Selasa, 05 Juni 2012

Indikator-Indikator Pelayanan Rumah Sakit


Indikator-Indikator Pelayanan Rumah Sakit 
[BOR, AVLOS, TOI, BTO, GDR, NDR]
Indikator-indikator pelayanan rumah sakit dapat dipakai untuk mengetahui tingkat pemanfaatan, mutu, dan efisiensi pelayanan rumah sakit. Indikator-indikator berikut bersumber dari sensus harian rawat inap :
  1. BOR (Bed Occupancy Ratio = Angka penggunaan tempat tidur)
    BOR menurut Huffman (1994) adalah “
    the ratio of patient service days to inpatient bed count days in a period under consideration”. Sedangkan menurut Depkes RI (2005), BOR adalah prosentase pemakaian tempat tidur pada satuan waktu tertentu. Indikator ini memberikan gambaran tinggi rendahnya tingkat pemanfaatan tempat tidur rumah sakit. Nilai parameter BOR yang ideal adalah antara 60-85% (Depkes RI, 2005).
    Rumus :
    BOR = (Jumlah hari perawatan rumah sakit / (Jumlah tempat tidur X Jumlah hari dalam satu periode)) X 100%
  2. AVLOS (Average Length of Stay = Rata-rata lamanya pasien dirawat)
    AVLOS menurut Huffman (1994) adalah “
    The average hospitalization stay of inpatient discharged during the period under consideration”. AVLOS menurut Depkes RI (2005) adalah rata-rata lama rawat seorang pasien. Indikator ini disamping memberikan gambaran tingkat efisiensi, juga dapat memberikan gambaran mutu pelayanan, apabila diterapkan pada diagnosis tertentu dapat dijadikan hal yang perlu pengamatan yang lebih lanjut. Secara umum nilai AVLOS yang ideal antara 6-9 hari (Depkes, 2005).
    Rumus :
     
    AVLOS = Jumlah lama dirawat / Jumlah pasien keluar (hidup + mati)
     
  3. TOI (Turn Over Interval = Tenggang perputaran)
    TOI menurut Depkes RI (2005) adalah rata-rata hari dimana tempat tidur tidak ditempati dari telah diisi ke saat terisi berikutnya. Indikator ini memberikan gambaran tingkat efisiensi penggunaan tempat tidur. Idealnya tempat tidur kosong tidak terisi pada kisaran 1-3 hari.
    Rumus :
     
    TOI = ((Jumlah tempat tidur X Periode) – Hari perawatan) / Jumlah pasien keluar (hidup +mati)
  4. BTO (Bed Turn Over = Angka perputaran tempat tidur)
    BTO menurut Huffman (1994) adalah “
    ...the net effect of changed in occupancy rate and length of stay”. BTO menurut Depkes RI (2005) adalah frekuensi pemakaian tempat tidur pada satu periode, berapa kali tempat tidur dipakai dalam satu satuan waktu tertentu. Idealnya dalam satu tahun, satu tempat tidur rata-rata dipakai 40-50 kali.
    Rumus :
    BTO = Jumlah pasien keluar (hidup + mati) / Jumlah tempat tidur
  5. NDR (Net Death Rate)
    NDR menurut Depkes RI (2005) adalah angka kematian 48 jam setelah dirawat untuk tiap-tiap 1000 penderita keluar. Indikator ini memberikan gambaran mutu pelayanan di rumah sakit.
    Rumus :
    NDR =  (Jumlah pasien mati > 48 jam / Jumlah pasien keluar (hidup + mati) ) X 1000 ‰
  6. GDR (Gross Death Rate)
    GDR menurut Depkes RI (2005) adalah angka kematian umum untuk setiap 1000 penderita keluar.
    Rumus :
    GDR = ( Jumlah pasien mati seluruhnya / Jumlah pasien keluar (hidup + mati)) X 1000 ‰

