulai berbicara ( logat ).

7.       Biorhythmicity ( irama kehidupan)
Janin dalam rahim dapat dikatakan meyesuaikan diri dengan irama alamiah bayinya seperti halnya denyut jantung. Salah satu tugasnya setelah lahir, sehingga dicatat lebih awal adalah untuk menyatakan irama dirinya sendiri. Orang tua dapat mambantu proses ini dengan memberikan perawatan penuh kasih sayang secara konsisten dan dengan menggunakan tanda keadaan bahaya bayi untuk mengembangkan respon bayi dan interaksi sosial serta kesempatan untuk belajar.

D.       PERILAKU ORANG TUA YANG MEMPENGARUHI ADANYA IKATAN KASIH SAYANG
1.       Perilaku yang mendukung :
o   Menatap, mencari cirri khas anak
o   Kontak mata
o   Memberikan perhatian
o   Menganggap anak sebagai individu yang unik
o   Menganggap anak senagi anggota keluarga
o   Memberikan senyuman
o   Berbicara / bernyanyi
o   Menunjukkan kebanggaan pada anak
o   Mengajak anak pada setiap acara keluarga
o   Memahami perilaku anak dan memenuhi kebutuhan anak
o   Bereaksi positif terhadap perilaku anak

2.       Perilaku yang menghambat :
©      Menjauh dari anak, tidak memperdulikan kehadirannya, menghindar, menolak untuk menyentuh anak
©      Tidak menempatkan anak sebagai anggota keluarga yang lain, tidak memberikan nama
©      Menganggap anak sebagai sesuatu yang tidak disukainya
©      Tidak menggenggap jarinya
©      Terburu – buru dalam menyususui
©      Menunjukkan kekecewaan pada anak tidak berusaha untuk memenuhi segala kebutuhan anak

  
A.       KESIMPULAN
Bounding Attachment adalah proses penggabungan berdasarkan cinta, penerimaan yang tulus dari orang tua terhadap anaknya dan kontak antara bayi, ibu dan ayah yang akan menentukan tumbuh kembang anak menjadi optimal serta memberi dukungan asuhan dalam perawatannya. Salah satu cara melakukan bounding attachment adalah dengan cara meletakkan bayi baru lahir yang sudah dikeringkan diantara perut dan dada ibu untuk diberi ASI yang pertama kali. Respon yang terjadi antara ibu dan bayi sejak terjadi kontak awal hingga tahap perkembangan selanjutnya, yaitu : touch (sentuhan), eye to eye contact (kontak mata), odor (bau badan), body warm (kehangatan tubuh), voice (suara), entrainment (logat), biorhythmicity (irama kehidupan).

HIPOTERMI PADA BAYIDAN PENCEGAHANNYA
Syafrudin, SKM, M.Kes.

A.                HIPOTERMI

Suhu Tubuh Abnormal dalam hal ini rendah dapat disebabkan oleh karena terpapar dengan lingkungan yang dingin ( suhu lingkungan yang rendah, permukaan yang dingin atau basah)
Hipotermi dapat terjadi secara cepat pada bayi sangat kecil karena pada bayi kecil memiliki simpanan lemak yang sangat sedikit dalam tubuhnya atau bayi yang diresusuitasi atau dipisahkan dari ibu. Dalam kasus ini, suhu dapat cepat turun < 35 derajat celcius. Hipotermi juga mudah terjadi pada bayi yang tubuhnya dalam keadaan basah atau tidak segera dikeringkan dan diselimuti walaupun berada di dalam ruangan yang relatif hangat. Hipotermi merupakan salah satu dari sepsis. 

