MATERI KULIAH BIOSTATISTIK
Program Studi :
Sarjana Terapan Promosi Kesehatan
Topik : Jenis Data, Skala Pengukuran, dan Sumber
Data Kesehatan
Dosen Pengajar
: Dr. Safrudin, SKM, M.Kes.
A. Capaian Pembelajaran Mata Kuliah
Setelah mengikuti perkuliahan ini,
mahasiswa mampu:
- Menjelaskan pengertian dan jenis-jenis data dalam
biostatistik.
- Mengidentifikasi skala pengukuran data yang
digunakan dalam penelitian kesehatan.
- Menentukan
sumber data kesehatan yang tepat untuk kegiatan promosi kesehatan dan
penelitian terapan.
- Menerapkan pemilihan jenis data, skala pengukuran,
dan sumber data dalam contoh kasus kesehatan masyarakat.
B. Pengantar
Biostatistik
Biostatistik
adalah penerapan ilmu statistika pada bidang kesehatan dan kedokteran, yang
digunakan untuk mengumpulkan, mengolah, menganalisis, dan menginterpretasikan
data kesehatan. Dalam
promosi kesehatan, biostatistik berperan penting sebagai dasar pengambilan
keputusan berbasis bukti (evidence-based practice).
C. Jenis Data dalam Biostatistik
1. Pengertian Data
Data adalah kumpulan fakta atau
nilai yang diperoleh dari hasil pengamatan, pengukuran, atau pencatatan
terhadap suatu variabel.
2. Jenis Data
Berdasarkan Sifatnya
a. Data
Kualitatif (Kategorik)
Data yang
berbentuk kategori atau atribut, tidak dinyatakan dalam angka bermakna
matematis.
Contoh dalam promosi kesehatan:
1) Jenis kelamin (laki-laki,
perempuan)
2) Status merokok (ya, tidak)
3)
Tingkat pengetahuan (baik, cukup, kurang)
b. Data
Kuantitatif (Numerik)
Data yang
berbentuk angka dan dapat dilakukan operasi matematika.
Contoh:
1) Umur (tahun)
2) Berat badan (kg)
3) Jumlah kunjungan posyandu
Data kuantitatif dibedakan menjadi:
- Data
Diskrit: data
hasil hitungan, bernilai bulat
Contoh: jumlah anak, jumlah kader - Data Kontinu: data
hasil pengukuran, dapat bernilai pecahan
Contoh: tinggi badan, kadar Hb, tekanan darah
D. Skala
Pengukuran Data
Skala
pengukuran menunjukkan cara suatu variabel diukur dan menentukan jenis analisis
statistik yang dapat digunakan.
1. Skala Nominal
1) Skala paling sederhana
2) Hanya berfungsi sebagai
label/kategori
3) Tidak memiliki urutan
Contoh:
1) Jenis kelamin
2) Status imunisasi (lengkap, tidak
lengkap)
3) Golongan darah
Analisis yang umum digunakan:
1) Frekuensi, persentase
2. Skala Ordinal
1) Data memiliki kategori dan urutan
2) Jarak antar kategori tidak sama
Contoh:
1)
Tingkat pendidikan (SD, SMP, SMA, PT)
2)
Tingkat pengetahuan (baik, cukup, kurang)
3) Status gizi (kurus, normal, gemuk)
Analisis umum:
1) Median, persentase, uji
non-parametrik
3. Skala Interval
1) Data berbentuk angka
2) Memiliki jarak yang sama
3) Tidak memiliki nol mutlak
Contoh:
1) Skor pengetahuan
2) Suhu tubuh dalam derajat Celcius
Analisis umum:
1) Mean, standar deviasi
4. Skala Rasio
1) Skala tertinggi
2) Memiliki jarak yang sama
3) Memiliki nol mutlak
Contoh:
1) Umur
2) Berat badan
3) Tinggi badan
4) Penghasilan
Analisis umum:
1) Semua analisis statistik (mean, SD,
uji parametrik)
E. Sumber Data
Kesehatan
1. Data Primer
Data yang
dikumpulkan langsung oleh peneliti dari responden atau objek penelitian.
Metode pengumpulan:
1) Wawancara
2) Kuesioner
3) Observasi
4)
Pengukuran langsung (IMT, tekanan darah)
Contoh penggunaan:
1) Survei pengetahuan remaja tentang
anemia
2) Evaluasi program promosi kesehatan
di sekolah
Kelebihan:
1) Data spesifik sesuai tujuan
2) Validitas lebih terkontrol
Kekurangan:
1) Membutuhkan waktu dan biaya
2. Data Sekunder
Data yang diperoleh dari pihak lain
atau dokumen yang sudah tersedia.
Sumber data sekunder kesehatan:
1) Profil Kesehatan Kabupaten/Kota
2) Data Puskesmas
3) Riskesdas
4) SSGI
5) BPS
Kelebihan:
1) Hemat waktu dan biaya
2) Mudah diakses
Kekurangan:
1) Tidak selalu sesuai kebutuhan
penelitian
F. Contoh Penerapan dalam Promosi
Kesehatan
Contoh kasus:
Program edukasi gizi untuk mencegah anemia remaja putri.
1) Jenis data:
a)
Pengetahuan
(kualitatif/ordinal)
b)
Kadar
Hb (kuantitatif/kontinu)
2) Skala pengukuran:
a)
Pengetahuan:
ordinal
b)
Hb:
rasio
3) Sumber data:
a) Data
primer (pengukuran Hb, kuesioner)
G. Rangkuman
- Data dalam biostatistik dibedakan menjadi kualitatif
dan kuantitatif.
- Skala pengukuran terdiri dari nominal, ordinal,
interval, dan rasio.
- Sumber data kesehatan berasal dari data primer dan
data sekunder.
- Pemahaman jenis data dan skala pengukuran penting
untuk menentukan analisis statistik yang tepat.
H. Tugas Mahasiswa
- Identifikasi
jenis data, skala pengukuran, dan sumber data dari satu judul penelitian
promosi kesehatan.
- Buat tabel yang memuat minimal 5 variabel penelitian
beserta jenis data dan skalanya.
I. Contoh Soal dan Pembahasan
Soal 1
Seorang
peneliti ingin mengetahui jenis kelamin responden pada kegiatan
penyuluhan PHBS di Puskesmas.
Pertanyaan:
- Termasuk
jenis data apakah variabel jenis kelamin?
- Skala pengukuran apa yang digunakan?
Pembahasan:
- Jenis kelamin termasuk data kualitatif
(kategorik) karena berupa kategori dan tidak dapat dihitung secara
matematis.
- Skala pengukurannya adalah skala nominal,
karena hanya berfungsi sebagai label tanpa urutan.
Soal 2
Data umur responden dikumpulkan
dalam satuan tahun pada penelitian perilaku merokok remaja.
Pertanyaan:
- Termasuk
data apa umur responden?
- Apa
skala pengukurannya?
Pembahasan:
- Umur termasuk data kuantitatif kontinu,
karena merupakan hasil pengukuran dan dapat bernilai pecahan.
- Skala pengukuran umur adalah skala rasio,
karena memiliki nol mutlak dan jarak yang sama.
Soal 3
Pengetahuan
ibu tentang gizi seimbang dikategorikan menjadi: baik, cukup, dan kurang.
Pertanyaan:
- Termasuk
jenis data apakah variabel pengetahuan?
- Apa
skala pengukurannya?
Pembahasan:
- Pengetahuan termasuk data kualitatif (kategorik).
- Skala pengukurannya adalah skala ordinal,
karena memiliki urutan tetapi jarak antar kategori tidak sama.
Soal 4
Seorang mahasiswa mengukur berat
badan balita dalam satuan kilogram pada kegiatan posyandu.
Pertanyaan:
- Termasuk
jenis data apa berat badan?
- Skala pengukuran yang digunakan adalah?
Pembahasan:
- Berat badan termasuk data kuantitatif kontinu.
- Skala
pengukurannya adalah skala rasio, karena memiliki nol mutlak dan
jarak yang sama.
Soal 5
Mahasiswa menggunakan data Profil
Kesehatan Kabupaten untuk mengetahui cakupan imunisasi dasar lengkap.
Pertanyaan:
- Termasuk
sumber data apakah data tersebut?
- Jelaskan
alasannya.
Pembahasan:
- Data
tersebut termasuk data sekunder.
- Karena data diperoleh dari dokumen resmi yang sudah
tersedia dan bukan dikumpulkan langsung oleh peneliti.
Soal 6 (Studi Kasus Terapan)
Judul penelitian: Pengaruh
Edukasi Gizi terhadap Pengetahuan dan Kadar Hb Remaja Putri.
Pertanyaan:
- Tentukan jenis data dan skala pengukuran untuk
variabel pengetahuan.
- Tentukan jenis data dan skala pengukuran untuk
variabel kadar Hb.
- Sebutkan sumber data yang digunakan.
Pembahasan:
- Pengetahuan: data kualitatif dengan skala ordinal.
- Kadar Hb: data kuantitatif kontinu dengan skala rasio.
- Sumber data: data primer, karena diperoleh
dari kuesioner dan pengukuran Hb langsung.
Catatan Dosen:
Mahasiswa diharapkan mampu mengidentifikasi jenis data, skala pengukuran, dan
sumber data secara tepat sebelum menentukan metode analisis statistik.
Pemahaman konsep ini menjadi dasar penting dalam membaca hasil penelitian dan
menyusun karya ilmiah promosi kesehatan.
J. Bank Soal Pilihan Ganda
Petunjuk
Pilih satu jawaban yang paling
tepat!
1. Data tentang status imunisasi
balita (lengkap/tidak lengkap) termasuk jenis data …
A. Kuantitatif kontinu
B. Kuantitatif diskrit
C. Kualitatif nominal
D. Kualitatif ordinal
Kunci: C
2. Variabel
tingkat pendidikan (SD, SMP, SMA, PT) menggunakan skala pengukuran …
A. Nominal
B. Ordinal
C. Interval
D. Rasio
Kunci: B
3. Data berat
badan balita yang diukur dalam kilogram termasuk …
A. Data kualitatif ordinal
B. Data kuantitatif diskrit
C. Data kuantitatif kontinu
D. Data nominal
Kunci: C
4. Skala pengukuran yang memiliki
nol mutlak adalah …
A. Nominal
B. Ordinal
C. Interval
D. Rasio
Kunci: D
5. Data jumlah kunjungan ibu hamil
ke Posyandu dalam satu tahun termasuk …
A. Data kualitatif
B. Data kuantitatif diskrit
C. Data kuantitatif kontinu
D. Data ordinal
Kunci: B
K. Soal Studi Kasus (Berbasis
Program Puskesmas/Posyandu)
Studi Kasus 1 – Program Posyandu
Balita
Puskesmas X melakukan evaluasi
program Posyandu untuk menurunkan angka stunting. Data yang dikumpulkan
meliputi:
a) Umur balita (bulan)
b) Tinggi badan (cm)
c) Status gizi (pendek, normal)
d) Kehadiran balita di Posyandu
(hadir/tidak hadir)
Pertanyaan:
- Tentukan jenis data dan skala pengukuran
masing-masing variabel.
- Identifikasi mana data primer dan data sekunder.
Studi Kasus 2 – Program Promosi
Kesehatan Remaja
Puskesmas melakukan edukasi anemia
pada remaja putri. Evaluasi dilakukan dengan:
a)
Skor pengetahuan sebelum dan sesudah edukasi
b) Kadar Hb (g/dL)
c) Status anemia (anemia/tidak anemia)
Pertanyaan:
- Tentukan jenis data dan skala pengukuran setiap
variabel.
- Data
mana yang paling tepat untuk menilai keberhasilan program?
L. Lembar
Kerja Mahasiswa (LKM)
Identitas
Nama Mahasiswa : …………………
NIM : …………………
Semester/Kelas : …………………
Tujuan LKM
Mahasiswa mampu mengidentifikasi
jenis data, skala pengukuran, dan sumber data pada program kesehatan
masyarakat.
Petunjuk Pengerjaan
- Kerjakan secara individu atau kelompok kecil.
- Gunakan
contoh program Puskesmas atau Posyandu di wilayah masing-masing.
Tugas 1 –
Identifikasi Variabel
Tuliskan
minimal 5 variabel dari satu program kesehatan (misalnya: Posyandu, PTM,
KIA, Gizi).
|
No |
Variabel |
Jenis Data |
Skala Pengukuran |
Sumber Data |
|
1 |
||||
|
2 |
||||
|
3 |
||||
|
4 |
||||
|
5 |
Tugas 2 – Refleksi
- Mengapa
pemilihan skala pengukuran penting dalam analisis data kesehatan?
- Apa dampaknya jika skala pengukuran ditentukan
secara tidak tepat?
Catatan Dosen:
LKM ini menjadi latihan awal sebelum mahasiswa mempelajari statistik deskriptif
dan uji statistik pada perkuliahan selanjutnya.
studi kasus 2
BalasHapusData Primer: Data yang diambil langsung oleh petugas Puskesmas dari lapangan melalui penimbangan (tinggi badan) dan absensi saat Posyandu berlangsung.
Data Sekunder: Jika petugas mengambil data umur atau riwayat kehadiran dari buku register (Buku KIA) atau arsip laporan bulanan yang sudah ada sebelumnya.
Studi kasus 2
Untuk menilai keberhasilan program secara klinis, data yang paling tepat adalah Kadar Hb (g/dL) dan Status Anemia.
Mengapa? Karena tujuan akhir (impact) dari program ini adalah menurunkan angka anemia. Skor pengetahuan hanya mengukur output (apakah mereka paham?), namun peningkatan kadar Hb adalah bukti nyata efektivitas intervensi kesehatan terhadap kondisi fisik remaja putri.
Nama : Sofia kamila
BalasHapusKelas : 3B
NIM: P3.73.24.3.23.092
Studi kasus 1
Pada studi kasus Program Posyandu Balita, umur balita (dalam bulan) dan tinggi badan (dalam cm) termasuk data kuantitatif dengan skala pengukuran rasio, karena berbentuk angka, memiliki nol absolut, dan dapat dibandingkan secara proporsional.
Status gizi balita (pendek, normal) merupakan data kualitatif dengan skala nominal, karena berupa kategori tanpa tingkatan.
Sementara itu, kehadiran balita di Posyandu (hadir/tidak hadir) juga termasuk data kualitatif dengan skala nominal, karena hanya menunjukkan klasifikasi kehadiran tanpa urutan atau tingkat tertentu.
Berdasarkan sumbernya, data primer meliputi umur balita, tinggi badan, dan kehadiran balita apabila diperoleh melalui pengukuran dan pencatatan langsung saat kegiatan Posyandu. Adapun data sekunder adalah status gizi balita apabila diperoleh dari dokumen atau laporan yang telah tersedia sebelumnya, seperti buku KIA, KMS, atau rekap data Posyandu dan Puskesmas.
Studi kasus 2
Pada Program Promosi Kesehatan Remaja terkait edukasi anemia, skor pengetahuan sebelum dan sesudah edukasi termasuk data kuantitatif dengan skala interval, karena berupa angka hasil penilaian yang memiliki jarak antar skor yang sama, namun tidak memiliki nol absolut yang bermakna. Perbandingan yang dilakukan adalah perubahan nilai sebelum dan sesudah intervensi edukasi.
Kadar hemoglobin (Hb) dalam g/dL merupakan data kuantitatif dengan skala rasio, karena memiliki nol absolut dan perbedaan serta perbandingan nilainya bermakna secara biologis.
Sementara itu, status anemia (anemia/tidak anemia) termasuk data kualitatif dengan skala nominal, karena berupa pengelompokan kondisi tanpa tingkatan.
Untuk menilai keberhasilan program, data yang paling tepat adalah skor pengetahuan sebelum dan sesudah edukasi, karena program yang dilakukan berupa edukasi sehingga luaran langsung yang diharapkan adalah peningkatan pengetahuan remaja. Namun, untuk menilai dampak kesehatan yang lebih objektif, kadar Hb dan status anemia dapat digunakan sebagai indikator outcome, meskipun perubahan pada variabel ini biasanya membutuhkan waktu dan dipengaruhi faktor lain seperti asupan gizi dan kepatuhan konsumsi tablet tambah darah.
1. Jenis Data dan Skala Pengukuran
BalasHapusKita bisa membagi variabel-variabel ini ke dalam dua kelompok besar: Kelompok Angka (Kuantitatif) dan Kelompok Kategori (Kualitatif).
A. Kelompok Angka (Skala Rasio)
Variabel Umur Balita dan Tinggi Badan masuk ke dalam kategori ini.
Kenapa? Karena keduanya merupakan hasil pengukuran pasti yang punya nilai nol mutlak. Artinya, jika tinggi badan 0 cm, maka memang tidak ada objeknya. Kamu juga bisa bilang kalau balita dengan tinggi 100 cm itu dua kali lebih tinggi dari balita 50 cm.
B. Kelompok Kategori Bertingkat (Skala Ordinal)
Variabel Status Gizi (Pendek vs Normal) masuk ke sini.
Kenapa? Karena datanya berupa label, tapi label ini punya tingkatan atau urutan. Status "normal" secara klinis dianggap lebih baik daripada "pendek" dalam konteks stunting.
C. Kelompok Kategori Label (Skala Nominal)
Variabel Kehadiran Balita (Hadir vs Tidak Hadir) masuk ke sini.
Kenapa? Ini murni hanya label untuk membedakan dua kelompok. Tidak ada urutan matematis antara hadir dan tidak hadir; mereka hanya dua kondisi yang berbeda saja.
2. Sumber Data: Primer atau Sekunder?
Untuk menentukan ini, kuncinya ada pada "Siapa yang ambil data pertama kali?"
Bisa Jadi Data Sekunder: Biasanya dalam evaluasi program, Puskesmas tidak mengukur ulang dari nol, melainkan melihat catatan di Buku KIA (Kesehatan Ibu dan Anak) atau laporan bulanan kader. Jika tim evaluasi hanya menyalin data yang sudah ada, maka ini disebut data sekunder.
Bisa Jadi Data Primer: Jika saat evaluasi dilakukan, tim Puskesmas langsung membawa meteran, mengukur tinggi badan balita satu per satu, dan mencatatnya di formulir baru, maka itu adalah data primer.
Studi Kasus 1 – Program Posyandu Balita
BalasHapusUmur balita (bulan) dan tinggi badan (cm) merupakan data kuantitatif dengan skala pengukuran rasio karena memiliki nol mutlak dan diperoleh melalui pengukuran langsung, sehingga termasuk data primer. Status gizi balita (pendek dan normal) merupakan data kualitatif dengan skala nominal yang umumnya merupakan hasil pengolahan data antropometri berdasarkan standar tertentu, sehingga termasuk data sekunder. Kehadiran balita di Posyandu (hadir atau tidak hadir) merupakan data kualitatif dengan skala nominal dan termasuk data primer karena dicatat langsung saat kegiatan Posyandu berlangsung.
Studi Kasus 2 – Program Promosi Kesehatan Remaja
Skor pengetahuan sebelum dan sesudah edukasi merupakan data kuantitatif dengan skala interval yang diperoleh dari kuesioner sehingga termasuk data primer. Kadar hemoglobin (Hb) dalam satuan g/dL merupakan data kuantitatif dengan skala rasio karena memiliki nol mutlak dan diukur secara langsung, sehingga termasuk data primer. Status anemia (anemia dan tidak anemia) merupakan data kualitatif dengan skala nominal dan termasuk data sekunder karena ditentukan berdasarkan pengelompokan nilai Hb sesuai standar yang berlaku.
Studi Kasus 1 – Program Posyandu Balita
BalasHapusUmur balita dan tinggi badan merupakan data kuantitatif dengan skala rasio karena berbentuk angka hasil pengukuran dan memiliki nol absolut. Status gizi (pendek, normal) serta kehadiran balita di Posyandu (hadir/tidak hadir) termasuk data kualitatif dengan skala nominal karena berbentuk kategori. Data primer dalam kasus ini adalah umur balita, tinggi badan, dan kehadiran Posyandu yang diperoleh langsung dari pengukuran dan pencatatan lapangan, sedangkan status gizi merupakan data sekunder karena biasanya berasal dari hasil pengolahan atau laporan gizi Puskesmas.