BOR : Bed Occupacion Rate (Angka rata-rata tempat tidur terisi dalam satu tahun)
Tempat tidur yang dimaksud adalah tempat tidur di ruang rawat inap.
Angka BOR ideal berkisar antara 75% – 85%
P = O X 100/A
AvLOS : Average Length of Stay (Angka rata-rata lamanya seorang pasien dirawat)
Angka AvLos ideal : 3 – 12 hari
L = O X 365/D
TOI : Turn Over Interval (Angka rata-rata sebuah tempat tidur tidak terisi)
TOI ideal : 1 – 3 hari
T = (A-O) X 365/D
BTO : Bed Turn Over (Tingkat penggunaan sebuah tempat tidur dalam satu tahun)
BTO ideal : lebih dari 30 kali
B = D/A
Keterangan :
O = rata-rata tempat tidur terisi dalam 1 tahun
D = Jumlah pasien yang keluar dalam 1 tahun
A = Jumlah tempat tidur
Masih bingung?sama, saya pun bertanya-tanya, bagaimana memperoleh nilai O, D, dan A.
Secara umum, variabel-variabel tersebut dapat Anda peroleh jika perawat Rumah Sakit Anda melaksanakan Sensus Rawat Inap dengan baik dan benar, kemudian bagian Rekam Medis merekapnya.
Cara mendapatkan nilai O :
Lakukan sensus harian dulu kemudian akan mendapatkan angka lama dirawat per hari.
lama dirawat = pasien awal+pasien masuk+pasien pindahan-pasien dipindahkan-pasien keluar hidup-pasien keluar mati
jumlahkan lama dirawat tersebut selama satu tahun.
O = total lama dirawat/365
Cara mendapatkan nilai D :
D = pasien dipindahkan+pasien keluar hidup+pasien keluar mati
Cara mendapatkan nilai A :
Masuk ke ruang-ruang rawat inap, hitung sendiri jumlah tempat tidur yang ada! Klo males, silakan tilpun perawat masing-masing bangsal…
Jika masih ada yg salah, mohon dikoreksi, tp jika masih bingung, itu adalah kehendak Yang Maha Kuasa, jadi…, disyukuri saja.
NB : Angka 365 merupakan jumlah hari dalam tahun tersebut.
REFERENSI :
Soejadi, DR, DHHSA, 1996, Efisiensi Pengelolaan Rumah Sakit, Katiga Bina: Jakarta.
Wuryanto, Sis, Amd Perkes, SKM, tanpa tahun, Grafik Barber Johnson, Pormiki: Yogyakarta.
BOR : Bed Occupacion Rate (Angka rata-rata tempat tidur terisi dalam satu tahun)
Tempat tidur yang dimaksud adalah tempat tidur di ruang rawat inap.
Angka BOR ideal berkisar antara 75% – 85%
P = O X 100/A
AvLOS : Average Length of Stay (Angka rata-rata lamanya seorang pasien dirawat)
Angka AvLos ideal : 3 – 12 hari
L = O X 365/D
TOI : Turn Over Interval (Angka rata-rata sebuah tempat tidur tidak terisi)
TOI ideal : 1 – 3 hari
T = (A-O) X 365/D
BTO : Bed Turn Over (Tingkat penggunaan sebuah tempat tidur dalam satu tahun)
BTO ideal : lebih dari 30 kali
B = D/A
Keterangan :
O = rata-rata tempat tidur terisi dalam 1 tahun
D = Jumlah pasien yang keluar dalam 1 tahun
A = Jumlah tempat tidur
Masih bingung?sama, saya pun bertanya-tanya, bagaimana memperoleh nilai O, D, dan A.
Secara umum, variabel-variabel tersebut dapat Anda peroleh jika perawat Rumah Sakit Anda melaksanakan Sensus Rawat Inap dengan baik dan benar, kemudian bagian Rekam Medis merekapnya.
Cara mendapatkan nilai O :
Lakukan sensus harian dulu kemudian akan mendapatkan angka lama dirawat per hari.
lama dirawat = pasien awal+pasien masuk+pasien pindahan-pasien dipindahkan-pasien keluar hidup-pasien keluar mati
jumlahkan lama dirawat tersebut selama satu tahun.
O = total lama dirawat/365
Cara mendapatkan nilai D :
D = pasien dipindahkan+pasien keluar hidup+pasien keluar mati
Cara mendapatkan nilai A :
Masuk ke ruang-ruang rawat inap, hitung sendiri jumlah tempat tidur yang ada! Klo males, silakan tilpun perawat masing-masing bangsal…
Jika masih ada yg salah, mohon dikoreksi, tp jika masih bingung, itu adalah kehendak Yang Maha Kuasa, jadi…, disyukuri saja.
NB : Angka 365 merupakan jumlah hari dalam tahun tersebut.
REFERENSI :
Soejadi, DR, DHHSA, 1996, Efisiensi Pengelolaan Rumah Sakit, Katiga Bina: Jakarta.
Wuryanto, Sis, Amd Perkes, SKM, tanpa tahun, Grafik Barber Johnson, Pormiki: Yogyakarta.