B.                 MEKANISME KEHILANGAN PANAS
Bayi baru lahir dapat kehilangan panas tubuhnya melalui cara-cara berikut :
*     Evaporasi adalah jalan utama bayi kehilangan panas. Kehilangan panas dapat terjadi karena penguapan cairan ketuban pada permukaan tubuh oleh panas tubuh bayi sendiri karena setelah lahir, tubuh bayi tidak segera dikeringkan dan diselimuti
*     Konduksi adalah kehilangan panas tubuh melalui kontak langsung antara tubuh bayi dengan permukaan yang dingin. Meja, tempat tidur atau timbangan yang temperaturnya lebih rendah  dari tubuh bayi akan menyerap panas tubuh bayi melalui mekanisme kondusi apabila bayi diletakkan diatas benda-benda tersebut.
*     Konveksi adalah kehilangan panas yang tejadi saat bayi terpapar udara sekitar yang lebih dingin. Bayi yang dilahirkan atau ditempatkan di dalam ruangan yang dingin akan cepat mengalami kehilangan panas. Kehilangan panas juga terjadi jika terjadi konveksi aliran udara dari kipas angain, hembusan udara melalui ventilasi atau pendingin ruangan.
*     Radiasi adalah kehilangan panas yang terjadi karena bayi ditempatkan di dekat benda-benda yang mempunyai suhu tubuh lebih rendah dari suhu tubuh bayi. Bayi bisa kehilangan panas dengan cara ini karena benda-benda tersebut menyerap radiasi panas tubuh bayi ( walaupun tidak bersentuhan secara langsung. ).

C.                MENCEGAH KEHILANGAN PANAS
Cegah terjadinya kehilangan panas melalui upaya sebagai berikut:
*     Keringkan bayi dengan seksama
Pastikan tubuh bayi dikeringkan segera lahir untuk mencegah kehilangan panas yang disebabkan oleh evaporasi cairan ketuban pada tubuh bayi. Keringkan bayi dengan handuk atau kain yang telah disiapkan di atas perut ibu. Mengeringkan dengan cara menyeka tubuh bayi, juga merupakan rangsangan taktil untuk membantu bayi memulai pernapasannya
*     Selimuti bayi dengan selimut atau kan bersih dan hangat
Segera setelah mengeringkan tubuh bayi dan memotong tali pusat, ganti handuk atau kain yang dibasahi oleh cairan ketuban kemudian selimuti tubuh bayi dengan selimut atau kain yang hangat, kering dan bersih. Ganti handuk, selimut atau kain yang basah telah diganti dengan selimut atau kan yang baru ( hangat, bersih, dan kering )
*     Selimuti bagian kepala bayi
Pastikan bagian kepala bayi ditutupi atau diselimuti setiap saat. Bagian kepala bayi memiliki luas permukaan yang relatif luas dan bayi akan dengan cepat kehilangan panas jika bagian tersebut tidak tertutup.

*     Anjurkan ibu untuk memeluk dan menyusui bayinya
Pelukan ibu pada tubuh bayi dapat menjaga kehangatan tubuh dan mencegah kehilangan panas. Anjurkan ibu untuk menyusukan bayinya segera setelah lahir. Sebaiknya pemberian asi harus dimulai pada satu jam pertama kelahiran
*     Jangan segera menimbang atau memandikan bayi baru lahir
Karena bayi baru lahir cepat dan mudah kehilangan panas tubuhnya ( terutama jika tidak berpakaian ), sebelum melakukan penimbangan terlebih dahulu selimuti bayi dengan kain atau selimut bersih dan kering. Berat badan bayi yang dinilai dari selisih berat bayi pada saat berpakaian dikurangi dengan berat pakaian. Bayi sebaiknya dimandikan sedikitnya enam jam setelah lahir. Memandikan bayi dalam beberapa jam pertama setelah lahir dapat menyebabkan hipotermia yang sangat membahayakan kesehatan bayi baru lahir
*     Tempatkan Bayi di lingkungan yang hangat
Tempatkan bayi di lingkungan yang hangat. Idealnya bayi baru lahir ditempatkan di tempat tidur yang sama dengan ibunya di tempat tidur yang sama. Menempatkan bayi bersama ibunya adalah cara yang paling mudah untuk menjaga agar bayi tetap hangat, mendorong ibu segera menyusukan bayinya dan mencegah paparan infeksi pada bayi