Studi Kasus 2 – Program Promosi Kesehatan Remaja
Skor pengetahuan sebelum dan sesudah edukasi merupakan data kuantitatif dengan skala interval karena menunjukkan nilai dengan jarak bermakna, sedangkan kadar Hb adalah data kuantitatif dengan skala rasio karena diperoleh dari pemeriksaan laboratorium dan memiliki nol absolut. Status anemia (anemia/tidak anemia) termasuk data kualitatif dengan skala nominal karena berbentuk kategori. Keberhasilan program paling tepat dinilai melalui perubahan kadar Hb dan penurunan status anemia, karena kedua data tersebut menunjukkan dampak langsung terhadap kondisi kesehatan, sementara skor pengetahuan hanya menggambarkan peningkatan pemahaman.
1. Studi kasus 1
BalasHapusJawaban
1. umur balita = data kuantitatif dengan skala rasio, TB balita = dara kuantitatif dengan skala rasio, status gizi balita = data kualitatif dengan skala nominal, kehadiran balita di posyandu = data kualitatif dengan skala nominal
2. data primer= TB balita dan kehadiran balita di posyandu, data sekunder= umur balita dan status gizi
studi kasus 2
jawaban
1. skor pengetahuan sebelum dan sesudah edukasi = data kuantitatif dengan skala interval, kadar Hb= data kuantitatif dengan skala rasio, status anemia dan tidak anemia= data kualitatif dengan skala nominal
2. data yang tepat untuk promkes adalah skor pengetahuan sebelum dan sesudah edukasi
Studi kasus 1
BalasHapusJawaban
1. umur balita = data kuantitatif dengan skala rasio, TB balita = dara kuantitatif dengan skala rasio, status gizi balita = data kualitatif dengan skala nominal, kehadiran balita di posyandu = data kualitatif dengan skala nominal
2. data primer= TB balita dan kehadiran balita di posyandu, data sekunder= umur balita dan status gizi
Studi kasus 2
jawaban
1. skor pengetahuan sebelum dan sesudah edukasi = data kuantitatif dengan skala interval, kadar Hb= data kuantitatif dengan skala rasio, status anemia dan tidak anemia= data kualitatif dengan skala nominal
2. data yang tepat untuk promkes adalah skor pengetahuan sebelum dan sesudah edukasi
Studi kasus 1
BalasHapus1. Jenis Data dan Skala Pengukuran
a) Umur balita (bulan)
* Jenis data: Numerik
* Sifat data: Kontinu
* Skala pengukuran: Rasio
Karena umur memiliki nol mutlak dan dapat dilakukan semua operasi matematika.
b) Tinggi badan (cm)
* Jenis data: Numerik
* Sifat data: Kontinu
* Skala pengukuran: Rasio
Tinggi badan memiliki nol mutlak dan jarak antar nilai sama.
c) Status gizi (pendek, normal)
* Jenis data: Kategorik
* Sifat data: Ordinal
* Skala pengukuran: Ordinal
Karena status gizi memiliki tingkatan/urutan.
d) Kehadiran balita di Posyandu (hadir/tidak hadir)
* Jenis data: Kategorik
* Sifat data: Nominal
* Skala pengukuran: Nominal
Karena hanya berupa kategori tanpa urutan.
2. Identifikasi Data Primer dan Data Sekunder
*Data Primer
Umur balita, tinggi badan, status gizi, dan kehadiran balita jika dikumpulkan langsung oleh petugas Posyandu atau Puskesmas melalui pengukuran dan pencatatan saat kegiatan berlangsung.
*Data Sekunder
Data yang sama jika diperoleh dari laporan Posyandu sebelumnya, buku KIA, atau database Puskesmas yang sudah tersedia.
Studi kasus 2
1. Jenis Data dan Skala Pengukuran
a) Skor pengetahuan sebelum dan sesudah edukasi
* Jenis data: Numerik
* Sifat data: Kontinu
* Skala pengukuran: Interval
Karena skor memiliki jarak yang sama, tetapi tidak memiliki nol mutlak.
b) Kadar Hb (g/dL)
* Jenis data: Numerik
* Sifat data: Kontinu
* Skala pengukuran: Rasio
Karena memiliki nol mutlak dan dapat dilakukan semua operasi matematika.
c) Status anemia (anemia/tidak anemia)
* Jenis data: Kategorik
* Sifat data: Nominal
* Skala pengukuran: Nominal
Karena hanya berupa kategori tanpa urutan.
2. Data yang Paling Tepat untuk Menilai Keberhasilan Program
Data yang paling tepat untuk menilai keberhasilan program promosi kesehatan remaja adalah skor pengetahuan sebelum dan sesudah edukasi.
Hal ini karena tujuan utama promosi kesehatan adalah meningkatkan pengetahuan dan kesadaran, sehingga perubahan skor pengetahuan dapat langsung menunjukkan dampak edukasi yang diberikan.
Namun, kadar Hb dan status anemia tetap penting sebagai indikator jangka menengah dan panjang, karena perubahan biologis seperti peningkatan Hb membutuhkan waktu dan dipengaruhi oleh faktor lain, seperti kepatuhan konsumsi tablet tambah darah dan pola makan.
Fadhlurrohman Nabil
BalasHapusP3.73.24.3.23.068
Studi kasus 1
Pertanyaan:
1. Tentukan jenis data dan skala pengukuran masing-masing variabel.
2. Identifikasi mana data primer dan data sekunder.
jawab:
1. a) Umur balita (bulan)
Jenis data: Numerik
Skala pengukuran: Rasio
b) Tinggi badan (cm)
Jenis data: Numerik
Skala pengukuran: Rasio
c) Status gizi (pendek, normal)
Jenis data: Kategorik
Skala pengukuran: Ordinal
d) Kehadiran balita di Posyandu (hadir/tidak hadir)
Jenis data: Kategorik
Skala pengukuran: Nominal
(hanya kategori tanpa urutan)
2. Identifikasi Sumber Data
Data Primer
Data yang dikumpulkan langsung oleh petugas saat evaluasi:
Umur balita (hasil wawancara/pencatatan langsung)
Tinggi badan (hasil pengukuran langsung)
Kehadiran balita di Posyandu (observasi langsung)
Data Sekunder
Data yang berasal dari catatan atau dokumen yang sudah ada:
Status gizi balita (misalnya dari buku KIA, laporan Posyandu, atau data e-PPGBM)
Studi Kasus 2
Pertanyaan:
1. Tentukan jenis data dan skala pengukuran setiap variabel.
2. Data mana yang paling tepat untuk menilai keberhasilan program?
1. Jenis Data dan Skala Pengukuran
a) Skor pengetahuan sebelum dan sesudah edukasi
Jenis data: Numerik
Skala pengukuran: Interval
b) Kadar Hb (g/dL)
Jenis data: Numerik
Skala pengukuran: Rasio
c) Status anemia (anemia / tidak anemia)
Jenis data: Kategorik
Skala pengukuran: Nominal
(kategori tanpa urutan)
2. Data Paling Tepat untuk Menilai Keberhasilan Program
Skor pengetahuan sebelum dan sesudah edukasi
Alasan:
Karena skor pengetahuan sebelum dan sesudah edukasi dapat langsung menunjukkan peningkatan pemahaman remaja sebagai hasil dari kegiatan promkes.
Nama : Zalfa Shifwah
BalasHapusKelas : 3B
Studi Kasus 1 – Program Posyandu Balita
Pada program Posyandu balita, umur balita dan tinggi badan merupakan data kuantitatif karena berbentuk angka dan dapat diukur, serta menggunakan skala rasio karena memiliki nol mutlak dan dapat dibandingkan. Status gizi balita termasuk data kualitatif dengan skala nominal karena hanya mengelompokkan balita ke dalam kategori pendek dan normal. Kehadiran balita di Posyandu juga merupakan data kualitatif dengan skala nominal karena hanya menunjukkan kategori hadir atau tidak hadir. Umur balita, tinggi badan, dan kehadiran Posyandu termasuk data primer karena diperoleh langsung dari hasil pengukuran dan pencatatan saat kegiatan Posyandu berlangsung, sedangkan status gizi termasuk data sekunder karena biasanya ditentukan berdasarkan standar atau catatan gizi yang sudah ada sebelumnya.
Studi Kasus 2 – Program Promosi Kesehatan Remaja
Dalam evaluasi program promosi kesehatan anemia pada remaja putri, skor pengetahuan sebelum dan sesudah edukasi merupakan data kuantitatif dengan skala interval karena menunjukkan tingkat pengetahuan dan memiliki jarak antar nilai yang sama. Kadar hemoglobin (Hb) termasuk data kuantitatif dengan skala rasio karena diukur dalam satuan g/dL dan memiliki nilai nol mutlak. Status anemia merupakan data kualitatif dengan skala nominal karena hanya mengelompokkan responden menjadi anemia atau tidak anemia. Data yang paling tepat untuk menilai keberhasilan program promosi kesehatan adalah skor pengetahuan sebelum dan sesudah edukasi, karena tujuan utama kegiatan edukasi adalah meningkatkan pengetahuan remaja, sehingga perubahan skor tersebut secara langsung menunjukkan keberhasilan program.
AHMAD FAUZAN HAKI
BalasHapusP3.73.24.3.23.053
Studi kasus 1
Pertanyaan:
1. Tentukan jenis data dan skala pengukuran masing-masing variabel.
2. Identifikasi mana data primer dan data sekunder.
jawab:
1. a) Umur balita (bulan)
Jenis data: Numerik
Skala pengukuran: Rasio
b) Tinggi badan (cm)
Jenis data: Numerik
Skala pengukuran: Rasio
c) Status gizi (pendek, normal)
Jenis data: Kategorik
Skala pengukuran: Ordinal
d) Kehadiran balita di Posyandu (hadir/tidak hadir)
Jenis data: Kategorik
Skala pengukuran: Nominal
(hanya kategori tanpa urutan)
2. Identifikasi Sumber Data
Data Primer
Data yang dikumpulkan langsung oleh petugas saat evaluasi:
Umur balita (hasil wawancara/pencatatan langsung)
Tinggi badan (hasil pengukuran langsung)
Kehadiran balita di Posyandu (observasi langsung)
Data Sekunder
Data yang berasal dari catatan atau dokumen yang sudah ada:
Status gizi balita (misalnya dari buku KIA, laporan Posyandu, atau data e-PPGBM)
Studi Kasus 2
Pertanyaan:
1. Tentukan jenis data dan skala pengukuran setiap variabel.
2. Data mana yang paling tepat untuk menilai keberhasilan program?
1. Jenis Data dan Skala Pengukuran
a) Skor pengetahuan sebelum dan sesudah edukasi
Jenis data: Numerik
Skala pengukuran: Interval
b) Kadar Hb (g/dL)
Jenis data: Numerik
Skala pengukuran: Rasio
c) Status anemia (anemia / tidak anemia)
Jenis data: Kategorik
Skala pengukuran: Nominal
(kategori tanpa urutan)
2. Data Paling Tepat untuk Menilai Keberhasilan Program
Skor pengetahuan sebelum dan sesudah edukasi
Alasan:
Karena skor pengetahuan sebelum dan sesudah edukasi dapat langsung menunjukkan peningkatan pemahaman remaja sebagai hasil dari kegiatan promosi kesehatan.
Soal studi kasus 1
BalasHapus1.
- umur balita (bulan) jenis data numerik, skala rasio
- tinggi badan (cm) jenis data numerik, jenis skala rasio
- status gizi ( pendek normal) jenis data kategorik, jenis skala nominal
- kehadiran balita di posyandu ( hadir/TDK hadir) jenis data kategorik, skala nominal
2. Untuk umur, TB data primer dan status gizi serta kehadiran balita sekunder
2
- skor pengetahuan jenis data kategorik skala ordinal
- Hb jenis data numerik skala rasio
- status anemia jenis data kategorik skala nominal
2. Karena dari hasil pengumpulan skor pengetahuan yang sudah dilaksanakan data menunjukkan bahwa terjadi peningkatan pengetahuan masyarakat sebelum dan sesudah di edukasi.
studi kasus 1
BalasHapus1. dilihat dari umur (rasio), TB (rasio), gizi (ordinal), kehadiran (nominal)
2. jika diukur langsung di tempat itu berupa data primer sedangkan data sekunder jika mengambil dari catatan/buku register.
studi kasus 2
1. nilai pengetahuan (interval), hasil HB(rasio), status anemia (nominal).
2. indikator skor pengetahuan (sebelum & sesudah), karena secara langsung mengukur dampak edukasi yang baru diberikan.
Soal studi kasus 1
BalasHapus1. Jenis data dan skala pengukuran
Umur balita (bulan) merupakan data berbentuk angka sehingga termasuk data numerik dengan skala rasio.
Tinggi badan balita (cm) juga termasuk data numerik dan menggunakan skala rasio karena memiliki nol mutlak dan jarak nilai yang sama.
Status gizi (pendek, normal) merupakan data kategorik yang dikelompokkan berdasarkan kategori tertentu, sehingga menggunakan skala nominal.
Kehadiran balita di Posyandu (hadir/tidak hadir) termasuk data kategorik dengan skala nominal karena tidak memiliki tingkatan.
2. Jenis sumber data
Umur balita dan tinggi badan termasuk data primer karena diperoleh langsung dari hasil pengukuran saat kegiatan Posyandu.
Status gizi dan kehadiran balita termasuk data sekunder karena biasanya diperoleh dari catatan atau laporan Posyandu yang sudah ada.
Soal studi kasus 2
•Umur balita dan tinggi badan termasuk data primer karena diperoleh langsung dari hasil pengukuran saat kegiatan Posyandu.
•Status gizi dan kehadiran balita termasuk data sekunder karena biasanya diperoleh dari catatan atau laporan Posyandu yang sudah ada.
Studi Kasus 2
1. Jenis data dan skala pengukuran
Skor pengetahuan termasuk data kategorik dengan skala ordinal karena menunjukkan tingkat pengetahuan yang memiliki urutan.
Kadar Hb merupakan data numerik dengan skala rasio karena diukur dalam satuan angka dan memiliki nol mutlak.
Status anemia (anemia/tidak anemia) termasuk data kategorik dengan skala nominal.
2. Data yang paling tepat untuk menilai keberhasilan program
Data yang paling tepat untuk menilai keberhasilan program adalah skor pengetahuan, karena berdasarkan hasil pengumpulan data terlihat adanya peningkatan pengetahuan masyarakat sebelum dan sesudah dilakukan edukasi, yang sesuai dengan tujuan utama program edukasi tersebut.
Bimo Zharfan Fatahillah
BalasHapusP3.73.24.3.23.063
Studi kasus 1
1. Tentukan jenis data dan skala pengukuran masing-masing variabel.
Jawab:
Umur Balita
- Data (Numerik)
- Skala (Rasio)
Tinggi Badan
- Data (Numerik)
- Skala (Rasio)
Status Gizi
- Data (Kategorik)
- Skala (Ordinal)
Kehadiran balita di Posyandu
- Jenis (Kategorik)
- Skala (Nominal)
2. Identifikasi mana data primer dan data sekunder.
Jawab:
- Data Primer
Data yang dikumpulkan langsung oleh petugas saat evaluasi:
1. Umur balita (hasil pencatatan)
2. Tinggi badan (hasil pengukuran langsung)
3. Kehadiran balita di Posyandu (observasi langsung)
- Data Sekunder
Data yang berasal dari catatan atau dokumen yang sudah ada:
Status gizi balita (Buku KIA, laporan Posyandu, atau data e-PPGBM).
Bimo Zharfan Fatahillah
BalasHapusP3.73.24.3.23.063
Studi Kasus 2
1. Tentukan jenis data dan skala pengukuran setiap variabel.
Jawab:
Jenis Data dan Skala Pengukuran
a) Skor pengetahuan sebelum dan sesudah edukasi
Data: Numerik
Skala: Interval
b) Kadar Hb (g/dL)
Data: Numerik
Skala: Rasio
c) Status anemia (anemia / tidak anemia)
Data: Kategorik
Skala: Nominal
(kategori tanpa urutan)
2. Data mana yang paling tepat untuk menilai keberhasilan program?
Jawab:
1. Jenis Data dan Skala Pengukuran
a) Skor pengetahuan sebelum dan sesudah edukasi
Data: Numerik
Skala: Interval
b) Kadar Hb (g/dL)
Data: Numerik
Skala: Rasio
c) Status anemia (anemia / tidak anemia)
Data: Kategorik
Skala: Nominal
(kategori tanpa urutan)
2. Data Paling Tepat untuk Menilai Keberhasilan Program
Alasan:
Skor pengetahuan sebelum dan sesudah edukasi dapat langsung menunjukkan peningkatan pemahaman remaja sebagai hasil dari kegiatan promosi kesehatan.
Nama : Hanum Annisa Rhei
BalasHapusNIM : P3.73.24.3.23.072
1. Pada kasus 1 di Posyandu Balita, jenis data yang dipakai pada umur balita adalah dengan menggunakan data kuantitatif numerik dengan skala pengukuran rasio yang mempunyai 0 absolut (0 bulan). Sedangkan tinggi badan (cm) menggunakan jenis data kontinu, sebab tinggi badan digunakan untuk mengukur balita, skala yang digunakan adalah Rasio sebab terdapat 0 absolut karena selisih maupun tinggi badan sama² bermakna. Untuk status gizi (pendek/normal) pada posyandu balita menggunakan jenis data kualitatif (data diskrit) karena menghitung berdasarkan status balita hasil pengukuran data kontinu, skala yang digunakan adalah ordinaal karena terdiri tingkatan urutan dari pendek ke normal. Pada kehadiran balita di posyandu balita menggunakan jenis data kualitatif (data diskrit) yaitu menghitung berdasarkan jumlah status kehadiran, sedangkan skala yang digunakan adalah nominal karena tidak adanya tingkatan urutan kehadiran.
- Pada kasus 1 di posyandu balita menggunakan jenis data primer pada bagian umur balita, tinggi badan, serta kehadiran didapatkan berdasarkan data pemeriksaan lapangan di puskesmas/rumah sakit. Sedangkan pada status gizi balita merupakan data sekunder yang didapat pada data puskesmas/rumah sakit.
2. Pada kasus 2 yakni program promosi kesehatan remaja. untuk bagian skor pengetahuan sebelum dan sesudah edukasi menggunakan jenis data diskrit yaitu menghitung hasil jumlah skor pengetahuan peserta edukasi, jenis skala yang digunakan adalah ordinal karena terdapat urutan tingkatan pengetahuan edukasi. Untuk kadar Hb (g/dL) termasuk jenis data kuantitatif karena mengukur Hemoglobin Anemia pada remaja putri dengan menggunakan skala rasio yang menggunakan 0 absolut. Untuk status anemia menggunakan jenis data data diskrit yaitu berdasarkan data kualitatif (data diskrit) dengan skala nominal yakni tidak ada tingkatan yang signifikan.
- Data yang paling tepat pada keberhasilan program menurut saya adalah menggunakan data kuantitatif, dengan mengetahui data tersebut maka mudah untuk mengetahui status anemia pada remaja putri. Namun data kualitatif juga diperlukan untuk menunjang keberhasilan program
STUDI KASUS 1 – Program Posyandu Balita (Penurunan Stunting)
BalasHapus1. Jenis Data dan Skala Pengukuran
Umur balita (bulan)
Umur balita termasuk data kuantitatif karena dinyatakan dalam bentuk angka. Skala pengukurannya adalah rasio. Hal ini karena umur memiliki nol absolut (0 bulan menunjukkan tidak adanya umur sejak lahir) (misalnya 24 bulan dua kali lebih lama dari 12 bulan).
Data (Numerik)
Skala (Rasio)
Tinggi badan balita (cm)
Tinggi badan juga termasuk data kuantitatif dengan skala rasio. Tinggi badan memiliki nilai nol absolut, dan selisih maupun perbandingan antar nilai bermakna secara biologis. Variabel ini sangat penting dalam penentuan status gizi berdasarkan indeks TB/U.