Grafik Barber-Johnson (membuat secara mudah)
oleh belajar rekam medis pada 23 September 2011 jam 20:46
Grafik ini menggambarkan 4 parameter dalam satu grafik, yaitu LOS, TOI, BOR dan BTO.
Grafik ini bisa digunakan untuk menggambarkan perkembangan empat parameter tersebut dari tahun ke tahun ( Grafik BJ RS Sehat Selalu Tahun 2005 - 2010) dan bisa juga perbandingan antara satu unit dengan unit yang lain (Grafik BJ RS Sehat Selalu Menurut Ruang Rawat Inap Tahun 2010).

Dalam grafik ini sumbu datarnya adalah TOI dan Sumbu tegaknya LOS.
Pada grafik juga ada garis BOR ( BOR 50%, 70%, 80% dan 90%) dan garis BTO (BTO 30, 20, 15 dan 12,5).

Menggambar garis BOR dan BTO

Ingat :

                Hari Perawatan                                    Hari Perawatan
BOR =  ----------------------              LOS =   --------------------------
                Jumlah TT x 365                                     Pasien Keluar


                     (Jumlah TT x 365) - Hari Perawatan                                        Pasien Keluar
TOI =         ---------------------------------------------                      BTO = -------------------------
                         Pasien Keluar                                                                         Jumlah TT


TT adalah Tempat Tidur dan 365 adalah Jumlah Hari dalam 1 Tahun

Jika BOR = 50 %
artinya
              Hari Perawatan                   50
BOR =  ----------------------       =  --------
                Jumlah TT x 365               100             

Jadi :   Hari Perawatan  =   50, dan  (Jumlah TT x 365)  =  100

Masukkan nilai tsb ke rumus LOS dan TOI, hasilnya :

                      Hari Perawatan                     50
    LOS =   --------------------------   =  -----------------
                         Pasien Keluar               Pasien Keluar


                     (Jumlah TT x 365) - Hari Perawatan                    100 - 50                          50
TOI =         ---------------------------------------------       =  ---------------------       = ------------------
                         Pasien Keluar                                               Pasien Keluar                  Pasien Keluar                             

Persamaan garis BOR 50% adalah  LOS = TOI

Selanjutnya dengan cara yang sama didapatlah :

Persamaan garis BOR 70% adalah   3(LOS) = 7(TOI)
Persamaan garis BOR 80% adalah   LOS = 4(TOI)
Persamaan garis BOR 90% adalah   LOS = 9(TOI)


Selanjutnya menggambar garis BTO 30. 20, 15 dan 12,5

                    Hari Perawatan
  LOS =   --------------------------
                      Pasien Keluar


                     (Jumlah TT x 365) - Hari Perawatan             (Jumlah TT x 365)              Hari Perawatan
TOI =         ---------------------------------------------     =  -------------------------   -   --------------------------
                         Pasien Keluar                                               Pasien Keluar                       Pasien Keluar


                     (Jumlah TT x 365)

TOI =         -----------------------    -  LOS

                         Pasien Keluar                


                              (Jumlah TT x 365)
TOI  +  LOS =     -----------------------     
                                  Pasien Keluar                


BTO 30

                             Pasien Keluar                  30
             BTO = ------------------------- =  -----------
                                 Jumlah TT                     1

 Pada BTO 30 , Pasien keluar = 30 dan Jumlah TT=1
Jadi persamaan garis BTO 30 adalah :
        TOI + LOS = 365 : 30 = 12,16
        TOI + LOS = 12,16

Dengan cara yang sama didapat :
Persamaan garis BTO 20       ----->    TOI + LOS = 18,25
Persamaan garis BTO 15       ----->    TOI + LOS = 24,3
Persamaan garis BTO 12,5    ----->    TOI + LOS = 29,2

Indikator Mutu pelayanan rawat inap :
- NDR
- GDR
- Prosentase Mati kurang dari 48 jam
Indikator efisiensi pelayanan unit rawat inap
- LOS
- TOI
- Ratio hari perawatan dengan perawat rawat inap
Selain menggunakan beberapa indikator dan grafik yang menyajikan informasi dari data yang diolah, salah satu alat pemantau efisiensi yang dapat digunakan di unit rekam medis adalah grafik Barber Johnson, yang menempatkan empat parameter yaitu BOR, LOS, TOI dan BTO pada satu titik
BOR (Bed Occupancy Rate)    Standar: 75-85%
Rata-rata penggunaan tempat tidur
Angkat BOR yang rendah menunjukkan kurangnya pemanfaatan fasilitas perawatan rumah sakit oleh maysarakat.
Angka BOR yang tinggi (>85%) menunjukkan tingkat pemanfaatan tempat tidur yang tinggi sehingga perlu pengembangan RS dan penambahan tempat tidur
ALOS (Average Length of Stay)    Standar: 3-12 hari 
Rata-rata Lama dirawat
Angka LOS yang tinggi (>12 hari) menunjukkan tingkat ketidak efisiensinya suatu pelayanan rumah sakit
TOI (Turn Over Interval)    Standar: 1-3 hari
Interval penggunaan tempat tidur
Angkat TOI yang tinggi (>3hari) menunjukkan tingkat ketidak efisiensinya penggunaan tempat tidur rumah sakit
BTO (Bed Turn Over)        Standar: 30 kali
Frekuensi pemakaian tempat tidur pada suatu rumah sakit
Angkat BTO yang tinggi (>30 kali) menunjukkan tingkat ketidak efisiensinya penggunaan tempat tidur rumah sakit
GDR (Gross Death Rate)    Standar: <2.5%
Semakin rendah GDR, berarti mutu pelayanan rumah sakit semakin baik.
Angka ini bisa digunakan untuk menilai mutu pelayanan jika angka kematian < 48jam tinggi
NDR (Net Death Rate)   Standar: <4.5%
Semakin rendah NDR, suatu rumah sakit berarti mutu pelayananannya semakin baik