D.                JENIS-JENIS HIPOTERMI
Menurut suhunya Hipotermi dibagi menjadi 2 bagian yaitu :
*     Hipotermi Berat
Suhu bayi mencapai < 35 derajat Celcius karena bayi terpapar oleh suhu lingkungan yang rendah, waktu timbulnya kurang dari 2 hari. Tanda-tanda dari hipotermi berat adalah Bayi mengalami gangguan nafas bahkan sudah pelan dan dalam, Denyut Jantung kurang dari 100 kali/ menit, malas minum, letargi, kulit teraba keras, kulit berwarna biru, bila disentuh dingin
*     Hipotermi Sedang
Suhu bayi antara 35 derjat celcius – 36,4 derajat celcius karena bayi terpapar suhu lingkungan yang rendah, waktu timbulnya kurang dari 2 hari. Tanda-tanda dari hipotermi sedang adalah Bayi mengalami gangguan nafas, denyut jantung kurang 100 kali/menit, malas minum dan letargi, kulit bayi berwarna biru bila disentuh terasa dingin

E.                 ASUHAN PADA BAYI HIPOTERMI
*     Jika bayi tersebut mengalami Hipotermi Berat, maka asuhan yang diberikan adalah :
·         Segera hangatkan bayi dibawah pemancar panas yang telah dinyalakan sebelumnya, bila mungkin. Gunakan inkubator atau ruangan hangat bila perlu. Jika tidak ada pemancar gunakan botol air hangat, pastikan kulit bayi tidak menyentuh langsung karena bisa meneyebabkan luka bakar. Pastikan juga sumber panas sudah diganti sebelum mulai dingin
·         Ganti baju yang dingin dan basah bila perlu. Beri pakaian yang hangat, pakai topi dan selimut dengan selimut hangat
·         Hindari paparan panas yang berlebihan dan posisi bayi sering diubah
·         Bila bayi dengan gangguan nafas ( frekwensi napas lebih dari 60 atau kurang 30 kali/menit, tarikan dada, merintih saat ekspirasi, maka segera bawa ke dokter
·         Nilai tanda kegawatan pada bayi seperti adanya gangguan napas, kejang atau tidak sadar setiap jam dan nilai juga kemampuan minum setiap 4 jam sampai suhu tubuh kembali dalam batas normal
·         Anjurkan ibu untuk menyusui
·         Periksa suhu tubuh bayi setiap jam. Bila suhu naik paling tidak 0.5 derajat Celcius/jam berarti upaya menghangatkan bayi berhasil, kemudian lanjutkan dengan memeriksa suhu bayi setiap 2 jam
·         Setelah suhu bayi normal maka lanjutkan perawatan untuk bayi dan pantau bayi selama 12 jam kemudian, dan ukur suhunya setiap 3 jam
*     Jika bayi tersebut mengalami Hipotermi Sedang, maka asuhan yang diberikan adalah
·         Ganti pakaian yang dingin dan basah dengan pakaian yang hangt, memakai topi dan selimuti dengan selimut hangat
·         Bila ada ibu, anjurkan menghangatkan bayi dengan melakukan kontak kulit dengan kulit atau metode Kanguru yaitu taruh bayi diatas tubuh bayi dan rawat bayi seperti kanguru, metode ini tidak bisa dilakukan jika bayi mengalami sepsis, atau gangguan napas serta ibu yang memiliki penyakit berat.
·         Sesering mungkin ubah posis bayi
·         Anjurkan ibu untuk menyusui lebih sering. Bila bayi tidak dapat menyusui berikan asi peras menggunakan salah satu alternatif cara pemberian minum
·         Beritahu ibu untuk mengamati tanda kegawatan pada bayi misalnya gangguan napas, kejang dan tidak sadar. Dan segera mencari pertolingan atau bawa ke dokter jika terjadi hal tersebut
·         Periksa suhu tubuh bayi setiap jam, bila suhu naik minimal 0.5 derajat celcius/jam berarti usaha menghangatkan berhasil, lanjutkan memeriksa suhu tiap 2 jam