Data (Numerik)
Skala (Rasio)
Status gizi balita (pendek, normal)
Status gizi merupakan data kualitatif karena berbentuk kategori. Skala pengukurannya adalah nominal, sebab hanya menunjukkan klasifikasi kondisi tanpa menunjukkan tingkatan nilai numerik.
Data (Kategorik)
Skala (Ordinal)
Kehadiran balita di Posyandu (hadir/tidak hadir)
Variabel ini termasuk data kualitatif dengan skala nominal dikotomi, karena hanya terdiri dari dua kategori dan tidak menunjukkan urutan atau tingkatan.
Jenis (Kategorik)
Skala (Nominal)
2. Identifikasi Data Primer dan Sekunder
Data primer adalah data yang dikumpulkan langsung oleh petugas saat kegiatan berlangsung. Dalam konteks Posyandu, yang termasuk data primer adalah:
• Umur balita (ditanyakan kepada orang tua atau dilihat pada KMS/KIA saat kegiatan)
• Tinggi badan balita (diukur langsung menggunakan alat ukur tinggi badan)
• Kehadiran balita (dicatat dalam daftar hadir Posyandu)
Data sekunder adalah data yang diperoleh dari hasil pengolahan atau dari dokumen yang sudah tersedia.
Status gizi balita dapat dikategorikan sebagai data sekunder apabila diperoleh dari hasil interpretasi pengukuran tinggi badan menurut umur berdasarkan standar WHO, atau dari laporan rekapitulasi Posyandu/Puskesmas. Artinya, status gizi bukan diukur langsung, tetapi merupakan hasil klasifikasi dari data antropometri.
STUDI KASUS 2 – Program Promosi Kesehatan Remaja (Edukasi Anemia)
1. Jenis Data dan Skala Pengukuran
Skor pengetahuan sebelum dan sesudah edukasi
Termasuk data kuantitatif dengan skala interval. Skor diperoleh dari hasil tes yang memiliki jarak antar nilai yang sama. Namun, angka nol tidak menunjukkan ketiadaan pengetahuan secara absolut, sehingga tidak termasuk rasio. Variabel ini digunakan untuk menilai perubahan kognitif setelah intervensi.
Data: Numerik
Skala: Interval
Kadar hemoglobin (Hb) dalam g/dL
Termasuk data kuantitatif dengan skala rasio. Nilai Hb memiliki nol absolut secara teoritis dan perbedaan nilainya bermakna secara biologis. Hb merupakan indikator objektif status anemia.
Data: Numerik
Skala: Rasio
Status anemia (anemia/tidak anemia)
Termasuk data kualitatif dengan skala nominal dikotomi. Variabel ini merupakan hasil pengelompokan berdasarkan batas kadar Hb tertentu.
Data: Kategorik
Skala: Nominal
(kategori tanpa urutan)
2. Data yang Paling Tepat untuk Menilai Keberhasilan Program
Keberhasilan program harus dilihat dari tujuan intervensi.
Karena program yang dilakukan adalah edukasi kesehatan, maka indikator keberhasilan langsung (output) yang paling relevan adalah peningkatan skor pengetahuan sebelum dan sesudah edukasi. Hal ini menunjukkan bahwa pesan edukasi dipahami oleh sasaran.
Namun, dalam konteks kesehatan masyarakat, keberhasilan yang lebih bermakna adalah perubahan kondisi kesehatan. Oleh karena itu:
• Kadar Hb merupakan indikator outcome biologis, karena menunjukkan perubahan status fisiologis remaja.
• Status anemia menunjukkan perubahan proporsi remaja yang mengalami anemia, sehingga mencerminkan dampak kesehatan yang lebih nyata.
Perlu dipahami bahwa perubahan Hb dan status anemia dipengaruhi oleh banyak faktor (asupan zat besi, kepatuhan minum TTD, infeksi, pola makan), sehingga efek edukasi terhadap variabel ini biasanya membutuhkan waktu.
Studi Kasus 1 – Program Posyandu Balita
BalasHapusJenis Data, Skala Pengukuran, dan Sumber Data
a) Umur balita (bulan)
→ Data kuantitatif, skala rasio, data sekunder
b) Tinggi badan (cm)
→ Data kuantitatif, skala rasio, data primer
c) Status gizi (pendek/normal)
→ Data kualitatif, skala nominal, data primer
d) Kehadiran balita di Posyandu (hadir/tidak hadir)
→ Data kualitatif, skala nominal, data sekunder
Studi Kasus 2 – Program Promosi Kesehatan Remaja
Jenis Data & Skala Pengukuran
a) Skor pengetahuan sebelum–sesudah edukasi
→ Data kuantitatif, skala interval
b) Kadar Hb (g/dL)
→ Data kuantitatif, skala rasio
c) Status anemia (anemia/tidak anemia)
→ Data kualitatif, skala nominal
Data Paling Tepat untuk Menilai Keberhasilan Program
Data yang paling tepat adalah skor pengetahuan pre–post dan kadar Hb, karena dapat menunjukkan perubahan pengetahuan dan dampak kesehatan secara langsung.
Tugas 2 – Refleksi
Pentingnya skala pengukuran:
Skala pengukuran menentukan jenis analisis data dan ketepatan interpretasi hasil program kesehatan.
Dampak skala tidak tepat:
Analisis menjadi tidak sesuai, hasil bias, dan kesimpulan program dapat keliru.
Achmad Ikramul Aufa
BalasHapusSoal studi kasus 1
1.
- umur balita (bulan) jenis data numerik, skala rasio
- tinggi badan (cm) jenis data numerik, jenis skala rasio
- status gizi ( pendek normal) jenis data kategorik, jenis skala nominal
- kehadiran balita di posyandu ( hadir/TDK hadir) jenis data kategorik, skala nominal
2. Untuk umur, TB data primer dan status gizi serta kehadiran balita sekunder
2
- skor pengetahuan jenis data kategorik skala ordinal
- Hb jenis data numerik skala rasio
- status anemia jenis data kategorik skala nominal
2. Karena dari hasil pengumpulan skor pengetahuan yang sudah dilaksanakan data menunjukkan bahwa terjadi peningkatan pengetahuan masyarakat sebelum dan sesudah di edukasi.
Studi Kasus 1: Program Posyandu Balita
BalasHapus1. Jenis Data & Skala Pengukuran
Umur (bulan): Kuantitatif – Skala Rasio (punya nilai nol mutlak).
Tinggi Badan (cm): Kuantitatif – Skala Rasio (bisa dihitung perbandingannya).
Status Gizi: Kualitatif – Skala Ordinal (ada tingkatan: normal > pendek).
Kehadiran: Kualitatif – Skala Nominal (hanya kategori Ya/Tidak).
2. Sumber Data
Data Primer: Diambil langsung oleh petugas lewat pengukuran dan absen di lokasi.
Data Sekunder: Diambil dari dokumen yang sudah ada, seperti buku register atau laporan kader.
Studi Kasus 2: Promosi Kesehatan Remaja
1. Jenis Data & Skala Pengukuran
Skor Pengetahuan: Kuantitatif – Skala Interval (perbedaan nilai bermakna, nol tidak mutlak).
Kadar Hb: Kuantitatif – Skala Rasio (nilai laboratorium eksak).
Status Anemia: Kualitatif – Skala Nominal (pengelompokan kondisi).
2. Indikator Keberhasilan
Data yang paling tepat adalah Kadar Hb. Skor pengetahuan hanya mengukur pemahaman, sedangkan kadar Hb membuktikan dampak klinis nyata dari program tersebut terhadap kesehatan remaja.
Studi Kasus 1
BalasHapusUmur balita (bulan) dan tinggi badan (cm) termasuk data kuantitatif dengan skala rasio, karena berbentuk angka, memiliki nol absolut, dan dapat dibandingkan secara proporsional. Status gizi balita (pendek, normal) merupakan data kualitatif dengan skala ordinal, karena menunjukkan tingkatan kondisi gizi. Kehadiran balita di Posyandu (hadir/tidak hadir) termasuk data kualitatif dengan skala nominal, karena hanya berupa klasifikasi tanpa urutan.
Berdasarkan sumbernya, data primer meliputi umur balita, tinggi badan, dan kehadiran balita apabila diperoleh melalui pengukuran dan pencatatan langsung saat Posyandu. Data sekunder berupa status gizi balita apabila diambil dari dokumen yang telah tersedia, seperti buku KIA, KMS, atau laporan Puskesmas.
Studi Kasus 2
Skor pengetahuan sebelum dan sesudah edukasi merupakan data kuantitatif dengan skala interval, karena memiliki jarak skor yang sama namun tidak memiliki nol absolut. Kadar Hb (g/dL) termasuk data kuantitatif dengan skala rasio, sedangkan status anemia (anemia/tidak anemia) merupakan data kualitatif dengan skala nominal.
Keberhasilan program paling tepat dinilai melalui perubahan skor pengetahuan, karena intervensi berupa edukasi. Namun, kadar Hb dan status anemia dapat digunakan sebagai indikator outcome untuk menilai dampak kesehatan jangka lanjut.
Fatwa Mutiara Budi
BalasHapusSoal studi kasus 1 Program Posyandu Balita :
1. Jenis Data dan Skala Pengukuran :
- umur balita (bulan) : numerik dengan skala rasio
- tinggi badan (cm) : numerik dengan skala rasio
- status gizi ( pendek normal) : kategorik dengan skala nominal
- kehadiran balita di posyandu ( hadir/TDK hadir) : kategorik dengan skala nominal
2. Identifikasi Data
- Data Primer : Data yang dikumpulkan secara langsung melalui wawancara yaitu, umur dan TB
- Data Sekunder : Data yang sudah ada / mengambil dari pihak kedua yautu, status gizi serta kehadiran balita.
Studi Kasus 2 Program Promosi Kesehatan
1. Jenis Data dan Skala Pengukuran
- skor pengetahuan jenis data kategorik dengan skala ordinal
- Hb jenis data numerik dengan skala rasio
- status anemia jenis data kategorik dengan skala nominal
2. Data yang paling tepat : Skor Pengetahuan Sebelum dan Sesudah Edukasi. Karena dari hasil pengumpulan skor pengetahuan yang sudah dilaksanakan data menunjukkan bahwa terjadi peningkatan pengetahuan masyarakat sebelum dan sesudah di edukasi.
Khairunnisa Aifah Pratama
BalasHapusP3.73.24.3.23.076
Studi Kasus 1 – Program Posyandu Balita
1. Jenis data dan skala pengukuran
- Umur balita (bulan)
Termasuk data kuantitatif karena berupa angka. Skala pengukurannya rasio.
- Tinggi badan (cm)
Termasuk data kuantitatif dan diukur secara rasio.
- Status gizi (pendek, normal)
Termasuk data kualitatif dengan skala nominal.
- Kehadiran balita di Posyandu (hadir/tidak hadir)
Termasuk data kualitatif dengan skala nominal.
2. Data primer dan data sekunder
- Data primer adalah data yang diperoleh langsung, yaitu umur balita, tinggi badan, dan kehadiran di Posyandu.
- Data sekunder adalah data yang diperoleh dari catatan atau hasil pengolahan, yaitu status gizi balita.
Studi Kasus 2 – Program Promosi Kesehatan Remaja
1. Jenis data dan skala pengukuran
- Skor pengetahuan sebelum dan sesudah edukasi
Termasuk data kuantitatif dengan skala interval.
- Kadar Hb (g/dL)
Termasuk data kuantitatif dengan skala rasio.
- Status anemia (anemia/tidak anemia)
Termasuk data kualitatif dengan skala nominal.
2. Data yang paling tepat untuk menilai keberhasilan program
Data yang paling tepat untuk menilai keberhasilan program adalah perubahan skor pengetahuan sebelum dan sesudah edukasi, karena menunjukkan langsung pengaruh edukasi.
Selain itu, kadar Hb dan status anemia digunakan untuk melihat dampak kesehatan setelah program berjalan.
Syfa fauziyah. P3.73.24.3.23.094
BalasHapusSoal studi kasus 1
1.
- umur balita (bulan) jenis data numerik, skala rasio
- tinggi badan (cm) jenis data numerik, jenis skala rasio
- status gizi ( pendek normal) jenis data kategorik, jenis skala nominal
- kehadiran balita di posyandu ( hadir/TDK hadir) jenis data kategorik, skala nominal
2. Untuk umur, TB data primer dan status gizi serta kehadiran balita sekunder
2
- skor pengetahuan jenis data kategorik skala ordinal
- Hb jenis data numerik skala rasio
- status anemia jenis data kategorik skala nominal
2. Karena dari hasil pengumpulan skor pengetahuan yang sudah dilaksanakan data menunjukkan bahwa terjadi peningkatan pengetahuan masyarakat sebelum dan sesudah di edukasi.
Ammara Zahra P3.73.24.3.23.057
BalasHapusStudi Kasus 1:
a) Umur balita (bulan)
Data kuantitatif, skala rasio, data primer
b) Tinggi badan (cm)
Data kuantitatif, skala rasio, data primer
c) Status gizi (pendek/normal)
Data kualitatif, skala nominal, data primer
d) Kehadiran Posyandu (hadir/tidak)
Data kualitatif, skala nominal, data sekunder
Studi Kasus 2 :
a) Skor pengetahuan
Data kuantitatif, skala interval
b) Kadar Hb (g/dL)
Data kuantitatif, skala rasio
c) Status anemia (anemia/tidak)
Data kualitatif, skala nominal
Data paling tepat menilai keberhasilan program: Kadar Hb dan status anemia
Nadya Nurul Azizah Bakhtiar
BalasHapusP3.73.24.3.23.083
Soal studi kasus 1
1.
- umur balita (bulan) jenis data numerik, skala rasio
- tinggi badan (cm) jenis data numerik, jenis skala rasio
- status gizi ( pendek normal) jenis data kategorik, jenis skala nominal
- kehadiran balita di posyandu ( hadir/TDK hadir) jenis data kategorik, skala nominal
2. Untuk umur, TB data primer dan status gizi serta kehadiran balita sekunder
*Studi kasus 2*
_Soal 1_
- skor pengetahuan
jenis data= kategorik
skala ukur= ordinal
- Hb
jenis data= numerik
skala ukur= rasio
- status anemia
jenis data= kategorik
skala ukur= nominal
_Soal 2_
Karena dari hasil pengumpulan skor pengetahuan yang sudah dilaksanakan data menunjukkan bahwa terjadi peningkatan pengetahuan masyarakat sebelum dan sesudah di edukasi.
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusManda Hasifa
BalasHapusP3.73.24.3.23.079
Soal studi kasus 1
1.
- umur balita (bulan) jenis data numerik, skala rasio
- tinggi badan (cm) jenis data numerik, jenis skala rasio
- status gizi ( pendek normal) jenis data kategorik, jenis skala nominal
- kehadiran balita di posyandu ( hadir/TDK hadir) jenis data kategorik, skala nominal
2. Untuk umur, TB data primer dan status gizi serta kehadiran balita sekunder
soal studi kasus 2
1
- skor pengetahuan jenis data kategorik skala ordinal
- Hb jenis data numerik skala rasio
- status anemia jenis data kategorik skala nominal
2. Karena dari hasil pengumpulan skor pengetahuan yang sudah dilaksanakan data menunjukkan bahwa terjadi peningkatan pengetahuan masyarakat sebelum dan sesudah di edukasi.
Lisa Dwi Pratiwi
BalasHapusP3.73.24.3.23.078
Studi Kasus 1
1. Jenis Data dan Skala Pengukuran:
a) Umur Balita (bulan): Data Kuantitatif (Rasio) -Skala rasio memiliki nol mutlak.
b) Tinggi Badan (cm): Data Kuantitatif (Rasio) -Skala rasio.
c) Status Gizi (pendek/normal): Data Kualitatif/Kategorik (Ordinal/Nominal) - Merupakan kategori, bisa ordinal (tingkat gizi) atau nominal (jika hanya klasifikasi).
d) Kehadiran (hadir/tidak hadir): Data Kualitatif (Nominal/Dikotomus) - Klasifikasi dua kategori.
2. Data Primer vs Sekunder:
- Data Primer: Data yang diambil langsung oleh petugas/kader (Tinggi badan, Kehadiran balita).
- Data Sekunder: Data yang diambil dari pencatatan/dokumen (Umur balita dari KMS/buku KIA, Status gizi yang sudah ditetapkan).
Studi Kasus 2
1. Jenis Data dan Skala Pengukuran:
a) Skor Pengetahuan: Data Kuantitatif (Interval/Rasio) - Hasil ujian sebelum/sesudah.
b) Kadar Hb (g/dL): Data Kuantitatif (Rasio) -Pengukuran fisik/kimia.
c) Status Anemia: Data Kualitatif/Kategorik (Nominal/Dikotomus) - Klasifikasi anemia/tidak.
2. Data Tertepat untuk Menilai Keberhasilan Program:
- Kadar Hb (g/dL) adalah data paling tepat (indikator outcome fisik/klinis) untuk mengukur keberhasilan program dalam meningkatkan kesehatan darah secara objektif.
- Skor Pengetahuan hanya menunjukkan keberhasilan edukasi (indikator output), sementara status anemia (termasuk Hb) menunjukkan dampak nyata kesehatan.
Studi Kasus 1 – Program Posyandu Balita
BalasHapusUmur balita (bulan) dan tinggi badan (cm) termasuk data numerik dengan skala rasio. Status gizi (pendek/normal) serta kehadiran balita di Posyandu (hadir/tidak hadir) merupakan data kategorik dengan skala nominal.
Data umur dan tinggi badan diperoleh dari hasil pengukuran langsung sehingga termasuk data primer, sedangkan data status gizi dan kehadiran balita berasal dari pencatatan Posyandu sehingga termasuk data sekunder.
Studi Kasus 2 – Program Promosi Kesehatan Remaja
Skor pengetahuan sebelum dan sesudah edukasi merupakan data kategorik dengan skala ordinal. Kadar Hb (g/dL) termasuk data numerik dengan skala rasio, sedangkan status anemia (anemia/tidak anemia) merupakan data kategorik dengan skala nominal.
Data yang paling tepat untuk menilai keberhasilan program adalah skor pengetahuan, karena menunjukkan adanya perubahan pemahaman remaja setelah edukasi dilakukan.
Yolanda Afifa H P3.73.24.3.23.099
BalasHapusStudi Kasus 1:
Umur balita (bulan) merupakan data kuantitatif dengan skala rasio yang diperoleh dari data primer.
Tinggi badan (cm) termasuk data kuantitatif skala rasio dan bersumber dari data primer.
Status gizi (pendek/normal) adalah data kualitatif dengan skala nominal dari data primer.
Kehadiran di Posyandu (hadir/tidak) merupakan data kualitatif skala nominal yang berasal dari data sekunder.
Studi Kasus 2:
Skor pengetahuan tergolong data kuantitatif dengan skala interval.
Kadar Hb (g/dL) adalah data kuantitatif skala rasio.
Status anemia (anemia/tidak) termasuk data kualitatif dengan skala nominal.
DWI AFRIANTI
BalasHapusP3.73.24.3.23/065
STUDI KASUS 1
1. Identifikasi Jenis Data dan Skala Pengukuran
• Umur balita (bulan)
→ Jenis data: Numerik (kuantitatif)
→ Skala pengukuran: Rasio (memiliki nol mutlak dan dapat dibandingkan secara matematis)
•Tinggi badan balita (cm)
→Jenis data: Numerik (kuantitatif)
→Skala pengukuran: Rasio
•Status gizi (pendek, normal)
→ Jenis data: Kategorik (kualitatif)
→ Skala pengukuran: Nominal (kategori tanpa urutan tingkat)
•Kehadiran balita di Posyandu (hadir/tidak hadir)
→ Jenis data: Kategorik (kualitatif)
→ Skala pengukuran: Nominal
2. Untuk umur balita, Tinggi badan balita (data primer). Untuk status gizi, Kehadiran balita (data sekunder)
STUDI KASUS 2
1. Identifikasi Jenis Data dan Skala Pengukuran
• Skor pengetahuan
→ Jenis data: Kategorik
→ Skala pengukuran: Ordinal (memiliki tingkatan, misalnya rendah–sedang–tinggi)
• Kadar Hb (Hemoglobin)
→ Jenis data: Numerik (kuantitatif)
→ Skala pengukuran: Rasio
• Status anemia (anemia/tidak anemia)
→ Jenis data: Kategorik (kualitatif)
→ Skala pengukuran: Nominal
2. Data Paling untuk Menilai Keberhasilan Program:
Kesimpulan tersebut didasarkan pada hasil pengukuran skor pengetahuan yang dikumpulkan sebelum dan setelah intervensi edukasi. Data menunjukkan bahwa nilai skor pengetahuan setelah edukasi lebih tinggi dibandingkan sebelum edukasi, yang menandakan adanya perubahan positif dalam pemahaman masyarakat terhadap materi kesehatan yang diberikan.