Bank Darah Tali Pusat (CORD BLOOD)


1 Sejarah Bank Darah Tali Pusat (CORD BLOOD)
Dari zaman dahulu sudah tersebar mitos bahwa sisa tali pusat bayi yang dikeringkan, bisa dipergunakan untuk mengobati pemiliknya bila sedang sakit parah. Keluarga yang percaya pada mitos itu, sampai sekarang masih banyak yang mengeringkan dan menyimpan sisa tali pusat anak-anak mereka. Saat anak sakit, tali pusat itu direndam dengan air hangat, lalu air bekas rendamannya diminumkan pada anak. Entah benar tali pusat kering itu yang mujarab atau tidak, tetapi nyatanya anak-anak itu memang sembuh setelah minum air rendaman tali pusat mereka sendiri.
Baru 1963, lewat penelitian kedokteran terungkap, yang bisa dipergunakan untuk mengobati penyakit bukan tali pusatnya, tetapi darah yang diambil dari tali pusat itu beberapa saat setelah bayi dilahirkan.
Darah tali pusat (umbilical cord blood ) bisa digunakan untuk terapi, karena mengandung stem cell (sel induk) yang mampu memproduksi sel-sel darah baru seperti sel darah merah, sel darah putih, dan keping darah. Stem cell juga mampu memperbaiki sistem kekebalan tubuh sampai menggantikan jaringan yang rusak. Stem cell merupakan sel yang belum terspesialisasi, namun mempunyai kemampuan berkembang biak tanpa batas menjadi sel jenis lain. Kemampuan tersebut, memungkinkan stem cell memperbaiki kerusakan tubuh dengan menyediakan sel-sel baru untuk memperbaiki kelainan tersebut.
Sebenarnya, stem cell bisa dibagi menjadi dua jenis yaitu stem cell embrionik (embryonic stem cell) dan stem cell dewasa ( haemopoietic stem cell). Darah tali pusat termasuk stem cell dewasa. Selain dari darah tali pusat, stem cell dewasa bisa didapat dari sumsum tulang dan darah tepi. Hanya saja, pengambilan stem cell dari darah tali pusat lebih disukai, karena berisiko lebih kecil dan tidak menyakiti penderita. Selain itu, stem cell dari darah tali pusat mempunyai kemampuan proliferasi (pertumbuhan dan pertambahan sel) yang tinggi. Tingkat kecocokan pencangkokan stem cell darah tali pusat juga lebih baik dibandingkan dengan stem cell yang berasal dari sumsum tulang.
Pengambilan stem cell embrionik dilakukan dengan mengambil stem cell yang berasal dari embrio (jabang bayi) yang sudah meninggal dunia, kebanyakan dari hasil aborsi. Cara ini sudah tidak dilakukan lagi, karena banyak menimbulkan kontroversial karena alasan etika.
Pencangkokan darah tali pusat pertama kali dilakukan pada anak penderita anemia fanconi di Paris 1988. Kelainan itu berupa penyakit keturunan yang menyerang sumsum tulang belakang, sehingga menyebabkan penurunan produksi semua jenis sel darah. Dengan pencangkokan stem cell ke tulang belakang, produksi sel-sel darah dapat normal kembali. Keberhasilan pencangkokan itu memberi peluang baru dalam pemanfaatan darah tali pusat yang sebelumnya tidak diketahui.
Sebelum bank darah tali pusat ini hadir di Indonesia, kebanyakan masyarakat Indonesia menyimpan darah tali pusatnya di Singapura dan Malaysia. Di tahun 2006, sudah ada sekitar 100 orang Indonesia yang menyimpan tali pusatnya di Cordlife Singapura. Dengan adanya bank penyimpanan tali pusat di dalam negeri, masyarakat Indonesia tidak perlu lagi mengirimkannya ke luar negeri. Biaya yang dikeluarkan pun menjadi lebih murah.
Bank penyimpanan darah tali pusat pertama di Indonesia diresmikan oleh Menteri Kesehatan RI periode 2004-2009, Siti Fadilah Supari pada tanggal 14 Oktober 2006. Bank ini beroperasi di Indonesia atas kerja sama PT. Kalbe Farma dan PT. CordLife, perusahaan Singapura yang bergerak di penyimpanan darah tali pusat. Bank ini berdiri karena permintaan masyarakat Indonesia untuk menyimpan darah tali pusat bayinya semakin banyak.