  
KESIMPULAN

            Hipotermi terjadi bila suhu bayi kurang dari 36 derajat celcius. Hipotermi dapat terjadi dengan cepat pada bayi kecil atau bayi yang diresusitasi atau dipisahkan dari ibunya. Hipotermi dapat dibagi menjadi 2 yaitu Hipotermi sedang dan berat, keduanya memiliki penanganan yang berbeda-beda.
Hipotermi atau kehilangan panas juga dapat disebabkan melalui cara-cara Evaporasi, Konduksi, Konveksi, dan Radiasi. Cara mencegah kehilangan panas yaitu:
·         Mengeringkan bayi dengan seksama
·         Slimuti bayi dengan selimut atau kain bersih dan hangat
·         Selimuti bagian kepala bayi
·         Anjurkan ibu untu menyusui dan memeluk bayinya
·         Jangan segera menimbang atau memandikan bayi baru lahir
·         Tempatkan bayi di lingkungan yang hangat

ASFIKSIA NEONATORUM


ASFIKSIA PADA NEONATUS
Syafrudin, SKM, M.Kes. 

I. PENDAHULUAN
            Di Indonesia, dari seluruh kematian bayi, sebanyak 47% meninggal pada masa neonatal (usia dibawah 1 bulan), setiap 5 menit terdapat satu neonatal yang meninggal. Adapun penyebab kematian neonatal di Indonesia adalah BBLR sebanyak 29%, asfiksia sebanyak 27%, trauma lahir, tetanus neonatorum, infeksi lain dan kelainan congenital.
            Masa neonatal adalah masa yang sangat rawan bagi bayi, karena mudahnya terjadi gangguan atau masalah  pada system tubuh yang akan menjadi penyulit pada neonatus ini. Adapun penyulit yang dapat terjadi pada msa neonatal ini yakni:
1. Perlukaan kelahiran (dapat timbul karena disebabkan oleh alat bantu saat persalinan, mis: forcp dan vacuum).
2. Asfiksia neonatorum.
3. Kelainan congenital.
4. Bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR).
5. Adanya penyakit-penyakit dalam masa neonatal ini (mis: meningitis, pneumonia, dll).
            Oleh karena itu orang tua (terutama ibu) harus dapat menjaga anak dari masa kehamilan sampai anak dilahirkan, terutama masa neonatal ini dengan baik dengan pengetahuan yang cukup mengenai msalah / penyulit yang mungkin bisa terjadi. Dan sebagai tenaga kesehatan sangat diperlukan mengusai pengetahuan mengenai hal ini agar dapat memberikan pertolongan yang baik dan tepat pada bayi di usia neonatal ini yang mengalami penyulit atau masalah yang terjadi.

II.   ASFIKSIA NEONATORUM
  
A. Pengertian
            Asfiksia adalah keadaan bayi baru lahir tidak bernafas secara spontan dan teratur. Sehingga, dengan adanya keadaan ini dapat menurunkan O2 dan makin meningkatkan CO2 yang dapat menimbulkan akibat buruk dalam kehidupan lebih lanjut. Keadaan ini disertai dengan hipoksia, yang merupakan faktor terpenting yang dapat menghambat adaptasi bayi baru lahir terhadap kehidupan ekstrauterine. Akibat asfiksia akan bertambah buruk apabila penanganan bayi tidak dilakukan secara sempurna, maka tindakan yang akan dilakukan pada bayi bertujuan mempertahankan kelangsungan hidupnya dan membatasi gejala-gejala lanjut yang mungkin timbul.