Selain itu, peningkatan skor ini dapat diinterpretasikan sebagai indikator efektivitas program edukasi, karena intervensi yang diberikan mampu meningkatkan tingkat pengetahuan masyarakat secara nyata dan terukur. Dengan kata lain, perubahan skor pengetahuan mencerminkan keberhasilan kegiatan promosi kesehatan dalam meningkatkan literasi dan kesadaran masyarakat.
Khansa Nur Fatimah
BalasHapusNIM : P3.73.24.3.23.077
1.Jawaban untuk nomor 1
Umur balita (bulan) = Kuantitatif Rasio, Ada nol absolut (0 bulan) dan bisa dibandingkan (24 bln = 2× 12 bln)
Tinggi badan (cm) = Kuantitatif Rasio, Ada nol absolut dan perbandingan bermakna
Status gizi (pendek, normal) = Kualitatif Ordinal, Ada urutan (pendek < normal)
Kehadiran balita (hadir/tidak hadir)
= Kualitatif, Nominal Tidak ada urutan
2. Jawaban nomor 2
Skor pengetahuan sebelum & sesudah edukasi = Kuantitatif Interval Jarak skor bermakna, tetapi nol tidak mutlak
Kadar Hb (g/dL) = Kuantitatif Rasio Ada nol absolut dan bisa dibandingkan
Status anemia (anemia/tidak anemia) = Kualitatif Nominal Kategori tanpa urutan
Studi Kasus 1
BalasHapus1. Jenis data dan skala pengukuran
- Umur balita (bulan) merupakan data numerik dengan skala rasio
- Tinggi badan balita (cm) termasuk data numerik dengan skala rasio
- Status gizi balita (pendek/normal) merupakan data kategorik dengan skala nominal
- Kehadiran balita di posyandu (hadir/tidak hadir) termasuk data kategorik dengan skala nominal
2. Sumber data
Data dikatakan data primer apabila diperoleh melalui pengukuran langsung di lapangan, seperti pengukuran umur dan tinggi badan balita.
Sedangkan data sekunder diperoleh dari catatan atau arsip yang sudah ada sebelumnya, seperti data status gizi dan kehadiran balita yang tercatat di buku register atau laporan posyandu.
Studi Kasus 2
1. Jenis data dan skala pengukuran
- Skor pengetahuan termasuk data kategorik dengan skala ordinal
-Kadar Hb (g/dL) merupakan data numerik dengan skala rasio
-Status anemia (anemia/tidak anemia) termasuk data kategorik dengan skala nominal
2. Alasan pemilihan indikator
Karena berdasarkan hasil pengukuran skor pengetahuan sebelum dan sesudah edukasi, terlihat adanya peningkatan pengetahuan masyarakat, sehingga skor pengetahuan dapat digunakan untuk menilai dampak dari edukasi yang diberikan.
Cikal Maharani S
BalasHapusNim : P3.73.24.3.23.064
Studi Kasus 1
1. Data primer dan sekunder
Data primer (dikumpulkan langsung oleh petugas saat kegiatan):
- Umur balita
- Tinggi badan
- Status gizi
- Kehadiran balita
Karena semua diperoleh dari pengukuran dan pencatatan langsung di Posyandu.
2. Data sekunder
Tidak disebutkan secara eksplisit pada kasus ini.
(Data sekunder biasanya berasal dari laporan lama, profil kesehatan, atau rekam medis sebelumnya.)
Studi Kasus 2
Keberhasilan program paling tepat dinilai melalui kadar Hb atau status anemia karena mencerminkan outcome kesehatan secara langsung, sedangkan skor pengetahuan hanya menggambarkan perubahan aspek kognitif.
Studi Kasus 1
BalasHapus- Variabel dan Skala: Umur serta Tinggi Badan termasuk skala Rasio karena memiliki nilai nol absolut. Status Gizi menggunakan skala Ordinal (berjenjang), sedangkan Kehadiran menggunakan skala Nominal (kategori setara).
- Sumber Data: Data Primer diperoleh apabila petugas melakukan pengukuran langsung di lapangan, sementara Data Sekunder didapat melalui rekapitulasi dokumen seperti buku KIA atau arsip Puskesmas.
Studi Kasus 2
-Variabel dan Skala: Skor Pengetahuan berskala Interval, Kadar Hb berskala Rasio, dan Status Anemia merupakan skala Nominal.
-Indikator Keberhasilan: Perbandingan skor pengetahuan sebelum dan sesudah intervensi, lantaran data tersebut mencerminkan efektivitas edukasi secara langsung terhadap pemahaman peserta.
Studi Kasus 1
BalasHapus1. Jenis & Skala: Umur dan tinggi badan merupakan skala ratio, Status Gizi merupakan skala ordinal, sedangkan Kehadiran merupakan skala nominal.
2. Sumber: Data Primer diperoleh dari pengukuran secara langsung di tempat, sedangkan data Sekunder jika mengambil dari catatan/buku register.
Studi Kasus 2
1. Jenis & Skala: Skor Pengetahuan merupakan bagian dari skala interval, Kadar Hb merupakan skala ratio, dan Status Anemia merupakan skala nominal.
2. Indikator: Skor pengetahuan sebelum dan sesudah kegiatan edukasi, karena secara langsung hal ini dapat mengukur dampak edukasi yang baru diberikan.
Vinda Dwi Shakila Putri
BalasHapusP3.73.24.3.23.096
Studi Kasus 1
1. Jenis Data dan Skala Pengukuran:
a) Umur Balita (bulan): Data Kuantitatif (Rasio) -Skala rasio memiliki nol mutlak.
b) Tinggi Badan (cm): Data Kuantitatif (Rasio) -Skala rasio.
c) Status Gizi (pendek/normal): Data Kualitatif/Kategorik (Ordinal/Nominal) - Merupakan kategori, bisa ordinal (tingkat gizi) atau nominal (jika hanya klasifikasi).
d) Kehadiran (hadir/tidak hadir): Data Kualitatif (Nominal/Dikotomus) - Klasifikasi dua kategori.
2. Data Primer vs Sekunder:
- Data Primer: Data yang diambil langsung oleh petugas/kader (Tinggi badan, Kehadiran balita).
- Data Sekunder: Data yang diambil dari pencatatan/dokumen (Umur balita dari KMS/buku KIA, Status gizi yang sudah ditetapkan).
Studi Kasus 2
1. Jenis Data dan Skala Pengukuran:
a) Skor Pengetahuan: Data Kuantitatif (Interval/Rasio) - Hasil ujian sebelum/sesudah.
b) Kadar Hb (g/dL): Data Kuantitatif (Rasio) -Pengukuran fisik/kimia.
c) Status Anemia: Data Kualitatif/Kategorik (Nominal/Dikotomus) - Klasifikasi anemia/tidak.
2. Data Tertepat untuk Menilai Keberhasilan Program:
- Kadar Hb (g/dL) adalah data paling tepat (indikator outcome fisik/klinis) untuk mengukur keberhasilan program dalam meningkatkan kesehatan darah secara objektif.
- Skor Pengetahuan hanya menunjukkan keberhasilan edukasi (indikator output), sementara status anemia (termasuk Hb) menunjukkan dampak nyata kesehatan.
Felisha Najwa Putri - P3.73.24.3.23.023
BalasHapus3A
Analisis Studi Kasus 1
Program Posyandu Balita
Dalam evaluasi ini, variabel Umur dan Tinggi Badan termasuk jenis data kuantitatif dengan skala rasio, karena keduanya memiliki nilai nol mutlak yang menunjukkan ukuran fisik pasti. Sementara itu, Status Gizi adalah data kualitatif berskala ordinal karena memiliki tingkatan kualitas (pendek ke normal). Adapun variabel Kehadiran merupakan data kualitatif berskala nominal yang hanya berfungsi sebagai kategori pembeda.
Mengenai sumber datanya, data disebut primer apabila tim Puskesmas melakukan pengukuran tinggi badan dan absensi secara langsung di lapangan. Sebaliknya, data menjadi sekunder jika tim hanya menyalin angka dari dokumen yang sudah ada, seperti Buku KIA atau arsip laporan bulanan Posyandu.
Analisis Studi Kasus 2
Program Promosi Kesehatan Remaja
Pada program edukasi anemia, Skor Pengetahuan dikategorikan sebagai data kuantitatif berskala interval, sedangkan Kadar Hb merupakan data kuantitatif berskala rasio. Perbedaannya terletak pada nilai nol; kadar Hb nol adalah nilai mutlak, sementara skor pengetahuan nol tidak berarti seseorang sama sekali tidak memiliki ilmu. Terakhir, Status Anemia adalah data kualitatif berskala nominal untuk mengelompokkan kondisi remaja.
Indikator paling tepat untuk menilai keberhasilan program ini adalah Kadar Hb dan Skor Pengetahuan. Skor pengetahuan menilai efektivitas proses edukasi (jangka pendek), sedangkan Kadar Hb menilai dampak nyata kesehatan dari program tersebut (jangka panjang). Jika terjadi peningkatan skor dan perbaikan kadar Hb secara signifikan, maka program edukasi tersebut dapat dinyatakan berhasil.
Dea Salsabila
BalasHapusP3.73.24.3.23.015
Kelas 3A
Studi Kasus 1 – Program Posyandu Balita
Dalam evaluasi program Posyandu Balita yang dilakukan oleh Puskesmas X, terdapat beberapa variabel yang dikumpulkan, yaitu umur balita, tinggi badan, status gizi, dan kehadiran balita di Posyandu.
Umur balita yang diukur dalam satuan bulan termasuk ke dalam data kuantitatif dengan skala rasio, karena berbentuk angka, memiliki nol mutlak, dan dapat dibandingkan antarindividu. Tinggi badan balita yang diukur dalam sentimeter juga merupakan data kuantitatif dengan skala rasio, sebab hasil pengukurannya berupa angka dan memiliki nilai nol mutlak.
Sementara itu, status gizi balita yang dikategorikan menjadi pendek dan normal termasuk data kualitatif dengan skala nominal, karena hanya berupa pengelompokan tanpa tingkatan nilai. Kehadiran balita di Posyandu (hadir atau tidak hadir) juga termasuk data kualitatif berskala nominal, karena hanya menunjukkan kondisi atau kategori tertentu.
Berdasarkan sumber perolehannya, umur balita, tinggi badan, dan kehadiran balita di Posyandu termasuk data primer, karena data tersebut diperoleh secara langsung melalui pengukuran dan pencatatan saat kegiatan Posyandu berlangsung. Sedangkan status gizi dapat dikategorikan sebagai data sekunder, karena biasanya ditentukan berdasarkan hasil pengolahan data antropometri yang dibandingkan dengan standar tertentu, seperti standar WHO.
Studi Kasus 2 – Program Promosi Kesehatan Remaja
Pada program promosi kesehatan remaja terkait edukasi anemia, evaluasi dilakukan menggunakan skor pengetahuan, kadar hemoglobin (Hb), dan status anemia. Skor pengetahuan sebelum dan sesudah edukasi merupakan data kuantitatif dengan skala interval, karena berbentuk skor angka dengan jarak nilai yang sama, namun tidak memiliki nol mutlak.
Kadar Hb yang diukur dalam satuan g/dL termasuk data kuantitatif dengan skala rasio, karena memiliki nol mutlak dan dapat dibandingkan secara matematis. Sementara itu, status anemia yang dikategorikan menjadi anemia dan tidak anemia termasuk data kualitatif dengan skala nominal, karena hanya berupa pengelompokan kondisi kesehatan.
Untuk menilai keberhasilan program promosi kesehatan ini, data yang paling tepat digunakan adalah perubahan skor pengetahuan sebelum dan sesudah edukasi, serta perubahan kadar Hb atau status anemia. Peningkatan skor pengetahuan menunjukkan keberhasilan edukasi dalam meningkatkan pemahaman remaja, sedangkan perbaikan kadar Hb atau status anemia menunjukkan dampak nyata program terhadap kondisi kesehatan sasaran. Dengan demikian, kombinasi data pengetahuan dan data klinis menjadi indikator paling tepat dalam menilai keberhasilan program.
BalasHapusAlicia Safina Putri (P3.73.24.3.23.001)
Kelas 3A
Studi Kasus 1 – Program Posyandu Balita
Umur balita dan tinggi badan merupakan data kuantitatif dengan skala rasio, karena dinyatakan dalam angka, memiliki nol absolut, dan diperoleh melalui pengukuran langsung. Keduanya termasuk data primer.
Status gizi (pendek, normal) merupakan data kualitatif dengan skala nominal, karena berbentuk kategori. Data ini umumnya merupakan data sekunder, karena merupakan hasil klasifikasi dari pengukuran tinggi badan menurut umur.
Kehadiran balita di Posyandu (hadir/tidak hadir) termasuk data kualitatif dengan skala nominal dan merupakan data primer, karena dicatat langsung saat kegiatan Posyandu.
Studi Kasus 2 – Program Promosi Kesehatan Remaja
Skor pengetahuan sebelum dan sesudah edukasi merupakan data kuantitatif dengan skala interval dan termasuk data primer, karena diperoleh dari kuesioner.
Kadar Hb (g/dL) merupakan data kuantitatif dengan skala rasio dan termasuk data primer, karena diukur secara langsung.
Status anemia (anemia/tidak anemia) merupakan data kualitatif dengan skala nominal dan termasuk data sekunder, karena ditentukan berdasarkan kadar Hb.
Data yang paling tepat untuk menilai keberhasilan program adalah kadar Hb dan status anemia, karena menunjukkan perubahan kondisi kesehatan secara langsung, sedangkan skor pengetahuan berfungsi sebagai indikator pendukung.
Nama: Cut Alya Salsabila
BalasHapusKelas/Semester: 3A/Semester 6
NIM: P3.73.24.3.23.013
Studi Kasus 1 – Program Posyandu Balita
a) Umur balita (bulan)
Jenis data: kuantitatif
Skala pengukuran: rasio
Sumber data: primer
b) Tinggi badan (cm)
Jenis data: kuantitatif
Skala pengukuran: rasio
Sumber data: primer
c) Status gizi (pendek, normal)
Jenis data: kualitatif
Skala pengukuran: ordinal
Sumber data: sekunder
d) Kehadiran balita di Posyandu (hadir/tidak hadir)
Jenis data: kualitatif
Skala pengukuran: nominal
Sumber data: primer
Studi Kasus 2 – Program Promosi Kesehatan Remaja
a) Skor pengetahuan sebelum dan sesudah edukasi
Jenis data: kuantitatif
Skala pengukuran: interval
b) Kadar Hb (g/dL)
Jenis data: kuantitatif
Skala pengukuran: rasio
c) Status anemia (anemia/tidak anemia)
Jenis data: kualitatif
Skala pengukuran: nominal
Data yang paling tepat untuk menilai keberhasilan program:
Skor pengetahuan sebelum dan sesudah edukasi, karena langsung menunjukkan adanya peningkatan pemahaman setelah promosi kesehatan.
Aqil Athallah Banemi
BalasHapusP3.73.24.3.23.005
Studi kasus 1
Dalam studi kasus ini, variabel Umur Balita dan Tinggi Badan dikategorikan sebagai jenis data kuantitatif dengan skala pengukuran rasio. Hal ini dikarenakan keduanya memiliki nilai numerik yang pasti, jarak antar satuan yang konsisten, dan memiliki nilai nol mutlak (artinya angka nol menunjukkan ketiadaan sifat yang diukur). Sementara itu, variabel Status Gizi termasuk dalam data kualitatif dengan skala ordinal, karena kategori "pendek" dan "normal" menunjukkan adanya tingkatan atau hierarki kualitas kesehatan. Adapun variabel Kehadiran Balita merupakan data kualitatif berskala nominal, di mana status "hadir" atau "tidak hadir" hanya berfungsi sebagai label kategori tanpa adanya tingkatan posisi.
Terkait sumber datanya, klasifikasi bergantung pada metode perolehannya. Data akan dianggap sebagai data primer jika petugas Puskesmas X melakukan pengukuran tinggi badan dan pencatatan kehadiran secara langsung di lapangan saat evaluasi berlangsung. Namun, jika petugas hanya mengambil data dari dokumen yang sudah tersedia seperti buku register posyandu, KMS (Kartu Menuju Sehat), atau arsip laporan bulanan, maka data tersebut diklasifikasikan sebagai data sekunder.
Studi kasus 2
Dalam evaluasi program edukasi anemia, variabel Skor Pengetahuan dikategorikan sebagai data kuantitatif dengan skala pengukuran interval, karena nilai tersebut merepresentasikan rentang kemampuan kognitif namun tidak memiliki nilai nol mutlak. Variabel Kadar Hemoglobin (Hb) juga termasuk dalam data kuantitatif, namun menggunakan skala rasio karena merupakan hasil pengukuran fisik dengan satuan g/dL yang memiliki nilai nol absolut. Sementara itu, Status Anemia diklasifikasikan sebagai data kualitatif dengan skala nominal, yang berfungsi untuk mengelompokkan responden ke dalam kategori "anemia" atau "tidak anemia" tanpa adanya tingkatan numerik di dalamnya.
Data yang paling tepat untuk menilai keberhasilan program secara objektif adalah Kadar Hb (g/dL). Hal ini dikarenakan kadar Hb merupakan indikator klinis (biomarker) yang memberikan gambaran nyata mengenai status kesehatan fisik remaja putri setelah intervensi dilakukan. Peningkatan skor pengetahuan memang menunjukkan efektivitas edukasi secara kognitif, namun perubahan pada kadar Hb merupakan bukti konkret bahwa program tersebut berhasil mencapai tujuan akhir kesehatan masyarakat, yakni perbaikan status anemia secara fisiologis.
Nama: Rd lintang Sri Rahmawati
BalasHapusNIM: P3.73.24.3.23.041
Kelas: 3A
Studi Kasus 1
Jenis data dan skala pengukuran:
• Umur balita (bulan): data kuantitatif, skala rasio
• Tinggi badan (cm): data kuantitatif, skala rasio
• Status gizi (pendek, normal): data kualitatif, skala nominal
• Kehadiran balita (hadir/tidak hadir): data kualitatif, skala nominal
Sumber data:
• Data primer diperoleh dari pengukuran langsung tinggi badan balita dan pencatatan kehadiran saat Posyandu berlangsung.
• Data sekunder diperoleh dari buku KIA, buku register Posyandu, atau arsip laporan sebelumnya untuk data umur dan riwayat kehadiran.
Studi Kasus 2
Jenis data dan skala pengukuran:
• Skor pengetahuan sebelum dan sesudah edukasi: data kuantitatif, skala interval
• Kadar Hb (g/dL): data kuantitatif, skala rasio
• Status anemia (anemia/tidak anemia): data kualitatif, skala nominal
Data paling tepat untuk menilai keberhasilan program: Data yang paling tepat adalah kadar Hb (g/dL) dan status anemia, karena keduanya menunjukkan dampak langsung (outcome/impact) dari program terhadap kondisi kesehatan remaja putri. Skor pengetahuan hanya menggambarkan output, sedangkan peningkatan kadar Hb merupakan bukti keberhasilan program secara klinis.