2.2 Manfaat Bank Darah Tali Pusat
Menurut National Marrow Donor Program (NMDP) USA, sampai saat ini stem cell yang terkandung di darah tali pusat, sudah bisa mengobati 72 penyakit seperti kanker, kerusakan pada sumsum tulang belakang, kelainan pada darah, dan penyakit yang berhubungan dengan metabolisme tubuh. Selain itu, metode ini sedang diteliti kemampuannya untuk mengobati penyakit jantung, cedera pada tulang belakang, stroke, lever, dan diabetes. Selain itu darah tali pusat digunakan untuk mengobati berbagai kelainan darah seperti thalasemia, kelainan metabolisme turunan, defisiensi kekebalan tubuh, jantung, dan saraf.
Selain itu, yang memanfaatkan stem cell tersebut tidak hanya pemiliknya, tetapi juga bisa digunakan oleh saudara kandung dan orang tua, asalkan mempunyai kecocokan dalam struktur gen dan golongan darah tingkat kecocokan darah tali pusat akan berbeda untuk setiap anggota keluarga. Darah tali pusat seorang bayi, memiliki tingkat kecocokan 50%-75% jika digunakan oleh saudara kandungnya. Sementara tingkat kecocokannya hanya 25%-50% jika digunakan oleh orang tuanya
Metode pengobatan ini dilakukan dengan mentransplantasikan stem cell ke organ yang rusak. Sesuai sifatnya, stem cell akan berkembang menjadi sel baru sehingga bisa memperbaiki jaringan yang sudah rusak tersebut. Banyaknya stem cell yang ditransplantasi, disesuaikan dengan berat badan penderita. Setiap kilogram berat badan dibutuhkan sekitar 15 juta - 20 juta stem cell. Kelebihan terapi dengan stem cell adalah mengurangi risiko penolakan oleh tubuh dan menurunkan risiko penularan waktu terjadi pencangkokan.

2.3 Proses Pengambilan dan Penyimpanan Bank Darah Tali Pusat                  
Bila berminat menyimpan darah tali pusat anak di bank tali pusat, saat kehamilan berlangsung sudah harus mendaftarkan diri ke bank tali pusat. Setelah menandatangani kontrak, akan dibekali kit pengambilan darah yang berisi kantong darah, tabung untuk menyimpan darah ibu, dan alat untuk mengambil darah. Kit tersebut diserahkan kepada dokter kandungan yang membantu persalinan. Bank tali pusat bisa dihubungi 24 jam. Mereka akan mengatur pengambilan, pengiriman, dan pemrosesan darah tali pusat dengan segera.