B. Etiologi
            Hipoksia janin yang menyebabkan asfiksia neonatorum terjadi karena gangguan pertukaran gas serta transport O2 dari ibu ke janin sehingga terdapat gangguan dalam persediaan O2 dan dalam menghilangkan CO2.
            Pada saat bayi dilahirkan, alveoli bayi diisi dengan “cairan paru-paru janin”. Cairan paru-paru janin herus dibersihkan terlebih dahulu apabila udara harus masuk ke dalam peru-paru bayi baru lahir. Dalam kondisi demikian, paru-paru memerlukan tekanan yang cukup besar untuk mengeluarkan cairan tersebut agar alveoli dapat berkembang untuk pertama kalinya. Untuk mengembangkan paru-paru, upaya pernafasan pertama memerlukan tekanan 2 sampai 3 kali lebih tinggi daripada tekanan untuk pernafasan berikutnya agar berhasil. Menghadapi bayi yang tidak pernah menganbil nafas pertama dapat diasumsikan bahwa pengembangan alveoli tidak terjadi dan paru-paru tetap berisi cairan. Melakukan pernafasan buatan pada bayi seperti ini diperlukan tekanan tambahan untuk membuka alveoli dan mengeluarkan cairn paru-paru.
            Masalah yang dihadapi dalam mengeluarkan cairan dari paru-paru adalah:
·         Bayi sudah menderita apnu saat dilahirkan.
·         Bayi dengan upaya pernafasan yang lemah dan tidak efektif seperti pada:
-          Bayi kurang bulan
-          Bayi yang dilahirkan dengan depresi karena asfiksia, pengaruh obat-obat pada ibu, anestesi dan lain-lain sebab.
Upaya pernafasan seperti pernafasan megap-megap atau tidak teratur tidak cukup untuk mengembangkan paru-paru. Hal ini berarti bahwa anda tidak bisa mengandalkan pada upaya pernafasan spontan sebagai indikasi pernafasan efektif bayi baru lahir. Pergerakan dada tidak dapat dipakai sebagai satu-satunya indicator untuk pernafasan yang efektif.
Pada kelahiran, peredaran darah di paru-paru harus meningkat untuk memungkinkan proses oksigenasi yang cukup. Keadaan ini akan dicapai dengan terbukanya arterioli dan diisi darah yang sebelumnya dialirkan dari paru-paru melalui duktus arteriosus. Bayi dengan asfiksia, hipoksia dan asidosis akan mempertahankan pola sirkulasi janin dengan menurunnya darah paru-paru.
Pada asfiksia, darah lebih banyak dialirkan ke otak dan jantung. Dengan adanya hipoksia dan asidosis maka fungsi miokardium menurun, curah jantung menurun dan aliran darah ke alat-alat vital juga berkurang.

C. Penyebab Asfiksia
            Beberapa keadaan pada ibu dapat menyebabkan aliran darah ibu melalui plasenta berkurang, sehingga aliran oksigen ke janin juga berkurang, akibatnya terjadi gawat janin, dan hal inilah yang menyebabkan asfiksia bayi baru lahir (BBL). Pada keadaan bayi , bayi mungkin mengalami asfiksia walaupun tanpa didahului oleh keadaan gawat janin. Selain itu, pada keadaan tali pusat yaitu akibat dari penurunan aliran darah dan oksigen melalui tali pusat ke bayi, sehingga bayi mungkin mengalami asfiksia. Adapun beberapa faktor yang dapat menimbulkan gawat janin (asfiksia) adalah:
1.      Keadaan Ibu
  • Preeklampsia dan eklampsia.
  • Perdarahan abnormal (plasenta previa dan solution plasenta).
  • Partus lama atau partus macet.
  • Delam selama persalinan.
  • Infeksi berat (malaria, sifilis, TBC, HIV)
  • Kehamilan post matur (sesudah 42 minggu kehamilan)
2.      Keadaan Bayi
  • Bayi premature (sebelum 37 minggu kehamilan).
  • Persalinan sulit (letak sungsang, bayi kembar, distosia bahu, akstraksi vacuum, forsep).
  • Kelainan congenital.
  • Air ketuban bercampur mekonium (warna kehijauan)
3.      Keadaan Tali Pusat
  • Lilitan tali pusat.
  • Tali pusat pendek.
  • Simpul tali pusat.
  • Prolapsus tali pusat.