Febria Permatasari (P3.73.24.3.23.022)
BalasHapusKelas 3A
Studi Kasus 1 ( Program Posyandu Balita)
1. Jenis data & skala pengukuran
a) Umur balita (bulan)
Jenis data: Kuantitatif
Skala: Rasio
b) Tinggi badan (cm)
Jenis data: Kuantitatif
Skala: Rasio
c) Status gizi (pendek, normal)
Jenis data: Kualitatif
Skala: Nominal
d) Kehadiran di Posyandu (hadir/tidak hadir)
Jenis data: Kualitatif
Skala: Nominal
2. Data primer & sekunder
Data primer: umur balita, tinggi badan, kehadiran (dikumpulkan langsung saat Posyandu)
Data sekunder: status gizi (biasanya dari catatan/growth chart atau laporan sebelumnya)
Studi Kasus 2 (Program Promosi Kesehatan Remaja)
1. Jenis data & skala pengukuran
a) Skor pengetahuan sebelum & sesudah edukasi
Jenis data: Kuantitatif
Skala: Interval
b) Kadar Hb (g/dL)
Jenis data: Kuantitatif
Skala: Rasio
c) Status anemia (anemia/tidak anemia)
Jenis data: Kualitatif
Skala: Nominal
2. Data paling tepat menilai keberhasilan program
Keberhasilan program dapat dinilai melalui perbedaan kondisi sebelum dan sesudah intervensi, terutama pada kadar Hb dan status anemia, karena menunjukkan adanya perubahan setelah edukasi diberikan.
Novia Anggraeni
BalasHapusP3.73.24.3.23.037
3-A
Studi Kasus 1 – Program Posyandu Balita
1. Jenis data dan skala pengukuran
a. Umur balita (bulan): data numerik, skala rasio.
b. Tinggi badan (cm): data numerik, skala rasio.
c. Status gizi (pendek, normal): data kategorik, skala nominal.
d. Kehadiran balita di Posyandu (hadir/tidak hadir): data kategorik, skala nominal.
2. Data primer dan data sekunder
a. Data primer: umur balita, tinggi badan, dan kehadiran balita di Posyandu, karena diperoleh langsung melalui pengukuran dan pencatatan saat kegiatan Posyandu.
b. Data sekunder: status gizi, karena merupakan hasil pengolahan dan klasifikasi dari data antropometri yang telah dianalisis.
Studi Kasus 2 – Program Promosi Kesehatan Remaja
1. Jenis data dan skala pengukuran
a. Skor pengetahuan sebelum dan sesudah edukasi: data numerik, skala interval.
b. Kadar Hb (g/dL): data numerik, skala rasio.
c. Status anemia (anemia/tidak anemia): data kategorik, skala nominal.
2. Data yang paling tepat untuk menilai keberhasilan program
Data yang paling tepat digunakan untuk menilai keberhasilan program promosi kesehatan adalah perubahan skor pengetahuan sebelum dan sesudah edukasi. Hal ini disebabkan karena tujuan utama kegiatan promosi kesehatan adalah meningkatkan pengetahuan dan pemahaman sasaran. Perubahan kadar hemoglobin dan status anemia memerlukan waktu serta dipengaruhi oleh berbagai faktor lain, sehingga kurang tepat digunakan sebagai indikator utama keberhasilan program edukasi dalam jangka pendek.
Nanda Meyta Maharani
BalasHapusP3. 73.24.3.23.036
3A
Studi Kasus 1 – Program Posyandu Balita
Dalam evaluasi Program Posyandu Balita, variabel umur balita yang dinyatakan dalam satuan bulan termasuk data kuantitatif dengan skala rasio, karena memiliki nol mutlak dan jarak antarnilai yang sama. Tinggi badan balita yang diukur dalam satuan sentimeter juga merupakan data kuantitatif dengan skala rasio. Status gizi balita yang diklasifikasikan menjadi pendek dan normal termasuk data kualitatif dengan skala ordinal, karena menunjukkan adanya tingkatan kondisi gizi. Sementara itu, kehadiran balita di Posyandu yang dikategorikan menjadi hadir dan tidak hadir merupakan data kualitatif dengan skala nominal, karena hanya menunjukkan perbedaan kategori tanpa tingkatan.
Berdasarkan sumber perolehannya, data umur balita, tinggi badan, dan kehadiran balita di Posyandu termasuk data primer, karena diperoleh secara langsung melalui pengukuran dan pencatatan pada saat kegiatan Posyandu berlangsung. Adapun status gizi balita termasuk data sekunder apabila diperoleh dari sumber data yang telah ada sebelumnya, seperti buku KIA, laporan Posyandu, atau data Puskesmas.
Studi Kasus 2 – Program Promosi Kesehatan Remaja
Dalam evaluasi Program Promosi Kesehatan Remaja terkait edukasi anemia pada remaja putri, skor pengetahuan sebelum dan sesudah edukasi merupakan data kuantitatif dengan skala interval, karena memiliki jarak antarnilai yang sama, tetapi tidak memiliki nol mutlak. Kadar hemoglobin (Hb) yang diukur dalam satuan gram per desiliter termasuk data kuantitatif dengan skala rasio, karena memiliki nol mutlak dan dapat dibandingkan secara proporsional. Status anemia yang diklasifikasikan menjadi anemia dan tidak anemia merupakan data kualitatif dengan skala nominal, karena hanya menunjukkan kategori tanpa adanya tingkatan.
Data yang paling tepat digunakan untuk menilai keberhasilan program promosi kesehatan adalah perubahan skor pengetahuan sebelum dan sesudah edukasi. Hal ini disebabkan karena tujuan utama kegiatan promosi kesehatan adalah meningkatkan pengetahuan dan pemahaman sasaran. Perubahan kadar hemoglobin dan status anemia memerlukan waktu serta dipengaruhi oleh berbagai faktor lain, sehingga kurang tepat digunakan sebagai indikator utama keberhasilan program edukasi dalam jangka pendek.
Nama: Amalia Nadya Cahyani
BalasHapusNim: P3.73.24.3.23.004
Kelas: 3-A
Studi Kasus 1 || Program Posyandu Balita ||
1. Jenis data dan skala pengukuran
a. Umur balita (bulan): data numerik, skala rasio.
b. Tinggi badan (cm): data numerik, skala rasio.
c. Status gizi (pendek, normal): data kategorik, skala nominal.
d. Kehadiran balita di Posyandu (hadir/tidak hadir): data kategorik, skala nominal.
2. Data primer dan data sekunder
a. Data primer: umur balita, tinggi badan, dan kehadiran balita di Posyandu, karena diperoleh langsung melalui pengukuran dan pencatatan saat kegiatan Posyandu.
b. Data sekunder: status gizi, karena merupakan hasil pengolahan dan klasifikasi dari data antropometri yang telah dianalisis.
Studi Kasus 2 – || Program Promosi Kesehatan Remaja ||
1. Jenis data dan skala pengukuran
a. Skor pengetahuan sebelum dan sesudah edukasi: data numerik, skala interval.
b. Kadar Hb (g/dL): data numerik, skala rasio.
c. Status anemia (anemia/tidak anemia): data kategorik, skala nominal.
2. Data yang paling tepat untuk menilai keberhasilan program
Data yang paling tepat digunakan untuk menilai keberhasilan program promosi kesehatan adalah perubahan skor pengetahuan sebelum dan sesudah edukasi. Hal ini disebabkan karena tujuan utama kegiatan promosi kesehatan adalah meningkatkan pengetahuan dan pemahaman sasaran. Perubahan kadar hemoglobin dan status anemia memerlukan waktu serta dipengaruhi oleh berbagai faktor lain, sehingga kurang tepat digunakan sebagai indikator utama keberhasilan program edukasi dalam jangka pendek.
Nama: Desi Fitriani
BalasHapusNIM: P3.73.24.3.23.016
Kelas: 3A
Studi Kasus 1 – Program Posyandu Balita
Pada studi kasus Program Posyandu Balita, data yang dikumpulkan terdiri dari beberapa variabel dengan jenis dan skala pengukuran yang berbeda. Umur balita yang dinyatakan dalam bulan merupakan data kuantitatif karena berbentuk angka dan diukur secara numerik. Skala pengukurannya adalah skala rasio, sebab memiliki nol mutlak dan perbandingan antar nilai bermakna, misalnya balita berusia 24 bulan dua kali lebih tua dibandingkan balita berusia 12 bulan.
Tinggi badan balita yang diukur dalam satuan sentimeter juga termasuk data kuantitatif dengan skala rasio. Data ini diperoleh melalui pengukuran langsung dan memiliki nol mutlak, sehingga selisih maupun perbandingan antar nilai tinggi badan dapat diinterpretasikan secara nyata.
Status gizi balita yang diklasifikasikan menjadi pendek dan normal merupakan data kualitatif karena berbentuk kategori. Skala pengukurannya adalah ordinal, karena kategori tersebut memiliki urutan tingkat, di mana status pendek menunjukkan kondisi yang lebih rendah dibandingkan normal.
Sementara itu, data kehadiran balita di Posyandu yang dicatat sebagai hadir atau tidak hadir termasuk data kualitatif dengan skala nominal, karena hanya menunjukkan perbedaan kategori tanpa adanya tingkatan atau urutan.
Berdasarkan sumber perolehannya, umur balita, tinggi badan, dan kehadiran balita di Posyandu termasuk data primer, karena dikumpulkan secara langsung pada saat kegiatan Posyandu melalui wawancara, pengukuran, dan pencatatan kehadiran. Adapun status gizi balita merupakan data sekunder, karena biasanya diperoleh dari hasil pengolahan atau interpretasi data antropometri (tinggi badan dan umur) yang mengacu pada standar penilaian gizi balita.
Studi Kasus 2 – Program Promosi Kesehatan Remaja
Pada Program Promosi Kesehatan Remaja terkait edukasi anemia pada remaja putri, evaluasi dilakukan menggunakan beberapa variabel dengan jenis data dan skala pengukuran yang berbeda. Skor pengetahuan sebelum dan sesudah edukasi merupakan data kuantitatif karena dinyatakan dalam bentuk angka. Skala pengukurannya adalah interval, karena menunjukkan perbedaan nilai pengetahuan, namun tidak memiliki nol mutlak yang bermakna secara absolut.
Kadar hemoglobin (Hb) yang diukur dalam satuan g/dL termasuk data kuantitatif dengan skala rasio, karena memiliki nol mutlak dan perbandingan antar nilai bermakna secara klinis.
Status anemia yang dikategorikan menjadi anemia dan tidak anemia merupakan data kualitatif dengan skala nominal, karena hanya menunjukkan perbedaan kategori tanpa adanya urutan tingkat.
Untuk menilai keberhasilan program promosi kesehatan, data yang paling tepat adalah skor pengetahuan sebelum dan sesudah edukasi. Hal ini karena tujuan utama program promosi kesehatan adalah meningkatkan pengetahuan dan kesadaran remaja mengenai anemia. Namun demikian, kadar Hb dan status anemia dapat digunakan sebagai indikator pendukung untuk menilai dampak jangka menengah atau panjang dari program tersebut, terutama jika edukasi diikuti dengan perubahan perilaku gizi dan kepatuhan konsumsi tablet tambah darah.
Melati Rihhadatul Aisya P3.73.24.3.23.032
BalasHapusKelas : 3A
Studi Kasus 1 – Program Posyandu Balita
Pada studi kasus program Posyandu balita, variabel umur balita yang diukur dalam satuan bulan termasuk data kuantitatif dengan skala rasio, karena memiliki nilai nol mutlak dan selisih antar nilai bermakna. Tinggi badan balita dalam satuan sentimeter juga merupakan data kuantitatif dengan skala rasio, sebab dapat diukur secara objektif dan memungkinkan perbandingan absolut. Sementara itu, status gizi balita yang diklasifikasikan menjadi pendek dan normal termasuk data kualitatif dengan skala nominal, karena hanya menunjukkan kategori tanpa tingkatan nilai. Kehadiran balita di Posyandu (hadir atau tidak hadir) juga merupakan data kualitatif skala nominal, karena hanya membedakan kondisi kehadiran tanpa urutan tertentu. Ditinjau dari sumbernya, data umur, tinggi badan, dan kehadiran balita umumnya diperoleh langsung melalui pengukuran dan pencatatan saat kegiatan Posyandu, sehingga termasuk data primer. Sedangkan status gizi dapat berasal dari hasil pengolahan atau rekapitulasi data pertumbuhan yang sudah ada di laporan Posyandu atau Puskesmas, sehingga dapat dikategorikan sebagai data sekunder, meskipun dalam praktiknya bisa juga ditetapkan dari data primer yang diolah langsung.
Studi Kasus 2 – Program Promosi Kesehatan Remaja
Pada studi kasus program promosi kesehatan remaja, skor pengetahuan sebelum dan sesudah edukasi merupakan data kuantitatif dengan skala interval, karena skor memiliki jarak yang sama antar nilai namun tidak memiliki nol mutlak. Kadar hemoglobin (Hb) dalam satuan g/dL termasuk data kuantitatif dengan skala rasio, karena memiliki nol absolut dan dapat dibandingkan secara proporsional. Selanjutnya, status anemia yang dibagi menjadi anemia dan tidak anemia merupakan data kualitatif dengan skala nominal, karena hanya menunjukkan kategori kondisi kesehatan remaja. Untuk menilai keberhasilan program, data yang paling tepat digunakan adalah skor pengetahuan sebelum dan sesudah edukasi, serta kadar Hb, karena keduanya dapat menunjukkan perubahan yang terjadi akibat intervensi edukasi. Namun demikian, kadar Hb dan status anemia dinilai lebih kuat dalam menggambarkan dampak nyata program terhadap kondisi kesehatan remaja, sehingga sering dianggap sebagai indikator utama keberhasilan program promosi kesehatan anemia.
Nama : Ghina khairunnisa mumtaz
BalasHapusNIM: P3.73.24.3.23.027
Studi Kasus 1
1. Jenis data dan skala
a) Umur balita (bulan) = menggunakan data kuantitatif dengan skala pengukurannya menggunakan skala rasio.
b) Tinggi badan (cm) = Termasuk data kuantitatif, dengan menggunakan skala pengukuran rasio
C) Status gizi (pendek, normal) = merupakan data kualitatif dan skala ordinal
d) kehadiran balita di posyandu (hadir/tidak hadir) = merupakan data kualitatif dan skala nominal yang membedakan kategori tanpa urutan
2. Data primer dan skunder
- Yang termasuk data primer pada studi kasus : umur balita, tinggi badan, dan kehadiran balita
- yang termasuk data sekunder : status gizi
Studi kasus 2
1. Jenis data dan skala pengukuran
a) skor pengetahuan sebelum dan sesudah edukasi = data kuantitatif dengan skala interval
b) Kadar Hb (g/dl) = data kuantitatif dengan skala rasio
c) Status anemia = data kualitatif dengan skala pengukuran nominal
2. Data yang paling tepat untuk menilai keberhasilan :
- skor pengetahuan sebelum dan sesudah edukasi
- kadar Hb
Untuk status anemia di gunakan sebagai data pendukung untuk melihat perubahan kondisi secara umum.
Clara Dwi Gita (P3.73.24.3.23.012)
BalasHapusKelas 3A
Studi Kasus 1 – Program Posyandu Balita
1. Pada studi kasus Program Posyandu Balita di Puskesmas X, terdapat beberapa jenis data dengan skala pengukuran yang berbeda. Umur balita (dalam bulan) dan tinggi badan (dalam cm) termasuk data kuantitatif karena berupa angka. Umur balita menggunakan skala rasio karena memiliki nol mutlak dan selisihnya bermakna (misalnya selisih usia 12 dan 24 bulan). Tinggi badan juga menggunakan skala rasio karena bisa diukur secara pasti dan nol berarti tidak ada tinggi. Status gizi (pendek, normal) termasuk data kualitatif dengan skala nominal, karena hanya berupa kategori tanpa tingkatan nilai. Sementara itu, kehadiran balita di Posyandu (hadir/tidak hadir) juga merupakan data kualitatif dengan skala nominal, karena hanya membedakan kondisi hadir atau tidak tanpa urutan.
2. Dari sumber datanya, data primer adalah data yang diperoleh langsung dari kegiatan Posyandu, seperti pengukuran umur balita, tinggi badan, serta pencatatan kehadiran balita saat Posyandu berlangsung. Sedangkan data sekunder biasanya berasal dari catatan atau laporan yang sudah ada sebelumnya, misalnya status gizi balita yang diambil dari buku KIA, laporan gizi Puskesmas, atau hasil pemantauan sebelumnya yang tidak diukur langsung saat evaluasi dilakukan.
Studi Kasus 2 – Program Promosi Kesehatan Remaja
1. Pada studi kasus ke 2 ini, skor pengetahuan sebelum dan sesudah edukasi termasuk data kuantitatif dengan skala interval, karena berupa angka hasil penilaian yang jaraknya bermakna. Kadar Hb (g/dL) juga merupakan data kuantitatif dengan skala rasio, karena berbentuk angka, memiliki nol mutlak, dan bisa dibandingkan secara matematis. Sementara itu, status anemia (anemia/tidak anemia) termasuk data kualitatif dengan skala nominal, karena hanya berupa kategori tanpa tingkatan.
2. Data yang paling tepat untuk menilai keberhasilan program promosi kesehatan ini adalah skor pengetahuan dan kadar Hb. Skor pengetahuan menunjukkan apakah edukasi berhasil meningkatkan pemahaman remaja putri tentang anemia, sedangkan kadar Hb menunjukkan dampak nyata pada kondisi kesehatannya. Jika pengetahuan meningkat dan kadar Hb membaik, maka program bisa dikatakan berhasil. Status anemia juga penting, tetapi lebih sebagai hasil akhir yang dipengaruhi oleh perubahan kadar Hb.
Nama : Sintia Billah Utami
BalasHapusNim : P3.73.24.3.23.044
Kelas : 3A
Studi Kasus 1
a) Umur balita (bulan) :
- Data numerik kontinu dengan skala rasio, karena punya nol absolut (0 bulan) dan bisa dihitung selisih serta perbandingan.
- Termasuk Data primer karena diperoleh secara langsung atau bisa juga termasuk data sekunder jika diperoleh dari laporan posyandu sebelumnya
b) Tinggi badan (cm) :
- Data numerik kontinu dengan skala rasio, karena merupakan hasil pengukuran langsung dan bisa dibandingkan secara matematis.
- Termasuk Data primer karena diperoleh secara langsung
c) Status gizi (pendek, normal) :
- Data kategorik dengan skala ordinal, karena memiliki tingkatan kondisi gizi.
- Termasuk Data sekunder, karena status gizi ditentukan dari hasil pengukuran tinggi badan dan umur balita biasanya bisa dilihat dalam buku KIA, atau rekap laporan posyandu/puskesmas
d) Kehadiran balita di Posyandu (hadir/tidak hadir) :
- Data kategorik dengan skala nominal karena hanya menunjukkan perbedaan kategori tanpa urutan.
- Termasuk Data primer karena diperoleh secara langsung atau bisa juga termasuk data sekunder jika diperoleh dari laporan posyandu sebelumnya
Studi Kasus 2
a) Skor pengetahuan sebelum dan sesudah edukasi
- Data numerik dengan skala interval karena skor menunjukkan jarak nilai yang sama, tapi tidak memiliki nol absolut
b) Kadar Hb (g/dL)
- Data numerik dengan skala rasio karena menunjukan kondisi biologis yang dapat diukur secara objektif.
c) Status anemia (anemia/tidak anemia)
- Data kategorik dengan skala nominal karena digunakan untuk mengelompokkan tanpa menunjukkan tingkatan tertentu.
Data yang paling tepat untuk menilai keberhasilan program adalah kombinasi antara skor pengetahuan dan kadar Hb. Karena Skor pengetahuan bisa digunakan untuk melihat keberhasilan untuk meningkatkan pemahaman remaja, sedangkan kadar Hb digunakan untuk menilai dampak program terhadap kondisi kesehatan.