Darah tali pusat diambil setelah tali pusat dipotong dan diekstraksi dari ujung tali pusat plasenta. Jumlah yang diambil bervariasi, antara 50-100 mL, dengan asumsi dalam 50-65 mL terdapat lebih dari 800 juta stem sel. Stem sel sendiri dapat bertumbuh.
Pada saat pengambilan darah tali pusat ada resiko kontaminasi jamur dan bakteri yang berasal dari vagina, urine, feces, udara dan sumber lain. Agar dapat digunakan untuk pencakokan di masa depan, darah tali pusat harus bebas dari bakteri dan jamur. Oleh sebab itu resiko kontaminasi pada saat pengambilan dan pemrosesan hrus di minimalkan. Saat ini ada 2 metode pada pengambilan darah tali pusat yaitu dengan menggunakan kantung darah (system tertutup) dan jarum suntik (system terbuka). Tidak ada perbedaan dalam volume darah yang di dapat dalam 2metode ini, tetapi resiko kontaminasinya sangat berbeda. Penelitian menunjukkan pengambilan dengan jarum suntik mempunyai resiko kontaminasi sebesar 12,5% sedangkan dengan kantung darah mempunyai resiko terkontaminasinya sebesar 3,3% .
Untuk mencegah terjadinya pembekuan pada darah tali pusat, anti koagulan harus di tambahkan sewaktu pengambilan. Pengambilan dengan jarum suntik menggunakan heparin yang di buat dari babi atau sapi. Secara umum penggunaan heparin tidak dianjurkan karena dapt mempengaruhi tes HLA(Human Leukocyte antigen) sebelum pencakokan. Untuk kantung darah, anti koagulan yang di gunakan berupa larutan garam dan gula, sehingga tidak ada pengaruh terhadap tes HLA. Resiko pencemaran dengan metode kantung darah dapat di perkecil sampai kurang dari 1% dengan metode yang benar, antara lain dengan dibersihkannya tali pusat dengan Iodine sebelum pengambilan.
Stem sel tambahan dikoleksi dari plasenta melalui proses di bank. Setelah petugas dari bank stem sel mengambil darah tali pusat dari ujung tali pusat plasenta, plasenta dibawa ke laboratorium stem sel diproses untuk mendapatkan stem sel tambahan.
Guna memastikan ada cukup sel untuk transplantasi, jumlah darah yang diambil dari tali pusat minimal 75 mL. Setelah pengambilan, darah tali pusat dibawa ke laboratorium, diproses, dan disimpan dalam bentuk cryo. Terdapat banyak cara untuk memproses unit darah tali pusat tersebut. Tentang mana cara yang terbaik, terdapat opini yang berbeda. Ada metode yang memisahkan sel darah merah dan membuangnya. Sedangkan metode lainnya, menyimpan sel darah merah. Bagaimanapun metodenya, zat cryopreservant dicampurkan ke darah tali pusat agar sel-sel dapat mempertahankan proses cryiogenik.
Kemudian, unit darah tali pusat pelan-pelan didinginkan sampai -90 derajat Celcius lalu dimasukan ke tank nitrogen cair yang akan menjaga unit tali pusat beku pada suhu -196 derajat Celcius. Sewaktu di simpan pada nitrogen cair bersuhu-196⁰C secara kryorgenik, sel induk tidak ada masa kadaluarsanya. Artinya sel induk dapat di simpan selamanya. Untuk menjamin kelangsungan hidup sel induk, pendinginan dilakukan secara bertahap dengan menggunakan Controlled Rate Freezer Dengan menggunakan kantung, resiko bocornya nitrogen ke tempat penyimpanan (Seperti terjadi pada tabung) dapat dihilangkan.
 Proses pembekuan yang lambat diperlukan untuk menjaga sel tetap hidup selama proses pembekuan. Sebelum darah disimpan, perlu dilakukan test viral, meliputi tes HIV dan hepatitis B dan C dan typing jaringan (untuk menentukan tipe HLA/ Human Leukocyte antigen). Selama proses penyimpanan itu dilakukan pemantauan secara periodik agar kualitas stem sel yang disimpan tetap terjamin hingga saatnya digunakan.



2.4 Tranplantasi sel Induk darah tali pusat
Pada saat transplantasi factor terpenting yang menentukan keberhasilan adalah jumlah sel bukan pada volume. Dokter yang melakukan transplantasi akan menentukan berapa jumlah sel per kg berat badan pasien yang dibutuhkan. Jumlah maksimum sel induk harus dipersiapkan terlebih dahulu, hal ini berarti satu unit darah tali pusat hanya dapat digunakan sekali saja tidak tergantung dengan metode penyimpanan
Pada umumnya sangat tidak di sarankan untuk memisahkan darah tali pusat ke beberapa tabung karena tidak ada keuntungannya dan ada kemungkinan tertukar, yang dapat mematikan. Pada saat transplantasi, sel induk darah tali pusat di cairkan terlebih dahulu dari suhu -1960⁰C dan di transfusikan melalui vena si penderita. Darah tali pusat yang di ambil dan di proses melalui system terbuka , sel induk harus di ambil dari tabung, di cairkan kemudian di masukkan lagi ke jarum suntik untuk kemudian di transfusikan ke vena penderita. Hal ini menimbulkan resiko terkontaminasi yang lebih besar. Sebaliknya, sel induk darah tali pusat yang di simpan dengan system tertutup atau kantung, dapat di pergunakan dengan alat tranfusi yang tertutup. Dengan metode tertutup (kantung) resiko pencemaran dan tertukarnya darah pada waktu proses pengambilan, pemrosesan, penyimpanan dan transplantasi dapat di kurangi.