D. Diagnosis
            Asfiksia yang terjadi pada bayi biasanya merupakan kelanjutan dari anoksia / hipoksia janin. Diagnosis anoksia / hipoksia janin dapat dibuat dalam persalinan dengan ditemukannya tanda-tanda gawat janin. Ada tiga hal yang perlu mendapat perhatian, yaitu:
1.      Denyut jantung janin.
Frekuensi normal ialah antara 120 – 160 denyutan permenitnya. Selama his, frekuensi ini bisa turun, tetapi di luar his kembali lagi kepada keadaan semula. Peningkatan kecepatan denyut jantung umumnya tidak banyak artinya, akan tetapi apabila frekuensi turun sampai dibawah 100 kali permenitnya, dan lebih-lebih jika tidak teratur, hal itu merupakan tanda bahaya. Di beberapa klinik, elektrokardiografi janin digunakan untuk terus-menerus mengawasi keadaan denyut jantung dalam persalinan.
2.      Mekonium dalam air ketuban.
Mekonium dalam presentasi sungsang tidak ada artinya, akan tetapi pada presentasi kepala mungkin menunjukkan gangguan oksigenisasi dan harus menimbulkan kewaspadaan. Pengeluaran mekonium pada letak kepala menunjukkan gawat janin, karena terjadi rangsangan nervus X, sehingga peristaltic usus meningkat dan sfingter ani terbuka, sehingga terjadi pengeluaran mekonium. Adanya mekonium dalam air ketuban pada presentasi kepala dapat merupakan indikasi untuk mengakhiri persalinan bila hal itu dapat dilakukan dengan mudah.
3.      Pemeriksaaan PH darah janin.
Dengan menggunakan amnioskop yang dimasukkan lewat serviks dibuat sayatan kecil pada kulit kepala janin, dan diambilcontoh darah janin. Darah ini diperiksa pH-nya. Adanya asidosis menyebabkan turunnya PH. Apabila pH itu turun sampai dibawah 7,2 hal itu dianggap sebagai tanda bahaya oleh beberapa penulis.
Dignosis gawat janin sangat penting untuk dapat menyelamatkan dan dengan demikian membatasi morbiditas dan mortalitas perinatal. Selain itu, kelahiran bayi yang telah menunjukkan tanda-tanda gawat janin mungkin disertai dengan asfiksia neonatorum. Jika terdapat asfiksia, tingkatannya perlu dikenal untuk dapat melakukan resusitasi yang sempurna. Untuk hal ini diperlukan cara penilaian menurut Apgar. Nilai Apgar mempunyai hubungan erat dengan beratnya asfiksia dan biasanya dinilai satu menit dan lima menit setelah bayi lahir. Angka ini penting artinya karena dapat dipergunakan sebagai pedoman untuk menentukan cara resusitasi yang akan dikerjakan.
Cara penilaian dengan menggunakan system nilai Apgar ialah sebagai berikut:
Gejala
0
1
2
Denyut jantung bayi
Tak ada
< 100
> 100
Pernafasan
Tak ada
Lemah, menangis lemah
Baik, menangis kuat
Otot
Lemas
Refleks lemah
Gerak aktif, refleks baik
Reaksi terhadap rangsangan
Tak ada
Menyeringai
Menangis
Warna kulit
Biru / pucat
Badan merah / ekstremitas pucat
Seluruhnya merah
Keterangan:
·         Skor Apgar 7 – 10 : bayi dianggap sehat dan tidak memerlukan tindakan istimewa.
·         Skor Apgar 4 – 6: Bayi dalam keadaan asfiksia sedang, pada pemeriksaan fisis akan terlihat frekuensi jantung > 100 / menit, tonus otot kurang baik atau baik, sianosis, refleks iritabilitas tidak ada.
·         Skor Apgar 0 – 3: Bayi dalam keadaan asfiksia berat, pada pemeriksaan fisis ditemukan frekuensi jantung < 100 / menit, tonus otot buruk, sianosis berat dan kadang kadang pucat, refleks iritabilitas tidak ada.