Nama : khimarifna mithadilla
BalasHapusNIM : P3.73.24.3.23.031
1.Studi kasus 1- Program Posyandu Balita
Evaluasi Program Posyandu Balita di Puskesmas X menggunakan data umur balita, tinggi badan, status gizi, dan kehadiran. Umur balita dan tinggi badan termasuk data kuantitatif dengan skala rasio, sedangkan status gizi serta kehadiran balita merupakan data kualitatif dengan skala nominal. Berdasarkan sumbernya, umur balita, tinggi badan, dan kehadiran balita termasuk data primer karena diperoleh langsung saat kegiatan Posyandu, sementara status gizi merupakan data sekunder karena hasil pengolahan data pertumbuhan balita.
2.Studi kasus 2 - Program Promosi Kesehatan Remaja
Pada evaluasi edukasi anemia pada remaja putri, skor pengetahuan sebelum dan sesudah edukasi termasuk data kuantitatif dengan skala interval. Kadar Hb (g/dL) merupakan data kuantitatif dengan skala rasio. Status anemia (anemia/tidak anemia) termasuk data kualitatif dengan skala nominal. Data yang paling tepat untuk menilai keberhasilan program adalah skor pengetahuan sebelum dan sesudah edukasi, karena edukasi bertujuan meningkatkan pengetahuan, sedangkan kadar Hb dan status anemia digunakan sebagai indikator pendukung.
CIARA ADTYA SALSABILA
BalasHapusP37324323010 - 3A
STUDI KASUS 1
Pertanyaan 1
Umur balita (bulan):
Jenis Data: Kuantitatif
Skala Pengukuran: Rasio
Tinggi badan (cm):
Jenis Data: Kuantitatif
Skala Pengukuran: Rasio
Status gizi (pendek, normal):
Jenis Data: Kualitatif
Skala Pengukuran: Ordinal
Kehadiran balita di Posyandu (hadir/tidak hadir):
Jenis Data: Kualitatif
Skala Pengukuran: Nominal
Pertanyaan 2
Dalam konteks evaluasi program Posyandu, data yang dikumpulkan seperti umur, tinggi badan, status gizi, dan kehadiran balita di Posyandu adalah
data primer
Ini karena data tersebut dikumpulkan langsung oleh petugas Puskesmas/Posyandu melalui pengukuran dan observasi.
Data sekunder
dalam konteks ini bisa berupa data dari laporan rutin Posyandu sebelumnya, data dari Dinas Kesehatan, atau data dari survei kesehatan lainnya yang relevan. Data sekunder ini digunakan sebagai data pembanding atau untuk melihat tren sebelumnya.
STUDI KASUS 2
Jenis Data dan Skala Pengukuran Variabel
skor pengetahuan sebelum dan sesudah edukasi:
Jenis data: Kuantitatif
Skala pengukuran: Interval atau Rasio
Kadar Hb (g/dL):
Jenis data: Kuantitatif
Skala pengukuran: Rasio (karena memiliki nilai nol mutlak dan memungkinkan perbandingan rasio)
Status anemia (anemia/tidak anemia):
Jenis data: Kualitatif
Skala pengukuran: Nominal (karena hanya mengklasifikasikan menjadi dua kategori tanpa urutan).
Data yang Paling Tepat untuk Menilai Keberhasilan Program
Untuk menilai keberhasilan program edukasi anemia pada remaja putri, data yang paling tepat adalah kombinasi antara kadar Hb (g/dL) dan status anemia (anemia/tidak anemia)
Kadar Hb (g/dL) Data ini memberikan informasi kuantitatif tentang perubahan kadar hemoglobin setelah edukasi. Peningkatan kadar Hb secara signifikan menunjukkan bahwa intervensi berhasil meningkatkan status zat besi remaja putri.
Status anemia (anemia/tidak anemia) Data ini memberikan gambaran yang lebih jelas tentang dampak program terhadap prevalensi anemia. Penurunan proporsi remaja putri yang mengalami anemia setelah edukasi menunjukkan keberhasilan program dalam mengatasi masalah anemia.
Aulia Nanda Putri P3.73.24.3.23.008
BalasHapusKelas 3A
Studi Kasus 1 Program Posyandu Balita
Pada evaluasi program posyandu balita, umur balita yang diukur dalam satuan bulan merupakan data kuantitatif dengan skala rasio karena memiliki nol mutlak dan selisih antar nilai bermakna. Tinggi badan balita dalam sentimeter juga termasuk data kuantitatif dengan skala rasio karena dapat dibandingkan secara absolut dan dihitung nilai rata-ratanya. Status gizi balita yang diklasifikasikan menjadi pendek dan normal merupakan data kualitatif dengan skala ordinal karena menunjukkan tingkatan status gizi. Kehadiran balita di Posyandu yang dikategorikan hadir atau tidak hadir termasuk data kualitatif dengan skala nominal karena tidak memiliki urutan. Berdasarkan sumbernya, data umur balita umumnya diperoleh dari buku KIA atau catatan administrasi sehingga termasuk data sekunder, sedangkan data tinggi badan, status gizi, dan kehadiran balita diperoleh melalui pengukuran dan pencatatan langsung di Posyandu sehingga termasuk data primer.
Studi kasus 2 Program Promosi Kesehatan Remaja
skor pengetahuan sebelum dan sesudah edukasi merupakan data kuantitatif dengan skala interval karena memiliki jarak yang sama antar nilai namun tidak memiliki nol mutlak. Kadar hemoglobin (Hb) dalam g/dL termasuk data kuantitatif dengan skala rasio karena memiliki nol mutlak dan dapat dibandingkan secara absolut. Status anemia yang dikategorikan menjadi anemia dan tidak anemia merupakan data kualitatif dengan skala nominal karena tidak memiliki tingkatan. Data yang paling tepat untuk menilai keberhasilan program promosi kesehatan remaja adalah perubahan skor pengetahuan dan kadar Hb, karena keduanya dapat menunjukkan peningkatan pengetahuan serta perbaikan kondisi biologis secara objektif, sedangkan status anemia berfungsi sebagai indikator hasil akhir yang lebih sederhana.
Qisya Shumailla Hakim
BalasHapusP3.73.24.3.23.038
Kelas A
Studi kasus I - Program Posyandu Balita
Jenis data dan skala pengukuran
1. Umur balita (bulan): jenis datanya numerik kontinu dengan skala pengukurannya yaitu rasio
2. Tinggi badan (cm): jenis datanya numerik kontinu dengan skala pengukurannya yaitu rasio
3. Status gizi (pendek, normal): jenis datanya kategorik dengan skala pengukurannya yaitu ordinal
4. Kehadiran balita diponyandu (hadir/tidak hadir): jenis datanya kategorik dengan skala pengukurannya yaitu nominal
Identifikasi data primer dan data sekunder
1. Data primer: umur balita, tinggi badan dan kehadiran balita di posyandu
2. Data sekunder: status gizi balita dan kehadiran balita di posyandu (karena bisa dicek dilaporan posyandu)
Studi kasus II - Program Promosi Kesehatan Remaja
Jenis data dan skala pengukuran
1. Skor pengetahuan sebelum dan sesudah edukasi: jenis datanya numerik dengan skala pengukurannya yaitu interval
2. Kadar Hb (g/dL): jenis datanya numerik dengan skala pengukurannya yaitu rasio
3. Status anemia (anemia/tidak anemia: jenis datanya kategorik dengan skala pengukurannya yaitu nominal
Data yang paling tepat untuk menilai keberhasilan program
Data yang paling tepat dalam menilai keberhasilan program yaitu skor pengetahuan dan kadar Hb. Karena Skor pengetahuan dipakai untuk melihat keberhasilan untuk meningkatkan pemahaman remaja, sedangkan kadar Hb dipakai untuk menilai dampak program terhadap kondisi kesehatan.
Nama : Allicia Ramadani
BalasHapusNIM : P3.73.24.3.23.002
Kelas : 6A
Jawaban studi kasus 1 - program posyandu balita
1. Tentukan jenis data dan skala pengukuran
Jenis data
a. Umur balita = Data Kategorik
b. Tinggi badan = Data Numerik > Kontinu
c. Status gizi = Data Kategorik
d. Kehadiran balita di posyandu (hadir/tidak hadir) = Data Kategorik
Skala Pengukuran
a. Umur balita = Skala Ordinal
b. Tinggi badan = Skala Rasio
c. Status gizi = Data Kategorik
d. Kehadiran balita di posyandu (hadir/tidak hadir) = Skala nominal
2.Identifikasi data, termasuk data primer atau data sekunder
a. Umur balita = Data Primer
b. Tinggi badan = Data Primer
c. Status gizi = Data Sekunder
d.Kehadiran balita di posyandu (hadir/tidak hadir) = Data Primer
Jawaban studi kasus 2 - program promosi kesehatan remaja
1.Tentukan jenis data dan skala pengukuran
Jenis Data
a. Skor pengetahuan sebelum dan sesudah edukasi = Data Kategorik
b. Kadar Hb (g/dL) = Data Numerik > Kontinu
c. Status anemia = Data Kategorik
Skala Pengukuran
a. Skor pengetahuan sebelum dan sesudah edukasi = Skala Interval
b. Kadar Hb (g/dL) = Skala Rasio
c. Status anemia = Skala Nominal
2.Data yang paling tepat untuk menilai keberhasilan program
Skor pengetahuan sebelum dan sesudah edukasi menjadi data paling tepat untuk menilai keberhasilan program karena tujuan utama kegiatan adalah memberikan edukasi agar peserta lebih memahami anemia dan cara pencegahannya. Jika skor pengetahuan meningkat setelah edukasi, berarti informasi yang diberikan berhasil diterima dan dipahami peserta. Sementara itu, perubahan kadar Hb atau penurunan anemia membutuhkan waktu lebih lama dan dipengaruhi banyak faktor lain, sehingga peningkatan skor pengetahuan menjadi data yang paling cepat menunjukkan keberhasilan program edukasi.
Nama : Faedah Syukbakti
BalasHapusNim : P3.73.24.3.23.020
Kelas : 3A
Studi Kasus 1 : Posyandu Balita
1. Jenis Data & Skala
- Umur (bulan) : Numerik rasio.
- Tinggi badan (cm) : Numerik rasio.
- Status gizi : Kategorikal nominal.
- Kehadiran : Kategorikal nominal.
Semua data primer, dikumpulkan langsung oleh Puskesmas.
Studi Kasus 2 : Edukasi Anemia Remaja
Jenis Data & Skala
- Skor pengetahuan : Numerik interval.
- Kadar Hb : Numerik rasio.
- Status anemia : Kategorikal nominal.
Indikator Keberhasilan : Skor pengetahuan (pre-post), ukur perubahan langsung dari edukasi.
Nama: Davina Nur Auliya
BalasHapusP3.73.24.3.23.014
Analisis Studi Kasus 1
Program Posyandu Balita
Dalam evaluasi ini, variabel Umur dan Tinggi Badan termasuk jenis data kuantitatif dengan skala rasio, karena keduanya memiliki nilai nol mutlak yang menunjukkan ukuran fisik pasti. Sementara itu, Status Gizi adalah data kualitatif berskala ordinal karena memiliki tingkatan kualitas (pendek ke normal). Adapun variabel Kehadiran merupakan data kualitatif berskala nominal yang hanya berfungsi sebagai kategori pembeda.
Mengenai sumber datanya, data disebut primer apabila tim Puskesmas melakukan pengukuran tinggi badan dan absensi secara langsung di lapangan. Sebaliknya, data menjadi sekunder jika tim hanya menyalin angka dari dokumen yang sudah ada, seperti Buku KIA atau arsip laporan bulanan Posyandu.
Analisis Studi Kasus 2
Program Promosi Kesehatan Remaja
Pada program edukasi anemia, Skor Pengetahuan dikategorikan sebagai data kuantitatif berskala interval, sedangkan Kadar Hb merupakan data kuantitatif berskala rasio. Perbedaannya terletak pada nilai nol; kadar Hb nol adalah nilai mutlak, sementara skor pengetahuan nol tidak berarti seseorang sama sekali tidak memiliki ilmu. Terakhir, Status Anemia adalah data kualitatif berskala nominal untuk mengelompokkan kondisi remaja.
Indikator paling tepat untuk menilai keberhasilan program ini adalah Kadar Hb dan Skor Pengetahuan. Skor pengetahuan menilai efektivitas proses edukasi (jangka pendek), sedangkan Kadar Hb menilai dampak nyata kesehatan dari program tersebut (jangka panjang). Jika terjadi peningkatan skor dan perbaikan kadar Hb secara signifikan, maka program edukasi tersebut dapat dinyatakan berhasil.
Resi Piningit Galih Pangestu (042)
BalasHapusStudi Kasus 1
Dalam studi kasus Program Posyandu Balita, variabel umur balita (dalam satuan bulan) dan tinggi badan (dalam sentimeter) termasuk ke dalam data kuantitatif dengan skala rasio. Hal ini karena data tersebut dinyatakan dalam bentuk angka, memiliki titik nol absolut, serta memungkinkan dilakukan perbandingan secara proporsional.
Variabel status gizi balita yang diklasifikasikan menjadi pendek dan normal merupakan data kualitatif dengan skala nominal, sebab data ini berbentuk kategori tanpa adanya urutan atau tingkatan tertentu.
Demikian pula, kehadiran balita di Posyandu(hadir atau tidak hadir) tergolong sebagai data kualitatif skala nominal, karena hanya menunjukkan klasifikasi kehadiran tanpa menunjukkan tingkat atau urutan.
Ditinjau dari sumber perolehannya, data primer mencakup umur balita, tinggi badan, dan kehadiran balita apabila data tersebut diperoleh melalui pengukuran serta pencatatan langsung pada saat pelaksanaan kegiatan Posyandu. Sementara itu,
data sekunder meliputi status gizi balita apabila diperoleh dari sumber data yang telah ada sebelumnya, seperti buku KIA, KMS, atau laporan rekapitulasi Posyandu maupun Puskesmas.
Studi Kasus 2
Pada Program Promosi Kesehatan Remaja mengenai edukasi anemia, skor pengetahuan sebelum dan sesudah edukasi dikategorikan sebagai data kuantitatif dengan skala interval, karena berupa nilai numerik dengan jarak antar skor yang sama, namun tidak memiliki nilai nol absolut yang bermakna. Analisis pada variabel ini difokuskan pada perbedaan nilai sebelum dan setelah pemberian edukasi.
Kadar hemoglobin (Hb) yang dinyatakan dalam satuan g/dL merupakan data kuantitatif dengan skala rasio, karena memiliki nol absolut serta perbedaan dan perbandingan nilainya bermakna secara biologis.
Sementara itu, status anemiayang dibedakan menjadi anemia dan tidak anemia termasuk data kualitatif skala nominal, karena hanya berfungsi sebagai pengelompokan kondisi tanpa tingkatan tertentu.
Dalam evaluasi keberhasilan program, skor pengetahuan sebelum dan sesudah edukasi menjadi indikator yang paling relevan, mengingat intervensi yang dilakukan berupa edukasi sehingga hasil langsung yang diharapkan adalah peningkatan pengetahuan remaja. Namun demikian, untuk menilai dampak kesehatan secara lebih objektif, kadar Hb dan status anemia dapat digunakan sebagai indikator outcome, meskipun perubahan pada variabel tersebut umumnya memerlukan waktu lebih lama dan dipengaruhi oleh faktor lain seperti pola asupan gizi serta kepatuhan dalam mengonsumsi tablet tambah darah.
CINDY FBRIANTI (P3.73.24.3.23.011)
BalasHapusKelas 6A
Studi Kasus 1: Program Posyandu Balita
1.Jenis Data dan Skala Pengukuran
•Umur balita (bulan): Ini masuk ke data numerik (angka) dengan skala rasio. Kenapa? Karena angka nol di sini beneran artinya "nol" (baru lahir), dan kita bisa bilang kalau balita umur 24 bulan itu dua kali lipat lebih tua dari yang umur 12 bulan.
•Tinggi badan (cm): Sama seperti umur, ini data numerik skala rasio. Hasilnya didapat dari meteran atau penggaris tinggi badan, ada nilai nolnya, dan bisa dibandingkan secara matematika.
•Status gizi (pendek, normal): Kalau ini namanya data kategorik dengan skala ordinal. Kenapa ordinal? Karena ada tingkatannya atau "derajat" kondisinya (misal: pendek itu posisinya di bawah normal).
•Kehadiran (hadir/tidak): Ini data kategorik tapi skalanya nominal. Cuma buat label atau pengelompokan saja, nggak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah antara hadir dan tidak hadir.
2.Data Primer vs Sekunder
•Data Primer: Biasanya tinggi badan dan kehadiran, karena kader atau petugas Puskesmas langsung ngukur dan absen di lokasi saat Posyandu berlangsung.
•Data Sekunder: Biasanya status gizi (karena ini hasil olahan dari data tinggi badan dan umur yang sudah dicatat di buku KIA atau aplikasi) dan bisa juga umur kalau petugas cuma menyalin dari data kependudukan/catatan lama.
Studi Kasus 2: Program Remaja Putri
1.Jenis Data dan Skala Pengukuran
•Skor pengetahuan: Masuk data numerik skala interval. Kita bisa lihat selisih nilainya, tapi nilai nol di sini bukan berarti orangnya nggak punya otak atau nggak tahu apa-apa sama sekali, jadi nggak ada nol absolut.
•Kadar Hb (g/dL): Ini data numerik skala rasio. Ini hasil cek darah yang sifatnya objektif, punya nilai nol yang mutlak, dan bisa dibandingkan (misal Hb 12 itu dua kali lipat dari Hb 6).
•Status anemia (anemia/tidak): Ini data kategorik skala nominal. Cuma pengelompokan kondisi remaja tersebut berdasarkan standar kesehatan
2.Data yang Paling Tepat untuk Menilai Keberhasilan
Untuk tahu program ini sukses atau nggak, yang paling oke dilihat adalah selisih skor pengetahuan dan kadar Hb.
•Skor pengetahuan menunjukkan apakah edukasi kita "masuk" ke pikiran mereka (perubahan perilaku/kognitif).
•Kadar Hb adalah bukti nyata apakah kondisi fisik mereka beneran membaik setelah diedukasi (hasil klinis).
Kevin Ferdinand Yulyono
BalasHapusP3.73.24.3.23.030
Pada Studi Kasus 1 Program Posyandu Balita, umur balita (bulan) dan tinggi badan (cm) termasuk data kuantitatif dengan skala pengukuran rasio karena memiliki nol mutlak dan dapat dibandingkan secara matematis. Status gizi balita (pendek dan normal) merupakan data kualitatif dengan skala ordinal karena menunjukkan tingkatan status gizi. Kehadiran balita di Posyandu (hadir atau tidak hadir) termasuk data kualitatif dengan skala nominal karena hanya berupa kategori tanpa urutan. Data umur balita, tinggi badan, dan kehadiran Posyandu merupakan data primer karena diperoleh langsung dari pengukuran dan pencatatan di lapangan, sedangkan status gizi termasuk data sekunder karena biasanya ditetapkan berdasarkan hasil pengolahan data antropometri menggunakan standar yang telah ditentukan.
Pada Studi Kasus 2 Program Promosi Kesehatan Remaja, skor pengetahuan sebelum dan sesudah edukasi termasuk data kuantitatif dengan skala interval karena memiliki jarak yang sama antar skor namun tidak memiliki nol mutlak. Kadar hemoglobin (Hb) dalam g/dL merupakan data kuantitatif dengan skala rasio karena memiliki nol mutlak dan dapat dibandingkan. Status anemia (anemia dan tidak anemia) merupakan data kualitatif dengan skala nominal. Data yang paling tepat untuk menilai keberhasilan program promosi kesehatan adalah skor pengetahuan sebelum dan sesudah edukasi karena secara langsung menggambarkan perubahan pengetahuan akibat intervensi edukasi, sedangkan kadar Hb dan status anemia lebih mencerminkan dampak program dalam jangka menengah hingga panjang.
Suci Febriani Anwar
BalasHapusP3.73.24.3.23.045
Studi Kasus 1: Program Posyandu Balita
Dalam mengevaluasi program penurunan stunting, Puskesmas X mengumpulkan berbagai indikator fisik dan perilaku.