2.5 Efek samping
Pengobatan yang menggunakan darah plasenta memiliki efek samping yang lebih sedikit dan lebih murah daripada transplantasi sumsum tulang. Darah plasenta telah sukses digunakan untuk penyakit kardiovaskular, diabetes, dan luka bakar serius. Sampel darah ini dapat disimpan dalam waktu yang tak terhingga. Penyimpanan darah plasenta tidak membahayakan ibu maupun anak.



2.6 Lokasi dan Prosedur Bank Darah Tali Pusat di Indonesia
Prosedur pertama adalah dengan mendaftarkan diri untuk menjadi anggota pada saat masa kehamilan di bank darah tali pusat Indonesia, Jalan Jenderal Ahmad Yani No. 2, Pulomas, Jakarta Pusat. Kemudian memberitahukan kepada dokter atau bidan dimana pasien akan melahirkan. Pada saatnya melahirkan, dokter kandungan akan siap membantu pengambilan darah tali pusat untuk kemudian diproses dan disimpan di bank darah tali pusat. [primz]
Bank darah tali pusat dapat dihubungi di PT Bintang Toedjoe (Jalan Jenderal Ahmad Yani No. 2 Pulomas Jakarta Pusat, Fax: 62 21 470 1678) atau PT Cordlife Indonesia (Plaza Chase Lantai 7, Jl Jend Sudirman Kav 21 Jakarta Selatan, Fax: 62 21 521 3547).
Biaya untuk pengambilan darah, pemrosesan, dan penyimpanan tahun pertama di bank darah tali pusat Indonesia yaitu Rp. 9.000.000,00. Sedangkan untuk penyimpanan tahun berikutnya, tarif yang ditetapkan adalah Rp.1.250.000,00 per tahunnya. Menurut CEO Group CordLife, Steven Fang, harga tersebut lebih murah dibandingkan dengan menyimpan di luar negeri karena tidak termasuk dana pengiriman. Di Singapura misalnya, untuk proses awal dibebankan biaya 2.000 dolar Singapura dan 250 dolar Singapura per tahun untuk penyimpanan tahun selanjutnya. (info kurs 1 dolar singapura per 13 April 2010 = Rp.6.500,00). Kapasitas penyimpanan bank ini terbatas hanya untuk 30.000 unit darah tali pusat dengan kapasitas masing-masing 22,5 mililiter per unit.

PATERNAL LEUKOCYTE IMMUNIZATION


PATERNAL LEUKOCYTE IMMUNIZATION
A.    DEFINISI PATERNAL LEUKOCYTE IMMUNIZATION
PLI ( Pateral Leukocyte Immunization ) merupakan salah satu terapi bagi pasangan dengan keadaan :
1.      Infertil (Mandul) walaupun pemeriksaan istri tidak ditemukan kelainan secara organik dan pemeriksaan analisa sperma suami “ Baik “ (Cukup untuk Membuahi)
2.      Keguguran Berulang yang mana tidak diketahui penyebab lainnya, terutama pada kehamilan < 20 minggu ( 5 Bulan ).
3.      Janin tidak berkembang yang disebabkan oleh penyakit autoimun sehingga aliran darah ke janin dari ibu mengalami hambatan.
Sperma dan janin  didalam kandungan merupakan benda asing (antigen) bagi istri / ibu. Oleh karena itu tubuh istri harus memberikan perlindungan terhadap janin dengan membentuk “ Blocking Antibody “
Pada Keadaan normal ditubuh istri terbentuk  “ Blocking Antibody “ yang melindungi  janin dan menginduksi pertumbuhan placenta pada trimester pertama kehamilan ( 12 Minggu ). Makin tinggi kadar “ Blocking Antibody “  semakin baik bagi janin untuk berkembang.
Sedang pada keadaan tertentu pembentukan “ Blocking Antibody “ sangat rendah sehingga menyebabkan keguguran, cacat janin atau janin tidak berkembang karena :
•         Berkurangnya perlindungan terhadap janin pada trimester I
•         Tidak berkembangnya placenta
•         Penolakan tubuh istri terhadap unsur suami yaitu sperma dan janin yang berada  dalam kandungan istri.
Pembentukan “ Blocking Antibody “ dapat diinduksi dengan pemberian sel darah putih suami melalui imunisasi kepada istri yang di sebut PLI . Pada pasien dengan ASA  ( Anti Sperma Anti Bodi ) yang sangat tinggi, terjadi reaksi penolakan didalam tubuh istri karena sperma suami dianggap benda asing oleh tubuh istri. Dalam hal ini PLI dapat memberi perlindungan pada istri dari pembentukan ASA lebih tinggi.
B.     WAKTU PEMBERIAN PATERNAL LEUKOCYTE IMMUNIZATION
Waktu pemberian Paternal Leukocyte Immunization, yaitu :
•         Sebelum terjadi konsepsi ( Pembuahan )
•         Setelah terjadi Konsepsi ( Pembuahan ) sampai kehamilan 12 minggu.
Pelaksanaan dapat dilakukan kapan saja dan tidak tergantung siklus haid. Terapi diberikan minimal 3 kali dan maksimal 6 kali pemberian, dengan waktu pemberian :
•         PLI  diberikan minimal 3x dengan jarak 3 – 4 minggu dan 2 minggu setelah PLI ketiga, Pasien disarankan untuk uji evaluasi imunoandrologis.
•         PLI dapat diteruskan 3x lagi sampai PLI ke 6 (Jika diperlukan sesuai rekomendasi dokter)