E. Perubahan Patofisiologis dan Gambaran Klinis
            Pernafasan spontan bayi baru lahir bergantung kepada kondisi janin pada masa kehamilan dan persalinan. Proses kelahiran sendiri selalu menimbulkan asfiksia ringan yang bersifat sementara pada bayi (asfiksia tensien). Proses ini dianggap sangat perlu untuk merangsang kemoreseptor pusat pernafasan agar terjadi ‘primary gasping’ yang kemudian akan berlanjut dengan pernafasan teratur. Sifat asfiksia ini tidak mempunyai pengaruh buruk karena reaksi adaptasi bayi dapat mengatasinya.
            Bila terdapat gangguan pertukaran gas atau pengangkutan oksigen selama kehamilan / persalinan, akan terjadi asfiksia yang lebih berat. Asfiksia yang terjadi dimulai dengan suatu periode apnu (‘primary apnu’) disertai dengan penurunan frekuensi jantung. Selanjutnya bayi akan memperlihatkan usaha bernafas (gasping) yang kemudian diikuti oleh pernafasan teratur. Pada bayi dengan asfiksia berat, usaha bernafas ini tidak tampak dan bayi selanjutnya berada dalam periode apnu kedua (‘secondary apnu’). Pada tingkat ini disamping brakikardia ditemukan pula penurunan tekanan darah.
            Di samping adanya perubahan klinis, akan terjadi pula gangguan metabolisme dan perubahan keseimbangan asam basa pada tubuh bayi. Pada tingkat pertama gangguan pertukaran gas mungkin hanya menimbulkan asidosis respiratorik, yang bila berlanjut akan menyebabkan asidosis metabolic karena terjadinya proses metabolisme anaerobic. Pada tingkat selanjutnya akan terjadi perubahan kardiovaskuler yang disebabkan oleh beberapa keadaaan diantaranya:
1.      Hilangnya sumber glikogen dalam jantung akan mempengaruhi fungsi jantung.
2.      Terjadinya asidosis metabolic akan mengakibatkan menurunnya sel jaringan, termasuk otot jantung, sehingga menimbulkan kelemahan jantung.
3.      Pengisian udara alveolus yang kurang adekuat akan menyebabkan tetap tingginya resistensi pembuluh darah paru, sehingga sirkulasi darah ke paru dan demikian pula ke system sirkulasi tubuh lain akan mengalami gangguan.
Asidosis dan gangguan kardiovaskular yang terjadi dalam tubuh berakibat buruk terhadap sel otak, kemudian kerusakan sel otak yang terjadi dapat menimbulkan kematian.

F. Tindakan Pada Asfiksia Neonatorum
            Tujuan utama mengatasi asfiksia ialah untuk mempertahankan kelangsungan hidup bayi dan membatasi gejala sisa (sekule) yang mungkin timbul di kemudian hari. Tindakan yang dikerjakan pada bayi laazim disebut resusitasi bayi baru lahir. Untuk mendapatkan hasil yang sempurna dalam resusitasi, prinsip dasar yang perlu diingat ialah:
1.      Membersihkan lingkungan baik pada bayi dan mengusahakan saluran pernafasan tetap bebas serta merangsang timbulnya pernafasan, yaitu agar oksigenasi dan pengeluaran CO2 berjalan lancar.
2.      Memberikan bantuan pernafasan secara aktif pada bayi menunjukkan usaha pernafasan lemah.
3.      Melakukan koreksi terhadap asidosis yang terjadi.
4.      Menjaga agar sirkulasi darah tetap baik.
Adapun tindakan-tindakan yang dilakukan pada bayi dapat dibagi menjadi 2 golongan , yaitu:
1.      Tindakan pertolongan umum neonatus
Tindakan ini dikerjakan pada setiap bayi tanpa memandang nilai Apgar, yakni:
·         Kepala bayi diletakkan pada posisi yang lebih rendah.
·         Bersihkan jalan nafas dari lender: mulut dan tenggorokan, saluran nafas bagian atas.
·         Mengurangi kehilangan panas badan bayi dengan membungkus dan memandikan dengan air hangat.
·         Memberikan rangsangan menangis: memukul telapak kaki, atau menekan tendon pada tumit bayi.
·         Dalam ruang gawat darurat selalu tersedia: penghisap lendir bayi dan O2 dengan maskernya.
2.      Tindakan Khusus asfiksia neonatorum
Menghadapi asfiksia neonatus memang diperlukan tindakan spesialistik, sehingga diharapkan bidan dapat segera melakukan rujukan ke rumah sakit. Melakukan pertolongan persalinan dengan resiko rendah di daerah pedesaan sebagian besar berlangsung dengan aman dan baik. Penilaian bayi baru lahir dilakukan dengan menggunakan system nilai Apgar.
Berdasarkan criteria nilai Apgar, bidan dapat melakukan penilaian untuk mengambil tindakan yang tepat, diantaranya melakukan rujukan medis sehingga keselamatan bayi dapat ditingkatkan.