• umur balita: kuantitatif (rasio)
• tinggi badan: kuantitatif (rasio)
• status gizi: kualitatif (kategorik)
• kehadiran: kualitatif (kategorik)
Data yang dikumpulkan secara langsung oleh petugas saat kegiatan Posyandu berlangsung (seperti pengukuran tinggi badan dan absensi) disebut sebagai data primer.
Studi Kasus 2: Program Promosi Kesehatan Remaja
Evaluasi ini berfokus pada efektivitas edukasi terhadap pengetahuan dan kondisi klinis (anemia) remaja putri.
• skor pengetahuan: kuantitatif (numerik)
• kadar hb: kuantitatif (numerik)
• status anemia: kualitatif (kategorik)
Data yang paling akurat untuk menilai keberhasilan program ini adalah perubahan skor pengetahuan (sebelum vs sesudah) dan peningkatan kadar Hb.
BalasHapusPada Studi Kasus 1 Program Posyandu Balita, variabel umur balita dalam bulan dan tinggi badan dalam sentimeter merupakan data kuantitatif dengan skala pengukuran rasio karena memiliki nol mutlak dan dapat dibandingkan secara bermakna. Status gizi balita yang dikategorikan menjadi pendek dan normal termasuk data kualitatif dengan skala nominal karena hanya menunjukkan perbedaan kategori tanpa urutan. Kehadiran balita di Posyandu yang dicatat sebagai hadir atau tidak hadir juga merupakan data kualitatif dengan skala nominal. Berdasarkan sumbernya, data umur balita, tinggi badan, dan kehadiran Posyandu merupakan data primer karena diperoleh langsung dari hasil pengukuran dan pencatatan di lapangan, sedangkan status gizi termasuk data sekunder karena merupakan hasil pengolahan atau klasifikasi dari data antropometri yang telah ada berdasarkan standar tertentu.
Pada Studi Kasus 2 Program Promosi Kesehatan Remaja, skor pengetahuan sebelum dan sesudah edukasi merupakan data kuantitatif dengan skala interval karena memiliki jarak yang sama antar nilai tetapi tidak memiliki nol mutlak. Kadar hemoglobin (Hb) dalam satuan g/dL termasuk data kuantitatif dengan skala rasio karena memiliki nol mutlak dan perbandingan nilainya bermakna. Status anemia yang dikategorikan menjadi anemia dan tidak anemia merupakan data kualitatif dengan skala nominal. Untuk menilai keberhasilan program, data yang paling tepat digunakan adalah skor pengetahuan sebelum dan sesudah edukasi karena tujuan utama program adalah meningkatkan pengetahuan remaja mengenai anemia. Namun, kadar Hb dan status anemia juga penting sebagai indikator dampak lanjutan untuk menilai apakah peningkatan pengetahuan tersebut berpengaruh terhadap kondisi kesehatan remaja.
Dinda Fitrah Tunnisa Siregar
BalasHapusP3.73.24.3.23.018
Studi Kasus 1 – Program Posyandu Balita
Pada program Posyandu Balita, variabel umur balita (dalam bulan) dan tinggi badan (dalam cm) termasuk data kuantitatif karena berbentuk angka, dengan skala pengukuran rasio karena memiliki nol mutlak dan jarak antar nilai yang sama. Status gizi (pendek, normal) merupakan data kualitatif dengan skala nominal, karena hanya menunjukkan kategori tanpa tingkatan numerik. Kehadiran balita di Posyandu (hadir/tidak hadir) juga merupakan data kualitatif dengan skala nominal. Berdasarkan sumbernya, data umur, tinggi badan, dan status gizi balita yang diukur langsung saat kegiatan Posyandu termasuk data primer, sedangkan data kehadiran balita yang biasanya diambil dari buku register atau laporan Posyandu dapat dikategorikan sebagai data sekunder.
Studi Kasus 2 – Program Promosi Kesehatan Remaja
Pada evaluasi program promosi kesehatan remaja, skor pengetahuan sebelum dan sesudah edukasi merupakan data kuantitatif dengan skala interval, karena berupa angka dengan jarak yang sama tetapi tidak memiliki nol mutlak. Kadar Hb (g/dL) termasuk data kuantitatif dengan skala rasio, karena memiliki nol mutlak dan perbandingan antar nilai bermakna. Status anemia (anemia/tidak anemia) adalah data kualitatif dengan skala nominal. Untuk menilai keberhasilan program, data yang paling tepat digunakan adalah perubahan skor pengetahuan sebelum dan sesudah edukasi serta perubahan kadar Hb atau status anemia, karena variabel-variabel tersebut secara langsung menggambarkan dampak edukasi terhadap peningkatan pengetahuan dan kondisi kesehatan remaja putri.
Fathya Shifa Adzani
BalasHapusP3.73.24.3.23.021
Studi Kasus 1 – Program Posyandu Balita
1. Jenis data dan skala pengukuran
a) Umur balita (bulan)
- Jenis data: Kuantitatif
- Skala pengukuran: Rasio
Karena umur bisa dihitung, ada nol mutlak (0 bulan), dan bisa dibandingkan.
b) Tinggi badan (cm)
- Jenis data: Kuantitatif
- Skala pengukuran: Rasio
Tinggi badan bisa diukur dengan angka dan punya nol mutlak.
c) Status gizi (pendek, normal)
- Jenis data: Kualitatif
- Skala pengukuran: Nominal
Karena berupa kategori dan tidak ada tingkatan nilai.
d) Kehadiran balita di Posyandu (hadir/tidak hadir)
- Jenis data: Kualitatif
- Skala pengukuran: Nominal
Hanya membedakan hadir atau tidak, tanpa urutan.
2. Data primer dan data sekunder
- Data primer:
- Umur balita
- Tinggi badan
- Kehadiran balita di Posyandu
Karena data ini dikumpulkan langsung oleh petugas saat kegiatan Posyandu.
- Data sekunder:
- Status gizi
Biasanya sudah ditentukan berdasarkan standar (misalnya TB/U WHO) dan bisa berasal dari pencatatan atau laporan sebelumnya.
Studi Kasus 2 – Program Promosi Kesehatan Remaja
1. Jenis data dan skala pengukuran
a) Skor pengetahuan sebelum dan sesudah edukasi
- Jenis data: Kuantitatif
- Skala pengukuran: Interval
Skor berbentuk angka dan selisihnya bermakna, tapi tidak punya nol mutlak.
b) Kadar Hb (g/dL)
- Jenis data: Kuantitatif
- Skala pengukuran: Rasio
Bisa diukur secara objektif dan memiliki nol mutlak.
c) Status anemia (anemia/tidak anemia)
- Jenis data: Kualitatif
- Skala pengukuran: Nominal
Hanya berupa kategori kondisi kesehatan.
2. Data yang paling tepat untuk menilai keberhasilan program
Menurut saya, data yang paling tepat untuk menilai keberhasilan program adalah skor pengetahuan sebelum dan sesudah edukasi.
Alasannya:
- Tujuan utama promosi kesehatan adalah meningkatkan pengetahuan dan kesadaran.
- Perubahan skor sebelum dan sesudah edukasi bisa langsung menunjukkan dampak edukasi yang diberikan.
- Kadar Hb dan status anemia lebih dipengaruhi banyak faktor lain (pola makan, konsumsi tablet tambah darah, menstruasi), jadi tidak sepenuhnya mencerminkan efek edukasi dalam waktu singkat.
vannie arseti ikhlas
BalasHapusP3.73.24.3.23.047
studi kasus 1
Program Posyandu Balita
Dalam evaluasi program Posyandu untuk menurunkan angka stunting, data umur balita (bulan) dan tinggi badan (cm) merupakan data kuantitatif dengan skala pengukuran rasio karena memiliki nol absolut dan dapat dibandingkan secara matematis. Status gizi balita (pendek dan normal) termasuk data kualitatif dengan skala ordinal karena menunjukkan tingkatan kondisi gizi, sedangkan kehadiran balita di Posyandu (hadir/tidak hadir) merupakan data kualitatif dengan skala nominal karena hanya membedakan kategori tanpa urutan.
Berdasarkan sumbernya, data umur balita, tinggi badan, dan kehadiran balita di Posyandu merupakan data primer karena dikumpulkan langsung saat kegiatan Posyandu, sementara data status gizi tergolong data sekunder karena diperoleh dari catatan atau laporan yang telah tersedia
Studi kasus 2
Program Promosi Kesehatan Remaja
skor pengetahuan sebelum dan sesudah edukasi merupakan data kuantitatif dengan skala interval karena memiliki jarak yang sama antar nilai namun tidak memiliki nol mutlak. Kadar hemoglobin (Hb) dalam g/dL termasuk data kuantitatif dengan skala rasio karena memiliki nol mutlak dan dapat dibandingkan secara absolut. Status anemia yang dikategorikan menjadi anemia dan tidak anemia merupakan data kualitatif dengan skala nominal karena tidak memiliki tingkatan. Data yang paling tepat untuk menilai keberhasilan program promosi kesehatan remaja adalah perubahan skor pengetahuan dan kadar Hb, karena keduanya dapat menunjukkan peningkatan pengetahuan serta perbaikan kondisi biologis secara objektif, sedangkan status anemia berfungsi sebagai indikator hasil akhir yang lebih sederhana.
Raka Ardhya R (P3.73.24.3.23.040)
BalasHapusStudi Kasus 1 – Program Posyandu Balita
1. Jenis Data dan Skala Pengukuran
• Umur balita (bulan): Data Kuantitatif dengan skala Rasio. Alasannya, umur memiliki nilai nol mutlak dan perbandingannya bersifat konsisten (misal: 10 bulan adalah dua kali lipat dari 5 bulan).
• Tinggi badan (cm): Data Kuantitatif dengan skala Rasio. Ini adalah hasil pengukuran fisik yang memiliki nilai nol mutlak.
• Status gizi (pendek, normal): Data Kualitatif dengan skala Ordinal. Karena terdapat tingkatan atau urutan kategori (normal lebih baik daripada pendek).
• Kehadiran balita (hadir/tidak hadir): Data Kualitatif dengan skala Nominal. Hanya berfungsi sebagai label untuk membedakan kategori tanpa adanya tingkatan.
2. Data Primer dan Sekunder
* Data Primer: Tinggi badan dan status gizi (jika diukur langsung di tempat saat evaluasi), serta kehadiran (jika dicatat langsung saat hari H).
* Data Sekunder: Umur balita (biasanya diambil dari Buku KIA atau database kependudukan) dan data kehadiran bulan-bulan sebelumnya yang diambil dari buku registrasi Posyandu.
Studi Kasus 2 – Program Promosi Kesehatan Remaja
1. Jenis Data dan Skala Pengukuran
* Skor pengetahuan: Data Kuantitatif dengan skala Interval. Skor menunjukkan tingkatan pengetahuan, namun nilai 0 pada skor ujian biasanya tidak berarti "nol mutlak" atau ketiadaan pengetahuan sama sekali.
* Kadar Hb (g/dL): Data Kuantitatif dengan skala Rasio. Merupakan data medis hasil laboratorium dengan nilai nol mutlak.
* Status anemia (anemia/tidak anemia): Data Kualitatif dengan skala Nominal (atau bisa dianggap dikotomus). Berfungsi untuk mengelompokkan subjek ke dalam dua kategori medis.
2. Data Paling Tepat Menilai Keberhasilan Program
Data yang paling tepat adalah perbandingan Skor Pengetahuan (sebelum dan sesudah) dan perubahan Kadar Hb.
* Skor Pengetahuan mengukur keberhasilan proses edukasi (apakah informasi terserap).
* Kadar Hb mengukur keberhasilan tujuan klinis program (apakah kondisi kesehatan remaja benar-benar membaik). Namun, untuk evaluasi promosi kesehatan (edukasi), perubahan skor pengetahuan seringkali menjadi indikator utama yang paling langsung terlihat.
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusAzkania Anandina Aulia Putri
BalasHapusP3.73.24.3.23.009
Studi Kasus 1 – Program Posyandu Balita
1. Jenis data dan skala pengukuran
a) Umur balita (bulan)
Jenis data: Kuantitatif
Skala pengukuran: Rasio
b) Tinggi badan (cm)
Jenis data: Kuantitatif
Skala pengukuran: Rasio
c) Status gizi (pendek, normal)
Jenis data: Kualitatif
Skala pengukuran: Ordinal
d) Kehadiran balita di Posyandu (hadir/tidak hadir)
Jenis data: Kualitatif
Skala pengukuran: Nominal
2. Identifikasi data primer dan data sekunder
Data primer:
Umur balita, tinggi badan, status gizi, dan kehadiran balita (dikumpulkan langsung dari pengukuran dan pencatatan Posyandu).
Data sekunder:
Tidak disebutkan secara eksplisit; bisa berupa laporan atau data stunting sebelumnya dari Puskesmas atau Dinas Kesehatan (jika digunakan).
Studi Kasus 2 – Program Promosi Kesehatan Remaja
1. Jenis data dan skala pengukuran
a) Skor pengetahuan sebelum dan sesudah edukasi
Jenis data: Kuantitatif
Skala pengukuran: Interval
b) Kadar Hb (g/dL)
Jenis data: Kuantitatif
Skala pengukuran: Rasio
c) Status anemia (anemia/tidak anemia)
Jenis data: Kualitatif
Skala pengukuran: Nominal
2. Data yang paling tepat untuk menilai keberhasilan program
Skor pengetahuan sebelum dan sesudah edukasi (untuk menilai peningkatan pengetahuan).
Kadar Hb dan status anemia (untuk menilai dampak kesehatan secara langsung).
Nama: Nafla Hanun Azizah
BalasHapusNIM: (P3.73.24.3.22.029)
Kelas: 3A
Studi kasus 1
1. jenis data dan skala pengukuran
a) umur balita (bulan) :
○ jenis data: data kuantitatif (rasio)
○ skala pengukuran: skala rasio
b) tinggi badan (cm):
○ jenis data: data kuantitatif (kontinu)
○ skala pengukuran: skala rasio
c) status gizi (pendek/ normal)
○ jenis data: data kualitatif
○ skala pengukuran: skala ordinal
d) kehadiran balita (hadir/ tidak hadir)
○ jenis data: data kualitatif
○ skala pengukuran: skala nominal
2. identifikasi data primer dan sekunder
a) Data primer
dalam kasus ini, data primer nya adalah pengukuran tingi badan, dan pencatatan kehadiran secara langsung
b) Data sekunder
data yang diambil biasanya dari sumber yang sudah ada seperti umur balita yang sudah tertera di buku KIA, dan status gizi yang merupakan hasil olahan dari data tinggi badan dan umur
Studi kasus 2
1. identifikasi jenis data dan skala pengukuran setiap variabel
a) skor pengetahuan sebelum dan sesudah edukasi
○ jenis data: data kuantitatif (numerik)
○ skala pengukuran: rasio
b) kadar Hb (g/dL)
○ jenis data: kuantitatif (numerik)
○ skala pengukuran: rasio
c)status anemia (anemia/ tidak anemia)
○ jenis data: data kualitatif
○ skala pengukuran: Nominal
2. data yang tepat untuk menilai keberhasilan program.
untuk menilai keberhasilan program edukasi yang bertujuan untuk mengubah perilaku melalui peningkatan dan pemahaman maka peningkatan skor pengetahuan adalah indikator langsung (output) yang membuktikan bahwa materi edukasi telah diterima dan dipahami oleh peserta.
Namun, jika tujuan jangka panjang puskesmas adalah dampak kesehatan (outcome), maka Status Anemia atau Kadar Hb menjadi indikator keberhasilan klinis yang penting untuk dipantau secara berkelanjutan.
Nama: Syamira Khaerunisa Putri
BalasHapusNim:P3.73.24.3.23.046
Studi kasus 1- Program Posyandu Balita
1. Jenis data dan skala pengukuran
a) Umur balita (bulan)
• Jenis data: Numerik
•Skala pengukuran: Rasio
b) Tinggi badan (cm)
•Jenis data: numerik
•Skala pengukuran: rasio
C. Status gizi (pendek, normal)
•Jenis data:: Kategorik
•Skala pengukuran: Ordinal
D. Kehadiran balita di Posyandu (hadir/tidak hadir)
•Jenis data: kategorik
•Skala Pengukuran: nominal
2. Identifikasi sumber data
Data Primer dan Data Sekunder
Data Primer
(Data yang dikumpulkan langsung oleh petugas saat evaluasi)
* Umur balita (bulan)
* Tinggi badan (cm)
* Kehadiran balita di Posyandu
Didapat dari pengukuran langsung, observasi, dan pencatatan kehadiran di Posyandu.
Data Sekunder
(Data yang sudah tersedia sebelumnya)
* Status gizi (pendek, normal)
Biasanya diperoleh dari:
* Buku KIA
* Laporan Posyandu
* Rekam medis Puskesmas
* Hasil penilaian gizi sebelumnya (BB/TB atau TB/U)
*Studi kasus 2*
1. Jenis data dan skala pengukuran
a) skor pengetahuan sebelum dan sesudah edukasi = data kuantitatif dengan skala interval
b) Kadar Hb (g/dl) = data kuantitatif dengan skala rasio
c) Status anemia = data kualitatif dengan skala pengukuran nominal
2. Data yang paling tepat untuk menilai keberhasilan :
- skor pengetahuan sebelum dan sesudah edukasi
- kadar Hb
Untuk status anemia di gunakan sebagai data pendukung untuk melihat perubahan kondisi secara umum.
Studi Kasus 1
BalasHapusDalam lingkup Program Posyandu Balita, variabel umur (bulan) serta tinggi badan (cm) diklasifikasikan sebagai data kuantitatif dengan skala pengukuran rasio. Hal ini dikarenakan data tersebut disajikan dalam angka, memiliki nilai nol absolut, dan dapat dibandingkan secara matematis.
Adapun variabel status gizi (seperti pendek atau normal) merupakan data kualitatif dengan skala nominal, mengingat fungsinya hanya sebagai pelabelan kategori tanpa adanya hierarki. Serupa dengan itu, kehadiran balita (hadir/tidak hadir) juga termasuk data kualitatif berskala nominal karena sekadar menunjukkan klasifikasi keterlibatan tanpa tingkatan tertentu.
Ditinjau dari sumbernya, data kategori primer meliputi umur, tinggi badan, serta kehadiran jika data tersebut didapat melalui observasi dan pengukuran langsung di lapangan. Sementara itu, data dianggap sekunder jika informasi mengenai status gizi diperoleh melalui dokumen yang telah tersedia sebelumnya, seperti Buku KIA, KMS, atau arsip laporan milik Puskesmas.
Studi Kasus 2
Pada kegiatan edukasi anemia bagi remaja, skor pengetahuan (sebelum dan sesudah intervensi) merupakan data kuantitatif berskala interval. Data ini berbentuk angka hasil pengujian yang memiliki rentang nilai tetap, namun tidak memiliki nilai nol mutlak. Analisisnya menitikberatkan pada perbandingan perubahan skor sebelum dan sesudah pemberian materi.
Untuk kadar hemoglobin (Hb) dalam satuan g/dL, data ini masuk dalam kategori kuantitatif berskala rasio karena memiliki titik nol absolut dan selisih nilainya bermakna secara klinis. Di sisi lain, status anemia (anemia/tidak anemia) merupakan data kualitatif nominal yang berfungsi sebagai pengelompokan kondisi tanpa menunjukkan suatu tingkatan.
Guna mengukur efektivitas program, variabel yang paling tepat digunakan adalah skor pengetahuan, sebab output langsung dari sebuah edukasi adalah transformasi pemahaman peserta. Namun, kadar Hb dan status anemia tetap berperan penting sebagai indikator dampak (outcome) yang objektif, meskipun disadari bahwa perubahan pada indikator ini membutuhkan durasi lebih lama serta dipengaruhi oleh variabel eksternal seperti asupan nutrisi dan keteraturan konsumsi tablet tambah darah.
Nama : Athiyyah Rahmah
BalasHapusNim : P3.73.24.3.23.007
Studi Kasus 1
Dalam kasus Program Posyandu Balita, variabel umur balita (dalam bulan) dan tinggi badan (dalam sentimeter) termasuk data kuantitatif berskala rasio. Keduanya dinyatakan dalam bentuk angka, memiliki titik nol yang nyata, serta memungkinkan dilakukan perbandingan nilai secara proporsional.