C.    PASIEN MEMERLUKAN METODE PATERNAL LEUKOCYTE IMMUNIZATION
Yang memerlukan metode ini adalah :
•         Pasangan yang sulit mempunyai anak.
•         Pasangan yang mempunyai riwayat keguguran berulang ( 2 Kali atau lebih )
•         Pasangan yang mempunyai riwayat kehamilan tidak berkembang.
•         Pasangan yang telah mempunyai anak namun sulit untuk mendapatkan anak berikutnya. 
D.    PERSIAPAN METODE PATERNAL LEUKOCYTE IMMUNIZATION
Pasangan yang akan menjalankan terapi PLI harus melakukan :
•         Konsultasi : Bagi Pasangan.
•         Pemeriksaan Laboratorium bagi suami untuk mengetahui keberadaan penyakit tertentu.
 Pasangan Suami Istri datang ke laboratorium dan darah suami diambil untuk dilakukan pemisahan seluler lebih kurang 60 – 90 menit kemudian dilakukan imunisasi istri.
Prosesnya bertahap. Sebelum pasangan menjalani proses terapi ini, suami harus melakukan uji pra-PLI, yaitu melakukan pengambilan contoh darah yang hasilnya sudah dapat diketahui dalam 3 hari. Apabila darah suami memenuhi syarat, maka terapi dapat dilakukan. Caranya :
1.      Darah suami diambil sebanyak 15 ml untuk diproses dan dipisahkan antara sel darah putih dan sel darah merah. Sekitar 10 juta sel darah putih yang berhasil dipisahkan, selanjutnya disuntikkan ke tubuh istri secara subkutan (di bawah permukaan kulit). Proses ini dilakukan sebanyak 3 kali dengan jarak 3 – 4 minggu.
2.      Dua minggu setelah suntikan ke-3, dilakukan evaluasi laboratorium terhadap kadar ASA di dalam tubuh istri. Apabila kadar ASA istri termasuk dalam kisaran normal, pasangan tersebut disarankan untuk melakukan hubungan intim karena proses pembuahan masih mungkin terjadi. Diharapkan bila terjadi proses pembuahan, dapat berlanjut hingga proses kehamilan normal.
3.      Untuk menjaga agar kadar ASA tetap dalam kadar normal, biasanya terapi terus dilakukan hingga usia kehamilan mencapai 12 minggu. Dengan begitu, diharapkan proses implantasi embrio ke dalam dinding rahim dapat berlangsung normal. Proses kehamilan pun dapat berlanjut hingga 9 blan penuh.
Setiap kali berhubungan seks, tubuh wanita akan memroduksi ASA. Hasil pemeriksaan laboratorium dapat menunjukkan ASA Anda tergolong normal atau tidak.
•  Normal: bila titernya 1: 4 hingga 1 : 64.
•  Rendah: bila  titernya 1 : >256 hingga 1 : 1.024.
•  Menengah: bila titernya 1 : 2.048 hingga 1 : 16.384.
•  Tinggi: bila titernya 1 : 32.768 hingga 1 : 262.304.

E.     KEUNTUNGAN METODE PATERNAL LEUKOCYTE IMMUNIZATION
•         PLI dapat menginduksi terbentuknya “ Blocking Antibody “ yang dapat menekan pembentukan antibody anti sperma lebih awal, Spesifik dan selektif karena tidak menurunkan system imun tubuh secara keseluruhan, tetapi hanya menurunkan kadar / tingkat antibody antisperma terhadap sperma suami.


DAFTAR PUSTAKA
Ø  Makalah Dr. Indrra. G. Mansyur. 2010. Rumah Sakit Budhi Jaya
Ø  Terapi PLI untuk ibu tolak anti sperma suami. 2010. www.ayahbunda.co.id
Ø  Paternal Leukocyte immunization. 2008.
www.senandungcintaku.wordpress.com