Kategori status gizi balita (misalnya: pendek dan normal) tergolong data kualitatif dengan skala nominal, karena berbentuk pengelompokan tanpa menunjukkan urutan tingkat.
Data kehadiran balita di Posyandu (hadir atau tidak hadir) juga merupakan data kualitatif nominal, sebab hanya menunjukkan jenis kategori tanpa adanya tingkatan nilai.
Dilihat dari asal perolehannya, data primer mencakup umur, tinggi badan, dan data kehadiran jika dikumpulkan langsung melalui pengukuran dan pencatatan saat kegiatan Posyandu berlangsung. Sedangkan data sekunder dapat berupa status gizi balita apabila informasinya diambil dari catatan yang sudah ada sebelumnya, seperti Buku KIA, KMS, maupun laporan rekap Posyandu atau Puskesmas.
Studi Kasus 2
Pada program promosi kesehatan remaja mengenai edukasi anemia, nilai pengetahuan sebelum dan setelah penyuluhan termasuk data kuantitatif dengan skala interval. Data ini berupa skor hasil tes dengan jarak antar nilai yang setara, tetapi tidak memiliki nol mutlak yang bermakna. Fokus pengukurannya adalah selisih nilai sebelum dan sesudah intervensi edukasi.
Kadar hemoglobin (Hb) yang dinyatakan dalam g/dL termasuk data kuantitatif skala rasio, karena mempunyai nol absolut dan perbandingan nilainya memiliki arti secara biologis.
Status anemia (anemia atau tidak anemia) masuk dalam data kualitatif nominal, karena hanya berupa klasifikasi kondisi tanpa menunjukkan jenjang atau urutan.
Dalam evaluasi keberhasilan program, indikator yang paling relevan adalah perubahan skor pengetahuan pre–post edukasi, karena kegiatan yang dilakukan berupa penyuluhan sehingga hasil langsung yang diharapkan adalah peningkatan pemahaman remaja. Meski demikian, kadar Hb dan status anemia tetap dapat dijadikan indikator outcome kesehatan yang lebih objektif, walaupun perubahannya biasanya memerlukan waktu dan dipengaruhi faktor lain seperti pola makan serta kepatuhan minum tablet tambah darah.
Studi Kasus 1
BalasHapusUmur balita yang diukur dalam satuan bulan merupakan data kuantitatif dengan skala pengukuran rasio karena memiliki nol mutlak dan jarak antar nilai bermakna. Tinggi badan balita yang diukur dalam sentimeter juga termasuk data kuantitatif dengan skala rasio karena dapat dibandingkan secara absolut. Status gizi balita yang dikategorikan menjadi pendek dan normal merupakan data kualitatif dengan skala pengukuran nominal karena hanya berupa kategori tanpa urutan tingkatan. Kehadiran balita di Posyandu yang dicatat sebagai hadir atau tidak hadir juga termasuk data kualitatif dengan skala nominal.
Data yang diperoleh langsung melalui pengukuran tinggi badan, pencatatan umur, penilaian status gizi, serta absensi kehadiran balita di Posyandu merupakan data primer karena dikumpulkan langsung oleh petugas kesehatan dari sumber pertama. Sementara itu, apabila sebagian data diambil dari buku KIA, laporan Posyandu sebelumnya, atau catatan Puskesmas, maka data tersebut termasuk data sekunder karena berasal dari dokumen yang sudah ada.
Studi Kasus 2
Baik Rere, kita bahas satu per satu secara sistematis seperti gaya jawaban kuliah kesehatan masyarakat ya.
a. Jenis data dan skala pengukuran setiap variabel
1. Skor pengetahuan sebelum dan sesudah edukasi
Jenis data:Kuantitatif
Skala pengukuran: Interval (sering diperlakukan sebagai interval dalam penelitian kesehatan)
Karena berupa angka skor (misalnya 0–100) dan jarak antar nilai bermakna.
2. Kadar Hb (g/dL)
Jenis data: Kuantitatif kontinu
Skala pengukuran: Rasio
Karena memiliki nol absolut (Hb = 0 berarti tidak ada hemoglobin) dan bisa dibandingkan secara proporsional.
3. Status anemia (anemia / tidak anemia)
Jenis data: Kualitatif kategorik
Skala pengukuran: Nominal
Karena hanya berupa kategori tanpa urutan.
b. Data yang paling tepat untuk menilai keberhasilan program edukasi
Yang paling tepat adalah skor pengetahuan sebelum dan sesudah edukasi.
Alasannya:
✔ Tujuan utama edukasi adalah meningkatkan pengetahuan
✔ Perubahan skor bisa langsung menunjukkan dampak intervensi
✔ Hb dan status anemia lebih dipengaruhi faktor lain (gizi, menstruasi, infeksi, dll) dan biasanya butuh waktu lebih lama untuk berubah
Rubito Pangestu
BalasHapusP3.73.24.3.23.043
Studi Kasus 1 – Posyandu Balita
1. Jenis data & skala:
Umur balita: kuantitatif, rasio
Tinggi badan: kuantitatif, rasio
Status gizi: kualitatif, nominal
Kehadiran posyandu: kualitatif, nominal
2. Data primer & sekunder:
Primer: umur, tinggi badan, kehadiran
Sekunder: status gizi
Studi Kasus 2 – Promosi Kesehatan Remaja
1. Jenis data & skala:
Skor pengetahuan: kuantitatif, interval
Kadar Hb: kuantitatif, rasio
Status anemia: kualitatif, nominal
2. Data paling tepat menilai keberhasilan:
Skor pengetahuan sebelum dan sesudah edukasi
Dinda Khairinisa (3A)
BalasHapusP3.73.24.3.23.019
Pada Studi Kasus 1 tentang Program Posyandu Balita, umur balita yang diukur dalam bulan dan tinggi badan balita dalam satuan sentimeter termasuk data kuantitatif karena berbentuk angka dan dapat dihitung secara matematis. Kedua variabel tersebut menggunakan skala rasio karena memiliki nol mutlak dan perbandingan nilainya bermakna. Status gizi balita yang dikategorikan menjadi pendek dan normal serta kehadiran balita di Posyandu yang dicatat sebagai hadir atau tidak hadir termasuk data kualitatif dengan skala nominal, karena hanya menunjukkan kategori tanpa tingkatan tertentu. Data yang dikumpulkan dalam program ini merupakan data primer, karena diperoleh langsung oleh Puskesmas melalui pengukuran dan pencatatan saat kegiatan Posyandu berlangsung.
Pada Studi Kasus 2 mengenai Program Promosi Kesehatan Remaja, skor pengetahuan sebelum dan sesudah edukasi merupakan data kuantitatif dengan skala interval karena selisih nilainya bermakna, namun tidak memiliki nol mutlak. Kadar hemoglobin (Hb) yang diukur dalam satuan g/dL termasuk data kuantitatif dengan skala rasio karena memiliki nol mutlak dan dapat dibandingkan secara proporsional. Status anemia yang diklasifikasikan menjadi anemia dan tidak anemia merupakan data kualitatif dengan skala nominal. Data yang paling tepat untuk menilai keberhasilan program promosi kesehatan ini adalah skor pengetahuan sebelum dan sesudah edukasi serta kadar Hb, karena keduanya dapat menunjukkan perubahan pengetahuan dan kondisi kesehatan remaja secara lebih objektif dibandingkan status anemia saja.
Studi Kasus 1
BalasHapusUmur balita yang diukur dalam satuan bulan merupakan data kuantitatif dengan skala pengukuran rasio karena memiliki nol mutlak dan jarak antar nilai bermakna. Tinggi badan balita yang diukur dalam sentimeter juga termasuk data kuantitatif dengan skala rasio karena dapat dibandingkan secara absolut. Status gizi balita yang dikategorikan menjadi pendek dan normal merupakan data kualitatif dengan skala pengukuran nominal karena hanya berupa kategori tanpa urutan tingkatan. Kehadiran balita di Posyandu yang dicatat sebagai hadir atau tidak hadir juga termasuk data kualitatif dengan skala nominal.
Data yang diperoleh langsung melalui pengukuran tinggi badan, pencatatan umur, penilaian status gizi, serta absensi kehadiran balita di Posyandu merupakan data primer karena dikumpulkan langsung oleh petugas kesehatan dari sumber pertama. Sementara itu, apabila sebagian data diambil dari buku KIA, laporan Posyandu sebelumnya, atau catatan Puskesmas, maka data tersebut termasuk data sekunder karena berasal dari dokumen yang sudah ada.
Studi Kasus 2
a. Jenis data dan skala pengukuran setiap variabel
1. Skor pengetahuan sebelum dan sesudah edukasi
Jenis data:Kuantitatif
Skala pengukuran: Interval (sering diperlakukan sebagai interval dalam penelitian kesehatan)
Karena berupa angka skor (misalnya 0–100) dan jarak antar nilai bermakna.
2. Kadar Hb (g/dL)
Jenis data: Kuantitatif kontinu
Skala pengukuran: Rasio
Karena memiliki nol absolut (Hb = 0 berarti tidak ada hemoglobin) dan bisa dibandingkan secara proporsional.
3. Status anemia (anemia / tidak anemia)
Jenis data: Kualitatif kategorik
Skala pengukuran: Nominal
Karena hanya berupa kategori tanpa urutan.
b. Data yang paling tepat untuk menilai keberhasilan program edukasi
Yang paling tepat adalah skor pengetahuan sebelum dan sesudah edukasi.
Alasannya:
✔ Tujuan utama edukasi adalah meningkatkan pengetahuan
✔ Perubahan skor bisa langsung menunjukkan dampak intervensi
✔ Hb dan status anemia lebih dipengaruhi faktor lain (gizi, menstruasi, infeksi, dll) dan biasanya butuh waktu lebih lama untuk berubah
Studi Kasus 1
BalasHapus1. Dalam kasus Program Posyandu Balita, variabel umur balita (bulan) dan tinggi badan (sentimeter) termasuk data kuantitatif berskala rasio. Keduanya dinyatakan dalam bentuk angka, memiliki titik nol yang nyata, serta memungkinkan dilakukan perbandingan nilai secara proporsional.
Kategori status gizi balita tergolong data kualitatif dengan skala nominal
Data kehadiran(hadir atau tidak hadir) juga merupakan data kualitatif nominal
2. Data primer: umur balita, tinggi badan, kehadiran balita (jika diukur/dicatat langsung saat Posyandu)
Data sekunder: status gizi (jika diambil dari Buku KIA, KMS, atau laporan Posyandu/Puskesmas)
Studi Kasus 2
1. Jenis data & skala pengukuran
Skor pengetahuan pre–post edukasi termasuk data kuantitatif, skala interval. Sedangkan, kadar Hb (g/dL) termasuk data kuantitatif, skala rasio, dan status anemia (anemia/tidak anemia) termasuk data kualitatif, skala nominal
2. Data paling tepat untuk menilai keberhasilan program
Skor pengetahuan sebelum dan sesudah edukasi, karena program berupa penyuluhan sehingga dampak langsung yang diharapkan adalah peningkatan pengetahuan.
Kadar Hb dan status anemia dapat menjadi indikator tambahan, namun perubahannya tidak selalu langsung dan dipengaruhi faktor lain.
Studi Kasus 1 – Program Posyandu Balita
BalasHapusUmur balita dalam bulan termasuk data numerik kontinu dengan skala rasio karena memiliki nol absolut. Tinggi badan balita dalam sentimeter juga merupakan data numerik kontinu dengan skala rasio.
Status gizi balita (pendek dan normal) merupakan data kategorik dengan skala ordinal karena memiliki urutan tingkat kondisi gizi. Kehadiran balita di Posyandu (hadir atau tidak hadir) termasuk data kategorik dengan skala nominal karena hanya berupa pengelompokan tanpa urutan.
Data primer adalah data yang dikumpulkan langsung saat kegiatan Posyandu, yaitu tinggi badan, status gizi, dan kehadiran balita. Data sekunder adalah umur balita yang diperoleh dari buku KIA atau catatan administrasi.
Studi Kasus 2 – Program Promosi Kesehatan Remaja
Skor pengetahuan sebelum dan sesudah edukasi termasuk data numerik diskrit dengan skala interval. Kadar Hb merupakan data numerik kontinu dengan skala rasio. Status anemia (anemia dan tidak anemia) termasuk data kategorik dengan skala nominal.
Data yang paling tepat untuk menilai keberhasilan program adalah kadar Hb, karena menunjukkan perubahan kondisi kesehatan secara langsung. Skor pengetahuan digunakan sebagai pendukung untuk melihat peningkatan pemahaman setelah edukasi.
Fiqri Hakim
BalasHapusP3.73.24.3.23.025
1. Jenis Data dan Skala Pengukuran
Umur balita (bulan): Ini adalah Data Kuantitatif (Numerik). Skala pengukurannya adalah Rasio karena angka bulannya jelas dan memiliki nilai nol mutlak (saat bayi baru lahir).
Tinggi badan (cm): Ini juga termasuk Data Kuantitatif (Numerik). Skalanya adalah Rasio karena kita bisa mengukurnya dengan alat ukur dan membandingkan hasilnya secara pasti (misal: 100 cm itu dua kali lipat dari 50 cm).
Status gizi (pendek, normal): Ini disebut Data Kualitatif (Kategorik). Skalanya adalah Ordinal karena ada urutan atau tingkatan di dalamnya (status "normal" lebih baik daripada "pendek").
Kehadiran balita (hadir/tidak hadir): Ini adalah Data Kualitatif (Kategorik). Skalanya adalah Nominal karena hanya berfungsi sebagai label atau pembeda saja, tidak ada tingkatan antara hadir dan tidak hadir.
2. Data Primer dan Sekunder
Data Primer: Jika petugas Puskesmas turun langsung menimbang tinggi badan dan mencatat kehadiran saat Posyandu berlangsung, maka itu disebut data primer.
Data Sekunder: Jika petugas mengambil data umur balita dari arsip kartu keluarga atau melihat riwayat kunjungan dari buku registrasi bulan-bulan sebelumnya yang sudah ada di kantor desa.
Jenis Data dan Skala Pengukuran
Skor pengetahuan: Termasuk Data Kuantitatif (Numerik). Skala pengukurannya adalah Interval. Mengapa? Karena meskipun ada angkanya, nilai "0" pada tes pengetahuan tidak berarti orang tersebut sama sekali tidak punya pengetahuan.
Kadar Hb (g/dL): Ini adalah Data Kuantitatif (Numerik) dengan skala Rasio. Angka ini sangat pasti dan bisa dibandingkan secara matematis.
Status anemia: Termasuk Data Kualitatif (Kategorik). Skalanya adalah Nominal (atau bisa juga Ordinal jika dianggap ada tingkatan keparahan), namun umumnya digunakan sebagai pembeda kelompok saja.
Data yang paling tepat untuk menilai keberhasilan program ini adalah Kadar Hb (g/dL).
Alasannya sederhana: Skor pengetahuan hanya membuktikan bahwa remaja tersebut "paham" teorinya. Namun, tujuan akhir dari program anemia adalah perubahan kondisi fisik. Dengan melihat kenaikan Kadar Hb, Puskesmas bisa memastikan bahwa edukasi tersebut benar-benar dipraktikkan (misal: mereka jadi benar-benar makan makanan bergizi atau rutin minum tablet tambah darah) sehingga kondisi kesehatan mereka membaik secara nyata.
Aqsyal Rafflie Permana
BalasHapus3A
P3.73.24.3.23.006
1. Jenis Data dan Skala Pengukuran
Umur balita (bulan): Data numerik, skala rasio.
Tinggi badan (cm): Data numerik, skala rasio.
Status gizi (pendek, normal): Data kategorik, skala nominal.
Kehadiran balita (hadir/tidak hadir): Data kategorik, skala nominal.
2. Sumber Data
Data Primer: Umur balita, tinggi badan, dan kehadiran (diperoleh langsung melalui pengukuran dan pencatatan saat Posyandu).
Data Sekunder: Status gizi (hasil pengolahan atau klasifikasi lanjut dari data yang sudah ada).
Studi Kasus 2 – Program Promosi Kesehatan Remaja
1. Jenis Data dan Skala Pengukuran
Skor pengetahuan: Data numerik, skala interval.
Kadar Hb (g/dL): Data numerik, skala rasio.
Status anemia (anemia/tidak anemia): Data kategorik, skala nominal.
2. Indikator Keberhasilan Program
Data paling tepat: Perubahan skor pengetahuan sebelum dan sesudah edukasi.
Alasan: Tujuan utama promosi kesehatan adalah meningkatkan pemahaman. Perubahan kadar Hb atau status anemia membutuhkan waktu lebih lama dan dipengaruhi faktor luar, sehingga kurang ideal sebagai indikator keberhasilan jangka pendek.
Nama : Yuniar Sofyan Wijaya
BalasHapusNim. : P3.73.24.3.23.049
Kelas. : 3A
Jawab :
Studi Kasus 1
1. Jenis data dan skala pengukuran masing-masing variabel ?
Variabel :
a. Umur balita (bulan)
b. Tinggi badan (cm)
c. Status gizi (pendek/normal)
d. Kehadiran (hadir/tidak hadir)
Jenis Data :
a. Kuantitatif (numerik)
b. Kuantitatif (numerik)
c. Kualitatif (kategori)
d. Kualitatif
Skala Pengukuran :
a. Rasio
b. Rasio
c. Nominal
d. Nominal
Penjelasan :
a. Ada nol absolut dan bisa dibandingkan (24 bulan = 2×12 bulan)
b. Nol absolut, selisih bermakna
c. Hanya kategori tanpa urutan angka
d. Data kategori dua pilihan (dikotomi)
2. Identifikasi data primer dan data sekunder
Data Primer ?
Data yang dikumpulkan langsung oleh petugas saat evaluasi.
a. Umur balita (wawancara/pendataan langsung)
b. Tinggi badan (hasil pengukuran langsung)
c. Status gizi (hasil interpretasi dari pengukuran)
d. Kehadiran di Posyandu (observasi langsung)
Data Sekunder :
Data yang berasal dari catatan atau laporan yang sudah ada sebelumnya.
Contohnya jika variabel diambil dari:
a. Buku KIA
b. Rekam medis puskesmas
c. Laporan Posyandu tahun lalu
Studi Kasus 2
1. Jenis data dan skala pengukuran setiap variabel ? Pada program promosi kesehatan remaja, skor pengetahuan sebelum dan sesudah edukasi termasuk data kuantitatif dengan skala interval, kadar Hb (g/dL) merupakan data kuantitatif dengan skala rasio, sedangkan status anemia (anemia/tidak anemia) adalah data kualitatif dengan skala nominal.
2. Data mana yang paling tepat untuk menilai keberhasilan program ? Data yang paling tepat untuk menilai keberhasilan program adalah skor pengetahuan karena menunjukkan hasil langsung dari edukasi, namun keberhasilan yang lebih kuat dapat dilihat dari peningkatan kadar Hb dan perubahan status anemia sebagai dampak kesehatan.
Nama: Na'ilah Rana
BalasHapusNIM: P3.73.24.3.23.035
Pada studi kasus 1:
1. Jenis data dan skala pengukuran masing-masing variabel
Variabel:
Umur balita (bulan) : data numerik, skala rasio
Tinggi badan (cm): data numerik, skala rasio
Status gizi (pendek/normal): data kategorik
Kehadiran (hadir/tdk hadir): data kategorik, skala nominal
2. Sumber data
Umur balita, tinggi badan, kehadiran (data primer) (diperoleh langsung dari posyandu)
Status gizi: (data sekunder) didapatkan dari data dan diolah
2. Skor pengetahuan sebelum dan sesudah edukasi termasuk data numerik diskrit dengan skala interval. Kadar Hb merupakan data numerik kontinu dengan skala rasio. Status anemia (anemia dan tidak anemia) termasuk data kategorik dengan skala nominal.
Namun keberhasilan yang kuat didapatkan dari peningkatan Hb dan perubahan status anemia sebagai data kesehatan